Uri Sarangseureoun Seoltangie
.
Chapter 7: Jungkook And RM
.
A BTS Fanfic
.
SUGA!Centric
.
©Siwgr3
.
Cast: BTS, Other
.
Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D
.
Other Cast: BTS Member, Other
.
Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga
.
Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family
.
Rated: T
"Kookie! Bangun! Sarapan!"
Jungkook membuka matanya, membiarkan Seokjin melihat wajah mengerikan khas baru begadangnya. "Argh… hyung…" erangnya karena jari jempol Seokjin yang menekan pergelangan kakinya. Sepertinya Seokjin sedang mencoba metode pijat pada Jungkook.
Seokjin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau begadang ya? Padahal sudah tahu hari ini kau sekolah!" omelnya khas ibu-ibu.
Jungkook kembali mengerang. Tak suka menyambut paginya dengan suara omelan Seokjin yang begitu berisik. Kepalanya sakit hasil begadang main game semalaman. Dan pijatan Seokjin sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik.
"Kookie! Bangun!"
"Yaaa, hyung…" gumam Jungkook sambil mendudukkan dirinya. "Ugh… aku merasa sakit. Hyung, bisa ijinkan aku hari ini?" Jungkook mencoba peruntungannya.
"BANGUN!"
Dan hanya erangan kesal Jungkook yang terdengar dari dalam kamarnya.
:
:
Semua member sudah lengkap berkumpul di meja makan. Kecuali satu orang.
"Yoongi belum bangun?" Seokjin melepas celemeknya. Wajahnya tampak khawatir. "Apa dia pulang malam?"
Namjoon menggeleng. "Tadi malam aku berhasil membujuknya pulang bersama. Dia sudah di tempat tidur dari jam 10."
Seokjin mengangguk. "Kalau begitu aku akan membangunkanny-"
"Aku saja!" Hoseok berdiri. Dan tanpa menunggu jawaban Seokjin, dia sudah berlari ke arah kamar Yoongi.
Jungkook memicingkan matanya tak suka. Tingkah Hoseok jadi aneh belakangan ini. Jungkook beberapa kali menangkap basah namja kuda itu mencuri pandang ke arah Yoongi. Dia juga sudah lebih sering nongkrong bareng Yoongi, entah itu di studio atau saat Yoongi sedang santai di ruang televisi. Padahal dulu Hoseok selalu merasa takut dan canggung setiap berada di dekat Yoongi.
"Hoseok hyung belakangan ini aneh."
Jungkook melirik Taehyung. Alien itu baru saja menyuarakan pikirannya.
"Humm… dia jadi lebih nempel ke Yoongi hyung." Jimin mengerutkan wajahnya, tak suka.
Seokjin bersidekap. Wajahnya terlihat kesal. "Aku juga menyadarinya."
Namjoon hanya diam. Seperti memikirkan sesuatu.
Semua menatapnya. "Hyung?" panggil Jimin.
Namjoon menhembuskan napasnya kasar. Jarinya terangkat memijit pelipisnya. "Aku hanya sedang berpikir… apa mungkin Hoseok…"
Tapi pembicaraan mereka terhenti saat suara erangan Yoongi terdengar disusul "Aduh!"-nya Hoseok. Tak lama kemudian, Hoseok dan Yoongi muncul. Kedua mata Yoongi masih terpejam, sementara tangannya dipegang Hoseok yang mengarahkan langkahnya.
"Pagi, hyung~!" Jimin memberi senyum manisnya.
Yoongi hanya menggumam pelan, membiarkan Hoseok mendudukkannya di kursi. Hoseok lalu ikut duduk di sampingnya.
"Apa yang terjadi di dalam, hyung?" Taehyung mengintrogasi.
Yoongi mengernyit. "Hah?"
"Hoseok tidak melakukan apa-apa padamu 'kan?" Namjoon melirik Hoseok.
Yoongi tampak loading, sebelum mulutnya terbuka untuk menjawab. "Dia mencubit pipiku. Jadi aku menendangnya."
Semua sontak memandang Hoseok.
Hoseok blushing. "U-uhhh, itu caraku membangunkan orang!"
"Apaan!?" Jimin tak terima.
VMin mulai melontarkan argumen-argumen yang menyudutkan Hoseok. Hoseok sendiri kewalahan menanggapinya. Dia menatap Seokjin minta bantuan.
Seokjin menggerutu pelan. "Bicaranya nanti saja. Ayo makan." Dia menyendok sepotong ayam dan ditaruhnya di piring Jungkook, kemudian Namjoon, Jimin, Taehyung, Yoongi, dan dirinya sendiri. Ayam terakhir yang paling kecil dia taruh di piring Hoseok dengan kasar.
Membuat Hoseok shock. "K-kenapa kau marah, hyung?"
"Aku tidak marah!" Seokjin membuang muka. "Cepat makan!"
Semua mulai makan. Hoseok melirik ekspresi membernya. Gelap.
"K-kenapa muka kalian begitu?"
Semua mengalihkan pandangannya, menatap Hoseok.
"Ani." Jimin memberi tatapan menghujatnya.
Yoongi di samping Hoseok ikut mengernyit. "Muka kalian sudah seperti t*i saja."
Semua merengut.
"Min Yoongi! Jaga bahasamu!" peringat Seokjin kesal.
Yoongi tak menjawab, memilih melanjutkan makannya dengan mata setengah terpejam.
Jungkook memperhatikannya. "Hyung, makanmu belepotan."
Yoongi hanya bergumam.
Tangan Jungkook terangkat mengambil nasi di pipi Yoongi. Dia menatap Yoongi lama.
Seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sampai deheman Namjoon menyadarkannya dan membuatnya menarik tangannya kembali.
… Jungkook benar-benar tidak mengerti kenapa wajahnya terasa panas.
:
:
Rencana Yoongi hari ini adalah tidur. Lagunya memang belum selesai, tapi dia tidak bisa melakukan apapun soal itu. Masalahnya belakangan ini Namjoon dan Hoseok sibuk. Yoongi 'kan butuh mereka juga. Bagaimanapun ini lagu mereka bertiga, bukan hanya lagunya saja.
B Free…
Yoongi merengut saat otaknya menyebut nama itu. Memikirkan namanya saja sudah mampu membuat Yoongi marah.
Krieet
"Yoongi?"
Yoongi menyibak sedikit selimut yang tadinya menutup wajahnya. "Ngg?"
Seokjin mendekatinya kemudian duduk di tepi ranjang Yoongi. Namja itu sudah berpakaian rapi. "Hari ini kamu tidak ada jadwal kan?"
Firasat buruk menyerang Yoongi. "… Kenapa memangnya?"
"Bekal Jungkook ketinggalan."
Yoongi mencebikkan bibirnya. "Itu salahnya."
"Hari ini dia ada jadwal olahraga. Kau tidak kasihan pada Kookie?" Seokjin mendengus tak percaya.
"Bukan begituuu…" Yoongi kembali menyembunyikan dirinya dalam selimut. Dia benar-benar sedang malas bergerak hari ini. Apalagi sekolah Jungkook tidak bisa dibilang dekat dari dorm. "Kalau kau khawatir, kau saja yang mengantarnya…"
"Aku ada jadwal pagi ini. Sudah tidak keburu. Ayolah, Yoongiya…"
Yoongi mengerang sambil kembali menutup wajahnya dengan selimut. Tapi tak bisa menolak. "Baiklaaaah…"
Seokjin tersenyum senang. Tangannya bergerak menyibak selimut Yoongi, melihat namja yang lebih muda darinya itu. Ekspresi Yoongi merengut, tapi terlihat sangat manis sekali. "Jangan cemberut begitu." Dia mencubit hidung Yoongi –mengundang erangan marah dari pemiliknya. "Arraseo, hyung pergi dulu."
Dia meraih tangan Yoongi dan mencium punggung tangannya. Setelahnya dia buru-buru kabur menghindari lemparan bantal Yoongi.
Bahkan saat sudah di luar kamarpun dia masih bisa mendengar pekikan Yoongi.
"AKU BUKAN YEOJA!"
Seokjin hanya terkekeh. Merasa senang bisa menggoda dongsaengnya itu.
'… Manis.'
:
:
Yoongi menggerutu sepanjang langkahnya turun dari bis. Dia sudah di depan sekolah Jungkook. XXX High School. Yoongi memang pernah mengantar Jungkook, sekali saat dia masih kelas 1. Tapi itu juga karena Seokjin takut Jungkook tersesat. Yoongi yang memang saat itu kurang kerjaan, akhirnya setuju mengantar Jungkook. Sepanjang perjalanan mereka Jungkook menggerutu tidak senang. Dia bilang dia sudah SMA, sudah bukan anak kecil lagi. Tapi Yoongi hanya mendiamkannya. Saat itu Yoongi benar-benar tidak tahu harus merespon apa.
Sekarang Jungkook sudah kelas 3. Waktu berjalan cepat sekali.
Yoongi melirik jam tangannya. Sudah jam istirahat. Apa Jungkook ke kantin ya? Yoongi memutuskan untuk mencari kelas Jungkook terlebih dahulu.
Yoongi menghabiskan cukup banyak waktu bertanya kesana kemari. Akhirnya kaki Yoongi berhenti di depan kelas 3-B. Yoongi melongok ke dalam, mencari-cari sosok Jungkook di antara kerumunan anak-anak sekolahan.
Beberapa kali Yoongi salpok karena menemukan satu dua namja yang cukup tampan di dalam kelas. Tipenya, tinggi dan memiliki wajah yang tegas dan manly. Tapi Yoongi tidak mau jadi pedofil. Mereka kan masih di bawah umur. Hanya melihat begini saja Yoongi sudah puas. Heheh.
"Umm, ada yang bisa kami bantu?" beberapa yeoja mendekati Yoongi –menyadarkannya dari lamunannya.
Yoongi sontak merasa gugup. Yoongi memang tidak suka bicara dengan orang asing. "Apa Jungkook ada di sini?" dia berhasil mengatakan itu tanpa terbata. Suatu kemajuan.
"Jungkook? Tadi dia keluar."
Alis Yoongi terangkat. "Apa dia pergi ke kantin?"
"Molla… tadi dia dipanggil geng Ceon. Jadi sepertinya bukan ke kantin."
"Geng Ceon?"
Yeoja-yeoja itu tampak gugup. "U-um… mereka anak-anak berandalan…"
Kedua mata Yoongi membulat. Dia terpaku sejenak –membuat para siswi di depannya gugup. Tapi akhirnya mulutnya terbuka. "… Gomawo."
Dia berbalik dan mulai berlari. Matanya menengok ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari Jungkook. Tak dia pedulikan tatapan aneh orang-orang padanya.
'Jungkook… jangan bilang dia bergaul dengan orang-orang seperti itu!' Yoongi merasa benar-benar cemas sekarang. Pikiran buruk berkecamuk di otaknya. Bagaimanapun juga Jungkook adalah dongsaengnya. Dia tidak mau Jungkook sampai terjerumus ke narkoba, pergaulan bebas atau lebih buruk lagi.
Dibully.
Kaki Yoongi membawanya ke gedung belakang sekolah. Di sini sangat sunyi… sepertinya Jungkook tidak ada di sini. Yoongi baru saja hendak berbalik pergi, saat dia mendengar suara berisik. Seperti suara tawa dan bentakan-bentakan.
Yoongi mengendap-endap di dinding, mendekati sumber suara. Dia kemudian mengintip. Ada beberapa namja tampak sedang mengelilingi seseorang yang terpuruk di tanah. Mereka memukuli dan menendangnya sambil memaki.
Yoongi memicingkan matanya. Orang yang dipukuli itu… sepertinya…
"YAK! JANGAN DIAM SAJA! DASAR LEMAH!"
BUAGH
'JUNGKOOK?!'
"YAK!" Yoongi segera berlari ke arah para berandalan itu dan mulai melayangkan tinjunya. "APA YANG KALIAN LAKUKAN, BRENGSEK?!"
Mereka terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Yoongi dan tak sempat menghindar. Satu persatu berjatuhan karena bogeman keras Yoongi. Jungkook yang masih terkapar di tanah tampak shock. "Yoongi hyung…?"
Setelah puas menghajar anak-anak sekolah kelebihan micin itu, Yoongi segera meraih lengan Jungkook dan memapahnya.
"… Hyung."
"Berhenti bicara!" marah Yoongi, tampak sangat emosi. "Grr, kenapa kau diam saja, hah?! Membiarkan mereka memukulimu seperti itu! Mereka lemah tahu! Kau lebih kuat!"
"Aku tahu."
Yoongi mendelik. "Lalu kenapa?!"
"… Aku hanya malas melawan mereka."
Yoongi memperhatikan wajah datar Jungkook. "… Yak. Berhenti bicara."
:
:
Setibanya di UKS, Yoongi dan Jungkook disambut jeritan panik Mrs. Kim, dokter di sekolah tersebut. Keadaan Jungkook memang parah, hidungnya mengeluarkan darah sementara tangannya memegangi perutnya yang ngilu.
Mrs. Kim segera membaringkan Jungkook di salah satu tempat tidur dan merawat lukanya. Yoongi hanya memperhatikan dari jauh. Bersidekap, terlihat sangat marah.
Setelah Mrs. Kim merawat Jungkook, dia bercakap sebentar dengan Yoongi, menjelaskan bahwa Jungkook perlu istirahat, dan Mrs. Kim akan ke kelasnya untuk minta izin.
Yoongi membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.
Sepeninggal Mrs. Kim, seisi ruang UKS itu sepi. Jungkook memejamkan matanya, sementara Yoongi masih memandanginya.
Akhirnya Yoongi bergerak, dan menarik kursi untuk duduk di samping ranjang Jungkook. dia meletakan bekal Jungkook di atas nakas kemudian menatap Jungkook dingin.
"Yak, Jeon Jungkook."
"Wae?"
"Jangan bodoh."
"…"
"Kalau kau membiarkan mereka merendahkanmu seperti itu lagi, aku akan menghajarmu."
Jungkook masih diam.
"Setidaknya jaga harga dirimu, bocah."
Jungkook menghembuskan napasnya kasar, sudah tidak tahan dengan ceramah Yoongi. "Apa gunanya aku melawan mereka? Toh, sebentar lagi aku lulus."
Yoongi menggeram. "Tetap saja! Kau mau membiarkan mereka memukulmu di sisa waktumu ini? Harusnya SMA penuh kenangan indah, Jeon!"
Jungkook memutar matanya jengah. "Kenangan indah? Yaya, hyung pasti punya banyak teman saat SMA, jadi hyung tidak akan mengerti dengan yang kurasakan."
Yoongi diam, tapi Jungkook melanjutkan ucapannya.
"Anak pendiam yang membosankan seperti aku ini mana mungkin punya teman."
Mulut Jungkook tidak bisa berhenti.
"Mereka melihatku seperti aku ini mahluk asing. Seakan-akan aku bukan manusia. Memangnya jadi idol itu salah? Menggelikan?"
Emosi sudah menguasainya.
"… Aku sudah tidak tahan, hyung. Aku benci sekolah ini. Aku tidak pernah punya kenangan indah sedikitpun. Rasanya seperti mau mati saja-"
"JEON JUNGKOOK!"
Jungkook sontak menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya terbuka, menatap hyungnya yang tampak marah.
Yoongi berusaha menenangkan dirinya. Dia menghela napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Setelah sedikit tenang, dia menatap Jungkook tajam.
"Gampang sekali kau bilang begitu."
"…"
"Rasanya mau mati saja?" Yoongi tertawa meremehkan. "Berani sekali kau bilang begitu di depanku."
Jungkook masih menatapnya.
"Punya banyak teman? Bocah, kukira kau sudah tahu dari tampangku," Yoongi menunjuk wajahnya sendiri. "Ini tampang orang yang sudah sering berusaha bunuh diri."
Yoongi menggigit bibirnya saat Jungkook tak merespon.
"Aku gay. Apa kau lupa?" Yoongi kembali mengeluarkan tawa pahit. "Seisi sekolah membenciku. Bahkan para guru menatap jijik ke arahku. Setiap hari aku dihina, diludahi, dipukuli."
"…"
"Tapi aku melawan." Yoongi menatap kedua manik Jungkook tajam. "Karena aku punya harga diri."
Jungkook mendengus. "Kita berbeda, hyung."
"Apa? Karena kau normal sementara aku gay?"
Sekarang gantian Jungkook yang menggigit bibirnya.
Tapi Yoongi tidak menyadarinya dan melanjutkan omongannya. "Aku gay, jadi sudah pasti aku tahan dengan hinaan. Begitu maksudmu? Bahwa aku punya alasan untuk dibully, sementara kau tidak?"
"Bukan itu maksudku, hyung."
Yoongi tersenyum kecut. "Kau tidak akan pernah mengerti, Jeon…" tatapannya menerawang, mengingat kisahnya di masa lalu. "… Saat orang yang kau cintai adalah orang yang paling membencimu."
Jungkook hanya diam, memperhatikan wajah sendu Yoongi.
"Aku sudah berusaha bertahan. Tapi setiap manusia punya batas." Yoongi menunduk. "Dan mereka sudah melewati batas."
"…"
"Aku berulangkali berusaha bunuh diri, tapi selalu gagal. Entah itu orang lain yang menghentikanku, atau pikiranku sendiri." Yoongi menatap Jungkook. "Bahkan beberapa kali usahaku hampir berhasil, tapi pada akhirnya aku dipaksa untuk kembali bernapas."
"Dan lama kelamaan, aku sadar. Aku idiot. Aku berusaha bunuh diri karena aku berpikir sudah tidak ada lagi kebahagiaanku di dunia ini. Tapi aku lupa, ada orang-orang yang menjadikanku kebahagiaan mereka. Ayah dan ibuku. Juga hyungku."
Tangan Yoongi terangkat dan mengusap pipi Jungkook yang sedikit membiru. "Jadi jangan bodoh, Kook ah." Dia tersenyum manis. "Karena kau adalah kebahagiaan orang tuamu. Juga para hyungmu."
Jungkook termenung. Kook ah… nama panggilan itu terdengar manis sekali saat keluar dari bibir Yoongi. Jungkook suka mendengarnya.
"Kau adalah kebahagiaanku juga, Kook ah."
Jungkook menatap kedua manik Yoongi. Hyungnya itu serius dengan kata-katanya. Tak ayal, sebuah senyuman mengembang di wajah Jungkook.
"Gomawo, hyung."
Yoongi mengangguk.
Jungkook meraih tangan Yoongi di pipinya, menggenggamnya lalu mencium punggung tangan sang hyung. "Kau adalah kebahagiaanku juga."
Wajah Yoongi sontak merah padam. "Y-yak! Lepaskan tanganku! Aku bukan yeoja!" desisnya panik. "Dan apa maksudmu?! Jangan ikut-ikutan!"
Jungkook terkekeh, tangannya masih menggenggam kuat milik Yoongi. "Aku tidak ikut-ikutan. Aku bicara jujur. Karena hyung, aku merasa lebih bahagia sekarang."
Yoongi memutar matanya kesal. "Kau mau membuatku muntah, hm?" Jungkook tidak membalas, hanya tersenyum cerah.
Hening beberapa saat.
"Jungkook." Panggil Yoongi.
"Hm?" sahut Jungkook, sedikit kesal karena Yoongi tidak menggunakan nama panggilannya.
"Berjanjilah kau akan melawan mereka."
Jungkook mendengus. "Hyuuung…"
"Aku serius, bocah."
Jungkook tersenyum, cukup terhibur dengan ekspresi Yoongi saat ini. "Baiklah. Dengan beberapa syarat." Yoongi mengernyit. "Pertama, panggil aku dengan nama 'Kook ah' atau 'Kookie'. Kedua, mulai besok aku ingin kau yang membangunkanku. Ketiga, kau harus membiarkanku memelukmu kapanpun aku mau. Deal?"
Yoongi menggeram. "Apa-apaan itu!? Aku menyuruhmu 'kan untuk kebaikanmu sendiri! Apa untungnya buatku coba?"
Jungkook tersenyum. "Aku yakin kau tidak mau kebahagiaanmu babak belur. Bukan begitu, hyungie~?"
Yoongi mempoutkan bibirnya, kesal. "Yaya, aku mengerti. Bocah kurang ajar." Makinya.
Jungkook tertawa. Dia kemudian menarik Yoongi untuk berbaring di sampingnya. Tanpa mengindahkan protes Yoongi, Jungkook memeluk tubuh kecilnya sambil memejamkan mata.
"Hyung… kau lebih tua dariku, tapi kenapa kau pendek sekali?" goda Jungkook tanpa membuka matanya. Sesaat kemudian dia mengaduh saat Yoongi mencubit pinggangnya.
"Jeon! Lepaskan aku!"
"Ini bagian dari syaratku, hyung."
"Tapi jangan di sekolah!" Yoongi berargumen. Hell, jika ada yang melihat, bisa saja rumor aneh menerpa mereka.
"Jadi kalau di dorm aku boleh memelukmu sesuka hati?"
"Tidak sesuka hati juga!" gerutu Yoongi. "Satu dua menitan tidak masalah."
Jungkook merengut. "Kau membiarkan Taehyung memelukmu selama empat jam lebih!" protesnya.
Yoongi mengerang karena Jungkook malah mengeratkan pelukannya. "Itu karena aku kalah taruhan!"
"Kalau begitu taruhan denganku!"
"Amit-amit! Kau pasti akan menyuruhku yang aneh-aneh!"
Jungkook memasang wajah sok terluka. "Kenapa kau sudah berburuk sangka sih, hyung? Memangnya aku akan melakukan apa?"
Yoongi memutar matanya jengah. "Menyuruhku bertingkah konyol dan memasang wajah jelek." Jawabnya asal.
Jungkook mengernyit. "Tidak mendekati sama sekali, hyung."
Yoongi ikut mengernyit. "Memangnya apa?" penasaran.
"Aku ingin kau memakai baju maid dan melayaniku. Kau juga harus tidur denganku. Sebulan penuh."
"Yak!" tangan Yoongi kembali melayang menjitak Jungkook.
Jungkook sedikit meringis tapi kemudian dia kembali tertawa kecil.
Yoongi mendengus. "Jangan harap aku akan taruhan denganmu. Never."
Jungkook tersenyum menantang. "Kita lihat saja nanti."
Hening. Yoongi sudah berusaha berontak, tapi Jungkook tetap ngotot memeluknya.
"Hyung."
"Mwo?"
"Kau empuk."
"Jadi maksudmu aku gemuk? Begitu?"
"Aniya. Jangan berburuk sangka terus dong, hyung." Jungkook tertawa renyah. "Kau empuk, enak dipeluk. Aku mengerti kenapa Tae suka memelukmu."
"Hmm…"
"…"
Yoongi mengernyit. "Yak, Jungkook, apa ada yang sakit?"
"Panggil aku Kook ah!" Jungkook mengingatkan.
Yoongi mendengus. "Yaya."
Jungkook memutar matanya kesal. "Aku tidak merasa sakit. Kenapa kau bertanya begitu?"
Yoongi menatap Jungkook –membuat magnae mereka itu tersadar betapa dekat wajah keduanya saat ini.
"Oh ya? Soalnya jantungmu berisik sekali. Aku sampai bisa mendengarnya dari sini."
Oh shit.
:
:
Tak ada yang berubah di kehidupan sekolah Jungkook. Dia datang seperti biasa. Mendengarkan ocehan gurunya. Makan bekal buatan Seokjin sendirian. dan menjauhi semua yeoja yang bisa dia lihat.
Bukannya Jungkook tidak normal atau bagaimana… rasanya dia hanya merasa takut dengan yeoja. Mereka mahluk yang menyeramkan. Membicarakanmu dari belakang tapi bersikap manis di depan. Tersenyum palsu.
Ah, anyway… semuanya berjalan normal bagi Jungkook.
Kecuali fakta bahwa dia sekarang sedang di gedung belakang sekolah, memandangi 'teman-teman'nya yang tersungkur di tanah.
"Y-yak! Sialan…! Kau akan menyesal…!" rintih 'teman'nya yang selalu memukulinya.
Jungkook merapihkan seragam sekolahnya, tersenyum miring.
"Maaf saja. Kurasa kalian sudah tidak bisa mempermainkanku lagi."
Mereka memandangnya tak percaya.
Sementara yang dipandang berbalik sambil berucap.
"Aku sudah punya janji dengan seseorang."
:
:
Taehyung baru saja pulang, ketika dia mendapati Yoongi dan Jungkook sedang berduaan di ruang televisi. Yoongi menonton tv dalam posisi dipeluk Jungkook dari samping. Sementara magnaenya itu anteng bermain game di ponselnya yang diistirahatkan di bahu Yoongi.
Taehyung kesal –walau dia sendiri tidak tahu kenapa.
"Kalian sedang apa?"
Keduanya melirik Taehyungpun tidak. Sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Taehyung semakin kesal.
"Ahhhhh! Aku capek sekali!" serunya sambil mendekati kedua membernya itu. "Hyung! Pinjamkan aku pahamu!" dan tanpa babibu Taehyung membaringkan dirinya di sofa dengan paha Yoongi sebagai bantal kepalanya.
Jungkook jelas tidak terima.
"Yak! Kalau capek, tidur saja di kamar!" perintahnya kesal.
Taehyung mendelik. "Suka-suka aku dong!"
Jungkook mencebikkan bibirnya. "Hari ini Yoongi hyung milikku!"
Taehyung sudah memasang wajah 'WTF'nya. "Apaan! Memangnya kalian pacaran?!"
Jungkook megap-megap. "A-ani! Pokoknya hari ini Yoongi hyung milikku! Pergi sana!"
"Shirreo!" kini Taehyung melingkarkan kedua tangannya di perut Yoongi –mendatangkan erangan murka dari Jungkook.
"Lepas!" Jungkook mulai merengek.
Taehyung menguatkan pelukannya. "Aniii!"
"Hyung! Usir dia!"
Jungkook bicara begitu seakan-akan Yoongi ini sejenis pokemon.
'YOONGI, I CHOOSE YOU!'
Yoongi hampir bisa mendengarnya.
"Hyuung!" rajuk Jungkook lagi –mendatangkan erangan tak suka dari Yoongi.
"Taehyung, lepas."
Taehyung sudah memasang wajah anak anjing yang tertendangnya. "Waeee? Kenapa kau menuruti Kookie, hyuunggg?"
Jungkook tersenyum penuh kemenangan. "Karena Yoongi hyung milikku!"
Yoongi memutar matanya. Jungkook ternyata memang masih bocah.
"Bahkan Yoongi hyung punya nama panggilan untukku!" Jungkook membusungkan dada, tampak bangga sekali.
Taehyung menatap Yoongi tanpa berkedip. "Apa?"
"Ayo hyung!" magnae mereka ini mulai ngelunjak. Ingin rasanya Yoongi menghajarnya… ahh… tapi Seokjin pasti akan memarahinya.
Akhirnya Yoongi menjawab dengan enggan, "… Kook ah."
Taehyung sudah menatapnya nanar. "H-hyuung…! Kalau begitu aku juga! Hyung! Panggil aku Tae! Tae, hyung! Ayo!"
Jungkook memekik tak terima. Tepat di telinga Yoongi. Dan rajukan(read: jeritan) Taehyung sama sekali tak membantu.
Yoongi tahu dia memiliki banyak dosa.
Mungkin begini cara Tuhan membalasnya.
:
:
-Beberapa hari kemudian…
Rap Line BPB sedang sibuk-sibuknya. Lagu 'Cypher' yang ditujukan untuk B-Free sudah hampir rampung.
"Ahh~! Akhirnya bagianku selesai juga~!" Hoseok meregangkan tubuhnya lega. Yoongi yang duduk di sampingnya hanya menguap.
"Kau sudah bisa pulang, Hobi. Sudah jam 11 malam." Gumam Namjoon dengan wajah mengantuk.
Hoseok mengernyit. "Kalian bagaimana?"
"Aku ingin menyelesaikan bagianku dulu…" Namjoon melirik Yoongi, mata hyungnya itu sudah setengah terpejam.
"Aku juga." Gumam Yoongi pelan.
Hoseok merangkul Yoongi saat tubuh namja itu limbung. "Aku akan di sini juga kalau begitu!" dia membantu Yoongi bersandar di punggung sofa. "Kau baik-baik saja, hyung?"
Yoongi bergumam kecil, membiarkan Hoseok membelai surainya. Rasanya nyaman sekali.
Namjoon memperhatikan mereka. Hatinya berdesir aneh.
Tapi dia masih mencari-cari apa itu.
"Sana, pulang. Kau sudah tak punya urusan di sini." Usir Yoongi dengan wajah merengut.
Hoseok menggembungkan pipinya. "Hyuuung…"
"Kami akan segera menyusul, Hobi. Partku dan Yoongi hyung hampir selesai." Namjoon tersenyum meyakinkan.
Hoseok masih tampak ragu, tapi akhirnya dia mengangguk. Bagaimanapun Namjoon adalah leadernya. "Arraseo, aku pulang duluan." Dia menoleh ke arah Yoongi. "Hyung, aku pulang duluan." Ucapnya pelan sambil mengusap kepala Yoongi pelan.
"Ngg…"
:
:
"Selesaaaiiii…" erang Yoongi tak bertenaga. Namjoon yang tadinya terkantuk-kantuk di sofa mendongak.
"Kerja bagus, hyung. Ayo pulang." Namjoon melirik jam di dinding. "Sudah jam 3 pagi."
Yoongi berdiri dari kursinya kemudian melangkah lunglai ke Namjoon. Dia kemudian mendudukan dirinya di samping namja berdimple itu.
"Pinjamkan aku bahumu sebentar."
Belum sempat Namjoon bereaksi, Yoongi sudah mengistirahatkan kepalanya di bahu Namjoon. Yoongi memejamkan matanya. Napasnya keluar masuk teratur.
Completely oblivious dengan detak jantung Namjoon saat ini.
Shit shit shit.
Namjoon melirik Yoongi. Wajah hyungnya itu dekat sekali dengannya. Dan dia bahkan tidak mengerti kenapa jantungnya berisik sekali sedari tadi.
Namjoon berusaha rileks, duh, dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk diam. Lama-kelamaan Namjoon kehilangan fokusnya, rasa kantuk terus menerus menyerangnya. Akhirnya dia ikut tertidur dengan menyandarkan kepalanya pada Yoongi.
:
:
-Dua jam kemudian…
Hoseok menatap kedua membernya penuh hujat. Sementara yang ditatap tampak masih terkantuk-kantuk.
Kedua mata Yoongi terpejam sempurna, kedua tangannya melingkar di leher Namjoon. Tak memperdulikan tatapan laser Hoseok.
Sementara Namjoon memaksakan diri membuka matanya dengan wajah merah padam karena dia tidak mengerti bagaimana caranya dia dan Yoongi berakhir tertidur berpelukan di atas sofa dengan posisi Yoongi menindih Namjoon.
Hoseok menangkap basah mereka dan dengan kejam membangunkan mereka berdua.
Tapi Yoongi tampaknya masih setengah sadar. Dia menggeram sambil mengeratkan pelukannya di leher Namjoon. Not to mention, dia duduk di pangkuan leader mereka.
Dan Hoseok tidak senang.
"Kalian bilang kalian akan segera menyusul! Tapi malah ketiduran berdua di sini!" hujat Hoseok murka.
Namjoon menggaruk lehernya. "Mm… maaf, Hobi. Kami terlalu kelelahan."
Hoseok mencebikkan bibirnya. "Bagian kalian sudah selesai?"
Namjoon mengangguk. "Tinggal diperdengarkan ke produser yang lain. Baru setelah itu kita beri sentuhan terakhir."
"Kalau begitu ayo pulang!" Hoseok sewot. "Yoongi hyung! Tidurnya di dorm saja!"
Yoongi menyusupkan kepalanya semakin dalam ke belahan leher Namjoon. Mengeluarkan rintihan kecil tatkala Hoseok menariknya. "Ngg…! Ngantuk…!"
Hoseok semakin sewot. Tanpa babibu, dia menggendong Yoongi bridal style, dan tanpa basa basi lain membawanya keluar.
Meninggalkan Namjoon yang melongo.
Sikap Hoseok memang aneh. Seakan-akan… dia cemburu.
Namjoon mengernyit. "… Cemburu…?" ah… Namjoon terlalu banyak berpikir.
Dia melirik jam dinding. Sudah jam 5 pagi.
Oh well. Meetingnya jam tiga sore. Namjoon punya waktu untuk tidur lagi.
Namjoon memijit pelipisnya. Dia terlalu capek untuk berdiri. Yah… sesekali tidur di sofa bukan hal buruk 'kan?
Namjoon kembali berbaring dan memejamkan matanya.
…
"Namjoonie…"
Kedua mata Namjoon sontak terbuka. "H-hyung?"
Yoongi menduduki perut Namjoon, menatapnya lapar. "Di sini panas…"
Namjoon membelalak. "U-uhh… mana Hobi?" cicitnya gugup.
"Hobiii…?" Yoongi mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya pada Namjoon. "Jangan membicarakan orang lain di depanku."
Kemudian Namjoon bisa merasakan bibir Yoongi menempel pada bibirnya. Melumat pelan namun penuh nafsu.
Dan Namjoon terlalu shock untuk bereaksi.
"Namjoonie…" Yoongi meluruskan posturnya untuk kemudian membuka kancing kemejanya, satu persatu, masih dengan ekspresi yang erotis –membuat Namjoon menelan ludah. "F*ck me."
Namjoon membelalak. "M-mwo?"
Yoongi menggerakan tubuh bagian bawahnya, membuat miliknya dan Namjoon bergesekkan di balik celana mereka.
Namjoon menggigit bibirnya, sementara Yoongi sudah mendesah pelan.
"So big…" bisik Yoongi sambil melempar kemejanya ke lantai. Dia kembali mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencium Namjoon. "Nghh… Joon…"
Namjoon sudah kehilangan akal sehatnya.
Dia tahu mereka sesama namja.
Tapi Namjoon adalah namja sehat yang mempunyai nafsu seks yang besar! Dan Yoongi bertingkah seksi dan erotis begitu sama sekali tidak membantu!
"F*ck!" bisik Namjoon di sela ciumannya. Dia kemudian duduk, membuat Yoongi membelalak.
Tapi keterkejutan Yoongi tidak lama karena Namjoon kembali menjamah bibirnya. Namjoon memainkan ciumannya dengan sangat ganas dan liar –membuat Yoongi beberapa kali mengeluarkan desahan kecil.
Ciuman panas itu perlahan turun ke rahang Yoongi, kemudian lehernya. Namjoon meninggalkan beberapa tanda kemerahan di leher putih itu. Memandanginya sejenak –kagum dengan keindahan hasil pekerjaannya. Bibirnya kembali bekerja turun menjamah dada Yoongi.
Yoongi menengadahkan kepalanya sementara kedua tangannya bergerak meremas surai Namjoon. "J-Joon… ah…!"
Namjoon masih bermain-main di dada Yoongi, sementara salah satu tangannya meremas bokong penuh Yoongi.
"A-ah…! Joon…! F*ck…! I need you…! Ah…! F*ck me…!"
Dirty talk Yoongi membuat Namjoon benar-benar kehilangan akalnya. Dia mendorong Yoongi hingga jatuh berbaring di atas sofa. Dia kemudian membuka sabuk celananya, memandang Yoongi dengan tatapan lapar.
"Apa yang kau inginkan, hyung?"
Yoongi memandangi gundukan Namjoon sambil menjilat bibirnya seduktif. "I want your big fat cock inside me."
Namjoon menyeringai. "'S that so? Beg for it."
"Please…" Tangan Yoongi bergerak menurunkan risleting celana Namjoon. "Your cock…"
Namjoon menyeringai. "Yeah?"
Tangan Yoongi memijit sebentar gundukan itu, sebelum mengeluarkan milik Namjoon dari sarangnya.
Kemudian mendongak menatap Namjoon dengan wajah menggodanya.
"I want your cock, daddy."
…
Namjoon membuka matanya.
Lama.
Menatap langit-langit studio. Perlahan dia melirik celananya.
… Shit.
:
:
"Kau mau mencuci celanamu sendiri?"
Seokjin memicingkan matanya. Seratus persen curiga dengan tingkah Namjoon. Namja yang biasanya malas mencuci pakaiannya sendiri itu mendadak bilang ingin mencuci celananya sendiri.
Namjoon hanya mengangguk sambil memeluk erat keranjang laundrynya –berharap Seokjin akan melepaskannya.
Seokjin memandangnya sejenak, sebelum akhirnya melepasnya ke kamar mandi.
Namjoon langsung bernapas lega. Dia bergegas ke kamar mandi dengan keranjang laundrynya. Celana bekas 'mimpi'nya tadi pagi sengaja dia letakan paling bawah agar tidak menarik perhatian.
Kamar mandi juga kosong! Ini kesempatan bagus! Namjoon buru-buru menyalakan mesin cuci.
:
:
Yoongi baru bangun, ketika dia mendengar suara ribut-ribut dari kamar mandi. Diapun mendatangi asal suara.
Dia menemukan wajah kesal Seokjin dan wajah merana Namjoon.
Saat melihat Yoongi, Namjoon entah kenapa membuang muka.
Yoongi mengernyit. Kenapa bocah ini? Apa Yoongi berbuat kesalahan?
"Ada apa hyung?" Tanya Yoongi pada Seokjin.
Seokjin mendengus. "Namjoon merusak mesin cuci!"
"Aku 'kan sudah minta maaf, hyuuunggg…" keluh Namjoon memelas.
Yoongi berdecak. Dia meninggalkan Seokjin yang masih mengomeli Namjoon. Namun tak lama kemudian dia kembali dengan perkakasnya.
"Biar kuperbaiki, hyung."
Seokjin tampak terkejut. "Kau bisa?"
Yoongi mengangguk malas.
Dia mendekati mesin cuci yang mengeluarkan suara-suara aneh itu kemudian berjongkok di depannya. Dia mengeluarkan pakaian Namjoon dari dalamnya.
Dan tanpa Namjoon sempat mencegah, Yoongi menemukan celananya.
Masih dihiasi cairan-cairan putih.
Saat itu pula Seokjin paham kenapa Namjoon bersikeras mencuci celananya sendiri.
Yoongi menoleh ke arah Namjoon, memasang wajah tengilnya. "Dasar mesum."
Wajah Namjoon merah padam. Dia buru-buru menunduk sambil memainkan jarinya gugup.
Yoongi mendengus. Dia kembali fokus memperbaiki mesin cuci tersebut.
"Aku mau membuat makan siang dulu. Namjoon! Kau tetap di sini!"
Namjoon melongo, menatap Seokjin yang sudah melenggang keluar kamar mandi.
Meninggalkan dirinya berduaan dengan Yoongi.
Bintang utama dalam mimpinya tadi.
Bagaimana Namjoon tidak gugup?!
"U-umm… mian, hyung… aku merepotkan…" cicit Namjoon sambil memainkan jarinya. Menunduk.
Yoongi meliriknya. "… Bukan masalah. Anggap saja ini permintaan maafku."
Namjoon mengernyit. "Maaf? Karena?"
"Memanggilmu leader payah dulu."
Namjoon bengong. "Tapi dulu kau sudah minta maaf, hyung… lagipula aku tidak marah kok…"
"Tetap saja."
Hening.
Namjoon masih berdiri beberapa langkah di belakang Yoongi, salting.
"Namjoon."
Namjoon terkesiap. Sialan! Haruskah Yoongi memanggilnya dengan suara serak begitu?! Namjoon 'kan jadi kepikiran soal mimpinya tadi!
"N-ne hyung?"
"Menyanyilah."
Namjoon berpikir. Mungkin dia salah dengar…?
"Hibur aku, lama-lama aku bisa mati kebosanan di sini."
Namjoon menggaruk kepalanya. "U-umm… maksudmu merap?"
"Kau tuli?" dengus Yoongi kesal. "Kubilang nyanyi."
Namjoon megap-megap. "H-hyung! Kau tahu aku payah bernyanyi!"
"Itu intinya."
Namjoon bisa melihat seringai Yoongi. Hyungnya ini jahat juga.
"Cepat nyanyi!" tuntut Yoongi tak sabar sementara tangannya masih memperbaiki mesin cuci.
Namjoon mengeluh kecil, sebelum akhirnya menyerah. Dia mulai menyanyi dengan volume kecil.
Yoongi tak puas.
"Volume up."
Hyungnya ini memang kurang ajar.
Namjoon menaikkan volumenya sedikit. Masih menyanyikan lagu Twingkle Twingkle Little Star.
"Ganti lagu. Tears."
Namjoon sudah memasang wajah memelas. "Hyunggg… itu nadanya ketinggian…"
"Apa aku kelihatan peduli?" Yoongi terkekeh. "Oh ya. Volume max."
"Hyuuunggggg…" rengek Namjoon tak senang.
"Play."
"Hyuunggg…!"
"PLAY."
Oh alright! Namjoon akan bernyanyi! Supaya baginda maharaja Min Yoongi yang agung senang!
Namjoon menarik napas kemudian menjatuhkan bomnya.
"JANINHAAAAN YEOJARAAA NAREUL YOGHAJINEUNAAAAA~~ AHAK!"
Namjoon melakukan yang terbaik.
"JAMSI NEOREUL WIHAEEE….. IBYEREUL TAEGHANGEYOAAA~~!"
"IJJINEUN MA NAESARANGEUL….. NAENEEEHH….. ISSEOOO~!"
"KIM NAMJOON TUTUP MULUTMU!"
Tak memperdulikan pekikan frustasi Seokjin dan gelak tawa para dongsaeng kurang ajarnya, Namjoon terus bernyanyi. Penuh percaya diri dan putus asa.
Dia bisa melihat Yoongi cengengesan sambil berusaha tetap fokus memperbaiki mesin cuci.
… Namjoon tidak mengerti kenapa dia berdebar saat Yoongi menoleh ke arahnya dengan gummy smilenya yang sangat langka itu.
"Ganti lagu~!"
:
:
Seharian ini begitu menyiksa bagi Namjoon.
Dia tahu dia orang yang ceroboh, dan tangan 'magis'nya sama sekali tidak membantu. Tapi mengapa? Mengapa dari semua hari harus hari ini semua 'kekuatan'nya itu keluar…?
"Yoongi hyuung! Namjoon hyung mematahkan handel pintu!"
"Yaaaa."
"Yoongiya! Bisa perbaiki kompor? Namjoon meledakannya!"
"Baik, hyuuung."
"Yoongi hyung! Joon hyung mematahkan ponselku!"
"Kau kira aku tukang servis hp?!"
"Yoongi hyung~! Ada air mancur di wastafel! Namjoon hyung pelakunya!"
:
:
:
Jadi di sinilah Namjoon. Duduk di samping Yoongi yang tampak super lelah.
"Namjoon."
Namjoon mendongak, takut-takut. "N-ne hyung?"
Yoongi sudah memasang wajah frustasinya. "Saat aku bilang melakukan semua ini sebagai permintaan maaf, bukan berarti kau bisa berkeliaran dan menghancurkan seisi dorm."
Namjoon mencebikkan bibirnya penuh rasa bersalah. "Maaf…"
Yoongi memperhatikan wajahnya. Namjoon benar-benar terlihat seperti anak anjing yang terbuang.
Yoongi masih punya hati.
"Aniya. kau tidak perlu minta maaf." Tangan Yoongi terangkat dan mengusap kepala Namjoon pelan. "Maksudku, lain kali berhati-hatilah."
Namjoon sudah menegang di kursinya. Tangan Yoongi terasa lembut sekali menyentuh kepalanya.
Sialan.
Tanpa sadar Namjoon meraih tangan Yoongi di surainya kemudian menggenggamnya.
Yoongi mengernyit. "Namjoon?"
Namjoon masih terpaku, tak berniat melepaskan tangan Yoongi sama sekali.
Tatapannya jatuh pada bibir Yoongi.
"Namjoon?"
Namjoon tak bisa menahan diri.
Tapi baru saja dia hendak memajukan wajahnya, sebuah suara menghentikannya.
"HEY YOONGI HYUNG! JOON!"
Dengan mantap, Hoseok melompat duduk di antara mereka. Masih memasang wajah tersenyum yang bercampur kekesalan yang kentara.
Namjoon bisa membacanya.
Huh. Dia sedikit sewot karena Hoseok mengganggunya. Di sisi lain dia merasa sangat lega. Hell, dia berniat mencium Yoongi! Wth?! Namjoon normal!
… Ya 'kan?
Namjoon tak bisa menahan diri saat melihat bibir Yoongi. Dia ingin bibir itu tersenyum padanya, mengeluarkan desahan erotisnya, menciumnya, memanjakan kejantanannya, memohon padanya…
Gosh… Namjoon sudah kehilangan akal sehatnya!
:
:
-Beberapa hari kemudian…
Jungkook baru pulang dari sekolahnya saat Seokjin memanggilnya untuk berkumpul di ruang televisi.
Semua membernya hadir, kecuali Yoongi.
Jungkook mengambil tempat duduk di samping Taehyung di sofa.
"Kau yakin Yoongi tidak akan pulang dalam waktu dekat?" Tanya Seokjin.
Namjoon mengangguk ragu. "Uhh… ya, hyung." Dia menggaruk tengkuknya. "Tapi kenapa kau mengumpulkan kami begini?"
Seokjin menatap Hoseok, yang ditatap mengernyit.
"Mwo?"
"Tingkahmu aneh belakangan ini."
Hoseok membelalak. "Maksudmu?"
"Kau jadi lengket sekali dengan Yoongi hyung!" Jimin cemberut.
"Apa yang kau sembunyikan?" kali ini Taehyung mendesak.
Jungkook hanya memperhatikan wajah Hoseok yang merah padam.
"A-ani! Memangnya aneh kalau aneh kalau aku ingin lebih dekat dengan Yoongi hyung?" dia terbata. "K-kalian semua kan sama saja!"
Namjoon memicingkan matanya. "Jangan mengalihkan pembicaraan."
Hoseok tampak panik di kursinya. Semua membernya menatapnya tajam –meminta jawaban. Dan Hoseok sangat benci perasaan tertekan ini. Akhirnya dia tidak tahan lagi.
"Oke oke! Kuakui! Aku sudah jatuh cinta padanya! Kalian puas?!"
Semua tampak shock dengan pengakuan Hoseok.
Hoseok cemberut. "Memangnya kalian tidak?!"
Hoseok tersenyum puas saat wajah semua membernya memerah. "Rupanya kalian sama saja~!"
Semuanya mulai megap-megap berusaha memberi argumen. Tapi tak ada kata yang keluar.
"Maksudku, Yoongi hyung terlalu manis." Keluh Hoseok memulai. "Seandainya saja dia tersenyum sedari dulu, kami pasti sudah pacaran sekarang!"
Jungkook mendelik. "Hah?!"
"Rasanya mustahil menyatakan perasaanku dalam kondisi sekarang!" Hoseok memberi alasan. "Aku sudah banyak menyakitinya… tidak mungkin dia akan menerimaku…" wajah Hoseok berubah sedih.
Hening.
Namun Namjoon memecahkannya.
"Umm… aku ada pengakuan…"
Semua perhatian sontak tertuju padanya.
Namjoon semakin nervous.
"U-uhh… Seokjin hyung, ingat insiden celanaku beberapa hari yang lalu? Saat mesin cuci rusak…?"
Seokjin mengangguk. "Kau mimpi basah."
Terima kasih atas infonya, Kim Seokjinsshi. Sungguh. Sekarang para magnaenya sudah menatapnya dengan tatapan menghujat.
"Umm… jadi pagi itu aku tertidur di sofa… saat Hoseok datang dan mengambil Yoongi hyung…"
Semua masih mendengarkan.
"S-seperti yang Seokjin hyung bilang… aku mimpi basah…"
Seokjin memicingkan matanya. "… Seolma…"
Namjoon menunduk. "Objek mimpi basahku waktu itu… Yoongi hyung…"
Hening.
Sebelum tangan Seokjin melayang dan menampar kepala Namjoon.
"Au! Hyung!" erang Namjoon.
"Dasar mesum!"
Namjoon tak bisa menebak ekspresi wajah Seokjin saat itu. Murka bercampur panik.
"Bahkan aku sendiri belum mengalaminya! Kau curang!" keluh Hoseok tak terima. Sedetik kemudian sandal Jimin melayang mengenai wajahnya. "Yak Park Jimin!"
"Jangan bicara sembarangan, hyung! Aku tidak akan membiarkan kau memimpikan Yoongi hyung!" jerit Taehyung sambil melempari Hoseok dengan bantal.
"Mulai hari ini kau dilarang tidur, hyung!" pekik Jungkook kesal. "Itu juga berlaku untukmu Namjoon hyung!"
Namjoon mengerang. "Kalian berlebihan!"
"Apanya!?" semprot Seokjin murka.
Namjoon mendesis. "Kalian bersikap seakan-akan Yoongi hyung itu kekasih kalian!"
Semua sontak terdiam di tempat.
Namjoon memandangi wajah mereka satu persatu. Dia menghela napas berat.
"So… kita semua sudah jatuh cinta padanya…?"
Dan wajah merah para membernya sudah cukup memberitahu Namjoon jawabannya.
Krieet
Semua melotot dan langsung menoleh ke arah pintu depan.
Yoongi melepas sepatunya sambil memandang mereka bingung. Wajahnya tampak mengantuk. "Ngapain kalian?"
Seokjin dalam posisi mencekik Namjoon sementara para magnae line menganiyaya Hoseok.
Tak ada yang bisa menjawab.
Yoongi mendengus. "Ya sudah. Aku masuk kamar duluan. Malam."
Semua mata mengikuti sosok Yoongi sampai masuk ke dalam kamar.
Blam
Mereka memandangi pintu yang sudah tertutup itu.
Hening.
"… Hei… bagaimana ini…?" suara Taehyung memecah keheningan.
Tapi tak ada yang bisa menjawab.
TBC
Halo! Saya kembali!^^ Maaf lama, saya baru selesai UTS. Ternyata UTS kuliah sedikit berbeda dari yang saya bayangkan.^_^"
Chapt ini 5200an words. Dan para member sudah menyadari perasaan mereka –walau masih ragu. Itu yang bagian mimpi basahnya Namjoon tidak saya edit ulang… makanya maaf jika ada kesalahan… saya malu saat membacanyaXD
Saya sudah membaca review yang masuk, saya sangat berterima kasih karena banyak yang mendukung FF ini. Dan saya katakan lagi, FF ini tidak akan ada pair akhir. Sekali lagi terima kasih sudah mereview^^
Saya sudah menonton video BTS di Ellen. Yang pas Mic Drop itu part Yoongi keren sekali. Saya mengulang bagiannya lebih dari lima kaliXD
Ah ya, saya juga sudah mengupload The Last Snow. Silahkan dilihat jika berkenan^^
Sekian dari saya, semoga masih ditunggu.
Mohon maaf jika ada kesalahan, bagaimanapun saya hanya penulis pemula^^
Sekali lagi, terima kasih.
-Siwgr3_/28-11-2017/
