CHAPTER SPESIAL
.
.
.
DISCLAIMER ©MASASHI KISHIMOTO
.
.
.
UCHIHA TO HARUNO
.
.
.
SASUSAKU
.
.
.
Cuit..Cuit..Cuit…
Suara nanyian para burung memperindah suasana pagi kediaman Uchiha, dilengkapi dengan bau masakan rumah yang menguar dari arah dapur. Sasuke yang tergoda dengan bau yang membuat perutnya lapar melangkahkan kakinya kearah dapur dengan mata setengah mengantuk.
"Ohayou Sasuke." Ujar seorang pemuda dengan singkat
"Ohayou, Nii-san." Sasuke membalas sapaan kakaknya Itachi. Wajahnya yang setengah mengantuk menambah keimutan Sasuke kecil dimata Itachi.
Kedua Uchiha tersebut menuju dapur dimana disana Ibu dari dua Uchiha tersebut sedang berkutat dengan makanan yang dia sediakan untuk kedua anak kesayangannya. Sasuke dan Itachi menduduki kursi dapur menunggu Ibunya selesai menyediakan masakan diatas meja.
"Ibu, Dimana Ayah?" Sasuke menyadari jika ayahnya tidak terlihat pagi ini.
"Ayah sudah berangkat kekantor kepolisian pagi-pagi tadi." Mikoto yang merupakan Ibu dari dua Uchiha ini, menjawab pertanyaan Sasuke dengan lembut.
"Begitu ya."Sasuke bergumam pelan.
Hening, semuanya menikmati makanan yang tersedia dengan keheningan. Sudah peraturan keluarga ini untuk tidak berbicara disaat makan. Bicara disaat makan merupakan perilaku yang tidak sopan, Ayah mereka selalu mengingatkan mereka tentang hal itu.
.
.
.
Sasuke Pov
Tap…Tap..Tap…
Aku berlari menuju kearah pintu keluar rumah. Aku memperhatikan Itachi yang seperti sedang bersiap-siap untuk pergi. Sebelum Itachi pergi, aku mencegahnya dengan memanggil Kakak tersayangku, berharap kakakku membatalkan apapun yang akan dia lakukan nanti.
"Nii-San, Ajari aku berlatih menggunakan Shuriken!" Ujarku penuh semangat.
Itachi yang mendengar suaraku, menoleh kearahku. Dia menatapku lama dalam diam. Selang beberapa waktu dia melambaikan tangannya mengisyaratkan agar aku mendekat kearahnya. Aku berjalan penuh semangat kearah Itachi.
Tuk…
"Lain kali ya, Sasuke." Itachi mengetuk dua jarinya kedahi lebarku sambil tersenyum.
"Nii-san selalu saja begitu, tidak pernah mau menemaniku berlatih." Aku mengembungkan kedua pipiku, kesal karena kakakku tidak mau menemaniku berlatih.
"Hahaha, maafkan Nii-san. Nii-san ada misi hari ini, nanti kalau sudah selesai, Nii-san akan menemanimu berlatih." Itachi mengusap rambut Sasuke dengan gemas.
"Janji ya!"
"Iya, Nii-san Janji." Itachi masih tersenyum melihat Sasuke.
Tak berapa lama, Itachi pergi setelah berpamitan. Aku masih setia menatap punggung Itachi yang mulai menjauh. Terlintas ide menarik didalam otakku.
"Daripada aku tidak ada kegiatan dirumah, lebih baik aku membuntuti Nii-san."Pikirku dalam hati.
Aku berlari mengejar jejak Itachi secara diam-diam. Kakakku sama sekali tidak menyadari keberadaanku.
"Nii-san benar-benar lengah."Gumamku pelan.
Dari jauh aku memperhatikan Itachi yang terus berjalan kearah gerbang Desa. Itachi terlihat mengeluarkan sebuah benda seperti kristal kemudian menjatuhkannya ketanah.
Pyaash…
Cahaya menyilaukan terpancar dari kristal tersebut, kemudian membentuk sebuah portal. Aku sempat terpana melihatnya, namun atensiku segera beralih ke Itachi yang sedang melangkahkan kakinya masuk kedalam portal tersebut. Sebelum portal itu menghilang aku segera berlari memasukinya untuk mesnyusul Itachi.
Pemandangan sekitarku terlihat asing. Aku rasa ini pertama kalinya aku melihat tempat ini. Bunga sakura bermekaran disepanjang jalan, terdapat sungai kecil yang begitu jernih tak jauh dari tempatku berdiri menambahkan keindahan sempurna dimataku.
Aku kembali fokus pada keberadaan kakakku. Agar Itachi tidak menyadari keberadaanku, aku bersembunyi dibalik pohon sakura yang tidak jauh dari tempatku berdiri tadi. Itachi terlihat sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Laki-laki tersebut sangat tampan dan dewasa, sebagai seorang anak laki-laki, aku saja sampai terpana.
Setelah selesai berbincang, laki-laki tadi mengajak Itachi kakakku menuju sebuah rumah yang cukup megah. Aku terus mengikuti mereka sampai masuk kedalam pekarangan rumah tersebut. Itachi dan Laki-aki tersebut sudah masuk kedalam rumah. Aku memperhatikan sekitar rumah tersebut, rumah itu terlihat sangat megah dan indah seperti istana saat kau melihatnya dari luar. Karena penasaran, aku putuskan untuk berkeliling melihat hal menarik apa yang bisa kutemukan disekitar rumah ini. Setelah puas berkeliling, aku beristirahat dibawah pohon sakura yang sedang bermekaran, aku memejamkan mataku menikmati semilir angin yang menyapu kelopak bunga sakura.
"Kau siapa?"
Aku membuka mataku, sedikit terkejut dengan suara yang mengganggu kenyamananku. Seorang gadis seusiaku berdiri tepat dihadapanku, menatapku tajam seperti aku adalah penjahat yang harus dihukum. Sekalipun begitu, mataku terpana melihat rambutnya yang senada dengan kelopak bunga sakura yang berjatuhan disekitar kami, apalagi bola mata emeraldnya yang menatapku hingga membuatku serasa terhisap kedalam matanya.
"Jangan-jangan kau pencuri." Gumam gadis tersebut.
Gadis tersebut terlihat waspada menatapku.
"Kyaaaa, ada pencu-Hmpp…hmpp."
Aku segera mendekap mulutnya dengan tanganku, khawatir jika orang didalam rumah mendengar teriakannya.
"Bisa-bisa aku dimarahi Nii-san."Pikirku dalam hati.
Gadis tersebut berusaha melepas dekapan tanganku dari mulutnya.
"Aku bukan pencuri. Berjanjilah padaku, kau tidak akan teriak!"
Gadis itu mengangguk mengisyaratkanku bahwa dia setuju. Akupun memutuskan untuk melepas bekapanku.
"Haah…Haaah, jadi kau siapa?" gadis tersebut bertanya dengan ketus, dia berusaha mengatur nafasnya.
"Ck, sama sekali tidak manis." Pikirku dalam hati.
"Aku Sasuke, Uchiha Sasuke." Jawabku singkat.
"Kenapa kau berkeliaran dirumahku?" Lanjut gadis tersebut.
"Aku tidak sengaja sampai disini." Kembali menjawab dengan singkat.
"Haaah? Jelaskan dengan benar!" Gadis itu menatapku tajam.
"Haaah, Aku sedang membuntuti kakakku memasuki sebuah portal. Tanpa sadar aku sudah ada ditempat ini. Karena tidak tau caranya pulang, aku memutuskan untuk menunggu kakakku disini, kemudian bermaksud mengikutinya pulang secara diam-diam." Ujarku panjang lebar ditambah raut wajah kesal.
Gadis itu hanya diam menatapku. Dia seperti sedang berpikir.
"Portal?" gumamnya pelan
"Aaah, apa kakakmu yang sedang bersama papaku tadi?" Dia balik bertanya dengan girang.
"Ku..kurasa begitu. Tadi kakakku masuk kedalam rumah bersama seseorang berambut coklat."
Aku menatap bingung gadis tersebut. Matanya berbinar seperti anak anjing yang mendapatkan tulang untuk dimakan.
"Kyaaa, ternyata dia kakakmu? Beruntung sekali."
Gadis tersebut berteriak girang, dia melompat-lompat kecil sambil tersenyum hingga membuat matanya menyipit.
"Manis sekali." Pikirku dalam hati.
Aku segera menggeleng kepalaku, menghentikan pemikiran bodohku yang menilainya manis.
"Kenapa kau girang begitu?" Aku bertanya dengan bersikap tenang, berusaha menjaga image didepannya.
"Hihihiii, kau tau kakakmu pernah menolongku saat aku jatuh diperjalanan pulang kerumah. Dia benar-benar keren. Tidak kusangka dia kenalan Papaku dan dia adalah kakakmu." Gadis tersebut masih tersenyum manis sambil menjelaskan penyebab dia begitu girang.
"Hn, Nii-san memang keren." Aku membalas ucapan gadis tersebut sambil membanggakan Itachi. Entah kenapa aku merasa sangat senang mendengar gadis tersebut memuji kakakku.
"aah, benar juga. Perkenalkan namaku Sakura, salam kenal Sasuke-kun." Gadis tersebut mengulurkan tangannya. Dia tersenyum lembut menatapku.
"Hn, salam kenal Sakura."
Semenjak hari itu, aku dan Sakura menjadi teman. Aku selalu mengikuti Itachi secara diam-diam untuk bermain dengan Sakura di pekarangan belakang rumahnya. Terkadang aku menceritakan tentang keseharianku saat berlatih dengan Itachi-nii. Sakura selalu bersemangat mendengarkan cerita tentang kakakku Itachi. Dia bilang ingin sekali memiliki kakak seperti Nii-san.
Rasanya menyenangkan saat bersama sakura. Aku berharap Nii-san tidak akan berhenti untuk kesini, agar aku bisa selalu melihat Sakura.
Tsuzuku…
Akhirnya ada moment SasuSaku, tapi versi kecil ya ^^
Terimakasih masih setia membaca lanjutan Memory, jangan lupa follow/Fav cerita memory ^^
Saya dengan senang hati menerima saran atau masukan melalui review, tapi tidak untuk flame yaa ^^
