Uri Sarangseureoun Seoltangie

.

Chapter 3: Monster

.

A BTS Fanfic

.

SUGA!Centric

.

©Siwgr3

.

Cast: BTS, Other

.

Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D

.

Other Cast: BTS Member, Other

.

Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family

.

Rated: T


:::

Terkadang saat kita ingin menghilang dari dunia

Akan ada orang bodoh yang memeluk kita

Membawa kita kembali berwarna

:::


Itu sudah malam sekali, saat member BPB mendatangi RS di pusat kota Seoul. Mereka berlari tanpa memperdulikan teguran suster yang menyuruh mereka berhenti.

Mereka kalut.

Langkah mereka kemudian terhenti di depan ruang UGD. Napas mereka masih memburu, namun pandangan mereka fokus pada pintu yang tertutup.

Manajer hyung menghampiri mereka tak lama kemudian. Menemukan anak-anak asuhnya itu masih membatu di depan pintu.

Tak punya niat untuk duduk sedikitpun.

:

:

Yoongi masih memejamkan matanya. Sekelilingnya terasa dingin dan sunyi. Sunyi sekali, hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Dia masih hidup.

'Gagal lagi…' batin Yoongi. 'Kenapa selalu begini?'

Yoongi tidak mau membuka matanya.

Kalaupun ia membukanya, dia akan sendirian lagi.

Sudah tidak ada lagi.

Sumber kebahagiaannya.

Bahkan mimpinya sama sekali tidak ada.

Mimpi yang selalu ia elu-elukan itu justru membunuhnya perlahan.

Untuk apa mati pelan-pelan dan penuh penderitaan, jika Yoongi bisa menyelesaikannya dalam satu lompatan?

… Yoongi ingin tertidur dalam waktu lama.

Tapi sebuah sentuhan di tangannya membuat napasnya tertahan.

"Mian… hyung… kh… maafkan… kami…"

Park Jimin.

Yoongi bisa merasakan wajah Jimin menyentuh lembut tangannya.

Namja itu menangis.

Selain dia, Yoongi bisa mendengar beberapa isakan pelan.

Tapi Yoongi tidak bisa mengenalinya.

"Ini salahku, hyung…" lirih Jimin, masih terisak. "Mian… hyung… mian…"

"… Berhenti berbohong." gumam Yoongi tanpa membuka matanya.

Pegangan Jimin mengerat. "Y-Yoongi hyung…?!"

Yoongi tidak bersuara lagi.

"… Mungkin dia mengigau, Jimin ah…" suara Seokjin terdengar serak.

"Dokter bilang paling cepat dia akan bangun besok pagi…" Kini Namjoon menyahut. "… Itu katanya dua hari lalu… tapi sampai sekarang Yoongi hyung belum sadar juga…"

"Dia akan bangun… cepat atau lambat." Gumam Hoseok.

Suasana kembali hening.

Namun Jungkook angkat bicara. "Bahkan kita tetap pembohong di mimpinya, huh?"

"… Aku tahu…" bisik Jimin lirih. "… Aku tidak menyalahkannya."

Hening kembali

"Saat aku memanggilnya di taman dulu…" Taehyung terdiam sebentar. "Dia sedang merap."

Tak ada balasan.

Taehyung kemudian melanjutkan "… Dia terdengar sangat keren."

Tawa Hoseok terdengar lirih. "Hyung itu memang selalu keren saat merap."

:

:

-Esoknya…


Aku akan tidur selamanya


Memang begitu tekad Yoongi. Tapi perutnya yang seakan sedang mengadakan konser sedari tadi siang membuatnya terpaksa membuka mata.

Dasar perut sialan.

Saat Yoongi membuka mata, ia menemukan langit-langit kamar rawatnya. Saat ia melirik ke samping ia menemukan hyungnya yang sedang duduk di kursi tepat di samping ranjang rawatnya. Tangannya memegang sebuah apel dan pisau, sementara di pangkuannya ada piring berisi apel yang menunggu untuk dikupas.

"Yoongi." Hyungnya tersenyum. "Apa tidurmu nyenyak?"

Yoongi tidak menjawab. Matanya terpaku pada apel yang sedang dikupas hyungnya.

Perutnya kembali berbunyi.

Tapi hyungnya tetap berlagak mengupas apel tanpa memperdulikan Yoongi. Padahal Yoongi yakin tadi dia mendengar bunyi memalukan dari perut Yoongi.

"Umma dan appa akan sampai sebentar lagi. Tadi keretanya terlambat berangkat." Ucap hyungnya tenang.

'Aku tidak peduli, berikan apel itu!' batin Yoongi menjerit.

Hyungnya menatap Yoongi datar. "Mwo? Apa maumu?"

Yoongi ingin memaki.

"Ah… kau mau ini?" hyungnya mengangkat pisau di tangannya.

"Kau akan memakainya?" Tanya hyungnya lagi. "Untuk bunuh diri lagi?"

"…"

"Silahkan." Hyungnya menyisipkan pisau itu di tangan Yoongi. "Bunuh diri saja. Dengan begitu kau akan bahagia. Lepas dari segala hal yang kau benci di dunia ini."

Yoongi beralih menatap hyungnya.

"Bunuh dirilah. Tidak ada yang bisa membahagiakanmu. Bahkan appa, umma dan aku tidak bisa mencegahmu. Mencegah otak idiotmu." Hyungnya meraih pisau yang ada di tangan Yoongi dan kembali mengupas apel. "Saat kau sudah jadi arwah, kirimkan salamku pada kakek dan nenek. Dan… bisakah kau menyempatkan diri mengunjungi kami sebelum ke surga?"

"…"

"Aku harap kau bisa melihat kami. Melihat appa yang akan terus membenci dirinya seumur hidupnya. Melihat umma yang akan selalu menangis hari demi hari saat teringat padamu. Melihat aku yang akan menyalahkan kebodohanku sampai aku mati nanti."

"…"

"Kuharap kau bisa melihat kami barang sejenak. Setelah itu kau bebas untuk naik ke atas. Meninggalkan kami yang di bawah." Hyungnya meraih salah satu potongan apel dan mendekatkannya ke mulut Yoongi. "Meninggalkan kenangan yang membuat kami teringat padamu, kebahagiaan kami."

Yoongi membuka mulutnya lalu mulai mengunyah. Ia menatap langit-langit kamar.

Hening, hanya sesekali hyungnya itu menyodorkan potongan apel padanya dalam diam.

Yoongi menelan apel yang sudah ia kunyah. Mulutnya kemudian terbuka.

"… Mian…"

Hyungnya menatapnya. Tersenyum simpul.

"Aku tidak ingat punya dongsaeng yang cengeng. Berhentilah menangis, dan jadilah kuat."

:

:

Yoongi memandang datar ummanya yang menangis, sementara sang appa hanya terduduk lemas di sofa sudut kamar rawat. Mereka baru saja tiba dari Daegu.

"DASAR ANAK BODOH! KAU MAU AKU MATI HAH?!" bentak ummanya sambil terus menyeka air matanya kasar membuat Yoongi mengalihkan pandangannya –tak sanggup bertemu mata dengan ummanya. "KAU TERUS-TERUSAN BERUSAHA MEMBUNUH DIRIMU SENDIRI! DASAR ANAK IDIOT!"

Hyung menahannya untuk tidak memukul Yoongi. "Umma, jangan berteriak begitu. Ini rumah sakit…"

"AKU TIDAK PEDULI!" pekik ummanya meledak. "ANAK INI! ANAK- kh… anak ini…" kaki wanita paruh baya itu melemah hingga membuatnya hampir terjatuh jika saja anak tertuanya tidak menahannya. "… Tolonglah…" isaknya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Jangan buat aku menderita, Min Yoongi… apa aku harus menjadi gila, menyakiti diriku sendiri, atau membuat diriku kelaparan, agar kau tidak melakukannya lagi…?"

"…"

"Aku bersungguh-sungguh…" suara wanita itu bergetar. "Aku akan melakukannya… jika itu bisa mencegahmu… bunuh diri…"

"Yeobo…" appanya berdiri dan menghampiri istrinya. "Jangan katakan itu…" lirihnya sambil meremas kedua bahu sang istri. Ia lalu berdiri dan menatap Yoongi lama. Kakinya kemudian melangkah mendekati Yoongi yang masih diam menatap langit-langit kamarnya.

"Min Yoongi." Yoongi perlahan mengalihkan pandangannya pada sang appa. "Aku langsung membenci diriku sendiri saat kau bilang ingin menjadi musisi. Aku merasa gagal menjadi seorang appa. Aku ingin melihat masa depan yang cerah, tapi kau malah berkata begitu, sudah seperti melempar kotoran tepat ke wajahku."

"…"

"Tapi tidak ada yang membuatku lebih membenci diriku sendiri di banding saat ini. Berdiri di samping ranjang rawatmu. Memandang wajahmu. Berpikir apa lain kali kau masih akan membuka matamu. Memikirkan itu membuatku ketakutan."

Yoongi hanya diam, memandang appanya yang mulai menangis.

"Jadi terserah… kau mau jadi musisi… rapper… bahkan anggota boyband sekalipun… dan terserah padamu jika kau mau jadi gay yang gila seks atau semacamnya… lakukan sesukamu… apapun… tapi jangan pernah begini lagi…" lirihnya. "Apapun yang terjadi, jangan begini lagi…"

"… Appa…"

"Kalau aku melihatmu seperti ini lagi, aku bersumpah akan mengikatmu di dalam rumah agar kau tidak bisa bergerak lagi! Dasar anak bodoh!"

Yoongi menangis.

Tapi senyum lebar itu masih terpatri di wajahnya.


:::

Aku pikir bisa mendapatkan kebahagiaan dengan cara ini

Aku bodoh

Aku tidak tahu

Bahwa aku akan meninggalkan luka di bawah sana

Pada orang-orang yang menjadikanku kebahagiaan mereka

:::


Hari sudah malam. Appa dan umma Yoongi telah kembali ke Daegu setelah Yoongi meyakinkan mereka dia sudah baik-baik saja. Bagaimanapun appanya punya pekerjaan di sana. Yoongi melirik jam dinding. Sudah jam 7 malam.

Yoongi belum bisa bergerak, sekujur tubuhnya masih sakit. Tapi ia bisa menggerakan kepalanya ke samping –walau itu tidak terlalu berguna.

"Hyung aku lapar. Suapi aku." Perintahnya kurang ajar.

Hyungnya memutar matanya jengah. "Yaya. Dasar dongsaeng tidak sopan." Ia baru saja akan meraih mangkuk bubur, saat ia mendengar ketukan di pintu kamar. Ia mengernyit, bertanya-tanya siapa yang datang. Tapi ekspresinya berubah saat pintu kamar terbuka. "Ah, selamat datang."

Yoongi menaikkan sebelah alisnya lalu ikut menatap ke arah pintu yang terletak di sudut.

Ekspresinya berubah tegang saat melihat Namjoon muncul. Member lain ada di belakangnya, mengekori Namjoon masuk.

"Yoongi sudah bangun, walau belum bisa bergerak sih." Hyungnya tersenyum tak memperdulikan adiknya yang melotot ke arahnya. "Kalian darimana?"

Namjoon menggaruk tengkuknya. "Ah, tadi kami ada schedule manggung… apa waktu kami tidak tepat…?"

"Kalian datang tepat waktu. Aku ada sedikit urusan, jadi bisakah kalian menjaga Yoongi sebentar?"

'NO NO NO! HYUNG! KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI PADAKU!' Yoongi menjerit panik dalam hati.

Para member mengangguk.

"Ah, dan bisa kalian suapi dia? Dia merengek padaku untuk menyuapinya. Benar-benar seperti bayi." Hyungnya tertawa lalu langsung melenggang pergi dari situ.

Yoongi benar-benar ingin melompat ke sana dan menghajar hyungnya yang kurang ajar itu –jikasaja tubuhnya bisa digerakkan.

Jungkook tanpa disuruh mengambil mangkuk lalu mendekati Yoongi. Member lain mengikutinya dari belakang, lalu mengelilingi tempat tidur Yoongi. Jungkook duduk di kursi lalu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Yoongi. Ia menyendok bubur dan mengarahkannya pada Yoongi.

Yoongi menutup mulutnya rapat-rapat.

Jungkook menatapnya jengah. Tanpa perasaan ia langsung mendorong masuk sendok itu ke dalam mulut Yoongi –berbuah "YAK! JEON JUNGKOOK!" dari Seokjin dan tatapan horor oleh member lain.

Jungkook tidak peduli walau Yoongi sudah melihatnya seperti akan membunuhnya sebentar lagi. "Kau lapar 'kan hyung? Jadi berhentilah sok tsundere, dan mulailah mengunyah."

Dasar magnae tidak sopan.

Yoongi ingin memuntahkan bubur itu, tapi dia ingat lagi prinsip hidupnya.

Jangan membuang-buang makanan.

Dengan terpaksa Yoongi mulai mengunyah pelan, lalu menelannya.

Jungkook memandangnya setelah sekali lagi memasukkan paksa sesendok bubur ke dalam mulut Yoongi. "Kau tahu, hyung…"

Yoongi meliriknya, masih mengunyah.

"Aku tidak pernah berbohong." Jungkook menatapnya lurus. "Aku tidak membencimu."

Yoongi tersedak.

Hoseok terbelalak. Ia buru-buru meraih air mineral yang sudah diberi sedotan. "M-minum dulu hyung!"

Yoongi segera mematuhi perintah Hoseok. Ia lalu mengirim deathglare ke arah Jungkook. Kenapa Jungkook mendadak membahas hal itu?!

'Hell, magnae itu mau aku mati yah?!'

"Kau mengerti hyung?" Yoongi yang tadinya sudah siap membentak Jungkook, langsung terdiam. Jungkook tersenyum padanya. "Aku tidak pernah membencimu. Tidak sekalipun."

Yoongi terdiam.

"Aku memang jarang bicara padamu. Lebih sering melihat ponselku. Tapi kau tetap memberku. Hyungku. Keluargaku." Jungkook kembali menyendok bubur. "Apa kau tahu, hyung…? Aku orang yang pemalu. Bahkan aku tidak memiliki teman di sekolahku." Ia diam sejenak. "Jadi kalian, memberku sekaligus hyungku, adalah orang-orang terdekatku. Dan aku bahagia karena itu."

"… Tapi aku minta maaf, hyung. Aku sudah membuatmu salah paham. Aku tidak peduli jika kau membenciku. Aku menyayangimu, hyung."

Yoongi tetap diam.

"Ne, hyung… aku juga minta maaf…" Hoseok memulai. "Bukan berarti aku suka tersenyum palsu padamu. Aku hanya tidak tahu harus merespon bagaimana. Kau tahu 'kan hyung, sifat kita bertolak belakang. Kadang aku melihatmu melotot ke arahku. Aku langsung merasa takut dan bingung memikirkan alasanmu melotot padaku. Dan karena kau hanya diam saja, kusimpulkan kau tidak menyukaiku karena aku berisik atau semacamnya. Walau begitu aku tidak mau membuatmu tersinggung, jadi aku tersenyum." Hoseok menatap Yoongi serius. "Aku tahu aku memang munafik padamu. Tapi kuharap kau mau memaafkanku hyung. Kau tetaplah member yang kuhormati. Mian hyung… aku benci melihatmu menangis… jadi tolong jangan menangis lagi."

"…"

"Aku juga menyayangimu…" Hoseok tersenyum.

Yoongi masih diam. Mulutnya senantiasa mengunyah bubur suapan Jungkook.

"Hyung…" lirih Jimin. Yoongi menatapnya. Kedua mata namja itu bengkak. Sepertinya dia banyak menangis. "M-maafkan aku… a-aku hanya… tidak suka melihat kau diam sepanjang waktu aku bicara denganmu… aku menceritakan banyak hal tentangku padamu… tapi kau tak pernah sekalipun menceritakan hidupmu padaku… hanya membalas seadanya… bersikap dingin padaku… membuatku berpikir… apa yang salah denganku…? Apa aku terlalu cerewet? Apa aku menyebalkan? … Aku terus memikirkannya."

"Seringkali aku merasa kesal saat bicara denganmu. Kau tak pernah menatap mataku. Itu membuatku marah. Membuatku merasa tidak dihargai. Apalagi saat aku membangunkanmu waktu itu, kau malah memakiku. Kau membuatku membencimu hyung." Suara namja berbibir tebal itu bergetar. "Tapi saat… mendengarmu bicara malam itu… aku… langsung membenci diriku sendiri… aku bodoh… tidak mau memperdulikan perasaanmu… padahal sifatmu berbeda dariku… apalagi… kau sudah melewati banyak masalah… tapi aku malah… membencimu… aku bodoh hyung…"

Ia kembali menangis.

"Jadi maafkan aku… hyung… kh… maaf…" ia menyeka air matanya kasar, tapi tangisannya malah semakin keras. "Jangan buat aku semakin membenci diriku, hyung… kh… aku menyayangimu… sungguh… jadi tolong… jangan pernah lakukan ini lagi…!"

Yoongi memandangnya datar.

Seokjin meremas bahu Jimin. "… Aku juga mau minta maaf, Yoongi ah."

Yoongi menatapnya.

"Aku yang paling tua di sini, jadi aku selalu berpikir… apa yang harus kulakukan agar bisa akrab dengan kalian semua. Jadi aku berusaha bersikap ceria dan lucu, agar kalian bisa merasa nyaman denganku…" ia tersenyum tipis. "Hanya kau yang masih bersikap dingin padaku. Itu membuatku kebingungan. Dan… saat debut stage kita waktu itu, aku melihat wajahmu memucat, dan itu membuatku cemas… saat aku memanggilmu, kau terkejut. Aku masih mengingat jelas wajahmu saat itu."

"Aku memang merasa kesal dengan sikapmu. Tapi sekali lagi, aku teringat akan wajahmu. Penuh ketakutan dan kesedihan. Wajahmu waktu itu membuatku yakin, kau pasti punya alasan bersikap begitu." Seokjin berlutut di samping ranjang Yoongi. Menatapnya dengan senyuman yang hangat. "Saat itulah aku berpikir… aku ingin lebih dekat dengan roommate ku. Aku ingin bisa berbincang dengannya di malam hari. Mendengar keluh kesahnya. Menjadi sandarannya."

"… Aku yang paling tua, Yoongi ah… jadi kau adalah adikku juga. Aku menyayangi kalian semua. Tanpa terkecuali."

Yoongi masih diam. Ia beralih menatap langit-langit.

"Hyung…" panggilan Namjoon membuat Yoongi meliriknya. "Maafkan aku."

Yoongi kembali mengalihkan pandangan.

"Kau benar… padahal aku leader… tapi aku malah lembek begini… aku hanya tidak ingin menyinggungmu, hyung… aku sangat menghormatimu. Sungguh. Jadi aku takut akan membuatmu marah padaku, hyung… aku selalu berpikir, jika grup ini bubar, maka itu semua adalah salahku. Aku yang melakukan hal bodoh. Aku yang tidak bisa menjaga kalian. Aku yang menghancurkan grup ini. Dengan kebodohan dan keburukanku."

"… Tapi hyung…" Namjoon tersenyum. "… Grup ini adalah segalanya bagiku. aku bersungguh-sungguh. Kalian semua adalah keluarga yang penting bagiku. termasuk kau, hyung… aku benar-benar menganggapmu sebagai hyungku sendiri."

"… Bodohnya… aku malah membuatmu marah, hyung…" Namjoon menunduk sambil terkekeh. "Aku benar-benar leader yang payah…"

"Aniya."

Namjoon mengangkat kepalanya, terkejut.

Yoongi menatapnya.

"Kau leader terhebat yang bisa kumiliki. Kau adalah inspirasiku, Namjoon ah. Rapmu membuatku kembali mengingat mimpiku. Rapmu membuatku ingin memperjuangkan segalanya. Kau orang baik, Namjoon ah. Yang buruk di sini Cuma aku."

Namjoon hendak menyela, namun Yoongi memotongnya.

"Kalian semua di ruangan ini adalah orang baik. Akulah masalahnya." Yoongi menatap Seokjin. "Kau adalah hyung terbaik yang mereka miliki. Kau tulus menyayangi mereka. Selalu mengurus mereka dengan baik. Dan masakanmu enak sekali."

Yoongi lalu menatap Jimin. "Jadi tolong jaga anak itu. Anak yang baik. Sangat baik. Kau tak akan pernah menemui orang sebaik dia lagi. Saat yang lain menghindariku, dia malah ngotot mengajakku bicara. Padahal aku orang yang membosankan."

Yoongi menatap Hoseok. "Dan urus anak ini. Dia benar-benar orang yang penuh kebahagiaan. Bersama dengannya akan membuatmu merasa senang. Bahkan hanya dengan melihat tawanya dari jauh sudah membuatku merasa ingin tersenyum juga. Anak yang penuh kasih sayang."

"… Lalu bocah itu." Yoongi menatap Jungkook bosan. "Magnae kurang ajar yang bisa segalanya. Terlihat cuek dan sombong. Tapi anak yang baik –seperti katanya tadi, seorang pemalu. Magnae yang selalu membuatku ingin memeluknya. Magnae yang membuatku berbohong kalau aku membencinya." Yoongi diam sejenak. "Magnae yang bisa membuatku… merasa ingin bersama dengannya dan melindunginya."

Terakhir…

Taehyung.

Yoongi menatap Taehyung. Dan untuk pertama kalinya, Taehyung balas menatapnya. Mereka diam sejenak, namun Yoongi membuka suara.

"Si Senyum jelek."

Taehyung menggigit bibirnya.

"Yang langsung percaya dengan apa yang kukatakan." Tatapan Yoongi melembut. "Si tampan yang dengan bodohnya percaya saja saat kubilang jelek."

Mata Taehyung membulat.

"… Kau selalu tampan, Taehyung ah. Bahkan melihat tawamu dari jauh saja, aku sudah tahu. Aku hanya berbohong waktu itu. Aku kesal melihatmu langsung menunduk saat aku ada di dekatmu. Waktu itu saja kau langsung mematikan televisi dan masuk ke kamarmu. Hal itu membuatku sangat marah, hingga kalimat itu keluar."

Kedua sudut bibir Yoongi perlahan terangkat. "… Aku paling suka melihat senyummu, Taehyung ah."

Namja dingin itu tersenyum.

Seketika suasana langsung hening.

Semua member menatap Yoongi seakan-akan melihat hantu.

Namjoon tak percaya dengan matanya sendiri. Secara otomatis, memorinya kembali memutar kejadian tempo hari.


FLASHBACK: ON


Malam itu Bang Si-Hyuk memanggil Namjoon ke kantornya. Namjoon datang bersama Jimin dan Hoseok yang memaksa untuk ikut.

Bang Si-hyuk berdehem. "Jadi kalian akan debut sebulan lagi. Aku sudah memikirkan nickname beberapa member. Tugasmu, Namjoon ah, beritahukan anak-anak itu soal nickname mereka. Kau leader mereka 'kan?"

Namjoon mengangguk. "Ne, hyungnim."

"Jja, Taehyung akan menjadi V."

Jimin berusaha menahan tawanya.

Dan sepertinya Bang PD menyadarinya. Ia memicingkan matanya. "Wae? Itu nama yang keren!"

Hoseok membekap mulut Jimin sambil mengangguk-angguk. "Ne, ne! keren kok, Hyungnim! Jangan pikirkan Jimin!"

Bang PD tampak sewot. "Hmph, aku akan melepaskanmu kali ini." Ia kembali berdehem. "Seokjin akan menjadi Jin. Hoseok, kau akan jadi J-Hope."

Hoseok melongo, sementara Jimin mulai cekikikan, tak mampu menahan tawanya.

Kali ini sang founder cuek. "Namjoon, namamu akan jadi Rapmonster!" Namjoon hanya mengangguk saja biar urusan cepat selesai. Lagipula namanya tidak buruk, terdengar keren.

"Dan Yoongi akan menjadi Suga."

"SUGA?! MAKSUDNYA SUGA GULA?!" pekik Hoseok dan Jimin bersamaan, tak percaya. "Kenapa Suga?" Tanya Namjoon heran.

"Coba tebak!"

Sekarang Bang PD mau main tebak-tebakan?

'Merepotkan.' Batin mereka bertiga.

"Uhh… karena Yoongi hyung putih?" tebak Hoseok dan disambut "Ohh!"-nya Jimin. Terdengar masuk akal.

Tapi Bang PD menggeleng. Mereka kembali diam.

"… Uhh…"

Hening… tak ada yang bisa menjawab.

Akhirnya Bang PD memberitahu mereka.

Wajah Bang Si-hyuk mendadak serius. "… Kalian pernah melihatnya tersenyum lebar…? Atau tertawa?"

Ketiga member itu menggeleng. Senyum maksimal yang pernah mereka lihat hanya kedua sudut bibir Yoongi yang terangkat satu senti.

Bang Si-hyuk menghela napas berat. "Aku pernah melihatnya sekali. Saat itu aku mengatakan lelucon aneh soal boneka beruang kumamon milik keponakanku" Ia memandang ketiga anak buahnya itu serius. "Yoongi malah tertawa keras sekali –padahal menurutku leluconku sama sekali tidak lucu. Ia juga tersenyum sangat lebar."

Alis Hoseok dan Jimin bertaut. "Lalu? Apa hubungannya?"

"… Senyumnya sangat manis…"

"HAH?!"

"Kalian tidak percaya?" Bang Si-hyuk mendengus. "Kalian akan tahu saat melihatnya."


FLASHBACK: OFF


Sepertinya Namjoon mulai paham kenapa Yoongi dijuluki Suga. Ia melirik Hoseok dan Jimin yang sudah melotot.

Hening

Yoongi yang merasa risih dipelototi, menggeram. "Kenapa kalian?!"

Member lain segera tersadar. Beberapa berdehem, yang lain menggaruk tengkuknya.

Yoongi memutar matanya. Ia melirik mangkuk yang dipegang Jungkook. Buburnya sudah habis.

"Oke, aku sudah selesai makan. Silahkan pergi." Yoongi memejamkan matanya. "Aku akan keluar dari BPB."

Semua sontak terkejut.

"Mwo?! Wae?!" pekik Jimin dan Seokjin bersamaan tidak terima.

"Huh? Kenapa bertanya? Tentu saja karena aku sudah selesai dengan kalian." Gumam Yoongi tanpa membuka matanya. "Sudah kubilang, yang salah di sini adalah aku. Aku memang tidak cocok jadi member boyband. Aku sudah salah dari awal. Jadi aku akan keluar. Jangan pasang muka begitu. Tanpa akupun, kalian akan tetap sukses kok. Aku masih akan bekerja di Bighit. Mungkin sebagai produser atau sejenisnya. Entahlah. Kita lihat saja nanti."

"Aniya! Jangan begitu hyung!" Hoseok menggeleng panik. Setengah dirinya meyakinkan Yoongi hanya bercanda. Tapi separuh lagi mengingat Yoongi bukan orang yang suka bercanda. Dan pikiran-pikiran itu membuat Hoseok semakin panik.

"Hyung, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi BPB tidak akan sama lagi tanpa hyung!" Namjoon membuka suara. "Kau penting bagi kami, hyung!"

Jimin mulai menangis. "Hyuuuunggggg… pleaseeee…"

Yoongi masih diam. Tak mau membuka mata.

"Apa kau takut hyung?" ucapan Jungkook membuat member yang lain terdiam. "Kau takut akan membuat kami membencimu jika tetap di BPB? Kau takut kami akan membenci dirimu yang asli? Lalu meninggalkanmu?"

Yoongi menggigit bibir bawahnya. Masih menolak untuk membuka mata.

"Kami akan lebih senang jika kau mau menjadi dirimu sendiri hyung." Jungkook tersenyum. Tangannya terulur mengusap sisa bubur di sudut bibir Yoongi. "Kita keluarga 'kan, hyung?"

"Apa kalian bodoh?" desis Yoongi sambil menepis tangan Jungkook. "Aku gay. Homo. Kalian tidak takut aku akan menyukai kalian atau semacamnya? Kalian tidak jijik padaku, hah?!"

Suasana hening.

Yoongi tak bisa melihat ekspresi membernya –dan dia juga tidak mau melihat mereka. Dia tidak mau membuka mata. Dia tidak mau melihat ekspresi jijik. Ekspresi sadar. Ekspresi mereka menyetujui kata-katanya.

Selesai sudah.

"Aku…" Yoongi menahan napasnya saat mendengar suara dalam Taehyung. "Aku ingin bersama denganmu, hyung."

Dan begitu saja. Dalam keheningan yang lama, pertahanan Yoongi runtuh.

Mereka melihat member tertua kedua mereka itu menangis. Tapi hati mereka tenang, karena mereka tahu itu adalah air mata kebahagiaan.

Hoseok langsung menyeletuk secara otomatis (tanpa dipikir lagi). "Hyung, sudah kubilang aku benci melihatmu menangis. Kau terlihat jelek."

Semua member sontak menoleh ke arah Hoseok, melongo dengan ucapannya. Hoseok sendiri melotot –tak percaya kata-kata itu baru keluar dari mulutnya. Ia menatap Yoongi horor, menunggu sang hyung memakinya dan berkemungkinan besar menendangnya karena sudah kurang ajar.

Yoongi diam sejenak, namun sejurus kemudian dia perlahan tapi pasti mulai tertawa lepas.

Member yang lain hanya memandanginya. Tak berkata apapun. Hanya ingin mengagumi pemandangan di depan mereka.

Senyum Suga yang begitu manis ini.

Sepertinya mereka harus berterima kasih pada Hoseok nanti karena sudah membuat Yoongi tertawa.


:::

Monster itu memekik

Menjerit

Tertatih menghindar

Tapi tetap kena

Kalian membunuhnya

Dan untuk itu aku berterima kasih

:::


TBC

Halo, saya kembali lagi.^^ maaf lama, saya ada banyak sekali pekerjaan di rumah. Terima kasih atas kesabarannya.^^

Sebenarnya saya pengen memperpanjang konflik, tapi hati tak rela. Saya pengen cepat-cepat ngetik yang manis-manisXD jadilah hal di atas, mian kalau ribet gaje atau amburadul ya kata-katanya.

Chapter depan udah mulai moments. Tangan saya benar-benar gatal pengen ngetikXD

Terima kasih buat yang sudah membaca dan mereview karya saya ini, saya jadi tambah semangat ngetiknya pas tahu ada banyak Yoong!Uke shipperXD

Chapt depan mungkin saya tidak bisa uplat lagi, mohon bersabar!^^

Sekali lagi, terima kasih!

-Siwgr3_/21-8-2017/