CHAPTER SPESIAL HARUNO II
.
.
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
.
.
Sakura to Fuyuki
.
.
Sakura to Itachi
.
.
Dikediaman Haruno terdengar suara riuh dari Sakura kecil yang terus memanggil Saudara laki-laki barunya. Saat ini Papa dan Mama sakura memiliki urusan diluar kota, sehingga harus meninggalkan Sakura dan Fuyuki dirumah bersama dengan Bibi Mito yang mengurus rumah dan menjaga mereka berdua selama kedua orangtua mereka pergi.
"Nee, Fuyuki-kun ayo main rumah-rumahan." Sakura kecil merengek sambli menarik sebelah lengan anak laki-laki yang sejak tadi sama sekali tidak berniat meladeni Sakura kecil.
Sudah satu bulan Fuyuki tinggal dikediaman Haruno. Tidak seperti pertamakali dia menginjak kediaman Haruno, saat ini Fuyuki sudah mulai membuka diri kepada Ayah dan Ibu Sakura, walau dia lebih banyak diam daripada bicara. Dia lebih banyak tersenyum sekarang. Berbanding terbalik dengan sikapnya terhadap Sakura, dia selalu mengabaikan Sakura dan menghindarinya saat tidak ada Kedua orangtua mereka. Ditekankan lagi hanya saat tidak ada kedua orangtua mereka.
Tapi itu tidak membuat Sakura menyerah untuk mencari perhatiannya. Sakura sangat senang memiliki saudara laki-laki, dia takkan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya. Sakura selalu mengidamkan memiliki saudara yang bisa diajaknya bermain sepanjang hari. Salahkan Papa dan Mamanya yang lebih suka menghabiskan waktu dengan pekerjaannya diluar. Tapi bukan berarti Papa dan Mama nya tidak mencintainya. Papa dan Mamanya selalu menemaninya bermain jika sedang libur bekerja.
"Nee, Ayo main." Ajak Sakura sekali lagi.
"Ck, kau berisik sekali. Main sendiri saja sana!" Fuyuki melepaskan gandengan tangan Sakura dengan kasar, kemudian pergi meninggalkan Sakura sendirian di ruang tamu.
Melihat Fuyuki yang berlalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Sakura yang berusaha mengakrabkan diri dengannya, membuat Sakura hanya bisa menunduk menatap sendu lantai rumahnya.
"Huh, siapa yang butuh saudara bodoh seperti dia? Aku bisa main sendiri bersama usa-chan." Sakura menggenggam sebelah telinga boneka kelinci yang telah ia beri nama Usa. Tersenyum riang ia melangkahkan kakinya menuju taman yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
Taman Kota
"Waaah, banyak teman-teman seumuranku yang sedang bermain." Sakura menatap kagum anak-anak disekitarnya yang tengah bermain riang.
Sakura yang senang segera berlari mengikuti sekelompok anak yang sedang bermain. Baginya tidaklah sulit untuk menyesuaikan diri dengan anak-anak yang bermain ditaman tersbut.
.
.
.
Matahari mulai menyembunyikan wujudnya. Satu persatu anak-anak yang bermain bersama Sakura telah dijemput pulang oleh orangtua mereka. Sakura yang merasa bosan karena hanya sendirian akhirnya memutuskan untuk pulang juga. Diperjalanan pulang Sakura memikirkan apa yang saudara laki-lakinya sedang lakukan dirumah.
Duuk….
"Aww…Sakit." Sakura meringis memegangi lututnya.
Akibat melamun, Sakura tersandung batu dan akhirnya terjatuh. Lutut kirinya terluka akibat berbenturan dengan jalan. Boneka yang Sakura pegang ikut terjatuh dan menyebabkan robek dibagian telinganya.
"Hiks..Hiks…Usa-chan rusak." Sakura terisak menahan tangis.
"Kau tidak apa-apa ?" ujar seseorang.
Sakura mendongak, melihat siapa yang sedang bicara. Seorang pemuda yang terlihat masih remaja mengulurkan tangannya untuk membantu sakura berdiri.
"Hiks..hiks, terimakasih." Jawab sakura masih dengan sesenggukan.
"Adik kecil, kakimu terluka!" Ujar pemuda tersebut dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Hiks…Saku tidak apa-apa, luka kecil begini tidak akan membuat Saku menangis."
Pipi chubbynya memerah karena menahan air mata yang sudah terlanjur keluar sejak tadi.
"Be-begitu ya?" Pemuda tersebut tersenyum canggung.
"Padahal dia sedang menangis" Pikir pemuda tersebut.
"Bagaimana kalau kakak antar sampai kerumah. Jika berjalan dengan kaki terluka pasti akan memakan waktu lama untuk sampai."Ujar pemuda tersebut.
"Kau mau menggendongku sampai rumah?" Sakura memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos.
"Ya ampun, imut sekali."pikir lelaki tersebut.
"Iya, biar kakak yang gendong ya."
"Uum."Gumam Sakura
Pemuda tersebut menjongkok meminta sakura untuk naik keatas punggungnya. Sakura tidak lupa mengikut sertakan boneka kesayangannya ditangan. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, menikmati jalanan yang sudah tak terlalu ramai.
"Apa disini rumahmu?"
"Umm, arigatou."
Sakura tersenyum ramah kepada pemuda tersebut. Dia bersyukur bisa bertemu dengan orang asing yang mau membantunya sampai kerumah. Pemuda tersebut memperhatikan Sakura yang sedikit pincang akbiat luka dikakinya. Memastikan anak tersebut masuk kedalam rumahnya dengan aman.
"Apa dia anak Ryuu senpai?" Pikirnya dalam hati.
Pemuda tersebut melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Haruno.
"Ternyata Senpai memiliki anak perempuan seimut itu. Haaah aku jadi merindukan adikku Sasuke."
.
.
.
"Tadaima."
Sunyi, tidak ada seorangpun yang menyambut kepulangannya.
"Dimana Bibi Mito dan Fuyuki?" Pikirnya dalam hati.
Kruyuuuk…
"Aku lapar."
Bunyi perutnya membawa instingnya menuju dapur, berharap Bibi Mito ada disana dan menyiapkan makanan untuknya. Sesampainya didapur, Sakura menemukan secarik kertas. Deretan kata yang ditulis dapat Sakura baca dengan jelas. Untuk anak seumurannya Sakura sudah pintar dan lancar membaca. Kertas tersebut ternyata adalah pesan dari Bibi Mito.
"ternyata Bibi Mito sedang keluar sebentar."
Sakura yang sudah mengerti isi pesan dari kertas tersebut, beralih kearah meja makan. Ada berbagai makanan yang sudah disajikan Bibi Mito untuk Sakura dan Fuyuki.
Baru saja dia berniat mengambil sebuah piring, Sakura teringat dengan pesan Bibi Mito bahwa Fuyuki juga belum makan. Dipesan tersebut, Bibi sudah mengatakan kepada Fuyuki untuk makan dan sudah menyampaikan kepada Fuyuki kalau Bibi Mito ingin keluar sebentar.
Sakura akhirnya mengurungkan niatnya untuk makan. Kakinya yang sedikit pincang ia langkahkan menuju kamar Fuyuki.
Tok…Tok….Tok…
"Fuyuki-kun, ayo kita makan!"
Sakura berteriak cukup keras didepan pintu kamar saudaranya.
"Nee, Fuyuki-kun ayo makan!"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar tersebut. Perutnya yang terus-terusan berbunyi minta diiisi sejak tadi, membuatnya memutuskan untuk masuk kedalam kamar Fuyuki tanpa permisi. Atensinya beralih kearah ranjang yang sedang ditempati si-empunya, yang ternyata sedang tidur.
Sakura menghampiri ranjang yang ditempati Fuyuki. Terlihat raut wajah Fuyuki seperti menahan sesuatu, keringat bercucuran di dahinya. Sakura menjadi khawatir karena Fuyuki seperti sedang bermimpi buruk. Fuyuki seperti menggumamkan kalimat yang tidak jelas terus menerus. Karena tidak tega melihat keadaan saudaranya, Sakura memutuskan untuk membangunkannya.
"Fuyuki-kun bangun !"
Sakura menguncangkan tubuh Fuyuki, memaksanya agar terbangun.
"Bukan salahku, Itu bukan Salahku!" Fuyuki berteriak keras dan terbangun, ternyata tanpa sadar dia telah menepis Sakura hingga terjatuh kelantai.
Bruuk
"aduuh." Sakura meringis menahan sakit karena terjatuh untuk kedua kalinya.
"Haaah..Haah, Apa yang kau lakukan dikamarku?"
Fuyuki menatap Sakura dengan tajam. Melihat hal itu Sakura menjadi takut dan gemetaran.
"a-ku hanya ingin mengajakmu makan. Bibi Mito sudah menyiapkan makanan."
Air mata sudah tergenang dipelupuk emeraldnya. Dia memberanikan diri untuk bicara dan menatap balik saudara tirinya.
Kruyuuuuk…
Perut Sakura berbunyi lagi disaat yang tidak tepat.
"Ck, kau makan saja duluan! Aku masih belum lapar." Jawabnya ketus.
Fuyuki kemudian pergi kekamar mandi dan meniggalkan Sakura yang masih terduduk dilantai.
TSUKUZU…
Chapter ini gak ada moment Sasuksaku, maaf yaa TvT
Chapter depan janji deh bakalan ada Moment Sasusaku. Untuk readers, terimakasih masih mau membaca lanjutannya yaa ^^
