Uri Sarangseureoun Seoltangie

.

Chapter 5: Jin And V

.

A BTS Fanfic

.

SUGA!Centric

.

©Siwgr3

.

Cast: BTS, Other

.

Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D

.

Other Cast: BTS Member, Other

.

Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family

.

Rated: T


Sebulan berlalu lebih cepat dari perkiraan Yoongi. Hari ini dia sudah bisa pulang dari rumah sakit. Yoongipun dijemput member dan manajernya. Sekarang Yoongi sedang dikelilingi member serta manajernya di ruang tamu Dorm BPB.

Lihat cengiran aneh mereka itu.

"Akhirnya kau pulih total, Yoongi ah~!" manajer mereka bertepuk tangan kecil, tampak gembira. Hal itu sontak mengundang eyeroll dari Yoongi. Manajer hyung cemberut. "Yak! Apa-apaan sikapmu itu, hah?!"

Yoongi mencibir sambil membuang muka. "Ani."

Manajer hyung menggeleng, sikap anah asuhnya ini ternyata belum berubah. Yoongi malah jadi semakin kekanakkan sekarang.

"Ya sudahlah." Dia menyerah. "Apa semua member hadir?"

"Hadiiirr!" Semua menyahut kompak kecuali Yoongi.

"Untuk merayakan ini, mari kita makan-makan di restoran dekat sini!" manajer hyung mengumumkan. "Biayanya akan ditanggung PD hyung!"

Sontak para member memberi respon positif. Jimin dan Hoseok melompat-lompat girang sementara Taehyung tertawa keras-keras –entah maksudnya apa.

"Kajja."

Mereka lalu melangkah keluar mengikuti manajer hyung. Yoongi melangkah beberapa langkah di belakang membernya yang masih asyik bersenda gurau. Masih merasa rada gugup jika bersama mereka. Yoongi terus teringat kejadian malam itu ketika dia mengamuk seperti orang gila. Benar-benar tidak keren!

Namjoon menyadari keberadaan Yoongi di belakang dan perlahan ikut melambatkan langkahnya. "Hyung," panggilnya. Yoongi meliriknya –masih berwajah datar. "PD hyung memuji lagu yang kau berikan dua hari lalu. Itu kau tulis sendiri 'kan?"

Yoongi diam. Berpikir apa maksud Namjoon membahas hal itu. Namun dia mengangguk pelan.

"Aku jadi ingin menulis lagu denganmu, hyung."

Yoongi tidak tahu, tapi senyuman Namjoon terlihat begitu tulus baginya. Akhirnya Yoongi tak bisa menahan lagi senyumnya.

"Ne…" gumamnya sambil tersenyum manis.

Sontak langkah semua orang terhenti –membuat Yoongi otomatis berhenti juga. Manager hyung yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka tampak shock.

'Yoongi tersenyum?!' kira-kira begitu isi kepala manajer hyung. Member lain yang sudah mengetahui soal senyuman Yoongi terlihat lebih tenang, tapi mereka tak bisa mengalihkan pandangan mereka.

Yoongi dan senyuman manisnya yang menyebalkan itu.

Yoongi merasa risih ditatap begitu. "Wae?!" ketusnya.

Semua kembali buru-buru melangkah sementara manajer hyung tampak masih shock dengan kejadian barusan.

:

:

-XX Restaurant…

Kini mereka sudah duduk melingkar lesehan mengelilingi meja bulat berukuran besar. Posisinya Yoongi-Jimin-Manajer hyung-Taehyung-Namjoon-Hoseok-Seokjin-Jungkook.

"Untuk kesembuhan Yoongi!" mulai manajer hyung sambil mengangkat gelas minumannya. Para member mengikuti gerakannya, mengangkat gelas minuman mereka tinggi-tinggi sambil bersorak –kecuali Yoongi yang hanya memasang muka bosan.

Sepersekian detik setelah acara tidak penting itu, Seokjin langsung memangsa makanannya dengan beringas. Terkadang dia akan berusaha mencuri rasa mie Jungkook dan ayam goreng Hoseok, tapi berhasil digagalkan pemiliknya.

"YAK HYUNG! MAKAN MAKANANMU SENDIRI!"

Yoongi melahap jjajamyeonnya dengan tenang, tampak sama sekali tidak peduli dengan kehebohan di sekitarnya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah para member yang makan dengan antusias dan seringkali menyembunyikan senyumnya dengan tangannya, merasa terhibur melihat kehebohan membernya.

Dan hal itu sepertinya disadari Jimin. Tanpa permisi, ia menarik tangan Yoongi turun. "Hyung, kenapa kau menyembunyikan senyummu? Kau bisa tertawa bersama kami!"

Yoongi masih shock karena gerakan Jimin yang tak terduga. Buru-buru ia menarik tangannya. "A-ani. Aku tidak tersenyum." Kilahnya pura-pura tak peduli.

Jimin memicingkan matanya. 'Tsundere yah…?' ia mulai memikirkan beribu cara untuk menaklukan hyungnya yang satu ini. Jimin sudah bertemu banyak jenis manusia dalam hidupnya –dan dia berhasil menaklukan mereka dengan segala keramahannya. Tapi tsundere adalah jenis baru dan Jimin sama sekali tidak tahu cara menaklukannya.

'Aku harus menggooglenya nanti…'

Yoongi diam-diam bernapas lega karena Jimin sepertinya mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia baru saja hendak melanjutkan makannya saat matanya bertemu dengan kedua manik kelam Taehyung yang memang duduk di seberangnya.

Taehyung tersentak dan buru-buru menundukkan wajahnya. Yoongi memandangnya sejenak sebelum kembali menjatuhkan pandangannya pada jjajamyeonnya. Sejak hari dimana Taehyung mengunjunginya di rumah sakit itu, Yoongi sudah tak pernah melihatnya lagi. Bahkan saat beberapa member datang sekaligus untuk menjenguknya, Taehyung tak pernah ada.

Sampai sekarang Yoongi masih bingung dengan kesalahannya. Apa dia salah bicara? Apa dia menyinggung Taehyung?

'… Whatever…'

:

:

Yoongi membuka matanya saat merasakan tangan yang mencubit pelan pipinya. Pikirannya sudah dipenuhi makian dan bentakkan untuk si pemilik tangan. Berani sekali dia mengganggu tidur tampan Yoongi!

Yoongi mendesis saat mengetahui siapa pelakunya. "Seokjin hyuuung…"

Seokjin mengirim senyuman sejuta wattnya –tak peduli dengan tatapan maut Yoongi. "Ayo bangun! Sarapan sudah siap."

"Aku tidak lapaar…" geram Yoongi sambil menarik selimutnya menutupi wajah.

"Min Yoongi."

Yoongi tetap diam.

"Yoongi!"

Cuek bebek.

"Haruskah kucoba metode membangunkan Jungkook padamu?"

Yoongi menggeram, tak paham maksud Seokjin. Jadi dia memutuskan untuk tidak memperdulikannya. Metode membangunkan Jungkook? What the hell is that? Yoongi tak akan membiarkan hal tidak penting itu mengganggu tidurnya.

Seokjin menarik paksa selimut Yoongi –berbuah erangan Yoongi.

Hal yang selanjutnya terjadi mampu membuat Yoongi seratus persen terbangun dari tidurnya.

"YAAK!"

BUAGH

"AHH!"

:

:

Semua member memperhatikan luka lebam di pipi Seokjin, sementara Yoongi sudah mengeluarkan aura gelapnya dan menggerami setiap member yang hendak menyentuhnya –persis seperti anak anjing yang galak.

"Ada apa, hyung?" Namjoon menatap keduanya bergantian.

Seokjin yang cemberut hanya melipat kedua tangannya di depan dada. "Yoongi memukulku!" adunya seperti anak kecil.

"Wae hyung?" Tanya Jimin pada Yoongi.

"Kenapa katamu?!" Yoongi mengirim deathglarenya pada Seokjin. "Namja itu melecehkanku!"

Semua member sontak mendesah kaget. "M-melecehkan?!" Hoseok berseru heboh, seperti ibu-ibu penggosip.

Seokjin buru-buru menggeleng. "Aniya! Bukan begitu!" bantahnya panik.

"Lalu?"

"… Aku mencoba metode membangunkan Jungkook padanya…"

"… Ahh…" semua member manggut-manggut –menyisakan Yoongi yang mendelik.

"Itu biasa kok, hyuung~!" Jimin cengar-cengir. "Seokjin hyung melakukan itu kalau ada member yang susah dibangunkan."

"Dan kau tahu, hyung~! Jungkook itu tidur seperti orang mati!" sahut Hoseok –berbuah tatapan tajam dari Jungkook. "Mungkin kasusnya sama denganmu." Gumam Hoseok lagi yang dibalas tatapan membunuh Yoongi.

"Tetap saja!" Yoongi beralih mengirim tatapan es serta geramannya pada Seokjin. "Kalau kau berani melakukannya lagi padaku, aku akan membunuhmu."

Seokjin memutar matanya kesal. "Yaya, lihat saja nanti." Dia mencibir. "Aku tidak tahu badanmu sensitif begitu."

"YAK!"

"Baru kubegitukan saja wajahmu sudah merah padam. Seperti yeoja saja."

"KIM SEOKJIN!"

"PANGGIL AKU HYUNG, BOCAH!"

"TIDAK SUDI!"

"MWO?! DASAR DURHAKA!"

"Sudahlah! Ayo makan!" lerai Jimin sambil memukul-mukul piringnya dengan sendok –meminta kedua member tertua mereka itu untuk diam.

Suasana makanpun berjalan lancar. Jimin bercerita dengan heboh dan ditanggapi dengan kejam oleh Jungkook. Hoseok tertawa-tawa bersama Taehyung. Namjoon hanya cengar-cengir. Seokjin sendiri sepertinya mulai lupa dengan kekesalannya dan membuat lelucon-lelucon tidak lucu yang membuat member lain mendelik.

"Yak hyung! Kau menghancurkan atmosfernya! Hentikan lelucon tidak jelasmu itu!" keluh Jimin.

Member yang lain mengiyakan sambil ikut mengeluh –membuat Seokjin merengut.

"Kalian memang tidak ada yang mengerti! Leluconku lucu, tahu! Bukan tempe!"

Jimin memutar matanya, tak mengacuhkan Seokjin yang mulai ngakak dengan leluconnya sendiri.

Pupil Jimin terhenti pada Yoongi yang tampak menunduk dengan sebelah tangannya menutup mulut. "Yoongi hyung? Kenapa mukamu merah begitu?" pertanyaan Jimin membuat semua perhatian teralih kepada Yoongi.

Yoongi terkejut dan buru-buru membuang mukanya. "A-ani! Kata siapa?!"

Hening sejenak, sebelum Jungkook menangkap arti wajah Yoongi. "Hyung~…" dia menyeringai. "Kau suka lelucon Seokjin hyung 'kan~?"

Dan yang mereka lihat selanjutnya, wajah Yoongi semakin merah hingga ke kupingnya.

Jimin ikut menyeringai. "Ah~! Wajahmu merah karena menahan tawa ya~?"

"ANI!"

Hoseok cengar-cengir. "Gwenchana, hyung~! Kau boleh jujur~!"

Sementara Seokjin melotot. "B-benarkah itu, Yoongi?!" tanyanya dengan kedua tangan bergerak-gerak heboh.

Yoongi hanya menggeram sebagai balasan.

"K-kau tidak membantahnya…!" sebuah senyuman cerah mulai mengembang di wajah Seokjin. "Yoongiyaa~! Cuma kamu yang mengertiii~!" pekiknya sambil memeluk dongsaengnya itu gembira.

"Y-yak! Lepas!" Yoongi berusaha berontak, namun Seokjin lebih kuat darinya –uhuk.

Member yang lain hanya tertawa melihat reaksi Yoongi.

Hyung mereka itu mulai bisa membuka diri.

Sedikit demi sedikit memang.

Tapi tak apa.

:

:


TAEHYUNG'S POV ON


"Taehyung."

Seluruh tubuhku serasa tersentak mendengar suara serak itu. Suara yang kukenali dengan baik.

Yoongi hyung.

Aku buru-buru menenangkan diriku sambil tetap terpaku pada layar televisi. Dengan seluruh kekuatan yang kumiliki, aku membuka mulutku. "… U-uh… wae, hyung…?"

Setidaknya aku menjawab panggilannya. Itu sudah termasuk kemajuan yang luar biasa. Tanpa sepatah katapun Yoongi hyung mengambil tempat di sampingku dan ikut memandang tv.

Gag concert. Acara komedi yang sangat kusuka.

Kemudian yang kudengar hanyalah tawa renyah Yoongi ketika Dad's Jokes andalan Seokjin hyung muncul. Lelucon yang bahkan membuatku mengernyit. Aku yang notabenenya selalu tertawa pada hampir semua hal sampai dibuat bingung olehnya.

Dimana letak lucunya?

Satu-satunya yang bisa memahami Seokjin hyung memang hanya Yoongi hyung.

"… Ne, Taehyung…"

Jantungku terpukul. "Y-ya, hyung?" gagapku.

"Apa hyung salah bicara?"

Aku tertegun. "… Maksudnya…?"

"Sebulan yang lalu… saat kau menjengukku." Aku melirik Yoongi hyung lewat ekor mataku. Namja itu sedang memandang lurus ke televisi. Aku sama sekali tak bisa menebak ekspresi wajahnya. "… Kenapa kau pergi?"

… Jujur aku juga tidak tahu. Kenapa aku pergi? Kenapa jantungku berdetak kencang sekali? Padahal Yoongi hyung tidak mengatakan hal apapun yang aneh? Lalu kenapa?

Kenapa otakku langsung menjerit menyuruhku pergi? Kenapa kakiku tak bisa berhenti berlari walau sudah ditegur perawat?

Kenapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya?

"… Aku tidak tahu, hyung." Jawabku jujur.

Aku bisa mendengar helaan napas berat Yoongi hyung. "… Geurae…?"

Aku diam. Tak membalas. Tak tahu apa yang harus kukatakan.

Kemudian secara mendadak Yoongi hyung meraih kedua bahuku, memaksaku untuk berhadapan dengannya. Aku bisa melihat pantulan wajah terkejutku di kedua manik matanya.

'SHIT!' aku buru-buru menunduk. Sialan, jantungku berdebar lagi! Apa-apaan ini?!

"Yak! Taehyung! Lihat aku!"

Aku masih menunduk, menolak melihat Yoongi hyung.

"Cih!" kedua tangan dingin Yoongi hyung membingkai wajahku dan mengangkatnya secara paksa hingga aku kembali berhadapan dengan kedua manik Yoongi hyung.

"H-hyung…" napasku tercekat. Aniya! Aniya! Rasanya susah sekali bernapas!

"Taehyung!" Yoongi hyung memanggilku lagi. Kilatan keseriusan nampak di kedua maniknya. "Jika hyung melakukan kesalahan, katakan saja! Jangan takut!"

"T-tapi hyung tidak melakukan kesalahan apapun…" cicitku gugup.

"Lalu kenapa hari itu kau pergi begitu saja?"

"… Aku juga tidak tahu."

Yoongi hyung memicingkan matanya. "Kau menyukaiku?"

HAH?!

Aku melotot. Suka?! "A-ani! Aku bukan gay!" pekikku shock. Tak pernah sekalipun hal itu terbersit di otakku. Aku?! Menyukai Yoongi hyung?!

WTH

"Baguslah." Yoongi hyung memutar matanya. "Kalau begitu apa alasanmu pergi, hah?! Kau membenciku?!"

Aku sontak menggeleng kuat-kuat. "ANI!" jawabku tegas.

Tatapan Yoongi hyung melunak. "Kalau begitu… kau takut padaku?"

… Takut…? Apakah itu jawaban yang tepat…? Apakah perasaan itu bisa menjelaskan debaran jantungku? Apakah aku takut pada Yoongi hyung…?

… Well…

"… Kurasa…" jawabku pelan.

"Kalau begitu…" Yoongi hyung tersenyum lebar. "Ayo kita bemadndlajdhoualahnshuhoepafjf"

Telingaku seakan tuli. Pandanganku hanya tertuju pada senyuman Yoongi hyung. Otakku tak bisa bekerja.

Seakan seluruh fokus yang kini bisa kuterima hanyalah senyuman itu.

Gummy smile itu.

… Jantungku kembali berdetak kencang –entah sebab apa.

Tapi terasa sangat tepat.

"Taehyung?!"

"N-NE?!" aku tersentak karena guncangan Yoongi hyung di bahuku. "A-apa hyung?"

Yoongi hyung memberiku wajah kesalnya –membuatku menelan salivaku dengan susah payah. "Kau tidak mendengarkanku, hah?!"

"M-mianhae!"

Yoongi hyung kembali berdecak kesal. "Sudahlah. Kajja!" tanpa menjelaskan, Yoongi hyung menarik tanganku dan menyeretku keluar dorm. Aku bahkan tak bisa berkata apa-apa.

Apa ini?! Apa Yoongi hyung akan membunuhku?!

Langkah Yoongi hyung terhenti di tangga menuju lantai bawah. Dia berbalik menatapku dengan kilatan tekad di matanya. Aku menelan salivaku berat.

… Apa dia akan mendorongku jatuh dan membuatnya terlihat seperti kecelakaan…?

"Ayo kita bermain tangga!"

… Uhh… sepertinya kepala Yoongi hyung terbentur.

Dan seakan bisa membaca isi kepalaku, Yoongi hyung menggeleng. "Kepalaku baik-baik saja. Maksudku ayo kita bermain dengan tangga ini!"

Aku melirik tangga itu setengah hati. Apa-apaan ini?

"Maksudnya?"

"Kita bermain gunting batu kertas, dan setiap kau menang, kau bisa turun satu anak tangga. Siapa yang sampai ke lantai tiga lebih dulu, dialah pemenangnya!" jelas Yoongi hyung, tampak bertekad.

Oke… aku paham. Aku menatap anak-anak tangga itu. Sekitar lima belas anak tangga. "T-tapi kenapa kita memainkan ini?"

"Yang kalah akan menjadi budak yang menang selama seharian ini!"

Kedua manikku melotot mendengar jawaban Yoongi hyung. "M-mwo?! Wae?!"

"Kalau kau menang kau bisa memukulku atau semacamnya! Ayo mulai!" tanpa menunggu sanggahanku, Yoongi hyung sudah memasang kuda-kuda. Akhirnya aku terpaksa mengikutinya.

"KAI BAI BO!"

Aku menang. Aku turun satu anak tangga.

"KAI BAI BO! ARGH!"

Aku menang lagi.

"KAI BAI BO! YES!"

Kali ini Yoongi hyung menang. Lihat wajah girangnya yang langka itu.

Kami terus bermain, sampai pada akhirnya kami sudah dekat dengan garis finish. Aku tinggal satu anak tangga lagi, sementara Yoongi hyung tinggal dua anak tangga lagi.

Yoongi hyung menghela napas lalu menghembuskannya dengan kasar. Berusaha rileks. "Oke… kau siap?"

Aku hanya mengangguk. Masih tidak paham kenapa aku mau-maunya bermain game tidak berfaedah ini. Tapi aku juga seringkali tertawa melihat ekspresi Yoongi hyung saat dia kalah atau menang. Aku baru tahu Yoongi hyung bisa berekspresi seperti itu.

Harus kuakui, cukup menyenangkan.

"KAI BAI BO!"

… Aku menang.

Yoongi hyung tampak orang yang sudah hampir mati.

"Aku menang, hyung." Senyum girang tak bisa kusembunyikan.

"Aish… oke oke… hyung akan menuruti semua keinginanmu seharian ini…" Yoongi hyung cemberut.

Hal itu justru membuatku merasa terhibur.

… Sebuah ide melintas di otakku. Kedua sudut bibirku perlahan tapi pasti terangkat menjadi seringaian, membuat Yoongi hyung menatapku horror.

"Baiklah…"


TAEHYUNG'S POV OFF


:

:

Jungkook baru pulang dari sekolahnya, ketika dia melihat pemandangan langka yang hampir membuat rahangnya jatuh. Min Yoongi di sana, sedang menjadi guling di sofa ruang televisi dorm. Si pemeluk, Taehyung, tampak memeluknya dari belakang dengan erat. Napasnya berhembus teratur, menandakan Taehyung tertidur pulas sekali.

Yoongi yang didekap erat hanya memasang wajah galaknya. "Mwo…?" geramnya tanpa suara kepada Jungkook.

Jungkook mendekati keduanya yang berbaring di sofa. "Tumben kau jadi manis begini, hyung…?" bisiknya, menyeringai.

Yoongi menggertakan giginya. "Aku akan lebih suka jika dia memukulku…" geramnya nyaris berbisik.

"Kau kalah taruhan?"

Yoongi memutar matanya jengah. "… Sejenis itulah."

"Ayo taruhan denganku, hyung." Jungkook tersenyum nakal.

"Amit-amit."

Jungkook cemberut. "Jahat."

"Pergi sana. Kerjakan prmu." Usir Yoongi, masih berbisik.

Jungkook mendengus. "Arraseo. Aku masuk dulu." Dia kemudian melenggang pergi setelah dengan kurang ajarnya mencuri ciuman di pipi Yoongi.

Yoongi ingin menerjang dan memukulnya karena sudah berani menciumnya, tapi pelukan Taehyung terlalu kuat hingga membuatnya tak bisa bergerak.

Yoongi tahu dia akan menyesali idenya ini, menjadi budak seharian untuk Taehyung yang notabenenya namja aneh. Sudah dua jam lewat, tapi Taehyung belum bangun juga. Yoongi yang tidak bisa tidur jika dipeluk begini mulai merasakan setiap anggota tubuhnya kesemutan –tapi tak bisa berbuat banyak.

… Sisi positifnya, Taehyung sudah mulai melunak padanya.

Yoongi rasa semua penderitaannya ini setimpal.

:

:

Jimin melenggang keluar dari kamarnya. Dia baru saja menggoogle cara-cara menaklukan manusia jenis tsundere, dan siap mempraktekannya langsung pada Yoongi. Tapi baru saja dia hendak melangkah ke kamar Yoongi, maniknya menangkap pemandangan langka di sofa.

Yoongi terlelap dalam pelukan Taehyung.

Jimin mengendap-endap mendekati mereka. Setelah sampai di depan sofa, dia berjongkok. Sebelah alisnya naik. 'Kukira mereka tidak dekat…?'

Pikiran Jimin itu bukan tanpa alasan. Hell, Taehyung hanya pernah menjenguk Yoongi satu kali! Dia selalu mencari alasan setiap member lain mengajaknya menjenguk Yoongi. Jadi para member beranggapan Taehyung memang tidak dekat dengan Yoongi. Tapi sekarang mereka malah tidur sambil berpelukan.

Jimin cemberut. Taehyung curang. Waktu itu di rumah sakit Yoongi hanya mengijinkan Jimin memeluknya tak lebih dari tiga detik, itu sangat tak adil! Padahal Jiminlah yang paling agresif mendekati Yoongi, tapi kenapa Taehyung yang bisa dengan gampangnya memeluk Yoongi begini?

Jimin memperhatikan wajah tidur Yoongi. Kedua matanya tertutup, pipi gembilnya tampak sedikit merah –mungkin kepanasan, bibirnya terbuka mengeluarkan deru napas yang teratur, juga tangan kecilnya yang terkepal di depan dada.

'Manis.'

Jimin lalu mengambil ponsel di saku celananya kemudian menekan tombol kamera.

Jepret

Setelah selesai memotret wajah Yoongi beberapa kali, Jimin memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Dia kemudian menatap Yoongi lama, sebelum mencuri ciuman di dahi Yoongi.

Jimin kemudian berlalu begitu saja masuk ke dalam kamarnya.

:

:

Taehyung terbangun karena bisik-bisik di sekitarnya. Dia menggeram pelan sambil mengeratkan pelukannya di 'guling'nya.

Tapi bisik-bisik itu malah semakin intens mengganggu tidur Taehyung. Dengan terpaksa Taehyung membuka kedua matanya, menemukan wajah tidak senang Namjoon.

"Oh! Taehyung sudah bangun!" seru Namjoon.

'Guling' Taehyung menggeliat. "Jinjja? Yak! Taehyung! Kau sudah cukup tidur 'kan? Lepaskan aku!" suara kesal Yoongi terdengar.

Taehyung cemberut. "Ani, aku masih mengantuk."

Yoongi mendesis. "Kau sudah tidur lima jam! Seokjin hyung sudah marah-marah tadi!"

Namjoon mengangguk. "Tidurnya lanjut setelah makan malam saja!"

"… Asal Yoongi hyung mau menemaniku tidur."

Namjoon membelalak.

"Mwo?!" pekik Jungkook, Jimin, Seokjin, dan Hoseok kompak. Entah dari mana mereka muncul.

"Enak saja! Kenapa Yoongi hyung harus tidur denganmu?" Jimin tidak terima.

"Dia roommateku tahu!" Seokjin ikut berargumen.

"Kenapa kau mendadak jadi manja begini sih?!" Hoseok mengeluh tak suka.

"Tapi Yoongi hyung sudah berjanji akan menuruti semua permintaanku!" elak Taehyung tanpa melepas pelukannya.

"Jinjja?" Semua member selain Jungkook yang tidak tahu soal taruhan TaeGi mengernyit. "Kenapa begitu, hyung?" Jimin sewot.

"… Aku membuat taruhan dengannya… dan kalah…" helaan napas berat Yoongi terdengar. "Arraseo, Taehyung. Aku akan tidur denganmu malam ini." Dia mendesis. "Tapi Cuma malam ini, ya!"

Taehyung tersenyum cerah. "Ne, hyung~!"

Semua member mulai memperhatikan Yoongi yang mengomel dengan pipi bersemu.

Benar-benar tsundere.

:

:

Malam itu di kamar Taehyung…

Taehyung menggeram saat Jungkook muncul dengan bantal dan selimutnya.

"Kenapa kau kemari?" dia mengeratkan pelukannya pada Yoongi, guling sementaranya. Yoongi sendiri hanya berwajah datar.

"Aku akan tidur dengan kalian!" Jungkook tanpa menunggu persetujuan Taehyung, melompat ke atas tempat tidur Taehyung dan ikut memeluk Yoongi.

"Yak! Yoongi hyung gulingku!" marah Taehyung. Dia memang tidak suka berbagi sesuatu yang menjadi miliknya. Apalagi kalau sesuatu miliknya itu empuk dan enak dipeluk. Seperti Yoongi contohnya.

Jungkook memutar matanya jengah. "Perasaan baru kemarin kau menghindari Yoongi hyung. Sekarang kau sudah seperti benalu saja." katanya kasar.

Taehyung dan Jungkook mulai bertengkar –dengan Yoongi terkurung di antara keduanya.

Yoongi menggertakan giginya. Kesabarannya sudah habis.

"Kalian…" bisiknya mengundang perhatian kedua dongsaengnya itu. "… BERISIK! INI SINGLE BED DAN KALIAN BERDUA MALAH MEMELUKKU! PANAS TAHU!" bentaknya murka.

"Hyung-"

BRAK

Pintu kamar Taehyung didobrak –padahal tidak dikunci.

"JIMIN TO THE RESCUE!" jerit Jimin dengan bantal dan selimut birunya. Dia tanpa permisi langsung melompat dan menindih Yoongi. "Hyuung~~!" dipeluknya Yoongi dengan gembira.

"YAK! JIMIN! KAU TIDAK ADIL! AKU JUGA!" Hoseok muncul dan ikut melompat ke arah keempat membernya.

THAT'S IT!

"KELUAR KALIAN, F*CKING DIMPSH*T FR*CKING ANNOYING B*STARD!"


:::

Saat itu juga mereka berpikir,

Kosakata makian bahasa Inggris Yoongi banyak juga rupanya.

:::


TBC


Halo! Saya kembali dengan USS!^^

Chapt ini fokusnya pada Seokjin dan Taehyung. Masalah Taehyung, saya ingin memperjelas (sekaligus menghancurkan mimpi reader) bahwa Taehyung belum mencintai Yoongi (atau mungkin belum sadar saja). Begitu pula dengan member lain. Saya ingin membuat FF ini dengan alur yang proporsional, tidak kecepetan, tidak terlambat juga. Soalnya saya seringkali membaca FF yang alurnya terlalu cepat dan merasa sayang karena FF itu sebenarnya bagus. Jadilah saya bertekad membuat FF saya alurnya tidak cepat. Jadi akan bertahap. Semoga diterima ya.

Yang menunggu moment dengan member lain, dichapt depan ya!^^

Btw, bagi yang tidak tahu, metode membangunkan Jungkook Seokjin itu... mencubit... ehem... nipplesnya... hehehehehhehehehhehehehhehehe

Saya senang masih ada yang mau membaca FF ini. Dan sedikit promosi, saya mempublish FF TaeGi/YoonKook, judulnya The Last Snow. Silahkan dilihat kalau berkenan!^^

Terima kasih yang sudah mau membaca FF saya! Saya sangat senang membaca review yang masuk!^^

Dan sekali lagi saya tegaskan, FF ini tak ada pair akhir, karena ini Yoongi!centric, jadi semuanya seme Yoongi. (maruk)

Baik, sekian dulu. Semoga masih ditunggu!^^

Terima kasih banyak!

-Siwgr3_/10-9-2017/