Uri Sarangseureoun Seoltangie

.

Chapter 6: Jimin And J-Hope

.

A BTS Fanfic

.

SUGA!Centric

.

©Siwgr3

.

Cast: BTS, Other

.

Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D

.

Other Cast: BTS Member, Other

.

Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family

.

Rated: T


BPB mengadakan fanmeeting pertama mereka di sebuah gedung berukuran kecil. Hanya sekitar 80 army yang datang, tapi member BPB tetap tersenyum cerah. Mereka senang karena tahu ada yang mendukung mereka.

"Terima kasih sudah hadir hari ini~!" Namjoon mengirim senyum lebarnya ke seluruh penjuru ruangan.

Hoseok meraih mic di tangan Namjoon. "Kami akan membuat hari kalian menyenangkan~! Aku janji~!" serunya riang.

Kemudian acara itu diisi nyanyian kecil-kecilan dari Vokal line. Sesekali Hoseok ikut nimbrung menyanyi untuk menghibur Army yang hadir. Dia juga memaksa Namjoon menyanyi –membuat namja jenius itu panik.

Tiba-tiba Jimin meraih mic dari tangan Hoseok. Dia kemudian menoleh ke arah Yoongi dengan senyum cerahnya –yang demi Tuhan membuat Yoongi takut. Jimin tidak mungkin menyuruhnya bernyanyi 'kan?

"Suga hyung! Ah, Army, tolong tepuk tangan untuk Suga hyung yang baru saja keluar dari RS!" Army bertepuk tangan heboh selesai Jimin bicara. Yoongi sendiri sedikit lega, mengira Jimin tidak menyuruhnya menyanyi.

"Ne, hyung! Tolong nyanyikan lagu buat Army yang sudah hadir."

Yoongi melotot ke arah Jimin yang tersenyum malaikat sambil menyerahkan micnya ke Hoseok. Namja pendek itu cari mati rupanya.

"Aniya, aku tidak bisa menyanyi…" Yoongi senyum maksa, berusaha mengalihkan topik. Tapi Hoseok sudah menyodorkan mic dengan antusias. 'Anak sialan.'

Suasana hening, semua Army menatap Yoongi tanpa berkedip, menunggu member yang bagi mereka misterius itu bernyanyi. Yoongi memang jarang bicara, makanya Army penasaran.

Yoongi memaki dalam hati. Lihat saja nanti di dorm! Dia akan membunuh mereka berdua! "Arraseo…" dia berpikir. Lagu apa yang harus dia nyanyikan? Lagu anak-anak boleh juga, pokoknya yang mudah dan tidak ada nada tinggi-

"Lagu tears, hyung!"

JEON JUNGKOOK!

"Iya, langsung ke chorusnya aja, hyung!" Taehyung terlihat girang. Sejak hari taruhan itu, Taehyung memang mulai menghangat pada Yoongi. Mungkin terlalu hangat… alien itu sudah tak segan lagi mengganggu Yoongi.

"Min Suga! Min Suga!" Namjoon memberi komando sambil bertepuk tangan. Semua member dan Army mulai mengikutinya.

"Min Suga! Min Suga!"

Yoongi memasang wajah memelas, tapi membernya seakan tak peduli.

'… Hahh… baiklah… whatever…' Yoongi mendekatkan mic ke mulutnya, lalu mengambil napas –siap bernyanyi.

Suasana sontak hening. Semua perhatian terfokus pada Yoongi.

"JANINHAAAAN YEOJARAAA NAREUL YOGHAJINEUNAAAAA~~"

… Suara apa itu…? Terdengar seperti kambing yang akan disembelih…

Yoongi cuek bebek, walau dia bisa melihat ekspresi shock Army. Sudah terlanjut, mending dia all out saja.

"JAMSI NEOREUL WIHAEEE IBYEREUL TAEGHANGEYOAAA~~!"

Semua member melongo.

Yoongi semakin menghayati lagu –lupa dengan harga dirinya. "IJJINEUN MA NAESARANGEUL NEOOKH… uhuk uhuk… ehem, NAENEEE ISSEOOO~!"

"GILJIN ANHEULGEOYA SEULPEUMII GAGIKKAJIIIIII~~…" Yoongi mengambil napas sebanyak-banyaknya untuk line terakhir yang bernada tinggi. "YEONGWONHEEEEEEE!"

Selesai bernyanyi, Yoongi langsung meletakkan mic di atas meja. Sedikit terbatuk, merasa sakit di tenggorokannya. Setelah itu dia hanya duduk, memasang wajah tak berdosa, menatap wajah Army satu persatu.

Suasana masih hening sampai semenit lamanya, sebelum Namjoon mengalihkan pembicaraan.

:

:


-Malamnya…


"Hiks…"

Seokjin membuka matanya. Apa itu… suara tangis…? Dia meraih ponselnya dan mengecek jam. Pukul 1 dini hari.

Oh ayolah, setan! Seokjin sedang capek sekarang! Baru selesai fanmeeting, memasak makan malam, menyiapkan Jungkook untuk sekolahnya besok, sekarang saat dia mau tidur begini, malah diganggu!

Seokjin bukan Hoseok! Dia tidak takut!

"Kh… hiks… geumanhae…"

… Oke? Rasanya Seokjin mengenal suara ini. Seokjin berbalik, memandang Yoongi yang terbaring di seberangnya.

"Hiks… mian…"

Ternyata benar, itu suara Yoongi. Apa dia mimpi buruk? Seokjin bangkit dari ranjangnya, kemudian melangkah mendekati Yoongi yang masih terlelap. Namja itu tidur melingkar seperti bola. Wajahnya pucat dengan air mata bercucuran, sementara kedua tangannya terkepal di depan dada.

"Hiks… mian… mian…"

Seokjin merasa sakit di hatinya melihat keadaan Yoongi. "Yoongiya…" panggilnya pelan sambil menepuk bahu Yoongi.

"Hiks…! Kh…! Mian… tinggalkan aku sendiri…!" Yoongi masih mengigau.

Seokjin berpikir sejenak. Dia kemudian merangkak naik ke atas ranjang Yoongi dan berbaring di sampingnya. Dipeluknya tubuh mungil Yoongi, berusaha menenangkan dongsaengnya itu.

"Ssh… Yoongi… gwenchana…"

"Hiks… geuman…"

Seokjin meringis. Jari-jari Yoongi mencengkram bahunya. Tapi dia berusaha menahannya. "Gwenchana… Yoongiya… hyung di sini…" bisiknya di telinga Yoongi.

"… Ngh… hyung…"

Kedua mata itu terbuka perlahan, menampakkan kedua manik kelamnya yang penuh ketakutan. Bibirnya bergetar, dan hanya suara serak itu yang bisa keluar.

"Hyung…"

"Hmm… gwenchana, Yoongiya…" gumam Seokjin sambil mencium dahi Yoongi. Tangannya semakin erat merengkuh tubuh mungil itu. "Tidurlah… kau baik-baik saja…"

"Hyung…"

Wajah Yoongi benar-benar terlihat tak berdaya sekarang. Penuh ketakutan dan keraguan. Air matanya masih keluar. Dan Seokjin membencinya.

"Uljimma…" bisik Seokjin. Ia kemudian mengecup jejak-jejak air mata di pipi merah Yoongi. Jiwa keibuannya bangkit. "Jangan menangis…"

Yoongi melesakkan dirinya semakin dalam ke pelukan Seokjin. "… Aku takut…"

Seokjin sedikit memundurkan kepalanya untuk melihat wajah ketakutan Yoongi. "… Takut…?"

"… Mereka membenciku…"

"Siapa?"

"Semuanya…" Yoongi kembali menangis. "Aku takut, hyung…"

"Ssh… tidak ada yang membencimu." Seokjin mengusap kepala Yoongi lembut, berusaha menenangkan namja pucat itu.

"Bohong… mereka membenciku…" Yoongi masih sesenggukan. "… Gay… apa gay itu salah… kh… hyung… beritahu aku…"

Seokjin menggeleng. "Aniya…"

"Bohong…" Yoongi mulai menangis lagi. "Bohong…! Hyung berbohong…!"

Seokjin tidak tahan melihat wajah Yoongi. Melihatnya lemah seperti ini membuat Seokjin membenci dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apa-apa.

"Yoongi…"

"Bohong…!"

Tanpa bisa Seokjin pikirkan lagi, tubuhnya bergerak sendiri.

Kedua tangannya menangkup wajah memerah Yoongi, sementara wajahnya perlahan mendekat.

Satu kecupan itu Seokjin berikan pada bibir cherry Yoongi. Mengecupnya lama, sebelum menjauhkan wajahnya kembali. Seokjin memperhatikan wajah bingung Yoongi.

"Hyung tidak bohong." Seokjin tersenyum. "Gay itu tidak salah, Yoongiya…"

Yoongi perlahan memejamkan matanya. Tersenyum manis.

"Ngh… hyung…"

Seokjin memperhatikan Yoongi yang mulai kembali tertidur. Tampak jauh lebih damai. Bekas-bekas air mata itu masih ada, tapi tangisannya sudah berhenti. Seokjin kembali mengecup bekas air mata Yoongi.

"Malam, Yoongiya… gwenchana… kau baik-baik saja…" bisik Seokjin lagi, sebelum kembali memeluk tubuh ringkih itu dengan lembut.

Mungkin besok Yoongi akan lupa dengan apa yang Seokjin lakukan malam ini. Tapi tak apa. Itu justru bagus.

… Seokjin benar-benar tidak mengerti kenapa jantungnya berdebar begini.

Akhirnya kedua matanya ikut tertutup. Memeluk sesuatu yang begitu lembut dan empuk di sampingnya.

Seokjin akan tidur nyenyak malam ini.

… Oke. Mungkin terlalu nyenyak.

:

:

Namjoon baru saja terbangun dari tidurnya. Perutnya sudah menjerit-jerit minta makanan. Dia mengecek jam di ponselnya. Sudah jam setengah 7 pagi. Seharusnya sarapan sudah siap, mengingat Seokjin selalu rajin bangun jam 5 tiap hari dan membuatkan sarapan.

Namjoon keluar dari pelukan ranjang hangatnya, kemudian menyeret langkahnya ke pintu kamar. Tapi saat dia keluar dari kamarnya, tak ada bau makanan yang tercium. Bunyi orang memasakpun tak terdengar. Hal itu jelas mengundang rasa penasaran Namjoon.

Dia mendapati Taehyung, Jimin, Hoseok dan Jungkook -yang sudah berpakaian rapi siap berangkat ke sekolahnya- sedang duduk di sofa. Wajah mereka muram.

"Mana Seokjin hyung?" Tanya Namjoon heran.

"Molla, pintu kamarnya dan Yoongi hyung terkunci. Aku tidak bisa mengetuknya karena takut membangunkan Yoongi hyung." Adu Taehyung sambil mengusap-usap perut ratanya.

Jungkook mengangguk. "Aku kelaparan." Keluhnya.

Namjoon mendengus. "Masih tidurkah?"

Hoseok mengedikkan bahunya. "Entahlah."

"Umm… sebenarnya aku punya ide…" Jimin malu-malu mengangkat tangannya.

"Mwo?" balas Namjoon.

"Kita coba buka paksa pintunya… pakai ini…" Jimin mengeluarkan jepitan rambut yang dari tadi dia sembunyikan.

Hoseok merengut. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"

"Aku takut kalian menganggapku otak kriminal!" Jimin membela diri.

Namjoon memutar matanya jengah. Dia kemudian menggiring member-membernya ke depan pintu kamar Seokjin dan Yoongi.

"Tapi bukannya susah kalau kuncinya masih terpasang di lubang pintunya?" Hoseok pesimis.

"Lakukan saja! Kalian mau aku kelaparan di sekolah?!" geram Jungkook tidak sabar.

Jimin mengerang. "Arraseo! Kucoba…" dia berlutut di depan pintu, kemudian dengan terampil mulai mengutak-atik lubang kunci dengan jepitan rambutnya. "Keras… kuncinya masih terpasang!"

"Dorong!" perintah Jungkook gemas.

"Haish! Enak sekali kau bicara, magnae!" Jimin frustasi. "Namjoon hyung! Ini tugasmu!"

Namjoon ber'hah?'-ria. Tapi belum sempat dia bereaksi, Hoseok sudah mendorongnya hingga jatuh terduduk di depan pintu.

"Coba, hyung! Biasanya kau jago yang beginian!" suruh Hoseok kurang ajar.

Namjoon menggerutu, tapi tangannya bergerak meraih jepitan rambut yang masih terpasang di lubang kunci. Baru juga satu dua gerakan, bunyi klik sudah terdengar.

"Bagus! Lubang kuncinya jadi rusak! Benar-benar dewa perusak!" Jimin bertepuk tangan kagum.

Namjoon mendelik, tidak merasa senang sama sekali dengan pujian Jimin.

Jungkook tanpa peduli langsung membuka pintu kamar yang sudah terkena sentuhan emas Namjoon.

Pintu kamar terbuka, menampakkan suasana gelap dan sepi.

"Hyung…?" panggil Jungkook pelan. Dia melirik ranjang Yoongi, dan terkejut. Member lain di belakangnya ikut terperangah.

Seokjin tertidur di ranjang Yoongi. Memeluknya proktektif, sementara Yoongi tampak sangat imut dengan kedua matanya yang terpejam.

'Sialan.'

Namjoon seakan bisa mendengar suara hati para dongsaengnya.

Jungkook dengan cemberut mendekati Seokjin, lalu menampar kepalanya –tidak terlalu keras.

Seokjin menggeram. "Mwo… magnae kurang ajar…"

"Jangan berisik, Yoongi hyung masih tidur!" Jimin memperingatkan.

Seokjin mengernyit. "Tumben kalian sudah bangun…"

"Kau yang tumben, hyung!" Hoseok mendengus. "Sudah jam setengah 7."

Seokjin mengerjap-erjapkan matanya sejenak. Sebelum melotot. "JA- hmph!" Jimin dengan sigap membekap mulut Seokjin. "Yoongi hyung masih tidur!" ulangnya lagi dengan suara pelan.

Seokjin mengangguk paham. Dengan hati-hati dia memindahkan lengannya dari tubuh Yoongi, kemudian mengikuti member lainnya keluar kamar.

Setelah menutup pintu kamar, Seokjin bernapas lega.

Namjoon cemberut. "Kenapa kau bisa tidur dengan Yoongi hyung?" tanyanya minta penjelasan.

Jimin dan Taehyung mengangguk. Ikut minta penjelasan.

"Ahh… tadi malam Yoongi bermimpi buruk, makanya aku menemaninya…" Seokjin menggaruk tengkuknya gugup.

Jungkook memicingkan matanya, curiga. "Apa terjadi sesuatu…?"

Pats

Semua member memperhatikan wajah Seokjin yang merah padam.

"Yak! Apa yang terjadi?!" Namjoon berseru panik.

Hoseok ikut megap-megap. "Kau tidak memperkosanya 'kan?!"

BLETAK

"Auh!"

"Jangan katakan itu!" marah Jimin panik setelah menabok Hoseok. "Apa yang kau lakukan padanya, hyung?!"

Seokjin ikutan panik. "Aniya aniya! Aku tidak memperkosanya! Kalau mahasiswa namanya ngekos!"

"Kau masih bisa melakukan lelucon?!" Taehyung menggoncang-goncang bahu Seokjin, frustasi.

"Jawab, hyung!" tuntut Jimin tak sabar.

Seokjin memalingkan wajahnya yang sudah merah padam. "M-mungkin… aku sudah… menciumnya…"

"HAH?!"

"Ani! Ani! Jangan salah paham!" Seokjin makin panik. "Kalau salah lahan namanya sengketa!"

"Hentikan itu!" bentak Namjoon, muak dengan lelucon tidak jelas Seokjin. "Apa maksudmu kau menciumnya!?"

Seokjin hanya mengerang, tidak bisa menjawab.

"K-kau tidak menciumnya di bibir 'kan…?" Hoseok menatap Seokjin horor.

Seokjin memalingkan wajahnya.

"APA?!"

PRANG

"BERISIK!"

Hening seketika. Bunyi pecahan barang dan jeritan murka terdengar dari dalam kamar. Dan itu tidak bagus.

Semua berpandangan. Dengan perlahan mereka melangkah menjauhi pintu kamar, dan berkumpul di kamar Jungkook yang terletak paling jauh.

Di dalam kamar, Jungkook segera mengambil posisi duduk di ranjangnya.

"JELASKAN." Geram Jungkook dengan nada sedingin es. Lihat posenya, duduk dengan angkuhnya sambil bersidekap.

Seokjin yang duduk bersimpuh di lantai hanya menunduk. Tak menjawab.

Sementara member lain yang ikut duduk di ranjang Jungkook sudah melempar tatapan menghakimi.

"Itu kejahatan! Mencium orang tanpa izin!" Taehyung menunjuk-nunjuk Seokjin kesal.

"Iya! Dasar mahluk kotor!" Jimin mengompori.

"Kasihan Yoongi hyung! Dicium seenaknya!" Hoseok ikut berkomentar.

"DIAM!"

Semua mingkem karena bentakan magnae mereka.

"JELASKAN."

Jungkook benar-benar terlihat seperti akan membunuh Seokjin sekarang.

Seokjin meneguk salivanya susah payah. "A-aku juga tidak mengerti… badanku bergerak sendiri… aku benar-benar benci melihatnya menangis seperti itu…"

Jimin mengernyit. "Yoongi hyung menangis?"

Seokjin mengangguk. "Dia mengigau, bilang semua orang membencinya… dia takut… saat aku bilang tidak ada yang membencinya, dia mengataiku pembohong… dia juga bertanya apa gay itu salah…"

Suasana hening.

Tapi Hoseok memecahkannya. "Tapi bukan berarti kau bisa menciumnya!" ujarnya sewot.

Namjoon mengangguk. "Benar kata Hoseok!" terlihat kesal juga.

Wajah Seokjin merah padam. "Y-yak! Kenapa kalian malah marah sih?! A-aku 'kan hanya menciumnya! Wajar sesama saudara!" Seokjin kembali mencoba membela diri.

"TIDAK WAJAR SAMA SEKALI!" pekik Jimin murka.

"IYA!" semuanya ikut berteriak kesal.

… Kemudian hening.

Semuanya mulai tersadar.

'… Kenapa aku bisa semarah ini…?'

Semuanya merenung dalam diam.

Sebelum Jungkook tanpa sengaja melihat jam.

"AAAAAAAAAAAHHHH! AKU TELAAAAT!"

:

:

Jimin duduk sendirian di sofa ruang televisi. Jungkook sudah pergi sekolah (sambil menyumpah di setiap langkahnya), Seokjin berbelanja bersama Hoseok, Namjoon ke studio bersama Taehyung, sementara Yoongi masih tidur.

Jimin masih merenungi kejadian tadi. Kenapa dia bisa semarah itu saat tahu Seokjin mencium Yoongi? Rasanya seperti ada amarah yang menguasainya. Jantungnya berdenyut menyakitkan. Dan rasanya Jimin ingin mencekik Seokjin jikasaja akal sehatnya tidak jalan.

Semuanya hanya karena Seokjin mencium Yoongi.

Jimin merengut. Apa-apaan ini… Jimin tidak mengerti.

Krieet

Jimin menoleh sambil tersenyum lebar. "Hyung~! Selamat pagi!"

Yoongi menggumam dengan mata masih tertutup. Dia melangkah lamban mendekati sofa, kemudian mendudukkan dirinya sendiri di samping Jimin.

"Tidurmu nyenyak, hyung?"

Yoongi mengangguk. "Heum…"

"Kau tidak ingat apa yang terjadi semalam?" Jimin bertanya dengan hati-hati.

Yoongi merengut. "Apa maksudmu?" gumamnya dengan suara serak, matanya masih setengah terpejam.

"Nggg… lupakan saja." Jimin cengengesan.

Yoongi menggumam. "Pinjamkan aku bahumu." Dan tanpa menunggu sepertujuan Jimin, Yoongi sudah menjatuhkan kepalanya ke bahu Jimin.

Jimin tersentak. "Uuh… kau masih mengantuk, hyung? Tidak sarapan dulu?"

Sialan! Kenapa Jimin jadi gugup begini?!

Yoongi hanya menggumam pelan.

Jimin memperhatikan Yoongi yang mulai tertidur. Pipinya merah dan rambut hitamnya terasa lembut sekali. Piyama beruangnya juga sangat manis.

Jimin tanpa sadar tersenyum.

Hyungnya ini manis sekali. Jimin jadi ingin menggigit pipinya,

… Hmm…? Ah! Apa sih yang Jimin pikirkan?!

:

:

Oke! Saatnya ke acara utama!

Jimin sudah mengumpulkan tips-tips menaklukan (cewek) tsundere dari google! Dan sekarang akan dia praktekan langsung pada Yoongi!

Yang pertama!


#1. Jangan salah paham dengan si (cewek) tsundere! Semua penolakannya hanya akting! Apa yang dia katakan, adalah kebalikannya!


"Hyung~! Aku mau buat kopi! Kau mau?" tawar Jimin dengan senyum bisnis.

Yoongi masih setengah tertidur di atas sofa. "Ngh… iya…"

"Mau berapa banyak gulanya?" Tanya Jimin lagi.

"… Aku mau yang hitam saja… tidak usah ada gula. Aku tidak suka minuman manis."

Baik. Sesuai tips dari K*skus, Jimin akan menganggap Yoongi berbohong. Sebenarnya namja itu penggila sesuatu yang manis-manis! Duh, bahkan sampai kopipun Yoongi bersikap tsundere! #salahpaham

Jimin menyiapkan kopinya dan Yoongi dengan riang. Bersiul-siul gembira –membuat Yoongi jengah. Jimin memasukkan dua sendok gula ke kopinya, sementara untuk Yoongi…

'Empat sendok pasti cukup!'

Setelah selesai, Jimin membawa dua gelas kopi itu dan menaruhnya di coffe table depan sofa. "Ini hyung, masih sedikit panas. Hati-hati!" ujar Jimin manis.

Yoongi hanya mengangguk dan meraih mug dari tangan Jimin. Meniupnya sebentar, lalu mulai meminumnya. Jimin menatapnya penuh harap.

PWEH

"PARK JIMIN KAU MAU MEMBUNUHKU?!"

PLAK

"ADUH!"

:

:

Oke, tips pertama salah. Yoongi tidak selalu berbohong. Jimin akan mencatatnya nanti. Yaya, Jimin pantas mendapatkan tamparan itu.

Oke, move on!

Sekarang tips kedua!


#2. Perhatian dan detail pada hal-hal kecil!


"Hyung~!"

Yoongi bergidik mendengar suara manja Jimin. Dia menoleh, menghentikan kegiatannya di ranjangnya, browsing internet. "Mwo?" balasnya jutek.

"Hyung lagi ngapain~?" Jimin melompat ke samping Yoongi, ikut berbaring di ranjangnya.

Yoongi mendelik. Lancang juga bocah ini.

"Kau buta?! Pergi sana!" usir Yoongi kesal. Tidak suka personal spacenya diganggu seperti ini.

Jimin cemberut. "Ayolah hyuung~~!"

Yoongi ngedumel, memutuskan untuk tidak memperdulikan Jimin. Palingan anak itu akan bosan dan pergi sendiri.

"Hyung~! Bagaimana kabar pekerjaanmu?"

"…"

"Aku ingin mendengarmu main piano~!"

"…"

"Hari ini cuacanya cerah~!"

"…"

"Makanan buatan Seokjin hyung enak sekali~!"

"…"

"Rambutmu tambah panjang, hyung~!"

"…"

"Hyung, BABmu lancar tidak?"

"PARK JIMIN!"

:

:

Oke, mungkin terlalu perhatian juga tidak bagus. Lanjut saja kalau begitu.


#3. Rayuan gombal. Khusus untuk ini, agan harus bisa pasang muka badak!


"Hyung."

Yoongi menghentikan kegiatannya meminum kopinya. (dia buat ulang) "Mwo?"

Jimin berdiri di sana, dengan gagah perkasa dan wajah super serius.

"Kopiku pahit. Tapi melihat wajah hyung, entah kenapa jadi terasa manis."

Oke… sepertinya otak Jimin sedikit bergeser.

:

:

"Hyung."

Yoongi mendelik. Perasaan bocah ini dari tadi mengganggunya terus. "Heh?"

"Hyung gak capek?"

Yoongi mengernyit. Capek? Perasaan dari tadi Yoongi tidur-tiduran. Apa Jimin mengejeknya? "Capek kenapa?"

"Soalnya hyung dari tadi lari-lari di pikiranku."

Yoongi menatap Jimin.

Jimin sudah pasang muka badak.

:

:

"Hyung, boleh minta foto hyung, gak?"

Anak ini lagi.

Yoongi sudah menatapnya seakan melihat aib dunia. "Mau apa kau?"

"Soalnya aku mau memperlihatkan ke semua orang, bahwa malaikat itu ada."

Yoongi ingin muntah, tolong.

:

:

Yoongi sedang duduk santai di sofa, menonton televisi, ketika Jimin melompat ke hadapannya, terlihat panik.

"Hyung! Jangan duduk terlalu lama di situ!"

Yoongi menggeram. "Apa maumu?!"

"Kalau kelamaan di situ, hyung bisa dikerubutin semut!" jelas Jimin dengan wajah watadosnya. "Hyung 'kan mani-"

BUAGH

"MINGGIR!"

:

:

"Hyung! Hyung itu rex*na ya?"

"Hah?"

"Karena hyung setia setiap saat!"

Kurang ajar, disamakan dengan deodorant.

:

:

"Satu-satuu Jimin sayang Yoongi!"

Yoongi menatap Jimin bosan.

"Dua-dua Jimin tak menduaaa!"

Hah?

"Tiga-tiga paling sayang Yoongi! Satu dua tiga! Sayang tak terhingga!"

"HENTIKAN ITU!"

:

:

Oke. Sepertinya Jimin jadi terlalu agresif.

Selanjutnya…

Jimin mengecek ponselnya. Ah, ada yang Jimin lupa baca…


#4. Jangan bego. Jangan ikutin list ini bulat-bulat. Dipikir-pikir dulu. Salah langkah sedikit, si (cewek) tsundere bisa membencimu!


… Ah…

Jimin melirik Yoongi. Sementara Yoongi sudah bersembunyi di dalam selimutnya. Dia dalam pose waspada dengan wajah tegang plus mengancam.

Trauma.

Sepertinya Jimin kelewatan…

Jimin melangkah mendekati Yoongi. "Hyung…"

Yoong mendesis –persis kucing. "Mau apa kau?!"

Jimin sudah memasang wajah 'anak anjing yang tertendang'nya. "Hyung membenciku ya…?"

Yoongi mengernyit, masih waspada. "Heh?"

Jimin duduk di pinggir ranjang, tepat di depan Yoongi. Masih memasang wajah sedihnya. "Aku sudah membuat hyung marah ya…?"

Yoongi mengkeret di tempatnya. Merasa sedikit bersalah melihat wajah melas Jimin.

Dia berpikir sejenak. Sesungguhnya Yoongi punya hak mutlak untuk marah pada Jimin karena HELL DIA SEDARI TADI MENGGANGGUNYA! Tapi melihat wajah Jimin… ah… Yoongi masih punya hati.

"Ani. Hyung tidak marah." Tangan Yoongi terangkat dan mengelus surai Jimin. Membuang muka.

Jimin menatapnya. "Sungguh?"

Yoongi mengangguk. "Tapi tadi kau memang keterlaluan. Berhentilah bersikap aneh begitu."

Jimin mengernyit. "Aneh?"

Yoongi menggeram. "Dari tadi kau bersikap seakan-akan sedang PDKT padaku!"

Jimin cengo sejenak. Tapi wajahnya seketika berubah jadi merah –sayang Yoongi tidak melihatnya. "H-hah? Aku terlihat seperti itu?!"

Yoongi mendengus. "Sebenarnya kau kenapa sih?"

Jimin menyodorkan ponselnya pada Yoongi, membuat hyungnya itu meliriknya. "Aku… menggoogle cara menaklukan tsundere…" gumam Jimin, menunjukkan situs K*skus.


CARA MENAKLUKKAN CEWEK TSUNDERE UNTUK PEMULA


Itu judulnya.

HAH?!

"WTF PARK JIMIN?! ITU UNTUK YEOJA!" bentak Yoongi berang. "LAGIPULA APA MAKSUDMU?! MENAKLUKKAN?! KAU KIRA AKU MONSTER?!"

Jimin memainkan jarinya, gugup. "A-aku maksudnya… uh…"

"MWO?!"

"A-aku ingin bisa dekat denganmu, hyung!" teriak Jimin akhirnya.

Yoongi mengernyit. "Hah?"

"Aku… ingin dekat denganmu…" gumam Jimin. "Aku mudah dekat dengan orang lain, hyung… hanya dengan senyuman dan sapaan ramahku saja, mereka sudah langsung menyukaiku… makanya saat bertemu denganmu aku bingung… kau susah sekali kudekati… akhirnya aku tahu kau orang tipe tsundere… makanya aku menggooglenya… aku ingin tahu cara-cara dekat denganmu…"

Yoongi memandangnya tak percaya.

"Mian, hyung…"

Yoongi mendengus. Jimin tak bermaksud buruk, tapi tetap saja!

"Gwenchana." Yoongi menepuk pelan kepala Jimin. "Kalau kau mau dekat denganku, kau tidak perlu bersusah payah menggooglenya. Cukup lakukan seperti biasanya. Hanya saja kau harus melakukannya sedikit lebih lama." Yoongi tersenyum manis. "… Aku mulai menyukaimu, kok."

Jimin membelalak. "Kau menyukaiku, hyung?!"

Yoongi loading sejenak, wajahnya sontak memerah. Dia langsung menjauhkan dirinya sambil mengibas-ngibaskan tangannya panik. "A-ani! Maksudku bukan suka yang seperti itu! Jangan khawatir!"

Jimin terdiam. Tapi senyum cerah mulai mengembang di wajahnya yang juga memerah. "Aku juga menyukaimu, hyung…" dia melemparkan dirinya untuk memeluk Yoongi.

"Y-yak!"

"Kau membiarkan Taehyung memelukmu berjam-jam." Gumaman Jimin membuat Yoongi terdiam. "Jadi tidak apa-apa 'kan kalau aku memelukmu sejam saja?"

Yoongi semakin panik.

"Hyung?"

"… Hahh…" Yoongi benar-benar merasa lelah. "Ya sudahlah."

Jimin tersenyum girang. Dia dengan lembut membawa Yoongi untuk duduk di pangkuannya. Dia lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yoongi. Menghirup aroma manis itu, sedikit lebih lama.

Dan Jantung Park Jimin seperti akan meledak sesaat lagi.

"… Kau hangat, hyung…"

:

:


-Beberapa hari kemudian…


Hoseok mendengus. Dia diminta Namjoon untuk berkumpul ke studio, padahal hari ini dia ingin tidur-tiduran di kamarnya. Tapi ya sudahlah, Hoseok harus professional.

Dia membuka pintu studio, dan terkejut saat melihat Yoongi yang sedang duduk manis di sofa. Wajah hyungnya itu tampak sangat serius –membuat Hoseok gugup.

"U-uhh… hyung? Gwenchanayo?" sapa Hoseok ragu sambil menutup pintu studio.

"Aku tidak sedang baik-baik saja."

Hoseok meneguk salivanya dengan susah payah. Dimana Namjoon saat sedang dibutuhkan begini?!

"K-kenapa?" Hoseok memberanikan diri duduk di samping Yoongi.

Yoongi tidak merespon. Dia menatap lurus ke depan sementara mulutnya mengeluarkan makian-makian pelan yang nyaris terdengar seperti bisikan.

Uh oh. Hyungnya benar-benar marah besar!

Hoseok diam di tempatnya, tak mau membuat Yoongi membentaknya.

Lama, Namjoon benar-benar kurang ajar.

Sesekali Hoseok melirik Yoongi, hyungnya itu masih rajin memaki.

Suara hati Hoseok berteriak-teriak, menyuruhnya melakukan keahliannya, membuat orang tertawa. Sementara akal sehatnya menjerit menyuruh Hoseok melihat kondisi wajah Yoongi dan bertanya apa dia mau mati. Hoseok benar-benar merasa akan gila sebentar lagi.

"F*cking wh*re. Dia pikir dia siapa?! Sok tahu. Masih bau kencur juga."

Hoseok merasa aura Yoongi semakin mengerikan tiap detiknya. Dia harus melakukan sesuatu sebelum terjadi hal yang lebih buruk lagi.

"Hyung!"

Yoongi menoleh ke arahnya, wajahnya seakan baru saja melihat seseorang yang membunuh ibunya.

Hoseok mengkeret. Mulai memikirkan keputusannya, menimbang apa yang dilakukannya sudah benar. Tapi sepertinya Hoseok tidak bisa lama merenung, karena tatapan Yoongi semakin lama semakin mengerikan.

"H-hyung tahu sesuatu… eh… api di atas, salju di bawah?!"

Yoongi sudah memasang wajah 'WTF'-nya. "Hah?!"

"Lilin, hyung!" lanjut Hoseok cepat. "Lilin! Api di atas, salju di bawah!"

Yoongi loading. Hoseok dag-dig-dug menunggu responnya.

Tak lama, wajah Yoongi tampak lebih baik. Masih merengut, tapi pandangannya sudah lebih baik.

Oke! Hoseok can do this!

"H-hyung! Tangga apa yang tidak bisa dinaiki?"

Yoongi tampak merenung. "Tangga…?"

Lama, sampai akhirnya dia menatap Hoseok lagi. Menyerah.

Hoseok pura-pura memasang wajah kesal. "Ayolah, hyung! Masa hyung tidak tahu?!" dengan refleks, Hoseok menampol bahu Yoongi.

Lumayan keras.

Uh oh.

"TANGGA NADA HYUNG!" jerit Hoseok tepat saat tangan Yoongi terangkat hendak mencekiknya. "TANGGA YANG TIDAK BISA DINAIKI! TANGGA NADA!"

Yoongi cengo sejenak, namun dia mulai tertawa kecil.

Hoseok bernapas lega saat tangan Yoongi kembali turun.

"Hyung!" panggil Hoseok.

Yoongi menoleh menatapnya.

Hoseok memasang wajah lucu, menggembungkan pipinya, lalu menangkup wajahnya sambil memasang ekspresi terkejut –persis anak kecil di Home Alone.

Yoongi mulai tertawa lepas. Tidak mengerti kenapa Hoseok mendadak bertingkah begini, tapi Yoongi tak bisa menahan tawanya. Mungkin satu-satunya member di BPB yang bisa membuat Yoongi tertawa seperti ini hanya Hoseok.

Hoseok tersenyum. Dia senang bisa membuat hyungnya itu tertawa. Terlebih, Hoseok bisa menyaksikan tawa itu. Tawa Suga yang manis.

Sepertinya perjuangannya melewati tantangan beresiko ini berujung manis.

Hoseok masih tetap melancarkan serangan-serangan aegyo(?) dan leluconnya, membuat Yoongi tertawa semakin keras. Dia bahkan hampir terjungkal sambil memegangi perutnya.

Hoseok memperhatikan wajah Yoongi. Dadanya menghangat. Rasanya bahagia sekali bisa membuat hyungnya tertawa.

Yoongi masih tertawa. Dia bahkan mulai mencondongkan tubuhnya kepada Hoseok, mengistirahatkan tangannya di paha Hoseok.

ALERT ALERT

Suara hati dan akal sehat Hoseok menjerit secara bersamaan.

Hoseok bisa merasakan tubuhnya berhenti beroperasi. Jadi yang dia lakukan hanya membeku, melotot menatap Yoongi yang sepertinya tidak sadar.

DEG

DEG

BUNYI APA ITU!?

BRAK

"HYUNG! AKU SUDAH- He?"

Hoseok menatap pintu studio yang dibuka kasar. Menemukan si biang kerok, Namjoon. Entah Hoseok harus berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkannya dari situasi berbahaya ini, atau harus marah karena sudah mengganggunya dengan Yoongi.

… Hmmm…? Mengganggunya dengan Yoongi?

Hoseok mengernyit, bersidekap sambil memiringkan kepalanya. Bingung.

Memangnya Yoongi dan dia ngapain? Pacaran? Kenapa dia harus marah?

Heh…?

"Namjoon. Kau lama."

Hoseok melirik Yoongi yang sudah meluruskan posturnya. Uh oh. Ekspresi pembunuh itu kembali lagi. Rasanya sedikit menyebalkan. Hoseok sudah berusaha keras membuat Yoongi tertawa –mempertaruhkan hidupnya, dan Namjoon dengan mudahnya datang dan membuat mood Yoongi buruk lagi.

Namjoon menggaruk tengkuknya. "Mian, hyung…"

Yoongi mendengus. "Bagaimana?"

"Aku sudah mendapatkan datanya."

Hoseok hanya memandang mereka bingung. "Umm… maaf…? Bisa tolong jelaskan padaku apa yang sedang terjadi?"

Namjoon nyengir. "Oh ya. Maaf, Hobi!" dia mendudukan dirinya di antara Yoongi dan Hoseok –membuat Hoseok mendelik. "Begini… kau tahu kemarin aku dan Yoongi hyung ke tempat interview 'kan?"

Hoseok mengangguk.

"Di tempat itu juga ada beberapa rapper lain. Dan…" ekspresi Namjoon mendingin. "… Beberapa dari mereka… menggangguku… terlebih B Free. Entah kenapa rasanya dia seperti menghina kita… rasanya aku sudah ingin memukul mereka, untung saja Yoongi hyung mengambil alih. Tapi aku tahu Yoongi hyung juga sangat marah. Jadi saat perjalanan pulang, Yoongi hyung mengusulkan cypher."

Hoseok mengernyit. "Cypher?"

"Basically, it's a diss rap."

Hoseok Cuma mengiyakan agar cepat selesai. "Jadi untuk itu kau mencari datanya?"

"Menghina juga harus pakai fakta. Kau tidak mau kita dikatakan idiot 'kan?" Yoongi yang menjawab. Ekspresi wajahnya tak membaik.

Hoseok mengangguk. "Umm… lalu aku ngapain?"

Yoongi menatapnya seakan-akan Hoseok baru saja berteriak bahwa dia alien.

"Kau rapper BPB, babbo!"

Hoseok merengut.

Namjoon berupaya menenangkan. "Sudahlah, untuk sekarang kita buat liriknya saja dulu."

Yoongi menggeleng. "Lebih baik kita menentukan beatnya dulu."

Namjoon berpikir sebentar, sebelum mengangguk. "Apa kau punya ide, hyung?"

Yoongi mendengus. "Aku sudah membuat basenya." Dia meraih ponselnya kemudian memutar sebuah lagu. "Apa kau bisa menyempurnakannya?"

Namjoon manggut-manggut, mendengarkan beat Yoongi dengan seksama. "Kurasa ada beberapa bagian yang bisa dipercepat."

"Kalau begitu tunggu apa lagi?" Yoongi berdiri. "Ayo mulai bekerja!"

:

:

Beat mereka sudah selesai. Sekarang mereka harus membuat lirik sesuai beat tersebut.

Hoseok merasa akan mati sebentar lagi.

Hell, ini pertama kalinya dia membuat lirik lagu begini! Biasanya dia hanya mengarang lagu secara spontan untuk dia nyanyikan, tapi itu Cuma untuk senang-senang! Bukannya untuk album begini!

Bagaimana kalau fans membenci rapnya?

Bagaimana kalau fans membenci liriknya?

Bagaimana kalau fans membencinya?

"… Ak!"

Bagaimana kalau haters BPB semakin banyak gara-gara dirinya?

"YAK!"

"HWAAAH!" Hoseok terlonjak dari kursinya. MIN YOONGI! DIA MAU HOSEOK KENA SERANGAN JANTUNG APA?!

"Kenapa mukamu?" Yoongi mendelik kesal.

Hoseok menggerutu dalam hati. "A-ani, hyung… aku baik-baik saja." Gumamnya.

Dan jelas sekali dia berbohong.

Yoongi memicingkan matanya, menatap Hoseok tajam. Yang ditatap berusaha mengalihkan pandangannya. Kemana saja asal bukan ke arah Yoongi. Yoongi terlihat terlalu menyeramkan untuk jantungnya yang lemah.

"Kau pasti meragukan dirimu!"

Bullseye.

Hoseok membelalak. "A-apa…"

Yoongi mendesah tak percaya. "Yak, Jung Hoseok!" kedua tangannya terangkat, meremas bahu Hoseok. "Aku mempercayaimu. Kau bisa melakukannya. Kau bodoh jika memikirkan hal-hal negatif." Dia mendengus. "Padahal selalu kau yang tersenyum ceria. Berhentilah berpikir negatif!"

Hoseok membeku di tempatnya.

Yoongi menatapnya sejenak. Tangannya perlahan terangkat mengusap surai Hoseok lembut. Dia membuang muka. "Percaya dirilah, bodoh."

Saat itulah.

… Hoseok mulai bisa memahami arti debaran di hatinya ini.

:

:

Movie night~

Itulah julukan yang diciptakan Taehyung. Malam ini malam minggu, dan sesuai rencana, setiap malam minggu ke tiga dalam satu bulan, para member akan berkumpul untuk menonton film bersama.

Malam ini mereka menonton Silent Hill (mendapat penolakan keras dari Hoseok dan Jimin, tapi mendapat perlawanan yang lebih keras dari Taehyung dan Jungkook).

Hoseok benci film horror. Benci. Sudah rahasia umum kalau dia ini penakut. Penakut yang mempunyai jantung yang lemah.

Jadi kenapa Hoseok ada di sini, berbaring di antara Yoongi dan Taehyung pada karpet yang sudah digelar. Berselimutkan selimut bulu kesayangan Jimin, dan beralaskan bantal-bantal yang sudah disiapkan untuk acara spesial ini. Di samping Yoongi ada Jimin. Sementara Jungkook duduk di sofa, tepat di belakang Yoongi. Sementara Namjoon dan Seokjin ada di kiri kanannya.

Sungguh.

Kenapa Hoseok ada di sini?!

"Mau kemana kau, hyung!?" cegat Taehyung saat Hoseok hendak berdiri, kabur.

"Kamar mandi…"

"No! Aku tahu kau akan kabur! Sini! Filmnya baru saja mulai!" perintah Taehyung sambil menarik paksa Hoseok, membuatnya kembali berbaring.

Hoseok memaki dalam hati karena taktiknya ketahuan. Dia menatap layar televisi. Lagu-lagu aneh mulai terdengar. Itu baru lagu pembukanya.

Dan rasanya Hoseok akan mati sebentar lagi.

Yoongi melirik dongsaengnya itu. Wajah Hoseok benar-benar tegang dengan mata yang melotot. Yoongi tersenyum kecil. Wajah Hoseok benar-benar terlihat lucu sekali saat ini.

"Hyung~! Apa kau takut~? Aku akan melindungimu~!"

Yoongi melirik Jimin yang bergelayut manja di lengannya.

Yoongi mendengus. Padahal Yoongi tahu Jimin juga ketakutan, tapi malah sok berani begitu. Tangannya saja gemetaran.

Yah… Yoongi menghargainya. Sayang sekali Yoongi bukan tipe yang mudah takut dengan hal-hal beginian. (atau begitulah menurutnya)

"Sssh! Aku mau nonton!" marah Seokjin pelan, melahap popcorn buatannya.

:

:

Film mulai menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Dan Hoseok membenci setiap detiknya.

"AAAHH!"

"ANIYAAA!"

"GYAAAH!"

"THIDAAAKHH!"

"STAHB ITH!"

Hoseok menjerit-jerit heboh. Jungkook mulai berpikir untuk menyumbat mulut hyungnya itu dengan sepatu sekolahnya.

"Hyung! Kau berisik!" marah Taehyung, tidak senang acara nontonnya diganggu.

"Iya! Dan ngapain kamu nempel-nempel ke Yoongi hyung?!" Jimin sewot.

Hoseok sudah bersembunyi di ketiak Yoongi. "M-mi-mi-mian hyung…" dan dengan kurang ajarnya menyeka ingusnya di piyama Yoongi.

Tapi Yoongi masih diam. Lurus menatap adegan-adegan menyeramkan di hadapannya. Semua mengernyit. Padahal mereka kira Yoongi akan memaki dan menendang Hoseok menjauh.

"Hyung?" panggil Jimin, mulai cemas.

"Kau tidak kerasukan 'kan?" sambung Namjoon tegang.

Hening.

Jimin tiba-tiba memekik. "Yoongi hyung nangis!"

"H-hah?!"

"H-hyuung! Gwenchanayo?!"

Hoseok panik. Dan Hoseok yang sedang panik tidak bisa berpikir jernih.

Dengan segala kekalutannya, dia melompat ke atas Yoongi dan menangkup wajah hyungnya. Tanpa peringatan dia langsung menempelkan mulutnya ke mulut Yoongi –bermaksud melakukan CPR.

"YAK!"

Jimin menarik Yoongi sementara Taehyung menendang Hoseok menjauh. Seokjin menghujani Hoseok dengan hujatan penuh kuahnya, sementara Jungkook sudah melempari Hoseok dengan remot tv. Namjoon menggerutu di tempat duduknya.

:

:

Film sudah selesai.

Nampak Yoongi dan Hoseok yang sudah berpelukan dengan tubuh gemetaran di lantai.

Trauma.

"Hyuungg? Gwenchanayo?" Tanya Jimin cemas sambil mengusap kepala Yoongi dan Hoseok.

Yoongi masih sesenggukan, sementara Hoseok sudah banjir air mata.

Jungkook menyeringai. "Aku baru tahu kalau Yoongi hyung takut begituan."

Yoongi mendelik ke arahnya. "A-aku tidak takut!" bantahnya.

Jungkook memutar matanya jengah. "Yaya. Tentu saja."

Yoongi mengirim tatapan membunuh sekilas ke arah Jungkook (dan malah terlihat manis dengan air mata dan pipi memerahnya). Dia kemudian kembali menenggelamkan wajahnya pada dada Hoseok.

"Hyuuungg… aku takuuutttt…" rajuk Hoseok, masih menangis.

Yoongi menguatkan cengkramannya pada punggung Hoseok. "B-berisik!"

Hoseok menelusupkan wajahnya di ceruk leher Yoongi. Diam-diam tersenyum.

… Ya. Dia sudah menyadarinya.

"Yak! Mau sampai kapan kalian berpelukan?" dan seruan Namjoon itupun mengakhiri kebahagiaan tersembunyi Hoseok.


TBC


Halo!^^ saya kembali lagi. Maaf lama, semoga readerdeul tidak lupa dengan jalan ceritanya^^ chapt ini 4800-an words… selain karena saya keenakan ngetik, sekalian nebus keterlambatan saya. Heheeh^^ Soal yang cara menaklukan tsundere itu... saya beneran googling... dapat K*skus... tapi kata-katanya saya ubah sedikit supaya tidak bingung^^

Oke, chapter ini fokusnya ke Jimin dan Hoseok. Saya harap readerdeul suka ya, soalnya pas ngetik ini saya senyum-senyum sendiri^^" btw, saya mereview ulang chapt lalu saya, dan saya sadar, part JinGanya emang sedikit… maaf ya.. semoga suka dengan tambahan JinGa di atas^_^

Sekalian, di chapt ini mereka mulai sadar dengan perasaan mereka. Saya senang~!^^

Chapter depan ada Jungkook dan Namjoon. Dan… ada sedikit plot twist(mungkin?). semoga masih ditunggu^^

Terima kasih atas review yang sudah masuk!^^ rasanya senang sekali. Capek dengan tugas kuliah, tapi rasanya saya jadi lebih semangat saat membaca review yang masuk!^^ saya mulai mengerti kesenangan menjadi author!^^

Ah, tapi saya masih pemula, jadi mohon maaf jika ada kesalahan dalam cerita maupun ucapan saya.

P.S. Yoongi manis sekali di MV DNA…(/QMQ)/

Baik, sekian dulu, saya harap readerdeul masih sabar menunggu.

Terima kasih banyak! Semoga bisa menghibur^^

-Siwgr3_/25-9-2017/