MEMORY
.
.
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
.
CHAPTER IV
.
.
Hujan deras membasahi bumi. Seorang pemuda dengan sebelah matanya yang tertutup oleh rambutnya,sedang berlari menembus hujan untuk menuju ketempat tujuan utamanya, yaitu desa Nami, tempat sebelumnya team 7 melakukan misi.
Sasuke mendapatkan kabar dari Hokage ke-6 yaitu Kakashi, bahwa Tuan Kizashi dan tiga Anbu lainnya sedang berada didesa Nami. Kakashi mendapatkan pesan dari salah satu Anbu yang menyelidiki keberadaan musuh yang telah membekukan desa Nami tersebut. Mereka telah menemukan dimana pemuda berambut perak itu berada dan sedang menuju ketempat musuh..
Sasuke yang mendapatkan kabar tersebut dari Kakashi segera bergerak cepat menuju desa Nami.
Tap…Tap…Tap…
Langkah Sasuke melamban, didepannya terdapat sebuah gua yang dimaksud oleh para Anbu. Sasuke mengaktifkan Sharingannya, mewaspadai sekitar gua yang sangat hening dan begitu dingin. Jujur saja gua ini memiliki penerangan yang kurang. Setelah beberapa menit berjalan didalam gua, Sasuke memicingkan matanya melihat kearah depan, tepatnya ujung gua tersebut berakhir.
Cahaya yang menyilaukan dari ujung gua tersebut, mau tak mau membuat matanya menyipit menahan silau. Sasuke terus melangkah hingga sampai la keujung gua, Matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya diluar gua, merasakan kedua kakinya seperti tersandung sesuatu yang besar. Ia menunduk dan berusaha memastikan apa yang telah mengganggu langkahnya.
Matanya terbelalak melihat apa yang ada dihadapannya. Beberapa mayat menggunakan topeng dengan darah membanjiri sekitar tempat dia berdiri. Para Anbu yang dikirim Kakashi sebelumnya, sekarang sudah tak bernyawa.
"Bagaimana dengan Ayah Sakura?'Tanyanya dalam hati.
Jatungnya berdegup tak karuan, membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Ayah Sakura. Sasuke benar-benar takkan tega melihat Sakura terpuruk dan menangis jika mengetahui kalau Ayahnya sudah tidak ada. Cukup dia saja yang pernah membuat Sakura menderita, dia tidak ingin lagi melihat Sakura terluka.
Menggelengkan kepalanya dalam diam. Sasuke berusaha menepis semua pemikiran buruk yang menghantuinya tadi.
"Haaaah." Sasuke berusaha menetralkan detak jantungnya.
Dia kembali berjalan dengan tatapan tegar dan berusaha berpikir positif tentang yang terjadi dengan Tuan Kizashi. Dari darah yang masih segar tersebut, Sasuke yakin pertarungan belum lama terjadi. Sasuke kembali berkonsentrasi untuk merasakan jejak chakra yang mungkin luput darinya.
.
.
.
"Kau sudah sadar?" Tanya seorang pemuda berambut perak tersebut.
"Kau benar-benar sudah gila Fuyuki." Gumam Tuan Kizashi setengah sadar.
"Hahahaa, Kau selalu mengatakan hal itu padaku Paman." Balas pemuda tersebut.
" .Apa tujuanmu sebenarnya?'
Tuan Kizashi yang tangan dan kakinya sedang terikat tak berdaya, dengan darah yang terlihat dibagian kiri perutnya, bertanya dan menatap tajam kearah Fuyuki.
"Paman segitunya ingin tahu, sampai bersusah payah untuk menemuiku. Aku benar-benar terharu." Balas Fuyuki.
"Jangan ganggu kehidupan Sakura."
Kizashi menatap tajam kearah Fuyuki dengan menekankan kalimat yang diucapkannya.
"Heeeh, Kau tidak berhak melarangku. Aku memiliki hak untuk bersama Sakura dibandingkanmu Paman."
"Jika kau berani menganggu kehidupan Sakura. Aku akan Membunuhmu." Ancam Kizashi.
"Hahahaa, lihat siapa yang bicara? Perhatikan sendiri keadaanmu sekarang Paman. Di pertarungan tadi, kau bahkan tidak sanggup melukaiku."
Fuyuki menyeringai menatap keadaan Kizashi yang terluka.
"Aku rasa akan menyenangkan jika membunuhmu dengan perlahan seperti ini. Membiarkan darah mengalir secara perlahan itu sangat menyenang-."
Syuuut…Syuuuut…
Beberapa Shuriken terbang kearah Fuyuki. Fuyuki yang menyadari serangan tersebut reflek menghindar.
"Wah..wah, bertambah lagi pengganggu." Ujar Fuyuki.
Shuriken yang menyerang Fuyuki berasal dari Sasuke. Sasuke menatap tajam kearah Fuyuki. Dia kemudian menggunakan Susanoo untuk menyerang Fuyuki. Dengan Sigap Fuyuki menghindari serangan tersebut.
"Mengganggu saja'. Ujar Fuyuki
Kraak...Kraak…
Beberapa tombak es berukuran besar mengarah ke Sasuke.
Syaat…Syaat…
Sasuke menebas semuanya dengan pedang yang ada pada susanoo.
"Cih, kurasa belum saatnya aku mebunuhmu paman !" Teriak Fuyuki.
Fuyuki merapalkan mantra dan membentuk tembok penghalang dengan es. Sasuke yang menyadari musuh yang berusaha kabur, segera menghantam tembok tersebut dengan Susanoo. Tembok es tersebut hancur berjatuhan, tetapi musuh telah menghilang.
"Ck, dia kabur lagi." Gumam Sasuke kesal.
Sasuke mengalihkan perhatiannya kearah Kizashi. Dia melepaskan ikatan tangan dan kaki Kizashi.
"Tuan Kizashi, kau terluka." Ujar Sasuke yang melihat luka menganga dibagian kiri perut Kizashi. Kizashi bahkan sudah tak sadarkan diri untuk membalas ucapan Sasuke.
Tap…Tap…Tap…
Sasuke kembali berlari melewati pepohonan dan hutan sambil membopong Kizashi. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat berusaha menuju kedesa terdekat untuk membawa Kizashi kerumah sakit.
.
.
.
.
Mata yang sejak tadi setia tertutup perlahan terbuka. Kizashi berusaha membuka matanya yang terasa berat untuk terbuka.
"Ugh, aku sedang dirawat?" Tanya Kizashi pada diri sendiri.
"Kau baik-baik saja Tuan Kizashi?" Tanya Sasuke dengan tetap berwajah datar.
"Ooh, nak Sasuke. Kau yang membawaku kesini?"
"Hn" Jawab Sasuke singkat.
"Hahahaa, Terimakasih. Jika tidak ada kau, mungkin aku sudah tidak bisa melihat istri dan anakku yang sedang menungguku dirumah."
"Hn." Sasuke kembali bergumam tak jelas.
"Haah, Tidak kusangka musuh kita sangat kuat. Bahkan para Anbupun tidak bisa mengalahkannya."
Kizashi kembali berujar dan tidak memusingkan balasan singkat Sasuke tadi.
"Tapi tidak kusangka aku benar-benar selamat. Kupikir aku akan mati." Sambung Kizashi.
"Tuan Kizashi sangat cerewet seperti Sakura. Mereka benar-benar mirip." Pikirnya dalam hati.
"Luka anda tidak terlalu dalam" Sasuke menjawab sekenanya.
"Begitu ya."Gumam Kizashi.
" Tuan Kizashi, maaf jika aku tidak sopan. Dilihat dari pertarungan kemarin, sepertinya musuh sangat mengenal anda."
Kizashi yang mendengar penuturan Sasuke tersebut mau tidak mau mebuatnya sedikit terkejut.
"Haaah, kau menyadarinya ya."
"Jadi benar, anda mnegenalnya." Sasuke menatap Kizashi dengan serius.
"Kurasa sudah saatnya menceritakan semuanya." Kizashi menatap Sasuke sambil tersenyum. Senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Sebelum aku menceritakan tentang laki-laki bernama Fuyuki. Kurasa aku harus menceritakan masa lalu Sakura."
Sasuke menjadi heran mendengar penuturan kizashi.
"Kenapa malah menceritakan masa lalu sakura?' Pikirnya dalam hati.
Sasuke Pov
Kepalaku terasa berat, aku kembali ke penginapan yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut. Hanya sekedar untuk menenangkan diri. Tuan Kizashi masih beristirahat dirumah sakit. Aku sudah mendengar penjelasan dari Tuan Kizashi, tentang hubungan Tuan kizashi terhadap laki-laki bernama Fuyuki tesebut. Aku benar-benar terkejut mendengar penuturan Tuan Kizashi bahwa Fuyuki adalah anak angkat dari Adik perempuan Tuan Kizashi. Tidak, masih ada yang lebih mengejutkan lagi. Kalimat Tuan Kizashi yang menuturkan bahwa Sakura bukanlah anak kandung Kizashi.
"Bagaimana bisa jadi begini ?" Gumamku lesu.
Flashback On
"Saat itu usia Sakura masih delapan tahun. Sakura adalah anak kandung adik perempuanku yang bernama Hana. Hana dan keluarganya hidup jauh dari kehidupan sebagai Shinobi. Ayah Sakura adalah orang yang sangat terpandang dan dihormati di Clannya. Semenjak kelahiran Sakura. Mereka memutuskan untuk menjauh dari segala hal tentang Shinobi. Mereka hidup damai di Negara kecil yang bergerak tanpa Shinobi."
Kizashi menceritakan semuanya panjang lebar. Alasan Sakura menjadi anaknya dan Fuyuki yang mengenalnya juga mengenal Sakura. Serta alasan Sakura melupakan semuanya.
FlashBack Off
Tsuzuku…
Maaf Gaje. Bahkan gak ada Moment Sasusaku ^^
Sekali lagi Maaf jika ada Typo dan terimakasih sudah membaca lanjutan Memory serta mereview cerita ini ^^
