CHAPTER SPESIAL [HARUNO]
.
.
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
.
.
Sakura to Fuyuki
.
.
Hana to Ryuu
.
.
"Sakura…Saku…Jangan bermain terlalu jauh sayang !"
"Haha..haahaaa.. Lihat ! ada banyak salju yang turun."
Terlihat seorang anak kecil yang dipanggil dengan nama Sakura sedang berlarian ditengah salju ditemani Seorang Wanita yang memiliki warna rambut senada dengannya, Wanita itu sedang berusaha mengimbangi lari anak kecil tersebut.
"Ya ampun Saku, Apa tidak merasa dingin ? Kita masuk kerumah ya. Bibi Mito sedang menyiapkan kue kesukaan Sakura lho."
Wanita tersebut berusaha membujuk gadis kecil yang masih asyik bermain dengan salju.
"Kyaaa..hahahaa…Sebentar lagi ya." Sakura terus bermain kegirangan dengan salju yang telah dia bentuk.
"Huuuuh, Anak ini sama keras kepalanya dengan Papanya." Gumam Wanita tersebut sambil tersenyum maklum.
"Mama, Lihat ini kelinci !" Sakura memamerkan hasil karyanya yang terbuat dari salju dengan tersenyum bangga.
"Waaah, anak Mama pintar. Kelincinya lucu sekali."
"Hmm, Aku memang super pintar." Jelasnya dengan bangga.
"Hihiihii, sifatmu benar-benar mirip Papa." Wanita tersebut mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Sakura dengan lembut.
"Apa aku tidak mirip Mama?" Sakura bertanya dengan Polosnya.
"Tentu saja Sakura juga mirip dengan Mama. Saku sama cantiknya dengan Mama." Ujar seorang Pria berambut Coklat yang tengah berjalan Menghampiri dua perempuan cantik tersebut.
"Papa !" Sakura berteriak kegirangan, berlari menyusul pria tersebut untuk memeluknya.
"Anak papa sedang main salju ya?" Pria tersebut menyambut pelukan Sakura dengan hangat.
"Hihiii, Iya."
"Anata, Apa yang sedang kau bawa itu?" Hana yang merupakan Ibu dari Sakura melihat benda berukuran sedang yang ada digenggaman suaminya.
"Ooh, ini hadiah untuk Sakura." Balas Ryu yang merupakan ayah dari Sakura.
Ryuu Menyodorkan bungkusan tersebut kepada Sakura sambil tersenyum.
"Papa bawakan hadiah untuk Saku, Lho."Lanjutnya lagi
"Waaah, Papa boleh kubuka bungkusannya?" Sakura kecil terlihat tak sabaran.
"Uhum, Saku. Buka Hadiahnya didalam rumah saja ya." Ujar Hana
"Iya Mama." Sakura menjawab dengan semangat.
Sedang semangatnya dengan hadiah yang diberikan Papanya. Mata Sakura tidak sengaja melihat seorang anak laki laki yang tidak jauh dari tempat mereka bicara. Anak laki-laki tersebut melihat kearah Sakura dengan tatapan dingin.
"Papa, orang itu siapa?" Sakura yang penasaranpun bertanya kepada Papanya sambil menunjuk kearah anak laki-laki terebut.
"Ah, Ya ampun aku lupa." Ujarnya dengan tersenyum canggung.
Ryuu yang merupakan papa Sakura melangkahkan kakinya kearah anak laki-laki tersebut. Dia menggenggam tangan anak tersebut dan membimbingnya menuju kedua orang perempuan yang sangat istimewa dihatinya. Kedua perempuan tersebut hanya diam dan memandang dua orang yang melangkahkan kakinya kearah mereka.
"Hana, Saku ! Perkenalkan dia Fuyuki. Mulai sekarang dia akan tinggal dirumah kita. Dia Kakak laki-lakimu." Ryuu tersenyum lebar sambil memperkenalkan anak laki-laki tersebut kepada Hana dan Sakura.
Hana dan Sakura hanya diam melihat kearah anak tersebut. Keduanya terlihat sedang berusaha mencerna apa yang dikatakan Ryuu. Setelah beberapa detik termenung mereka akhirnya dapat mencerna yang dikatakan Ryuu.
"Eeeeehhhh?" Ujar kedua perempuan tersebut bersamaan.
Dikediaman Haruno
Sakura sudah membuka bungkusan hadiah dari papanya . Sebuah Boneka kelinci yang hampir seukuran dengannya. Dia sangat senang dengan hadiah barunya, apalagi saat ini dia mendapatkan teman baru yang sedang duduk menemaninya bermain dengan boneka. Lebih tepatnya orang yang sakura maksud hanya diam dan mengabaikan kegiatan main Sakura.
Dari arah ruang tamu, Hana dan Ryuu memperhatikan kedua anak kecil tersebut.
"Anata, apa kau selingkuh ? Hana akhirnya membuka suara setelah diam melihat kegiatan dua anak tadi.
"Haa ? Apa maksudmu Hana?" Ryuu terkejut dengan pertanyaan blak-blakan dari istrinya.
"Hiks…Tidak kusangka suamiku memiliki anak dari wanita lain."
Hana menangis pelan sambil terisak. Dia tidak ingin kedua anak yang sedang bermain itu melihat kegiatan sepasang suami istri yang sedang mengalami krisis rumah tangga.
"Ternyata kau sudah tidak mencintaiku lagi. Apa kegiatan malam kita tidak pernah membuatmu puas ?" Lanjut Hana.
Ryuu yang mendengarkan penuturan Hana hanya bisa mangap tidak jelas. Melihat istriya yang anggun dan lembut bisa mengatakan kalimat yang agak terdengar vulgar ditelinganya. Semburat merah tipis terlihat diwajah Ryuu.
"Hana, kau salah paham."Ujar Ryuu sambil membersihkan air mata dipipi Hana. Ryuu sebenarnya merasa tidak tega melihat air mata Hana.
"Huweee, Ryuu sudah tidak mencintaiku lagi." Tangisan Hana semakin kencang.
Sakura yang mendengar suara Mamanya mengalihkan atensinya kearah Papa dan Mamanya yang berjarak tidak jauh darinya. Ryuu melihat Sakura yang sedang berjalan menghampirinya mau tidak mau membuatnya gelagapan, apalagi Hana menangis semakin kencang.
"Papa, Kenapa Mama menangis?" Tanya Sakura heran.
"Huweee.. .." Hana tak berhenti menangis dan membuat keadaan jadi runyam. Dia kemudian berlari masuk kekamar. Melihat itu Ryuu semakin bingung.
"Hiks...hiks...Huweee...Mama ?" Sakura ikut menangis mendengar tangisan Hana.
Ryuu semakin gelagapan.
"Saku, mama menangis karena papa lupa membawa hadiah untuk Mama. Papa akan membujuk Mama. Jadi Saku jangan menangis ya." Ryuu berusaha membujuk Sakura.
"Benarkah?" Sakura bertanya dengan air mata yang menggenang dan sesenggukan.
"Iya, Jadi saku main dengan Fukyuki dulu ya. Papa mau melihat Mama."
"Uumm."Gumam Sakura.
Ryuu segera menyusul Hana kedalam kamar.
.
.
.
"Hiks…hiks."
"Hana, jangan menangis. Kau salah paham." Ryuu berusaha membujuk.
"Hiks..Hiks…"
Tidak ada tanggapan dari Hana yang sedang berbaring mebelakangi Ryuu. Hanya suara isakan tertahan yang tertangkap dari pendengarannya. Tidak ingin opera sabun ini berlanjut terlalu lama. Ryuu pun berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya. Setelah semua penjelasan Ryuu yang akhirnya dapat dicerna oleh Hana. Hanapun sudah berhenti menangis.
"Jadi Fuyuki adalah anak yang kau selamatkan didekat desa terpencil yang mengalami kebakaran?" Hana bertanya kembali untuk memastikan.
"Iya, saat aku sampai kedesa tersebut hanya ada api yang sudah mulai padam dan tidak ada satupun yang selamat didesa terebut." Ryuu mengingat kembali kejadian yang dia alami saat membantu seorang anbu utusan Hokage ke tiga untuk menjalankan misi didaerah tersebut.
Ryuu sebenarnya sedang ada bisnis diluar desa. Saat kepulangannya dari bisnis tersebut, dia tidak sengaja melewati desa terpencil dan bertemu anbu yang dia kenali. Sehingga dia memutuskan untuk menemani anbu tersebut membantu para korban kebakaran didesa terebut. Tapi sayangnya semuanya sudah tak bernyawa. Hanya menemukan seorang anak kecil yang bersembunyi disudut lemari yang tak terbakar api. Keadaan anak tersebut tidak dibilang baik, tubuhnya dipenuhi luka akibat terkena percikan api napasnya juga tak beraturan dan tubuhnya gemetaran seperti takut pada sesuatu.
Melihat hal tersebut Ryuu pun merasa iba dan membawa anak itu ikut pulang menuju kerumahnya. Didalam perjalanan pulang dia menghabiskan waktu dengan anak tersebut. Menyembuhkan luka anak itu dan berusaha berbicara dengan anak tersebut. Tapi anak tersebut hanya diam tak menanggapi. Sedangkan anbu yang bersamanya tengah menyelidiki peristiwa yang terjadi di desa tersebut.
"Jadi begitu, aku putuskan untuk membawanya kesini. Maaf memutuskannya tanpa bilang dulu padamu." Lanjut Ryuu dengan tatapan sendu.
"Hihiii, harusnya aku yang minta maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak padamu anata." Hana mengelus kepala Ryuu dengan lembut. Merasa bersalah karena telah berpikir macam-macam tentang suaminya.
"Hn, jadi apa Fuyuki boleh tinggal disini?" Ryuu kembali bertanya dengan tatapan memelas.
"Tentu saja, akan lebih baik jika dia kita angkat menjadi anak dan kakak untuk Sakura. Bagaimana menurutmu?"
Ryuu memeluk Hana penuh kehangatan. Mendengar ucapan yang dilontarkan istrinya tersebut, entah mengapa membuat hatinya semakin menghangat.
"Terimakasih."Ujar Ryuu .
Keduanya saling menatap mata masing-masing dengan dalam. Jarak mereka semakin mendekat hingga bibir mereka hanya berjarak beberpa centi lagi untuk berentuhan.
"Waaah, mama dan Papa sedang berbuat mesum." Sakura memecahkan keadaan romantis mereka.
Sepasang suami istri tersebut segera menjaga jarak, melihat anak perempuannya dan anak laki-laki barunya yang sedang berada didaun pintu dengan wajah berbinar melihat adegan yang seharusnya tidak ditunjukan kepada anak kecil. Hana dan Ryuu gelagapan melihat keberadaan Sakura dan Fuyuki. Tidak tau mau memberi alasan apalagi kepada anak perempuannya yang terlalu pintar ini.
"Darimana anakku belajar kalaimat mesum?" Keduanya hanya bisa menggantungkan pertanyaan tersebut dalam hati.
TSUZUKU…
Maaf untuk chapter ini sama sekali tidak ada adegan Sasusaku ^^. Kayaknya sampai dua chapter Kedepan. Jika ada kesamaan nama dengan karakter di Anime lain mohon dimaklumi.
Disini dibayangkan, Ayah sakura memiliki rambut berwarna Coklat, Parasnya seperti Shu versi dewasa di anime Guilty Crown . Hanya saja bola matanya berwarna emerald yang dia turunkan pada Sakura dan dia memiliki sifat yang ceria juga cerewet.
Ibu sakura memiliki warna yang sama dengan Sakura. Bola matanya berwarna meah muda senada dengan rambut panjangnya. Bisa dibilang paras Sakura replika dari paras Ibunya.
Sedangkan Fuyuki karakternya bayangin aja karakter King dianime K. Cuma warna bola mata Fuyuki berwarna biru, dan raut wajahnya saat masih kecil lebih dingin dan kaku.
Maklumin, Author gak bisa gambar, cuma bisa bayangin aja TvT
