MEMORY
.
.
.
Disclaimer©Masashi Kishimoto
.
.
.
CHAPTER 3
Hiks..Hiks….
Seorang gadis kecil sedang menangis sambil memeluk boneka kelinci lusuhnya.
"Hikss..hiks..Kenapa semuanya jahat padaku?" tanya gadis kecil tersebut.
"Jangan menangis ! Aku tidak peduli dengan apa yang mereka semua katakan padamu. Bagiku, kau adalah peri musim semi yang sangat menawan." Ujar anak laki-laki tersebut.
"Hiks..hiks..ka..Kau tidak takut padaku?"Gadis tersebut bertanya kepada anak laki-laki yang sejak tadi menemaninya menangis.
"Kenapa harus takut ? kau itu temanku, kau adalah seorang peri. Bukankah Manusia sangat menyukai Peri ? Jadi tidak mungkin, aku yang manusia ini takut padamu." Tegas anak laki-laki tersebut.
"Lalu..Hiks..hiks.. KENAPA SEMUANYA TAKUT PADAKU DAN BEGITU MEMBENCIKU?!" Teriak anak perempuan tersebut. Kekesalannya membuat boneka kesayangan yang selalu dia bawa terjatuh ketanah.
Anak laki-laki tersebut memungut boneka kelinci yang dijatuhkan oleh Si anak perempuan. Anak itu kemudian mengulurkan tangannya yang sedang memegang boneka tersebut kearah anak Perempuan yang masih menangis tadi.
"Mereka yang membencimu itu bukan manusia, mereka adalah iblis yang memakai wujud manusia. Mereka tidak menyukai peri. Tapi kau tidak perlu khawatir ! Aku akan melindungimu, Sekalipun seluruh dunia ini dipenuhi oleh iblis seperti mereka, Jika mereka semua membenci dan berusaha melukaimu. aku akan melindungimu dan akan tetap ada dipihakmu. Karena itu ,tersenyumlah periku!"
Senyuman anak laki-laki tersebut membuat anak perempuan tadi berusaha menghentikan tangisannya
"Hiks..hiks..aku..Aku percaya padamu, "sambil berlinang air mata Sang anak perempuan tersebut membalas senyuman Si anak laki-laki dengan tidak kalah tulus.
Cuit…Cuit…
Nyanyian para burung membuat ku tebangun dari tidurku.
"Sudah pagi saja." Ujar ku sambil menahan kantuk yang masih tersisa.
Sudah dua hari sejak aku keluar dari rumah sakit. Aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Membantu Ibu memasak dan membereskan rumah. Tidak ada hal yang istimewa.
Aku belum diizinkan Ayahku keluar rumah. Ayah bilang aku harus dirumah dan melupakan tugas sebagai Ninja sejenak saja.
Padahal aku baik-baik saja, lagipula aku ninja medis. Aku lebih tau kondisiku sendiri di banding Ayah.
Tapi aku lebih memilih untuk menurut kali ini saja, Bisa dibilang ini kesempatan bagus untukku bersantai-santai tanpa harus bertugas sebagai Ninja dan hari ini aku sudah diperbolehkan keluar rumah.
"Apa aku kerumah Sasuke-kun saja ya?" Gumamku dalam hati.
"Aah, atau mengajaknya kencan denganku? Kyaaa"Inner ku dalam hati.
Didalam hati aku berkata seperti itu. Padahal aku sama sekali belum siap untuk bertemu dengannya. Setelah pembicaraan singkat kami di Rumah sakit waktu itu, aku merasa Sasuke menjauhiku. Tak ambil pusing untuk terus memikirkan kejadian itu, Segera aku bergegas kekamar mandi dan bersiap untuk pergi sarapan bersama keluargaku.
" Ayah dimana? Sudah dua hari aku tidak melihat Ayah." Tanyaku heran.
Tidak biasanya Ayahku pergi selama ini.
"Ayahmu sedang ada urusan dengan temannya, yang ada diluar Desa." Ujar ibuku.
"oooh" Jawabku singkat
Aku dan ibuku melanjutkan sarapan kami, sambil mebicarakan hal yang tidak penting.
"Ibu, aku pergi dulu ya." Teriakku dari luar rumah.
"Iya, Jangan pulang terlalu lama Sakura !" Ibuku menyahuti dari dalam rumah.
Aku bergegas berlari menuju tempat biasanya team tujuh berkumpul.
Kemarin sore, Naruto datang berkunjung kerumahku dan bilang kalau team tujuh akan mengadakan piknik ditaman konoha, untuk melihat bunga-bunga sakura yang sedang bermekaran Karena ini memang musimnya. Taman Konoha adalah tempat terbaik untuk melihat keindahan musim semi.
"Sakura-chan disini !" Teriak Naruto sambil melambaikan tangannya kearahku.
"Tidak usah berteriak, aku juga sudah tau kau disana" Gumamku kesal.
Aku berlari kearah lambaian Naruto.
"Huwaa, kita hanya berdua saja. Rasanya seperti sedang kencan saja." Ujar Naruto
"Maaf Naruto, aku tidak tertarik dengan laki-laki yang akan segera menikah."
"hehee, Sakura-chan kau ini bisa saja" Naruto menanggapi dengan malu-malu.
Wuuuuussh..
Angin bertiup disekitar kami.
Membuat kelopak bunga sakura berterbangan disekitar kami.
"Terjadi lagi." Gumamku pelan sambil melihat kearah kelopak bunga yang berterbangan dibawa angin.
"Hm, Ada apa Sakura-chan?" Tanya Naruto heran.
"Tidak, bukan apa-apa." Aku menggeleng pelan saat menanggapi Naruto. Entah kenapa semenjak misi yang kami lakukan bertiga waktu itu, aku terus merasa seperti ada yang kurang dan mengganjal dihatiku.
Semua hal yang terjadi saat kami diserang musuh, semuanya hanya terlihat samar diingatanku.
Saat menjengukku, Naruto sama sekali tidak pernah lagi membahas tentang penyerangan waktu itu. Sasuke-kun ? dia bahkan tidak pernah datang lagi menjengukku dan kabarnya misi kami dilanjutkan oleh anggota Tim lain.
"Naruto, Akhir-akhir ini aku tidak melihat Sasuke-kun. Kau tau dia dimana?"
"Ah, Sasuke mendapat misi solo dari Kakashi Sensei, tapi aku kurang tau misi apa itu. Haaaah padahal kemarin aku sudah mengajaknya piknik bersama hari ini. " Ujar Naruto dengan wajah yang sedikit kecewa.
"Begitu ya."
Syuuuut…Trang…Trang
"Hosh..hosh, Apa-apaan mereka ? semua luka mereka sembuh dengan sangat cepat."Sasuke memandang musuhnya dengan Kesal.
Syuuuut…
Sebuah fuma shuriken mengarah ke Sasuke.
TRaaang…
Sasuke menghindarinya dengan menggunakan kusanagi yang dibawanya sebagai pertahannya. Sharingannya sudah aktif sejak tadi.
"Kurasa ini akhir untukmu Uchiha. " Salah satu musuh memandang sinis Sasuke yang terlihat kelelahan.
Para musuh melemparkan kunai mereka bersamaan untuk menyerang Sasuke.
Syuuut..Syaash…
"Arggggh"
Flasback On
"Sasuke? Tumben sekali kau datang mengunjungiku sendirian diruang Hokage." Kakashi tersenyum lembut dibalik masker yang dipakainya.
"Ada yang ingin kubicarakan. Ini soal misi kami waktu itu dan tentang Sakura."
Sasuke memandang Kakashi dengan raut wajah yang sangat serius.
Mendengar apa yang dia tangkap dari perkataan Sasuke, mau tidak mau membuat Kakashi heran.
"Sakura ? Ada masalah apa dengannya, sampai kau repot-repot menemuiku seperti Ini. Bukankah kau dan Naruto sudah menjelaskan hasil misi kalian kemarin?"
"Aku merasa musuh yang menyerang kami waktu itu, mengenali Sakura."
"Hm?" Kakashi memasang wajah bingung.
"Laki-laki yang menyerang kami saat misi waktu itu, berkata kalau dia akan menemui Sakura lagi." Sambung Sasuke.
"Jadi, dia ingin bertemu Sakura?" Raut Wajah Kakashi menunjukan sedikit keterkejutan tapi hanya sesaat.
"Bukan hanya itu, Tingkah laku kedua orangtua Sakura saat di Rumah sakit juga mengganggu pikiranku."
"Jadi kau mencurigai orangtua Sakura?"
Pertanyaan Kakashi yang sedikit heran dengan ucapan Sasuke membuat Sasuke enggan melanjutkan apa yang dia pikirkan.
"Ck…aku tidak bermaksud begitu, hanya saja…Argh sudahlah ! lupakan saja yang kukatakan tadi." Sasuke kesal melihat Kakashi yang seolah menilainya sebagai orang yang terlalu berpikir kritis."
"Tidak. Aku bertanya bukan untuk meragukan apa yang kau katakan. Hanya saja aku juga merasa sedikit heran dengan Ayah Sakura. Tadi malam, Ayahnya datang kekantorku dan meminta izinku untuk menggantikan misi kalian." Kakashi menjelaskan seolah paham dengan reaksi Sasuke tadi.
"Lalu, Kau mengizinkannya?"
Sasuke memasang kembali wajah seriusnya.
"Awalnya aku tidak mengizinkannya, Tapi tuan Kizashi terus memaksa dan memohon untuk menjalankan misi kalian sebelumnya. Aku sedikit ragu apa misi itu cocok untuknya, tapi Karena tuan Kizashi bersi keras, aku akhirnya menerima permintaannya, dengan menyertakan 3 orang Anbu bersamanya." Ujar Kakashi panjang lebar.
"Apa Sakura tau tentang hal ini?"
"Tuan Kizashi memintaku untuk tidak mengatakannya pada Sakura."
Kakashi melihat raut wajah Sasuke yang terlihat berpikir keras.
"Kakashi, Aku ingin kau menyertakanku dalam misi ini sekali lagi ! Aku akan menyusul mereka."
Sasuke menatap Kakashi dengan serius. Kakashi yang awalnya hanya penasaran dengan apa yang dipikirkan Sasuke semakin tertarik untuk mengetahui musuh yang akan mereka hadapi kedepannya.
"Baiklah. Uchiha Sasuke, kuperintahkan kau untuk menjalankan Misi solo sebagai bala bantuan untuk tuan Kizashi dan 3 orang Anbu lainnya."
"Hn, Terimakasih Kakashi-Sensei."
Whuuush...
Sasuke menghilang diantara kepulan asap. Meninggalkan Kakashi yang tertegun dengan apa yang barusan ia dengar.
"Sensei, ya ?" Kakashi bergumam pelan dan tersenyum.
Flashback Off
.
.
.
Trang…Trang..
Arghhh…
"A..a..pa yya..ng ter..jadi ?" Gumam salah satu musuh yang telah sekarat bersimbah darah.
"Ternyata kau tubuh aslinya ya ?" Gumam Sasuke
Sasuke menghunuskan pedangnya kelawan. Sebelumnya dia sudah menggunakan Sharingannya untuk menciptakan ilusi terhadap lawan. Sehingga terlihat seolah Sasuke lah yang terpojok oleh lawan.
Semua musuh yang tadinya menyerang Sasuke sudah lenyap, di karenakan sang tubuh asli telah dikalahkan oleh Sasuke. Sasuke kembali menggunakan Sharingannya kepada musuh yang hampir tidak sadarkan diri akibat kehabisan darah. Dia mencoba melihat ingatan musuh tersebut.
Terlihat samar sebuah gambaran di sekitar hutan, Seorang pria berambut perak, lebih tepatnya putih seperti salju. Sedang berbicara kepada pria yang menyerang Sasuke tadi. Sasuke sangat mengenal wajah itu. Dia adalah orang yang menyerang mereka dan yang membuat desa Nami menjadi es.
"Aku ingin kau pergi ke Desa Konoha, untuk mengawasinya dan melaporkan semua kegiatannya disana." Ujar pria berambut putih tersebut.
"Apa dengan mengawasinya kau akan menambah masa kehidupanku?"Balas pria satunya.
"Kau tau, aku lebih suka membunuh daripada mengawasi." Pria tersebut melanjutkan perkataannya dengan menyeringai.
"Huuuh, sebagai seorang mayat yang dihidupkan kembali. Kau benar-benar banyak menuntut." Pria berambut putih itu kembali bicara.
Pemandangan yang Sasuke lihat tiba-tiba memudar dan semakin menjauh. Sasuke kembali dari ingatan orang tersebut dan menonaktifkan sharingannya.
"Cih, hanya sampai sini."
Ingatan orang tersebut memudar dikarenakan musuh sudah kehilangan nyawanya karena kehabisan darah.
Pyaaashhh…
Tiba tiba tubuh musuh tersebut bersinar menyilaukan. Sasuke yang melihat hal tersebut reflek bergerak berusaha menjauh.
DuaAAAr..
Suara ledakan menggema di area hutan tersebut. Membuat beberapa pohon disekitarnya hancur dan hampir rata dengan tanah.
Brak..brak…brak…
Sasuke yang belum sempat menghindar terlalu jauh, membuat tubuhnya terhempas kearah pohon. Untungnya dia sempat menggunakan Susanoo, sehingga dampak hempasan akibat ledakan tidak begitu berefek.
"Huuh, Sia-sia aku menghidupkannya. Dia sama sekali tak berguna."
Prang!
Sebuah kristal berbentuk bola yang memperlihatkan keadaan pertarungan tadi, telah hancur digenggaman pria tersebut.
"Aku harus menciptakan yang baru." Gumam Pria tersebut.
TSUZUKU
Terimakasih sudah membaca lanjutan Memory ^^
Cerita ini kemungkinan akan banyak nama Chara yang aku karang sendiri alias nama beberapa karakter diuar cerita Naruto. Jika ada kesamaan nama yang tidak disengaja. Mohon dimaklumi ^^
