Uri Sarangseureoun Seoltangie

.

Chapter 11: Gift

.

A BTS Fanfic

.

SUGA!Centric

.

©Siwgr3

.

Cast: BTS, Other

.

Main Cast: Min Yoongi/SUGA/August D

.

Other Cast: BTS Member, Other

.

Pair: SUGA!Centric, Bott!Suga, Uke!Suga

.

Genre: Hurt/Comfort, Romance, Family

.

Rated: M


Yoongi mengira dia aman.

Min Yoongi benar-benar gila.

Dia melakukannya. Di kamarnya dan Seokjin. Di dorm mereka.

Awalnya dia mengira akan baik-baik saja.

Tapi dia salah besar.

Min Yoongi benar-benar gila.

:

:

"A-ah…!" Yoongi menggigit bibir bawahnya. Matanya terpaku pada layar laptopnya, sementara satu tangannya sibuk mengocok miliknya dan tangannya yang satu lagi bermain-main di dadanya.

Kini dia dengan tidak tahu malunya (setelah semalam menolak mentah-mentah tawaran Seokjin) mengeluarkan hasratnya di dalam kamar. Layar laptopnya menunjukan video dua orang namja yang sedang melakukan 'itu'.

Yoongi ingin di manhandle seperti namja di layar laptopnya ini. Apalagi lawan mainnya sangat tampan dan mengeluarkan aura manly yang kental. Tipe kesukaan Yoongi sekali.

Hyungnya memang sangat mengenalnya…

Apa Yoongi harus berterima kasih nanti?

'Ah! Molla…! Untuk saat ini aku harus fokus dulu…'

Yoongi menengadahkan kepalanya, merasakan panas di bagian selatan tubuhnya. Tangannya semakin cepat bekerja.

"A-ah…" Yoongi memejamkan matanya.

Sedikit lagi! Sedikit lagi dia akan keluar!

Sedikit la-

BRAK

Min Yoongi membuka matanya, menoleh ke arah pintu kamarnya yang didobrak paksa.


"Pastikan saja kau mengunci pintu saat melakukannya~!"


Suara songong sang hyung terngiang di benaknya.

Dan seharusnya Yoongi mendengarkannya.

Oh… lihat itu… Kim Taehyung berdiri di ambang pintu kamarnya, melotot memandangi adegan tak senonoh di hadapannya.

Shit. Shit. SHIT!

Mereka masih saling melempar tatapan, tak ada yang bergerak. Kim Taehyung dengan wajah melongonya dan Min Yoongi dengan wajah 'Ini bukan seperti kelihatannya, Taehyung ah!'.

MIN YOONGI! CEPAT BERPIKIR!

Apa yang harus dia katakan?

"Oh… Tae… hyung… kau sudah pulang… uhh yah… celanaku kedodoran, jadi aku memasukan tanganku ke dalam selimut untuk memperbaikinya, dan tanganku yang ini ada di nippleku karena… gatal…"

"Oh… Tae… hyung… ketoklah dulu, aku sedang nonton film sedih..."

"Oh Taehyung ah. Kau sekarang sedang bermimpi."

"Ini ilusi."

"Seokjin hyung memaksaku menontonnya."

"Mau ikutan, Tae yaa~?"

Tidak tidak.

Skenario manapun tidak ada yang terdengar bagus! –DAN HELL SKENARIO TERAKHIR SANGAT SALAH DALAM BERBAGAI LEVEL! Maksud Yoongi, Taehyung tampan dan yah Yoongi memang ingin di manhandle saat ini-TAPI TAEHYUNG TETAP MEMBERNYA! TERLEBIH LAGI TAEHYUNG NORMAL!

Bagaimana ini Min Yoongi…? hubunganmu dengan Taehyung sudah buruk sejak awal! Dan inikah caramu mendekatkan diri dengannya? Memperlihatkan aktivitas seksualmu?

Yoongi benar-benar lupa laptopnya masih mengeluarkan suara mencurigakan.

"A-ah~! Daddiieeeh!"

Yoongi terperanjat mendengar desahan dari laptopnya.

"Shit…!" umpat Yoongi sambil menutup –setengah membanting– layar laptopnya. Dia buru-buru menoleh ke arah Taehyung yang masih membeku. Dia menggeleng panik sambil menaikkan selimutnya sampai dagu. "A-ani, Taehyung ah…! Ini sama sekali bukan-"

Taehyung menangis.

Hah…?

Taehyung menangis…?

Yoongi melongo.

Taehyung mulai menangis keras, membuat Yoongi terlonjak panik.

Dongsaengnya itu mengeluarkan suara-suara yang menyayat hati, tak lupa wajah merah padam dan ingus yang meluncur indah dari hidungnya.

"Y-yak! Uljimma! Kenapa kau menangis, hah!?" bentak Yoongi gelagapan, dia bergerak-gerak gelisah tak tahu harus melakukan apa. Dia tak pernah melihat namja berumur 19 tahun yang menangis seperti bocah begini! "T-Taehyung ah!"

Taehyung tak menjawab, dia justru berbalik dan berlari meninggalkan Yoongi, masih menangis.

Yoongi masih terpaku di tempatnya.

Sebegitu jijikkah Taehyung melihatnya masturbasi…? Sampai menangis begitu..?

Aish… kau mengacaukannya lagi, Min Yoongi…

Yoongi menatap sekelilingnya, putus asa. Harusnya dia tidak mendengarkan hyungnya dan memakai kesempatan dorm kosong begini untuk tidur. Tapi apa yang dia lakukan? Dia mendengarkan hyungnya, dan inilah hasilnya.

Yoongi memang harus mencekik hyungnya di depan umum.

'… Aku harus membersihkan ini dulu…' batin Yoongi sambil tersenyum kecut. '… Setelah itu aku harus meminta maaf ke Taehyung…'

Dia mendadak cemberut.

'Tunggu…! Kenapa aku harus minta maaf? 'Kan hak setiap individu untuk melepaskan hasratnya!' omelnya dalam hati. Tapi wajahnya berubah memelas. "… Tapi aku sudah mengotori matanya… dia normal… sementara yang kutonton… aih…" gumamnya frustasi.

Tekad Yoongi bulat, setidaknya dia harus melihat keadaan Taehyung. Bagaimanapun juga dia menangis banyak sekali tadi. Yoongi 'kan jadi khawatir.

Uhuk.

:

:

Setelah bersih-bersih dan meletakkan semua 'hadiah' hyungnya kembali dalam tasnya, Yoongi melangkah pelan ke kamar Taehyung. Kini sudah berpakaian lengkap.

Samar dia mendengar isakan Taehyung.

Rasa bersalah semakin menjalari hatinya.

Dia perlahan membuka pintu kamar Taehyung, dan isakan dongsaengnya itu semakin jelas.

Dia menemukan sang dongsaeng sedang bergelung dalam selimutnya.

"Taehyung ah…?"

Taehyung tak menjawab, masih menangis, membuat Yoongi semakin sedih.

"Taehyung ah… uljimma…" kata Yoongi memelas. "Maaf hyung sudah mengotori matamu… hyung kira kau ikut dengan Seokjin hyung… kalau hyung tahu kau akan pulang cepat, hyung tak akan melakukan… itu…" suara Yoongi mengecil di akhir kalimatnya. Wajahnya sontak memerah. Dia ngomong apa sih?

Taehyung masih berbaring di ranjangnya, bergulung di dalam selimutnya, masih terisak.

Yoongi akhirnya hanya berdiri di ambang pintu, bingung dan putus asa. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Boro-boro menghibur orang yang sedang sedih, membangun percakapan yang normal dan tidak canggung saja sudah sangat susah untuk Min Yoongi.

Keheningan datang. Tak ada yang bergerak.

Lama. Yoongi sampai merasa ingin menjedotkan kepalanya di dinding terdekat.

Tapi suara Taehyung menghentikan niatnya.

"Hyung…"

Yoongi yang tadinya menunduk memandang lantai (merasa sangat bersalah) sontak mendongak. "… Ne…?"

"Apa aku jelek…?" Tanya Taehyung dengan suara serak.

Yoongi melotot. Bingung. "… Mwo…?"

Apa hubungannya Taehyung jelek dengan aktifitas Yoongi tadi…?

"Apa aku… jelek…" gundukan selimut yang menyembunyikan tubuh Taehyung bergetar. "Aku… tidak menarik… jelek… membosan… kan…"

Yoongi masih termangu. Taehyung bicara apa sih?

"… Aku… tidak cocok di sini, hyung…" isakan Taehyung kembali terdengar. "Aku benci… diriku sendiri… aku jelek, hyung…"

Saat itu juga Yoongi mengerti. Terjadi sesuatu pada Taehyung hingga membuatnya sedih begini. Jadi bukan karena insiden Yoongi tadi 'kan?

Ohhh! Yoongi harap memang bukan!

Setelah berpikir sejenak, Yoongi memberanikan diri mendekati gundukan selimut Taehyung. Dia lalu duduk di tepi ranjang lalu berkata pelan.

"… Kau tampan, Taehyung ah…" Yoongi tersenyum, mengangkat tangannya untuk menepuk-nepuk gundukan selimut itu. "… Bukannya hyung sudah pernah bilang?"

Tak ada jawaban dari Taehyung, dongsaengnya itu masih terisak.

"… Kau bisa menceritakannya pada hyung…" bujuk Yoongi lagi. "… Hyung tidak pintar menghibur orang… tapi hyung akan berusaha…"

'Dan tolong lupakan kejadian di kamar tadi.'

Yoongi ingin berteriak begitu, tapi ditahannya dengan sekuat tenaga. Prioritasnya saat ini adalah menghibur Taehyung dan mendengarkan keluh kesahnya.

Dia memang hyung yang baik.

Ha ha.

Taehyung masih sesenggukan, tapi dia mulai terlihat tenang.

"… Tadi di fanmeeting…"

Yoongi tetap diam, membiarkan Taehyung melanjutkan kalimatnya.

"… Ada ARMY yang tidak mengacuhkan aku…" Taehyung menggigit bibir bawahnya. "… Seakan-akan aku ini tidak ada…"

Ah… ternyata itu alasan Taehyung menangis.

"Aku tahu aku terdengar berlebihan, hyung…" Taehyung menyeka air matanya kasar, tapi malah menangis semakin keras. "… Aku... merasa tidak berguna, hyung… apa yang harus kuubah…? Aku benci perasaan ini…"

Yoongi memandang Taehyung sedih, dongsaengnya itu kembali menangis. "Taehyung ah… kau tidak berlebihan…" Yoongi menggigit bibirnya, tak tahu harus berkata apa lagi.

Dia benar-benar tak pandai menghibur orang!

Kini Yoongi hanya bisa berharap member lainnya segera kembali dan membantunya menenangkan Taehyung.

"Hyung…"

Yoongi tersentak, dia mendongak, menatap Taehyung ragu. "N-ne?"

"Apa aku jelek…?"

Yoongi terdiam sejenak, sebelum raut wajahnya berubah kesal. "Yak Kim Taehyung!" Yoongi menarik kerah baju Taehyung, menatapnya murka. "Kau?! Jelek?! HAH?! HENTIKAN ITU!"

Taehyung tampak terkejut, matanya melotot sementara mulutnya terbuka.

"KAU TAMPAN! HARUS BERAPA KALI KUKATAKAN AGAR KAU MENGERTI!?" bentak Yoongi emosi. "KALAU KAU JELEK, AKU INI APA, HAH?! PERKEDEL?!"

Taehyung masih membatu.

"Jangan pedulikan yeoja itu, Tae ah…" wajah Yoongi melembut. Tangannya lalu bergerak menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi Taehyung. "Masih banyak ARMY yang mencintaimu."

"…"

"Tetaplah menjadi dirimu sendiri, Tae ah… kau tidak perlu mengubah apapun…" Yoongi menggaruk tengkuknya gugup. "Memang akan selalu ada yang membencimu di dunia ini. Tapi itu bukan masalah. Kau tetap bisa menemukan banyak kebahagiaan Bersama orang lain."

Hening.

Yoongi semakin gugup. "U-um… mian, hyung tidak bermaksud berteriak…"

Taehyung masih terdiam –membuat Yoongi semakin gugup. Sebelum akhirnya dia bersuara. "Boleh aku memelukmu, hyung?"

Yoongi mendongak, jelas terkejut mendengar permintaan Taehyung. Dia tidak salah dengar 'kan? "Ne?!"

Taehyung tak membalas, dia menatap Yoongi, masih dengan wajah datarnya.

Yoongi menghembuskan napasnya berat. "… Arraseo…"

Taehyung tanpa menunggu disuruh dua kali, langsung memeluk Yoongi erat.

Yoongi dengan kaku membalas pelukan Taehyung. Tak terlalu paham kenapa Taehyung ingin memeluknya.

"… Gomawo, hyung…"

Baru saja Yoongi hendak membalas, Taehyung sudah menariknya hingga membuat keduanya terbaring di ranjang.

Jelas saja Yoongi kaget.

"O-oi-"

"Gomawo, hyung… aku senang…"

Yoongi sontak menutup mulutnya.

"Gomawo…"

Yoongi tersenyum tipis. Tangannya terangkat menepuk-nepuk kepala Taehyung. "… Bukan masalah."

Akhirnya mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.

Tapi mendadak Taehyung mendorong Yoongi. Yoongi yang terkejut, tak siap dengan gerakan tiba-tiba Taehyung. Dirinya kemudian terjatuh dari ranjang dengan tidak elitnya.

"Yak!" bentak Yoongi murka. Dia duduk di lantai, menoleh ke arah Taehyung, siap memakinya, tapi gerakannya terhenti saat menemukan wajah merah padam Taehyung, sementara kedua mata dongsaengnya itu menatap ke segala tempat kecuali ke arah Yoongi.

"… U-uh… tadi… di kamar…" Taehyung menunduk, wajahnya semakin memerah.

Perlu beberapa saat bagi otak Yoongi untuk memahami apa yang dimaksud Taehyung.

Wajahnya langsung merah muda.

Sialan. Tidak bisakah Taehyung pura-pura melupakannya?!

"A-aniii… ituuuuuu… tidak sepertiiiii… kelihatannyaaaa…" erang Yoongi putus asa.

Walau sebenarnya memang seperti kelihatannya.

Haha.

Yoongi tidak akan pernah mengakuinya.

Taehyung tampak tak tahu harus berkata apa.

"… Mian, hyung… bisa kau keluar…?"

"Ne…? Tae ah! Aku-"

"A-aku mau tidur… tolong keluar."

:

:

Ketika para member yang lain pulang, mereka menemukan Yoongi sedang berdiri di sudut dapur, memandangi pemandangan luar melalui jendela, sambil bergumam,

"Min Yoongi pabbo"

Berulang-ulang.

Sementara saat dicek,mereka menemukan Taehyung tertidur lelap di kamarnya. Wajahnya kentara sekali habis menangis.

Mencurigakan.

Akhirnya para member mendekati Yoongi yang masih bergumam tidak jelas dengan ekspresi kosong.

"Yoongiya? Ada apa?" Tanya Seokjin khawatir.

Yoongi perlahan menoleh, memberi Seokjin wajah maniaknya.

INI GARA-GARA KAU!

Seokjin hampir bisa mendengar pekikan hati Yoongi.

Secara refleks dia bersembunyi di belakang Namjoon sambil mendorongnya agar menghadapi Yoongi.

Namjoon meneguk salivanya susah payah.

"E-ehhh… jadiiii…" wajahnya memerah, membayangkan apa yang dilakukan Yoongi di kamar, tapi tepukan(tamparan) Hoseok di pipinya menyadarkannya dari fantasinya. "… Uhhh… Tae kenapa, hyung…? Dia menangis… 'kan…?"

Yoongi membuang muka dengan sewot. "… Tadi di fansign ada ARMY yang tidak mengacuhkannya. Makanya dia sedih."

Namjoon manggut-manggut. "Ah… begitukah…"

Wajah para member berubah muram.

Hening.

"… Tae…" semua melirik Jimin. "… Dia pasti sedih sekali…"

Yoongi memandangi Jimin, ekspresi dongsaengnya itu campur aduk. Marah, kecewa, terluka…

Yoongi tidak suka melihatnya.

Taehyung ada masalah begitu, membuat member lain khawatir padanya, dan Yoongi?

Dia malah sibuk memikirkan apa Taehyung membencinya akibat 'kecelakaan' tadi.

Ugh, Yoongi egois.

"… Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mensupportnya." Ucap Namjoon pelan.

Member yang lain mengangguk setuju –selain Yoongi yang masih melamun.

"… Jadi… Yoongi hyung…"

Yoongi menoleh merasa dipanggil, dia menemukan Jungkook yang tampak gugup dengan wajah memerah. Tubuh si maknae bergerak gelisah, membuat sebelah alis Yoongi terangkat.

"Mwo?"

"… Apa Tae melihat kau melakukannya…?"

Hening sejenak.

Jimin, Namjoon dan Hoseok sudah melotot, sementara Seokjin memaki Jungkook dalam hati dan tak lupa berdoa untuk keselamatan dirinya.

Yoongi?

Dia memandang Jungkook.

Tegang.

"… Maksudmu…?" bisiknya, masih memandang Jungkook.

Jungkook memainkan jarinya. "… Kau tahu… yang dilakukan orang dewasa…"

Sejurus kemudian, Min Yoongi tanpa babibu langsung melompat menerkam Kim Seokjin, membuat keduanya jatuh ke lantai. Yoongi berusaha mencekiknya sambil mengeluarkan sumpah serapah.

"WAAAA! YOONGI HYUNG!" pekik Jimin panik. "L-lepas!"

Dia dan Hoseok berusaha melepaskan tangan Yoongi dari leher Seokjin, sementara Namjoon memeluk Yoongi dari belakang dan berusaha menariknya menjauh.

"HEKK HEKKK HEKKK"

Itulah suara Kim Seokjin yang terdengar membahana badai, tapi Yoongi tidak peduli.

Berani sekali Kim Seokjin membocorkan 'kegiatan' top-secretnya! SETELAH BERJANJI AKAN MERAHASIAKANNYA!

Si dalang kekacauan yang sepertinya tidak pernah paham situasi hanya terpaku di tempat, memandangi dengan takjub.

Jeon Jungkook benar-benar harus dipukul pantatnya.

Ingatkan Seokjin nanti.

"SUDAH KUBILANG JANGAN BERITAHU MEREKA! KAU- FUCK! KAU BAHKAN MEMBERITAHU JUNGKOOK?! KAU-"

"Jungkookie!" ralat Jungkook kurang ajar.

"AHH! JUNGKOOKIE! PUAS KAU, BOCAH?!" bentak Yoongi masih kesetanan. Masih sibuk mencekik leher Seokjin sambil mengeluarkan sumpah serapah.

Keributan (keseruan bagi Jungkook) itu berlangsung tak lama, karena sebuah suara langsung terdengar.

"Ada apa ini?"

Gerakan Yoongi terhenti, wajahnya berubah panik campur takut. Dia menoleh diikuti member lainnya, dan menemukan sosok Taehyung sedang berdiri di ambang pintu, memandangi mereka, heran dan terganggu.

"O-oh, Tae… kau sudah bangun… selamat malam!" Hoseok tertawa garing.

Cekikan Yoongi perlahan mengendor, dan Seokjin mengambil kesempatan itu untuk segera merangkak menjauh dan berlari bersembunyi di belakang Taehyung.

Yoongi otomatis membuang muka.

Taehyung yang melihat itu terdiam sejenak, sebelum wajahnya berubah jadi merah muda.

Sepertinya teringat sesuatu.

Dia ikut membuang muka.

Masih merah padam.

Semua member memandang kedua member mereka itu.

Curiga.

"… Kalian kenapa…?" interogasi Hoseok, sudah memicingkan matanya.

"… A-ani…" gagap Taehyung, memandang tanah.

Seokjin di belakangnya ikut memicingkan matanya. "… Kenapa mukamu merah…?"

"… Ani…!" balas Taehyung cepat.

Jungkook mengalihkan maniknya kepada Yoongi yang masih berlutut di lantai.

"… Apa kalian melakukannya?"

"M-mwo?!" Taehyung terdengar seperti Jungkook baru saja menghina leluhurnya. "T-tidak! Apa! Apa yang kau bicarakan?! H-hah?!"

Sementara Yoongi sudah tertawa gaje.

"Jangan ngawur Jungkook ah!"

Jungkook meneliti wajah Yoongi yang sudah bersimbah keringat dingin.

"… Oya…?"

"A-aku masuk duluan!" Yoongi dengan serta merta melompat dan melangkah bermaksud masuk ke kamarnya.

"A-aku juga." Taehyung melangkah ke arah Yoongi, mengekorinya, tapi dihadiahi tatapan 'WTF' dari sang hyung. Taehyung membelalak sebagai respon. "O-oh iya! Salah arah!" dia sontak berputar dan setengah berlari masuk ke kamarnya.

Meninggalkan membernya yang melongo.

:

:

"Yoongiyaaa~…"

Yoongi tak bergeming, tetap sibuk bergelut dalam selimutnya, berusaha tidur.

Tapi Seokjin tidak menyerah.

"Ayo tidur bareng…"

Tetap tak Yoongi pedulikan.

Enteng sekali hyungnya ini, setelah mengingkari janjinya sendiri, membocorkan 'kegiatan' Yoongi, kini dia mengajak Yoongi tidur bareng!?

Dia kira Yoongi namja apaan!

"Yoongiyaaaa~… maaafff… soal tadi… tak akan kuulangi lagiiii…"

Suara Seokjin sudah memelas, dan walau Yoongi tak bisa melihat wajahnya, Seokjin pasti sudah mirip seperti anak anjing yang terbuang.

Tapi tetap!

Yoongi tak akan bicara dengannya!

Setidaknya untuk sebulan!

… Atau seminggu!

"Yak Min Yoongi!"

Sejurus kemudian Yoongi bisa merasakan selimutnya seakan terbang darinya, dan saat dia membuka mata, dia menemukan wajah kesal Seokjin.

HANYA BEBERAPA INCI DARINYA.

Napas Yoongi otomatis tertahan sementara matanya melotot.

Posisi macam apa ini!?

Seokjin berada di atasnya dengan wajah marahnya.

"Jangan diamkan aku!" marah Seokjin.

Yoongi tersadar, dia sontak membuang muka. "I-itu 'kan salahmu!"

"Aku 'kan sudah minta maaf!" balas Seokjin.

Yoongi merengut. "Kau kira segampang itu, hah?!"

"Yak Min Yoongi! berhentilah bertingkah seperti yeoja!"

PLAK

"ADUH!"

"YEOJA KATAMU?!"

BUAGH

PLAK

"AAHH! MAAFKAN HYUNG!"

DUAKH

BRUGH

Yoongi mendengus lalu kembali berbaring di ranjangnya, membiarkan Seokjin yang sudah merintih di lantai.

"Kau jahat sekali, Yoongiyaaaa~…" rengek Seokjin.

Yoongi berdecih. "Berhentilah bersuara menjijikan begitu!"

Seokjin mendengus.

Kenapa ya dia bisa suka sama namja macam begini?

Seokjin memandangnya sejenak. "… Memangnya kau bisa tidur tanpa aku?"

Yoongi tersentak, tapi tak bersuara.

Seokjin menyeringai. "Siapa nanti yang akan mengusap rambutmu? Menenangkanmu saat bermimpi buruk? Memelukmu? Kau yakin bisa nyenyak jika tidak ada tanganku sebagai bantalmu?" tanyanya manis.

Yoongi tetap diam.

Seokjin berdiri kemudian berbalik. "Arraseo~! Selamat Malam Yoongiya!"

Tapi baru saja dia berjalan selangkah, tangan Yoongi sudah menarik ujung piyamanya.

Seokjin menoleh ke belakang, menemukan wajah merah padam Yoongi dan kedua maniknya yang berenang-renang.

Senyum hyung tertua BPB itu mengembang. Dia berbalik dan membaringkan dirinya di samping Yoongi, mengulurkan tangannya untuk dijadikan bantal kepala Yoongi, sementara tangannya yang lain memeluk Yoongi untuk mendekat.

Seokjin memandang penuh sayang kepada Yoongi, sementara dongsaeng manisnya itu sibuk melesakkan kepalanya lebih dalam ke dada Seokjin, mencari kehangatan.

Seokjin tertawa kecil.

"… Kau manis, Yoongiya."

"… Berisik. Aku tetap marah padamu." Gumam Yoongi tak meyakinkan.

Bagaimana Seokjin bisa yakin kalau Yoongi mengatakan itu dengan wajah merah padam dan wajah merengut lucu?

"Ne… ne…" Seokjin diam sejenak, mempertimbangkan sesuatu, sebelum memutuskan untuk melakukannya. "Selamat malam, Yoongiya."

Setelah mengumpulkan segenap keberaniannya, Seokjin memajukan wajahnya untuk mengecup dahi Yoongi, lama, sebelum dia menarik dirinya lagi.

Saat dia menunduk, dia bertemu mata dengan Yoongi yang tampak terkejut.

Seokjin yakin wajahnya sudah merah padam saat ini.

Jarak mereka dekat sekali… walau keadaan kamar sedang gelap, tapi Seokjin bisa melihatnya, samar.

Bibir merah muda Yoongi yang sedikit terbuka.

Tanpa sadar, Seokjin mendekat bermaksud mencium.

Yoongi semakin membelalak.

'Lucu.' Batin Seokjin gemas.

Tapi alih-alih bibir Yoongi, Seokjin hanya mendapatkan dahi Yoongi lagi karena dongsaengnya itu langsung menunduk menyembunyikan wajahnya.

Seokjin mendengus.

Sayang sekali.

"…?" Seokjin mengernyit.

Dia bisa merasakan tubuh Yoongi yang sedang didekapnya memanas.

Seokjin tersenyum.

"Yoongiya, badanmu panas…"

Yoongi menguatkan cengkramannya di kerah piyama Seokjin. "Berisik, kau juga, pabbo…!"

Seokjin merengut, walau wajahnya juga jadi merah muda mendengar tuduhan Yoongi. "Aku hyungmu, bocah!"

Yoongi tak membalas.

Seokjin tak bisa menahan senyumannya.

Yoongi sangat manis.

… Rupanya ini…

Alasannya bisa jatuh cinta pada Min Yoongi.

"… Yoongiya~…"

"Nggg?"

"Kalau kau mau, aku… bisa membantumu…"

"Ha?"

"Kau tahu… ituuu… masturbas-"

BUAGH

"AUH!"

:

:

Seharusnya hari Sabtu ini Yoongi bisa tidur sampai siang, dan langsung menuju studionya untuk membuat lagu, tapi tidak.

Kim Seokjin tidak membiarkannya.

"Yoongiyaa! Bangun!"

Yoongi mengerang saat merasakan cubitan pelan di pipinya. "Dua jam lagi, hyuuungggg~…"

"Tidak boleh!"

Cubitan Seokjin mengeras, membuat Yoongi mengerang kesal.

"Kau harus membangunkan Jungkook!"

"Aaah? Ini 'kan hari Sabtu!"

"Ya iya! Hari ini hari kelulusan Jungkook!"

Mata Yoongi yang tadinya tertutup rapat, otomatis terbuka lebar. "… Ne…!?"

"Makanya! Bangunkan dia! Aku sudah mencobanya tadi, tapi dia keras kepala!" Seokjin berkacak pinggang, kentara sekali kesalnya.

Yoongi menghembuskan napasnya berat. "… Arraseo."

Tokoh utama kitapun bangkit dari tidurnya, kemudian menyeret langkahnya menuju kamar Jungkook.

Sesampainya di sana, Yoongi disuguhi pemandangan berantakan kamar maknae mereka itu. Sisa kopi susu kalengan tersebar di lantai Bersama beberapa pakaian Jungkook, sementara sang empu kamar bersembunyi di dalam selimut.

"Kook ah. Bangun." Yoongi mendekat. "Kamarmu berantakan sekali. Kau begadang ya semalaman?"

Tak ada jawaban.

"Kook-"

"Hyung."

Mulut Yoongi kembali tertutup. Dia memandangi gundukan selimut Jungkook.

"… Hari ini aku lulus."

Gundukan itu bergerak, menandakan si pemilik sudah dalam posisi duduk. Tapi Jungkook tetap menyembunyikan wajahnya dengan selimut.

Yoongi mengernyit heran. "Ne…? ya hari ini kau lulus. Makanya bersiaplah."

Tak ada jawaban. Jungkook seperti sedang berpikir.

Dan itu membuat Yoongi semakin bingung. "Jungkook-"

"Hadiah kelulusanku mana?"

Saat itu juga Yoongi kicep.

Mampuslah dia.

"Kau bilang isi tas coklat itu hadiah kelulusanku 'kan…" Jungkook menyibak selimutnya, memperlihatkan wajahnya yang berantakan. "… Tapi isinya bukan itu 'kan…?"

Oh no, please

"Isinya mesum 'kan?"

Saat itulah Yoongi ingin terjun bebas dari langit ketujuh.

Dia ingin membantah, mengatakan bukan bukan, segala hal yang dikatakan Seokjin adalah dusta.

Tapi memang benar adanya.

Jadi Yoongi harus bagaimana?

"Aku…"

Yoongi yang tadinya sedang nelangsa, mendongak, dan menemukan wajah sedih dan putus asa Jungkook.

"… Tidak suka kau berbohong, hyung…"

Yoongi merasa semakin bersalah.

'Aku tidak punya pilihan lain, Kook ah~…! Masa aku bilang isi tas itu vibrator, cd gay dan sekotak tisu~? Pikirkan posisiku juga, Kook ah~!'

Yoongi ingin beralasan begitu, tapi lidahnya kelu saat melihat wajah sedih Jungkook.

Sialan, Yoongi benci wajah itu.

"… Padahal… aku sangat menantikannya…" lirih Jungkook semakin memelas. "Aku… tidak bisa tidur, hyung… aku terus memikirkannya…"

Apa ini? Apa Jungkook sedang berusaha membuat Yoongi merasa buruk? Karena kalau iya, dia berhasil. Sangat berhasil.

Yoongi merasa menjadi orang paling jahat saat ini.

Memberi harapan palsu pada dongsaengnya yang polos ini.

"… Ya sudah, hyung. Aku mandi dulu."

Dan tanpa menunggu jawaban Yoongi, Jungkook sudah melompat turun dari ranjangnya dan berlari keluar kamar dengan kecepatan yang luar biasa.

Meninggalkan Yoongi yang semakin terpuruk.

:

:

Jungkook terlihat murung.

Entah itu di dalam mobil saat mereka menuju tempat kelulusan, maupun setelah sampai.

Dan itu membuat para hyungnya khawatir.

"Jungkook kenapa?" tanya Jimin cemas. Kini dia dan member lainnya berada pinggir lapangan, memandangi Jungkook yang sedang berdiri di tengah lapangan Bersama siswa lainnya.

"Dia terlihat murung dari tadi." Taehyung yang tadinya sedang memfoto Jungkook pun menurunkan kameranya, merasa ikut sedih melihat ekspresi maknaenya.

"Mungkin dia sedih karena lulus? Dia jadi harus berpisah dengan teman-temannya?" tebak Seokjin pelan.

Taehyung memutar matanya. "Oh, percayalah, hyung. Hari ini harusnya menjadi hari paling bahagia untuknya."

"Ya, dia benci sekolah." Jimin mengedikkan bahunya. "Terutama teman-temannya."

Namjoon mengernyit. "Huh… lalu kenapa…?"

Tak ada yang menjawab.

Sementara pelakunya berdiri di belakang, berusaha terlihat tidak bersalah.

Tapi Hoseok mampu melihat menembusnya.

Tapi dia tak berkata apapun.

:

:

Untuk merayakan kelulusan Jungkook, mereka pergi ke sebuah restoran keluarga tak jauh dari tempat kelulusan Jungkook.

"Kookieyaaa~! Jangan murung terus! Harusnya kau gembira!" Hoseok menepuk-nepuk kepala Jungkook pelan.

"Iya, kalau kau ada masalah, ceritakan saja!" desak Seokjin khawatir.

Jungkook masih memandangi kimbapnya. "Ani… aku hanya… sedang badmood saja."

"Alasannya?" tanya Jimin.

Jungkook melirik Yoongi, dan bertemu mata dengannya. Yoongi tersentak dan buru-buru menunduk. "… Ani. Bisakah kita tidak membicarakan ini?"

Taehyung mendesah frustasi. "… Kook ah…"

"Aniya, gwenchana hyung."

Hening sejenak.

Yoongi merasa ingin menggigit piringnya.

Sebelum Jimin bersuara -dan menghentikan niat Yoongi tersebut. "Kalau begitu untuk membuatmu senang, ayo kita ke acara intinya!"

Jungkook mengernyit. "Mwo?"

"Serah terima hadiah!" kata Jimin girang.

Yoongi ingin pingsan.

"Ahh~! Iya! Kalau begitu aku duluan!" Seokjin merogoh tasnya kemudian mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink. Dia kemudian menyodorkannya pada Jungkook.

Kemudian diikuti oleh member lainnya, satu persatu memberikan kotak hadiah mereka.

Jungkook menerimanya sambil tersenyum tipis. "Gomawo, hyungdeul."

"Yoongi hyung? Punyamu mana?" tanya Hoseok heran.

Manik Jungkook sontak beralih ke sosok Yoongi yang tampak putus asa.

"A-ah… aku…"

Jungkook menjatuhkan pandangannya kembali ke kimbapnya. "Aku lapar. Aku makan duluan, hyung."

"Eh? Kau tidak mau menunggu kuenya?" cegah Hoseok.

"Aniya, gwenchana. Terima kasih hadiahnya."

Setelah melempar senyum hangat, Jungkook kembali fokus pada kimbapnya.

Meninggalkan para hyungnya yang mengernyit heran.

Dan Yoongi yang hanya bisa menelan ludah.

:

:

Jungkook tahu dia kekanakan.

Kesal hanya karena masalah hadiah?

Oh ayolah. Jungkook selalu bilang "Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!" tapi kenyataannya sikapnya masih seperti bocah.

Jungkook tahu. Seharusnya dia tidak se-petty itu.

Tapi ayolah. Kelulusan SMA hanya sekali seumur hidup. Kelulusan ini juga menandakan kebebasannya dari sekolah yang mengerikan itu.

Jadi harusnya Jungkook merasa senang 'kan…?

Tapi entah kenapa dia tidak mampu tersenyum. Dia terus mengingat fakta bahwa Yoongi membohonginya. Dan entah kenapa itu membuatnya sakit. Padahal dia menantikan hadiah dari Yoongi.

… Dia memang mendapat banyak hadiah hari ini. Dari hyungdeulnya, keluarganya, bahkan staff-staff di bighit dan Bang PD tentu saja.

Tapi kurang satu.

Dari Yoongi.

Ahhh… Jungkook tidak boleh begini. Kau sudah bukan anak kecil lagi.

Tok tok

Jungkook mengernyit saat mendengar bunyi ketukan di pintu. Dia melirik jam di ponselnya, sudah jam 10 malam.

Pasti Jimin atau Taehyung.

"Tidak dikunci." Kata Jungkook serak, masih setia bergelung di dalam selimutnya.

Pintu kemudian terbuka, menunjukan sosok seseorang. Jungkook memicingkan matanya, berusaha mengenali sosok tersebut di balik kegelapan. Tapi gagal. Penglihatannya benar-benar parah. Salahkan dirinya yang terlalu banyak main game.

"Jimin hyung?" terka Jungkook pelan.

Hening sejenak, sebelum sosok itu bersuara.

"Kook ah."

kedua mata Jungkook sedikit terbelalak.

Yoongi.

"Cepat ganti baju."

"… Hah?"

"Sudah, lakukan saja, bocah!"

:

:

Jadi di sinilah Jungkook, berjalan di jalan setapak Bersama Yoongi di sampingnya. Malam ini dingin sekali, padahal sedang musim panas. Untung Jungkook menggunakan jaket. Jungkook melirik Yoongi sampingnya. Dibandingkan Jungkook, pakaian Yoongi cukup tipis. Hanya kaos biru dan celana jeans selutut warna hitam.

"Hyung, kau tidak kedinginan?"

"Aniya." jawab Yoongi santai.

Jungkook kembali menoleh ke depan. Dia bingung harus berkata apa lagi.

Canggung.

Sampai langkah Yoongi terhenti, membuat Jungkook ikut berhenti juga.

"Kita sudah sampai."

Jungkook menoleh, menemukan restoran dengan tulisan 'Lamb skewer' di samping pintu masuknya.

"Ayo masuk."

Tanpa menunggu respon Jungkook, Yoongi sudah menarik tangannya, menuntunnya untuk masuk ke dalam restoran.

"… Tanganmu dingin, hyung."

"Diamlah, bocah."

:

:

Jungkook menatap berbagai hidangan yang tersaji di depannya. Ada sate kambing, kimbap, bulgogi, kimchi, sup ayam jahe, dan lainnya.

Baunya harum sekali.

Jungkook sampai ngiler.

"Makanlah."

Jungkook mendongak, menemukan Yoongi yang sudah membuang muka. "Ne?"

"… Itu hadiah kelulusanmu dariku." Wajah Yoongi memerah. "… Maaf karena aku sudah membohongimu."

Jungkook memandangnya. Biasanya Yoongi sangat mudah dibaca, setiap gerak-gerik dan ekspresi wajahnya seperti buku yang terbuka.

Tapi entah kenapa kali ini Jungkook tak bisa membacanya.

… Dan dia jadi berharap.

"Kook ah?"

Jungkook sangat senang mendengar Namanya keluar dari mulut Yoongi.

"Oi?"

Dia merasa bahagia.

Yoongi merengut, masih dengan wajah merah padamnya. "Apa-apaan senyum anehmu itu?" hardiknya. "Hentikan itu!"

Jungkook tak bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Senyumnya masih mengembang sementara kedua matanya menyipit. "… Aku senang, hyung. Terima kasih."

Yoongi menatapnya sejenak, sebelum senyum mengembang di wajahnya juga. "… Tidak masalah." Tangannya perlahan terangkat dan mengacak surai Jungkook. "Sekarang makanlah."

Jungkook mengangguk senang. "Siap!"

:

:

Jungkook menghabiskan porsi delapan orang seorang diri.

Yoongi benar-benar akan bangkrut.

"Ini hukuman karena membohongiku!"

Bocah sialan.

Yoongi melirik Jungkook yang juga berjalan di sampingnya. Bocah itu tampak kenyang dan bahagia.

Melihat ekspresi itu, Yoongi jadi tak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum.

Wishhh

Angin dingin mendadak berhembus, membuat Yoongi tersentak.

"Ha-HATCHUH!"

Jungkook yang tadinya bersiul-siul di samping Yoongi, langsung terlonjak kaget karena bersin tidak manusiawi Yoongi. "H-hyung! Kau mengagetkanku!"

Yoongi menyeka hidungnya yang mulai mengeluarkan ingus. "Aah? Mian."

Jungkook memandangnya sejenak, sebelum menghentikan langkahnya. Yoongi juga otomatis menghentikan langkahnya sambil mengernyit. "Kenapa?"

Jungkook memberi isyarat untuk Yoongi agar mendekat, dan begitu Yoongi dekat, tanpa sepatah katapun Jungkook langsung membuka jaketnya kemudian memakaikannya pada Yoongi.

Yoongi merengut tak senang. "Yak, aku tidak perlu jaketmu! Kenakan lagi!" dia hendak melepas jaket Jungkook yang memeluk bahunya, tapi tangannya keburu ditahan oleh Jungkook.

Maknaenya itu menatapnya serius. "Aku tidak mau kau sakit."

DEG

… Ha?

Apa… hati Yoongi baru saja melakukan itu?

DEG?! HELL NO!

Ini Cuma ilusi. Cuma ilusi. Yoongi hanya terbawa suasana. Jeon sialan. Berkata begitu dengan suara lembut dan ekspresi seriusnya. Jangan lupakan wajahnya yang disinari bulan serta semilir angin yang membuat rambutnya melakukan hal itu.

HAL ITU.

Melambai-lambai seperti di komik.

Angin sialan.

"Hyung?"

Yoongi tersentak karena wajah Jungkook yang begitu dekat. "H-ha?! J-jauhkan wajahmu!" bentak Yoongi dan langsung mendorong wajah Jungkook sekuat tenaga.

"Aih, kau tidak perlu sekasar itu, hyungg~!" rengek Jungkook sambil memegangi pipinya.

Yoongi buru-buru berbalik sambil bersidekap -tak mau Jungkook melihat wajah merah padamnya. "B-berisik…!"

Jungkook mendengus, tapi senyuman mengembang di wajahnya. "Ayo pulang, hyung." Setelah itu dia meraih tangan Yoongi kemudian menautkan jemari mereka, dan tanpa menunggu respon Yoongi, langsung menuntunnya berjalan.

"…!" Yoongi ingin protes, tapi entah kenapa kata-katanya seperti tertahan di tenggorokannya. Dia melirik genggaman tangan mereka kemudian beralih ke punggung Jungkook di depannya.

… Sial… sejak kapan dia jadi sekeren ini?

DEG DEG DE-

HENTIKAN!

:

:

"A-ahh~ ahh~! D-daddieeeh~! Masukkan kereta panjangmu ke dalam gerbong kewanitaankuuh~!" (Maaf, saya juga jijik pas ngetik ini)

"Kereta tibaaa~!"

"A-aahhh~~! So hugeee~~!"

"Ah ah ah"

Namjoon memandangi layar monitor di depannya. Tangannya setia bekerja di bawah sana, berusaha memuaskan hasratnya.

Tapi gagal.

Namjoon menegak salivanya susah payah. "… Kenapa…"

"Ahh~! Micchan mau keluaarr~~!"

Croott

Hening.

Namjoon masih memandang shock layer monitor komputernya.

"… Kenapa aku tidak bisa tegang…?"


TBC


Uh… halo…?^_^"

Saya kembali, udah lama sekali ya… haha…^_^"

Uhh, sebenarnya saya sekarang lagi minggu UAS, tapi saya curi-curi ketikXD semoga chapt ini memuaskan ya. Maaf lama banget^_^"

Uhh dan ya… FF ini naik jadi rate M karena hal lain selain lemon XD Bahasa yang kasar dan juga beberapa adegan menjurus… uhh maaf mengecewakanXD tapi saya mau membuatnya pelan-pelan:3 ehe

Btw, saya punya ide dua cerita baru, tapi rasanya kurang ajar sekali kalua saya post sekarang. Jadi saya ingin menamatkan sekitar satu atau dua ff saya yang lain dulu baru saya post dua cerita itu XD ide banyak, tapi waktu ngetiknya yang… yah begitulah.

Rasanya FF USS ini akan lama sekali tamatnya, karena saya masih punya banyak sekali bahan yang ingin saya masukkan.

Palingan FF lain yang akan saya tamatkan. Saya juga dapat request TaeGi dari sahabat saya, dan lagi sementara dalam proses pengerjaan XD semoga sabar ya, maafkan saya yang karet ini:'3

Saya sudah membaca review yang masuk, dan sebagian ingin rate m, dan saya kabulkan. Walau tetap belum dienaena sihXD kkk

Terima kasih karena sudah mau membaca karya dari author ngaret ini!^_^" semoga chapter ini memuaskan dan semoga masih ditunggu!^^

Terima kasih!^_^ (P.s My Secret MinYoon lagi dikerjakan juga, dan kayaknya akan saya post dalam minggu ini atau minggu depan, Insya Allah)

-Siwgr3_/31-07-2018/