Title : Devil Beside Me ( special chapter )
Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Taeyang, Kim Dasom , Kim Jonghyun, Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, and others.
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa ,seks, hubungan esame jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
…
..
.
Di salah satu hutan belantara yang begitu luas dan mencekam, di salah satu pohon tertinggi dari semua pohon yang ada, Chanyeol duduk pada salah satu dahan. Ia menatap tangannya dalam diam.
Ucapan Baekhyun kembali terulang dalam benaknya, entah mengapa kata-kata itu sungguh menyakiti hatinya. Chanyeol kembali dihadapi pada perasaan bersalahnya, ia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun, ia tentu menyayangi anaknya, meskipun ia seorang iblis ia masih memiliki hati dan cinta.
"Ibu." Ucapnya sambil menatap kearah bulan purnama.
"Apa aku adalah ayah yang buruk?" ia terisak, dalam kegelapan malam suara isakannya terdengar begitu mencekam. Perlahan tangannya memegang dadanya, setelah bertahun-tahun lamanya perasaan lemahnya muncul lagi, ia begitu mencintai keluarganya, ia pernah menyelepelakan arti sebuah keluarga dulu, dan ia tak ingin membuat hal itu terulang lagi.
Ia sudah berusaha mencurahkan kasih sayangnya pada seluruh anak-anaknya, namun pada akhirnya, ia tetaplah menjadi sosok yang salah. Ia tetap disalahkan.
"AAAARRGGGHHH…" Ia mengaum dalam kegelapan membuat seluruh alam ketakutan dan suara binatang yang rusuh terdengar.
Baekhyun tersentak dari tidurnya, ia membuka matanya ketika mendengar auman dari sosok yang ia kenal.
"Chanyeol? Kau dimana?" gumam Baekhyun pelan sambil menatap kedua putranya yang terbaring.
…
..
.
Park Shita
Present
…
..
.
Ketika seluruh semesta dikejutkan dengan kehamilan keempat Baekhyun yang merupakan reinkarnasi dari Lucifer, Chanyeol merasa dunia seolah tak adil padanya.
Ia baru saja kehilangan sosok ibu yang semasa hidupnya selalu ia sia-siakan yang diakhir hayatnya malah berkorban untuknya, dan kini si pembunuh ibunya berada di dalam perut istrinya dalam wujud seorang janin tak bersalah.
Tertidur dengan damai di dalam rahim Baekhyun, menantikan waktu kelahirannya dan ketika ia terlahir maka Chanyeol mutlak menjadi ayahnya. Sulit, tentu sangat sulit bagi Chanyeol untuk menerima kenyataan itu.
Memaafkan orang yang telah merusak hidupmu, tidak semudah membalikan telapak tangan, bahkan luka itu masihlah basah dan kini harus ditaburi oleh garam lagi.
"Chanyeol?" Chanyeol menoleh kearah pintu ketika Baekhyun berjalan dengan sedikit kesusahan akibat perutnya yang membesar. Mereka sepakat untuk tinggal di dunia manusia karena janin mereka memiliki kadar iblis yang sangat kecil di dalam tubuhnya, sehingga suasana Infernus membuatnya tidak nyaman.
Tentu awalnya Chanyeol tak peduli, namun melihat bagaimana itu berdampak pada Baekhyun yang selalu mengeluh kepanasan dan terbakar, serta perutnya yang sakit dan tubuhnya yang melemas bahkan istrinya tak mampu untuk berubah menjadi iblis ketika kehamilannya mencapai 2 bulan, membuat Chanyeol mengalah.
Meninggalkan rasa egois, ia membawa sang istri dan kedua anaknya untuk tinggal di salah satu mansion di dekat milik Luhan, dengan harapan jika sewaktu-waktu ia pergi maka ada Sehun dan Luhan yang akan menjaga Baekhyun.
Sudah terhitung 7 bulan mereka berada disana, dan kini usia kandungan Baekhyun telah memasuki usia 9 bulan. Chanyeol selalu perihatin melihat kondisi Baekhyun yang sangat lemah, ia tak lebih seperti manusia normal yang sedang mengandung besar.
"Baekhyun, kenapa kau kemari? Kau seharusnya berada diatas ranjangmu." Ucap Chanyeol sambil bangkit dan membantu istrinya untuk berjalan kearah sofa. Baekhyun menggeleng pelan dan mengerucutkan bibirnya membuat Chanyeol sangat gemas.
Sisi manusia Baekhyun sangatlah sensitif, kehamilan keempatnya membuat dirinya sangat mudah terbawa emosi dan itu membuat Chanyeol harus selalu menjaga ucapannya.
Pernah sekali Baekhyun menangis hebat karena Chanyeol meninggalkannya ke Infernus ketika ia sedang tertidur, dan selama seminggu Baekhyun enggan untuk disentuh membuat Chanyeol frustasi saat itu.
Baekhyun dalam wujud iblisnya jauh lebih menyenangkan karena ia lebih kuat dan tegar, meski terkadang sisi manusianya sering muncul, namun berada dalam wujud manusianya membuat Baekhyun seratus kali lebih lemah dibanding ketika dulu saat ia masih menjadi manusia.
"Aku tidak mau tidur sendiri." Rajuknya sambil membuang wajah. Lihat! Sikap seperti ini yang akan menjadi percikan-percikan kecil yang memicu pertengkaran hebat jika Chanyeol salah bicara.
"Ada beberapa pekerjaan_"
"Jadi, kau lebih sayang pekerjaanmu ketimbang aku?" Chanyeol menahan ucapannya, dan berlutut di depan Baekhyun yang sedang terduduk di atas sofa.
"Penggal kepalaku jika aku melakukannya." Ucap Chanyeol. Baekhyun melirik Chanyeol, merasa iba dengan suaminya lalu ia mengelus pipi Chanyeol dengan lembut.
"Aku tidak harus memenggalmu, aku hanya ingin tidur bersamamu. Ayo tidur, ini sudah malam." Chanyeol bersyukur dalam hati tindakan yang ia ambil benar. Ia mengangguk dan membantu Baekhyun berdiri, meninggalkan pekerjaannya yang jauh-jauh ia bawa dari Infernus.
Disaat-saat seperti ini ia berharap masih memiliki Luhan sebagai asistennya, namun sayangnya sosok kakaknya itu telah menjadi manusia dan hidup bahagia dengan anak sialannya yang setiap hari akan datang untuk menjadi sumbu api pertengkaran dirinya dan Baekhyun.
Chanyeol menatap anak tangga di depannya, ia tidak habis pikir bagaimana bisa Baekhyun dengan perut sebesar itu menaiki satu per satu anak tangga untuk sampai di depan ruang kerjanya yang memang sengaja Chanyeol letakkan di lantai dua paling ujung koridor agar kedua anaknya tak menganggu.
Melihat Baekhyun turun kesusahan, Chanyeol segera mengangkat tubuh itu membuat ia meringis karena tubuh Baekhyun terasa sangat berat.
"Apa aku berat?" tanya Baekhyun yang telah mengalungkan tanganya di leher Chanyeol, dengan wajah menahan beban dan senyum dipaksakan Chanyeol menggeleng lalu mengecup bibir Baekhyun.
"Siapa bilang? Kau seringan kapas." Bohong Chanyeol. Baekhyun tentu akan ringan jika Chanyeol dalam wujud iblisnya, namun saat ini ia dalam wujud manusia jadi Baekhyun terasa seperti empat karung beras untuknya.
Mereka melangkah ke kamar utama di lantai bawah, yang berada di dihadapan kedua kamar anaknya. Chanyeol melirik kamar Jackson dan ia tahu bahwa bocah lelaki itu sedang berkelana di malam hari mencoba kekuatannya dan menjahili orang-orang, sementara Jiwon ia yakin bahwa gadis manis itu sedang tidur dalam damai.
Jika boleh jujur, dari semua anaknya Jiwon adalah anak favoritnya, selain penurut Jiwon juga tak pernah membuat masalah seperti kakak-kakaknya, jadi Chanyeol berharap bayi di dalam perut Baekhyun akan terlahir sebagai anak perempuan agar tidak mengikuti jejak kedua kakak tertuanya.
"Uuuh." Chanyeol mengutuk bibirnya ketika tanpa sengaja menghela nafas lega ketika menurunkan tubuh Baekhyun dari pelukannya.
"Benarkan aku berat?" Bibir mengerucut itu dulu begitu menggemaskan dimata Chanyeol, namun kini hal itu membuat ketakutan tersendiri untuknya.
"Siapa bilang? Aku hanya senang bisa kembali ke kamar dan tidur dengan istri tercintaku." Ucap Chanyeol cepat dan segera menaikki ranjang untuk memeluk Baekhyun.
"Sudah meminum susumu?" tanya Chanyeol lagi. Ia tidak mengerti kenapa Baekhyun harus meminum cairan menjijikan itu, karena ketika mengandung Jackson dan Jiwon dulu ia tidak pernah mengingat Baekhyun mengkonsumsi cairan menjijikan yang akan terasa semakin menjijikan ketika mereka berciuman.
"Sudah, ibu membuatkanku tadi." Chanyeol mengangguk dan memeluk tubuh Baekhyun erat. Baekhyun mengusak wajahnya di dada Chanyeol dan itu membuat Chanyeol semakin frustasi.
Jika dulu ketika Baekhyun mengandung anaknya yang lain mereka tetap bisa melakukan hubungan intim meski kandungan Baekhyun sudah membesar, namun kini jangankan untuk bercinta sampai pagi, untuk melebarkan kakinya saja Baekhyun sudah akan menangis kesakitan.
Pernah sekali, ah! Beberapa kali, Chanyeol memaksakan kehendaknya untuk bercinta dan berakhir dengan Baekhyun yang mengalami kontraksi hebat pada perutnya. Jessica marah besar padanya, Kyungsoo mendiaminya dan Luhan nyaris melemparnya dengan pisau dapur.
Bukan itu yang menjadi masalah utama, namun tangisan Baekhyun dan kata "Kau tidak mencintaiku Chanyeol…hiks.. kau hanya mementingkan hasratmu.." membuatnya bermimpi buruk selama berminggu-minggu.
Chanyeol sedikit menjauhkan tubuhnya, namun nyatanya Baekhyun menyadari itu. Ia mendongak dan menatap Chanyeol dengan kernyitan.
"Kenapa? Apa karena aku gendut dan berbau susu kau tidak mau memelukku?" Sungguh, Baekhyun sangat sensitif. Chanyeol menggeleng cepat tidak ingin mengambil resiko, lalu perlahan memeluk tubuh Baekhyun erat.
"Itu karena aku takut, aku tak bisa menjaga hasratku, Baek." Baekhyun mengecup bibir Chanyeol dan kembali mengusak wajahnya di dada sang suami, membuat Chanyeol menutup matanya secara paksa.
…
..
.
Ketika pagi menjelang, godaan terbesar Chanyeol adalah melihat Baekhyun bertelanjang bulat dan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya atau hanya berdiri di dekat jendela, Luhan memberi tahu jika itu bagus untuk kesehatan janin dan ibunya jika terkena pancaran sinar matahari pagi.
Entah mendapat ilmu darimana yang jelas Chanyeol sangat tidak menyukai itu. Pagi hari adalah waktu dimana adiknya mengalami kebangkitan tak terkontrol dan kegiatan rutin Baekhyun tak pernah membantu sama sekali, malah memperparah keadaan.
"Sudah bangun?" tanya Baekhyun sambil menoleh dan tersenyum. Sungguh Chanyeol tak tahu bagaimana harus berterima kasih pada Kibum atas anak yang telah ia lahirnya, begitu cantik dan menawan meski belum membersihkan diri.
"Yang mana?"
"Hah?" Baekhyun bingung atas jawaban Chanyeol, dan Chanyeol menyeringai pelan akan ucapannya. Ia bangkit dan berjalan mendekati Baekhyun, memeluk tubuh itu dengan lembut dan menyesap leher putih istrinya.
"Kapan dia akan keluar? Aku sungguh ingin menyentuhmu, Baek." Bisikan Chanyeol dengan suara baru bangunnya membuat bulu kuduk Baekhyun meremang, ia mendongak dan mendesah tertatahan, selalu sensitif dengan sentuhan-sentuhan Chanyeol.
"Sebentar lagi, Chanyeol! Bersabarlah!" ucap Baekhyun lagi.
"Mungkin beberapa minggu lagi, dia akan terlahir." Chanyeol mengangguk dan mengecup bibir Baekhyun lembut, merasakan cairan sisa susu Baekhyun di lidahnya membuat Chanyeol mengernyit.
Beberapa minggu lagi penderitaanya akan berakhir, meski Baekhyun harus melalui waktu pemulihan tapi setidaknya penderitaannya akan segera berakhir.
Namun, nyatanya Tuhan berkata lain. Hingga menginjak usia 1,5 bulan bayinya tak kunjung-kunjung keluar, membuat emosi Chanyeol meluap-luap.
"Dia ketakutan, dia tidak berani untuk keluar." Ucap Jessica sambil memegang perut Baekhyun dan mencoba berbicara dengan janin di dalam perut Baekhyun. Baekhyun mendesah pelan dan melirik Chanyeol yang hanya terdiam di atas sofanya.
"Apa yang ia takutkan?" tanya Baekhyun masih tidak mengerti dengan ketakutan yang selalu Jessica ucapkan tiap kali meminta bantuan wanita itu untuk mengecek kehamilannya.
"Sesuatu dimasa lalu." Ucap Jessica sambil melirik Chanyeol. Chanyeol membuang wajahnya, dan mendesah kesal.
"Apa ia akan semakin lama berada disana?" tanya Baekhyun pelan takut melihat respon Chanyeol yang seolah membenci fakta bahwa bayinya tak kunjung lahir.
"Entahlah, dia berkata dia takut tak dicintai, dia takut salah satu dari kedua orangtuanya tidak menginginkannya." Baekhyun tersentak dan melirik Chanyeol, Chanyeol yang mendengar ucapan itu pun merasa kesal atas tatapan Baekhyun.
"Jangan bicara omong kosong! Dia seharusnya keluar ketika waktunya keluar, bukan menjadi pengecut seperti itu. Lakukan apapun untuk mengeluarkannya." Bentak Chanyeol sambil bangkit dari duduknya.
Bibir Baekhyun bergetar, merasa terkejut dengan ucapan Chanyeol. Baekhyun menatap suaminya nanar, berharap bahwa Chanyeol menyadari apa yang baru saja ia katakan dan menarik ucapannya.
"Chanyeol?" suara Baekhyun terdengar lirih. Chanyeol mendengus kesal dan berjalan mendekat, jemarinya menunjuk perut Baekhyun.
"Keluarlah bocah! Kesabaranku habis menghadapimu, jika kau takut padaku maka pergilah! Jika kau sungguh ingin menjadi anakku maka keluarlah, sialan!" ucapan Chanyeol membuat dua orang lainnya terkejut.
"Chanyeol~" bibir Baekhyun bergetar menahan tangisannya.
"Kau…kau tidak menginginkannya?" tanya Baekhyun lirih dan Chanyeol menghela nafas.
"Jika aku tak menginginkannya maka aku sudah membunuhnya sejak awal, Baek!"
"Pergi!" Baekhyun membentak dengan mata tertutup.
"Kau bicara seperti itu di depan anak kita? Jika dia mendengar dia akan bersedih."
"Aku tak peduli, dia harus tahu itu. Dia harus berhenti menyiksa kedua orangtuanya."
"PERGIII!" Teriakan Baekhyun membuat Chanyeol menggeram kesal. Ia mengaum dan kemudian menghilang dengan wujud iblisnya. Baekhyun terisak dan Jessica menenangkan.
"Maafkan Daddy mu ya sayang, maafkan Mommy juga." Ucap Baekhyun sambil mengelus perutnya dan menangis terisak.
…
..
.
Seminggu setelah kepergian Chanyeol, mansion mereka dibuat heboh dengan Baekhyun yang menjerit kesakitan. Kibum segera menelpon Luhan dan Sehun, dan tak lama Jessica dan Kyungsoo datang untuk membantu.
Persalinannya berjalan cepat dan tidak terlalu menyakitkan, Baekhyun bahkan masih tersadar ketika mendengar tangisan pertama bayinya.
"Woaah, adik laki-laki." Ucap Jackson yang memasuki kamar dimana ibunya sedang berbaring sambil menyusui adiknya.
Kibum memeluk Baekhyun dan mengucapkan selamat atas kelahirannya, Sehun memegang tangan ibunya dan tak lupa mengecup pipi merah sang adik. Jiwon berada dalam pelukan Luhan kelelahan menunggu persalinan sementara Jackson sudah memainkan jemari sang adik membuat Sehun berulang kali memperingati bocah itu agar tak menjahili adiknya.
"Baekhyun?" ketika pintu dibuka dan Chanyeol berada disana semua orang dibuat diam. Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah penuh air mata dan mengangkat bayinya yang menggeliat.
"Chanyeol, dia telah la_"
"Ah, aku bersyukur kau selamat Baek, maafkan aku, aku mencintaimu." Baekhyun terdiam dalam pelukan Chanyeol, ia tentu merasa senang atas kedatangan Chanyeol, tapi sudut hatinya merasa sakit karena Chanyeol bahkan tak melihat kearah bayinya.
"Chanyeol, dia begitu_"
"Ibu, bisa tolong pegang dia dulu? Aku ingin memeriksa keadaan Baekhyun." Ucap Chanyeol pada Kibum dan wanita itu mengangguk lalu mengambil alih bayi Baekhyun. Baekhyun menatap bayinya tak rela, lalu beralih menatap Chanyeol yang sedang memejamkan matanya dan meletakkan tangan besarnya di perut miliknya yang telah mengempis.
"Tidak ada sesuatu yang terjadi, aku senang sayang." Baekhyun mencoba tersenyum ketika Chanyeol menghujani wajahnya dengan banyak ciuman.
"Chanyeol, aku telah menentukan nama." Chanyeol menoleh.
"Nama?"
"Ya, nama untuk anak kita." Chanyeol melirik bayinya yang menggeliat di dalam gendongan ibu mertuanya.
"Taehyung. Ibumu bernama Taemin, dan dia adalah reinkarnasi dari kakak laki-laki ibumu ( hyung ) , jadi Taehyung, bagaimana?" Chanyeol terdiam, lalu mengecup pucuk kepala Baekhyun.
"Terserah padamu sayang." Jawaban Chanyeol membuat Baekhyun sadar, jika suaminya belum sepenuhnya bisa melupakan kejadian dimasa lalu mereka, jika Chanyeol belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran putra bungsu mereka, Taehyung.
…
..
.
DEVIL BESIDE ME
SPECIAL CHAPTER
…
..
.
Baekhyun terbangun ketika merasakan pergerakan kecil dari ranjang disampingnya, ia mendongak dan mendapati tubuh Jackson menggeliat.
"Jackie? Jackie?" Baekhyun berseru membuat keempat orang lainnya terbangun dari tidur mereka. Mata bulat itu terbuka dan mengerjap, Baekhyun tersenyum ketika melihat putranya telah siuman.
"Mom?"
"Ya sayang?"
"Maafkan aku, aku…uhukk…tidak bermaksud melakukannya." Baekhyun mengangguk dan mengelus pucak kepala Jackson lalu mengecup kening putranya berulang kali.
"Bagaimana keadaan Taehyungie?" Baekhyun menundukan arah pandangnya dan merasa kesedihannya kembali. Putra kecilnya masih terbaring tak berdaya disana, jauh darinya. Meski ia akan aman bersama Kyungsoo, namun tetap saja bayangan akan putranya yang terbaring kaku membuat hatinya meraung-raung penuh kesedihan.
"Dia sedang tertidur, dia akan ….dia…" Baekhyun tak mampu melanjutkan ucapannya, dan Luhan yang melihat itu segera mendekat kearah Baekhyun untuk mengelus pundak yang lebih muda.
"Adikmu baik-baik saja, yang harus kau pikirkan adalah kesembuhanmu, mengerti jagoan?" ucap Luhan sambil menyentuh hidung mancung Jackson. Anak lelaki itu mengangguk sambil menatap ibunya penuh penyesalan.
"Di…dimana Daddy? Apa Daddy masih marah?" pertanyaan Jackson nyatanya membuat kesedihan Baekhyun berkali-kali lipat lebih parah. Ia yang tak tahan untuk membendung kesedihannya segera berlari keluar kamar yang kemudian disusul oleh Luhan.
Jackson membulatkan matanya melihat kepergian sang ibu, hingga atensinya teralihkan oleh sosok Sehun yang mendekat.
"Jangan pikirkan apapun! Hanya cepatlah sembuh, dan jadilah lebih dewasa!" ucap Sehun sambil menepuk kepala adiknya dan segera melenggang pergi. Jackson menatap kepergian pria yang merupakan kakak kandungnya itu sambil menghela nafas pelan.
Ia menatap kedua telapak tangannya sambil mengamatinya dengan seksama.
"Ternyata tidak selamanya kekuatan menjadi sebuah kelebihan." Gumamnya pelan.
…
..
.
Bara api semakin meluas membakar seluruh pepohonan di hutan, hingga tempat itu terlihat menyala kemerahan. Puluhan binatang berlarian ketika rumah mereka terbakar, dan sang pelaku hanya berdiri di tengah-tengahnya sambil menatap tangannya yang membara.
"AAARRRGGGHHH" Ia berteriak kencang, mengaum seperti hewan malam yang mencari mangsanya. Suara menyeramkan itu membuat suasana disekitarnya semakin mencekam dan si pelaku memilih membalik tubuhnya.
Berjalan selangkah demi selangkah meninggalkan hutan yang telah terbakar habis oleh apinya. Bola matanya masih menyala kemerahan, taringnya terlihat begitu tajam dan mengerikan, ditambah sayapnya yang mengembang dengan lebar. Lalu didetik berikutnya ia melesat keudara bagaikan kilatan cahaya.
...
..
.
Baekhyun duduk di salah satu kursi yang menghadap kejendela rumahnya. Dari sana ia menatap kosong kearah rerumputan yang bergoyang tertiup angin. Tangannya senantiasa memainkan cincin pernikahan di tangannya, dan deru nafasnya sarat akan kelelahan.
"Bu?" Baekhyun menoleh dan mendapati Sehun berdiri di sampingnya. Sudut bibirnya terangkat secara paksa, ia mencoba memperbaiki duduknya dan Sehun membantu sang ibu.
"Jangan bersedih lagi!" Baekhyun tersenyum dan mengelus pipi Sehun yang kini telah berjongkok dihadapannya.
"Aku tidak bersedih."
"Tch! Ibu pikir berapa usiaku? Aku sudah berkepala tiga, bukan bocah lagi, Bu." Baekhyun tertawa pelan dan Sehun ikut tersenyum memperhatikan wajah tersenyum ibunya yang sempat hilang selama beberapa hari belakangan.
"Ibu melupakan fakta bahwa waktu telah terus berjalan. Semuanya berubah ya?" ucapnya sarat akan kesedihan. Sehun mampu membaca itu dan ia mengelus tangan ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Meski nenek tak lagi disini, tapi aku percaya bahwa ia juga sedih melihat ibu dari sana. Mungkin ini sebuah bentuk cobaan, Bu. Jangan menyerah akan keadaan!" Baekhyun menatap lekat ke dalam mata Sehun, lalu ia memeluk tubuh tegap itu dan menangis.
Sehun tahu bahwa selama ini Baekhyun selalu menyembunyikan kesedihannya. Ia mengelus pundak sempit itu dengan sayang, berusaha menyalurkan rasa sayang dan kekuatannya pada sang ibu.
"Kedua adikmu dalam keadaan yang tidak baik, terutama Taehyung yang masih tidak sadarkan diri. Ayahmu pergi entah kemana dan kami masih terlibat dalam pertengkaran." Sehun mendengus pelan, mendorong tubuh Baekhyun menjauh dan tersenyum.
Jemarinya mengelus suara sang ibu lalu menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinganya.
"Ini hanya sebuah kesalahpahaman. Meski aku dan Ayah tak begitu dekat bahkan kami sangat sering bertengkar, namun aku mengerti seperti apa dirinya. Yang perlu kalian lakukan hanya bicara dari hati ke hati, semua hanya akan terselesaikan ketika kalian menghadapinya dengan kepala dingin." Baekhyun terdiam, masih menatap cincin yang melingkar di jemari manisnya.
"Aku ragu…"
"Apa yang harus diragukan lagi? Bukankah cinta kalian telah mendapat begitu banyak cobaan? Hei, lihat aku! Aku salah satu bentuk kesalahan kalian, tapi aku bersyukur karena meski aku terlahir tanpa cinta, tapi aku bisa mendapatkan banyak cinta dari kalian." Baekhyun merasa haru mendengar ucapan Sehun, ia kembali tersenyum dan mengelus rambut Sehun sayang.
"Waktu benar-benar berjalan dengan cepat, aku bahkan tak menyadari bahwa kau yang dulu hanya menyerupai segumpal daging merah kini telah tumbuh menjadi pria yang dewasa." Sehun terkekeh lalu menekuk lengannya memperlihatkan ototnya.
"dan perkasa." Sambunya dan keduanya terkikik. Baekhyun merasa sedikit lega dengan kedatangan Sehun, dan ia mulai berpikir untuk menuruti ucapan putranya, hanya saja masalahnya dimana ia harus menemukan sosok Chanyeol.
…
..
.
Suara musik sayup-sayup terdengar dari lantai bawah, sementara keenam pria berjas lainnya sedang duduk sambil menatap satu sama lain dengan empat buah kartu ditangan mereka.
Di masing-masing pangkuan mereka ada wanita-wanita berpakaian seksi yang terus menggerayangi bagian tubuh pria dibawahnya.
Chanyeol disana, menyeringai pada semua lawan mainnya yang merasa sedikit terancam, sementara wanita diatas pangkuannya tak henti-hentinya mencumbu lehernya.
Chanyeol melempar keempat kartu itu diatas meja dan semua orang dibuat tercengang, ini sudah puluhan kalinya Chanyeol menang dalam waktu kurang dari empat hari. Ia membalas ciuman wanita diatas pangkuannya, lalu bangkit dengan wajah penuh keangkuhan, menatap satu per satu lawan mainnya dan mencium bau kekalahan dari mereka.
Dua koper hitam yang penuh berisi uang telah berada disampingnya, dan dua orang pria berseragam membantu Chanyeol untuk menguncinya. Chanyeol kembali menyeringai dan berjalan meninggalkan orang-orang yang menatap takut dan penuh kebencian kearahnya.
Dua pria mengikuti dibelakang dengan tangan memegang masing-masing koper, sementara Chanyeol berada di depan sambil merangkul wanita disampingnya, ia melangkah melewati koridor dan hendak masuk elevator sebelum sebuah panggilan membuatnya menghentikan gerakannya.
"Tuan Park!" seorang lelaki berseragam mendekat dan segera membungkuk kearah Chanyeol. Chanyeol menaikkan satu alisnya, menatap penuh tanda tanya pada sosok di depannya.
"Mungkin anda melupakanku, aku adalah pelayan yang anda tolong waktu itu. Terima kasih tuan atas bantuan anda, ibuku telah sembuh dan adikku dia bisa masuk ke Universitas sekarang." Chanyeol tersentak sejenak sebelum akhirnya menyeringai.
"Sama-sama." Ucap Chanyeol hendak melanjutkan langkahnya lagi, namun ia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.
"Tapi aku lupa memberitahukan ini, 40 hari dari sekarang ibumu akan terkena serangan jantung, malaikat kematian akan menjemputnya, dan adikmu yang cantik…" Chanyeol kembali menyeringai.
"….dia akan membunuh dirinya karena telah menjadi korban pemerkosaan seniornya di Universitasnya yang baru, selamat menikmati ketidakadilan hidup kawan." Ucap Chanyeol sambil menepuk pundak si pelayan yang tubuhnya nyaris terjungkal keatas lantai.
Ketika sampai di lantai terbawah, ia segera masuk ke dalam diskotik di dalam gedung itu. Aroma alcohol tercium dan dentuman musik menjadi suara penyambut. Chanyeol duduk disalah satu kursi dan tak lama beberapa wanita mendekatinya lalu menyentuh tubuhnya, bergerak erotis memanjakan seluruh tubuh Chanyeol.
"Hei, tampan. Ingin bermain?" ucap salah satu wanita penghibur sambil mengelus rahang Chanyeol. Chanyeol tersenyum kecil, begitu angkuh dan mendominasi membuat para wanita itu menjerit dalam hati.
"Tergantung seberapa hebat permainanmu." Tantang Chanyeol. Para wanita itu merasa jengah dan semakin intens menyentuh bagian tubuh Chanyeol.
"Ooppss.. kau sudah menikah?" ucap wanita lain yang melihat cincin di jari manis Chanyeol. Chanyeol menatap cincinya sejenak, lalu menariknya dan memasukannya ke dalam gelas minuman di depannya.
"Dan memiliki anak." Ucapnya lagi tapi wanita-wanita itu malah berseru antara terkejut dan takjub.
"Wow…bad Daddy." Bisik salah satu wanita. Chanyeol menyeringai kembali lalu menatap cincin yang tenggelam di dalam gelas wine di depanya.
"I'm the baddest one." Ucapnya.
…
..
.
PRANG
Baekhyun terkejut ketika tanpa sengaja menjatuhkan gelas kaca disampingnya. Gelas itu sejak awal memang ada disana, Baekhyun berniat untuk membuatkan Jackson susu namun entah kenapa ia tiba-tiba menyenggol benda itu dan membuatnya pecah.
Baekhyun membungkuk hendak memungutnya namun panggilan Sehun yang berdiri diambang pintu membuatnya menghentikan gerakannya.
"Biarkan saja, Bu! Aku yang akan membersihkannya."
"Sehun?"
"Bukan masalah." Ucap Sehun sambil berjalan mendekat. Baekhyun menatap pecahan diatas lantai dalam diam lalu beralih menatap Sehun.
"Kenapa aku memiliki firasat buruk?" Sehun menggeleng pelan sambil memungut pecahan di depannya.
"Itu hanya sebuah firasat, sesuatu yang belum tentu pasti." Ucap Sehun dan Baekhyun mengangguk pelan.
"Mommy! Mommy!" Baekhyun bangkit dan terkejut mendapati Jiwon yang berlari ke dalam dapur dengan wujud setengah iblisnya.
"Ada apa?"
"Taehyungie…Taehyungie…sudah siuman." Baekhyun menutup mulutnya dan merasa begitu senang, ia segera berlari kearah Jiwon lalu dalam sekejap keduanya telah menghilang.
Baekhyun dan Jiwon tiba di Nubes dengan cepat dan segera menuju kamar dimana Taehyung dirawat. Ketika ia memasuki kamar yang ia lihat pertama kali adalah putranya kecilnya yang duduk diatas ranjang sambil bermain bersama Krystal.
Kyungsoo, Jessica dan Jongin menoleh menatap dengan wajah bahagia kearah Baekhyun yang masih merasa terharu. Baekhyun berlari dan memeluk tubuh putranya yang sudah kembali seperti sedia kala, kulitnya tak lagi melepuh meski ia masih terlihat sedikit pucat, namun itu jauh dari keadaannya yang sebelumnya.
"Mommy?" Baekhyun tersenyum dan memeluk semakin erat tubuh putranya merasa begitu merindukan suara kecil dan nyaring itu.
"Ah sayang, akhirnya aku bisa melihatmu lagi."
"Aku merindukan Mommy." Rengek Taehyung sambil megusak wajahnya di dada Baekhyun.
"Ya, me too. Kau tidur terlalu lama sayang, sampai Mommy berpikir bahwa kau tak akan mau melihatku lagi." Taehyung menggeleng pelan dan memeluk Baekhyun semakin erat.
"Aku tak mungkin melakukannya, aku tentu ingin melihat Mommy dan…eih? Dimana Daddy?" pertanyaan Taehyung sukses membuat Baekhyun terdiam.
"Mommy, dimana Daddy? Taehyung merindukannya." Baekhyun masih terdiam dan Taehyung mendorong tubuh ibunya pelan.
"Mom?"
"Taehyungie?"
"Ya?"
"Daddy… Daddy…"
"Mommy? Daddy tidak apa-apa kan? Taehyungie mau melihat Daddy." Rengekan Taehyung membuat Baekhyun menghela nafas. Ia bangkit dan melirik Jongin sejenak. Jongin melangkan maju dan menatap Baekhyun iba.
"Dia ada di Las Vegas, di hotel tempat kalian menginap kemarin." Baekhyun mengangguk dan mengucapkan terima kasih tanpa suara. Ia pun tersenyum pada Kyungsoo dan Jessica, juga pada Krystal yang nampak cantik dengan gaun putihnya.
"Aku akan menemuinya, sekaligus memperbaiki apa yang telah terjadi." Semua orang dewasa mengangguk dan membiarkan Baekhyun melangkah melewati pintu dan putrinya.
"Mommy akan segera kembali dan membawa Daddy kalian pulang, tunggu ya!" ucap Baekhyun sambil tersenyum lebar.
…
..
.
Ia melangkah di koridor hotel, hingga kakinya berhenti pada sebuah kamar hotel yang menjadi nomer favorit mereka.
3627
Baekhyun mengetuk pintu itu pelan dan tak kunjung mendapat balasan. Sebenarnya ia bisa saja muncul langsung di dalam kamar, namun ia tak ingin hal itu terlihat tidak sopan karena ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Chanyeol.
Baekhyun sadar bahwa ucapannya kepada Chanyeol beberapa hari yang lalu sungguh keterlaluan, bahkan setelah mendengar kronologi dari Jackson dan Taehyung, ia tahu bahwa diantara dirinya dan Chanyeol memang hanya sebuah kesalahpahaman.
TOK
.
TOK
.
TOK
Baekhyun masih mencoba mengetuk, hingga pintu putih itu terbuka. Baekhyun tersenyum dan kemudian senyumannya menghilang saat melihat seorang wanita asing setengah telenjang di depannya.
"Sorry?" tanya wanita itu ketika Baekhyun tak kunjung bicara. Ia merasa terkejut dan mulai menerka apa yang sekiranya terjadi, ia takut jika dugaanya benar, ia berharap bahwa Chanyeol tak akan dengan mudah berpaling darinya.
"Can I help you?" tanya sosok wanita itu lagi, namun karena Baekhyun tak kunjung menjawab, ia hendak menutup kembali pintunya ketika kaki Baekhyun mengganjalnya dan ia mendorongnya dengan cukup kuat.
Baekhyun membeku ditempat mendapati Chanyeol setengah berbaring diatas ranjang dengan tubuh telanjang sementara empat wanita telanjang lainnya berada disampingnya sambil menyentuh seluruh bagian tubuhnya.
"Hey!" pekikan wanita yang terdorong itu membuat Chanyeol menoleh. Bukannya terkejut, ia malah menyeringai dengan angkuh melihat Baekhyun berdiri di depannya.
"Hei sayang, ada apa?" tanya Chanyeol tanpa rasa bersalah. Baekhyun melirik para wanita yang masih dengan kurang ajar menyentuh bagian-bagian tubuh telanjang Chanyeol. Jemarinya mencengkram cincin dijari manisnya sebagai bentuk penyaluran kekuatan.
"Tae…Taehyungie…dia…dia..sudah sadar."
"Benarkah? Anak kita telah siuman? " Chanyeol memekik seperti dibuat-buat, membuat hati Baekhyun berdenyut sakit.
"Ya-Ya."
"Lalu?" Baekhyun dibuat terkejut lagi oleh pertanyaan Chanyeol. Entah mengapa sudut hatinya merasa begitu sakit hingga tanpa ia sadari matanya telah berkaca-kaca, hal yang bisa ia lakukan hanya memainkan cincin dijari manisnya, mencoba percaya pada pernikahan mereka.
"Dia…dia terus memanggil namamu." Chanyeol berdecih, menyilangkan kedua tangannya dibelakang kepala sambil menatap Baekhyun di depannya. Baekhyun merasa begitu marah ketika tangan-tangan wanita itu dengan lancang menyentuh kejantanan Chanyeol, meskipun tidak memberikan efek apapun pada suaminya.
"Apa aku tak salah dengar? Dia memanggil namaku?" Baekhyun masih mencoba bersabar, meski tak dapat ia pungkiri jika air matanya sudah tak mampu terbedung lagi.
"Lalu apa yang kau ingin aku lakukan?" lagi pertanyaan Chanyeol seolah membakar kesabarannya, Baekhyun mengigit bibir bawahnya tidak ingin terlihat lemah dimata para jalang yang kini menganggapnya remeh.
"Kembali…kembalilah!"
"Tch! Setelah apa yang terjadi? Kau meminta sosok buruk ini untuk kembali? Untuk apa Baek, untuk semakin terlihat buruk dimatamu dan kalian semua?"
"Chanyeol?"
"Hentikan! Kembalilah! Biarkan aku hidup seperti ini, mungkin menjadi ayah bukanlah takdirku. Aku bukan suami yang baik Baekhyun, aku adalah suami terburuk dan ayah terburuk yang pernah ada." Baekhyun mengepalkan tangannya merasa begitu kesal.
"Jangan bicara seperti itu!" ucap Baekhyun.
"Lalu? Itu kenyataan. Kembalilah, anak-anak pasti lebih menginginkanmu untuk berada disamping mereka." Baekhyun menutup matanya dan seketika tubuhnya berubah wujud. Ia menggerakan jemarinya dan membuat kelima gadis itu terpental dan tak sadarkan diri.
Baekhyun melayang dan segera berdiri dihadapan Chanyeol, ia mencekik sosok itu dengan kencang, namun Chanyeol hanya menyeringai sambil menatap Baekhyun.
"Jadi kau ingin membunuhku sekarang? Silahkan!" ucap Chanyeol. Baekhyun mendesis kesal, tubuhnya masih membara dan cekikannya semakin kuat.
"Jika tahu kau akan seperti ini, aku tak akan pernah membiarkanmu untuk menghamiliku." Ucap Baekhyun. Mata Chanyeol yang semula tertutup kini terbuka.
"Jika tahu kau semudah ini menyerah akan pernikahan kita, aku tak akan dengan rela menjadi iblis untukmu, sialan!" pekik Baekhyun. Chanyeol menutup matanya dan dalam hitungan detik ia berubah dalam wujud iblisnya membuat tubuh Baekhyun terpental. Tubuhnya melayang diatas ranjang, dengan kobaran api disekitar tubuh telanjangnya.
"Jadi kau ingin berkata bahwa kau menyesal? Menyesal telah menjadi iblis untukku?" Baekhyun bangkit dan kini melayang di dalam kamar. Ia menatap Chanyeol nyalang.
"Jauh dari itu, aku menyesal karena mencintaimu." Chanyeol terdiam, kakinya perlahan menyentuh ranjang.
"Begitukah?" perlahan bara dimata Chanyeol berubah menjadi biru langit, sorot matanya melemah dan ia hanya bisa menatap Baekhyun nanar.
"Kau menyesal mencintaiku?" ucapnya lagi.
"Chanyeol?" kobaran api disekitar tubuh Baekhyun pun ikut meredup.
"Aku pikir kita memang ditakdirkan bersama, Baek. Aku pikir kau adalah belahan jiwaku."
"Chanyeol?" Baekhyun pun perlahan berubah, sorot matanya semakin lembut.
"Aku mengorbankan segalanya untukmu Baek. Keluargaku, harga diriku, bahkan ketika kau berpikir bahwa aku membenci anak kita, aku berusaha menghilangkan egoku dan menyayanginya. Tapi, mendengarmu berkata bahwa kau menyesal mencintaiku membuatku kecewa."
"Chanyeol?"
"Jika ini memang akhir, maka kita akhiri saja." Baekhyun terdiam di tempat. Hatinya sungguh tertusuk begitu dalam. Ia menatap Chanyeol nanar, memperhatikan bagaimana sosok itu menuruni ranjang dan berjalan kearahnya.
"Chanyeol…aku_" Baekhyun mengutuk lidahnya yang seolah kelu, ia bahkan diam saja ketika Chanyeol menarik tangannya lembut, lalu meletakkan sesuatu yang dingin diatas telapak tangannya.
Mata Baekhyun membulat melihat benda bulat keemasan dan berkilau di tangan pucatnya. Ia kembali menatap Chanyeol yang kini juga menatapnya dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Mari hentikan sampai disini, Baek! Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu." Ucap Chanyeol sambil mengelus pipi Baekhyun lembut, lalu berbalik. Sayapnya mengembang seiring dengan jendela kamar yang terbuka.
"BOHONG!" teriak Baekhyun membuat langkah Chanyeol terhenti. Pria itu hanya tersenyum kecil sambil mencuri pandangan dari sisi pundaknya, tak berniat sama sekali membalik tubuhnya untuk sekedar melihat sang istri, karena itu begitu menyakitkan untuknya.
"Kau bohong! Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau menyerah semudah ini? Lalu apa artinya semua kata cintamu hah? Chanyeol~ hiks.. aku mohon…" Chanyeol akhirnya mengalah, ia berbalik dan terhenyuk mendapati Baekhyun menangis dihadapannya.
"Itu berarti segalanya, kau berarti duniaku. Tapi…" Chanyeol menghela nafas sejenak.
"Tapi, aku tak ingin tangan ini menyakiti lebih banyak orang-orang disekitarku, Baek. Aku iblis, aku tidak sepantasnya hidup disekeliling orang-orang yang memiliki cinta."
"Lalu aku apa? Akupun iblis Chanyeol." Bentak Baekhyun.
"Ya, tapi sisi manusiamu masihlah dominan, tidak sepertiku. Jadi, daripada tangan ini lebih banyak memakan korban lagi, aku memilih kembali ke asalku. Aku….aku tak ingin menyakiti anak kita lagi, Baek." Baekhyun menangis tersedu, air matanya berlomba-lomba berjatuhan. Kakinya gemetar hingga ia tak mampu lagi menopang berat tubuhnya.
"Chanyeol…hiks…jangan seperti ini!" Chanyeol hendak melangkah mendekat untuk memeluk tubuh renta itu, namun ia mengurungkannya.
"Ini mungkin jalan yang seharusnya Baekhyun-ah."
"Tidak! Ini tidak benar! Anak kita, keluarga kita. Kau berhak berada di dalamnya. Chanyeol, kita telah melalui masa-masa yang sulit bahkan yang tersulit, lalu mengapa sekarang kau menyerah?" Chanyeol tersenyum kecil sambil menatap iba pada istri mungilnya.
"Semua ada batasnya Baekhyun, lagipula setiap masa sulit itu terlewati pastilah ada pengorbanan yang harus dibayar, dan aku tak ingin orang-orang disekitarku menjadi korban lagi. Jadi… mari kita hidup masing-masing sekarang. Kau hiduplah_"
"Bajingan!" Chanyeol terdiam melihat mimik wajah Baekhyun yang berubah, bahkan sosok mungil itu telah bangkit sambil berjalan kearah Chanyeol penuh amarah.
"Setelah apa yang kau lakukan pada hidupku, kau memilih pergi? Seperti seorang pengecut? Dimana tanggung jawabmu? Kau seorang suami sekarang Chanyeol dan juga seorang ayah."
"Ya, ayah yang buruk."
"Tidak! Taehyungi dan Jackie telah menjelaskan semuanya, bahwa_"
"Tapi kau tak mempercayaiku kala itu." Bahu Baekhyun merosot lagi, ia menatap Chanyeol dengan raut kelelahan.
"Chanyeol…hiks~ maafkan aku!" Chanyeol mengelus pipi Baekhyun lembut, mengusap air mata yang lebih pendek dengan sayang. Baekhyun menutup matanya merasakan usapan tangan sang suami di pipinya, hingga akhirnya tangan itu ditarik kembali oleh sang pemilik.
"Chanyeol?" tanya Baekhyun dengan suara lirih. Kedua adam itu saling menatap satu sama lain, sebuah tatapan dalam yang menyiratkan akan kesedihan dan rasa cinta yang mendalam. Hingga akhirnya satu diantara mereka memutuskan kontak itu dan menarik kakinya untuk melangkah mundur.
…
..
.
Suara tawa dari Taehyung yang sedang bermain jari diatas ranjang bersama Krystal menjadi penyambut pagi Kyungsoo dan Jongin. Dua sosok tertua itu hanya memperhatikan dari ambang pintu sambil berpelukan.
"Dia sepertinya sudah pulih benar." Ucap Jongin sambil mengelus pinggang Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk sejenak dan mencoba menjaga jarak diantara keduanya, bagaimana pun dia adalah seorang Raja Langit saat ini dan melakukan sentuhan-sentuhan intim membuatnya masih belum terbiasa.
Jongin melirik kearah istrinya dan menggeleng pelan, lalu sekali tarik membuat tubuh Kyungsoo terperangkap dalam pelukannya.
"Kau sudah menjadi istriku, kenapa masih bersikap malu seperti itu?" Kyungsoo tak menjawab, ia hanya membuang arah pandangnya dan berpura-pura sibuk dengan kegiatannya memperhatikan Taehyung dan putri kecilnya.
"Krys noona?" Krystal yang sedang berfokus pada jemari Taehyung yang akan ia kalahkan menoleh dan menatap wajah bersedih Taehyung.
"Kenapa?"
"Kenapa Daddy dan Mommy tak kembali juga? Aku rindu mereka. Apa mereka membenciku? Apa kelemahanku membuat mereka menghindariku?" Sorot mata energik Krystal berubah menjadi sorot akan rasa empati.
"Tidak ada orangtua yang membenci anak mereka. Mungkin sekarang kedua orangtuamu sedang berlibur, mereka kan selalu seperti itu." Ucap Krystal sambil mencoba menggoda Taehyung.
Lelaki kecil itu mengangguk sambil melebarkan senyumannya, mencoba mempercayai apa yang gadis cantik di depannya ucapkan.
"Sayang? Ayo kita sarapan bersama!" ucapan Jongin membuat keduanya menoleh dan cukup terkejut melihat kehadiran dua orang yang tak mereka sadari sejak awal.
"Ayooo!" Krystal melompat kecil dan berlari kencang kearah sang ayah, dan dalam hitungan detik gadis itu sudah berada dalam gendongan Jongin.
Kyungsoo menghela nafas sambil menyentuh pucuk kepala putrinya dan mencoba menegur sang putri dengan sorot mata bulatnya namun gadis itu hanya menjulurkan lidahnya.
"Jika ayahmu terjatuh, atau yang terburuk kalian berdua terjatuh bagaimana?" gerutu Kyungsoo.
"Aku kan kuat, Bu!"
"Ck! Yang ketika terjatuh dari atas langit dan menangis mengadu pada ibunya, siapa ya?"
"Ibu~" rengek Krystal dan Jongin hanya mengelus pucuk kepala putrinya sayang.
Taehyung terdiam memperhatikan bagaimana bahagianya keluarga kecil itu, seandainya ia bisa seperti itu dengan ayahnya dan tentu ibunya setiap pagi, maka ia akan menjadi anak yang paling bahagia sedunia.
"Taehyungie, aku akan meminta pelayan untuk membawakan makananmu, tunggu sebentar ya sayang?" Taehyung mengangguk sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi pada Kyungsoo
…
..
.
Sehun menatap penuh selidik pada sosok lelaki remaja yang terbaring diatas ranjang. Di depan sana Luhan, Owen dan Jiwon sedang membantu Jackson untuk memakan sarapannya.
Melihat keadaan adik nakalnya dalam keadaan begitu lemah membuat Sehun menjadi tak tega, namun melihat bagaimana keluarganya dalam kondisi tak baik membuatnya mau tak mau harus memikirkan cara untuk mengembalikan semuanya.
"…..Yah…Ayah!" Sehun terkejut ketika mendapati Owen berdiri di depannya sambil mengguncang tubuhnya.
"Hm?" sahutnya datar membuat sang anak memutar bola matanya malas.
"Pergilah ke supermarket!" Alis Sehun memicing membuat Owen berdecih kesal.
"Kau kan sudah bisa mengendarai mobilmu, untuk apa aku membelikanmu mobil jika kau tak bisa menggunakannya?"
"Yah, supermarket itu jauh dari sini. Dan aku pun belum legal, Yah." Sehun berdecak sambil memperbaiki posisi berdirinya.
"Memangnya apa yang ingin kau beli?" tanya Sehun masih dengan wajah malasnya.
"Jackie ingin es krim." Arah pandang Sehun langsung jatuh pada sosok yang terbaring diatas ranjang yang nampak begitu lemah. Ia berdecak dan menggeram pelan.
"Dasar bocah iblis." Gerutunya.
"Sehun! Jangan mengumpat!" Sehun kembali tersentak atas teguran Luhan. Padahal ia sudah bicara begitu pelan namun nyatanya sang istri tetap mendengarnya. Ia bangkit dan berjalan dengan malas menuju pintu keluar, sambil menatap tak suka pada adik kecilnya. Jackson nyatanya tak begitu ambil pusing, ia hanya membuat gerakan mengusir dengan jemarinya tanpa sepengatahuan yang lain membuat Sehun kembali menggeram kesal.
…
..
.
Sehun mengendarai kembali mobilnya setelah usai membeli pesanan Jackson, dan dengan begitu perlahan ia melewati jalanan kota yang cukup padat. Hingga mobilnya semakin melambat ketika melihat sebuah kerumunan di halte di pinggir jalan, awalnya ia tak ingin peduli namun ketika melihat sosok yang begitu ia kenal, ia segera menghentikan mobilnya tanpa pikir panjang membuat ia mendapat peringatan klakson dari pengemudi di belakangnya.
Kaki panjang Sehun berjalan kearah halte dimana orang-orang berkerumun dan nampak memaki sosok lemah yang hanya bisa menatap jalanan dengan tatapan kosong.
"Dasar lelaki penggoda! Kenapa kau diam hah? Malu karena ketahuan?" seorang wanita menghardiknya dengan kasar.
Sehun menahan tangan wanita itu ketika dengan kurang ajarnya si wanita berok merah pendek itu ingin mendorong kepala ibunya.
"Menyentuhnya maka jarimu aku pastikan patah!" kemunculan Sehun membuat semua orang terkejut. Sehun menatap ibunya yang nampak yang hanya duduk tanpa respon.
"Ada apa?" tanya Sehun. Baekhyun akhirnya mengalihkan pandangannya dan air matanya mengalir ketika melihat wajah Sehun berada di depannya. Sehun mengusap air mata ibunya dengan lembut lalu memperhatikan pakaian tipis yang ibunya kenakan dan juga bagian pundaknya yang merosot, seolah ditarik dengan paksa.
"Dia kenalanmu? Siapa? Keponakanmu? Anakmu? Maka didik dia dengan baik untuk tidak menggoda kekasih orang lain." Sehun menoleh pada si wanita dengan tatapan menusuk. Mata sipitnya lalu beralih pada pria disamping si wanita yang sedang mencuri-curi pandang pada Baekhyun, lalu ketika tertangkap mata oleh Sehun ia segera menunduk seperti korban.
Sehun berdecih, ia membuka jaketnya dan mengenakannya pada pundak Baekhyun, lalu membawa tubuh Baekhyun bangkit.
"Nona, hal seperti ini tak akan terjadi hanya sekali seumur hidupmu, jika priamu adalah pria hidung belang." Ucap Sehun lalu segera membawa Baekhyun memecah kerumunan. Wanita itu tersentak dan menoleh pada kekasihnya yang menggeleng dengan wajah polos.
"Dia yang menggodaku, dia yang menyentuhku percayalah, honey!" ucapnya dan si wanita mengangguk mantap.
Kerumunan perlahan menipis hingga akhirnya hanya ada si wanita dan si pria yang masih berdiri sambil menunggu kedatangan taksi. Tak lama sebuah taksi melintas dan mereka menghentikannya.
Ketika sudah menunjukan alamat, taksi itu melaju dan sepasang kekasih itu sedang memadu kasih di kursi penumpang bagian belakang.
Si supir hanya menatap dari arah kaca depan dan sesekali menyeringai.
"Kita sampai!" pasangan itu menghentikan kegiatan mereka dan segera menoleh sekitar, hingga wajah mereka terkejut dan panik saat melihat tempat berhenti mereka adalah disebuah markas para preman yang cukup terkenal di daerah itu.
"Ke-kenapa kita berhenti disini?" tanya sang pria ketakutan. Sang supir menyeringai dan menoleh, mata phoniex nya menyala dan kedua sosok itu terkejut setengah mati.
"Ada harga yang harus kalian bayar karena berani memperlakukan milikku seperti itu." Ucapnya sebelum akhirnya menghilang bersama dengan taksi yang mereka tumpangi. Kedua sosok itu terjatuh diatas tanah tepat di depan para preman yang sedang mabuk sambil bermain kartu.
"Huwaa, kita kedatangan tamu." Ucap salah satunya sambil bangkit dan mengusap bibirnya melihat pakaian seksi yang dikenakan oleh si wanita.
…
..
.
Sehun menatap ibunya dengan wajah khawatir. Sejak kepulangan mereka, Baekhyun tetap diam di atas ranjangnya sambil menatap kosong keluar jendela. Luhan datang dan menyentuh pundak Sehun, meminta sosok itu untuk meninggalkan kamar yang Baekhyun tempati dan memberikannya waktu sendiri.
"Pria itu pasti telah menyakiti ibuku lagi!"
"Ini masalah rumah tangga mereka, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri."
"Tapi ini menyangkut diriku juga, bagaimana pun aku adalah anak mereka." Luhan mengangguk dan membalik tubuh Sehun untuk mengelus pundak sang suami.
"Aku mengerti sayang, tapi ada batas tertentu yang tak bisa dilampau oleh seorang anak." Sehun menghela nafas dan membawa kakinya mengikuti Luhan untuk menjauh.
…
..
.
Sudah tiga hari mereka terlibat dalam pertengkaran hebat, hingga Baekhyun tak sadar bahwa sudah selama itu pula ia melewatkan masa pemulihan putranya. Pagi harinya ia dikejutkan dengan kehadiran Jackson di pintu kamarnya yang berkata bahwa lelaki itu sangat merindukan ibunya.
Dan di malam harinya ia mendapatkan hadiah yang lain, dimana Taehyung sudah bisa kembali berjalan seperti semula dan ingin tidur bersama dirinya.
"Mom, kapan Daddy kembali?" tanya Taehyung ketika mereka sedang berbaring diatas ranjang di mansion miliknya.
"Mungkin sebentar lagi." Bohong Baekhyun, karena ia sendiri pun tak yakin apakah Chanyeol akan kembali pada mereka, atau memilih untuk bersenang-senang bersama jalang diluar sana, memikirkannya membuat hati Baekhyun merasa begitu sakit.
"Mom, are you okay?" Baekhyun mengalihkan pandangannya pada putra kecilnya yang menatap kearahnya dengan tatapan bingung. Baekhyun tersenyum, mencoba bersikap seolah ia baik-baik saja, menyembunyikan segala masalah yang sedang ia hadapi.
"Yes baby. Okay enough for tonight, let's sleep!" ucap Baekhyun sambil memperbaiki posisi tubuh Taehyung. Si kecil mengangguk dan segera menerima ciuman singkat di keningnya.
"Good night Mom."
"Good night, baby."
"Good Night, Daddy." Baekhyun tersentak, gerakannya untuk menyelimuti sang putra terhenti sambil menatap mata terpejam Taehyung.
"Goo…Good night, Taehyungie." Balas Baekhyun sebelum akhirnya ikut berbaring disamping putranya.
…
..
.
Chanyeol sedang mencoba berkutat dengan setumpuk pekerjaannya di Infernus ketika ia mendapat sebuah undangan tak terduga, membuat ia menatap tanpa berkedip pada sosok di depannya.
"Jangan kaget begitu, bagaimana pun ini dulu pernah menjadi rumahku." Chanyeol menghela nafas sejenak, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menatap sosok berjubah putih di depannya dengan tatapan meneliti.
Jika tiba-tiba seorang malaikat berkunjung ke neraka pastilah ada sesuatu yang penting yang ingin dibahas, dan Chanyeol tahu akan mengarah kemana pembicaraan mereka.
"Senang dengan keputusanmu, hyung?" Chanyeol berdecih sambil melempar pandangannya. Kyungsoo masih tetap berjalan mendekat dan memutuskan untuk duduk dengan tubuh yang sudah dikelilingi oleh medan salju.
"Jangan ikut campur dengan urusanku! Aku tak akan pernah membiarkan orang lain masuk dan mengatur keputusanku."
"Aku disini bukan untuk mengatur keputusanmu, aku datang kesini sebagai adikmu dan orang yang bisa kau ajak untuk berbagi cerita." Chanyeol menggeleng pelan, menolak lebih dulu sebelum pembicaraan mereka kembali berlanjut.
"Aku sibuk, banyak hal yang harus aku urus."
"Apakah keluarga kembali menjadi nomer 2 untukmu?" Chanyeol terdiam lalu mengalihkan pandangan tak sukanya pada Kyungsoo.
"Soo, aku memperingatkanmu. Jangan campuri urusanku."
"Ck! Keras kepala. Baiklah, aku hanya ingin kau melakukan satu hal. Ingatlah bagaimana kalian berjuang ketika Taehyung ada di kandungan Baekhyun, bukankah kau berkata saat itu bahwa kalian adalah pasangan manusia paling bahagia sedunia?"
"Soo, aku tidak main-main dengan peringatanku. Pergilah sebelum_"
"Baiklah, aku pergi. Semoga kau bisa lebih bijak, kakakku sayang." Ucap Kyungsoo lalu segera bangkit dan berjalan perlahan menuju pintu.
"Soo!" langkah Kyungsoo terhenti.
"Kau tidak usah repot-repot memintaku melakukannya, karena aku tak akan pernah melakukannya. Mengingat hal itu hanya semakin membuatku sadar bahwa aku adalah ayah yang buruk." Ucapan Chanyeol berhasil membuat Kyungsoo tersentak, namun ia menyembunyikannya dengan sebuah senyuman yang tenang.
"Yang bisa menilai seorang ayah buruk atau tidak hanya anak mereka, bukan orang lain." Kali ini giliran Chanyeol yang tersentak. Kyungsoo tersenyum lembut lalu menghilang di balik pintu besar milik ruang kerja Chanyeol.
Chanyeol kembali bersandar pada kursinya, menatap kearah pintu tepat dimana Kyungsoo lenyap dibaliknya.
"Anak mana yang mau menerima ayah buruk sepertiku, Tch!" ia terkekeh, mencemooh dirinya sendiri dengan kekehan beratnya.
…
..
.
"Selamat, Baekhyun sungguh hamil anak keempat kalian." Ucap Jessica ketika Baekhyun dan Chanyeol berkunjung ke Istana putri cantik itu karena Baekhyun yang merasa tidak beres dengan tubuhnya beberapa minggu terakhir.
Chanyeol masih membulatkan matanya tidak percaya, dan Baekhyun memegang perutnya sambil tersenyum kecil.
"Bagaimana bisa?" tanya Chanyeol.
"Bagaimana tidak? Kau selalu menanamkan benih padanya." Ucapan Jessica nyatanya membuat Baekhyun merona, ia melirik Chanyeol yang juga sama terkejutnya oleh ucapan sang putri.
"Oh, aku lupa mengatakan. Anak kalian kali ini juga anak yang istimewa, ia memiliki darah manusia yang dominan, jadi aku tak yakin Baekhyun akan bertahan untuk tinggal di Infernus." Chanyeol memutar bola matanya sambil bersidekap.
"Dia iblis, tentu Infernus bukan hal yang baru baginya."
….
"Chanyeol, panas~" Chanyeol menoleh ketika melihat wajah memerah Baekhyun yang berjalan memasuki ruang kerjanya.
"Aku tidak suka disini~" rengekan manja itu membuat Chanyeol menghela nafas. Yang Jessica ucapkan dua bulan lalu nyatanya benar.
"Tapi, kita tidak mungkin pindah, Baekhyun-ah." Baekhyun memajukan bibirnya sambil menundukan kepala dalam. Entah mengapa Chanyeol selalu merasakannya, akhir-akhir ini Baekhyun kembali bersikap seperti ketika ia menjadi manusia dulu.
Ia jarang marah dan merubah wujudnya menjadi iblis, tubuhnya pun begitu lemah membuat Chanyeol begitu tidak tega untuk menyentuhnya dalam wujud iblisnya.
"Baiklah." Si kecil membalikkan tubuhnya dengan bahu merosot kecewa. Melangkahkan kaki kecilnya meninggalkan ruangan kerja Chanyeol membuat Chanyeol menghela nafas pelan dengan sedikit rasa penyesalan.
….
"Kau suka?" Baekhyun masih membuka mulutnya lebar melihat ruang tengah sebuah rumah besar dihadapannya. Sebuah rumah yang sudah tertata begitu indah dan benar-benar luas.
"Chan…Chanyeol?" Baekhyun berbalik, berlari kearah sang suami dan memeluk tubuhnya erat. Tanpa sadar Chanyeol tersenyum, memeluk balik tubuh kecil Baekhyun dan sedikit menggendongnya.
Baekhyun melingkarkan kedua tangan dan kakinya sambil menyatukan kening mereka.
"Aku tak menyangka kau akan melakukan ini untukku." Chanyeol menghembuskan nafasnya hingga Baekhyun merasakan hidungnya geli karena tergelitik oleh nafas hangat Chanyeol.
"Apapun untukmu, sayang." Baekhyun tersenyum lebar lalu menyatukan bibir keduanya, saling melumat dengan Chanyeol yang terus melangkah membawa tubuh keduanya menuju kamar baru mereka.
"Bisakah aku mendapatkan hadiahku?" Baekhyun mengangguk ketika tubuhnya telah terbaring diatas ranjang. Keduanya tersenyum dan Baekhyun merentangkan tangannya, membuka kakinya lebar untuk menerima tubuh Chanyeol diatasnya.
Malam harinya, Luhan, Sehun serta Owen kecil datang berkunjung ke rumah baru Chanyeol dan Baekhyun. Namun karena keduanya masih asyik bercinta hingga lupa waktu, membuat mereka tak mendengar dengan benar bunyi bel pintu mereka.
Sehun masuk tanpa izin karena kondisi rumah yang tidak terkunci, melangkah dengan kesal menuju sebuah pintu kamar yang hanya tertutup sedikit untuk mendapati ayahnya sedang bercinta dengan gaya yang aneh dengan ibunya.
Baekhyun menempel di dinding seperti cicak dan Chanyeol yang menusuk dari belakang seperti banteng di musim kawin.
"Astaga!" pekikan Luhan membuat keduanya menoleh, sebelum Owen sempat melihat Luhan telah menutup mata sang anak dengan tangannya dan menariknya menjauh.
"Kalian?" pekik Chanyeol yang segera menutup pintu dengan kekuatannya, membuat hidung mancung Sehun nyaris terkena papan pintu.
Baekhyun begitu gugup dan ia terlihat kelabaan untuk mengambil pakaiannya, satu-satunya yang bisa ia raih hanya pakaian milik Chanyeol. Sementara Chanyeol memilih hanya mengenakan celana kain hitam panjangnya.
Ketika pintu terbuka hal pertama yang mereka dapati adalah Sehun yang berdiri di depan pintu mereka sambil menatap tajam dan memperhatikan bagaimana tubuh ibunya berisi bercak kemerahan yang memenuhi hampir seluruh tubuhnya.
"Ingatlah kalian berada di dunia manusia, dan demi Tuhan kalian adalah tetanggaku sekarang." Kesal Sehun sambil menatap tajam kearah Chanyeol.
"Lalu apa masalahnya?" Sehun memutar bola mata kesal.
"Aku tak ingin kalian melakukan hal-hal seperti tadi yang bisa meracuni pikiran anakku, mesum!"
"Ini rumahku, aku berhak melakukan apapun disini. Kau hanya tamu, Tuan sok dewasa." Sehun menggeram lalu membalik tubuhnya.
"Tapi Tuan sok pintar, kau lupa mengunci pintumu dan membiarkannya terbuka lebar." Chanyeol berdecih dan melangkah menyusul Sehun.
"Salahkan dirimu yang tidak tahu sopan santun yang langsung masuk ke rumah orang."
"Sialan!"
"Kau lebih sialan!"
"Hei, hentikan!" Keduanya menoleh ketika mendengar suara Baekhyun yang serak. Baekhyun berdeham berulang untuk menormalkan suaranya, namun nyatanya suaranya masih tetap serak.
"Kalian terlalu banyak bercinta hingga suara Ibuku habis."
"Baek, kembalilah ke kamar! Beristirahatlah!" Baekhyun menggeleng pelan sambil meremat kemeja kebesaran milik suaminya.
"Aku ingin melihat keponakanku."
…
Hari-hari mereka menempati rumah baru selalu diwarnai oleh pertengkaran Chanyeol dan Sehun yang membuat Luhan dan Baekhyun frustasi. Jiwon dan Jackson nyatanya menyukai tinggal dirumah baru mereka.
Untuk Jackson sendiri, ia memang sudah sering mengunjungi bumi dan tinggal di tempat Luhan, namun untuk Jiwon hal itu masih sangatlah baru. Gadis kecil itu lebih suka mengurung diri ketimbang berkeliaran seperti kakak laki-lakinya, hingga akhirnya Owen menawarkan diri sebagai teman bermain Jiwon sepulang ia dari sekolah.
Baekhyun sangat suka tinggal disana, terutama ketika Kibum juga ikut tinggal bersamanya. Setiap hari ia, Luhan dan Kibum akan berjalan-jalan disekitar dan sesekali mereka akan menemani Baekhyun untuk mengikuti kelas yoga ibu hamil.
"Chanyeol~" Chanyeol mendongak ketika melihat Baekhyun memasuki ruang kerjanya dengan pakaian olahraga berwarna kuning muda dan wajah yang berkeringat membuat lelaki itu tampak semakin seksi.
"Menyukai kegiatanmu?" Baekhyun mengangguk lalu mendekat kearah Chanyeol dan duduk di depan sang suami. Baekhyun mengusap keringatnya sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Aku suka. Tadi aku bertemu banyak sekali orang-orang, aku bahkan mengikuti kelas yoga dan banyak yang tak menyadari aku laki-laki." Chanyeol tersenyum mendengar ucapan Baekhyun, Baekhyun terlihat begitu lucu dan menggemaskan baginya.
"Kau pergi seorang diri?"
"Tidak, aku bersama Luhan dan Ibu. Dan mereka berkata bahwa aku beruntung. Mereka mengira Luhan adalah suamiku dan Ibu adalah mertuaku." Senyuman Chanyeol lenyap tergantikan oleh kening mengernyit.
"Kenapa begitu?"
"Bagi para manusia waktu kehamilan adalah hal penting, jadi ketika para suami ikut berpartisipasi maka semua orang akan berdecak kagum, karena kebanyakan para suami ya seperti dirimu saat ini, sibuk dengan perkerjaan." Ucap Baekhyun masih dengan senyum sumringahnya tidak berniat sama sekali untuk menyindir ataupun membuat Chanyeol tersinggung.
"Setiap hari apa kau pergi ke tempat itu?" ucapan Baekhyun terhenti, tergantikan oleh wajah terkejut lalu menatap Chanyeol tidak percaya.
"Ke-kenapa?" tanya Baekhyun gugup, ia takut jika Chanyeol akan melarangnya datang kesana.
"Kapan?" tanya Chanyeol lagi.
"Se-senin, kamis dan Minggu." Chanyeol mengangguk dan Baekhyun mengernyit heran.
"Kau sudah makan?" tanya Chanyeol. Baekhyun menggeleng pelan masih tampak gugup dengan pertanyaan Chanyeol tadi.
"Makanlah dulu, aku akan menyusul." Baekhyun mengangguk dan segera bangkit sambil terus menatap Chanyeol penuh tanda tanya.
…
Baekhyun melangkah memasuki sebuah gedung bertingkat dan segera menuju lantai dimana kelas senamnya diadakan. Biasanya ia akan ditemani oleh Luhan atau ibunya atau mungkin keduanya, tapi kini Luhan berkata hanya bisa mengantarnya karena urusan pekerjaan dan akan menjemputnya kemudian. Sementara ibunya, tanpa alasan yang jelas berkata bahwa tidak bisa menemani Baekhyun.
Baekhyun tak masalah, lagipula ia sudah memiliki beberapa teman disana. Para ibu-ibu yang begitu menyukainya.
"Baekhyunie!" Baekhyun tersenyum dan segera berjalan kearah sekelompok ibu-ibu yang sedang duduk di pinggir ruangan dan seperti biasa berbincang sebelum kelas dimulai.
"Kau sendiri? Suamimu tidak ikut lagi?" tanya salah satu ibu hamil itu pada Baekhyun. Baekhyun meletakkan tasnya sambil tersenyum maklum sebelum akhirnya mendekat dan menatap satu per satu wanita di depannya.
"Sebenarnya, dia bukanlah suamiku, dia adalah kakak iparku." Ucap Baekhyun dan berhasil membuat keempat wanita itu mengangguk.
"Aku sudah menduganya, karena untuk ukuran pria dia begitu cantik. Aku sempat berpikir dia wanita jika saja tidak melihat dari cara berpakaiannya."
"Benar, dan juga adam apple nya." Sahut wanita yang lain.
"Ah, iya. Aku hampir melupakan itu. Lalu dimana suamimu?" Baekhyun terdiam, sorot matanya berubah menjadi sedikit sedih, sebelum kemudian ia tersenyum lagi kearah mereka.
"Dia sibuk."
"Ah, bukan masalah. Suami kami pun adalah tipikal si penggila pekerjaan, kau tidak sendiri, sayang." Ucap mereka sambil mengelus rambut Baekhyun, menganggap ia sebagai adik terkecil mereka, karena memang Baekhyun lah yang termuda disana. Rata-rata dari mereka sudah memiliki anak dan bukan merupakan kehamilan pertama, dengan para suami yang memiliki pekerjaan yang tidak biasa.
Luhan yang menawarkan tempat itu padanya, itu mengapa tempat senam Baekhyun bukanlah tempat orang-orang kelas bawah, melainkan para pengusaha ataupun profesi lainnya yang sangat sedikit memiliki waktu untuk sekedar menemani istri mereka, dan sejauh ini mereka masih mengira jika Baekhyun adalah perempuan.
"Aku akan meletakkan barang-barangku dulu." Ucap Baekhyun lalu bangkit dan berjalan kesisi ruangan lain dimana loker para anggota kelas diletakkan. Baekhyun membuka jaketnya dan memperbaiki letak kaos kebesaran yang ia kenakan, juga celana legging yang begitu tidak nyaman untuknya.
Lagi-lagi Luhan yang memiliki ide itu, ia ingin membuat Baekhyun terlihat sama dengan para ibu-ibu lainnya dan benar, tidak ada yang mengetahui jenis kelamin Baekhyun hingga saat ini.
Tak lama instruktur mereka datang dan meminta para ibu-ibu hamil itu untuk mengambil posisi. Mereka duduk bersila sambil melakukan pemanasan kecil. Baekhyun terlihat begitu serius, karena ia sangat menyukai kegiatan ini. Tiap kali ia melakukan senam kehamilan, bayinya akan menendang-nendang senang, dan Baekhyun mampu merasakan perasaan senang itu.
Ketika beristirahat mereka diperkenankan kembali dan meminum susu kehamilan mereka, biasanya ada Kibum yang menyiapkan untuknya sebelum kelas berakhir, namun kini Baekhyun harus terbiasa seperti ibu-ibu lainnya.
Ia mengeluarkan sebuah botol yang telah berisi bubuk susunya, lalu berjalan menuju sebuah water dispensear dan mengisi botolnya dengan air hangat. Ketika telah selesai mengocok susunya dan akan meminumnya, Baekhyun berjalan untuk bergabung bersama ibu-ibu lainnya.
Tapi yang ia lihat hanya para ibu-ibu hamil yang menatap kearah pintu masuk dengan wajah tercengang dan tubuh membeku di tempat. Baekhyun menoleh dan terkejut melihat sosok tinggi disana.
Sosok dengan kaos turtle neck putih dan celana hitam panjang yang terlihat kebingungan mencari kehadirannya.
"Chanyeol?" bisik Baekhyun pelan membuat ibu-ibu itu segera menoleh kearah Baekhyun dan sosok Chanyeol yang mendesah lega karena menemukan istrinya disana. Langkah kaki panjang itu ia bawa mendekat pada si mungil yang masih terdiam.
"Apa yang kau_" ucapan Baekhyun terpotong karena Chanyeol langsung mengecup bibirnya, membuat suara nafas tertahan terdengar dari yang lainnya.
"Hai sayang." Bisik Chanyeol setelah wajahnya menjauh. Baekhyun masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Ia tidak pernah membayangkan Chanyeol sungguh berada di kelas senamnya , bahkan ia tidak pernah berani membayangkannya.
"Nyonya Byun, apakah ini suami anda?" Baekhyun tersadar saat instrukturnya menepuk pundaknya pelan. Chanyeol mengernyit mendengar panggilan Baekhyun.
"Nyonya?" Baekhyun segera menoleh kearah Chanyeol, lalu menarik suaminya sedikit berada di sudut ruangan.
"Mereka mengira bahwa aku perempuan, jadi jangan mempermasalahkannya mengerti?" Chanyeol masih menaikkan satu alisnya, merasa tidak terima dengan hal itu. Baekhyun adalah laki-laki lalu kenapa ia harus berpura-pura menjadi perempuan.
"Aku mohon! Kau tahu sendiri kan bahwa di dunia manusia laki-laki bisa mengandung itu hal yang aneh, aku tak ingin mereka menganggapku aneh." Chanyeol berdecak memalingkan wajahnya, ketika ia hendak meninggalkan tempat itu Baekhyun menahan tangannya.
"Chanyeol, aku mohon! Aku menyukai tempat ini." Chanyeol menatap ke dalam mata Baekhyun yang nampak begitu memohon, ia menghela nafas dan menarik pinggang Baekhyun cepat, lalu membawa bibir keduanya untuk bertemu.
Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol ketika ia mulai tersadar jika seluruh pasang mata masih menatap kearah mereka. Baekhyun meminta Chanyeol untuk duduk, sementara ia mendekat kearah ibu-ibu lainnya untuk sekedar memeriksa keadaan mereka.
"Baekhyunie, itu suamimu?" Baekhyun mengangguk takut, takut jika mereka sadar bahwa Baekhyun adalah laki-laki.
"I-iya. Maafkan atas sikapnya."
"Woaaaah. Suamimu tampan sekali, seperti foto model, ah tidak. Apa dia seorang actor?" Baekhyun menggeleng pelan.
"Dia bukan. Dia hanya seorang pengusaha." Sahut Baekhyun lagi sambil mencoba mengambil duduk, namun salah satu dari mereka melarang membuat Baekhyun terkejut.
"Kau ini, jangan duduk disini ketika suamimu menyempatkan diri untuk datang. Sana temani dia! Kami baik-baik saja!" Baekhyun merasa tidak enak, tapi kemudian ia melirik kearah Chanyeol yang nampak tidak nyaman dengan tempat yang ia datangi dan selalu menyapu sekitar dengan mata bulatnya.
"Baiklah kalau begitu, maafkan aku."
"Eeei, kenapa minta maaf. Bukan masalah. Uh, pasangan muda yang serasi." Ucap salah satu wanita yang masih mampu di dengar oleh Baekhyun, yang secara tak sadar langsung tersenyum mendengar itu.
"Chanyeol, apa yang membawamu kemari?" tanya Baekhyun sambil berdiri di depan suaminya. Chanyeol tak menjawab, tapi menarik tangan Baekhyun hingga tubuh yang lebih kecil tepat berada di kedua paha terbuka Chanyeol.
"Menemanimu tentunya." Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya, dan tindakan Chanyeol selanjutnya membuat Baekhyun terkejut. Ia didudukan disalah satu paha Chanyeol dan hal itu tentu terlihat intim.
Baekhyun hendak menolak namun Chanyeol menahannya, dan menyerahkan kembali botol susu Baekhyun.
"Minumlah, kasihan dia kelaparan di dalam sana. Atau kau ingin meminum susu yang lain?" Baekhyun segera merampas botol susu dari tangan Chanyeol, tak ingin sisi mesum Chanyeol tiba-tiba muncul.
Selama melakukan aktifitasnya, mata Baekhyun tak luput dari Chanyeol yang selalu melihat kearahnya, membuat dirinya merasa canggung. Ia lelaki dan sedang berada diantara ibu-ibu hamil lainnya untuk melakukan beberapa gerakan yang terkadang Baekhyun sadari jika kening Chanyeol mengerut melihatnya.
"Sudah selesai?" Baekhyun mengangguk sambil mengelap keringatnya, Chanyeol yang melihat itu segera bangkit untuk mengelap bulir-bulir keringat di kening Baekhyun dengan telapak tangannya dan sukses membuat ibu-ibu lain menahan nafas mereka dan mulai berisik untuk bergosip.
Ketika waktunya pulang, Baekhyun dibuat keheranan karena Chanyeol tak langsung membawa mereka pulang ke mansion mereka melainkan ke sebuah taman untuk mendudukan keduanya diatas bangku sambil menatap danau di depan mereka.
Baekhyun melirik Chanyeol, dan ia tahu jika pria itu tidak benar-benar memiliki ide itu atas inisiatifnya sendiri terlihat dari bagaimana Chanyeol merasa hal itu begitu membosankan.
"Luhan?" Chanyeol menoleh terkejut mendengar pertanyaan Baekhyun, matanya berkedip dan kemudian ia berdeham pelan untuk membuang kerterkejutannya.
"Hm? Luhan? Dia sedang dirumah."
Ck! Lihat? Baekhyun sudah tahu jika tebakannya 100 persen benar. Luhan izin karena pekerjaannya dan kini Chanyeol berkata bahwa sosok itu sedang berada dirumah. Sungguh sinkronisasi yang indah bukan?
"Jika kau tak suka, kenapa memaksakan diri? Aku tak memintamu untuk melakukannya, Chanyeol." Ucap Baekhyun sambil tersenyum lembut, meski ada sebuah perasaan sakit saat mengetahui jika Chanyeol tak tulus melakukannya.
"Aku hanya bingung…" Chanyeol memulai sambil menatap kehamparan danau dan beberapa anak-anak berlarian disana.
"Kenapa apapun yang ada di dalam hidup manusia begitu rumit? Kenapa aku harus melakukan ini dan itu yang bukan diriku?" Baekhyun mengelus punggung tangan Chanyeol pelan. Ia tahu bahwa kehidupan manusia memang rumit. Tapi ucapan Chanyeol nyatanya semakin membuat Baekhyun merasa sedih. Bahwa Chanyeol terpaksa menjadi sosok suami yang di idam-idamkan.
"Jika kau tidak menyukainya, maka hentikanlah!" Ucap Baekhyun lagi. Kali ini matanya ikut menatap kehamparan danau yang tenang dan memperhatikan bagaimana anak-anak di depannya tertawa dengan riang dan kemudian berlari kea rah ayah mereka.
Pemandangan itu membuat Baekhyun merasa iri, ia menyentuhnya perutnya lalu melirik Chanyeol sejenak. Kepalanya ia bawa menunduk untuk menatap perutnya yang semakin membuncit.
'Seandainya kau adalah anak-anak itu, seandainya kau bukan reinkarnasi dari Lucifer apa Chanyeol akan mencintaimu?'
Gumam Baekhyun di dalam hatinya. Chanyeol menoleh saat tak mendengar suara Baekhyun dan entah mengapa ia merasakan hal itu, sebuah kesedihan dari dalam diri istrinya. Fakta bahwa Baekhyun lebih sensitif pada kehamilan keempatnya sebagai manusia.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun menjauh dari perutnya membuat yang lebih kecil mendongak terkejut, kemudian tanpa isyarat lelaki itu membaringkan tubuhnya diatas kursi kayu dan menjadikan paha Baekhyun sebagai bantalnya.
"Sebenarnya, jika bisa memilih aku hanya ingin hidup berdua denganmu tanpa ada iblis-iblis kecil disekitar kita." Ucap Chanyeol. Baekhyun menghela nafas lalu mengelus perutnya, namun dengan cepat Chanyeol menarik tangan itu agar mengelus kepalanya. Baekhyun menurut dan mengelus kepala Chanyeol.
"Tapi iblis-iblis kecil itu datang tanpa diundang."
"Kau yang membuat mereka ada, asal kau tahu!" protes Baekhyun dan Chanyeol mengerutkan keningnya mencoba mencerna.
"Kau yang menghamiliku, itu mengapa mereka ada." Chanyeol terkekeh lalu menatap mata Baekhyun yang juga menatapnya.
"Ya. Ya. Ya. 50% karenaku."
"100%." Balas Baekhyun dan Chanyeol menatap Baekhyun tidak terima tapi kemudian memilih mengangguk tak ingin suasana hati istri tercintanya berubah.
"Ya, semua ulahku. Dan aku bersumpah, makhluk ini yang terakhir." Ucap Chanyeol sambil menunjuk perut Baekhyun dengan wajah tidak terima yang dibuat-buat. Baekhyun terkekeh pelan lalu mengelus kening Chanyeol.
"Chanyeol, apa jika dia lahir kau bisa mencintainya?" Tubuh Chanyeol membeku dan Baekhyun sungguh kecewa. Keduanya terdiam sejenak sebelum Chanyeol bangkit, dan menarik tangan Baekhyun untuk bangkit.
"Aku muak mengikuti cara manusia membahagiakan pasangan mereka, mau mengikuti caraku?" Baekhyun belum menjawab dan Chanyeol segera membawa tubuh keduanya terbang melesat tanpa dilihat oleh orang disekitar mereka.
Tubuh Baekhyun berada dalam gendongan Chanyeol, dimana sayap Chanyeol telah terbuka lebar dan mengepak diatas sekitar air danau. Baekhyun menoleh kebawah sambil masih mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol, lalu membiarkan ujung tangannya yang lain menyentuh permukaan air danau yang dingin.
Sudah lama ia tidak merasakan rasanya terbang karena kondisinya yang lemah membuatnya tak mampu berubah menjadi wujud iblisnya dan kini ia merasakan kebebasan itu.
Chanyeol tersenyum dan tanpa Baekhyun sadari suaminya itu membawa keduanya berdiri pada ujung pohon tertinggi di dalam hutan di pinggir kota. Baekhyun tersenyum melihat pemandangan di depannya.
"Aku mungkin belum sepenuhnya bisa memaafkan makhluk itu, tapi biarkan aku mencoba Baekhyun. Demi mu." Baekhyun tersentak sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan mengecup bibir Chanyeol dengan lembut.
"Dulu hatiku tak mengenal apapun selain rasa benci dan karenamu, aku tahu apa itu cinta. Aku mencintaimu, Baekhyun."
….
..
.
"Aku mencintaimu, Baekhyun."
Gema suara itu di dalam pikirannya membuat air mata Baekhyun mengalir melewati pipinya. Kenangan-kenangan itu berputar begitu saja seperti sebuah kaset di dalam gedung film.
Mengungkit kembali perasaan yang telah ia sembunyikan sebulan lamanya. Sebulan tanpa Chanyeol dihidupnya nyatanya tak membuat Baekhyun baik-baik saja, ada saja waktu dimana ketika ia menginginkan sosok itu kembali padanya.
"Mommy!" Baekhyun mendongak dan segera menghapus air matanya dengan cepat. Putra kecilnya berlari dengan begitu bersemangat dan melompat ketika tubuh keduanya bertemu.
Semenjak perpisahannya dengan Chanyeol, Baekhyun selalu berada di sekolah untuk mengantar dan menjemput Taehyung, tak ingin putranya mendapat gangguan lagi. Sudah dua minggu sejak Taehyung kembali bersekolah dan selama itu pula ia selalu mendapati senyum lebar sang putra tiap kali ia menjemputnya.
Baekhyun ikut tersenyum sambil mengendarai mobilnya ketika Taehyung terus bercerita tentang kegiatan sekolahnya dengan antusias.
"…lalu, aku memukul mereka dengan tangan kosong. Mommy tahu apa yang terjadi pada mereka?" Baekhyun menoleh kearah Taehyung dengan wajah penasaran.
"Mereka menangis sambil berlari seperti anak perempuan. Huh, cengeng. Itu mengapa kaca mataku bisa rusak. Mommy tak marah kan?" Baekhyun tersenyum dan mengelus pucuk kepala Taehyung sambil menggeleng pelan.
"Tentu tidak. Jja! Mari kita beli yang baru." Ucap Baekhyun sambil menjalankan mobilnya ketika lampu telah berubah hijau.
Baekhyun senang, Taehyung menjadi begitu periang. Tak hanya di dalam perjalanan, ketika dirumah pun ia akan dengan antusias bercerita membuat kedua kakaknya menggeleng heran.
"Kau terlalu bangga pada dirimu bocah!" ucap Jackson sambil mencoba kekuatannya di halaman belakang. Sementara Jiwon terlihat menaruh perhatian penuh pada sang adik yang terus berceloteh lucu.
"Setidaknya dia menggunakan tangan kosong, bukan kekuatan sepertimu." Sehun bergabung disana sambil berbaring diatas kursi dan membaca majalahnya.
"Hei bung! Pria sejati adalah mereka yang memiliki kekuatan super." Balas Jackson sambil melemparkan bola apinya pada sasaran di depannya. Jiwon yang berenang di dalam kolam sambil membantu Taehyung memakai pelampungnya berdecih.
"Pria sejati itu adalah pria yang bisa mengatur emosinya." Ucap Jiwon sambil sesekali melirik Owen yang fokus pada novel di tangannya yang tak luput dari perhatian Sehun.
"Dilarang saling melirik di dalam rumah!" ucapan Sehun membuat Jiwon kesal dan menyipratkan air ke tubuh kakak sulungnya.
"Ibu! Lihat anak perempuanmu! Dia seperti tarzan, aku tak akan pernah membiarkan dia menjadi menantuku. Owen, jangan pernah nikahi gadis itu." Ucap Sehun sambil menyenggol tubuh putranya membuat Owen menoleh dan matanya langsung tertuju pada Jiwon.
"Oppa~" rengek gadis itu dan Sehun menirukan wajah adik perempuannya.
"Hentikanlah! Kalian ini sudah besar." Ucap Baekhyun yang berjalan dari dalam membawa senampan minuman dingin dan juga semangkuk apel berkulit merah yang terlihat menggiurkan.
"Terutama kau Sehun-ah!"
"Dia bukan besar lagi, Mom, tapi tua, lihat rambutnya aku yakin rambut putih sudah tumbuh disana." Ucap Jackson tanpa menoleh dan masih berfokus pada sasarannya diujung halaman.
"Dasar iblis!"
"My pleasure." Ucap Jackson membuat Sehun berdecih.
Taehyung tersenyum memperhatikan bagaimana interaksi keluarga besarnya dan merasa bahagia dengan semua itu, meski ia begitu merasakan kekurangan yang amat sangat besar di dalam hidupnya.
"Daddy, apa Daddy begitu membenciku?"
Ucapnya di dalam hati, dan tanpa ia ketahui Baekhyun menoleh kearahnya dan merasakan betapa bersedihnya bocah lelaki itu tanpa kehadiran sang ayah.
"Chanyeol, apa kau tak ingin kembali?"
…
..
.
Langkah kaki kecilnya ia bawa menyusuri koridor, dan ketika tiba di depan pintu kelas ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya melebarkan senyumannya.
"Good mor_"
BYUR
Matanya dengan refleks tertutup ketika air berbau tengik membasahi tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dan diiringi oleh suara tawa teman-temannya.
"Mom, mereka tak pernah mengangguku lagi."
Taehyung melepas kaca matanya, lalu mengelap wajahnya. Ia menatap satu persatu temannya yang tertawa, lalu ia menghela nafas dan tersenyum lebar memperlihatkan giginya.
"Karena aku kuat, mereka takut ketika aku menjadi kuat."
Dengan pasti kaki kecilnya melangkah dan segera menuju tempat duduknya. Ia meletakkan tasnya dan berjalan dengan santai menuju keluar kelas. Selama perjalanan di koridor ia mendapat begitu banyak tatapan jijik dari teman-teman sebanyanya.
Ia menuju lokernya, mengeluarkan sebuah baju ganti dari dalam sana. Melepas miliknya yang basah dan menggantinya dengan yang baru.
"Aku bahkan memiliki strategi baru untuk melawan mereka, mereka akan takut padaku."
BRAK
Ia berjengit kaget ketika pintu lokernya dipukul keras. Ia mendongak dan mendapati empat siswa laki-laki yang bertubuh lebih besar darinya.
"Aku bahkan memanggil mereka 'Hei pecundang' dan mereka akan ketakutan."
"Hei pecundang!" ucap salah satu dari mereka dan menarik kerah Taehyung lalu mengambil kaca matanya secara paksa. Kaca mata itu dilempar hingga membentur lantai dan retak.
"Itu kenapa kaca mataku selalu rusak, karena aku berkelahi melawan anak-anak nakal itu."
Taehyung berlari mengambil kaca matanya, namun kerahnya ditarik hingga ia tersungkur kebelakang.
"Si aneh yang tidak punya bakat. Memalukan. Aku dengar kau membawa Ibumu ke sekolah, benar-benar pecundang. Kenapa tidak sekalian dengan ayahmu?"
"Dia sibuk." Balas Taehyung sambil memakai kaca matanya.
KRIIIINGGG
Bel masuk berbunyi dan sebelum Taehyung sempat berbalik, tubuhnya telah ditabrak hingga terjatuh dan kaca matanya ditendang menjauh. Taehyung meremas jemarinya diatas lantai, wajahnya memerah menahan tangis.
"Aku tak boleh menangis. Daddy tak akan pernah kembali bila aku tetap lemah, aku anak kuat. Aku anak Daddy. Aku anak kuat, aku anak Daddy." Ucapnya bagai mantra untuk dirinya sendiri. Ia bangkit sambil memasang senyuman diwajahnya.
Dengan sedikit pandangan kabur ia mencari kaca matanya yang berada di bawah rak loker, ia membaringkan tubuhnya diatas lantai dan mencoba meraih kaca matanya. Mengulurkan tangan-tangan kecilnya untuk masuk ke dalam tempat berdebu itu.
Sesekali ia menepuk-nepuk pakaiannya dan berjalan menuju kelasnya.
"Jawab dengan benar!" Tubuh Taehyung membeku mendengar bentakan dari dalam kelasnya. Suara itu berasal dari seorang pria yang ia tidak tahu bagaimana rupanya. Ia masih berdiri membeku sambil memegang engsel pintu.
"Ka-kami dari toilet."
"Tch! Berani berbohong? Jangan sekali-kali datang terlambat di kelasku, kali ini aku memaafkan kalian. Silahkan duduk!"
"Thank you, Sir." Ucap suara dari anak-anak nakal yang mengerjainya tadi dan itu membuat Taehyung semakin ketakutan.
Dari celah pintu ia mengintip dan yang bisa ia lihat hanya sosok tinggi berjas hitam dengan celana hitam, dan rambut berwarna merah menyala.
"Aku yang akan mengajari kalian matematika mulai hari ini."
Tidak! Taehyung rasa ia ingin mengompol dicelana karena demi apa, ia paling tidak bisa matematika. Ia selalu kekurangan jarinya ketika harus mengalikan angka di depannya.
"Dan kau…yang mengintip di balik pintu masuklah!" Taehyung tersentak dan segera menegakan tubuhnya. Ia meneguk ludahnya cepat, jantungnya berdetak dengan kencang rasanya ia ingin melarikan diri dari sana. Kakinya sudah melangkah mundur dan siap berlari.
"Jangan mencoba kabur dan menjadi pengecut!" lagi ia tercekat. Dengan terpaksa ia melangkah maju, membuka pintu kelas dengan kepala menunduk dalam.
Ia sudah masuk namun masih berada tak jauh dari ambang pintu. Sepasang kaki jenjang mendekat dan dari sudut pandangnya, Taehyung melihat sepasang sepatu hitam mengkilap yang berada di depan sepatunya.
"Siapa namamu?"
"Par-Park Taehyung!"
"Bicara yang benar!" bentakan itu membuat kaki Taehyung melemas. Ia menghela nafas dan kembali mengulang namanya. "My name is Park Taehyung, sir!" ulangnya setengah berteriak.
"Angkat wajahmu ketika bicara dengan orang yang lebih dewasa!" Dengan takut dan ragu Taehyung mendongak. Matanya meneliti satu persatu bagian dari sosok itu, dimana kedua tangan itu terlipat di depan dada. Hingga perlahan sorotnya semakin keatas, melewati dagu dan rahang tajam itu, lalu terhenti tepat di kedua mata bulat itu. Nafas Taehyung tercekat.
"Sssttt." Sosok itu meletakan satu jemarinya di depan bibirnya sambil menyeringai kecil.
…
..
.
TBC
…
..
.
Aku mau ucapin terima kasih yang sebesar-besarnya buat kalian yang selalu mendukung apapun yang aku buat dalam setiap ceritaku. Maaf karena udah buat kalian baper di chapter sebelumnya dengan note aku.
Niatnya chapter ini udah end, tapi kayaknya tangan aku kangen untuk ngetik dan jadinya malah panjang. Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya, dan maaf juga buat keterlambatannya.
Mungkin chapter depan DBM special chapter bakal tamat, supaya kalian gak beban juga nunggu-nunggu dengan penasaran hahaha…
Silahkan yang berminat untuk meninggalkan jejak kalian, wkwkwkw…
Sekian dari aku, salam Chanbaek is real dan jangan lupa selalu jaga kesehatan kalian. I love you guys.
