Uri Sarangseureoun Seoltangie

.

Chapter 9: Oblivious

.

A BTS Fanfic

.

SUGA!Centric

.

©Siwgr3

.

Cast: BTS, Other

.

Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D

.

Other Cast: BTS Member, Other

.

Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family

.

Rated: T


"… Pardon…?"

Yoongi memandang membernya jengah. "Jangan sok tuli." Ujarnya kesal. "Aku sudah memberitahu punyaku, sekarang giliran kalian."

Membernya langsung panik. Mereka sama sekali tidak yakin harus menjawab apa.

Tapi Hoseok berbeda dengan mereka. Dia percaya diri!

"Tipeku yang berkulit putih, memiliki senyum semanis gula, sedikit galak walau sebenarnya baik, tangguh, suara menyanyinya mematikan, pekerja keras, sulit mengekspresikan perasaannya, dan sangat passionate dalam bidang musik, khususnya hip-hop!" jawab Hoseok mantap, melemparkan hints ke sana sini.

Semua membernya-kecuali Yoongi- menatapnya horror. Hoseok benar-benar kentara. Mereka kemudian melirik Yoongi, dag-dig-dug, menebak apa Yoongi akan tersadar dengan hint yang Hoseok katakan tadi.

Sayangnya, Yoongi bukanlah orang yang peka dengan hal semacam ini.

"Ahh… jinjja? Sepertinya kau harus berjuang jika ingin mendapatkan yeoja yang seperti itu. Standarmu ketinggian."

Masih dengan mulut tajamnya.

Yoongi kemudian beralih ke member lainnya, meninggalkan Hoseok yang sudah gigit jari.

"Namjoon."

Namjoon gelagapan. Dengan tangan bergetar, dia meletakan cangkir kopinya di atas meja sementara matanya berkeliaran ke sana kemari.

"U-uuhh…"

Yoongi masih menunggu.

Namjoon menggigit bibirnya. Memorinya secara otomatis memutar kejadian saat dia pertama kali bertemu dengan Yoongi.

Saat itu Yoongi memakai sepatu converse merah.

Namjoon sesungguhnya tidak yakin apa yang dirasakannya ini benar-benar cinta atau hanya perasaan sesaat. Tapi dia tak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya.

"… Aku suka yang pakai sepatu converse merah…"

Namjoon mencuri pandang ke Yoongi, penasaran dengan reaksinya.

Yoongi mengernyit, jelas tidak puas dengan jawaban Namjoon.

"Oh ya? Seleramu gampangan banget ya."

Namjoon tertohok.

Yoongi tak peduli. Dia beralih ke Seokjin. "Bagaimana denganmu, hyung?"

Wajah Seokjin merah padam. Dia menunduk, tak berani bertemu mata dengan Yoongi. "U-uhhh… aku suka saat… dia enak dipeluk… empuk… ummm… hangat juga… pokoknya membuatku nyaman…" racau Seokjin gugup.

Yoongi nyengir. "Aku ya?" godanya.

Seokjin sontak mendongak dengan mata melototnya. "M-mw-"

Yoongi mendengus, masih memberi cengirannya. "Aku bercanda."

Seokjin megap-megap, masih shock dengan kejadian barusan.

"Jimin."

"N-ne?!" Jimin tersentak di kursinya.

Yoongi menatapnya, merasa terhibur dengan ekspresi panik Jimin. Tapi kenapa mereka harus panik, ya? Yoongi 'kan hanya menanyakan tipe yeoja kesukaan mereka.

"Tipe yeoja kesukaanmu seperti apa?"

"A-ah… itu…" Jimin memainkan jarinya gugup. "… Yang huruf pertama namanya Y…"

Semua memandangnya horror. Berani juga bocah ini.

Yoongi mengernyit. "Ah… aku paham. Kau mencari yang seperti Yoona sunbaenimkah? Standarmu ketinggian."

Jimin tersedak salivanya sendiri. 'AKU MEMBICARAKANMU, BABBOOO!' jeritnya dalam hati, gemas dengan ketidak pekaan Yoongi.

Yoongi mengalihkan pandangannya, sekarang ke Jungkook.

"… Masih belum cukup umur, pass."

Jungkook tercengang, baru saja dia hendak protes dengan berteriak "AKU SUDAH DEWASA!", Yoongi sudah keburu mengalihkan perhatiannya ke Taehyung.

"Bagaimana denganmu?"

Taehyung membalas tatapan Yoongi, tampak seperti melamun. Sepertinya ada banyak hal yang berkecamuk dalam otaknya.

'Tidak mungkin aku menyukai Yoongi hyung!'

'Tapi kau berdebar bersamanya-'

'Tidak! Itu salah! Hanya salah paham!'

"Tae?"

'Salah paham bagaimana? Terima saja kalau kau itu GAY!'

'ANIYA! AKU BUKAN GAY! AKU TIDAK MENYUKAI-'

"TAE!"

"YOONGI HYUNG!"

Suasana hening.

Semua menatap horror Taehyung, sementara Taehyung masih shock dengan apa yang baru saja dia katakan.

"M-maksudku! A-ah…" Taehyung semakin panik. "Maksudku! J-jangan panggil aku Tae! Aku tidak suka!"

Yoongi menatap Taehyung penuh hujat. "Bukannya kau yang memaksaku memanggilmu Tae?"

Taehyung mati kutu.

Yoongi mendengus. "Jadi?" Yoongi menuntut jawaban, dan Taehyung tidak merasa senang sama sekali. Tidak bisakah Yoongi melepaskannya kali ini?

Tapi Yoongi masih memandangnya intens.

"… Uhhh…" Taehyung mengepalkan kedua tangannya. Merasa tertekan dengan semua pandangan yang tertuju padanya.

Taehyung tak bisa berpikir jernih.

"… Aku asexual."

Yoongi memandangnya bersama dengan member lainnya.

Taehyung sendiri mulai memaki dalam hati, menyalahkan otaknya yang menyuruhnya untuk meracau begitu.

Asexual? Lucu sekali, Taehyungsshi.

"Oke…?" Yoongi mengedikkan bahu. "Kalau memang itu orientasi seksualmu, aku tidak masalah."

Member lain manggut-manggut, sementara Taehyung hanya bisa nyengir.

:

:

"Tae, apa yang sedang kau lakukan?"

Taehyung yang sedang berbaring di atas ranjangnya menoleh, mendapati Jimin yang memasuki kamarnya diikuti oleh Jungkook.

"… Quotev."

Jimin dan Jungkook melompat naik ke ranjang Taehyung dan mengapit sahabat mereka itu. "Quotev?" beo Jimin sambil memperhatikan layar ponsel Taehyung.

"Situs yang berisi quiz-quiz…" Taehyung menggaruk lehernya. "Aku ingin mengetes… apa yang kurasakan pada Yoongi hyung benar-benar cinta…"

Jimin dan Jungkook manggut-manggut. "Lalu? Bagaimana hasilnya?" Tanya Jungkook penasaran.

Wajah Taehyung berubah muram. "… Katanya positif…"

"… Memangnya kau benar-benar mencintainya, hyung?" Tanya Jungkook sambil mengambil ponsel Taehyung. Dia kemudian menekan quiz berjudul 'Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta?'.

Taehyung menghembuskan napas beratnya. "… Aku tidak tahu."

Jimin menepuk-nepuk bahu Taehyung. "Kenapa kau kelihatan kacau sekali, Tae ah?"

"… Aku tidak mau jadi gay."

"Kenapa?"

"Nenekku akan sedih sekali."

Suasana hening menerpa mereka. Taehyung memandang kosong ke langit-langit kamar, Jimin memandanginya, sementara Jungkook masih sibuk memainkan quiz di ponsel Taehyung.

"Tae. Nenekmu sangat mencintaimu." Jimin tersenyum. "Dan kurasa dia akan tetap mencintaimu apapun yang terjadi."

Jungkook mengangguk setuju.

"… Yah, kalaupun memang kau ternyata bukan gay, artinya bagus. Pesaingku untuk mendapatkan Yoongi hyung berkurang."

Taehyung menoleh ke arah Jimin dengan mata membelalak. "… Kau menyukainya?"

Jimin mengangguk. "… Yah… kau tahu… percakapan kita tadi malam benar-benar membuatku sadar. Aku tidak senang saat tahu Hoseok hyung menyukai Yoongi hyung. Aku cemburu…" Jimin tersenyum. "… Aku ingin membuatnya mencintaiku."

Taehyung memandangnya. "Kau yakin?"

"Ya." Jimin nyengir. "Perasaanku tak mungkin berbohong. Walau terlambat… tapi setidaknya aku menyadarinya."

Taehyung perlahan mengalihkan pandangannya kembali ke langit-langit kamar. "… Hee… begitukah…"

"… Chim."

"Ng?"

"Segampang itukah kau menerima kalau kau… gay…?"

Jimin menepuk-nepuk bahu Taehyung, tersenyum. "… Ya, segampang itu, Tae."

"… Hmm…"

Hening.

Sampai suara Jungkook memecahkannya.

"Hyung, hasilnya sudah keluar."

Jimin dan Taehyung menoleh ke arah Jungkook.

"Hasilnya 'Kau seratus persen tergila-gila padanya'."

"…"

Jungkook memandang mereka, tegang. "… Apa maksudnya itu…?"

:

:


Apa aku memang sudah jatuh cinta padanya…?

Jadi aku… gay?


"Namjoon ah."

Namjoon tersentak di kursinya, perlahan dia menoleh ke arah Yoongi yang duduk di sampingnya. Kini mereka berdua sedang berada di studio, mereview kembali lagu yang akan mereka masukan ke album.

"N-ne hyung?" Tanya Namjoon tanpa melihat ke arah Yoongi.

Yoongi memicingkan matanya. "Apa masalahmu?"

"Ne?"

"Sedari tadi aku bicara denganmu, tapi kau tidak melihat mataku sama sekali!" kesal Yoongi sambil bersidekap.

"Ani…" Namjoon menggaruk tengkuknya gugup.

"Yak, apa aku berbuat sesuatu?" Yoongi berdiri dari kursinya dan menghampiri Namjoon yang tersentak. "Yak, Namjoon ah, lihat aku." Dia kemudian mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan Namjoon, mendekatkan wajah mereka.

Namjoon segera membuang muka, dia yakin wajahnya merah padam sekarang. Yoongi benar-benar dekat padanya, dia bahkan sampai tersudut di kursinya. "A-ani, hyung…!"

Yoongi menangkup pipi Namjoon dengan kasar, memaksanya menghadap Yoongi. Yoongi semakin mendekatkan wajahnya, menatap kedua mata Namjoon tajam.

"Apa kau marah padaku?"

Namjoon menelan salivanya. Matanya berenang-renang ke sana kemari, ke segala arah selain kedua manik kelam Yoongi.

"Namjoon."

Namjoon menggigit bibirnya. "… Ani, hyung…" perlahan tangannya terangkat memegang lengan Yoongi. Dia kemudian menatap mata Yoongi dalam. "… Sebenarnya… aku-"

BRAK

"Yoongi hy- YAK! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

Namjoon dan Yoongi sontak menoleh, dan menemukan Hoseok yang sudah merah padam, tampak marah.

Yoongi menjauhkan dirinya dari Namjoon dan kembali duduk di kursinya. "Hanya ngobrol biasa."

Sementara Namjoon masih membeku di tempatnya. Dia yakin wajahnya sudah semerah tomat sekarang.

Hoseok menaruh kantung kresek berisi camilannya di meja, kemudian duduk di sofa, tampak kesal.

"Kenapa mukamu?" Tanya Yoongi, sedikit tidak senang dengan sikap Hoseok.

"Ani."

Yoongi mendengus. Sekarang Hoseok yang marah padanya, heum…?

… Yoongi benci perasaan ini.

:

:

"Hyung."

Seokjin sedikit tersentak di tempatnya saat mendengar suara lirih Yoongi.

Tapi dia tetap diam, pura-pura tidur.

"Hyung."

Seokjin masih tak bereaksi.

"… Aku tahu kau bangun, hyung."

"…"

"Hyung."

Masih tak ada jawaban.

Dengan berat hati, Yoongi yang tadinya ingin tidur bersama Seokjin memilih untuk melangkah kembali ke ranjangnya.

Meninggalkan Seokjin.

Seokjin tidak tahu kenapa, tapi rasanya sulit sekali bertemu mata dengan Yoongi.

:

:

Yoongi tidak tahu di mana letak kesalahannya.

Tapi para membernya bersikap aneh.

Namjoon tetap tak mau melihat matanya, Seokjin jarang sekali berbicara dengannya, Hoseok seringkali terlihat ragu saat sedang ngobrol dengannya, Taehyung bersikap dingin padanya, sementara Jimin dan Jungkook bahkan jarang terlihat.

Apa kesalahan Yoongi?

Apa Yoongi bersikap terlalu nyaman dengan mereka? Apa ada kata-kata Yoongi yang menyinggung mereka? Atau sikap Yoongi yang membuat mereka jijik?

Yoongi memang belakangan ini suka melakukan skinship dengan para membernya tanpa sadar. Tapi hanya sentuhan ringan di bahu atau jeweran di kuping. Dan jarang sekali Yoongi menggenggam tangan salah seorang member –hanya pada saat fansign.

Ternyata memang gay seperti Yoongi tidak sepatutnya berakrab-akrab ria dengan mereka.

Lalu apa yang harus Yoongi lakukan?

… Yoongi benci perasaan ini.

:

:

Sore itu, Yoongi menelepon hyungnya, minta bertemu di sebuah café.

Dia ingin meluapkan isi hatinya, dan satu-satunya orang yang ia percayai saat ini hanya hyungnya.

"Hyung."

Hyungnya yang tadi sedang sibuk dengan laptopnya mendongak. "Wae?"

Yoongi menunduk, masih memandang segelas kopi di hadapannya. Tak bersuara sama sekali.

Hyungnya memperhatikannya, tampak gurat khawatir di wajahnya. Dia kemudian mematikan laptopnya dan menatap Yoongi lagi. "Yoongi? Apa kau ada masalah…?"

"… Ya."

"Ada apa?"

"… Rasanya memuakkan."

Yoongi menggigit bibirnya.

"… Jadi gay itu memang menyebalkan… ya, hyung…?"

Hyung memandangnya sejenak, sebelum meraih tangan Yoongi dan menepuk-nepuknya pelan.

"Tidak. Menjadi gay tidak menyebalkan."

Yoongi memandangnya dalam diam, seakan memintanya untuk terus berbicara.

"Gay maupun heterosexual pada akhirnya sama-sama jadi orang biasa juga. Pada akhirnya kita semua akan mati." Hyungnya tersenyum. "Kita sama, Yoongi."

"… Tapi aku membencinya."

"Hmm?"

"Saat bersama memberku, rasanya sesak."

"… Kenapa?"

"Karena rasanya mereka seperti jijik padaku." Jawab Yoongi pelan. "Sikap mereka mendadak jadi dingin… mereka tak mau melihatku… bicara juga rasanya… seperti mereka takut untuk bicara denganku…"

"Mereka bilang langsung padamu kalau mereka jijik?"

"Tidak."

"Kalau begitu berhentilah berprasangka buruk, Yoongi ah."

"… Kau tidak mengerti, hyung… bagaimana aku harus bersikap kepada mereka?"

Hyungnya mendengus. "Jangan terlalu banyak berpikir." Dia memandang Yoongi sejenak, sebelum sebuah seringai mengembang di wajahnya. "Wae? Apa kau menyukai seseorang dari mereka?"

Yoongi sudah memasang wajah 'WTF'-nya. "Haaa?! No way! Mereka bukan tipeku! Lagipula mereka normal!"

Hyungnya hanya cengar-cengir. "So? Mereka apamu?"

Yoongi terdiam dengan pertanyaan itu.

BPB itu siapanya?

"… Aku tidak tahu, hyung…"

:

:

Saat kembali ke dorm, Yoongi menemukan Taehyung yang sedang menonton tv.

"… Taehyung."

Taehyung terlonjak di sofanya, ekspresi wajahnya menegang. "O-oh… kau sudah pulang, hyung…"

Yoongi tak menjawab. Dia memilih duduk di samping Taehyung.

"… Taehyung."

Taehyung tak menjawab.

"Apa hyung melakukan kesalahan?"

Yoongi lelah.

Dan sedikit marah.

Pada mereka.

Pada dirinya.

"… Ne?"

"Apa kau jijik padaku?"

Taehyung melotot ke arah Yoongi. "Tidak!"

Yoongi menoleh kepadanya. Menatapnya tepat di kedua iris gelapnya.

"Lalu kenapa sikapmu jadi yang seperti dulu lagi?"

"… Ah…" Taehyung menunduk. "… Tidak kok, hyung…"

Yoongi mengangkat tangannya bermaksud memegang pipi Taehyung, tapi Taehyung sudah terlebih dahulu tersentak dan menjauh dari Yoongi. Wajahnya merah padam dengan napas memburu.

Yoongi tersenyum kecut, menarik kembali tangannya.

Ternyata Taehyung memang jijik padanya.

"… Hyung masuk ke kamar dulu."

Dia beranjak dan masuk ke kamarnya dan Seokjin. Melepas pakaiannya dan hanya mengenakan celana boxer bermotif beruangnya. Setelah memastikan ponselnya telah di charge, Yoongi merangkak naik ke atas ranjangnya.

Dia berbaring dan kemudian memandang langit-langit.

Dia teringat lagi kenangannya bersama para membernya. Dia bisa bebas tertawa bersama mereka, bicara, dan bermain banyak permainan menyenangkan.

Memang hanya kenangan singkat.

Tapi membuat dada Yoongi menghangat.

Memang dulu Yoongi selalu berkoar-koar tak membutuhkan membernya. Dia tidak peduli. Dia tidak kesepian. Dia kuat.

Tapi setelah mengalami banyak hal menyenangkan dan diperlakukan dengan baik oleh para membernya, Yoongi jadi tak sanggup melepaskannya.

Dia ingin bisa bersama dengan mereka tanpa beban apapun lagi.

Dia menarik selimut sampai sebatas dagunya kemudian mulai memejamkan matanya.

Dia berharap semua ini hanya mimpi.

Dan saat dia bangun, para membernya akan menyapanya lagi dengan senyuman.

Tiba-tiba terdengar bunyi pintu kamar yang dibuka.

Seokjin?

Yoongi memilih untuk tidak mengacuhkannya.

Hening sejenak.

Sebelum langkah kaki terdengar mendekatinya. Sejurus kemudian Yoongi bisa merasakan ada yang merangkak naik dan berbaring di sampingnya.

Yoongi membuka mata dan menoleh ke samping.

"… Jimin…"

Jimin memandangnya dalam diam.

Penerangan kamar ini sangat minim, tapi Yoongi bisa melihat wajah Jimin walau samar.

"… Ada apa…?" Tanya Yoongi serak. Dia kemudian mengernyit saat mencium bau aneh. "Kau mabuk, Jimin ah?" tanyanya heran, pasalnya Jimin bukan tipe orang yang biasa minum.

"Hnggg… hyungnim…"

Jimin tersenyum lebar.

Dia memang namja yang tampan.

Yoongi balas tersenyum tipis.

"Hyungnim…" ulang Jimin, kali ini dengan suara yang sedikit berat. "Di sini panas."

Yoongi menaikkan sebelah alisnya. "Kalau begitu keluar." Usirnya kejam.

Jimin hanya terkekeh kecil. Dia kemudian diam untuk beberapa saat.

Jimin lalu duduk dan mulai melepas kaos dan celana trainingnya dan hanya menyisakan boxernya.

Oh shit.

Yoongi menjadi panik.

Jimin tidak akan memperkosanya 'kan? Maksud Yoongi, dia mabuk dan-

Ah ngomong apa kamu. Tidak mungkin Jimin akan melakukan itu. Dia 'kan normal.

Yoongi sedang berusaha menenangkan pikirannya saat dia menyadari sesuatu.

"… Jimin ah… badanmu…"

Jimin menoleh, memberi cengiran khasnya. "Apa kau suka, hyung? Aku dan Kookie bela-belain nge-gym agar bisa dapat roti sobek seperti ini." Dia mengusap-usap perutnya yang sudah kencang hasil olahraganya.

Yoongi mengernyit. Jimin menanyakan pendapatnya?

Uhh… perut Jimin memang jadi bagus… lengannya juga…

Tanpa sadar Yoongi menegak salivanya.

"Ya… bagus…" Yoongi bisa merasakan wajahnya memanas.

Hey! Jangan hujat dia! Bagaimanapun juga, dia tetap suka namja! Apalagi kalau badannya bagus begini…

Ugh Min Yoongi! Hentikan itu!

"U-uh… olahraga bagus untuk kesehatan kalian." Cicit Yoongi sambil berusaha agar tidak memandangi tubuh Jimin lebih lama lagi.

Jimin mengangguk kecil. Dia lalu berbaring kembali di samping Yoongi.

Jimin menatapnya dengan kedua mata sayunya.

"Apa aku sudah macho, hyungnim…?" tanyanya dengan suara orang mabuknya.

Yoongi mengernyit. "Hah?"

Jimin tak menjawab, tetap memandang Yoongi.

Menuntut jawaban.

"Uh… ya…" jawab Yoongi ragu, tidak paham kenapa Jimin bertanya begitu.

"Kau mau coba pegang lenganku, hyungnim?"

Godaan setan.

Yoongi ingin bilang tidak… tapi… lihat lengan itu…

Ugh…

… Cuma memegang 'kan…?

Ah… Yoongi memang benar-benar namja gay…

Dengan gemetar, Yoongi mengulurkan tangannya kemudian sedikit meremas lengan Jimin. "U-uh… ya… bagus…" gagapnya.

Jimin tersenyum lebar, gembira mendengar ucapan Yoongi. "Aku dan Kookie benar-benar berusaha untuk ini…"

Apa ini hanya telinga Yoongi saja yang bejat, atau memang suara Jimin jadi semakin berat tiap katanya…?

"Tapi otot Kookie lebih hebat dariku…" Jimin mencebikkan bibirnya, kesal. "Aku tidak akan kalah darinya. Aku akan berusaha lebih keras lagi…"

'Mereka memang masih muda… masih berjiwa kompetitif…' batin Yoongi sok tua.

"Hyungnim…" panggil Jimin sambil menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Yoongi. "Boleh aku memelukmu?"

Saat itu juga Yoongi bisa merasakan jantungnya bermasalah.

Jimin berkata begitu sambil menatap Yoongi dalam.

Sialan.

"A-ani. Kembalilah ke kamarmu. Kau mabuk." Yoongi berusaha tetap tenang.

Jimin memandangnya sejenak sebelum kembali tersenyum lebar. "Shirreo~!"

Detik berikutnya, Yoongi sudah terperangkap dalam pelukan erat Jimin.

Oh? Bunyi apa itu?

Oh. Rupanya Cuma bunyi jantung Yoongi yang meledak.

'Shit shit shit!' racau Yoongi dalam hati. Dia berusaha mendorong tubuh Jimin yang dekat sekali dengannya. Tapi Jimin lebih kuat.

"Jimin…!"

Tak ada jawaban, hanya bunyi deru napas teratur Jimin yang terdengar. Sepertinya namja itu sudah tertidur.

Yoongi memandangi leher Jimin yang berada tepat di depannya.

Jimin masih memeluknya... dengan tubuh kuat dan berkeringatnya-

Ah…

Yoongi tidak yakin bisa tidur nyenyak malam ini…

:

:

Kenyataannya Yoongi tertidur seperti orang yang tidak pernah tidur sebelumnya. Lengkap dengan iler dan ngoroknya.

Sepertinya sangat puas berada dalam pelukan tubuh baru Jimin.

Haha.

Gay.

:

:

Saat Jimin membuka mata, dia menemukan surai hitam Yoongi yang menggelitiki hidungnya.

Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna apa yang terjadi, tapi tepukan (read: tamparan) seseorang di pipinya membuatnya terlonjak.

Dia menoleh ke samping, dan menemukan wajah bête Seokjin.

"Bangun…!" bisik Seokjin murka. Bagaimana tidak? Saat kemarin malam masuk ke kamarnya, dia malah menemukan Yoongi dan Jimin tidur bersama dalam posisi Yoongi berada dalam pelukan Jimin.

TANPA PAKAIAN!

Seokjin nyaris menjerit menyuruh mereka bangun, tapi melihat wajah damai Yoongi saat tidur membuat Seokjin tak sampai hati.

Dan sekarang sudah pagi. Jimin juga sudah bangun.

Tidak ada tapi-tapian.

Jimin menoleh kembali kepada Yoongi yang masih ngorok di pelukannya.

Pipi Yoongi tampak merah muda dengan bibirnya yang sedikit terbuka.

Manis.

Blush~

Seokjin memandang jijik wajah merah Jimin. "Yak…! Bangun kau!" bisiknya gemas sambil mencubit-cubit lengan Jimin. "Sok ngegym segala! Bangun!"

"Aw! Aw! Iya, hyung! Iya!" Jimin dengan berat hati melepaskan Yoongi dari pelukannya. Dia kemudian duduk di tepi ranjang, masih berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi.

Dia dan Yoongi hanya mengenakan boxer.

Apa mereka melakukannya?

Tapi tidak ada bau-bau aneh… lagipula Seokjin tentu tidak akan membiarkannya.

… Tunggu…

Jimin kembali mengingat. Kemarin malam dia pergi minum dengan Hoseok di sebuah bar. Hoseok yang mabuk berat terus meracaukan nama Yoongi, sementara Jimin kesal mendengarnya.

Akhirnya Jimin –yang juga mabuk berat- meninggalkan Hoseok di bar dan menahan taksi untuk pulang.

Saat sudah sampai di dorm, Jimin ingat dia berhenti di depan kamar Yoongi dan Seokjin lalu-

Oh tidak. Jimin tidak mungkin menyatakan perasaannya dalam keadaan mabuk 'kan? Apa dia mengatakan sesuatu yang aneh? Bagaimana dia akan bersikap pada Yoongi?

APA MEREKA MELAKUKANNYA?!

"Yak. Aku tahu isi pikiranmu. Tenang saja, kalian tidak melakukannya."

Sekali lagi harapan Jimin dihancurkan oleh Seokjin.

Jimin hanya bisa menggerutu.

:

:

Jimin kejam.

Bayangkan! Dia meninggalkan Hoseok sendirian di bar dalam keadaan mabuk berat! Saat bangun, Hoseok sudah berada di gang samping bar. Sepertinya dia diusir saat bar itu ditutup. Untung saja Hoseok tidak dirampok!

Hoseok masih bisa merasakan sakit di kepalanya akibat minum terlalu banyak. Itu terakhir kalinya Hoseok akan keluar minum dengan Jimin.

"Aku pulang."

Tak ada jawaban. Dormnya sepi persis kuburan.

Hoseok menggerutu kecil sambil menutup pintu depan dorm.

"Oh, Hoseok. Kukira siapa."

Hoseok yang tadinya sedang membuka sepatunya mendongak.

Seketika itu juga jantungnya gagal berfungsi.

Min Yoongi berdiri di sana, hanya mengenakan boxer bergambar beruang imutnya.

OMG.

MIN YOONGI APA MAKSUDMU MENGGODA HOBI JUNIOR DI SIANG BOLONG BEGINI

"A-ah… aku pulang, hyung…" Hoseok nyengir sambil sesekali mencuri pandang ke tubuh Yoongi. Tak jarang juga dia menelan salivanya gugup.

Dia benar-benar haus.

Yoongi hanya bergumam, kemudian lanjut melangkah ke sofa depan tv.

Hoseok memperhatikan Yoongi yang sudah duduk bersila di sofa, nyaman dengan semangkuk es krim vanila di tangan. Dia menyalakan tv dan menonton drama aksi.

Hoseok melempar tasnya ke lantai dekat pintu kamarnya, kemudian mendekati Yoongi dan duduk di sampingnya. Yoongi tidak tampak keberatan.

Hoseok memberanikan diri bertanya. "Jadi… kemana member yang lain, hyung?"

Yoongi mengedikkan bahu, masih anteng menyantap es krimnya.

Sepertinya Yoongi baru bangun. Lihat saja wajah mengantuk dan tangannya yang secara sembarangan menyendok es krim.

Alhasil ada banyak sisa es krim vanila yang menempel di sekitar mulut Yoongi.

Dan biar Hoseok katakan sekarang, pemandangan ini sama sekali tidak bagus untuk jantungnya dan Hobi junior.

"Hyung… makanmu belepotan…"

Yoongi merengut. "Oh…" dia lalu mulai memainkan lidahnya ke sekitar mulutnya.

Completely oblivious dengan apa yang sedang dia perbuat pada Hobi junior.

Hoseok dengan sekuat tenaga mengalihkan matanya ke televisi.

Dia menonton drama, tapi sama sekali tak paham karena pikirannya sedang berkeliaran di alam lain.

Tubuh Yoongi begitu dekat dengannya.

"… Kenapa kau tidak pakai baju… hyung…?"

"Tadi malam panas. Lagipula ini memang kebiasaanku di rumah. Aku jarang melakukannya di dorm." Jawab Yoongi. "Kenapa? Apa kau risih?"

Hoseok menggeleng kuat.

'SAYA SUKA!'

Tapi tentu dia tidak bisa menjeritkan itu ke wajah Yoongi.

"Tidak kok, hyung."

Yoongi mendengus. "Yak… jika ada sikapku yang membuatmu kesal… beritahu aku…" Yoongi memainkan sendoknya sementara pandangan matanya menyendu. "Aku akan menghentikannya…"

Hoseok memandangnya, entah kenapa hatinya sakit melihat ekspresi Yoongi.

Secara otomatis tubuhnya menarik Yoongi untuk masuk dalam pelukannya.

Yoongi sedikit tersentak, tapi tak melakukan perlawanan apapun.

Hoseok mengeratkan pelukannya sambil menepuk-nepuk kepala Yoongi.

"Jadilah dirimu sendiri, hyung…" kata Hoseok. "Kami menyayangimu."

Yoongi menggigit bibirnya. "… Tapi kalian bersikap aneh padaku…" bisiknya.

"Hm? Apa kau bilang sesuatu, hyung?"

Yoongi memejamkan matanya sambil membalas pelukan Hoseok.

"Ani."

:

:

Entah sejak kapan membangunkan Jeon Jungkook menjadi tugas Yoongi.

Yoongi awalnya melakukan perlawanan, tapi Jungkook mengingatkannya pada janji mereka dan Yoongi tak bisa berkutik.

Jadi setiap hari sekolah, Yoongi membangunkan Jungkook tanpa gagal.

Kalau bocah itu rewel, Yoongi tinggal menginjak perutnya dan Jungkook akan langsung bangun.

Sangat efektif. Walau akhirnya jurus spesialnya itu dilarang oleh Seokjin setelah Jungkook mengadu.

Ya, terkadang Jungkook memang rewel saat dibangunkan.

Namanya juga magnae.

Itu pembelaannya.

Tapi Yoongi seratus persen tidak peduli dengan itu.

Seperti pagi ini, bocah Jeon ini kembali berulah.

"Aku baru mau bangun kalau kau mencium dahiku, hyung!"

What the

"Ha?! Memangnya kau bocah tk?!" hardik Yoongi kesal. "Cepat bangun! Hari kelulusanmu sudah dekat tapi tingkahmu masih seperti bocah!"

Jungkook mati-matian mencengkram seprainya. "Cium!"

Yoongi ingin mendamprat wajah Jungkook, tapi harus dia akui, Yoongi punya soft spot untuk anak ini.

Jungkook memang bocah yang manis.

Bocah manis yang entah kenapa tergila-gila dengan gym.

Lihat badan itu.

Tidak bisakah dia memakai baju?!

"Kau lengah, hyung!"

Sedetik setelah Jungkook menjerit begitu, Yoongi bisa merasakan tubuhnya di tarik paksa ke depan. Selanjutnya yang dia tahu, dia sudah berada dalam kekangan kedua lengan Jungkook.

Yoongi bisa merasakan wajahnya memanas. Sialan.

"Yak! Lepas!" Yoongi berusaha berontak, tapi Jeon Jungkook dengan roti sobeknya sama sekali tak mau bekerja sama.

Yoongi menghembuskan napasnya berat.

"Arraseo!" Yoongi mengecup dahi Jungkook sekilas lalu membuang muka. "C-cepat bangun…!" cicitnya gugup.

"Panggil aku 'Kook ah'!"

"… Kook ah…"

"Bilang 'Ayo bangun, Kook ah~!' lalu cium dahiku!"

NGELUNJAK NIH BOCAH!

Jungkook tetap teguh pada pendiriannya, tak memperdulikan wajah mengerikan Yoongi yang sedang marah.

Hell, wajah marahnya pun tetap imut bagi Jungkook.

Akhirnya Yoongi menyerah.

"… Ayo bangun… Kook ah…" gumam Yoongi dengan wajah merah padamnya. Dia kemudian mengecup dahi Jungkook.

Jungkook girang. "Bilang 'Waktunya sarapan Kookieya~!' dan cium pipiku-"

BAM

Jungkook saat itu tidak tahu jika headbutt Yoongi sangat powerful.

Kini dia tahu.


TBC


Halo! Saya kembali!^_^" Maaf lama ya! Hehe^_^"

Chapt ini saat saya membuat bagian pertengahannya sedikit kesulitan karena ide ngadat, tapi pas bagian akhir ternyata bisa lancar! Jadi maaf kalau bagian awal atau pertengahannya rada gaje, atau kalau bagian akhirnya tidak terasa fluffnya!^_^"

Saya juga sudah mempublish FF YoonJin pertama saya, khusus untuk hari ini~! Silahkan dilihat kalau berkenan!^_^

Saengil cukhae Yoongiya~! Semoga sehat selalu, rezekinya lancar, hidup dengan bahagia, dan selalu dicintai oleh semedeulnya~(uhuk)

Selamat juga untuk Hixtapenya Hobi! Saya paling suka lagu Hangsang~!

Semoga chapter ini plotnya tidak kecepatan ya.

Saya sudah membaca review yang masuk dan senang saat membaca komennya~! Heheheh syukurlah FF ini bisa menghibur~!

Terima kasih sudah mau membaca!^_^

-Siwgr3_/09-03-2018/