Uri Sarangseureoun Seoltangie
.
Chapter 4: Members
.
A BTS Fanfic
.
SUGA!Centric
.
©Siwgr3
.
Cast: BTS, Other
.
Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D
.
Other Cast: BTS Member, Other
.
Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga
.
Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family
.
Rated: T
Hari sangat cerah dan hangat ketika Yoongi membuka matanya. Maniknya melirik jam, masih jam delapan pagi. Dia bisa melakukan banyak hal hari ini.
Menulis lirik, tidur, makan, minum, tidur, buang air, nonton tv, tidur, tidur, tidur.
Sangat banyak.
Benar-benar hari minggu yang indah.
Tapi baru saja Yoongi hendak memulai hari damainya itu, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Dan yang dia lihat selanjutnya membuat semua rencana yang sudah dia susun rapi di otaknya hancur berantakan.
Dia memandang wajah namja di depannya dengan bosan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Jeon?"
Magnaenya itu hanya berujar dengan ringannya. "Hari ini aku bertugas merawatmu, hyung."
NO NO NO
Seakan bisa membaca pikiran Yoongi, Jungkook hanya memberi seringainya. "Kau tak bisa menolak hyung."
Yoongi mencibir kesal lalu memperhatikan Jungkook yang mengambil tempat duduk di sampingnya.
Mereka saling berpandangan selama beberapa detik sebelum Yoongi mengalihkan pandangannya. Cemberut.
Kembali hening.
Yoongi melirik si magnae, dan langsung mengumpat dalam hati saat bertemu mata dengan Jungkook. "K-kenapa kau memandangiku seperti itu, hah?!" bentak Yoongi salting.
"Aku ingin melihat senyummu, hyung." Magnae mereka memang terkenal to the point.
Yoongi sampai tersedak dibuatnya. "H-hah?! Kenapa kau mau melihat senyumku?!"
Jungkook mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku hanya penasaran dan takjub. Bagaimana bisa wajah yang dingin dan suka cemberut ini…" Jungkook menyentuh lembut pipi Yoongi. "Tersenyum semanis itu…?"
Yoongi menggeram kesal. "Siapa yang kau panggil manis, hah?!" desisnya sambil menepis tangan Jungkook.
"Kau, hyung."
Yoongi benar-benar merasa geli dengan percakapan ini. Rasanya seperti Jungkook sedang menggombalinya.
Heck no
"Argh! Hentikan pembicaraan ini!" Yoongi meraih remot tv kemudian menyalakannya. "Ada yang mau kau tonton, magnae? Bagaimana kalau kuputarkan Thomas and friends untukmu?" tanyanya dengan nada mengejek.
Saat sedang panik dan gugup mulut Yoongi memang tidak bisa dikontrol.
Jungkook memutar matanya jengah. "Tidak ada yang ingin kutonton sekarang. Tapi jika kau memaksa…" dia menyeringai. "Aku ingin menonton senyummu, hyung."
Yoongi melotot.
"SEOKJIN HYUUUUNGGG!"
:
:
Film komedi sedang terputar di televisi. Dan ingin rasanya Yoongi tertawa sekuat-kuatnya melihat humor-humor bodoh yang tersaji di depannya.
Kalau saja Jungkook tidak terus memandangnya seakan-akan sedang mengawasi kelinci percobaannya.
"Berhenti memandangku!" marah Yoongi akhirnya. Tidak tahan lagi. Tidak bisakah dia menonton tv dengan damai?!
Jungkook memasang muka tidak berdosanya. "'Kan kau sendiri yang bilang hyung! Kau benci saat aku cuek padamu, jadi sekarang aku memperhatikanmu. Tapi kenapa kau malah marah, huh?"
Sepertinya magnaenya ini sedang menggodanya.
"Maksudku tidak sampai seperti ini juga! Yang seperti biasa saja! Kau hanya perlu melihatku kalau kita bicara!"
"Shirreo~!" Jungkook tersenyum nakal. Dia bertopang dagu, masih menatap lurus ke arah Yoongi. "Aku mau melihatmu terus menerus, hyung~!"
Memang magnae kurang ajar.
"Ish, kau menyebalkan!" desis Yoongi. Tapi akhirnya dia pasrah dan kembali memfokuskan matanya ke layar televisi –berusaha keras mengabaikan Jungkook. Yoongi menonton dengan serius. Dan tanpa sengaja tertawa saat melihat lelucon bodoh di televisi.
Jungkook benar-benar bingung dengan selera humor hyungnya ini.
Ya sudahlah, Yoongi bisa punya selera humor super aneh jika itu berarti Jungkook bisa sering-sering melihat tawanya.
Entah kenapa melihat tawa Yoongi membuat wajah Jungkook menghangat.
Entah, seperti seorang ayah yang merasa sayang kepada anaknya?
Yoongi meliriknya. "Kenapa mukamu merah begitu, hah?"
Jungkook mengernyit. "Mukaku merah?"
Yoongi mengangguk. "Kau demam?"
Jungkook menggeleng. "Ani. Hanya perasaanmu saja."
Yoongi mendelik. Setelah menatap Jungkook beberapa detik, ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah tv. Kembali konsentrasi menonton.
Jungkook tersenyum melihat hyungnya yang kembali tertawa riang.
Oh. Lihat hyungnya ini. Yoongi mulai tertawa tanpa kendali dan berujung pada tersedaknya dia.
Jungkook sontak memberi tepukan kecil di punggung Yoongi saat dia terbatuk. "Makanya ketawanya jangan lebay, hyung."
Yoongi mengirim deathglarenya. "Berisik."
Beberapa saat kemudian pintu kamar rawat Yoongi terbuka. Seorang perawat masuk membawa nampan berisi makanan.
"Ah gomawo. Biar saya urus selanjutnya." Jungkook mengambil nampan itu tanpa menatap ke arah perawat itu. Yoongi mengernyit heran melihat tingkah magnaenya ini.
Setelah perawat itu pergi, Yoongi tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Kenapa kau?"
"Apanya?" Tanya Jungkook datar sambil membuka plastik tipis yang menutup mangkuk bubur.
"Sikapmu aneh." Ujar Yoongi. "Kau tidak melihat ke arah yeoja tadi. Itu tidak sopan tahu."
Jungkook memutar matanya. "Aku tidak terlalu suka bicara dengan yeoja."
Yoongi semakin mengernyit. "Kau gay?"
Jungkook mendesis. "Bukan, aku hanya pemalu. Aku sudah memberitahumu itu."
Yoongi manggut-manggut. Begitu rupanya. "Eh, siapa bilang kau bisa menyuapku?!" cegah Yoongi saat melihat Jungkook sudah menyendok buburnya.
"Aku." Jawab Jungkook pendek dan tanpa ba-bi-bu langsung memasukkan secara paksa sesendok bubur ke dalam mulut Yoongi.
"YAK!"
Jungkook hanya memberi cengirannya. Tak merasa bersalah sama sekali.
-Esoknya…
Pagi yang cerah.
Yoongi yang tadinya ingin menjalankan rencananya yang kemarin digagalkan Jungkook, harus menelan keinginannya itu bulat-bulat.
Namja itu berdiri di sana, di depan ranjang rawat Yoongi, cengar-cengir tidak jelas.
"Pulang kau."
Dia terkejut. "Wae hyung?! Padahal aku sudah susah payah membujuk manager hyung untuk mengijinkanku merawatmu hari ini!"
Yoongi mendesis. "Kemarin Jungkook! Sekarang kau! Kalian pikir aku bayi?! Aku bisa mengurus diriku sendiri!"
Dia mendekat lalu duduk di kursi samping ranjang Yoongi. Tanpa belas kasihan dia menepuk tangan Yoongi yang diperban –tidak terlalu keras.
Hal itu tentu berbuah pekikan Yoongi.
"YAK PARK JIMIN!"
"Kau masih mengaduh sakit begitu hyung, kau kira kau bisa mengurus dirimu sendiri?" Jimin mencibir kurang ajar.
Kamar itu seketika dipenuhi makian dan sumpah serapah.
Tapi Jimin hanya duduk di sana, nyengir, menikmati kemarahan Yoongi.
:
:
"Hyung!"
Yoongi yang sedang mengunyah buburnya melirik Jimin. "Mwo?" sahutnya setelah menelan buburnya.
Jimin kembali menyodorkan sesendok bubur ke arah Yoongi. "Ceritakan soal dirimu padaku!"
Yoongi melahap bubur pemberian Jimin, mengernyit. "Hah? Apanya?" tanyanya setengah mengunyah.
"Apa saja! Ceritakan kisahmu padaku!"
Yoongi memutar matanya jengah. Apa-apaan anak ini. Ingin Yoongi menolak, tapi melihat kedua manik berbinar Jimin, dia jadi tak tega.
Yoongi tersenyum dalam hati. Rasanya tak ada salahnya dia bersikap ramah pada Jimin. Anak ini memang anak yang baik. Yoongi tak mau membuatnya salah paham lagi.
"Kalau begitu…" Yoongi menelan kunyahannya. "Tanyakan padaku apa yang ingin kau ketahui. Aku akan menjawabnya."
Jimin berbinar. "Jinjja?!"
Yoongi mengangguk –pura-pura tak peduli.
"Uhh, kalau begituuu…" Jimin cengar-cengir, tampak sangat gembira. "Warna kesukaanmu apa, hyung?"
"Putih." Jawab Yoongi pendek.
Jimin terbelalak. "Sungguh?! kukira hyung akan suka warna hitam atau merah…"
Yoongi mendelik. "Kau punya masalah dengan itu?"
Jimin nyengir. "Aniya hyung~!" dia kembali menyendok bubur. "Kalau hobimu, hyung?"
"Tidur."
Jimin merengut. "Cuma itu?"
Yoongi tetap dengan wajah -sok- tak pedulinya. "Memang Cuma itu."
"Membuat lagu?"
"Itu pekerjaanku."
"Kau tidak menyukainya?"
"Siapa bilang? Aku mencintai pekerjaanku." Jawab Yoongi tenang sambil mengunyah.
"Apa yang paling kau sukai dari pekerjaanmu?" wawancara Jimin lagi.
"Saat namaku ada di daftar pembuat lagu BPB."
"Kenapa?" Tanya Jimin sambil tersenyum. "Karena kau mencintai BPB?" harapnya.
"Aniya, karena artinya royalty untukku akan bertambah." Jawab Yoongi masih dengan muka datar.
Jimin merengut. Jawaban macam apa itu. Tak ada romantis-romantisnya sama sekali!
Yoongi diam sejenak, sampai tawanya meledak. Membuat Jimin terperanjat kaget.
"K-kau bercanda ya hyung?" Tanya Jimin, tersenyum risih.
Yoongi menghentikan tawanya. Dia kemudian menatap Jimin serius. "Aniya, aku serius."
Jimin tersedak.
"Tapi alasannya bukan itu saja." Yoongi tersenyum simpul. "Karena musik adalah segalanya bagiku. aku mencintai pekerjaanku karena aku bisa membuat banyak lagu."
Jimin manggut-manggut.
"Ah hyung, kau punya rencana liburan impian tidak?" Jimin mendadak antusias.
Yoongi mengangguk. "Heung. Rencananya 70% tidur, 30% bergerak untuk bertahan hidup."
Jimin cemberut. "Liburan macam apa itu, hyung?!" keluhnya sewot.
Yoongi mendengus. "Suka-suka aku dong! Itu 'kan rencanaku!" ujarnya ikutan sewot.
Jimin menggeleng, tak percaya dengan hyungnya ini. "Ne, ne, aku paham hyung." Dia kembali berbinar. "Bagaimana kalau nanti kita liburan berdua saja, hyung~?"
"No thanks."
Jimin kembali cemberut. "Wae?"
"Kau pasti akan aktif sekali, mau kemana-mana. Sementara aku hanya akan tidur di hotel." Jelas Yoongi enteng.
Yah, ada benarnya juga sih.
"Tapi aku pasti akan liburan denganmu, hyung! Walau aku harus menyeretmu dari tempat tidurmu!" ngotot Jimin, dan hanya dibalas dengusan oleh Yoongi.
"Hyung, kau pernah pacaran?"
Gerakan Yoongi terhenti sejenak. "… Ani."
Jimin menunduk, sepertinya dia membahas sesuatu yang sensitif. "Ah, mian hyu-"
"Aku hanya pernah menyukai seseorang." Yoongi menatap langit-langit. Tampak bernostalgia. "… Tapi orang itu tidak menyukaiku."
Jimin memandangnya. Yoongi tampak sedih.
"Dia bukan gay sepertiku." Yoongi tersenyum tipis. "Aku menjijikan… katanya."
"…"
"Aku dulu dewan kedisiplinan di sekolahku… makanya banyak yang tidak menyukaiku." Pandangan Yoongi menerawang. "Saat seisi sekolah tahu kalau aku gay, mereka semakin membenciku."
"… Hyung…"
"Aku dibully terus menerus, hingga aku lulus. Sejak itu aku sudah tidak pernah bertemu mereka lagi. Juga orang yang kusukai itu." Yoongi terkekeh. "Aku jadi takut jatuh cinta."
"Hyuuung~…" Jimin yang sudah banjir air mata, berdiri hendak memeluk Yoongi, tapi Yoongi buru-buru mengangkat tangannya.
"Mundur."
Jimin mempoutkan bibirnya, kembali duduk tapi masih menangis.
Yoongi menatap Jimin yang menyeka air matanya kasar.
"Yah, Park Jimin."
Jimin mendongak.
Yoongi tersenyum manis sambil menepuk kepala Jimin lembut. "Gomawo."
Jimin terperangah. Dia lalu tersenyum lebar, merasa dadanya menghangat. "Ne…"
Yoongi mengernyit. "Apa kau demam?"
"Huh?"
"Mukamu merah."
Jimin mengernyit. "Ani…? Eh, entah, aku tidak tahu."
"Kemarin Jungkook juga begitu… apa kalian tertular penyakitku…?" Yoongi memicingkan matanya. "Tapi perasaan aku tidak demam deh…"
Jimin mengedikkan bahu. "Oh ya hyung! Kalau begitu, tipe kesukaanmu seperti apa?" Tanya Jimin antusias.
Pandangan Yoongi menerawang kembali. "Hngg… orang yang suka hiphop, suka musik, dan memiliki sifat yang cocok denganku."
Jimin manggut-manggut.
Hening
"Hyung?"
Yoongi menggumam.
"Boleh aku memelukmu?"
"… Hng…"
-Esoknya…
Oh Tuhan, jinjja…
"AKU BUKAN BAYI!" pekik Yoongi kesal.
Hoseok menggaruk tengkuknya. "Tapi hyung~… kami 'kan ingin merawatmu~…"
Yoongi ngedumel.
Hoseok memberanikan diri duduk dikursi samping ranjang Yoongi. "Hyung tidak suka aku di sini?" Hoseok memasang wajah sedihnya.
Yoongi tersentak. Wajahnya seketika memerah. "Ugh… maksudku bukan begitu…!" cicitnya sambil membuang muka. "A-aku hanya…"
Hoseok memandangnya heran. "Hyung, kau tidak bisa jujur ya?"
"M-mwo?!"
"Kau senang kami mengunjungimu 'kan?" Hoseok menyeringai. "Tak perlu malu-malu begitu hyungie~!"
Yoongi menggeram dan langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Sekentara itukah?
Yoongi memang senang mereka mengunjunginya. Tapi Yoongi dengan sikap tsunderenya, berusaha mati-matian memasang wajah tak peduli.
Dia bisa mendengar Hoseok tertawa.
"B-berisik!"
Hoseok masih nyengir. "Hyuuung~! Ayolah~! Aku tidak bisa melihat wajahmu~!" dia berusaha menyibak selimut Yoongi, tapi dilawan.
"Aniya!"
Yoongi membuka sedikit selimutnya hingga sebatas dagu lalu menarik selimutnya dengan kuat, membuat Hoseok kehilangan keseimbangannya dan terjatuh di atas Yoongi dengan posisi wajah mereka berhadapan.
Hoseok membelalak. "A-"
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!"
:
:
Hoseok berkali-kali membungkuk ke arah dokter yang hanya menggeleng heran. "Jeosonghamnida, jeosonghamnida."
"Gwenchana, lukanya baik-baik saja. Lain kali tolong berhati-hati."
"Baik, kamsahamnida!"
Tepat saat dokter keluar, Hoseok meluruskan posturnya. Dia menggaruk tengkuknya gugup. Dia melirik Yoongi dan menemukan namja itu mendeathglarenya.
Hoseok meringis.
"Mian hyuuung~…"
Hoseok jatuh menimpa Yoongi yang notabenenya masih diperban. Melihat hyungnya yang kesakitan, Hoseok menjadi panik.
Dan Hoseok yang panik tak bisa berpikir jernih.
Dengan otomatis dia berniat melakukan CPR atau napas buatan pada Yoongi, tapi langsung ditendang. Yoongi lalu membentaknya menyuruhnya memanggil dokter. Dan tanpa disuruh dua kali Hoseok berlari keluar kamar untuk memanggil dokter.
Kejadian itu benar-benar traumatis bagi Yoongi dan Hoseok.
Hoseok menunduk. Ini memang salahnya.
Hahhh… kenapa dia begini sih…?
Yoongi yang tadinya super murka pada Hoseok, melunak melihat ekspresi sedih di wajah namja yang selalu ceria itu. "Yak, Hoseok." Hoseok mendongak. "Kemari."
Hoseok menurut, dia kembali duduk di kursi samping ranjang Yoongi dengan lesu.
"Kenapa mukamu?"
Hoseok menunduk.
Yoongi mendengus. Tangannya bergerak mencubit pelan pipi Hoseok –membuat si empu pipi terkejut. "Yaya, kuakui aku senang kalian mengunjungiku."
Hoseok memperhatikan hyungnya yang mengalihkan pandangan. "Mukamu merah, hyung."
"B-berisik."
Hoseok sumringah. "Wajahmu jadi manis, hyung~!"
PLETAK
"AUH!" Hoseok memegangi kepalanya yang ditampol Yoongi.
"Ngomong apa kau?" desis Yoongi dengan pandangan tajam.
Hoseok menelan ludahnya. "A-ani! Aku tidak bilang apa-apa!"
Yoongi mendengus. Ia lalu menatap langit-langit kamar.
"Yak, Hoseok."
"Ne, hyung?"
"Coba buat aku tertawa."
"Eh?"
Yoongi meliriknya. "Cobalah melucu."
Hoseok mendadak nervous. "E-eh?" dia tidak pernah disuruh melucu, biasanya dia akan melucu dengan sendirinya. Kalau disuruh begini, Hoseok akan jadi gugup.
Dan Hoseok yang gugup tak bisa berpikir jernih.
"Eeeh, kau tahu perbedaan sumpit dan sendok, hyung?"
Yoongi mengernyit. "… Apa?"
Hoseok nyengir maksa. "Sumpit langsing, sendok berlekuk."
Krik
Dalam hati Hoseok sudah menjerit panik. Lelucon macam apa itu?!
"Pft…"
Oke, rasanya Hoseok tak bisa mempercayai matanya sendiri. Yoongi mulai tertawa lepas.
Hell, leluconnya itu padahal tidak lucu sama sekali!
Hoseok memperhatikan wajah tertawa Yoongi.
'Manis. Bang PD memang benar… dia seperti gula…'
Yoongi yang menyadari Hoseok memandanginya, mendelik. "Apa kau lihat-lihat?!" bentaknya.
Membuat Hoseok tersedak ludahnya sendiri. Benar-benar gula yang galak. "A-aniya!" dia buru-buru mengalihkan pandangan.
Yoongi mendengus. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat menjadi senyuman yang begitu manis. "Lagi!"
"N-ne?"
"Melucu lagi!"
"E-ehh-"
"Kenapa mukamu merah begitu, hah!?"
-Esoknya…
Yoongi memandang Namjoon yang berdiri di hadapannya. Namja itu hanya nyengir kuda.
Yoongi mulai mempertimbangkan pilihan hidupnya.
"… Hahh… duduklah…" Yoongi menyerah. Namjoon tersenyum senang. Dia lalu duduk di kursi samping ranjang Yoongi.
"Bagaimana kabarmu, hyung?" tanyanya lembut.
Yoongi mempoutkan bibirnya. "Menyebalkan. Bocah-bocah itu membuatku tak bisa tidur siang. Aku susah dapat inspirasi menulis lirik. Acara TV selalu sama. Aku juga bosan makan bubur terus." Keluhnya bertubi-tubi.
Namjoon nyengir. "Sabar, hyung! Kau hanya akan istirahat beberapa minggu lagi."
Yoongi mendecih. "Tepatnya berapa minggu?"
Namjoon mengalihkan pandangannya. "Uhh… lima minggu…"
Yoongi memicingkan matanya. "Bilang saja sebulan! Menyebalkan!"
Namjoon menggaruk tengkuknya. "Kurasa beberapa minggu terdengar lebih cepat dibanding sebulan…"
Namjoon dengan logikanya.
"… Lalu mau apa kau kemari…?" Tanya Yoongi jutek.
"Ehh, merawatmu…?" Namjoon meringis.
Yoongi mengedikkan bahunya. "Kalau begitu hibur aku!"
Namjoon tampak blank. "B-bagaimana?"
"Entahlah! Pikirkan sendiri!" Yoongi bersidekap dengan angkuhnya. Dia menatap wajah kebingungan Namjoon, menanti hiburannya.
"K-kalau merap bagaimana?"
Yoongi memutar matanya. "Aku tahu itu bidangmu! Cari yang lain!"
Namjoon memasang wajah memelas. "Hyuuung…"
Yoongi mendapat akal. "Kalau begitu menarilah!"
Namjoon melotot. "Hell no, hyung! Kau tahu aku payah dalam menari!"
Yoongi mengangguk, antusias. "Justru karena itu!" dia berusaha bangun dari tidurnya. Namjoon yang melihat itu buru-buru membantunya. Yoongi kemudian meraih ponselnya, mulai mencari-cari lagu yang bagus. "Standby!"
Namjoon dengan terpaksa berdiri di depan ranjang Yoongi.
Lagu I'm sexy and I know it mengalun.
Namjoon bengong beberapa saat, sebelum mulai menggerakan tubuhnya. Dia menggerak-gerakkan lengan dan kakinya dengan kaku. Dan ekspresi wajahnya sama sekali tak membantu.
Pemandangan menyedihkan di hadapannya sontak membuat Yoongi tertawa terbahak-bahak.
Namjoon yang tadinya ingin menegur hyungnya itu, langsung bengong.
Senyum itu lagi.
Sangat manis…
Yoongi menghentikan tawanya saat melihat Namjoon yang bengong. "Namjoon? Kenapa kau?"
"A-ani…" Namjoon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, hyung…"
"Hng?"
"Apa kau tahu arti nicknamemu?" Tanya Namjoon.
Yoongi menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu Suga?"
Namjoon mengangguk.
"Aku dulu bermain basket di sekolahku, dan posisiku saat itu shooting guard. Sepertinya karena itu Bang PD memilih nickname Syu-ga."
"Oh…"
"Kenapa memangnya?"
Namjoon tersentak. "A-ani!"
Yoongi tersenyum lebar. "Oke! Cepat menari lagi!"
:
:
"Hh... hyu… nghh…"
Yoongi yang tadinya sibuk mencari-cari lagu di ponselnya, mendongak, melihat Namjoon yang tampak akan mati sebentar lagi.
"Ah… ku cap… ekh…"
"Baru lima lagu kamu sudah capek?" Yoongi geleng-geleng. "Arraseo. Duduklah."
Namjoon melangkah sempoyongan mendekati kursi. Dia lalu duduk dan bernapas lega.
Yoongi cengar-cengir. "Mukamu sudah seperti mau mati saja."
Namjoon merengut. "Gara-gara siapa coba, hyung…"
Yoongi terkekeh. Tangannya terulur dan menyeka keringat di wajah Namjoon.
Jemari dingin Yoongi membuat Namjoon tersentak.
"A-apa yang kau lakukan, hyung?" tanyanya gugup.
Yoongi mengernyit. Pertanyaan macam apa itu? "Menyeka keringatmu?"
Namjoon mengangguk gugup. Dia mengalihkan pandangannya ke segala arah kecuali wajah Yoongi. Wajah Yoongi begitu dekat dengannya.
Dan senyuman manis itu sama sekali tidak membantu!
Yoongi mengernyit. "Secapek itukah? Mukamu merah sekali…"
Namjoon kelabakan. "A-ani! Aku baik-baik saja!"
Yoongi manggut-manggut.
"Uhh, hyung?"
Yoongi menggumam.
"Kalau kau mau tidur, tidur saja." Namjoon tersenyum lebar. "Aku tidak akan mengganggumu."
Yoongi memandangnya beberapa lama –membuat Namjoon salting. "Ani. Ayo kita ngobrol."
Namjoon mengernyit. "Jinjja?"
Yoongi mengangguk.
Namjoon tersenyum cerah. "Kau ingat saat dulu kita tinggal bersama, hyung?"
Sebelah alis Yoongi terangkat. "Saat jadi trainee?"
Namjoon mengangguk. "Waktu itu kita nonton MAMA sama-sama… kau terus bergumam, apa aku bisa debut? Kapan aku akan tampil di sana? Kapan aku akan dapat award?"
Yoongi menatap ke arah lain. "Hngg…"
"Saat itu aku memang tidak mengatakannya, tapi aku juga merasakan hal yang sama." Namjoon tersenyum lagi. "Aku ketakutan saat itu. Apa aku bisa debut? Bisakah aku sukses? Dengan wajah seperti ini? Saat orang-orang menghinaku saat tahu aku akan debut jadi idol?"
Yoongi menatapnya.
"Tapi aku mencoba percaya, hyung. Suatu saat nanti kita pasti akan sukses." Namjoon memberi cengirannya. "Sebagai member BPB."
"… Kau benar."
Mereka lalu mulai membicarakan masa lalu, saat Yoongi masih menjaga jarak dari Namjoon.
Di tengah pembicaraan, Yoong memandang Namjoon yang sedang memeriksa ponselnya.
"Namjoon."
Namjoon mendongak dan terkejut melihat Yoongi yang menatapnya dengan sangat dekat.
"Mian… waktu itu aku memanggilmu leader payah…" Yoongi tersenyum manis. "Kau selalu menjadi leader terbaik bagiku."
Semua hal yang tadinya ada di kepala Namjoon sontak menghilang.
Sialan, bagaimana caranya namja bisa semanis ini?!
-Esoknya…
Yoongi memandangi makanan di hadapannya dengan wajah datar, tapi binaran di matanya tak bisa disembunyikan.
"Namjoon bilang kau bosan makan bubur, jadi aku membuatkan sup dan kimbap." Seokjin tersenyum melihat ekspresi Yoongi. "Kau suka?"
"U-ungg… lumayanlah." Yoongi membuang muka.
Seokjin tersenyum, gemas melihat dongsaengnya ini. "Mau hyung suapi?"
Yoongi membelalak. "ANI! AKU BUKAN BAYI!" tolaknya mentah-mentah.
Tangan Seokjin terangkat dan mengusap rambut Yoongi. "Gwenchana, kau adikku, kau boleh manja padaku."
"A-ani!" cicit Yoongi sambil menepis tangan Seokjin.
Seokjin jengkel. Tangannya bergerak mencubit pipi Yoongi tidak terlalu keras. "Yak yak! Jujur saja, kenapa sih?!"
"Appo! Hyung! Lepaskan!"
Seokjin tersenyum. "Kulepaskan kalau kau membiarkanku menyuapimu."
"Grrr! Arraseo!" cubitan Seokjin terlepas, menyisakan wajah cemberut Yoongi.
Seokjin tampak puas. Dia meraih mangkuk sup kemudian duduk di kursi. Tak lupa dia meniup sup yang akan diberikan itu. Tangannya kemudian terulur. "Aaa~"
Walau gusar, Yoongi memilih menurut. Dia kelaparan, dan masakan Seokjin selalu enak.
"Ammm~! Anak pintar~!"
Ingin rasanya Yoongi menimpuk Seokjin dengan bantal –dan kalau bisa mencekiknya–, berani sekali dia berbicara seperti itu! Seakan-akan Yoongi itu anak tk!
"Berhentilah bicara menyebalkan begitu!" bentak Yoongi murka –membuat hujan lokal ke wajah Seokjin.
"Yak! Tidak perlu muncrat begitu!" balas Seokjin kesal. "Kalau sakit perut namanya mencret!"
… Really…?
Di saat seperti ini otaknya masih bisa membuat lelucon garing itu…?
Seokjin mulai tertawa terbahak-bahak –tak memperdulikan wajah masam Yoongi.
:
:
"Yoongi!"
Yoongi melirik Seokjin kesal.
"Ayo karaoke!"
"AKU MAU TIDUR!"
Seokjin tidak peduli. Dengan heboh dia merekomendasikan lagu-lagu yang sekiranya bisa Yoongi nyanyikan. "Bagaimana kalau Gee SNSD?"
Yoongi mendesis. "AKU NGANTUK!"
"Oke, Gee!" Seokjin dengan sukacita memutar lagu itu keras-keras. "Aha! Listen boy! My first love story!" kemudian Seokjin mengeluarkan suara-suara yang bukan manusia. "My angel~! My girls~! My sunshinee~! HOH HOH! LETS GOO~!"
Seokjin mulai menyanyi dengan lantang dan penuh penghayatan.
Yoongi hanya bisa menutupi kepalanya dengan bantal.
Seokjin yang kesepian menyanyi sendiri, segera merampas bantal Yoongi dan membuangnya ke lantai. "AYO YOONGI!" dia melompat ke tempat tidur, tepat di samping Yoongi yang masih berwajah shock.
"GEE GEE BABY BABY!"
"DOKTEEEERRR!" jerit Yoongi putus asa, tapi tak ada yang datang.
This f*cking hospital!
"C'mon, Yoongi!" Seokjin meraih kedua tangan Yoongi lembut dan menggerak-gerakannya ke kiri dan ke kanan dengan perlahan agar tidak menyakiti dongsaengnya itu.
Yoongi menggeram –tapi tak punya tenaga untuk melawan.
"GEE GEE GEE BABY BABY~!"
Seokjin terlihat sangat girang.
'… Ya sudahlah.' Kedua sudut bibir Yoongi tanpa sadar terangkat.
Seokjin yang melihat senyum langka itu segera berseru heboh. "OOOH! KAU TERSENYUM!"
Hal itu sontak membuat Yoongi menghapus senyumannya.
Seokjin tertawa girang lalu memeluk Yoongi tidak terlalu erat. Dia menggesek hidungnya dengan Yoongi penuh sukacita. "KAU TERSENYUUUM~~~!"
HYUNGNYA INI BENAR-BENAR PUNYA MASALAH DENGAN OTAKNYA!
"L-lepas!" pekik Yoongi kewalahan. Wajahnya merah padam karena Seokjin menatapnya dalam.
Hell! Siapa yang tidak salting saat ditatap begitu!?
"Wajahmu merah!"
Gara-gara siapa, coba?!
Seokjin tersenyum sumringah. Dia kemudian mengecup pipi Yoongi sekilas. "Jujur saja kalau kau senang kupeluk, Yoongi ya~!"
Kesabaran Yoongi sudah habis.
Akhirnya dengan sisa kekuatan yang ada, Yoongi mengayunkan kakinya sambil menjerit. "MINGGIR!"
Dan tendangannya itu tepat mengenai Seokjin junior.
Tidak terlalu kuat memang.
Tapi tetap saja.
"AAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!"
:
:
"KAU KEJAM, YOONGI YA!" jerit Seokjin.
Yoongi membalasnya dengan deathglare terbaiknya. "SALAH SENDIRI! KAU BERISIK SEKALI! PADAHAL INI RUMAH SAKIT!" pekiknya tak mau kalah.
"TETAP SAJA! ITU TIDAK BERARTI KAU BISA MENENDANG ANUKU!"
Yoongi memutar matanya jengah. "Yaya! Pulang sana!" perintahnya kejam.
Seokjin memicingkan matanya. "Aku menolak."
Yoongi ikut memicingkan matanya. "Waktu besuk sudah lewat."
"Gwenchana. Aku 'kan keluargamu!"
Yoongi menjambak surainya frustasi. "PULANG!"
"AHA! KAU TIDAK MEMBANTAHNYA~! JADI KAU MEMANG MENGANGGAPKU KELUARGAMU~!" Seokjin menjerit girang. "AKU JUGA MENYAYANGIMU, YOONGI YAAA~~~!"
Seokjin yang terlalu girang, kembali melompat ke atas ranjang dan memeluk Yoongi erat.
SANGAT ERAT.
"AAAAAAAAHHH!"
-Esoknya…
"THAT F*CKING IDIOT! GARA-GARA DIA LUKAKU TERBUKA LAGI!" jerit Yoongi penuh kemurkaan. Salahkan Seokjin yang membuat lukanya terbuka, hingga jadwal kepulangannya menjadi semakin tak jelas.
Yoongi ingin menangis.
"… Hahh…" Yoongi menerawang. "… Yah… dia bukan orang jahat…" monolognya. "Hanya terlalu girang… ugh…"
Yoongi melirik jam. Sudah jam 10. Tidak ada yang datang.
Apa Seokjin merasa bersalah ya? Padahal kemarin dia bilang dia akan berkunjung lagi hari ini.
Padahal Yoongi tidak benar-benar marah… hanya sedikit kesal.
… Oke, sangat kesal.
Tapi rasanya tidak buruk juga saat ada yang menemanimu di tempat ini.
Yoongi menghela napas. Hyungnya juga masih bekerja. 'Mungkin BPB ada jadwal hari ini…'
Tidak mungkin mereka menjaganya setiap hari 'kan?
Sepertinya hari ini Yoongi bisa menjalankan rencana yang sudah disusunnya dari beberapa hari yang lalu.
Tapi baru saja Yoongi hendak meraih buku dan pulpennya, suara perawat di luar menghentikan gerakannya.
"Tuan? Saya perhatikan anda terus berdiri di sini dari tadi. Apa anda tamu Yoongisshi?" suara yeoja itu terdengar heran. "Mari masuk."
Yoongi memperhatikan pintu yang terbuka.
"Yoongisshi, anda ada tamu."
Di belakang yeoja itu, Yoongi bisa melihat Taehyung.
Namja itu menunduk, tangannya memegang tas kresek yang entah isinya apa.
"Baiklah, saya tinggal dulu." Perawat itu membungkuk lalu keluar.
Blam
Yoongi menatap pintu yang tertutup. '… Sudah berapa lama dia di sana…?'
Dia mengalihkan pandangannya, menatap Taehyung.
Hening.
Namja itu masih menunduk.
"… Sudah berapa lama kau di sana?"
"… Sekitar setengah jam…"
Yoongi membelalak. Selama itu?!
"Kenapa kau tidak masuk?"
"… Aku tidak tahu."
Yoongi memandang Taehyung. Dia sama sekali tidak bisa menerka isi pikiran namja ini. Apa dia membenci Yoongi? Atau hanya takut?
"Kenapa kau menunduk?" Tanya Yoongi.
Dia bisa melihat raut wajah Taehyung.
Dia tegang.
"… Aku tidak tahu."
"Apa kau membenci hyung?"
Taehyun terkejut. Dia langsung menggeleng kuat-kuat. Dia memberanikan diri menatap Yoongi. "Ani!"
Yoongi tersenyum. Tangannya mengisyaratkan Taehyung untuk mendekat. Taehyung menurut dan duduk di kursi.
"Kalau begitu tersenyumlah padaku."
Taehyung terdiam.
Yoongi menghela napas. "Ya sudahlah. Tidak perlu memaksakan diri." Tangannya terangkat mengusap kepala Taehyung.
Taehyung hanya memandangnya.
"Apa itu di tanganmu?" Tanya Yoongi sambil menunjuk tas kresek di tangan Taehyung.
"Ah, ini…" Taehyung membuka tas kreseknya lalu mengeluarkan beberapa Tupperware berisi makanan. "Seokjin hyung menitipkannya untukmu."
Yoongi manggut-manggut. "Kenapa dia tidak kemari?"
"Dia punya schedule." Jawab Taehyung pendek.
Yoongi mengangguk paham. Dia lalu menatap Taehyung. "Kau sudah makan?"
Taehyung menunduk.
"Kuanggap itu sebagai tidak." Yoongi meraih Tupperware di tangan Taehyung. Rupanya ayam goreng. "Kita bisa berbagi."
Taehyung awalnya ragu, namun setelah dipaksa Yoongi, dia mengambil sepotong paha ayam lalu memakannya.
Yoongi tersenyum. "Malam itu… apa yang kau tonton?"
Taehyung meliriknya sebelum kembali menjatuhkan pandangannya. "Gag Concert…" jawabnya pelan.
"Ahh… pantas saja." Yoongi mengangguk lagi.
Kembali hening.
Yoongi dan Taehyung lebih fokus makan.
Selesai makan, Yoongi baru akan memulai pembicaraan ketika dia melihat remah ayam di sudut bibir Taehyung.
"Yak, Taehyung."
Taehyung mendongak, hanya untuk menemukan senyuman manis itu.
"Makanmu belepotan sekali." Jari Yoongi terulur dan menyeka sudut bibir Taehyung lembut.
Tubuh Taehyung seketika menegang. Maniknya masih terpaku pada senyuman Yoongi.
Jantungnya mulai berdetak.
Lebih cepat dari yang seharusnya.
:
:
"Taehyung, apa kau punya cita-cita?"
Taehyung yang tadinya melamun, tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba Yoongi.
"N-ne?" gagapnya. "… U-umm… ada…"
Yoongi menatapnya. "Apa?"
"… Aku…" Taehyung menunduk –menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. "… Ingin merap…"
Yoongi membelalak. Itu cita-citanya? Sederhana sekali! "Oh ya?"
Taehyung mengangguk kecil. "… Umm…"
Yoongi menatapnya lama, sebelum tersenyum. "Kalau kau mau, aku bisa membantumu."
Taehyung sontak mendongak. "… Jinjja?"
Yoongi mengangguk. "Kau mau kuajari?"
Mata Taehyung berbinar. Dia mengangguk kuat-kuat.
Yoongi tertawa dalam hati. Dongsaengnya ini rupanya sangat manis.
Yoongi meraih buku catatannya lalu membukanya. "Ini lirik-lirik lagu yang kubuat sejak beberapa tahun lalu. Kau orang pertama yang membacanya." Dia memberi smirknya. "Kau harus merasa terhormat!"
Taehyung menatap buku catatan itu dengan mulut berbentuk 'o'. terlihat sangat takjub.
"Coba, rap freestyle pakai lirik ini." Yoongi menyodorkan buku catatannya pada Taehyung, dan disambut oleh namja tampan itu.
"Uhh… Kepada malam yang terjatuh, dan siang yang membeku, aku ada di sana… tertawa lepas bagai awan…"
Yoongi mengangguk. "Kau kurang percaya diri. Rap itu segalanya tentang rasa percaya diri!" nasehatnya. "Ulangi lagi!"
:
:
"Sudah lumayan. Aku suka flowmu." Komentar Yoongi.
Taehyung membelalak. "J-jinjja?!"
Yoongi mengangguk, memperhatikan Taehyung yang mulai tersenyum cerah.
'Dia memang benar-benar tampan.'
"Hyung?"
Yoongi tersentak. Dia buru-buru berdehem. "O-oke, sekarang coba kau karang sendiri lirikmu. Kau dengar saat aku merap di taman 'kan?"
Taehyung mengangguk.
"Aku mengarang liriknya secara spontan. Sekarang kau coba."
Taehyung tampak berpikir keras. Mulutnya lalu terbuka.
"Let me tell you something, something that will make you nothing."
Yoongi mengangguk. Bagus, walau dia tidak terlalu paham artinya.
"Kaki ini terus terjatuh, walau hatiku sekeras batu."
"Bayangnya datang di malam hari, meninggalkanku dalam lubang sepi."
"Sosok monster di malam salju, mampu membuat lidahku menjadi kelu."
Taehyung tampak melamun.
"Dia yang melenyapkan senyumku, membuatku membeku."
"Tapi setelah badai itu berlalu, aku bisa melihat pelanginya yang berkilau."
"Dia mulai tersenyum dengan manis, membuatku kehilangan seluruh tangis."
"Dia yang dulunya begitu tajam, kini tawanya membuatku keram."
"Kupu-kupu yang kurasakan di perutku, entah apa maksudnya bagiku."
"… Yang ada… hanya kata aku ingin bersama dengannya."
Yoongi manggut-manggut. "Bagus juga. Kau hanya perlu kepercayaan diri."
Taehyung menunduk. "… Gomawo, hyung."
Yoongi diam sejenak. Namun senyumnya kembali terukir. "Kau tak perlu berterima kasih." Tangannya kembali terangkat dan mengusap surai Taehyung. "… Kenapa mukamu merah begitu?"
Taehyung tersentak. Dia mendongak, menatap Yoongi tepat di matanya. Tubuhnya bergetar, sebelum dia menepis tangan Yoongi dan berlari keluar dari kamar Yoongi.
Meninggalkan Yoongi yang terkejut.
"… Apa aku salah bicara…?"
Setelah hari itu, Yoongi tidak pernah melihat Taehyung lagi sampai dia keluar dari rumah sakit.
:::
Cinta
Dan senyuman yang manis
Itulah yang kami butuhkan
:::
TBC
Uwaa~! Saya senang saat mengetik ini~! Rasanya sangat manis untuk saya~! Semoga pembaca sekalian juga bisa menikmati moments mereka ya!^^
Boleh saya tahu, moments siapa yang paling manis? Silahkan komentar ya!XD
Recently, saya lagi suka RapGa… mereka manis banget…
Dan sesuai request, ada moment YoonSeok di sini, semoga suka ya!^^
Masalah pair akhir… mungkin tidak akan ada pair akhir, karena ini Yoongi centric!XD pokoknya semenya Yoongi banyak~
Untuk selanjutnya kita lihat saja nanti ya!^^ sejujurnya saya punya banyak ide, tapi tidak mungkin dituangkan semua di sini. Jadi mungkin saya akan membuat FF lain. Saat ini saya punya ide untuk TaeGi dan YoonSeok.
Tapi untuk sekarang, saya ingin enjoy mengetik cerita ini dulu.
Dan kepada yang sudah mereview, terima kasih banyak!^^ saya sangat senang saat membaca review-review yang masuk. Semuanya positif, dan itu membuat saya semakin bersemangat mengetik~!
Untuk chapter selanjutnya mungkin tidak bisa uplat. Semoga ditunggu ya! Saya akan berusaha mengetiknya^^
Semoga terhibur dengan FF saya ini!^^
Sekali lagi, terima kasih banyak!
-Siwgr3_/28-8-2017/
