Title : Devil Beside Me ( special chapter ) part 3

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Kim Kibum, Choi Minho , Lee Taemin , Ok Taecyeon , Taeyang, Kim Dasom , Kim Jonghyun, Bae Joo Hyeon-Irene , Park Sooyoung- Joy , Kim Yerim-Yeri, Song Naeun, Yoon Bomi, Park Chorong, Park Cheondong ( Thunder ), Huang Zitao, Wu Yifan, Jung Soojung, and others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa ,seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.

NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.

..

.

(Juni 2018)

...

..

.

Langkahnya ia bawa menyusuri setiap bagian pada lantai di bawah kakinya, tidak meninggalkan jejak namun suara sepatu yang beradu dengan lantai kayu terdengar memenuhi seisi rumah yang begitu sepi.

Sepasang kaki itu terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu, dengan perlahan ia mendorong pintu itu ke dalam membuat aroma manis dari dalam ruangan tercium. Aroma yang begitu wangi dan menyejukkan.

Matanya jatuh pada sosok yang sedang berbaring diatas ranjang dengan wajah yang terlihat begitu kelelahan, sementara di dekat jendela sebuah kotak kayu berayun dengan lembut mengikuti tiupan angin.

Perhatian sepenuhnya jatuh pada kehadiran itu, semakin dekat maka aroma wangi itu tercium semakin kuat, hingga matanya bertemu dengan mata jernih bulat yang indah. Bayi lelaki yang sedang menendang-nendang udara kosong dan menghisap jemari terkepalnya.

Bayi itu tersenyum, seolah menyambut kedatangan yang lebih besar. Menendang semakin keras, seperti bersorak kesenangan dan membuat yang lebih tua menjulurkan tangannya, mengangkat bayi itu dan mendekapnya.

Rasanya begitu hangat, seolah ada sebuah aliran yang menjalari tubuhnya dan ada sebuah ikatan yang membuatnya tak ingin meninggalkan bayi itu.

"Eeugh.." bayi itu mengeluarkan suaranya sambil menyandarkan kepalanya pada dada yang lebih tua. Mata mereka kembali bertemu, menyalurkan sebuah perasaan yang tidak ada satupun dari mereka yang bisa mendefinisikannya.

Yang lebih tua mengangguk, membenarkan di dalam benaknya bahwa darah jauh lebih kental daripada air, bahwa sebuah ikatan antara orangtua dan anak tak akan pernah terputus sebesar apapun salah satunya ingin berlari dan menghindar.

Chanyeol tersentak dan segera membuka matanya, Kyungsoo ada disana dan segera menyerahkan secangkir minuman untuk sang kakak. Chanyeol mengernyit dan menatap jijik minuman dihadapannya, tapi kemudian Kyungsoo mendorong gelas itu agar segera diraih yang lebih tua.

"Ini untuk menenangkanmu." Ucapnya sambil menatap Chanyeol yang mulai dengan ragu mendekatkan cangkir ke bibirnya.

"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Chanyeol ketika mata mereka kembali bertemu. Kyungsoo tersenyum, meraih cangkir di tangan kakaknya dan meletakkannya diatas meja.

"Membuatmu mengingat bagaimana rasa itu muncul saat kalian bertemu untuk pertama kalinya." Akunya. Chanyeol mengernyit, dan segera mengalihkan matanya kembali pada Kyungsoo.

Adiknya tersenyum dan bangkit, berjalan memutari tempat duduk Chanyeol lalu memeluknya dari belakang dengan penuh kasih sayang.

"Hyung, rasanya indah bukan?" bisik Kyungsoo pelan. Chanyeol terdiam, menatap kosong pada cangkir di depannya dan kembali mengingat tentang ingatannya yang barusan.

Awalnya Chanyeol entah bagaimana bisa tiba-tiba muncul di Nubes, membuat kegaduhan di dunia para malaikat hingga akhirnya Kyungsoo muncul disana dan tahu bahwa sang kakak membutuhkannya.

Kyungsoo membawa sang kakak keruang kerjanya, tanpa perlu bertanya ia segera membuat kakaknya bernostalgia pada masa lalunya dengan sedikit sihir yang ia miliki.

"Aku tak tahu." Kyungsoo tersenyum dan memeluk kakaknya semakin erat membuat Chanyeol mengernyit.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol sambil mencoba melepas pelukan sang adik. Kyungsoo tidak biasanya bermanja-manja padanya, dan pelukan sang adik terasa aneh ditubuhnya.

"Aku memelukmu, tubuhku begitu dekat denganmu. Apa sensasinya sama?" Chanyeol barulah tersadar. Kyungsoo selalu memiliki cara tersendiri untuk menyadarkan seseorang.

Dan Chanyeol akhirnya tahu bahwa rasanya sama sekali tak sama. Ketika ia menggendong Taehyung yang masih bayi untuk pertama kalinya, ada sebuah sengatan yang membuat ia tersadar bahwa ia harus melindungi sosok itu, namun ketika bersama Kyungsoo tidak sama seperti itu, ada yang hilang dan Chanyeol tak tahu apa itu.

"Tentu tidak sama. Karena ikatan kalian jauh lebih kuat. Kau ayahnya dan dia anakmu. Jadi sampai kapan kau akan terus berlari seperti ini hyung?" Chanyeol kembali terdiam. Bibirnya kaku dan lidahnya kelu, tak ada sepatah katapun yang mampu keluar.

Kyungsoo menarik tubuh sang kakak untuk bangkit, menggenggam tangan yang lebih tua sambil menatap dalam mata tajam itu.

"Hyung, keluargamu membutuhkanmu. Baekhyun membutuhkanmu, anak-anakmu membutuhkanmu." Chanyeol terdiam masih menatap lekat Kyungsoo, hingga ia mengangguk pelan dan memeluk tubuh Kyungsoo sayang.

"Kau benar-benar seperti ibu, terima kasih Kyungsoo." Kyungsoo mengangguk.

"YAAAK! Menjauh dari ibuku!" Keduanya terkejut akan kemunculan anak kecil tepat diantara tubuh mereka yang segera mendorong kuat membuat tubuh Chanyeol terdorong kebelakang.

"Kau!" kening Chanyeol mengerut dalam menatap sosok gadis di depannya yang memasang wajah tak bersahabat.

"Kryst!" peringat Kyungsoo namun gadis itu tidak menggubrisnya. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil mengangkat wajahnya tinggi-tinggi.

"Men-jauh-da-ri-ibu-ku!" Kyungsoo menggeleng pelan lalu menatap Chanyeol dengan gelengan agar tak melawan putri nakalnya.

"Kau tak tahu siapa aku? Aku pa-man-mu." Ucap Chanyeol.

"Aku tahu" sahut yang lebih kecil angkuh

"Lalu?"

"Tapi kau iblis, Raja Iblis."

"Dan?"

"Siapa yang akan percaya iblis."

"K-kau!?" Gadis itu menjulurkan lidahnya dan segera berlari ketika mendengar langkah sang ayah, lalu melompat ke dalam gendongan ayahnya ketika Jongin muncul membuat lelaki itu dengan sigap menangkap putri kecilnya.

"Yah, iblis itu memeluk ibu tadi." Adu Kyrstal membuat Jongin menghela nafas sambil menatap dua orang dewasa di depanya dengan gelengan pelan, memaklumi kenakalan putri mereka.

Nyatanya Chanyeol tak merasa tersinggung dengan ucapan Krystal, ia tersenyum melihat interaksi lucu diantara keluarga kecil itu. Bagaimana Jongin begitu mencintai putrinya dan juga Kyungsoo adiknya.

Dan perasaan itu membuat sebuah pemikiran lain muncul. Tentang bagaimana selama ini putranya di perlakukan oleh teman-temannya di sekolah, tentang Taehyung yang bahkan tak berani mengadu lagi pada ibunya.

..

.

Park Shita

Present

..

.

Mata bulat itu tak henti-hentinya mengikuti pergerakan sosok tinggi di depannya yang sedang menulis beberapa rumus di depan kelas. Bibirnya mengulas sebuah senyuman, dengan kedua tangan menopang dagunya.

Tidak seperti siswa lainnya yang nampak tegang karena mengetahui bahwa guru baru mereka adalah sosok yang galak dan menyeramkan.

"Buka buku kalian halaman 144 dan kerjakan itu! Aku beri 10 menit untuk seluruh soal." Seketika suasana menjadi mencekam. Taehyung segera tersadar ketika teman-temannya mulai membuka halaman buku.

Ah, bangun ruang. Ia paling membencinya.

Begitu banyak rumus dan ia tidak menyukai menghapal semua rumus yang serupa itu.

Menit-menit berlalu dan Taehyung merasa kesulitan, ia sesekali melirik teman-temannya yang sudah mulai mengerjakan atau sekedar menorehkan pena mereka. Sementara ia, satupun tidak bisa ia kerjakan.

Suara langkah kaki sepatu sang guru mulai mendekat, dan tubuh Taehyung mulai menegak. Ketika sosok itu tiba di sampingnya, ia mendongak dan memberikan cengiran lebar namun sayang tak terbalaskan, ia malah mendapatkan sebuah tatapan tajam dari balik kaca mata sang guru.

"Ada masalah?" suara berat yang sedikit berbeda itu membuat jantung Taehyung berdetak cepat.

"A-aku tidak mengerti dengan ini." Sosok itu menghela nafas. Ia membalik halaman buku Taehyung dan menunjuk rumus mana yang harus ia gunakan, Taehyung mengangguk dan kemudian mulai mengerjakan.

Sosok itu kembali melanjutkan jalan dan melewatinya membuat Taehyung menoleh dan merasa sedikit kecewa. Lagi-lagi ia mengecewakan.

Ketika bel berbunyi itu berarti bahwa untuk hari ini kelas matematika telah berakhir dan seluruh siswa diperbolehkan untuk pulang. Akhir pelajaran adalah bagian favorit mereka, karena 6 jam dengan mata pelajaran dan guru yang mengerikan membuat mereka kesulitan untuk bernafas.

Setelah mengemasi barang-barang, mereka segera berlarian keluar menyisakan Taehyung yang masih duduk di bangkunya. Matanya lekat memperhatikan sang guru berambut merah yang terlihat begitu rapi dan tampan.

Sedikit ragu ia melangkah, mendekati sosok yang masih setia merapikan bukunya.

"Da-daddy?" suara itu begitu kecil seperti sebuah bisikan namun nyatanya itu mampu mengalihkan atensi sang guru. Dari balik kaca matanya, si pemilik mata bulat memperhatikan yang lebih kecil.

"A-apa kau sungguh Daddy?" tanya Taehyung lagi sambil memperbaiki letak kaca matanya, namun hal itu malah membuat sosok yang lebih tinggi mengernyit melihat sebuah retak di sudut bingkai kaca mata yang lebih kecil.

Tangan besar itu mengambilnya dengan cepat membuat nafas Taehyung tercekat, apalagi ketika yang lebih tua membalik kaca mata miliknya sambil memperhatikan tiap retakan itu.

"I-itu karena aku yang ceroboh." Lagi wajahnya menunduk, merasa malu dengan sisi pengecutnya.

"Apa anak Daddy sudah pandai berbohong sekarang?" suara itu kembali terdengar, suara ayahnya yang asli, yang jauh lebih berat dan menyeramkan tapi Taehyung menyukainya. Untuk itu ia mengangkat wajah sambil tersenyum lebar, dan dalam hitungan detik mendekap tubuh sang ayah yang hanya terjangkau pada bagian pinggangnya.

"A-aku merindukanmu, Dad." Ucap Taehyung dan Chanyeol menunduk, ia balas memeluk tubuh putranya.

"Aku pun jagoan kecil." Taehyung merona mendengar panggilan ayahnya, ini pertama kalinya ia dipanggil jagoan oleh sang ayah. Tapi kemudian pikiran lain memenuhi kepalanya, menyangkut hal kemana ayahnya pergi dan apa yang dilakukan ayahnya di sekolahnya dengan menjadi guru.

"Daddy, aku ingin bertanya, kenapa_"

"Aku memiliki urusan beberapa waktu belakangan ini, dan aku datang kesekolahmu dalam sebuah misi."

"Misi?" kepala Taehyung ia bawa miring sambil memasang wajah berpikir. Chanyeol tersenyum geli melihat wajah menggemaskan putranya.

"Hm, misi rahasia. Jadi…." Chanyeol mengangkat tubuh anaknya dan mendudukannya diatas meja.

"Bisakah kau rahasiakan ini?" Taehyung mengangguk cepat.

"Aku akan merahasiakannya dari semua orang, aku tak akan_"

"Termasuk Mommy." Ucapan Taehyung terhenti dan ia menatap ayahnya bingung, begitu lucu dengan mata sipit membulatnya yang menyerupai Baekhyun.

"Ke-kenapa?"

"Karena ini misi rahasia." Kening Taehyung mengernyit dalam dan melihat itu Chanyeol menyentuh kening itu agar kembali bebas dari kerutan.

"Tapi apa aku boleh bercerita jika aku memiliki guru baru yang keren disekolahku?" Chanyeol memasang wajah berpikir sambil melipat bibirnya ke dalam.

"Hm, keren ya? Tentu." Sahut yang lebih tua dan Taehyung tersenyum senang.

"Jadi, apa jagoan Daddy bersedia bergabung dalam misi ini?" Chanyeol menyerahkan sebuah kepalan di depan wajah Taehyung, si kecil yang semula bingung segera membalasnya dengan menabrakan kepalan kecilnya pada milik Chanyeol.

"Deal!"

"Good boy."

Selama perjalanan menuju ke parkiran, Taehyung terus tersenyum senang, mengingat bagaimana pertemuannya dengan sang ayah dan bagaimana sosok itu terlihat begitu hangat padanya.

"Taehyungie?" suara Baekhyun mengalihkan perhatian si kecil. Ia tersenyum lebar dan segera berlari sambil memegang tasnya.

"Mommy!"

"Kenapa kau lama sekali? Aku pikir mereka menganggumu lagi." Taehyung tersenyum dan menarik tangan ibunya untuk menuju mobil mereka.

"Tidak, Mom. Oh iya, apa Mommy tidak keberatan jika kita membeli kaca mata lagi?" Baekhyun menghentikan langkahnya lalu menatap kearah putranya. Taehyung tersenyum lebar dan hendak menyusun kata-katanya seperti biasa.

"Aku tadi habis melawan para pengganggu yang hendak menjahili anak perempuan, Mom. Dan_" ucapan Taehyung terputus karena Baekhyun menarik kaca matanya dan memperhatikan setiap bagiannya.

"Tapi kaca matamu baik-baik saja."

"Ck! Ini rusak dibagian_" Lagi Taehyung tercekat ketika merebut kaca matanya dan melihat tidak ada bagian yang retak disana. Kepalanya kemudian menoleh kebelakang dengan cepat, dan menangkap sosok pria yang berdiri di balik jendela ruang gurunya.

Ia tersenyum lebar dan menyakini jika sosok ayahnya juga membalas senyumannya.

"Taehyungie, ada apa?"

"Ah tidak! Ayo kita pulang! Oh iya Mom."

"Ya?"

"Hari ini aku kedatangan seorang guru matematika baru."

"Benarkah?" Baekhyun hanya menjawab seadanya sambil sibuk memaikan Taehyung sabuk pengaman ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

"Dia tampan, tinggi, pintar, dan_"

"Dan?"

"Lajang." Kening Baekhyun mengerut tidak mengerti.

"Memangnya siapa namanya dan kenapa jika dia masih lajang?" tanya Baekhyun diselingi candaan ketika menyalakan mobilnya, dan melajukannya dengan pelan.

"Namanya Mr. Rich. Nama lengkapnya Richard Park."

"Dia orang korea?"

"Ya, tapi dia sudah menetap disini sejak lama." Baekhyun kembali mengangguk dan kemudian menoleh ketika mengingat tentang ucapan anaknya perihal 'lajang' namun ia malah menemukan putranya tersenyum-senyum seorang diri.

"Lalu, kenapa jika_"

"Ah, aku ingin mengenalkan dia pada Mommy. Aku rasa dia adalah tipe Mommy." Mobil Baekhyun berhenti mendadak dan beruntung tidak ada kendaraan lain disana.

"Apa maksudmu, sayang?"

"Daddy tidak kembali dan Mommy terlihat sedih karena itu, jadi aku ingin Mommy menemukan pria baru yang lebih baik." Baekhyun merasa tidak suka dengan topik pembicaraaannya, ia berdeham pelan dan segera melajukan mobilnya dengan perlahan kembali.

"Apa Taehyungie membenci Daddy?" Taehyung memasang wajah berpikir.

"Aku tidak, tapi aku tidak suka dengan kepergian Daddy yang tanpa alasan. Dan aku melihat sosok seorang ayah dalam diri Mr. Rich."

"Taehyungie, jangan bicara seperti itu ya? Daddy pasti kembali." Taehyung memajukan bibrnya dan Baekhyun menghela nafas lagi.

"Oh iya Mom, aku memperlihatkan foto Mommy padanya, katanya Mommy sangat mempesona." Baekhyun menggeleng pelan, memaklumi sikap anaknya yang masih kecil, meskipun sebernya ia tidak suka dengan hal itu.

"Lain kali Taehyungie jangan lakukan itu lagi mengerti?"

"Hmm… Aku juga telah memberikan nomer Mommy padanya."

CKITT

"Apa?" dan Taehyung hanya mampu menunjukan cengirannya pada sang ibu.

..

.

Devil Beside Me

Special Chapter

Bagian 3

..

.

Ada yang tidak benar.

Baekhyun merasakan perubahan pada putra bungsunya. Biasanya bocah lelaki itu akan terlihat murung ketika berangkat sekolah, atau terlihat tidak terlalu bersemangat namun berbeda dengan tiga hari terakhir.

Baekhyun memperhatikannya, bagaimana putranya sudah siap dengan seragamnya dan duduk manis di depan meja makan bahkan satu jam sebelum waktu keberangkatannya. Tidak hanya Baekhyun, kedua saudaranya pun merasakan itu.

Bahkan Taehyung tak lagi nampak pemalu, ia jauh lebih berani dari biasanya bahkan pernah ia meminta Baekhyun untuk tidak menjemputnya karena ia akan belajar bersama sang guru dan tahunya bocah itu tiba dirumah seorang diri dan mengaku jika menaiki bus untuk pulang kerumah.

Sungguh perubahan yang pesat dari si pemalu Taehyung, entah Baekhyun harus senang atau tidak, karena seiring dengan itu putranya terlihat begitu mengagumi sosok guru barunya, si Richard Park.

"Ada apa denganmu?" tanya Jackson yang berjalan untuk mengambil duduk di meja makan dengan wajah bantalnya, dan juga Jiwon yang terlihat cantik dengan dress pink nya.

"Aku? Memangnya aku kenapa hyung?" tanya Taehyung yang asyik melanjutkan mengerjakan soal di depannya. Jackson menaikkan satu alisnya lalu melirik Jiwon yang hanya mengedikkan bahunya.

"Mom!" Jackson berteriak dan Baekhyun muncul dengan makanannya.

"Ada apa, Jackie?"

"Mom, apa Mommy yakin tidak salah memberikan Taehyung makanan? Akhir-akhir ini dia terlihat berbeda." Baekhyun menghela nafas lalu melirik Taehyung yang seolah tuli dengan suara disekitarnya.

"Sudah, makan dulu sarapanmu!" perintah Baekhyun dan Jackson mencebikkan bibirnya.

"Mom, hari ini aku akan ikut Owen oppa berlatih basket bersama temannya." Baekhyun menatap putri nya lalu tersenyum dan mengangguk.

"Ck! Kenapa pula seorang gadis ikut urusan laki-laki? Yang ada kau itu merepotkan!" Jiwon menggeram pelan dan Jackson menjulurkan lidahnya.

"Tidak ada pertengkaran di atas meja makan, guys!" Titah Baekhyun dengan penekanan. Kedua anaknya membuang wajah kesal.

"Mom, kapan kita bisa kembali ke Infernus? Aku rindu kamarku." Baekhyun terdiam, dan Jiwon menyiku kakak laki-lakinya yang terkadang tidak pernah berpikir sebelum bicara.

"Apa kalian rindu?" Jackson mengangguk, Jiwon pun lalu mata Baekhyun beralih pada Taehyung.

"Kenapa?" tanya Taehyung bingung.

"Kau tidak rindu?" Taehyung mengedikkan bahunya ketika Jackson bertanya.

"Disini lebih baik, setidaknya aku tidak akan ingat Daddy yang kejam." Baekhyun tersentak mendengar ucapan putranya begitu juga dengan Jackson dan Jiwon yang merasa tidak enak hati.

"Aah~ ayo kita sarapan!" Jackson segera mencairkan suasana sambil mengambil selai coklat dengan cepat membuat Jiwon menggeram karena keduluan.

Baekhyun memperhatikan Taehyung yang terlihat selalu mengecek jam tangannya, dan bahkan bibirnya berkomat-kamit sambil memperhatikan pergerakan jarum jam.

"Okay! Mommy, ayo berangkat!" Baekhyun mengernyit dan melirik kearah jam dinding. Jam masih menunjukan pukul 7 pagi sementara kelas pertama Taehyung dimulai pukul 8.

"Aku memiliki janji dengan Mr. Rich, ada soal yang tidak aku mengerti." Ucap Taehyung lalu memasukan buku dan alat tulisnya.

"Siapa sih Mr. Rich itu? Kau selalu membicarakannya." Ucap Jackson tidak suka.

"Dia orang yang tampan dan hebat, dia juga baik. Dia itu pria idaman, Mommy pasti akan menyukainya." Ucap Taehyung santai.

"Kau gila?" Jackson memekik atas ucapan adik bungsunya. Taehyung menoleh dan menatap kakaknya tanpa rasa takut, tidak seperti biasanya.

"Taehyungie, tapi kita masih memiliki Daddy. Jadi tidak boleh bicara seperti itu!" ucap Jiwon penuh kesabaran seperti biasanya.

"Tapi Daddy tak kembali. Untuk apa mengharapkan orang yang telah pergi?"

TING

Suara bantingan sendok itu membuat ketiganya menoleh dan mendapati Baekhyun terduduk sambil menatap kosong meja di depannya.

"Taehyungie? Ayo kita berangkat!" ucap Baekhyun sambil tersenyum manis seolah ia tidak pernah membanting sendok itu.

..

.

Taehyung mengetuk pintu di depannya dan segera masuk ketika pintu itu terbuka. Ia tersenyum lebar melihat ayahnya duduk di depan meja sambil menatapnya dengan senyuman.

"Daddy!" teriak si kecil sambil berlari dan segera duduk diatas pangkuan Chanyeol bersamaan dengan pintu ruangan yang tertutup oleh kekuatan Chanyeol.

"Bagaimana tidurmu?" tanya Chanyeol sambil memainkan rambut kecoklatan putranya, Taehyung merasa senang dan memutar tubuhnya.

"Baik, selalu baik sejak Daddy menjadi guruku." Chanyeol merasakan sebuah denyutan dihatinya, sebegitu kejamkah ia pada putranya dulu?

"Sudah mengerjakan tugasmu?"

"Sudah. Mau melihatnya?"

"Of course. Show me!" Chanyeol menjawab sambil mengelus pipi Taehyung sayang. Si kecil membuka tasnya dan mengeluarkan buku tugasnya, ia memperlihatkan hasil pekerjaan rumahnya pada Chanyeol.

"Daddy, Daddy tahu tidak?"

"Hm?"
"Aku sudah lebih berani menghadapi Jackie hyung."

"Benarkah?"

"Ya."

"Good boy, berarti nanti kau harus bisa menghadapi orang-orang yang selalu menganggumu." Chanyeol menoleh ketika merasakan tubuh putranya menegang. Ia tersenyum dan meraih tangan Taehyung, mengepalkan tangan kecil itu lalu mengenggamnya.

"Ingat perkataan Daddy? Di dalam tubuh ini mengalir darah seorang iblis, makhluk kuat yang tak terkalahkan. Jangan cemas! Aku akan selalu mengawasimu."

"Hm. Aku mengerti, Dad." Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut putranya sayang.

..

.

Jackson bersembunyi di balik sebuah dinding, mengintip sebuah ruangan dimana adiknya masuk tadi. Ia telah menyamar menjadi salah satu siswa disana. Ketika pintu itu terbuka ia menyembunyikan tubuhnya.

Mendengar penuturan adiknya selama ini membuat ia penasaran dengan sosok yang selalu dikagumi oleh sang adik. Ia melihat dengan teliti dan sedikit tersentak saat adik perempuannya tiba-tiba muncul dari sisi yang lain koridor, sama-sama bersembunyi seperti dirinya.

"Pssst!" Jiwon menoleh dan terkejut mendapati kakaknya disana sedang mengintip sama sepertinya.

Taehyung melangkah keluar dengan senyuman sumringah sambil menarik sebuah tangan keluar dari dalam ruangan. Jackson dan Jiwon menyipitkan mata mereka, dan ketika sosok itu terlihat keduanya menegang.

"Apa-apaan?" gerutu Jackson saat mendapati adiknya berjalan dengan sosok berambut merah menyala yang seperti ia ceritakan, namun sosok itu sungguh tak tampan, tubuhnya gendut dan rambut merahnya sedikit botak.

Jackson masih menganga dan tidak mempercayai adiknya begitu bahagia mengenggam tangan sosok yang katanya bisa menggantikan sosok ayahnya.

Berbeda dengan Jackson, Jiwon terlihat mencangkupkan tangannya sambil tersenyum senang. Sosok berambut merah yang sedang di gandeng adiknya terlihat begitu tampan layaknya model, sungguh tipenya sekali.

"Dia seperti Kim Woobin." Ucapnya sambil memperhatikan sosok itu dengan mata berbunga-bunga.

Jackson membalik tubuhnya dan tersentak saat mendapati sosok Sehun berdiri disana dengan kaca mata hitam dan masker diwajahnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Sehun menatap adiknya dan mencibir.

"Sama seperti yang kau lakukan, menguntit."

" Aku hanya penasaran." Jawab Jackson seolah tidak ingin kehilangan harga dirinya.

"Kau pikir aku apa? Aku juga hanya penasaran." Jawab Sehun tidak mau kalah.

"Terserah, yang jelas aku tak akan membiarkan babi itu mendekati Mommy." Ucap Jackson sambil berlalu membuat kening Sehun mengkerut dalam. Ia menoleh kebawah kebagian perutnya yang terlihat sedikit membuncit.

"Jika tubuh sebugar itu ia bilang babi, lalu aku apa?" gumamnya sambil menegakkan tubuhnya agar perutnya kembali rata.

Tanpa mereka sadari, sosok berambut merah itu menoleh kebelakang dan menyeringai.

"Mr. Rich ada apa?" Chanyeol menatap Taehyung yang menggenggam tangannya lalu tersenyum dan menggeleng pelan.

"Misi kita sepertinya akan bertambah."

..

.

Chanyeol berdiri di dekat pintu masuk kantin, melipat kedua tangannya sambil memperhatikan bagaimana Taehyung bangkit dari posisi jatuhnya. Tiga orang bocah lelaki yang biasa menjahilinya tertawa terbahak melihat Taehyung tengkurap dengan makanannya yang berserakan.

Rahang Chanyeol mengeras, namun ia memilih diam dan menyaksikan. Taehyung merasakan matanya berkaca-kaca, ia hendak menundukan wajahnya namun tanpa sengaja matanya menemukan sosok ayahnya disana, Chanyeol memberikan sebuah anggukan dan mengepalkan tangannya.

"Aku memiliki darah iblis ditubuhku, aku kuat, aku tak terkalahkan." Taehyung mengepalkan tangannya kuat, ia bangkit dengan wajah menahan emosi. Ia berjalan dengan penuh amarah kearah tiga lelaki penganggu di depanya.

"Mau apa?" ledek yang paling gendut. Taehyung mengepal semakin dalam.

"HYAAA!"

BUG

..

.

Ponsel Baekhyun berbunyi ketika ia sedang menyiapkan makan siang sebelum menjemput Taehyung.

"Hallo?"

"Hallo, Apa ini kediaman Park Taehyung?" sebuah suara berat menyapa, suara yang terdengar cukup asing ditelinganya. Serupa dengan suara Chanyeol, namun ada sensasi berbeda ketika mereka berbicara.

"Ya. Aku ibunya."

"Aku Richard Park_" Nama itu, Baekhyun mengingatnya dengan jelas.

"_guru yang mengajar di sekolah putra anda."

"Ya, Tuan. Ada apa?"

"Putra anda terlibat perkelahian." Bola mata Baekhyun membulat, biasanya Taehyung terlibat perkelahian tapi tak pernah mendapat panggilan, tapi kenapa sekarang tumben sekali. Ia mulai cemas, takut jika perkelahian itu berakibat fatal.

"La-lalu bagaimana dengan putraku?"

"Dia baik, hanya sebuah luka kecil pada pelipisnya tapi sudah ku obati."

"Ah, baik aku akan kesana_"

"Tidak perlu, aku sudah membicarakan ini pada wali kelasnya dan juga bagian kedisplinan." Baekhyun terdiam sejenak.

"Nyonya Park?"

"Ah, iya..iya… terima kasih Tuan."

"Oh, sama-sama. Aku akan menjaganya seperti putraku sendiri." Baekhyun tersentak, entah mengapa ia tidak nyaman dengan ucapan itu.

"Uhm, terima kasih jika begitu. Senang berbicara dengan anda."

"Ya, akupun…Oh, tunggu Nyonya Park!" Baekhyun menghentikan gerakannya yang akan mematikan ponselnya.

"Suara anda begitu indah, aku yakin anda adalah sosok yang cantik." Baekhyun mengernyit, lalu mematikan sambungan itu dengan cepat. Ia menatap ponselnya dan segera meletakkannya dengan sedikit perasaan tidak suka.

Seorang guru yang merayu orangtua siswa itu sangat tidak baik, dan itu sungguh tidak sopan untuknya, terlebih jika sosok itu telah bersuami. Meski,suaminya tak sedang berada disisinya.

..

.

Chanyeol mematikan ponselnya sambil diselingi sebuah senyuman, hingga ia menyadari ada sosok lain di dalam ruangannya.

Sosok yang sejak tadi tertunduk sambil memainkan jemari kecilnya diatas pangkuan.

"Taehyung?"

"Dad, ma-maafkan aku." Suara itu bergetar meski sudah berusaha ia tahan. Kepalanya semakin menunduk dan Chanyeol hanya tersenyum. Menatap sebuah pembalut luka di pelipis putranya.

"Aku pengecut." Sambung si kecil lagi. Chanyeol berjongkok mencoba menyamakan posisi mereka. Taehyung mengangkat wajahnya dan kembali mata keduanya bertemu.

"Tadi itu hebat sekali." Bola mata Taehyung terbuka lebar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Hebat?"

"Ya, kau menghajar mereka dengan tangan kosong." Tapi kembali wajah si kecil murung dan kembali menunduk.

"Tapi aku kalah."

"Itu wajar, tubuh mereka tiga kali lebih besar darimu, dan mereka bertiga lalu kau sendiri." Taehyung mendongak lagi dan menatap ke dalam mata sang ayah.

"Daddy tidak marah?" Chanyeol menggeleng diselingi senyuman dan akhirnya bibir Taehyung ikut tertarik membuat senyuman juga.

"Apa Daddy bangga?" Chanyeol berdecak sebentar sambil memasang wajah berpikir.

"Jika aku ayah yang normal maka aku tak akan bangga karena putraku berkelahi di sekolahnya, tapi hey! Aku iblis, jadi berkelahi adalah sesuatu yang bagus. Aku bangga padamu Taehyung." Taehyung tersenyum lebar lalu merentangkan tangannya.

"Boleh aku mendapatkan sebuah pelukan?" Chanyeol tersentak sejenak mendengar permintaan sederhana putranya, ia tersenyum dan mengangguk pelan.

"Tentu." Dan keduanya berpelukan begitu erat, Taehyung merasa seperti mimpi. Ia begitu menyukai saat-saat seperti ini, dan jika pun seandainya ia sedang bermimpi ia rela untuk tak bangun lagi.

..

.

Baekhyun merengut tidak suka ketika putranya terlihat begitu bahagia secara tak wajar dan ketika ditanya ia segembira itu hanya karena dipuji oleh guru kesayangannya, siapa lagi jika bukan Mr. Rich.

Sepanjang perjalanan menuju ke kediaman mereka, mata Baekhyun tak henti-hentinya memperhatikan tubuh Taehyung yang berjalan di depannya sambil bersenandung kecil.

"Letakkan_" suara Baekhyun lenyap ketika putranya telah melepaskan sepatunya dan meletakkannya dengan benar di dalam rak. Baekhyun masih memperhatikan, lalu ketika si kecil akan berjalan ke dalam kamarnya, Baekhyun meraih lengan itu.

"Ada apa Mom?" tanya si kecil bingung ketika lengannya ditahan. Baekhyun berjongkok untuk mensejajarkan posisi mereka, ia memperhatikan luka dipelipis putra bungsunya.

"Apa itu sakit?" tanya Baekhyun sambil meringis seolah merasakan kesakitan itu. Taehyung menyentuh balutan lukanya lalu menggeleng pelan.

"Tidak terlalu."

"Kau yakin tak ingin Paman soo mengobatinya?" Taehyung menghempaskan tangan ibunya pelan.

"Tidak perlu, aku ini kuat Mom. Kata Mr. Rich seorang lelaki sejati tidak boleh cengeng dan Mr. Rich juga_"

"Cukup! Hentikan!" Baekhyun berdiri sambil menutup matanya kesal.

"Tidak ada lagi pembicaraan tentangnya ! Besok aku akan menemui guru itu dan memberitahunya untuk tidak lagi mengajarimu menjadi nakal!" Taehyung menatap Baekhyun dengan wajah cemberut.

"Mr. Rich tidak mengajariku menjadi nakal, Mr. Rich hanya_"

"Mommy bilang cukup Taehyung! Tidak ada lagi dan_" ucapan Baekhyun terhenti ketika Taehyung berlari sambil terisak menjauhinya. Baekhyun menatap tubuh itu, tubuh kecil yang berlari menaiki anak tangga sambil menangis.

"Taehyungie!"

"Aku hanya ingin dekat dengan Daddy, Mom." Ucap Taehyung setengah menangis. Baekhyun terkesiap, ia merasakan dadanya berdenyut begitu keras.

"Chanyeol? Kenapa kau melakukan ini pada kami? Hiks…" Baekhyun terisak sambil memegang dadanya, kepergian Chanyeol sungguh membuat luka yang besar untuknya.

..

.

Taehyung menenggelamkan wajahnya di balik bantal, bocah kecil itu terus menangis hingga nafasnya tersedak. Tak lama jendelanya terbuka dan hembusan angin tertiup pelan, perlahan muncul sosok tinggi yang duduk dibingkai jendela.

"Apa yang aku katakan tentang menjadi lelaki sejati?" Taehyung berhenti terisak, ia bangkit dan terkejut melihat Chanyeol berada di kamarnya. Ia mengusap air matanya dan segera berlari kearah Chanyeol.

"Daddy, I'm so sorry." Ucap si kecil dalam pelukan ayahnya, Chanyeol mengusap punggung sempit itu dengan begitu pelan.

"Mommy, dia tidak suka aku menjadi lelaki kuat, dia marah karena aku pulang dengan luka dikeningku, bahkan Mommy tidak suka dengan ." Chanyeol mendorong tubuh Taehyung pelan, menatap mata sipit itu sejenak lalu mengusap sisa-sisa air mata disana.

"Benarkah Mommy tidak menyukainya ?" Taehyung mengangguk, kembali mendekat untuk memeluk ayahnya erat membuat Chanyeol terkejut.

"Daddy, jangan pergi ya? Temani aku disini!" Chanyeol menutup matanya pelan, ia mengangkat tubuh Taehyung membuat bocah itu memekik terkejut dan mengayunkannya seperti pesawat terbang, hingga membawa tubuh keduanya terhempas diatas ranjang.

"Aakkh, daddy!" Taehyung berseru sambil bangkit dan memeluk Chanyeol. Chanyeol merasakan betapa si bungsu sangat menyukai memeluk dirinya, mungkin karena selama ini ia tak pernah benar-benar melakukannya.

"Kau sepertinya senang memeluk daddy?"

"Ya, karena Daddy hangat." Chanyeol tersenyum, ia menepuk tubuh Taehyung membuat bocah itu memejamkan matanya sambil tersenyum.

TOK

TOK

TOK

"Taehyungie? Buka pintunya sayang! Ayo kita makan, Mommy membuatkan makanan kesukaanmu." suara Baekhyun terdengar dibalik pintu dan bibir Chanyeol tersenyum, ia sungguh merindukan suara merdu itu. Taehyung menggeleng pelan sambil menatap Chanyeol.

"Temui Mommy, jangan buat ia khawatir!" Kembali Taehyung menggeleng.

"Aku tak ingin Daddy pergi."

"Daddy akan kembali."

"Janji?" si kecil menjulurkan jari kelingkingnya dan Chanyeol mengaitkan miliknya.

"Janji." Dengan itu sosok Chanyeol segera menghilang. Taehyung menghela nafas dan segera menuruni ranjang, ia berjalan kearah pintu untuk membukanya dan mendapati Baekhyun berdiri disana sambil tersenyum.

Taehyung terdiam, menyadari bahwa mata ibunya sembab.

"Mommy menangis?" Baekhyun menggeleng pelan sambil tersenyum. Taehyung tahu bahwa ibunya tengah berbohong, tanpa bicara ia segera memeluk tubuh Baekhyun erat.

"Maafkan Taehyungie ya, Mom, jika membuatmu bersedih."

"Sssst… Taehyung anak yang hebat tidak akan pernah membuat Mommy bersedih. Ayo sekarang makan." Taehyung mengangguk dan segera berjalan menuruni tangga bersama Baekhyun.

..

.

Baekhyun sedang membereskan peralatan makan malam bersama Jiwon ketika ponselnya berdering. Lelaki cantik itu segera melepas sarung tangannya dan mengangkat ponselnya, meninggalkan Jiwon yang melanjutkan mencuci di dapur.

"Selamat malam?"

"Selamat malam Nyonya Park." Baekhyun menjauhkan ponselnya dan keningnya berkerut.

"Iya, ada perlu apa Tuan?"

"Apa anda masih mengingat suaraku?" Baekhyun menghela nafas pelan.

"Tentu." Sahutnya kesal. Suara kekehan terdengar dan kening Baekhyun semakin mengernyit.

"Ada perlu apa Tuan?"

"Hm, apa aku harus memiliki urusan dulu untuk menelpon anda?" Baekhyun sungguh merasa kesal dengan ucapan sosok diseberang sana.

"Maaf, tidak mengurangi rasa hormatku, ada hal yang harus ditegaskan disini. Aku adalah orangtua dari murid anda, aku telah bersuami dan tidak sepantasnya anda_"

"Suami? Bukankah Taehyungie bilang jika suami anda pergi dan tak pernah kembali?"

"Maaf?" nada suara Baekhyun meninggi, merasa tersinggung dengan ucapan sosok itu.

"Dengar Tuan Park! sungguh sangat tidak sopan mencampuri urusan keluarga orang lain, jadi mulai sekarang jangan menghubungiku lagi!"

"Termasuk untuk mengundang anda dalam evaluasi personal siswa?"

"Apa?" keningnya Baekhyun semakin berkerut, ia begitu kesal dengan semua yang pria diseberang sana ucapkan.

"Ya, undangan tiap semester untuk evaluasi personal siswa."

"Tapi hanya wali kelas yang bisa melakukan itu."

"Oh apa Taehyung belum memberitahu anda, jika untuk sementara aku yang memegang kendali kelasnya?" Baekhyun terdiam, merasa tercekat dan tidak tahu harus mengucapkan apa.

"Besok pukul 10.00." Baekhyun menghela nafas sejenak.

"Aku harap anda tak melewatkannya. Ini sangat penting untuk putra anda."

"Aku tahu, aku akan datang besok.

"Bagus, kalau begitu selamat malam, Baekhyunie."

TUUUT

Baekhyun menatap layar ponselnya dengan wajah kesal, terutama ucapan terakhir sang guru. Jiwon yang melihat wajah kesal Baekhyun memutuskan untuk menghampiri sosok itu.

"Kenapa, Mom?"

"Ah, tidak. Besok akan ada evaluasi personal siswa." Jiwon mengangguk pelan lalu kembali beralih kearah Baekhyun.

"Tapi kenapa wajah Mommy terlihat memerah seperti orang marah?" Baekhyun menghela nafas.

"Ini karena guru itu. Guru baru Taehyung."

" itu ?"

"Hm.

"Dia yang akan menjadi wali kelas Taehyungie?" Baekhyun menoleh menatap tak mengerti pada putrinya.

"Ya, kenapa?"

"Ah, Mommy dia sungguh tampan. Tubuhnya tinggi seperti model dan matanya sangat indah dibalik kaca matanya. Apa aku boleh ikut?"

"Tidak." Sahut Baekhyun cepat membuat Jiwon mencibikkan bibirnya.

..

.

Setelah menutup pintu mobilnya, Baekhyun melangkah menuju gedung sekolah Taehyung. Sekolah nampak sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung. Ia memperbaiki kerah blazer hitam panjangnya sebelum akhirnya berjalan menyusuri koridor dan menuju lantai dua dimana semua ruangan guru berada.

Perlahan matanya memperhatikan setiap papan nama diatas ruangan dan ketika menemukan nama yang ia cari, ia segera menarik nafas pelan dan mengetuk pintu itu pelan. Pintu terbuka menampakan sosok pria tinggi berkaca mata dengan rambut merahnya.

Baekhyun terdiam sejenak, merasa familiar namun cukup asing di ingatannya. Sosok itu memang memiliki wajah tampan, sama seperti ucapan Jiwon dan juga postur tubuh yang hampir menyamai tinggi Chanyeol.

"Oh, anda pasti Nyonya Park? silahkan masuk!" Baekhyun melangkah masuk dan segera duduk berhadapan dengan meja si guru berambut merah.

"Perkenalkan aku Richard Park. Anda Byun Baekhyun bukan?" Baekhyun menyalami sosok itu singkat dan menarik tangannya dengan cepat sambil berdeham.

Chanyeol tersenyum menatap wajah canggung Baekhyun, dan dengan jahil menatap wajah Baekhyun seperti pria yang sedang memuja taksiranya.

"Ternyata anda jauh lebih cantik jika dilihat aslinya dan dengan jarak sedekat ini." Baekhyun reflek menatap Chanyeol, sambil mengernyitkan keningnya dalam.

"Maaf, sebaiknya kita langsung pada intinya!" Chanyeol terkekeh pelan sambil tangannya meraih dokumen yang memang sudah ia siapkan.

"Ini! Semua perkembangan nilai Taehyungie ada disana." Ucap Chanyeol sambil menyerahkan dokumen itu pada Baekhyun, Baekhyun menerimanya dan membacanya dengan teliti.

Chanyeol bangkit, berjalan kearah meja di dekat jendela dan mulai meracik dua gelas minuman disana.

"Silahkan diminum!" Baekhyun mengangguk sambil mengambil cangkir itu tanpa melihatnya dan tetap menatap deretan nilai Taehyung, hingga ia tersentak saat cairan mengaliri lidahnya, ia menatap Chanyeol nyalang.

"Tidak usah terkejut, bukankah kita sudah sama-sama dewasa. Wine bukan sesuatu yang tabu bukan?" Baekhyun meletakkan cangkirnya dan memilih tidak menjawab ucapan Chanyeol. Ia sudah bertekad tak akan meladeni sosok di depannya.

Chanyeol meminum miliknya sambil menatap Baekhyun lekat, dan senyum jahilnya kembali terukir.

"Taehyung bercerita tentang masalah dikeluarga kalian." Baekhyun tercekat, namun di detik berikutnya ia memilih memasang ekspresi biasa kembali, tak ingin terprovokasi oleh si guru tinggi.

"Akan sulit untuk anak sekecilnya menerima kenyataan jika kedua orangtuanya bercerai."

"Kami tidak bercerai." Sahut Baekhyun dingin.

"Tapi suami anda pergi, meninggalkan anda dan keluarga anda." Baekhyun menutup matanya dan juga dokumen di depannya.

"Aku rasa ini sudah kelewatan, aku akan mengadukan ini pada pihak sekolah."

"Lalu menurut anda apa yang akan mereka lakukan? Semua akan berdampak pada putramu." Baekhyun terdiam, ia masih menatap kearah mata lawan bicaranya.

"Sejak awal melihat fotomu, aku telah menaruh hati padamu. Kau begitu cantik, suamimu bodoh meninggalkanmu." Chanyeol bangkit membuat Baekhyun siaga. Chanyeol berjalan mendekat kearah Baekhyun dan menyandarkan tubuhnya di meja di samping Baekhyun.

"Aku sendiri dan kau pun, lalu Taehyung sepertinya menyukaiku apa kau tak ingin membangun sebuah hubungan yang lebih serius untuk Taehyung?" Baekhyun mengeraskan rahangnya. Ia hendak bangkit namun pundaknya ditahan.

"Apa yang kau harapkan dari suami yang telah pergi? Dia tak kembali itu artinya dia tak pernah menyesal dengan keputusannya, kau disini menahan diri untuk menerima sentuhan pria lain sementara dia diluar sana meniduri banyak jalang." Bayangan tentang dimalam pertengkaran mereka kembali terulang, dimana Baekhyun mendapati Chanyeol bersama para jalang. Namun ia tak boleh goyah apalagi sampai terkecoh oleh ucapan sosok di depannya.

"Tutup mulutmu! Kau tak tahu seperti apa suamiku, jadi jangan bersikap seolah kau tahu segalanya. Meski dia pergi aku yakin dia akan kembali, dia mencintaiku, dia berjanji akan hidup denganku selamanya, jadi jangan harap kau bisa menggantikan tempatnya." Ucap Baekhyun dengan tangan terkepal dan mata menatap nyalang. Chanyeol terkekeh pelan membuat Baekhyun muak.

"Mungkin sulit menggantikan suamimu untukmu, tapi akan mudah untuk menggantikan tempatnya sebagai seorang ayah. Aku dengar dia membenci putra bungsu kalian, Taehyung merasakan itu dan dia berkata dia ingin aku menjadi ayahnya."bola mata Baekhyun membesar, nafasnya terengah dan jemarinya semakin terkepal.

"Dia hanya anak kecil, jangan terlalu mempercayai ucapannya! Dan berhenti untuk meracuninya dengan sikap sok baik anda." Lagi Chanyeol terkekeh pelan seperti meremehkan.

"Bukankah makhluk yang paling jujur adalah anak kecil? Kecuali jika dia adalah anak iblis, mungkin aku tak akan mempercayainya." Baekhyun tersentak sejenak, hingga akhirnya ia bangkit membuat posisi mereka sejajar sekarang.

"Iblis? Huh! Bagaimana jika aku berkata bahwa aku adalah seorang iblis, apa kau akan takut?" Chanyeol kembali terkekeh, matanya memperhatikan tubuh Baekhyun dari bawah keatas membuat Baekhyun sangat kesal.

"Jika itu benar, kau pastilah menjadi iblis tercantik yang pernah ada dan aku tak akan ragu untuk menjual jiwaku pada iblis semempesona dirimu."

"Bajingan!" Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol di dagunya, sisi iblisnya mulai keluar, Chanyeol merasakanya namun ia hanya berpura-pura tidak tahu.

"Kau sungguh kurang ajar pada seseorang yang telah menikah, jika suamiku tahu aku yakin kau akan mati ditangannya."

"Tak masalah jika itu berarti aku bisa mendapatkanmu."

"Brengsek!" tangan Baekhyun terangkat dan kekuatannya meningkat seiring dengan wujudnya yang akan berubah.

"Mommy, Da_ ." Baekhyun terkesiap, perlahan kekuatannya menghilang dan tangannya menurun.

"Taehyungie, kemari sayang!" panggil Chanyeol dan sosok itu berlari kearah Chanyeol. Chanyeol menggendongnya dan membawanya untuk duduk dikursi miliknya dengan Taehyung dalam pangkuannya.

Baekhyun menatap pemandangan itu dengan wajah kecewa, Taehyung terlihat begitu bahagia dengan sosok yang sedang memangkunya.

"Taehyungie, kemari sayang!" panggil Baekhyun namun Taehyung menggeleng.

"Sepertinya dia sangat menyukaiku. Ah, maafkan atas sikap kurang ajarku tadi, Taehyung yang menyuruhku melakukannya, Taehyungie, kau membohongiku ya? Mommy mu tidak menyukai sikapku yang agak kurang ajar." Baekhyun mengernyit tidak mengerti.

"Begini, Taehyung berkata padaku jika ketika anda tiba aku harus berhenti menjadi pria lembut, aku harus menunjukan bahwa aku ini adalah tipikal pria kurang ajar yang suka memaksa, maafkan aku ." Baekhyun menatap kearah putranya dengan sebuah delikan.

"Bukankah Daddy biasanya seperti itu? Suka memaksa, tidak lembut dan bertindak sesukanya?"

"Taehyungi!" bentak Baekhyun dan bocah itu menunduk sambil memeluk Chanyeol, menyembunyikan wajahnya di balik dada Chanyeol. Baekhyun merasa marah melihat sikap putranya yang begitu manja pada orang lain.

"Taehyungi! Kembalilah ke kelas, Mommy akan pulang!"

"Tidak, aku sudah diperbolehkan pulang. Hari ini Mrs. Brithney tidak hadir, jadi aku bisa pulang lebih awal."

"Kalau begitu ayo pulang!" Baekhyun bangkit sambil menjulurkan tangannya.

"Aku lapar~" rengeknya sambil memegang perutnya.

"Ya, kita akan membeli makanan sebelum pulang." Taehyung mengangguk dan turun dari pangkuan Chanyeol membuat Baekhyun menghela nafas lega, namun nyatanya tangan kecil itu mengait erat tangan yang lebih tua, namun bukan milik Baekhyun.

" ayo kita makan bersama. Bukankah siang ini tidak ada jadwal lagi?"

"Huh?" Chanyeol membulatkan matanya berpura-pura terkejut, sementara Baekhyun menatap tidak suka. Chanyeol mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun seolah meminta izin, namun belum sempat Baekhyun menolak Taehyung sudah menarik tangan sosok tertinggi itu keluar ruangan.

"Tidak ada penolakan." Dna Baekhyun hanya bisa mengikuti dengan pasrah.

"Mobilku saja!" ucap Baekhyun sambil memberikan kunci mobilnya tanpa mau menatap Chanyeol. Pria itu mengangguk dan segera mengambil alih kemudi.

Tidak banyak yang terjadi antara Baekhyun dan Chanyeol yang berpura-pura menjadi Richard karena sosok mungil itu lebih memilih memakan makanannya dan sesekali menjawab ocehan Taehyung, namun tidak untuk Chanyeol.

Mereka usai makan sejam setelahnya dan ketika Baekhyun berniat mengantarkan Chanyeol kembali ke sekolah lelaki itu menolak dan memilih untuk mengantarkan Baekhyun pulang.

"Taehyungie, ayo_" ucapan Baekhyun terhenti saat melihat ke kursi belakang dimana putranya sudah tertidur pulas dengan kepala bersandar pada jendela.

"Dia sepertinya kelelahan." Ucap Chanyeol. Baekhyun menoleh dan sejenak mata mereka bertemu, Chanyeol tersenyum lembut namun Baekhyun membuang arah pandangnya. Meskipun sosok itu telah berkata bahwa ia hanya mengikuti perintah Taehyung untuk bersikap kurang ajar namun bagi Baekhyun ia tetap harus menjaga jarak dengan sosok lelaki yang menjadi guru favorit anaknya itu.

"Biar aku bawa dia masuk."

"Ah tidak perlu, aku bisa melakukannya." Ucap Baekhyun berusaha menarik pintu mobil namun Chanyeol menahannya.

"Tidak, aku tak mungkin membiarkan seseorang sepertimu melakukannya, ini pekerjaan pria." Kening Baekhyun mengerut dalam.

"Maaf ucapan itu menyinggungku, bagaimana pun aku ini pria." Chanyeol tersenyum senang setelah menjahili Baekhyun, namun kemudian ia kembali menatap Baekhyun.

"Maaf jika ucapanku menyinggungmu, tapi biarkan aku saja!" Baekhyun memilih membalik tubuhnya dan segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Chanyeol yang sedang berusaha menggendong putranya.

Ketika memasuki ruang tengah, Chanyeol menatap foto pernikahan mereka di dinding ruangan yang begitu besar serta foto keluarga lainnya yang berderet rapi.

"Mom, aku_aaah~ Mr. Rich?" Keduanya menoleh ketika melihat Jiwon menuruni anak tangga dengan wajah setengah mengantuknya yang mendadak berubah segar. Chanyeol mengedikan kepalanya memberi hormat.

"Kau bisa membaringkannya di atas sofa, terima kasih." Ucap Baekhyun sambil membuka blazernya dan meletakkan tasnya diatas meja. Chanyeol memperhatikan wajah cemberut Baekhyun dan ia kembali tersenyum jahil.

"Itu tidak baik untuknya, aku akan membawanya ke kamarnya." Baekhyun menatap Chanyeol risih , hingga suara pintu terbuka terdengar dan suara berisik dua orang terdengar, satu suara pria dewasa dan satu remaja laki-laki.

"Heh, Pak tua kau kan lihat siapa yang_" ucapan Jackson terhenti bersamaan dengan langkah kakinya dan Sehun , dimana kini keduanya menatap sosok berambut merah yang masih menggendong Taehyung berada diruang tengah mereka.

"Kenapa si gendut ini disini?" tanya Jackson dengan tidak sopan, Baekhyun mengernyit lalu menoleh pelan kearah Chanyeol, sementara Sehun menatap adiknya sinis merasa terhina secara tersembunyi.

"Maaf anda siapa?" tanya Sehun. Chanyeol melangkah maju dengan Taehyung masih dalam gendongannya dan menjulurkan tangannya kearah Sehun.

"Aku Richard Park, guru Taehyung, Tuan. Anda? Apa anda kakek Taehyung?" Jackson menahan tawanya dan Sehun mencibir tidak suka.

"Aku tidak setua itu asal kau tahu, aku kakak_ah maksudku aku kakak dari ayah Taehyung." Chanyeol mengangguk sambil menahan tawanya melihat wajah kesal Sehun yang coba pria itu tahan.

"Ekhem, sepertinya kau harus kembali ke sekolah untuk mengambil mobilmu bukan?" Chanyeol tersadar dan tahu bahwa Baekhyun sedang mengusirnya secara halus.

"Baiklah kalau begitu aku akan_"

"Berikan padaku, biar aku saja!" ucap Sehun segera mengambil Taehyung atas perintah isyrat dari Baekhyun. Setelahnya Chanyeol undur diri sambil berjalan meninggalkan rumah yang sebenarnya menjadi miliknya.

..

.

Baekhyun sebenarnya adalah tipikal penyabar, namun tidak untuk seoarang Richard Park. Diawal ketika Chanyeol berkunjung untuk menjemput Taehyung suatu pagi, Baekhyun memang memaklumi karena alasan pria itu adalah kebetulan lewat dan sekalian menjemput Taehyung, lalu sorenya kembali sambil berkata sekalian mengantar karena sedang berkunjung kerumah temannya.

Tapi lama-lama Baekhyun mulai merasa kesal bagaimana sosok itu terus datang kerumahnya dan kabar buruknya kedua anaknya menyukai sosok itu, Taehyung dan Jiwon. Seperti saat ini sosok itu datang karena Taehyung memintanya untuk makan malam bersama.

Baekhyun ingin marah tapi ia tidak tega memarahi putra bungsunya, dan kini melihat Jackson begitu asyik bermain video games bersama sosok itu membuat Baekhyun takut jika sewaktu-waktu posisi Chanyeol akan digeser oleh si sosok berambut merah.

"Dia selalu datang akhir-akhir ini." Itu suara Sehun yang tiba-tiba muncul disamping Baekhyun yang sedang menyiapkan makan malam. Baekhyun menghela nafas sambil melempar sayuran yang sedang ia potong.

"Hm, itu membuatku kerepotan."

"Bu?" Baekhyun menoleh pelan.

"Dia nampak serius denganmu, tidakkah Ibu ingin mencoba sebuah hubungan baru?" Baekhyun menoleh tak percaya pada Sehun. Ia mendelik merasa terkhianati dengan sosok itu. Mungkin tiga anaknya yang lain bisa ia maklumi karena mereka masih kecil, namun melihat Sehun berbicara seperti itu membuat amarah Baekhyun meluap.

"Apa kau sedang mencoba untuk membuatku melupakan ayahmu?" tanya Baekhyun masih mencoba menjaga amarahnya.

"Tch! Ayah?" Sehun mengalihkan pandangannya pada daging yang ia potong.

"Seseorang yang pergi meninggalkan tanggung jawabnya terhadap keluarganya apa masih pantas dipanggil ayah?"

"Sehun!" pekik Baekhyun namun masih mampu mengontrol volume suaranya.

"Aku tahu saat aku menemukan ibu dipinggir jalan adalah dimana ketika kalian bertengkar karena dia meniduri jalang." Baekhyun mencengkram pisau ditangannya kuat, air matanya mulai memenuhi pelupuk matanya.

"Bu, lupakan sesuatu yang bahkan tidak peduli lagi tentangmu." Baekhyun meletakkan pisaunya dan memainkan cincin dijari manisnya.

"D-dia tidak mungkin seperti itu, dia hanya butuh sendiri."

"Tch! Berapa lama lagi? Mungkin dia sedang meniduri jalang-jalang diluaran sana."

"Sehun!" kali ini pekikan Baekhyun begitu keras bersamaan dengan lemparan Baekhyun pada pisau dapurnya keatas piring.

Sosok mungil itu berjalan cepat meninggalkan rumah dengan emosi yang memenuhi pikiran dan perasaannya. Keempat orang yang lain yang berada diruang tengah menghentikan aktivitas mereka dan menoleh bingung ketika melihat Baekhyun berlalu menuju pintu keluar.

"MOM!" panggil Taehyung namun tidak digubris oleh Baekhyun. Chanyeol menatap Sehun dan mata keduanya bertemu, Sehun tersenyum kecil lalu mengedikan kepalanya kearah pintu, Chanyeol bangkit dan segera berlari menyusul Baekhyun.

"Dad!" Jiwon dan Jackson menoleh kearah Taehyung yang menutup bibirnya yang kelepasan, Sehun terkekeh sambil menggeleng pelan melihat kelucuan ketiga adiknya.

..

.

Baekhyun berlari keluar rumah dengan hanya memakai sandal rumahnya, ia bahkan lupa mengambil kunci mobil dan enggan untuk kembali. Selama perjalanan ia selalu mengusap air matanya yang terjatuh berkali-kali sambil membiarkan kakinya membawanya menjauhi rumah itu.

"Chanyeol…hiks…" Baekhyun menangis dan menghentikan langkahnya dijalanan sepi di sekitar rumahnya, ia bersandar pada dinding sambil menundukan wajahnya.

"Ini!" Baekhyun menoleh ketika sebuah minuman dingin terjulur di depannya, ia menoleh dan menatap sosok disampingnya dengan wajah kesal.

"Makhluk cantik tidak boleh menangis sendirian malam-malam begini!"

"PERGI!" ucap Baekhyun namun nyatanya dirinya lah yang melangkah menjauh.

"Apa yang kau tangisi? Suamimu? Mungkin dia sedang menikmati tidur bersama para jalang diluar sana." Langkah kaki Baekhyun terhenti, ia membalik tubuhnya kesal.

"DIAM! Jangan sembarangan bicara tentang suamiku! Kau tak tahu apa-apa tentangnya." Chanyeol berdecih lalu melipat kedua tangannya dan bersandar pada dinding jalanan.

"Apa yang kau harapkan dari sosok pengecut seperti itu?"

"Dia mencintaiku,aku mengenalnya bertahun-tahun, aku tahu Chanyeol tidak sepengecut itu, dia pasti akan kembali!" lagi Baekhyun membentak dengan kesal.

"Lalu apa dia kembali?" Baekhyun tersentak, hatinya sungguh kesal mendengar setiap orang bicara yang buruk tentang Chanyeol, tak ada yang benar-benar mengenal Chanyeol selain dirinya.

"Dia pasti akan kembali, dan kau! Aku memperingatimu, aku bukan seseorang yang murahan yang bisa dengan mudah kau dapatkan ketika kau menginginkannya, aku telah menikah, aku telah memiliki anak dan aku akan mencintai suamiku sampai kapanpun, jadi maaf sebanyak apapun kau berusaha kau tak akan pernah bisa mendapatkan hatiku, karena…." Baekhyun menjeda ucapannya, tubuhnya menggigil karena udara malam yang begitu dingin.

"….karena hatiku telah aku berikan seluruhnya pada suamiku. Aku mempercayainya, aku mencintainya dan aku sangat yakin jika dia juga mencintaiku. Aku tak peduli jika dia meniduri jalang diluaran sana, asalkan dia kembali, maka aku tetaplah menjadi rumahnya." Chanyeol terdiam, merasa begitu tersentuh dengan ketulusan cinta Baekhyun.

"Jadi maksudmu kau rela berbagi suamimu? Ketika diluar dia akan meniduri jalang dan begitu kembali kau akan memakai bekas jalang-jalang itu." Baekhyun tersentak, hatinya teriris membayangkan ucapan sosok di depannya.

Baekhyun tidak tahu apa ia bisa kuat jika suatu hari kenyataan akan seperti itu, jika Chanyeol pernah meniduri jalang dan tidak menutup kemungkinan dia akan melakukannya lagi.

"Aku yakin kau pasti pernah memergokinya tidur dengan jalang kan?" Baekhyun meremas cincin pernikahan mereka semakin erat, air matanya sudah mengalir lagi dan lagi.

"Itu tak merubah apapun dalam pernikahan kami. Aku yakin Chanyeol hanya sedang gelap mata ketika itu." Ucap Baekhyun kini sedikit pelan, karena ia pun tak yakin dengan ucapannya.

"Tapi nyatanya dia pergi, dia lebih memilih jalang-jalang itu ketimbang dirimu." Baekhyun menundukan wajahnya dalam dan terisak, ia telah lelah menyakinkan dirinya sendiri, Chanyeol mendekat mengelus pipi basah itu dengan pelan.

Baekhyun menatap sosok di depannya dengan wajah kelelahan, Chanyeol mendekatkan bibirnya perlahan dan ketika beberapa centimeter lagi, Baekhyun menangis.

"Kenapa kau begitu keras kepala? Aku ini sudah bersuami…hikss… aku masih mencintai Chanyeol dan aku tak akan mengkhianatinya. Aku akan tetap menunggunya…"

"Sampai kapan?" Baekhyun menatap sosok di depannya dengan mata basah dan sembabnya.

"Sampai hati, raga, dan jiwaku lelah untuk menunggunya. Tapi sebelum hal itu terjadi maka aku akan tetap menunggunya disini, jadi maafkan aku, aku tak bisa membuka hatiku untuk siapapun." Chanyeol tersenyum, ia mengelus sekali lagi pipi Baekhyun dengan lembut.

"Terima kasih." Baekhyun mendongak, menatap tak mengerti pada sosok di depannya.

"Terima kasih, sayang." Baekhyun memundurkan tubuhnya siaga, namun tangannya ditahan, belum sempat berontak sosok di depannya perlahan berubah.

"Hai?" Baekhyun menutup mulutnya sambil membiarkan air matanya terjatuh, kakinya lemas dan ia benar-benar merasa marah.

"Ke-kenapa? Kenapa Chanyeol? Kenapa hikss…. kau harus melakukan ini?" Chanyeol hanya tersenyum sambil mengelus pipi Baekhyun dengan lembut.

"Kenapa kau tega melakukan ini padaku?...hiks… Chanyeol… kau sungguh kejam…kau mempermainkan perasaanku…hiks…." Chanyeol hanya membiarkan Baekhyun memukul dadanya dengan keras, tidak berniat menghentikannya sama sekali.

"Aku hanya ingin tahu seberapa besar kau mencintaiku?"

"Jika aku ternyata memilih sosok itu? Apa yang akan kau lakukan?" Chanyeol tersenyum sambil menggeleng pelan.

"Itu tak akan terjadi, aku percaya padamu sebagaimana kau mempercayaiku."

"Hiks…Chanyeol." Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol erat dan lelaki itu mengelus punggung lelakinya dengan sayang.

"Dan Baekhyunie, malam itu aku tak pernah meniduri mereka. Aku hanya membiarkan mereka bermain dengan tubuhku tapi tak membiarkan mereka melakukan lebih, karena yang ada dipikirkanku saat itu hanyalah dirimu, sayang. Maafkan aku." Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol dengan mata basahnya.

"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum ini Chanyeol." Sebelum Baekhyun bicara lagi, Chanyeol telah menyatukan bibir keduanya. Menghisap bibir manis kesukaannya dengan begitu rakus, ia sungguh merindukan lelakinya setelah semua yang mereka alami.

Sayap Chanyeol mengembang, dan masih sambil berciuman tubuh keduanya telah terbang menuju kelangit yang begitu gelap, menyisakan sehelai bulu hitam yang melayang turun diudara.

Mereka tiba disebuah gedung pencakar langit, tempat dimana Chanyeol bertemu dengan Baekhyun pertama kalinya. Baekhyun menoleh sekitar dan terkejut ketika mereka tengah berada di Korea.

"Disini aku mendengar suaramu untuk pertama kalinya." Ucap Chanyeol sambil tersenyum dan mengelus surai kelam milik Baekhyun. Mereka memilih duduk di sisi terpinggir atap gedung dengan kaki terjuntai kebawah.

Baekhyun menatap jalanan dibawah sana yang gemerlap oleh cahaya lampu, dimana mobil-mobil terlihat begitu kecil namun suara bising itu masih mampu terdengar.

"Kemana kau pergi selama ini?" tanya Baekhyun sambil mengelus surai suaminya. Chanyeol menutup matanya merasakan elusan lembut Baekhyun.

"Kebanyak tempat yang tenang, aku butuh suasana yang mendukung waktu sendiriku."

"Tanpa jalang?" Chanyeol menoleh dengan kedua alis terangkat dan kemudian senyuman Baekhyun membuat ia ikut tersenyum.

"Tentu, aku ini suami yang setia."

"Benarkah?" Chanyeol tak menjawab dan lebih memilih membaringkan tubuhnya diatas paha Baekhyun. Baekhyun mengelus rambut itu dengan sayang sambil memperhatikan wajah tampan Chanyeol.

"Apa yang kau renungi selama itu?"

"hm, ada banyak sekali. Salah satunya adalah sikapku ke Taehyung." Baekhyun mengangguk pelan.

"Lalu? Apa yang kau dapatkan setelah itu?"

"Sebuah ide untuk mendekatkan diri dengannya."

"Dengan menyamar menjadi seorang guru yang suka merayu orangtua muridnya?"

"Hei, aku hanya melakukannya padamu tidak untuk semua orangtua murid." Protes Chanyeol dan Baekhyun hanya terkekeh lalu mengecup kening Chanyeol.

"Aku ingin membuat Taehyung menjadi sosok yang kuat, bagaimana pun ia harus bisa bertahan seorang diri." Baekhyun mengangguk lagi menyetujui ucapan Chanyeol.

"Ya kau benar."

"Baekhyun, sebenarnya selama ini sikap kerasku bukan karena aku membencinya, tapi aku ingin ia menjadi lebih kuat tapi sepertinya caraku salah, aku mungkin bisa menerapkan itu pada Jackson tapi sepertinya tidak untuk Taehyungie kita."

"Ya, itu karena dia memiliki sisi manusia yang dominan. Kau tak bisa menyamakan karakter setiap orang Chanyeol."

"Ya, itu salahku. Aku hanya mengadopsi cara mengajar kakek dan ayah dulu."

"Yah, setidaknya kau telah menyadarinya sekarang bahwa tak selamanya kekerasan bisa merubah watak seseorang." Chanyeol mengangguk. Ia meraih tengkuk Baekhyun untuk merendah dan membawa keduanya untuk kembali saling menikmati bibir satu sama lain.

"Baek?"

"Hm?"

"Bagaimana jika kita menciptakan satu lagi dengan watak yang lebih baik dan_aaawwww…" Chanyeol hanya meringis ketika Baekhyun mencubit pinggangnya dengan keras.

"Empat saja sudah membuatmu nyaris menyerah, bagaimana jika lima?" ucap Baekhyun sambil mencibir kearah suaminya. Chanyeol terkikik sambil mengelus pinggangnya yang mendapat cubitan keras.

"Aku berencana memiliki enam, kita belum memiliki kembar_Aaaawwww…awwww…"
"Rasakan!"

….

..

.

Sehun berdiri di balkon rumahnya, menatap ke langit gelap yang dihiasi oleh cahaya bintang. Tangan kekarnya menggenggam sisian besi dingin balkon rumahnya dengan begitu kuat, keriput diwajahnya terlihat ketika ia mulai memejamkan mata dan tersenyum.

Meski usianya sudah semakin bertambah, namun wajah tampannya tetap terlihat begitu menawan dan matang, rambut hitamnya yang bergoyang tertiup angin menggelitik permukaan kulitnya.

"Bagaimana ayah bisa tahu?" suara sang anak membuat mata tertutupnya terbuka pelan, ia tersenyum masih tetap menatap hamparan langit malam.

"Ikatan batin seorang anak begitu kuat asal kau tahu." Owen menundukan wajahnya, entah mengapa ucapan itu membuat hatinya merasa perih. Bagaimana pun ia tahu bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Sehun dan Luhan. Melihat wajah kecewa putranya, Sehun tersenyum dan mengusak rambut sang anak.

"Seperti kita, bukankah ikatan batin kita begitu kuat?" Owen mengangkat wajahnya dan tersenyum kearah Sehun.

"Tapi aku bukanlah anak biologis kalian." Sehun menggeleng pelan.

"Itu tak mengubah apapun, kau tetaplah anakku. Pertama kalinya kami melihatmu di atas keranjang bayi itu, aku tahu bahwa kita telah ditakdirkan bersama."

"Bagaimana ayah bisa tahu?" Sehun merangkul pundak sang buah hati.

"Itulah yang dinamakan ikatan batin. Saat pertama kali melihatmu, kita telah membuat ikatan yang kuat, bahkan semua orang berkata bahwa wajah kita begitu mirip kan? Hingga mereka tak tahu kenyataan dibaliknya." Owen mengangguk dan wajah tampan menyerupai Sehun itu tersenyum.

"Tapi hanya satu yang kau tidak milikki dariku." Kening Owen berkerut membuat sebuah persimpangan di sana.

"Ketampanan yang abadi." Owen mendorong tubuh ayahnya dengan wajah kesal, ia memalingkan wajahnya dan berdecih atas sikap menyebalkan ayahnya yang selalu muncul dan selalu menjadi pemicu pertengkaran mereka.

"Sekarang saja kau sudah terlihat tua, apanya yang abadi? Paman Chanyeol lah yang memiliki ketampanan yang abadi." Sehun merengut tidak terima jika dirinya disama-samai dengan sosok menyebalkan seperti ayah iblisnya itu.

"Itu karena dia tidak bertambah tua."

"Karena itu aku mengatakan dia abadi."

"Tapi aku tetaplah yang tertampan asal kau tahu." Owen memutar bola matanya malas dan Sehun membuang wajahnya kesal.

"Ah, ayah pun sebenarnya memiliki sesuatu sifat yang juga abadi." Sehun menoleh merasa penasaran dengan ucapan putranya.

"Apa itu?"

"Sifat kekanak-kanakan yang tidak pernah hilang."

"Apa? Kau!"

"IBUUUUU~ AYAH BERKATA JIKA IA INGIN MEMBUATKANKU SEORANG ADIK." Teriak Owen sambil berjalan cepat menuruni tangga. Sehun merengut kesal dan segera menyusul putranya.

"Tidak, siapa bilang aku ingin memiliki makhluk menyebalkan lainnya selain dirimu, kau saja sudah membuatku muak!" balas Sehun tidak terima, karena memang benar ia tidak ingin memiliki anak, jika saja dulu Luhan tidak merajuk maka Owen tak akan pernah ada di kehidupan mereka, Sehun hanya tak ingin cinta Luhan terbagi selain untuknya.

"Ibu, ayah bilang ia ingin dua."

"YAK! Kau bocah menyebalkan! Kemari kau!" Sehun berlari dengan sedikit terengah mengingat usianya tidak muda lagi, dan tentu saja tenaga Owen jauh lebih besar darinya. Suara bising itu memenuhi mansion mereka dan Luhan hanya bisa menghela nafas melihat adu mulut antara anak dan ayah yang terjadi di ruang tamu tersebut.

"Hihihihi…mereka lucu." Suara gadis terkikik terdengar bersamaan dengan pemandangan mansion Sehun yang semakin menjauh dan berakhir tampak diatas sebaskom air.

"Itulah mereka." Ucap Jongin yang berdiri disamping putrinya.

"Ayah, apa benar paman tua itu keponakan Ibu?" Jongin mengangguk sambil menahan senyumnya dan Kyungsoo yang sedang merangkai bunga di meja tak jauh dari mereka hanya menggeleng pelan.

"Namanya Sehun, dia adalah anak pertama dari Paman Chanyeol dan Baekhyun." Krystal mengangguk lalu kembali terfokus pada pertengkaran dan aksi gulat Sehun dan Owen diatas sofa dan Luhan yang geram dan mengancam akan menyiram mereka dengan air.

Jongin tersenyum melihat putrinya yang memiliki hiburan tersendiri, lalu ia beralih pada istrinya yang begitu fokus pada tangkai-tangkai bunga di depannya. Jongin berjalan mendekat dan memeluk tubuh Kyungsoo dari belakang.

Kyungsoo terkejut dan menoleh kearah Krystal yang nampak memunggungi mereka.

"Ia sedang sibuk, ia tak akan melihat."

"Lepaskan Jongin!"

"Kenapa? Apa aku tak boleh memelukmu?"

"Kryst sudah beranjak remaja, aku tak ingin kontak fisik kita mencemari otaknya." Jongin terkekeh dan mengecup pipi putih Kyungsoo, lalu mengelus rambut panjang itu dengan lembut.

"Kau sungguh ibu yang baik sayang."

"Setiap ibu tentu akan memikirkan tentang masa depan anak mereka."

"Bu, ayah!" Jongin sedikit menjauhkan tubuhnya dan menoleh kearah Krystal.

"Aku semakin tak sabar untuk turun kebumi, beberapa hari lagi ulangtahunku?" rengut gadis itu.

"Sabarlah sayang, hanya tinggal 5 hari lagi. Kami tentu akan menepati ucapan kami." Ucap Jongin dan Krystal kembali mengangguk lalu kembali berfokus pada mainannya.

Sejak mendapat mainan baru dari Jongin dan Kyungsoo sebagai hadiah atas sikap baik Krystal selama sebulan penuh, gadis itu tak hentinya bermain dengan baskom air yang bisa membuatnya melihat aktifitas para makhluk bumi, dan siapapun yang ingin ia lihat.

Dan sebuah bonus lain adalah gadis itu mendapatkan pengabulan atas permintaannya untuk turun kebumi dan menikmati waktu menjadi manusia selama beberapa lama, Kyungsoo telah berbicara pada Luhan dan kakak sulungnya menyetujui untuk merawat Krystal selama beberapa lama.

Hal itu sangat disetujui oleh Jongin mengingat betapa mereka begitu menjaga kontak selama Krystal telah beranjak dewasa, Kyungsoo selalu memperingatinya untuk tak bermesraan didepan buah hati mereka dan Jongin menyanggupinya.

Jongin kembali mencuri pelukan dari Kyungsoo dan istrinya nampak lelah untuk menolak, ia hanya membiarkan tangan Jongin memeluk pinggangnya dan kecupan-kecupan lembut mulai terasa dipermukaan lehernya.

"Aaaahhh….aaaahhh….lagiiihhh.." Jemari Kyungsoo terluka oleh pisau ditangannya, begitu pula dengan Jongin yang terkejut dan segera menoleh kearah Krystal yang nampak mematung di tempatnya.

Jongin bangkit dan mendekati Krystal, matanya membola melihat Chanyeol dan Baekhyun yang sedang melakukan hubungan intim di atas gedung tinggi, dengan cepat tangan Jongin bergerak dan mengubah visualisasi itu menjadi genangan air tenang kembali.

Bersamaan dengan Kyungsoo yang mendekat dan menarik putrinya, menyembunyikan wajah sang putri di perutnya.

"I-ibu, a-ayah apa yang sedang Paman Chanyeol dan Baekhyun lakukan?" Jongin berdeham, ia menutup matanya merasa kesal karena telah lalai menjaga sang putri.

"Mereka_"

"Bermain." Kyungsoo menoleh ketika ucapannya dipotong oleh Jongin, keduanya saling pandang dan Krystal menatap mereka bergantian dengan wajah bingung.

"Bermain? Permainan apa? Kenapa Baekhyunie nampak begitu kesakitan?"

"Ekhem!" tenggorokan Jongin terasa panas, sementara Kyungsoo mendapatkan warna merah pada seluruh wajahnya.

"Itu karena….karena…."

"Karena mereka bermain terlalu keras." Lagi Kyungsoo menoleh dengan wajah tak percaya atas ucapan ambigu Jongin yang pasti akan membawa mereka pada pertanyaan lebih sulit dari Krystal.

"Lalu kenapa mereka tidak memakai bawahan?"

"Krys! Sudah waktunya makan, ayo!" Kyungsoo segera menarik Krystal menjauh, dan mata bulat itu memberi isyarat pada Jongin untuk membuang mainan baru putrinya dan memberikannya mainan yang lebih aman.

"Ibu?"

"Ya sayang?"

"Apa ayah dan ibu pernah memainkan permainan seperti itu?" Kyungsoo mendadak mematung, kali ini ia tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan putrinya.

..

.

Taehyung duduk diatas sofa dengan kedua tangan ia remas kuat diatas pahanya, kepalanya setia tertunduk dan sama sekali tak memiliki keberanian untuk menatap kedua kakaknya yang menatapnya kesal.

"Kenapa kau tak mengatakannya pada kami?" itu suara Jackson yang terdengar sangat marah.

"Taehyungie, apa bagi Taehyungie, kami tidak cukup pintar untuk menjaga rahasia?" suara lembut Jiwon terdengar lebih baik untuk bocah laki-laki itu, namun meskipun begitu ia tetap tak berani mengangkat wajahnya.

"Ka-kata Daddy, i-ini rahasia…ja-jadi aku tak boleh mengatakannya pada siapapun." Jackson berdecak marah, ia berjalan mondar-mandir sambil meremas rambutnya.

"Lalu apa kau pikir ini akan baik-baik saja? Mommy kabur! Ini semua karenamu!" Tubuh Taehyung menegang ketika jemari Jackson menunjuk tepat ke wajahnya. Jiwon menghela nafas dan meminta sang kakak untuk lebih tenang.

"Ta-tapi Daddy kan sudah mengejarnya!"

"Tapi mereka tak kembali, aku tak tahu apa Daddy berhasil menemukan Mommy, aku pun tak bisa menghubungi mereka." Kesal Jackson. Taehyung kembali menundukan wajahnya, Jiwon yang melihat itu segera mengambil duduk disamping adik bungsunya.

"Lain kali jangan membuat rahasia diantara kita, kau mengerti? Kita ini saudara, apapun masalahmu ceritakan pada kami!" ucap Jiwon pelan dan Taehyung mengangguk sambil tersenyum.

"Benar! Jangan merahasiakan apapun! Apa sih sulitnya mengatakannya, kau bukan robot yang tidak bisa bicara." Taehyung kembali menundukkan wajahnya.

"Jangan dengarkan dia, Taehyung hanya harus lebih terbuka sekarang. Mengerti?" Taehyung mengangguk.

"Makanya tidak perlu membuat rahasia-rahasian segala, kau bukan agen rahasia asal kau tahu." Ucap Jackson lagi, Taehyung mengepalkan tangannya mengingat apa yang telah ayahnya ajarkan.

"Lalu apa bedanya dengan hyung? Hyung juga memiliki rahasia besar kan?" Jackson menoleh dengan kening berkerut.

"Majalah-majalah wanita seksi dibawah tempat tidur, lalu hyung yang suka mengunci diri di dalam kamar dan membuat suara aneh, hyung pasti bukan agen rahasia lalu kenapa merahasiakannya?" Jackson tercekat, tangan dipinggangnya mendadak terjatuh.

"Wow, siapa yang memiliki rahasia sebesar itu?" suara berat itu terdengar dari balik pintu masuk. Jiwon dan Taehyung bangkit dengan wajah sumringah melihat kedua orangtua mereka kembali.

"Dad, Mom!" teriak keduanya dan segera berhambur ke dalam pelukan mereka. Jackson enggan berbalik, ucapan Taehyung membuat ia ketakutan.

Chanyeol memeluk kedua buah hatinya, dan matanya teralih pada Jackson, dengan senyum jahil ia berjalan mendekati tubuh menegang itu, lalu menepuk kepala sang buah hati.

"Kenapa menjadi manekin?" Jackson semakin tegang karena jarak mereka begitu dekat. Baekhyun berjalan mendekat dengan Taehyung dalam pelukannya.

"Taehyungie, suara apa yang Taehyung dengar sayang?" Kembali Jackson menegang, belum sempat Taehyung menirukan suara memalukannya, Jackson menepis tangan sang ayah dan hendak pergi meninggalkan ruang tengah.

"Hei, kenapa pergi? Apa aku berkata bahwa kau tak boleh melakukannya?" Jackson menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya. Disana Chanyeol tersenyum dengan kedua tangan direntangkan.

"Kau sudah besar ternyata." Jackson tersenyum lalu mendekat kearah Chanyeol dan memeluk tubuh sang ayah, jujur ia begitu merindukan sosok itu.

"Aku senang kalian kembali." Ucap Jiwon yang bergelantung manja di lengan Chanyeol.

"Terima kasih karena telah memberikanku kesempatan, dan ucapkan terima kasih untuk Mommy kalian yang sangat mencintaiku." Taehyung dan Jiwon segera beralih kearah Baekhyun dan mengecup pipi itu dengan sayang.

"Thanks, Mommy." Seru ketiganya.

"Mom?" Taehyung menjauhkan tubuhnya dan matanya tertuju pada noda kemerahan di pundak ibunya, noda gigitan yang benar-benar terlihat seperti sebuah gigitan besar.

"Mom, gigitan apa ini?" Baekhyun segera menaikkan kerah bajunya yang melorot dan menatap Chanyeol yang hanya tersenyum puas.

"Makhluk malam." Ucap Baekhyun sambil melirik Chanyeol kesal.

"Hah? Apa Mommy baik-baik saja?" Baekhyun mengangguk dan mengelus pipi Taehyung.

Jackson berpindah untuk duduk disamping Chanyeol, ia menyiku perut ayahnya membuat Chanyeol menoleh.

"Seperti yang Daddy katakan bahwa aku sudah besar, jadi aku tak akan mudah dibohongi." Chanyeol menaikkan satu alisnya atas sikap sok dewasa putranya.

"Ngomong-ngomong soal ucapankanku tadi, itu bukan berarti aku membiarkanmu ber-onani di rumahku." Mata Jackson membulat dan perlahan kepalanya menoleh kearah Chanyeol, membuat sosok itu menahan tawanya.

"Itu hak, kenapa melarangku?"

"Tapi ini rumahku."

"Sejujurnya aku lebih senang kau pergi, jadi aku bisa bebas dirumah ini." Ucap Jackson sambil memutar bola matanya malas.

"Oh aku hampir lupa, kami berencana untuk membuat adik untuk kalian."

"Apa? Kenapa?"

"Karena aku ingin menciptakan anak-anak yang hanya menurut padaku, jadi kau bisa angkat kaki dari sini setelah adikmu lahir."

"Apa?" Jackson terkesiap, wajahnya mendadak pucat. Bibirnya melengkung dan tatapannya kosong kearah lantai. Chanyeol tak bisa menahan tawanya dan ia terkekeh membuat ketiga orang disampingnya menoleh heran.

"Katanya tidak bisa dibohongi, tapi nyatanya kau telah termakan ucapanku." Jackson merasa geram dan meninju perut ayahnya kuat, lalu bangkit dengan kesal.

"Dasar iblis!" ucapnya lalu berjalan meninggalkan ruang tengah menuju lantai atas dimana kamarnya berada.

"Hey kid! Tak ada onani untuk malam ini!" teriak Chanyeol dan dibalas oleh debuman keras suara pintu kamar Jackson.

Chanyeol terkekeh dan kemudian ia menoleh untuk mendapati Taehyung yang menatap kearahnya dengan wajah berseri-seri.

"Apa ada sesuatu diwajahku?" tanya Chanyeol. Taehyung menggeleng pelan, lalu memeluk tubuh Chanyeol.

"I Love you, Daddy!" Chanyeol tersentak, ia tak percaya ucapan tulus dari bocah kecil bisa membuat debaran dijantungnya.

"I-I love you too, baby!"

Baekhyun tersenyum, ia memeluk tubuh Jiwon dan Taehyung, lalu memeluk tubuh Chanyeol dengan erat.

"Ibu, terima kasih untuk mengabulkan permintaanku."

Ucap Baekhyun di dalam hatinya, dan sebuah hembusan angin ia rasakan menerpa wajahnya dengan lembut.

….

..

.

THE END

….

..

.

Eits! Tunggu !

….

..

.

Taehyung berjalan sambil sesekali mengeratkan tali ranselnya yang ia genggam dengan erat, sesekali ia menaikkan kaca matanya yang melorot, namun ia telah lebih dulu terhempas jatuh oleh sesuatu yang menghantamnya. Ia mendongak dan mendapati empat anak lelaki tambun berdiri di depanya dan menatapnya nyalang.

"Kau Park Taehyung?" Taehyung mencoba bangkit sambil membersihkan kotoran dicelananya.

"Ya, itu aku. Tapi aku harus pergi, aku sudah terlambat Mommy akan menghukumku nanti." Ucapnya sambil melihat kearah jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 8 malam. Ketika ia mencoba melalui anak-anak itu, kerah jaketnya ditarik dan tubuhnya kembali dihempaskan.

"Beraninya kau melewatiku seperti aku ini bukan manusia." Taehyung meringis sambil memegang sikunya yang terasa nyeri karena menabrak dinding gang yang ia lalui.

"Maafkan aku, tapi aku sungguh sudah terlambat."

"Brengsek." Taehyung tercekat ketika salah satu dari mereka menghantamkan tangannya di dinding.

"Kau tahu aku siapa?" Taehyung menggeleng pelan.

"Aku adalah kakak dari anak yang kau hajar waktu itu. Aku kakak Jeremy." Bola mata Taehyung melotot, ia ingin bagaimana ia menghajar sosok yang selalu menganggunya itu di kantin beberapa waktu lalu.

"Oh, apa Jeremy baik-baik saja? Aku minta maaf untuk_" Ucapan Taehyung terpotong saat tiga orang lainnya mulai memegang kedua sisi tubuhnya.

"Aku akan memberimu pelajaran anak bawang."

"Tunggu ! Tunggu! Jangan lakukan ini, aku tak ingin menyakiti siapapun." Si sosok tambun tertawa sambil mendekat kearah Taehyung.

"Kau pikir aku takut, memangnya siapa kau?"

"Daddy bilang aku tak boleh mengatakan identitasku dulu, karena aku masih amatir."

"Banyak bicara! Rasakan ini bajingan kecil!"

BUGH

"Awww shit!" Si lelaki itu kesakitan sambil memegang tangannya yang menghantam dinding, semua dibuat terkejut karena Taehyung yang telah menghilang. Ketika mereka mencari, mereka menemukan Taehyung dibelakang kakak Jeremy sedang menunduk memungut bukunya yang tercecer.

"Kau! Kembali dan rasakan!"

"Sudah aku bilang, aku tak ingin menyakiti siapapun."

"SHUT UP_"

BRUK

Keempat anak lelaki itu melayang dan menghantam dinding. Ketika mereka mendongak mereka dikejutkan dengan sosok Taehyung yang telah mengeluarkan sayapnya. Sayap kirinya berwarna hitam sementara sayap kanannya berwarna putih, ditengah dahinya juga ada sebuah kristal berwarna merah pekat.

"Sudah aku katakan, aku tak ingin menyakiti siapapun." Ucapnya sambil memperlihatkan taring kecilnya dan matanya yang berwarna berbeda. Bola mata kirinya berwarna merah namun bola matanya kanannya berwarna biru. Beberapa detik sorot matanya terlihat sarat akan kemarahan, namun di detik berikutnya tatapannya kembali normal.

"Oh, apa aku terlalu keras? Maafkan aku_"

"LARIIII!" Keempat anak lelaki itu telah berlalu sebelum Taehyung sempat menolong mereka. Taehyung memungut kaca matanya, dan meniupnya berulang kali sebelum berakhir mengenakannya kembali.

"Huh, aku harap Daddy dan Mommy tidak akan memarahiku karena merusak kaca mata baru lagi." Ketika ia akan kembali melanjutkan perjalanan pulang, sosok gadis berseragam berdiri di depannya. Taehyung begitu kagum akan kecantikan sosok di depannya, usianya sebaya dengannya namun kecantikannya sungguh luar biasa. Gadis itu tersenyum manis sambil kearah Taehyung.

"Yang tadi itu keren sekali." Taehyung tersipu malu sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Good boy!" Taehyung menoleh sekitar ketika mendengar suara ayahnya, belum sempat ia menemukan sosok sang ayah, Chanyeol sudah melesat turun dengan sosok setengah iblisnya, disusul Baekhyun, Jackson dan Jiwon.

"Ka-kalian?"

"Uh, anak Mommy hebat sekali. Jjang!" Baekhyun mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum bangga sementara Jackson hanya memutar bola matanya malas. Taehyung menatap lagi gadis di depannya yang sama sekali tidak takut pada sosok-sosok menyeramkan dibelakangnya.

"Oh, Hai semua." Ucap si gadis sambil menyapa empat orang didepannya dan tak lama dua sosok muncul dibelakang gadis itu, Jongin dan Kyungsoo.

"Selamat datang di dunia kami." Ucap Chanyeol sambil berjalan mendekat diikuti oleh Baekhyun yang tersenyum lebar.

"Wow, Krys kau sungguh tumbuh menjadi gadis cantik." Krystal tersipu malu atas ucapan Baekhyun lalu membungkukkan tubuhnya kearah Jackson dan Jiwon. Jiwon segera memeluk tubuh gadis itu dengan sayang, sementara Jackson mempertahankan sikap sok kerennya.

"Ka-kalian?" Taehyung masih kebingungan di tempatnya sebelum akhirnya Kyungsoo menoleh dan tersenyum manis pada anak itu.

"Wujud yang cantik." Ucap Kyungsoo dan Jongin yang mendengar itupun ikut menoleh dan mengangguk setuju.

"Dia baru mendapatkan sayapnya seminggu yang lalu dan betapa terkejutnya aku karena aku pikir dia murni berdarah manusia." Ucap Chanyeol sambil mendekat kemudian merangkul pundak putranya, keduanya saling menoleh bersamaan dan kening Chanyeol mendadak berkerut ketika bingkai kaca mata putranya kembali rusak. Taehyung tersenyum lebar sambil dengan cepat melepaskan kaca matanya.

"Aku akan memperbaikinya." Ucapnya cepat dan Chanyeol hanya menghela nafas.

"Jadi, kita pergi sekarang?" tanya Jackson yang nampak bosan dengan acara reuni keluarganya.

"Baiklah, dimana lokasi yang ingin kalian jadikan rumah?"

"Di bukit dekat sini. Kyungsoo ingin menyatu dengan alam." Ucap Jongin. Baekhyun terkekeh sambil mengelus pundak Taehyung disampingnya.

"Apa kau tidak bosan bergaul bersama tumbuhan seumur hidupmu?" Baekhyun menyiku perut Chanyeol ketika suaminya mulai bicara sembarangan.

"Hei, apa kita akan tetap berdebat ditengah jalan seperti ini?"

"Jackson!" bentak Chanyeol dan Jackson mengerutkan bibirnya malas.

"Ayah, Ibu ayo! Aku tak sabar dengan rumah baruku." Ucap Krystal sambil menarik-narik jubah kedua orangtuanya.

"Baiklah, ayo!" Jongin yang pertama kali terbang, lalu disusul Jongin dan Krystal. Melihat itu Jackson segera melesat diikuti oleh Jiwon. Chanyeol melangkah ke depan bersiap untuk melesat sambil menggandeng tangan Baekhyun, namun keduanya menoleh dan menatap Taehyung yang hanya terdiam sambil menunduk.

"Ada apa sayang?" tanya Baekhyun. Taehyung mengangkat wajahnya ragu.

"A-aku kan belum mahir terbang."

"Kau bisa memegang tangan Mommy."

"Ta-tapi aku takut." Ucap Taehyung takut sambil melirik ayahnya yang hanya diam menatapnya dingin. Chanyeol menatap Taehyung dingin, lalu mendekat kearah putra bungsunya. Taehyung langsung beringsut, meskipun hubungan keduanya telah baik namun Taehyung tetap takut jika kelemahannya akan memunculkan sisi kemarahan Chanyeol.

"Jika kau tak mencoba kau tak akan pernah tahu." Taehyung mendongak dan terkejut akan ucapan lembut sang ayah.

"Jangan pernah takut, sebelum kau jatuh aku akan menangkapmu." Taehyung tersenyum lalu mengangguk cepat. Ia mengambil aba-aba dan menutup matanya.

"Hei, jangan tegang. Anggap sayap ini adalah bagian dari dirimu." Taehyung kembali mengangguk lalu perlahan kedua sayap itu terkepak meskipun kepakannya terlihat berantakan karena ukurannya yang berbeda dan juga karena satu sayapnya milik bangsa iblis namun satunya lagi milik bangsa malaikat. Sayap kirinya akan mengepak lebih kuat dan cepat, sementara sayap kanannya akan mengepak sangat pelan dan lembut.

"Woaaah." Ia berseru ketika tubuhnya sudah mulai terangkat. Baekhyun dan Chanyeol mendongak sambil menatap putra mereka yang telah mulai terbang. Di detik berikutnya mata Baekhyun beralih kearah Chanyeol.

"Kau ayah dan suami yang hebat." Chanyeol menoleh dan tersenyum lembut kearah Baekhyun. Ia menarik pinggang istrinya dan mengecup kening Baekhyun dengan lembut.

"Karena aku memiliki istri yang hebat sepertimu." Baekhyun terkekeh lalu menarik tengkuk Chanyeol untuk keduanya berciuman.

"Aww." Chanyeol meringis ketika bibirnya terluka.

"Aku selalu benci berciuman dengan wujud iblismu karena demi apapun taringmu sangatlah tajam." Baekhyun terkekeh sambil menarik pelan bibir Chanyeol yang terluka.

Ia kembali berjinjit dan menghisap permukaan bibir terluka itu dengan lembut. Chanyeol menarik pinggang Baekhyun cepat dan perlahan tanganya turun untuk meremas pantat Baekhyun.

Mereka kembali berciuman dan kini Baekhyun melompat sambil melingkarkan kedua kakinya ditubuh Chanyeol diikuti dengan sayapnya yang menguncup.

"DADDYYYY!" Chanyeol menahan wajah Baekhyun yang akan melepaskan ciuman mereka, dan dalam hitungan detik segera melesat keudara.

KLIK

KLIK

KLIK

Seorang pria yang nampak terkejut memegang kameranya dengan tidak percaya atas apa yang ia lihat.

PUK

Ia menoleh ketika sebuah tangan berada di punggungnya dan Sehun berdiri disana sambil tersenyum. Mata keduanya saling mengunci dan Sehun tersenyum saat dengan mudah kamera itu bisa ia dapatkan. Ia menghapus hasil foto si lelaki di depannya yang masih mematung dengan tatapan kosong.

Kemudian Sehun mengarahkan kamera ponsel itu sedikit tinggi dan ia mulai berpose mengambil gambar dirinya berulang kali.

"Oke, kau akan menjadi salah satu yang paling beruntung karena memiliki foto orang setampan diriku." Ucapnya sambil meletakkan kembali ponsel itu pada pemiliknya. Sehun berlalu sambil mengeratkan jaket ditubuhnya.

"Sial, kenapa Jessica mengabulkan permintaan Owen untuk membuat Luhan bisa mengandung? Sekarang aku yang harus menanggung beban ini ketika dia berteriak menginginkan es krim dimalam hari." Gerutunya sambil kembali berjalan dengan sebuah kantung hitam ditangannya.

Pria tadi tersadar dan mengecek ponselnya dimana ia terkejut karena terdapat banyak foto selfie sosok tak dikenal.

"Apa-apaan ini?" ucapnya sambil mencoba menghapus satu per satu semua foto itu.

"AAAAA~" Sebelum Taehyung menghantam tanah, tubuhnya telah ditangkap oleh Chanyeol. Taehyung tersenyum lebar sambil menghela nafas lega.

"Aku menepati janjiku kan?" Taehyung mengangguk cepat.

"Kami akan selalu menjagamu sayang." Taehyung menoleh dan Baekhyun telah terbang disampingnya.

"Sekarang! Tunjukan pada dunia bahwa kau bisa menjadi apapun yang kau inginkan. Bahwa ketakutanmu bukanlah penghalang. Jika kau jatuh sekali maka kau harus bangkit 100 kali." Taehyung mengangguk mantap, lalu kembali mengepak sayapnya dan terbang di depan kedua orangtuanya.

"Baekhyun!" Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang akan menyusul Taehyung.

"Aku rasa Taehyung sungguh menggemaskan." Baekhyun mengangguk setuju.

"Aku rasa membuat satu yang lebih menggemaskan akan bagus_" Baekhyun memutar bola matanya malas dan melesat pergi meninggalkan Chanyeol tanpa bicara. Chanyeol terkekeh sambil kembali mengejar Baekhyun.

"Sayang, pantatmu terlihat indah dari belakang sini."

"Diam Chanyeol!"

"Sayang, aku jadi ingin meremasnya lagi semalaman."

"Tutup mulutmu Chanyeol!"

"Sayang?"

"Aku bilang tutup atau tak ada lagi pertunjukan malam."

"Oh baiklah, aku akan diam."

"Bagus."

"Tapi Baek, aku benar-benar mengaguminya dari posisi ini."

"Park Chanyeol!" dan Chanyeol hanya terkekeh mendengar nada jengkel Baekhyun. Meskipun Baekhyun telah menjadi iblis sepenuhnya namun ia akan tetap selalu merona tiap Chanyeol menggodanya dan Chanyeol sangat menyukai itu.

Meskipun mereka makhluk abadi namun mereka sadar bahwa di dunia ini tak ada satupun hal yang abadi, kecuali sebuah perasaan cinta. Seperti cinta orangtua kepada anaknya, cinta saudara kepada saudaranya yang lain dan cinta Baekhyun kepada Chanyeol. Yah, Chanyeol harus mengakui itu sebagai hal yang abadi, karena seberapa banyak pun ia menyakiti Baekhyun, sosok itu akan tetap membuka tangannya untuk menerima Chanyeol kembali dan memaafkan kesalahannya.

Pertemuannya dengan Baekhyun membuatnya tersadar, bahwa tak ada seorangpun yang bisa menghindari takdir. Seberapa jauh ia mencoba berlari, seberapa keras ia mencoba mengelak takdir akan kembali mempertemukan keduanya dalam sebuah lingkaran merah.

"Ibu, aku ingin berterima kasih kepadamu. Pertama karena kau melahirkanku, kedua karena kau rela mati untukku, ketiga karena saat itu kau memaksaku untuk turun kebumi dan menghukumku dengan hukuman terindah yang pernah aku terima. Aku….aku mencintaimu."

…..

….

..

.

Mungkin banyak dari kalian udah lupa sama cerita ini, tapi aku cuma mau menepati janjiku untuk melengkapi bagian bonus dari DBM. Aku gak bercanda ketika aku bilang bahwa aku sama sekali tidak memiliki inspirasi untuk ff ini, berulang kali aku coba buka ujung-ujungnya akan berakhir dengan aku menekan tombol close ataupun mengetik ff lain. Tapi astungkara akhirnya aku bisa menyelesaikan ini juga. Semoga kalian suka dengan akhir bonusnya :)

Dan sekaligus aku mau umumin kalo setelah ini aku bakal hiatus cukup lama, bahkan kemungkinan gak terlalu aktif di IG juga. Aku harap ini bukan akhir untuk aku menulis, tapi cuma karena aku butuh banyak waktu untuk real life ku. Aku mohon doanya semoga apapun ujian yang aku hadepin berjalan lancar dan aku bisa lulus tahun ini dengan nilai memuaskan. Selama ini aku terlalu menggampangkan apapun, dan sekarang aku sadar bahwa di kuliah profesi ini aku udah gak ada waktu buat main-main lagi hehehehe...

Mohon doanya semoga urusanku cepet kelar dan berjalan lancar dan bisa nulis ff lagi karena rencanya aku mau publish dua ff baru ditambah berencana untuk bikin versi lain dari DBM..

Sekian cuap-cuap dariku, inget selalu jaga kesehatan dan salam Chanbaek is real ya :)