MEMORY
.
.
.
CHAPTER SPESIAL IV
.
.
.
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
.
.
.
Kediaman Haruno
Di sebuah ruangan tertutup tampak dua orang pria sedang berbicara. Mereka terlihat membicarakan seusatu yang serius dan rahasia.
"Apa kau yakin kematian warga disana bukan karena kebakaran?"
Ryuu si pemilik rumah bertanya kepada tamu istimewanya yaitu Itachi dengan raut serius. Itachi adalah Anbu yang menjalankan misi di desa tempat fuyuki tinggal dulu. Selama ini mereka selalu menyelidiki kejadian di desa itu tanpa sepengetahuan Fuyuki dan Hokage ketiga tentunya.
"Hn, aku sangat yakin. Semuanya tewas seperti tertusuk bukan karena terbakar. Kematian mereka terlihat seperti sebuah pemabantaian hanya saja dibuat seolah itu akibat kebakaran."
"Ck, siapa yang melakukan hal setega itu?"
Ryuu menggeram menahan emosinya, mengingat kejadian didesa tersebut.
" Ryuu-senpai, bagaimana jika kau bertanya dengan anak itu tentang hal ini. Mungkin saja dia mengingat sesuatu." Ujar Itachi
"Haaah, aku sudah pernah berusaha menanyakan padanya, tapi Fuyuki sama sekali tidak mau menceritakannya. Kurasa dia masih trauma dengan kejadian tersebut." Ryuu menghela napas pasrah.
Dia ingat saat dimana dia mencoba bertanya dengan Fuyuki, anak tersebut terlihat gemetaran dan ketakutan. Fuyuki tetap diam dan tak mau membicarakannya. Tidak tega dengan Fuyuki yang terlihat gemetar, akhirnya Ryuu tidak lagi berniat utuk menanyakannya.
Tok..Tok..Tok..
Suara ketukan pintu menyadarkan Ryuu dari lamunannya. Tampak seorang wanita masuk dengan nampan yang terdapat dua gelas teh hangat digenggamannya, wanita tersebut berjalan menuju meja tempat kedua pria itu berbicara. Menyediakan dua gelas teh hangat kepada dua orang Pria tersebut.
"Apa sudah ada kemajuan?" Tanya wanita tersebut dengan lemah lembut.
" Yaah, bisa dibilang hanya sedikit." Ryuu menanggapi sambil menyesapi teh buatan istrinya.
"Begitu ya."Gumam Hana
Akhir-akhir ini Hana selalu mengatakan pada suaminya bahwa perasaannya tidak enak. Semenjak kedatangan Fuyuki dirumah ini dia selalu merasakan perasaan seperti itu. Bukan berarti dia membenci anak tersebut. Hana selalu memberikan kasih sayang yang sama kepada Fuyuki seperti halnya dia menyayangi Sakura yang jelas adalah anaknya sendiri. Terutama sikap Fuyuki yang sangat ramah dan baik terhadap Sakura, itu menambah nilai plus dimata Hana tentang penilaiannya terhadap Fuyuki.
"Ah, sudah jam segini. Kurasa aku harus segera pulang Ryuu-senpai."
Itachi melihat jam dinding tak jauh dari tempat ia duduk. Dia ingat memiliki janji menemani Sasuke berlatih sore ini.
"Baiklah, terimakasih atas informasimu Itachi." Ujar Ryuu
"Hn."
Itachi berpamitan kepada sepasang suami istri tersebut, kemudian melangkah pergi. Tanpa Itachi sadari adik kecilnya, mengikuti dari belakang untuk pulang bersamanya secara diam-diam.
"Hana, dimana Saku dan Fuyuki?"
Ryuu bertanya kepada Hana. Sejak tadi dia tidak melihat kedua anaknya.
"Ah, Fuyuki sedang menjemput Sakura yang sedang bermain ditaman." Jelas Hana
.
.
.
Sakura bersenandung riang disepanjang jalan menuju rumahnya. pertemuan dengan Sasuke secara tak sengaja di pekarangan rumahnya yang sangat luas ini membuatnya tersenyum senang.
"hihihii, aku mendapat teman baru." Gumam sakura pada diri sendiri.
"Heh, Kau terlihat sangat senang."
Sakura terperanjat kaget melihat Fuyuki tepat di depannya, menatap Sakura dengan tajam dan penuh penekanan dalam kalimat yang baru saja dia tuturkan.
"Fu..Fuyuki-kun?"
Sakura tergagap melihat Fuyuki semakin mendekat kearahnya.
"Awww, Lepas!"
Fuyuki menjambak rambut Sakura dengan kasar. Sakura berusaha melepas jambakan Fuyuki terhadap rambutnya tapi sama sekali tidak berhasil. Air matanya sudah siap untuk megalir jatuh.
"Ck…Cengeng, berhenti menangis! Aku tidak mau Ayah dan Ibu menyalahkanku!"
Fuyuki kemudian melepaskan Sakura dan segera menarik tangan Sakura secara kasar, memaksa Sakura untuk mengikuti langkahnya menuju rumah. Sakura hanya bisa pasrah mengikuti langkah saudaranya.
.
.
.
"Tadaima."
Fuyuki membuka pintu rumahnya sambil menggenggam tangan Sakura.
"Okaeri." Wanita berambut merah muda tersebut menyambut kedua anaknya dengan ramah.
"Sakura, kenapa terlihat murung?" Hana bertanya heran kearah Sakura yang terlihat murung,
"Ah, Sakura tadi tidak sengaja terjatuh saat bermain." Fuyuki segera menjawab pertanyaan Ibunya sambil tersenyum hangat.
"Ya ampun, Saku tidak apa-apa?" Hana segera menghampiri Sakura memastikan keadaan anaknya, takut ada bagian yang luka ditubuh anaknya
"Umm, Saku tidak apa-apa."
Sakura menatap Ibunya, menyiratkan bahwa dia baik-baik saja.
"Benar tidak apa-apa? Hana bertanya lagi
"Iya Mama, Saku memang tejatuh, tapi tidak luka kok." Jawab Sakura sambil tersenyum.
"Huuuh, Syukurlah." Hana bernapas lega
"Cih, dasar cari perhatian." Pikir Fuyuki.
"Ibu aku dan Sakura lapar, apa makanan sudah siap?" Fuyuki bertanya untuk menghentikan aktifitas Ibu dan anak yang menurutnya dapat merusak matanya.
"Ooh, tentu saja. Ayo kita makan! Papa sudah menunggu di meja makan."
Hana menggandeng kedua tangan anaknya kemudian menuju dapur. Disana Ayah mereka sudah menanti kedua anak tersebut. Selesai dengan akitivtas makan mereka. Ryuu memperhatikan Fuyuki yang sedang membantu Hana membereskan piring kotor. Dia kemudian tersenyum memperhatikan betapa baiknya anak tersebut. Disebrang kursi yang diduduki Ryuu, ada Sakura kecil yang masih belum selesai dengan makannya. Dia melihat anaknya yang terlihat seperti tidak berselera makan.
"Saki, ada apa? Kenapa makanannya hanya diaduk-aduk saja?" Ryuu akhirnya bertanya kepada Sakura.
"Hmm, Saku sudah kenyang papa." Sakura menjawab masih dengan wajah menatap makanan yang dia aduk.
"Ya sudah, kalau sudah kenyang tidak apa-apa, jangan dipaksakan untuk menghabiskannya ya." Ujar Ryuu sambil tersenyum.
"Iya." Sakura tersenyum membalas ucapan Papanya.
"Nee, Papa! Boleh aku pergi keruang buku Papa?" Sakura berujar dengan semangat.
"Hmm, Saki mau mebaca buku?"
"Iya, boleh ya Pa?"
Sakura berujar dengan mata berbinar, dia berusaha merayu Papanya dengan mata itu.
"Dia menggemaskan." Pikir Ryuu
"Tentu saja boleh sayang. Apa mau Papa temani?" Ryuu merogoh sakunya untuk menyerahkan kunci perpustakaan pribadinya kepada Sakura.
"Tidak perlu, aku mau baca buku sendiri saja."
Sakura berujar semangat kemudian meninggalkan meja dapur dan segera mengambil kunci yang tadi diberikan oleh Papanya. Ryuu yang mendengar tawarannya ditolak menjadi shock dan membatu.
"Uggh, aku ditolak Putriku."Gumamnya pelan sambil mendramatisir.
"Hihiii." Hana yang memperhatikan Ryuu tertawa geli melihat tingkah suaminya. Dia menghampiri Ryuu, berusaha menghibur suaminya yang habis patah hati karena ditolak putri kesayangannya.
.
.
.
Sakura masih berlari semangat menuju ruang buku Papanya. Dia sangat menyukai membaca buku disana. Saat Papa dan Mamanya sibuk bekerja, Sakura sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku di ruangan tersebut, tapi semenjak keberadaan Fuyuki dia jadi jarang ketempat itu karena tidak nyaman dengan Fuyuki yang dia rasa seperti terus mengawasinya. Akhirnya Sakura memutuskan bermain diluar, seperti ketaman yang ada dipekarangan rumahnya yang luas.
Sesampainya di ruang buku, Sakura segera memilah-milah buku yang ada dirak untuk dia baca. Tiga buku sudah sakura dapat. Dia segera duduk kemudian membuka buku tersebut.
Tik…Tik…Tik…
Jam sudah menunjuk pukul sembilan malam. Ryuu yang sedari tadi berkutat dengan berkas kerjanya. Teringat dengan Sakura yang sedang diperpustakaan pribadinya. Hana sudah terlelap tidur setelah menyajikan kopi untuk menjadi temannya bergadang malam ini. Fuyuki juga sudah dikamarnya untuk tdiur tadi.
"Apa Sakura sudah dikamar dan tidur?" Pikirnya dalam hati.
Menghentikan aktifitasnya terhadap tumpukan berkas itu. Ryuu beranjak pergi untuk menghampiri kamar putrinya, dia ingin memastikan apakah anaknya sudah tidur.
Kosong, tidak ada keberadaan putrinya dikamar. Ryuu pun melangkahkan kakinya ke perpustakaan pribadinya. Di perpustakaan tampak anak perempuannya tengah telelap di meja. Ryuu segera menghampiri anaknya yang tengah tertidur lelap, berusaha menggendongnya secara perlahan agar putri kecilnya tidak terbangun.
Sesampainya dikamar, Ryuu segera merebahkan Putrinya ketempat tidur kemudian menyelimutinya.
"Anakku sangat menyukai buku ya." Gumam Ryuu pelan sambil mengelus lembut rambut anaknya, kemudian memberikan kecupan selamat tidur didahi putrinya.
"Selamat tidur Saki."
.
.
.
Sakura Pov
Pagi ini adalah hari dimana hanya ada aku dan buku. Papa sedang pergi bekerja, Mama sedang berbelanja ditemani Fuyuki. Sedangkan tugasku kali ini adalah menjaga rumah, lebih tepatnya aku sedang tidak ingin ikut Mama berbelanja karena ada Fuyuki.
Du…duu…duuu… Lalallaa…duuuu…
Aku bersenandung senang sambil memilih buku yang selanjutnya ingin kubaca.
Bruuk..
Saat aku berusaha menarik sebuah buku yang ada dirak, sebuah kotak berukuran sedang terjatuh. Untung saja kotak itu tidak terjatuh kearahku karena aku mengambil dengan posisi tanganku kearah samping. Aku mengambil kotak tersebut, kotak itu berwarna merah usang dengan lambang lingkaran putih seperti lambang keluargaku. Karena penasaran, aku berinisiatif membukanya. Setelah aku buka didalam kotak itu terdapat sebuah gulungan yang terdapat bacaan "Kioku" dibagian luar gulungannya.
"Aku baru pertama kali melihat ini." Pikirku dalam hati.
Segera aku mebuka gulungan tersebut, terdapat beberapa gambar serta keterangan pada gambar tersebut.
"Jurus memanipulasi Ingatan?" Gumamku sendiri.
Karena terlalu tertarik dengan gulungan yang aku temukan, aku terus membacanya dan mengingat gerakan tangan yang terdapat pada gambar digulungan tersebut.
TSUZUKU…
Semoga kalian gak bosan sama cerita ini TvT. Maaf jika masih banyak Typo. Terimakasih yang sudah meriview, membaca, memfav dan Follow cerita Memory.
Salam hangat dariku ^^
