Hwang Hyunjin X Kim Seungmin
Rate T - M
Romance, Age switch, lil bit of Smut
--
Happy Reading
"Pak Hwang, saya mengumpulkan tugas dari kelas 2-1."
Hwang Hyunjin melepas telapaknya pada tikus berkabel setelah berhadapan dengan siswi yang akhir-akhir ini sepertinya agak sering ia jumpai, atau memang siswi ini sendiri yang berupaya menciptakan perjumpaan antara mereka.
"Terima kasih.. Yejin-ah." Mata Hyunjin sedikit menyipit saat membaca tag nama siswi di hadapannya ini.
Mengambil beberapa tumpuk buku berwarna-warni itu mengakibatkan ujung jemari Hyunjin bersinggungan dengan kulit halus milik Yejin.
Hanya pekikan tertahan yang Yejin mampu hasilkan.
"Kau telah bekerja keras, terima kasih sekali lagi." Hyunjin mengucapkannya dengan tulus.
"YA PAK!"
Entah karena terlalu bereuforia atau bagaimana, Yejin refleks mengeluarkan bunyi yang lebih keras dari suara normalnya.
Senyum manis Hyunjin mengakhiri pertemuan singkat di ruang guru sore itu. Yejin hanya tidak kuat jika terus menatap wajah rupawan itu.
Mata elang Hyunjin lantas beralih pada buku-buku bertuliskan setiap rentetan hangeul--nama-- beserta nomer absen masing-masing.
Hei, jumlah pembelajar di kelas 2-1 hari ada 26 tapi kenapa hanya 25 buku yang tercantum nama di bagian depan sampulnya?
Sebuah buku kusut dengan isi yang kurang beragamlah yang terisisa. Sungguh tulisan tangannya begitu indah sayang tidak banyak yang pemilik buku ini tulis.
Hyunjin ingin menikmati bentuk elegan dari tulisan tangan ini dengan netranya, ia bahkan sudah jatuh cinta pada tulisan tangan yang menawan ini, tanpa menduga-duga siapa yang menciptakan garis berbentuk tersebut.
"Mungkin dia lupa menulis namanya, baiklah coba lihat nomer berapa yang tidak terkumpul."
Hyunjin menggumamkannya kemudian mengecek kembali buku-buku itu, mengurutkan sesuai nomer absen dan terduga adalah pembelajar nomer 12.
"Kim Seungmin?"
Cukup terkejut dengan fakta yang baru saja ia ketahui. Mengenai siapa sejatinya pemilik identitas buku berisi tulisan indah yang ia baca barusan.
Hyunjin pernah percaya bahwa tulisan tangan Seungmin sama berantakannya dengan kepribadian pemuda itu.
Kenyatannya Seungmin lebih berdedikasi dalam tulisannya dibanding membetulkan karakteristik mengganggu miliknya tersebut.
Mengetahui lagi satu fakta yang membuat Hyunjin semakin bingung. Apa Seungmin sengaja mengumpulkan buku tanpa tugas yang ia berikan tadi?
Yeah, memang apalagi yang ia harapkan dari Seungmin? Meski matanya bersarang dalam bingkai lensa tak terlalu tebal--kaca mata-- bukan berati Seungmin adalah pribadi yang menyukai kegiatan membaca.
Menulispun malas, meski Hyunjin akui tangan Seungmin cukup telaten.
Cukup 30 menit saja Hyunjin selesai menilai hasil kerja murid-muridnya.
Ia menimbang nilai apakah yang harus ia berikan pada Seungmin, satu-satunya siswa tanpa hasil karena memang dia tidak mengerjakan tugas.
Malas memikirkannya, Hyunjin memilih beranjak setelah memakai tas selempangnya lalu berjalan keluar ruangan guru.
Tentu saja ia ingin pulang.
Dan fakta yang membuatnya bingung setelah ia sampai di depan gerbang sekolah masih bersumber dari subjek yang sama.
Kim Seungmin, dia masih belum pulang meski bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar di sekolah telah berbunyi 30 menit lalu.
Mungkin dia sedang ada tugas piket.
Tak sengaja Hyunjin menangkap ekspreksi Seungmin, datar terkesan dingin. Hampir tiap kali Hyunjin melihat Seungmin hanya ekspreksi seperti kulkas yang ia berikan.
"Seungmin? Kau belum pulang?" Tanya Hyunjin sekedar basa-basi.
Imej guru yang ramah selalu menjadi prinsipnya. Membuatnya menjadi berkali-kali lebih populer daripada guru lainnya, meski didukung juga oleh visual memabukkan itu.
"Aku tidak ingin ngobrol dengan Bapak, tolong jangan ajak aku bicara."
Kesan yang tak sopan sekaligus menggerus peesediaan kesabaran Hyunjin.
Murid kurang ajar.
"Ya sudah, Bapak duluan. Kau sebaiknya segera pulang karena hari sudah mulai gelap."
Seungmin melirik Hyunjin melalui ujung matanya. Tak bermaksud menggubris perkataan Hyunjin.
Kepribadian semacam ini tidak sesuai selera Hyunjin.
Dingin, suram, menyebalkan, dan menohok dalam satu paket membuat siapapun pasti geram menghadapinya.
Setidaknya Hyunjin mampu menahan kekesalannya, seperti yang ia selalu lakukan sepanjang hidupnya.
Menahan segala perasaan dan prasangka buruknya dalam ruang tergelap di hatinya.
*
see ya on next part! peace
