Uri Sarangseureoun Seoltangie

.

Chapter 10: Hell Yeah

.

A BTS Fanfic

.

SUGA!Centric

.

©Siwgr3

.

Cast: BTS, Other

.

Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D

.

Other Cast: BTS Member, Other

.

Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family

.

Rated: T


FLASHBACK: ON


HOSEOK'S POV: ON


"Hyung, tumben kau memanggilku minum begini?"

Aku melirik Jimin yang duduk di depanku sekilas, sebelum kembali menjatuhkan pandanganku ke layar ponselku.

Malam ini aku memanggilnya untuk minum bersama di bar yang tidak terlalu jauh dari dorm.

"Memangnya aku tidak boleh mengajak dongsaeng kesayanganku minum, hemm?" godaku sambil cengengesan.

Jimin tertawa sejenak.

Suasana hening sejenak, sebelum Jimin memecahkannya.

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, hyung?"

Gerakanku terhenti. Aku benar-benar tidak siap dengan pertanyaan itu.

"… Ani."

"Hyung…"

Aku menggigit bibirku, merasakan beban berat di dadaku. "… Yoongi hyung."

Aku memberanikan diri menatap langsung ke manik Jimin. Jimin tak bersuara, dia hanya membalas tatapanku.

"Waktu itu di studio… aku memergokinya bersama Namjoon…"

Jimin mengernyit. "… Lalu?"

Entah kenapa aku merasa marah. Dan aku tak bisa mengontrol diriku sendiri.

"… Mereka seperti hendak berciuman…" rahangku mengeras mengingat kejadian itu.

Jimin hanya diam, mendengarkan sambil sesekali meneguk sojunya.

Aku mengacak suraiku frustasi. "Aku sakit, Jimin ah… aku benci melihat mereka seperti itu… aku tak bisa menerimanya…"

"Gwenchana, hyung. Aku mengerti." Jimin tersenyum. "Karena aku juga menyukai Yoongi hyung."

Aku termenung. Benar juga… Jimin… dan yang member lainnya juga menyukai Yoongi hyung…

Kami berenam menyukainya…

"Jimin ah…"

"Ne…?"

"Bukankah rasanya aneh sekali…? Kemarin kau dengan yakin berkata bahwa kau straight… normal… dan sekarang… mendadak kau gay…" aku mengusap pipiku, merasa lelah dengan kondisi sekarang.

"… Tidak ada yang salah dengan itu, hyung." Jimin menepuk-nepuk meja pelan, memberiku senyuman hangatnya. "Bukankah kita berenam senasib?"

Aku tercekat, sebelum senyumanku mengembang. "… Ya… kita senasib."

"… Aku juga ingin memperjuangkan perasaanku, hyung…"

Aku terkekeh. "… Jadi kita rival, hmmm?"

Jimin memberiku senyuman manisnya. "Ne, hyungnim."

Aku memejamkan mataku sejenak, berusaha mengusir rasa pusing di kepalaku. Setelah merasa lebih baik, aku kembali membuka mataku. Menemukan Jimin yang sedang melamun.

"… Jimin ah."

Jimin tersentak, dia memandangku. "Ne…?"

"Belakangan ini kau dan Jungkookie ke gym 'kan? Tubuh kalian sudah lebih kekar." Aku menyeringai. "Siapa tahu karena kalian fandom kita bisa bertambah besar~!"

Jimin terkekeh. "Neee… kuharap juga begitu hyung~…"

Aku memandang lengannya. Dia dan Jungkook berbuat begitu pasti karena ingin 'macho' seperti tipe Yoongi.

"… Apa aku harus ngegym juga yah~?"

Manik Jimin membulat. "ANDWAE, HYUNG!"

Melawan Jungkook saja sudah susah, apalagi kalau kau ikut juga!

Aku seakan bisa mendengar jeritan batinnya.

Aku hanya tertawa, tak memperdulikan raut wajah horornya. Sejurus kemudian, dia ikut tertawa bersamaku.

"Ayo tambah lagi, hyuungniiimm~~!"


HOSEOK POV: OFF


FLASHBACK: OFF


:

:

"Jadi… kenapa kau memanggilku, hyung?"

Yoongi menatap hyungnya penuh curiga. Dia dipanggil hyungnya untuk bertemu di café dekat dorm BPB.

Hyungnya terkekeh. "Masa aku tidak boleh mengajak adikku sendiri nongkrong?"

Yoongi mendengus. "Kau selalu punya alasan kalau memanggilku."

"Ya… mungkin kau benar." Hyungnya meluruskan postur, menatap Yoongi dengan wajah serius. "Yoongiya."

"Ne?" balas Yoongi lalu meminum kopinya.

"Kapan terakhir kali kau 'keluar'?"

Dan kopi itu seketika muncrat menghujani meja. Yoongi sendiri tampak terkejut dengan pertanyaan absurd sang hyung.

"M-mwo?!"

"Hmm… biar kutebak… sebelum kau menjadi trainee?"

Wajah Yoongi sontak memerah. "Hyung!"

"Aku ingat pernah menangkap basah kau masturbasi di kamarm-"

"HYUNG!"

"O-oh! Maaf~! Suaraku kebesaran ya!" hyungnya cengengesan.

Yoongi menggerutu dengan wajah merah menahan malu. Dia melirik sekeliling, untung saja café itu sedang sepi.

Ya. Yoongi akui, dia sudah tidak pernah 'keluar' lagi sejak menjadi trainee. Dia tidak mungkin melakukannya di depan orang asing 'kan? Apalagi kalau orang-orang itu akan menjadi membernya di masa depan! Hell no! Yoongi tidak apa-apa kok walau harus menahan hasratnya! Dia kuat!

"Kau tahu menahan diri itu tidak baik 'kan, Yoongiya?"

Dan di sinilah sang hyung, mengomporinya untuk melakukan 'itu'.

"Aniya, hyung!" bantah Yoongi kesal.

"Kau bisa mengurangi stressmu dengan melakukannya!"

"Hyung!" Yoongi mengusap wajahnya frustasi. "Hentikan itu!"

Hyungnya mendengus. "Padahal kau dulu saat di rumah bisa sampai dua kali seminggu melakukannya."

Yoongi megap-megap. "Kau mendengarnya?!"

Hyungnya mencibir. "Tentu saja, kamarku tepat di sampingmu! Kau beruntung appa dan umma di lantai bawah! Kau berisik sekali, aku sampai harus menggunakan headphone untuk belajar! Kau tahu saat itu aku sedang kelas ujian 'kan? Karena sudah tidak tahan lagi, aku melabrakmu waktu itu."

Yoongi menunduk, berupaya menyembunyikan wajahnya yang merah padam. "Mian…"

"Aku tahu kau mesum."

"Hyung!" cicit Yoongi, super malu.

"Karena itu aku sudah menyiapkan ini."

Yoongi memandangi tas besar berwarna cokelat yang ditaruh hyungnya di atas meja, tepat di hadapan Yoongi.

"Apa ini?"

"Bukalah."

Yoongi melirik hyungnya penuh curiga, sebelum tangannya dengan hati-hati membuka tas itu dan mengintip isinya.

Sebuah vibrator, beberapa cd dengan cover gay, dan juga sekotak besar tisu.

Yoongi benar-benar akan mencekik hyungnya di depan umum.

"Hei! Mana rasa terima kasihmu? Kau kira mudah bagiku untuk mendapatkan itu?!" keluh hyungnya, merasa sudah melakukan sesuatu yang begitu berarti untuk Yoongi dan bahwa Yoongi harusnya berlutut dan menghaturkan beribu terima kasih padanya.

Tapi tidak.

Yoongi benar-benar akan mencekik hyungnya di depan umum.

Hyungnya menatap Yoongi sejenak, sebelum tertawa kecil melihat ekspresi dongsaengnya. "Jangan berwajah begitu~! Aku tahu kau akan berterima kasih padaku nanti~! Pastikan saja kau mengunci pintu saat melakukannya~! Dan kecilkan suaramu~! Atau kau bisa menunggu sampai dorm kalian kosong~! Atau kau juga bisa-"

Hyung dengan seribu solusinya.

:

:

"… Aku pulang…"

Namjoon yang tadinya sedang menonton tv menoleh, menemukan sang hyung melangkah masuk dengan tas besar berwarna cokelat di pelukannya.

"Selamat datang, hyung." Sambut Namjoon, matanya masih menatap tas cokelat Yoongi. "Apa itu, hyung?"

Yang berikutnya terjadi, membuat Namjoon semakin penasaran.

Wajah Min Yoongi meledak menjadi merah muda, dia panik.

"A-apa maksudmu?" gagapnya.

Namjoon memicingkan matanya penuh curiga. "Tas yang kau peluk itu… apa isinya…?"

Yoongi megap-megap, sepertinya berusaha memikirkan jawaban terbaik yang bisa dia berikan. "P-pakaian dalamku! Hyungku memberikannya padaku!"

Kini giliran Namjoon yang menjadi merah muda.

Yoongi mendelik. "Kenapa mukamu?!" ketusnya.

Namjoon gelagapan. "A-aniya! Mian sudah ikut campur, hyung!" dia buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke layar televisi.

Yoongi mendengus sebelum berlari kecil masuk ke kamarnya.

Di dalam, dia disambut oleh tatapan penasaran Seokjin.

"Apa itu?"

Yoongi mengerang dalam hati, tidak bisakah membernya melepasnya kali ini saja?

"H-hanya buku dari hyungku…" cicitnya, berkeringat dingin.

Seokjin memicingkan matanya. "Oh ya? Buku apa?"

Oh shit.

"U-uhh, bukan urusanmu, hyung!" bentak Yoongi sambil melempar tasnya ke atas ranjang. Dia kemudian berbalik dan berupaya mendorong Seokjin keluar dari kamar mereka. "A-aku mau ganti baju dulu! Keluar!"

Dan begitu saja, Seokjin terusir dari kamarnya, tanpa perlawanan.

Seokjin mengernyit. Tingkah Yoongi aneh sekali… apa Cuma perasaannya saja? Padahal biasanya kalau dia ganti baju sikapnya biasa saja, lah ini…

Seokjin mengedikkan bahu kemudian melangkah mendekati Namjoon dan duduk di sampingnya.

"Yoongi sudah pulang."

Namjoon hanya mengangguk mendengar laporan Seokjin.

"Dia bilang hyungnya memberinya buku." Seokjin mengernyit. "Aku tidak tahu kalau Yoongi suka membaca."

Namjoon merengut. "Buku? Maksudmu isi tas cokelatnya?"

Seokjin mengangguk.

"Aneh…? Saat kutanya, Yoongi hyung bilang itu pakaian dalamnya…"

Mereka saling pandang sejenak, sebelum mencegat Jungkook yang sedang lewat.

"Jungkook ah, coba kau masuk dan tanyakan isi tas cokelat Yoongi!" perintah Seokjin nyaris berbisik.

Jungkook melongo. "Hah?"

"Sudah! Lakukan saja!"

Dengan satu tendangan kecil di pantat, Jungkook bergerak maju masuk ke dalam kamar Yoongi dan Seokjin.

"Hyuung?"

Yoongi yang tadinya sedang melamun di ranjangnya, sontak terlonjak kaget. Tangannya otomatis terangkat memeluk tas cokelat di sampingnya.

"J-Jungkook… ie…! kau mengagetkanku!"

Jungkook memicingkan matanya.

Menarik.

Jungkook melangkah masuk, menatap tas cokelat itu intens.

"Apa isinya?"

Yoongi melotot, mulutnya terbuka, tapi tak satu katapun terucap. Pelukannya semakin mengerat.

Jungkook bersidekap. "Aku menunggu, hyung."

Yoongi semakin panik. "A-aniya! ini hanya-hanyaaa… uuhhhh…"

Jungkook mengerling nakal. "Majalah pornokah?"

Yoongi melotot, tampak terkejut.

'Wow, apa aku benar?' batin Jungkook, ikutan kaget.

Sejurus kemudian, Yoongi menggelengkan kepalanya sekuat tenaga. "A-ani! Ini hanya- uhh- ah! H-hadiah untuk kelulusanmu hari sabtu nanti!"

Jungkook bersiul. "Rupanya kau mengingatnya, hyung~!" serunya senang. "Manis sekali kau, hyung~! Menyiapkanku hadiah seperti ini~!" godanya manis.

Yoongi menggerutu, tapi tak membalas godaan Jungkook.

"Kalau itu memang buatku, artinya aku bisa menerimanya sekarang dong?" Tanya Jungkook sambil melangkah mendekati Yoongi.

Yoongi seketika menjadi panik, pelukannya mengerat sementara kedua kakinya menendang-nendang kecil, mengisyaratkan Jungkook untuk menjauh.

Jungkook merengut. "Waeee?"

"T-tunggu hari h-nya!" cicit Yoongi.

Jungkook memicingkan matanya, tak yakin apa Yoongi sedang berkata jujur atau hanya sedang membohonginya saat ini.

"… Arraseo, hyung." Jungkook mengedikkan bahunya. "Kau harus datang ya, hyung…"

"Aku tahu, tenang saja." Gumam Yoongi.

Jungkook menunduk, tersenyum kecil. "Aku akan menunggumu, hyung..." katanya malu-malu.

Yoongi mengernyit. Apa-apaan atmosfer ini? Yoongi sedikit bergidik. "Yaya, bisakah kau keluar sekarang? Aku mau ganti baju!"

Jungkook mempoutkan bibirnya kesal. "Arraseo." Dia lalu melangkah keluar dengan kaki yang dihentak-hentakkan.

'Memang masih bocah.' Batin Yoongi sambil menutup pintu.

Jungkook berjalan kembali ke Namjoon dan Seokjin yang menunggu.

"Jadi? Apa jawabannya?" tuntut Seokjin tak sabar, Namjoon di sampingnya juga tampak penasaran.

"Katanya hadiah untuk kelulusanku." Jawab Jungkook. "Tapi aku tidak yakin dia berkata jujur."

Namjoon manggut-manggut. "Aneh…"

Seokjin bersidekap. "… Haruskah aku melihat isi tasnya diam-diam…? Saat dia sudah tidur…?"

Jungkook memberikan jempolnya. "Good idea!"

Seokjin menatapnya jengah. "Hentikan itu. Jangan bicara inggris denganku sementara nilaimu di ujian Cuma 3!"

Jungkook menggerutu. "Aku sudah mencoba sebisaku, hyung!"

"Tetap saja! Dari 100, kau hanya dapat 3?! Padahal nilaimu yang lain bagus! Makanya kubilang belajar lebih giat! Kerjaanmu main game terus! Bagaimana masa depanmu nanti, hah? Kau-" Seokjin mulai mengomel.

Jungkook hanya bisa mengerang, tak kuasa membalas omelan hyungnya.

:

:

Yoongi benar-benar merasa seperti kriminal saat ini. Kriminal yang sedang menyembunyikan uang hasil rampokannya. Hatinya tak tenang mengingat isi tas cokelatnya.

Bahkan saat dia sedang duduk bersama member lainnya di meja makanpun, pikirannya tetap terbang ke tas cokelat yang terletak dengan indahnya di atas ranjang.

Tatapan curiga Seokjin dan Namjoon juga sama sekali tak membantu.

"Jadi hyung…"

Yoongi menoleh kaku ke arah Namjoon. "M-mwo…?"

"Kudengar kau membelikan Jungkook hadiah kelulusan?" Namjoon bertopang dagu, menatap Yoongi penuh selidik. "Benarkah…?"

Semua member sontak menatap Yoongi.

"Jinjja~?" Jimin nyengir. "Apa hadiahnya?"

Yoongi gelagapan. "A-ani…!"

Jungkook mempoutkan bibirnya. "Jadi kau bohong?"

Yoongi menggeleng kuat-kuat, tak tega melihat wajah Jungkook. "M-maksudku! Hadiahnya! Masih! Raha! Sia!" jeritnya.

Panik.

Semua menatap Yoongi yang ngos-ngosan.

"Arraseo, hyung… kau tak perlu berteriak…" gumam Hoseok dengan kedua alis yang bertaut. "… Kenapa kau gugup sekali, hyung…?"

Yoongi mati kutu.

"… Sudahlah, berhenti mendesaknya seperti ini."

Seokjin sang penyelamat.

Ingatkan Yoongi untuk membelikannya sesuatu nanti.

Member lain mendengus sebelum kembali fokus pada makanan masing-masing.

Yoongi diam-diam bernapas lega.

… Rahasianya aman untuk saat ini.

:

:

Yoongi mencurigakan.

Itu yang Seokjin pikirkan.

Rencananya dia akan memeriksa isi tas cokelat Yoongi saat dongsaengnya itu terlelap.

Tapi Yoongi tertidur sambil memeluk tas cokelat itu. Sangat erat dengan ekspresi tak nyaman di wajahnya. Seakan-akan tas cokelat itu adalah kekasihnya, dan dia takut akan ada yang menculiknya jika tidak dia peluk.

Sangat mencurigakan.

Haruskah Yoongi seprotektif itu pada hadiah Jungkook?

Seokjin semakin bersemangat mencari tahu.

Yoongi sedang berupaya menyembunyikan sesuatu, dan dia payah dalam melakukannya.

Dia seperti sebuah buku yang terbuka.

Seokjin perlahan merangkak turun dari ranjangnya, mengawasi pergerakan Yoongi, kemudian berguling di lantai dengan perlahan, menghampiri sang dongsaeng dan berhenti tepat di samping ranjangnya.

Dia lalu perlahan bangkit, masih mengawasi wajah Yoongi. setelah yakin Yoongi sudah nyenyak, dengan hati-hati dia membuka risleting tas cokelat itu kemudian melihat isinya.

Gelap.

Seokjin meraih ponselnya dan menyalakannya. Dia lalu mengarahkan layar ponselnya ke dalam tas cokelat itu.

… Oh.

… Apa itu… yang panjang…

Juga cover cd itu…

… Tisu…

"… Ng…?"

Seokjin menoleh, bertemu pandang dengan Yoongi yang terbangun.

Mereka saling pandang dengan mata melotot dan mulut setengah terbuka, sementara ponsel Seokjin masih setia menerangi isi tas Yoongi.

"… WAAAAHHH!"

BUAGH

Seokjin nyaris terlempar ke belakang akibat hantaman maut tas cokelat itu.

"Y-Yoongi…!" Seokjin berusaha menenangkan sang dongsaeng sementara tubuhnya perlahan bergerak mundur.

Sementara Yoongi sudah memberikan tatapan itu.

'Kau melihatnya 'kan…? Kau sudah tidak bisa hidup lagi.'

Seokjin seakan bisa mendengar kata hati Yoongi. dan itu sama sekali tidak bagus.

"A-ani Yoongi! gwenchana! Gwenchana!" bujuk Seokjin panik karena Yoongi sudah melangkah mendekatinya. "Aku akan merahasiakannya! Jangan bunuh aku!"

Yoongi terdiam sejenak, sebelum raut wajahnya berubah memelas. "Hyuuunggggggggg…"

Seokjin sedikit terkejut dengan perubahan Yoongi. duh wajahnya manis sekali –ANIYA! KIM SEOKJIN! HENTIKAN ITU!

"A-aku sumpah! Ini dari hyungku! Awalnya aku menolaknya! Tapi dia memaksa! Dia bilang aku harus melepaskan hasratku! Blahblah kampret! Tapi hyung! Aku benar-benar sudah menolaknya!" racau Yoongi kalut, tampak panik sekali. "J-jadi tolong jangan beritahu yang lain… dan... tolong jangan membenciku…"

Seokjin menatap wajah dongsaengnya yang sudah menyendu itu. Seokjin benci melihat raut wajah itu. Dia tidak suka melihat Yoongi merasa sedih begitu.

Dengan lembut Seokjin menarik Yoongi masuk ke dalam pelukannya. Yoongi sedikit tersentak, tapi tak menolak. "Ani… gwenchana, Yoongiya… aku tak akan memberitahu siapapun… aku juga tidak membencimu, kok…"

Yoongi menggigit bibirnya. "… Lalu kenapa kau seperti menghindariku… belakangan ini…?"

Seokjin terhenyak. Yoongi merasa seperti itu…? Rasa bersalah langsung menjalari hati Seokjin.

Dia mengeratkan pelukannya.

"Ani… maafkan hyung…"

Yoongi memandang kosong ke arah lantai, sebelum membalas pelukan Seokjin. "… Jangan hindari aku lagi, hyung…"

Seokjin tersenyum. "… Aku janji."

Dia bodoh sekali. Menyakiti Yoongi hanya karena bingung dengan perasaannya sendiri? Mau Seokjin suka Yoongi ataupun tidak, dia tetap dongsaengnya. Seokjin harus selalu bisa menjaga senyuman Yoongi.

Apapun yang terjadi.

"… O-oh… hyung, kau sudah boleh melepas pelukanmu."

Seokjin loading sejenak, keenakan memeluk Yoongi, sebelum seluruh tubuhnya bereaksi melompat ke belakang menjauhi Yoongi. "A-ah, ne…"

Hening.

Yoongi memandang ke arah lain dengan wajah merah padam, sementara Seokjin tak jauh berbeda.

"… Uhh… jadi… Yoongi…" cicit Seokjin gugup. "Aku bisa membawa para member keluar dorm jika… kau ingin… melakukan itu…" wajahnya merah padam.

Tapi wajah Yoongi lebih parah. "Ani! Tidak perlu hyung!"

"A-aniya… hyungmu benar… kau harus… melepaskan… hasratmu…" suara Seokjin mengecil di setiap katanya. "A-anyway! Hyung tidur dulu! M-malam!"

Tanpa menunggu jawaban Yoongi, Seokjin sudah setengah berlari ke kasurnya. Dia melompat dan dalam satu gerakan sudah menenggelamkan dirinya ke dalam selimut.

Meninggalkan Yoongi yang melongo.

:

:

Hari ini PBP mengadakan fansign di sebuah lapak kosong yang berukuran tak terlalu besar. Tak heran mengingat mereka hanya dari agensi kecil, lagipula ARMY yang datang juga tak banyak.

Tapi Taehyung tetap senang. Senang karena bisa menyambut orang-orang yang selalu mendukung dirinya dan BPB. Dia tak henti-hentinya menebar senyum sambil melambai-lambai manis ke arah ARMY.

Fansign diisi dengan celotehan tidak jelas member lainnya, sementara Taehyung hanya merespon dengan cengirannya. Dia lebih berkonsentrasi pada ARMY yang berbaris di hadapan mereka, siap memberikan tanda tangan.

"Annyeong~!"

"Bagaimana kabarmu hari ini~?"

"Apa kau sudah makan~?"

"Hari ini dingin sekali! Apa kau membawa jaket~?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terlontar pada ARMY yang datang silih berganti di hadapannya. Taehyung dengan sigap memberi tanda tangan tanpa henti-hentinya tersenyum.

Begitu selesai, dia memberi lambaian kecil pada ARMY yang membungkuk ke arahnya dengan senyuman. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada ARMY berikutnya.

"Annyeong~!"

Tapi yeoja itu melihatnya pun tidak. Hanya berdiri di hadapannya, menghadap samping, seperti menunggu Namjoon yang duduk di samping Taehyung untuk selesai.

Taehyung mengernyit bingung, tapi tetap tersenyum.

"Umm… annyeong! Siapa namamu?"

Tapi yeoja itu tetap diam, tak memandang Taehyung sama sekali.

Tepat setelah Namjoon selesai, yeoja itu bergerak maju ke hadapan Namjoon.

"Annyeong Joon oppa! Tolong tanda tangani ini untukku!"

Taehyung menatapnya sejenak, sebelum pandangannya kembali kepada ARMY baru yang berdiri di hadapannya.

"Annyeong~! Siapa namamu~?"

… Dia terluka.

:

:


-Sepulangnya dari Fanmeeting…


"Yoongiya, kami akan keluar ya, mungkin kami akan pulang telat! Jangan lupa makan! Annyeong!"

Blam

Seokjin menepati janjinya. Dia (dengan paksaan) membawa member lainnya untuk ke luar dorm, bermaksud membiarkan Yoongi melakukan 'aktivitas'nya.

Yoongi hanya berdiri di depan pintu kamarnya, melongo.

"Aish… apa dia tuli atau bagaimana?" Yoongi mengacak surainya kesal. "… Aku tidak mungkin melakukan itu di dorm…"

Hening.

Yoongi melirik jam dinding. Masih jam dua siang.

… Dia punya waktu…

Perlahan Yoongi melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.

Dipandangnya tas cokelat itu dengan ekspresi yang susah dijelaskan.

… Kapan terakhir kali dia 'keluar'…?

:

:

"Hyung! Tumben kau mau mentraktir kita begini!" kata Hoseok sambil memakan pizzanya.

Jungkook mengangguk, masih sibuk mengunyah.

"Kenapa kita tidak mengajak Yoongi hyung?" Tanya Jimin heran, enggan menyentuh pizzanya. Di pikirannya saat ini hanyalah Yoongi yang sendirian di dorm.

"Iya, kenapa kita meninggalkannya?" tambah Namjoon.

Jungkook dan Hoseok sontak berhenti mengunyah, ikut menatap Seokjin minta jawaban.

Mendapat serangan bertubi-tubi, Seokjin berusaha mengontrol wajahnya –terutama karena dia tahu alasannya meninggalkan Yoongi sendirian di dorm.

"Yoongi…" dia menelan salivanya gugup. "… Um… dia sedang perlu waktu sendiri…"

Jungkook mengernyit. "Wae?"

"Aku tidak bisa memberitahumu…" Seokjin bersidekap sambil membuang muka. "P-pokoknya urusan pribadi…"

Namjoon memicingkan matanya. "Hyung… kau menyembunyikan sesuatu."

Seokjin langsung gelagapan. "Y-yak! Kau tidak percaya dengan hyungmu sendiri, hah?!"

Jimin tak mengindahkannya. "Ada apa dengan Yoongi hyung…?"

Seokjin semakin panik, apalagi semua member tengah memandangnya.

"Hyung… kau tahu kita semua berada di kapal yang sama… kita semua menyukai Yoongi hyung… jadi jika Yoongi hyung ada masalah, beritahu kami juga, hyung." Bujuk Hoseok mulus. "Bukannya kita harus saling membantu, hyung…? Bagaimanapun juga kita semua sama-sama bertepuk sebelah tangan… jadiiii…"

Seokjin mengacak surainya frustasi, tak tahan lagi.

"Arraseo! Aku akan beritahu kalian!" jeritnya kesal. "T-tapi rahasiakan ini dari Yoongi!"

Semua langsung mengangguk, kini intens menatap Seokjin.

Seokjin melirik Jungkook ragu. "… Kau masih bocah…"

"Hari sabtu ini aku sudah lulus, hyung! Aku sudah dewasa!" potong Jungkook berapi-api. "Jadi beritahu aku, hyung!"

Seokjin mengerang. "… Arraseo…"

"Jadi…?" pancing Namjoon.

"… Aku membawa kalian keluar…" Seokjin menunduk dengan wajah merah padam. "… Agar Yoongi… bisa… mengeluarkan hasrat… nya…"

Jungkook mengernyit. "Hasrat? Maksudnya merap?"

Sementara Namjoon dan Hoseok sepertinya mengerti.

"Itu saja?" Jimin mengernyit.

"B-bukan hasrat yang itu… m-maksudku…" Seokjin memainkan jarinya gugup. "… Kau tahuuuu… Yoongi sudah… lama tidak uhhh… 'keluar'… j-jadiii…"

Jimin mulai paham arah pembicaraan ini.

Sementara Jungkook masih memasang wajah 'Bicara apa kau?'-nya.

"Maksudnya… Yoongi hyung…" Namjoon berbisik di telinga Jungkook.

Jungkook loading sejenak, sebelum wajahnya meledak menjadi merah muda.

Dia menemukan dunia baru.

"R-rahasiakan dari Yoongi! Dia akan membunuhku kalau tahu aku memberitahu kalian!"

Membernya mengangguk setuju.

"Jadi begitu…" gumam Namjoon dengan wajah merah padam, sepertinya membayangkan sesuatu.

"Yak, apa yang kau pikirkan, heh?" Hoseok menyikut lengan Namjoon.

"A-ani…"

Hening sejenak, semua member menunduk menyembunyikan wajah merah mereka.

Malu sendiri.

Sebelum suara Jimin kembali terdengar. "Oh ya, hyung… apa Tae sudah membalas pesanmu?"

Seokjin menggeleng. "Ani. Anak itu… mendadak hilang setelah fanmeet… hanya mengirim pesan kalau dia akan pulang nanti malam…"

Namjoon mengernyit. "Anak itu kenapa?"

Jungkook memasang wajah khawatirnya. "Dia tampak sedih…"

"Apa terjadi sesuatu saat fanmeet tadi…?" Jimin melirik Namjoon. "Hyung, kau 'kan duduk di sampingnya."

Namjoon menggeleng. "Aku tidak memperhatikan sekitarku…"

Semua member bergumam.

"… Tunggu…" Hoseok berwajah tegang. "… Bagaimana kalau Tae… pulang saat… Yoongi hyung sedang…"

Semua ikut berwajah tegang.

Jimin tertawa gugup. "Ah! Tidak mungkin, hyung! Kau bicara apa!"

Hoseok ikut tertawa gugup. "I-iyaya… bicara apa aku ini. Hahaha… ha…"

"…"

"Oh God."

:

:


-Sejam sebelumnya…


Taehyung mempercepat langkahnya menuju dorm. Hatinya benar-benar tidak karuan memikirkan kejadian tadi saat fanmeeting. Dia merasa sangat sedih karena dianggap seperti tidak ada oleh satu ARMY itu.

Taehyung tahu, Cuma satu ARMY… tapi tetap saja hatinya sakit…

Taehyung benci saat di acuhkan… apalagi oleh orang yang dia anggap berharga…

Taehyung selalu menganggap ARMY seperti keluarganya, bahwa mereka berharga karena sudah mendukung mimpi Taehyung dan membernya.

Jadi saat kejadian tadi terjadi… Taehyung tak tahu harus melakukan apa.

Dia meraih ponselnya, mengecek pesan dari Seokjin.

Jinnie hyung: "Tae kau dimana?"

Jinnie hyung: "Kami sedang di SSS Mall"

Jinnie hyung: "Tae? Kau baik-baik saja?"

Jadi semua membernya sedang keluar, baguslah, Taehyung benar-benar akan menangis sebentar lagi. Dia ingin menumpahkan semua emosinya, dan tentu itu tak bisa dilakukannya jika ada membernya. Mereka akan khawatir, dan Taehyung tak mau membuat mereka khawatir.

Taehyung sudah sampai di depan pintu dorm. Dengan pelan dia membuka pintu dorm kemudian menutupnya. Dia lalu membuka sepatunya dan bermaksud masuk ke kamarnya untuk menangis.

Tapi sebuah suara tertangkap oleh indera pendengarannya.

"A-ah…"

Taehyung mengernyit. Bukannya semua membernya sedang ke mall ya?

Pencurikah?

Dengan waspada, Taehyung mengendap menuju asal suara, kamar Yoongi dan Seokjin.

Dan tanpa basa-basi mendobrak masuk.

Dan yang dia temukan, Yoongi hyungnya yang sedang duduk bersandar di nighstand ranjangnya, wajah memerah penuh keringat, telanjang bulat dengan bagian bawahnya yang tertutupi selimut. Satu tangannya memegang nipplenya, sementara tangannya yang lain menyusup masuk ke dalam selimut, seperti mengocok sesuatu. Dan di hadapannya ada laptop yang terus menerus mengeluarkan suara mencurigakan, jangan lupakan beberapa tisu yang sudah terpakai tergeletak di lantai.

Hell yeah.

Yoongi akan mati sebentar lagi.


TBC


Halo! Saya kembali di tengah minggu UTS!^_^" *nekat*

Jari saya gatal pengen ngetik karena begitu banyak inspirasi dari Bott!Yoong moment di Jepang. ARMY Japan sangat beruntung…

Terima kasih untuk review yang masuk~! Saya senang karena ada yang menunggu FF ini! Padahal saya sangat ngaret! ^_^"

Semoga chapt ini bisa menghibur! Hehe!

Terima kasih sudah mau membaca!^_^

-Siwgr3_/29-04-2018/