Uri Sarangseureoun Seoltangie

.

Chapter 2: Liars

.

A BTS Fanfic

.

SUGA!Centric

.

©Siwgr3

.

Cast: BTS, Other

.

Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D

.

Other Cast: BTS Member, Other

.

Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family

.

Rated: T

:::

Terkadang kau perlu menangis untuk bisa tertawa.

Tapi tidak sebaliknya.

… 'Kan…?

:::


Yoongi diam, tak memperdulikan angin hangat yang mulai berhembus. Maniknya memandang matahari yang mulai muncul di ufuk timur. Dia terus terjaga sepanjang malam.

Hari ini datang rupanya.

Pintu di belakang Yoongi kembali terbuka.

"Hyung…? Kau sudah bangun?"

Pertanyaan bodoh.

Yoongi hanya menggumam sebagai balasan.

"Umm, baiklah. Kita akan segera pergi, hyung. Sebaiknya kau segera siap-siap."

"Aku mengerti, Namjoon."

Hening sejenak, pintu kemudian kembali tertutup tanpa ada suara lain.

Lagi. Suaranya. Kenapa suaranya begini?

Yoongi terdengar seperti orang yang membenci Namjoon. Padahal Yoongi tidak bermaksud begitu. Helaan napasnya kembali terdengar.

-Time Skip…

Yoongi dan para membernya sudah tiba di Mcountdown, dimana mereka akan melakukan debut stagenya.

Mereka tersenyum ke arah kamera, lalu mulai memperkenalkan diri.

Yoongi terus 'tersenyum' sepanjang interview. Tapi tidak melakukan apa-apa. Bahkan saat member lain melakukan berbagai hal kocak dan mengundang tawa, dia hanya tertawa kecil tanpa memberi komentar atau semacamnya.

Dia tidak mau bicara.

:

:

"Hyung, mic-mu…" Jimin mendekati Yoongi kemudian memperbaiki letak mic Yoongi.

"Ah, ne." Gumam Yoongi datar.

Jimin mengangguk. Ia berlalu menghampiri V dan Jungkook yang sedang mengobrol.

Yoongi memandang mereka sejenak, lalu mulai sibuk menghapal gerakan dance No More Dream. Terkadang dia merasa off-beat, terkadang dia merasa terlalu cepat.

Susah. Yoongi memang tidak bisa menari. Ingin rasanya Yoongi memaki.

Hoseok yang sepertinya melihat kesulitan Yoongipun memberanikan diri mendekatinya. "Hyung, kau terlalu cepat. Mau kuajarkan?"

Yoongi menggumam, dan Hoseok menganggapnya sebagai iya. Ia lalu mulai menunjukan gerakan tari bagian Yoongi. Yoongi memandanginya dengan cermat, tak mau melakukan kesalahan di debut stagenya.

"Coba, hyung!"

Yoongi menurut dan mulai menari menirukan tarian Hoseok.

Hoseok mengangguk. "Oke, hyung. Kau sudah baik-baik saja."

Hening.

Yoongi ingin berterima kasih, tapi lidahnya terasa kelu.

Hoseok tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Uhh, aku kesana dulu ya, hyung!" lalu tanpa mendengar jawaban Yoongi, ia segera berjalan cepat meninggalkannya.

Yoongi kembali merutuk dalam hati. Bahkan mengucapkan terima kasih saja tidak bisa, Min Yoongi?! Yoongi marah pada dirinya sendiri. Ia ingin bisa setidaknya bersikap normal dengan member lain.

Tapi tubuhnya terus berkata tidak.

Otaknya masih menolak.

Dia masih merasakannya. Ketakutannya. Yang selalu ia rasakan sejak ia berumur 18 tahun. Bahkan hingga kini saat umurnya menginjak 20 tahun.

Tatapan penuh kebencian. Makian kasar. Dan punggung orang-orang yang meninggalkannya.

Yoongi tak pernah memiliki seseorang yang bisa ia panggil 'teman'.

Dirinya yang kasar, seenaknya, dan berisik. Dirinya yang sesungguhnya.

Dirinya yang itu membuat orang-orang membencinya. Mereka meninggalkannya setelah memaki Yoongi.

Sejak itulah Yoongi terkepung socialphobia. Dia menjadi takut bicara. Tak sanggup menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Takut akan membuat membernya membenci dirinya.

Tidak mau.

"Yoongi."

Tubuh Yoongi tersentak saat sebuah tangan menepuk bahunya.

Seokjin.

Seokjin memandangnya heran. "Gwenchana? Wajahmu pucat."

Yoongi masih berusaha mengontrol napasnya, matanya membelalak, sementara keringat dingin terus mengucur dari dahinya. Tanpa sadar ia menepis kasar tangan Seokjin, membuat member tertua itu terkejut.

"Ah, mian. Apa aku mengejutkanmu?"

Member lain mulai memperhatikan mereka.

Yoongi masih membelalak, namun kemudian ia tersadar. Ia membuang muka lalu mulai melangkah menjauh mengabaikan panggilan Namjoon. Dia harus menenangkan hatinya.

Yoongi masuk ke kamar mandi. Dipandangnya pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, kepalanya pusing. Masih mengingat dengan jelas ekspresi Seokjin tadi. Terlihat sedikit terluka karena Yoongi menepis tangannya.

Padahal Seokjin menanyakan keadaannya.

Tapi Yoongi malah memperlakukannya seperti itu.

"… Monster."

:

:

Yoongi melangkah keluar kamar mandi. Ketika sampai di ruangan BPB, ia tak menemukan siapapun. Ia mengernyit. Kemana para membernya? Padahal 10 menit lagi mereka akan tampil.

Haruskah Yoongi mencari mereka?

'Aku harus minta maaf pada Seokjin hyung.' Tekadnya dalam hati. Bagaimanapun Seokjin bermaksud baik padanya.

Yoongi sedang melangkah menyusuri lorong gedung, ketika ia mendengar suara Taehyung yang samar. Yoongipun mendekati salah satu ruangan tempat suara Taehyung berasal.

"Dia malah menepis tanganmu, hyung!" Taehyung menggeram.

"Ya! Padahal kau bermaksud baik padanya!" lanjut Jungkook, terdengar kesal.

"Dia memang orang yang menyeramkan." Hoseok menimpali. "Tadi aku membantunya menari. Tapi setelah selesai, ia malah melotot padaku."

"Aku memang kesal." Suara Seokjin terdengar.

"Hyung itu sama sekali tidak asyik. Dingin dan pendiam. Aku tidak suka." Kali ini Jimin angkat bicara.

"Aku tahu." Namjoon terdiam sejenak. "Tapi dia tetap member kita. Kuharap kalian bisa bersabar."

"…"

Namjoon tersenyum. "Sesungguhnya dia bukan orang jahat kok."

Seokjin mengangguk. "Kurasa dia punya alasan."

Tapi Yoongi telah terlanjur pergi sebelum sempat mendengarnya.

:

:

Yoongi duduk diam di kursi. Tak memberikan respon berarti saat membernya masuk. Tak mengindahkan sapaan Jimin.

Yoongi hanya memandang kosong ke lantai.

Bahkan hanya dengan diam saja, dia sudah membuat membernya membencinya.

Lalu apa yang harus dia lakukan?

"BPB, giliran kalian!" seorang staff datang mengingatkan, disambut ucapan "Baik" oleh para member.

Yoongi tetap diam.

:

:

BPB baru saja selesai tampil. Para member setengah berlari menuju ruangan mereka. Di tengah perjalanan mereka sesekali mengungkapkan kebahagiaannya di depan kamera. Yoongi hanya tersenyum dan memberi komentar seadanya saat disorot kamera.

Di dalam ruangan mereka, member mulai menelepon keluarga mereka satu persatu. Hoseok dan Jimin terdengar sangat antusias menceritakan soal debut mereka pada orang tua masing-masing.

Yoongi hanya sesekali menatap mereka. Pandangannya kemudian jatuh ke ponselnya. Tidak ada yang bisa ia telepon. Orang tuanya tidak mendukungnya dalam hal ini.

"…" jari-jari Yoongi bergerak, mengetik sesuatu di ponselnya.

Hyung, aku sudah debut.

Satu-satunya orang yang bisa ia beritahu hanya hyungnya. Mungkin hanya dia orang di keluarga Yoongi yang mendukung mimpi musiknya. Walau dia juga kaget pada awalnya saat Yoongi bilang akan debut sebagai member boyband. Tapi dia menerima dan menyemangati Yoongi.

Untuk itu, Yoongi sangat bersyukur –meski hubungannya dengan hyungnya tidak dekat.

Ia menyimpan ponselnya. Sepertinya hyungnya sedang sibuk hingga tak membalas pesannya.

"Yoongi ah, kerja bagus hari ini!" Seokjin tersenyum lebar.

Yoongi mengangguk, menghindari mata Seokjin. "Ne…"


-That Night…


Yoongi memejamkan matanya. Tangan kirinya memegang pulpen sementara tangan kanannya menimang buku liriknya.

Suasana di studio sangat sepi.

Ia melirik jam dinding yang tergantung.

Sudah jam 12 malam.

Seharusnya Yoongi sudah pulang sedari tadi, tapi dia menolak. Dia tidak mau kembali bersama membernya. Membernya yang membencinya tapi sok baik padanya.

"… Munafik…"

Yoongi menggigit bibirnya, mengingat kembali kejadian tadi. Seokjin tersenyum padanya seperti itu.

"Jika kalian membenciku, katakan saja langsung padaku."

Hoseok dan Jimin yang merangkulnya di depan kamera.

"Brengsek. Apa aku serendah itu…?"

Ia membuka buku liriknya. Ingin menulis, tapi tangannya tak bergerak.

Tes

Tes

Tetes-tetes air itu mulai turun membasahi buku yang selalu Yoongi jaga itu. Yoongi hanya memperhatikan tatkala tinta-tinta yang tadinya tergores membentuk kata di kertas itu mulai luntur.

"F*ck…"

Ia mengepalkan tinjunya. Tangannya kemudian bergerak menggebrak meja di sampingnya. Ia menengadahkan kepalanya, melepaskan sebuah hembusan napas kasar yang menyiratkan amarah.

"… Apa yang kulakukan…?"


:::

Aku membenci mereka

Monster di dalam diriku berbisik

Aku sangat membenci mereka

:::


Yoongi membuka matanya. Sepertinya Ia tertidur di studionya. Ia melirik jam.

Pukul 8 pagi.

Jam-jam seginiSeokjin sudah memanggil semua member untuk sarapan pagi.

Yoongi kembali memejamkan matanya. Dia tidak mau kembali.

Dia benci orang munafik.

"Orang-orang brengsek." Maki Yoongi pelan. Memorinya kembali terputar.

"Eommaa! Yoongi mengataikuuu!"

"Yak, jadi preman saja kau! Dasar mulut kotor!"

"Kau jelek tahu! Jangan sok ya!"

"Siapa kau main kritik?!"

"Kau cari gara-gara denganku?!"

"SI GILA INI MEMANG CARI MATI!"

"Sekarang kau sudah paham? Ini akibatnya jika kau mau sok jagoan ke kakak kelas. Masih untung kau belum mati."

"Dasar anjing gila. Mati saja sana."

"Hei! Namja ini ternyata gay!"

"GAY! DIA GAY!"

"Kau benar-benar aib keluarga"

Yoongi membuka matanya. Sekarang rasanya semua kata-kata kasar dan pukulan itu lebih baik dibanding tindakan membernya.

Yoongi benci dikasihani, bersikap baik padanya padahal membencinya.

Yoongi muak.

Mendadak perut Yoongi berbunyi. Yoongi mengacak surainya kasar. Ia lalu berdiri dan meraih tasnya.

:

:


-Rumah Makan Chickin…


Yoongi menanti pesanannya datang. Ia melirik ke luar jendela. Buku dan pulpen masih setia di kedua tangannya. Sesekali ia bergumam kecil lalu menulis bait demi bait lirik.

Ia lalu merasakan getaran di saku jaketnya. Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Dari Seokjin.

Yoongi diam. Mempertimbangkan apa dia harus mengangkat telepon Seokjin.

Setelah lama berpikir dan karena Seokjin pantang menyerah meneleponnya, Yoongi memutuskan untuk mengangkat teleponnya.

"Ne, hyung." Gumam Yoongi datar.

"Yoongi ah, kau dimana?" suara Seokjin sedikit teredam oleh pekikan-pekikan tidak jelas di sekitarnya.

"Rumah makan." Jawab Yoongi singkat.

"Hah? Kenapa kau tidak pulang tadi malam?"

"Aku ketiduran."

"Ah… baiklah. Hati-hati di sana Yoongi ah. Kapan kau akan pulang?"

Yoongi memutar kedua matanya jengah. Ia langsung mematikan ponselnya tanpa menjawab Seokjin.

Lihat namja itu.

Namja baik itu.

Yang disayangi semua orang.

Walau menjadi dirinya sendiri, dia tetap bisa tertawa lepas.

Sesuatu yang tidak pernah bisa Yoongi capai.

Dan karena itulah rasa benci itu mulai tumbuh lebih besar lagi.

:

:

"Yoongi hyung!"

Yoongi yang tadinya baru memejamkan matanya setelah selesai menulis lirik, mengerang kesal.

"Mwo?"

Jimin menghampirinya. Sopan sekali bocah itu, masuk ke kamar Yoongi (danSeokjin) tanpa mengetuk dulu.

"Makan malam sudah siap! Ayo keluar!"

"Ani. Aku tidak lapar."

Jimin mengernyit. "Tapi dari siang kau pulang tadi aku tidak lihat kau makan tuh?"

"… Aku masih kenyang."

Jimin menggembungkan pipinya. "Jangan begitu hyung! Ayo makan sama-sama!" paksanya sambil menarik lengan Yoongi.

"Aniya!" Yoongi melawan –sayangnya Jimin lebih kuat darinya.

Damn abs.

Jimin menariknya kuat hingga ia terduduk di tempat tidurnya. Baru saja Jimin hendak menariknya lagi, Yoongi mencengkram tangan Jimin kuat.

"Aku bilang aku tidak lapar, shit."

Kedua manik Jimin membola. Pegangannya mengendur.

"F*ck. Cepat keluar." Yoongi menepis tangan Jimin kasar lalu kembali berbaring. Ia memejamkan matanya.

"…"

Langkah Jimin terdengar menjauh hingga akhirnya Yoongi mendengar pintu kamarnya kembali tertutup.

Mereka akan membicarakannya lagi. Menggunjingkannya. Mengatakan hal-hal buruk tentangnya. Tapi kemudian akan bersikap bagaikan orang baik di depan Yoongi.

"… Persetan…" bisik Yoongi gusar. "Mereka sudah membenciku. Untuk apa aku berbaik-baik pada mereka…?"

Ia mengepalkan tinjunya.

"Aku sudah biasa."

Air matanya kembali turun diam-diam.

"… F*ck…"


:::

Bahkan mimpiku terasa menyiksaku sekarang

:::


Yoongi, Hoseok, dan Namjoon sedang berada di studio. Mereka di sini untuk membicarakan album kedua mereka. Yoongi dan Namjoon memang co-producer untuk lagu-lagu BTS.

"Rencananya di album baru kita ini akan ada lagu khusus rap." Namjoon memulai. "Karena itu kau dipanggil kemari, Hoseok ah."

Hoseok mengangguk.

"Mari kita cari base musicnya dulu, setelah itu kita masing-masing menulis lirik. Nanti baru kita gubah musiknya." Namjoon meraih ponselnya dan membuka playlist musiknya. Ia mulai memperdengarkan beberapa base music kepada kedua membernya itu.

Setelah selesai, Namjoon menanyakan pendapat member.

"Aku suka lagu yang kedua, menurutku keren." Ujar Hoseok.

Namjoon mengangguk. "Iya 'kan? Aku juga suka-"

"Aku tidak menyukainya."

Namjoon dan Hoseok sontak menoleh ke arah Yoongi dengan ekspresi terkejut.

"Yang keempat lebih bagus."

Hening

"A-ah, begitukah? Kurasa kau benar hyung…" Namjoon menggaruk tengkuknya.

Hoseok mengangguk dengan senyum terpaksa yang sudah Yoongi kenal benar. "Ya, yang itu juga bagus kok."

Dalam hatinya, Yoongi tertawa terbahak-bahak. Padahal dia sebenarnya setuju dengan mereka soal lagu kedua, dia hanya ingin mengetes mereka saja. Ia ingin melihat bagaimana mereka bisa mempertahankan pilihannya. Bagaimanapun, mayoritas selalu menang. Dua lawan satu. Harusnya mereka membujuk Yoongi, bukan malah setuju dengannya semudah itu.

Yoongi memberi senyum kecutnya. "Tidak. Kita pakai yang kedua saja." Ia meraih buku dan pulpennya.

Namjoon dan Hoseok menatap Yoongi yang mulai larut dalam dunianya sendiri.

'… Bahkan sampai kau juga, Namjoon ah…?'

Dalam hati Yoongi tersenyum miris.

'Padahal kukira grup ini penting bagimu.'

:

:

Yoongi baru pulang ke dorm. Ia melirik jam tangannya. Sudah jam 11 malam. Seharusnya member-membernya sudah tidur. Ia membuka pintu perlahan dan hendak melangkah masuk. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara terbahak-bahak dari ruang TV. Ia menutup pintu tanpa suara, lalu berjalan pelan menuju sumber suara.

Taehyung sedang menonton TV rupanya. Namja itu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Yoongi memandangnya lama.

'Dia tersenyum…' Yoongi diam-diam tersenyum. Senyum Taehyung memang sangat menular. '… Dia memang namja yang tampan.'

Taehyung yang sedang tertawa tanpa sengaja bertemu mata dengan Yoongi yang masih terpaku di tempatnya. Wajah Taehyung perlahan berubah. Senyumnya hilang sama sekali. Ia buru-buru menunduk.

Hening

Mungkin karena sudah tidak tahan lagi, Taehyung meraih remot TV dan mematikannya. Ia lalu berdiri dan berjalan ke arah kamarnya. Tepat saat ia lewat di depan Yoongi, Yoongi bergumam.

"Senyumanmu jelek."

Yoongi bisa lihat ekspresi terkejut di wajah Taehyung. Namja itu menggigit bibirnya sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.

Blam

Yoongi memandangi pintu yang sudah tertutup rapat itu.

'Hanya melihatku saja kau sampai lari, huh…?' Yoongi tersenyum kecut.

'… Kau tampan, Taehyung ah… hyung berbohong.'

:

:

Sore itu ketika Yoongi keluar dari kamarnya, ia menemukan Jungkook yang sedang memainkan ponselnya di sofa.

Yoongi memandangnya sejenak. Sepertinya Jungkook tidak menyadari keberadaannya. Ia melirik jam dinding. Sudah jam setengah 6.

"Jungkook ah."

"Mm…" Jungkook hanya bergumam.

"Member yang lain mana?"

"Jin hyung sedang belanja, yang lain aku tidak tahu." Jawab Jungkook, masih sibuk memainkan ponselnya.

Hening sejenak

Namun Yoongi kembali membuka suara.

"… Ne… Jungkook…"

Jungkook hanya bergumam.

"Apa kau membenci hyung?"

"Tidak."

Yoongi memutar matanya. "… Jujur saja."

"Aku tidak membenci hyung."

Yoongi mengepalkan tangannya.

'BERHENTILAH BERBOHONG!' pekiknya dalam hati. Muak, dia muak!

Yoongi menggigit bibirnya. "Oh ya? Guess what? Hyung membencimu."

Hening

Jungkook tetap sibuk dengan ponselnya.

:

:

Yoongi memandang langit malam. Hari ini tidak ada bintang lagi.

Tapi sinar bulannya tetap bercahaya terang.

Ia menggerakan kakinya, membuat ayunan yang sedang ia duduki bergerak. Ia memandang sekitar. Taman yang dekat dengan dormnya ini sudah sangat sepi. Ia lalu melirik jam tangannya.

Jam 10.

Yoongi menghela napas berat. Ia kembali memandang langit.

Sudah seminggu lebih ia menjadi orang brengsek pada membernya. Dan sepertinya mereka sudah semakin membenci Yoongi.

Yoongi tersenyum. Tidak apa-apa. Dia baik-baik saja.

Dia tidak kesepian.

"… Di setiap langkah yang kuambil…" suaranya keluar, melantunkan beberapa baris rap yang ia karang di dalam benaknya.

"Ada kebencian yang menjadi sahabatku."

"Ada kesepian yang menjadi penyelamatku."

"Ada kemarahan yang menjadi pelindungku."

"Juga kata-kata kasar yang mendekapku."

"Bahkan meski mereka bilang aku hidup bagaikan anjing, aku tetap memiliki harga diri."

"Bahkan meski mereka bilang aku telah berubah menjadi monster, f*ck you, aku tetap memiliki kerendahan hati."

"Mereka akan meneriakiku, melempariku dengan kotoran, mendorongku ke jurang."

"Dengan kebencian mereka."

"Saat bahkan mereka yang kusebut teman menertawaiku di belakang."

"Memberikan bunga dan cinta, tapi menunjuk punggungku setiap aku berbalik."

"Aku bukanlah Eminem yang bisa melawan semuanya, mengubah mereka menjadi anjing kotor yang meminta-minta."

"Membuat mereka bungkam dengan rapnya."

"Aku hanyalah Min Yoongi. Min Yoongi yang berusaha bunuh diri."

"Gay bodoh yang hanya bisa menangis."

"Gay jelek busuk penuh serapah."

"Aku memang gay, jadi silahkan memandangku hina. Aku sudah malas berpura-pura. Memuji mereka. Menyanjung mereka. Mereka."

"Mencium sepatu mereka, hidup bagaikan kotoran."

"Meski senyuman mereka membuatku iri setengah mati, tapi kepada siapa aku mengeluh?"

"Hidup yang indah ini adalah neraka bagiku."

Bibirnya masih terus menggumamkan lirik-lirik yang muncul di benaknya. Ia tak menyadari seseorang yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Mendengarkan rapnya dari awal sampai akhir.

"… Hyung."

Yoongi tersentak dan buru-buru berbalik kebelakang. Ia menatap horor namja di depannya. "S-sejak kapan kau di situ?!"

"…Seokjin hyung menyuruhku mencarimu." Namja itu menunduk, raut takut nampak di wajahnya. Tak menjawab pertanyaan Yoongi.

Yoongi mengepalkan tangannya. "U-untuk apa?!"

"…Seokjin hyung bilang penting…"

Yoongi hanya pasrah memandang namja di depannya.

Taehyung yang menunduk dengan tubuh gemetar.

:

:

"Kau yakin Yoongi ada di taman?" Tanya Seokjin cemas. Dia baru saja selesai memasak makan malam.

Jungkook mengangguk. "Yoongi hyung tidak membawa dompet dan hanya memakai baju ala kadarnya begitu. Tidak mungkin Yoongi hyung pergi jauh."

Member lain hanya manggut-manggut. Kini mereka tengah duduk di sofa ruang TV, menunggu Yoongi dan Taehyung pulang.

Pintu dorm kemudian terbuka, menarik perhatian semua member. Yoongi muncul dengan Taehyung di belakangnya.

Melihat semua member berkumpul, Yoongi mengernyit curiga. Pasti ada sesuatu.

"Yoongi." Seokjin tersenyum. "Duduklah. Taehyung juga."

Yoongi kemudian duduk di kursi kosong. Menunggu Seokjin bicara.

"Jadi langsung saja…" Seokjin menghembuskan napasnya, berusaha menenangkan dirinya. "Aku mendengar cerita dari anak-anak soal dirimu…"

Yoongi mulai paham arah pembicaraan ini.

"Katanya kau bertingkah aneh." Lanjut Seokjin hati-hati. "Apa kau ada masalah, Yoongi ah?"

Yoongi berwajah datar. "Ani. Aku tidak merasa bertingkah aneh."

"Tapi kau memang bertingkah aneh, hyung!" Jimin menyela. "Entah kenapa kau jadi bicara kasar pada kami!"

"Padahal dulu kau cuma dingin hyung!" Hoseok menambahi setelah mengumpulkan keberaniannya.

"Hoseok!" Seokjin memperingatkan. Ia beralih menatap Yoongi. "Gwenchana, Yoongi ah. Kau bisa memberitahu kami. Bagaimanapun kita semua sudah seperti saudara."

Hati Yoongi tertumbuk mendengar itu. Rahangnya mengeras.

'Saudara…?'

"Yoongi?"

"Menggelikan."

Semua member terdiam.

"Yang seperti ini kalian sebut saudara?"

Yoongi melanjutkan. "Bersikap munafik padaku. Apa itu saudara?!"

"A-apa maksudmu, Yoongi ah?!"

"Aku mendengarnya."

"Saat debut stage kita. Aku mendengar semua yang kalian katakan."

Namjoon sontak berdiri, mulai paham maksud Yoongi. "Ani hyung, kami tidak bermaksud begitu-"

"DIAM!" bentak Yoongi meledak. "BERHENTILAH! BERHENTILAH BICARA BEGITU! BERHENTILAH SOK BAIK PADAKU! AKU MEMANG ORANG CACAT! TAPI AKU BUKAN ORANG CACAT YANG PERLU KALIAN KASIHANI!"

"Yoongi-"

"KUBILANG DIAM!"

"KAMI TIDAK BERMAKSUD BEGITU!" Seokjin ikut meninggikan suaranya. "KAMI HANYA-"

"F*CK! F*CK! BERHENTILAH MEMBUATKU TERLIHAT SEPERTI ORANG BODOH!" pekik Yoongi sambil berdiri.

"Oke. Akan kukatakan masalahku. Aku ini orang sakit. Orang yang benar-benar sakit. Tidak ada di dunia ini yang bisa membuatku tersenyum. Selama hidupku, yang kuanggap kebahagiaan ternyata hanyalah kepalsuan! Diriku yang asli! DIRIKU YANG ASLI! KALIAN PIKIR AKU INI APA?! AKU MEMANG BEGINI! SUARAKU MEMANG BEGINI! AKU MEMANG SUKA MEMAKI! AKU KASAR! DIRIKU YANG ASLI TAK PUNYA TEMAN! TIDAK SATUPUN! KALIAN PIKIR KITA SAUDARA?! SAUDARA MANA YANG SEPERTI INI?!"

Semua member terhenyak.

"AKAN KUKATAKAN SEMUANYA! SEOKJIN HYUNG!" Yoongi menatap Seokjin berang. "BERHENTILAH BERSIKAP BAIK PADAKU JIKA HANYA AKAN MEMBICARAKANKU DI BELAKANG! KAU MEMANG NAMJA BAIK! JAUH LEBIH BAIK DARIKU! JADI JANGAN BUAT AKU MERASA SEMAKIN MENYEDIHKAN!"

Yoongi lalu mengalihkan pandangannya ke Namjoon. "KAU! KAU LEADER! KAU PEMIMPINNYA! JIKA KAU TIDAK SETUJU DENGAN PILIHANKU, KATAKAN! JELASKAN PADAKU! JANGAN HANYA MENGIYAKAN SEMUA KATAKU! KAU LEADER! KUKIRA GRUP INI PENTING BAGIMU! KAU MEMBUATKU SEMAKIN MEMBENCIMU!"

Ia kemudian menatap Hoseok yang masih shock. "BERHENTILAH TERSENYUM BODOH BEGITU! AKU TAHU KAU MEMAKSAKAN DIRI TERSENYUM PADAKU! MAAFKAN WAJAHKU YANG SEPERTI INI! SUARAKU YANG SEPERTI INI! KALAU KAU TIDAK MAU TERSENYUM PADAKU, JANGAN TERSENYUM PADAKU, BODOH!"

Yoongi beralih menatap Jimin. "YA! KAU BENAR! AKU ORANG YANG MEMBOSANKAN! JIKA KAU TAHU ITU, JANGAN AJAK AKU BICARA! KAU KIRA AKU INI APA?! HIBURAN UNTUKMU?! AGAR KAU BISA MENGOLOK-NGOLOKKU LAGI?! JANGAN BERSIKAP BAIK PADAKU, PADAHAL KAU TIDAK MENYUKAIKU! AKU MEMBOSANKAN! ORANG PENDIAM YANG MEMBOSANKAN! DINGIN! TIDAK SOPAN! KASAR! SEMUANYA! SEMUA YANG BURUK ADA PADAKU! JADI BERHENTILAH BERPURA-PURA!"

Yoongi kemudian menatap Jungkook. Napasnya memburu dan tangannya terkepal keras. "… Jika kau membenciku, katakan saja Jeon Jungkook. Kau tidak perlu berbohong."

"…" Jungkook hanya diam di kursinya.

Terakhir… Yoongi menatap Taehyung yang tampak seperti melamun.

"… Kaulah yang paling jujur, Taehyung. Dari sikapmu, aku sudah tahu kau membenciku. Untuk itu aku berterima kasih padamu. Kau tidak berpura-pura. Kau tidak repot-repot mengajakku bicara. Aku menghargainya. Dan…" Yoongi terdiam sejenak. "… Yang kau dengar tadi benar. Aku gay."

Mata member yang lain melotot, sementara Taehyung masih terpaku.

Yoongi tertawa keras-keras seperti orang kesetanan. "YA! AKU GAY! KALIAN ADA MASALAH?! KALIAN TAKUT?! KALIAN PIKIR AKU AKAN MEMPERKOSA KALIAN SAAT KALIAN TIDUR?! GAY MENJIJIKAN SEPERTI AKU INI!" Yoongi lambat laun menghentikan tawanya. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

"Aku ingin dekat dengan kalian." Gumamnya. "Aku sampai membunuh diriku yang asli. Diriku yang seenaknya, kasar." Ia menghela napas. "Diriku yang seperti sampah. Aku ingin menjadi Suga yang ceria dan dekat dengan kalian."

Seokjin mengepalkan tangannya. "Yoongi-"

Yoongi tertawa kecil. "Tapi sepertinya sia-sia. Min Yoongi memang sudah mati. Tapi ketakutannya masih ada padaku. Di saat aku ingin berterima kasih, lidahku malah kelu. Di saat diajak berbicara, pikiranku jadi kacau. Aku sampai tidak bisa tersenyum lagi. Aku sampah, sampah, sampah, SAMPAH!" Yoongi mengepalkan tinjunya. "JADI BERHENTILAH MEMBOHONGIKU! F*CK!"

Setelah itu ia langsung berlari keluar dorm. Tak ada yang mencegahnya. Dan dirasanya itu justru bagus.

Yoongi berlari tanpa arah. Jalan di sampingnya dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang.

"F*CK! F*CK! F*CK!" Di sepanjang perjalanannya ia terus memaki sekuat yang ia bisa. Ia tak peduli jika ada yang mendengarnya. "BRENGSEK! KALIAN SEMUA BRENGSEK! SHIT! SHIIITTT!"

MUAK.

Dia benar-benar muak.

Kakinya terus berlari, membawanya ke tempat yang sama sekali tidak ia ketahui –dan tidak ia pedulikan juga.

Ia ingin menghilang.

Biarkan dia menghilang.

Dia tidak sanggup lagi.

Keinginan itu kembali muncul. Ketakutan itu kembali memerangkapnya. Pertanyaan itu kembali muncul.

Apakah jika aku mati, penderitaan ini akan berakhir?

Jantung Yoongi berdetak kencang. Mati… sudah dua tahun sejak percobaan bunuh dirinya yang terakhir. Percobaan bunuh dirinya yang gagal.

Apa kali ini akan berhasil…?

Apa dengan begini Yoongi akan bahagia…?

Yoongi melirik jalan yang dipenuhi mobil dan motor itu. Kakinya belum berhenti. Kakinya tidak mau berhenti.

Apa kali ini akan berhasil…?

"... Ah..."

Yoongi berbelok.

:

:

Para Member masih shock dengan kejadian barusan. Yoongi membentak mereka.

Sambil menangis.

Tidak ada yang bersuara.

Hanya Jimin yang mulai menangis.


:::

Jika kau mempunyai mimpi yang jauh

Gandenglah orang-orang yang akan menemani perjalananmu

Karena mereka akan menjadi teman seumur hidupmu

:::


TBC

Halo, saya kembali lagi!^^

Di Chapter ini saya ingin mengeluarkan sisi gelap Yoongi, jadi maaf jika momentsnya rada-rada yah. Moments akan saya simpan untuk lain kali!XD

Endingnya Yoongi kecelakaan yah~!(minta ditabok) oh ya, yang bagian rap Yoongi pas di taman itu saya karang sendiri, jadi mian kalo gaje!^_^"

Kepada readers yang sudah memberi review, terima kasih banyak! Melihat ada yang menunggu karya saya, saya merasa lebih bersemangat!XD saya akan berusaha lebih keras lagi dalam mengatur tata bahasa saya. Mian acak-acakan!TwT

Semoga readers sekalian bisa merasa senang saat membaca FF saya ini. Karena jujur, saya juga sangat senang saat mengetiknya~! (Walau chapt ini isinya cuma konflik-_-)

Chapt ini wordsnya 3600-an, inspirasi saya lagi mengalir deras, jadilah hal seperti tapi mian kalo alurnya terlihat cepat atau ribet gitu ya. Saya masih pemulaTwT

Terima kasih sudah mau membaca cerita ini! Tolong maklumi kalau saya telat update, saya sedang banyak kegiatan di rumah!^^

Sekali lagi, terima kasih!

-Siwgr3_/13-8-2017/