MEMORY

.

.

.

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

.

.

.

CHAPTER SPESIAL V

.

.

.

Suasana cerah dikediaman Uchiha, tampak seorang anak laki-laki tengah terlelap begitu damai, sedangkan matahari sudah menampakkan wujudnya sejak tadi. Bahkan suara dering jam yang mungkin sudah dia atur sudah berbunyi sejak tadi.

Kring...kring…Kriiing….Kriiing….

Kembali jam tersebut berbunyi untuk membangunkan tuannya. Tangan Sasuke menggapai jam yang berada disampingnya dengan mata yang masih enggan membuka kemudian mematikan bunyi jam tersebut, dia memaksakan diri untuk bangun. Setelah kesadarannya hampir penuh, Sasuke memperhatikan angka jarum jam tersebut.

"Arggh, Aku kesiangan." Sasuke bangun dengan gusar setelah melihat jam disampingnya. Dia berlari terburu-buru keluar kamarnya, berharap Itachi kakaknya belum pergi ketempat Sakura, tanpa sepengtahuannya lagi.

"Sasuke, jangan lari-lari begitu." Terdengar sahutan Ibunya dari arah dapur.

"Ibu, apa Nii-san sudah pergi?" Sasuke menghentikan larinya, menyempatkan diri bertanya lebih dulu ke Ibunya.

"Kakakmu sudah pergi daritadi. Kenapa Sasuke?"

"Huwaa, kenapa Ibu tidak bangunkan aku?" Sasuke mengacak rambutnya dengan frustasi. "Arggh, aku sudah janji akan bertemu dengannya." Wajah Sasuke menunduk sendu, dia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa bangun pagi, padahal dia sudah berjanji pada Sakura untuk menemuinya tiga hari yang lalu.

Baru saja Sasuke melangkahkan kakinya untuk keluar rumah mencari Kakaknya. Ibu Uchiha itu menghentikannya.

"Mau kemana anakku?" Dari belakang, Mikoto menahan bahu Sasuke dengan kedua tangannya. "Sasuke tidak boleh kemana-mana sebelum mandi." Mikoto terenyum lembut namun penuh penekanan dalam tiap kalimatnya.

Sasuke bergidik ngeri, mendengar penuturan Ibunya yang seperti sedang mengancam. "Haaaaah, Baiklah aku akan mandi dulu." Akhirnya Sasuke cuma bisa pasrah dan menuruti perintah Ibunya.

.

.

.

Tes…Tes..Tes…

Hujan membasahi tanah tempat dimana saat ini Sakura berdiri. Mata gadis itu tampak kosong menatap dua pusara didepannya. Mendung, seperti itulah perasaan gadis itu sekarang, seolah hujan tengah mewakili perasaan gadis tersebut. Seseorang disampingnya berusaha memayunginya agar tidak basah oleh hujan. Satu-persatu para pelayat yang datang mulai pergi, meninggalkan pemakaman keluarga Haruno hingga menyisakan Sakura dan seorang Pria yang masih setia memayunginya.

"Sakura, ayo pulang." Pria disamping Sakura yang merupakan Pamannya, menuntunnya untuk berjalan pulang.

Sakura hanya mengagguk dan mengikuti langkah pria tersebut. Matanya hanya menatap kosong jalan yang dia lalui. Tidak adalagi cahaya menenangkan dalam emerald tersebut, senyumannya telah menghilang mengikuti jejak kepergian kedua orangtuanya. Gadis kecil tersebut bahkan sudah tidak bisa menangis melihat pusara Mama dan Papanya tadi.

Sesampainya dirumah, Sakura melangkahkan kakinya kearah kamar, tanpa merespon ucapan Pamannya yang sejak tadi mengajaknya bicara. Pamannya yang melihat hal itu, hanya bisa memaklumi gadis tersebut, kemudian membiarkan anak itu menenangkan dirinya didalam kamar.

"Maaf, seharusnya aku tidak membiarkan Ryuu-senpai mengatasi masalah itu sendiri." Itachi berujar menatap sendu kearah kamar dimana Sakura melangkah tadi. Diam-diam sejak tadi Itachi mengikuti jejak dua orang tersebut dari belakang.

"Ini bukan salahmu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri!" Kizashi yang merupakan Paman Sakura, membalas ucapan pemuda tersebut. Dia sudah menyadari keberadaan Itachi dari awal.

"Apa kau sudah menemukan bocah itu?" Kizashi kembali berujar.

"Aku belum bisa menemukan jejaknya." Kembali Itachi berujar dengan raut wajah sendu.

Puk…

Kizashi menepuk pundak Itachi untuk menyalurkan semangat kedalam diri pemuda tersebut.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku tau kau juga merasa sedih dengan kepergian mereka. Tapi terburu-buru bukanlah hal yang tepat."

.

.

.

Sakura berbaring dikasur sambil memeluk boneka pemberian Papanya, mengingat boneka inilah yang sering dia bawa kemanapun dia pergi. Kembali Sakura mengingat kenangannya bersama kedua orangtuanya, sampai sekarang dia masih belum bisa menerima kepergian mereka. Mungkin Sakura tidak menangis tapi hatinya sejak tadi berteriak keras menuntut kepada Tuhan tentang perbuatan apa yang membuat Tuhan begitu tega memisahkannya dengan kedua orangtuanya.

Perlahan mata Sakura terpejam, menuntunnya kealam mimpi, mungkin dia bisa bertemu Papa dan Mamanya disana. "Mama, Papa jangan pergi." Gumam Sakura pelan kemudian tertidur.

Flashback On…

Jleb..Jleb…

"Mama!" Teriak Sakura.

Beberapa tombak es menembus tubuh Hana. " Hahahaa, Kau yang menyebabkan mereka mati. Ini bukan salahku!" Fuyuki berteriak keras, terdengar sangat mengerikan dipendengaran Sakura.

Hana berusaha melindungi Sakura dari serangan Fuyuki, dengan mengorbankan tubuhnya. Sakura hanya bisa gemetaran tak berhenti sambil terisak menahan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Perutnya terasa mual mencium bau darah Mamanya yang sudah membanjiri tanah juga tubuhnya. Karena Sakura berlindung dibalik tubuh Hana, tusukan tombak tersebut membuat darahnya menyiprat mengenai Sakura.

Fuyuki mendekat kearah Sakura, tanpa memperdulikan Hana yang sudah tergelatak tak bernafas.

"Adikku, Aku sangat menyayangimu. Kau tau mereka benar-benar membuatku muak, berada didekatmu terus seperti ngengat." Fuyuki membelai pipi Sakura dengan lembut, menatap mata adiknya yang tidak bisa bergerak karena ketakutan.

"ke..napa kau melakukan ini. Bukankah yang kau benci itu aku?! Kenapa membunuh Papa dan mama?!"

Sakura mengucapkannya dengan lantang, mengeluarkan semua emosi dan kebenciannya kepada Fuyuki.

"Apa maksudmu Saku, aku sama sekali tidak pernah membencimu." Fuyuki menatap Sakura dengan heran, tangannya masih setia mengelus pipi Sakura yang sudah basah oleh airmata.

Sakura membelalakan matanya kaget atas penuturan Fuyuki.

"Jika kau tidak membenciku, saat tidak ada Mama dan Papa kenapa kau selalu bertingkah kasar kepadaku?"

"Hah? Aku hanya sedang menghukummu karena kau menunjukkan senyummu untuk mereka. Kau tidak boleh tersenyum seperti itu dengan orang lain."

"Alasan macam apa itu?" Gumam Sakura pelan. Dia menatap Fuyuki dengan wajah yang tak percaya. Hanya karena alasan sepele, Fuyuki tega membunuh kedua orangtuanya sendiri.

"Yah, walau aku tak bermaksud untuk membunuh mereka. Ayah terlalu ingin tau tentang keluargaku, Seharusnya dia tidak perlu mencari tau, jadi aku tidak perlu repot-repot membunuhnya." Kembali Fuyuki tersenyum miring, meremehkan Pria yang sudah lebih dulu pergi keakhirat sebelum istrinya. Dia mengingat bagaimana raut wajah Ryuu yang seperti mengasihaninya saat dia mengetahui masa lalu Fuyuki.

"Setidaknya dia harus berterimakasih padaku, karena aku telah membuat istri tersayangnya menyusul untuk menemaninya diakhirat." Kembali Fuyuki berujar, sedikit melirik kearah Hana yang tergeletak tak jauh dari mereka berdua.

Hiks…Hiks…Hiks….

Air mata Sakura tidak berhenti berjatuhan, dia menatap Mamanya yang sudah tak bernyawa. Dia kesal dengan ketidakberdayaannya, karena hanya menjadi beban untuk Mamanya. Lihatlah akibat Sakura yang tidak bisa melakukan apa-apa, kedua orang tuanya kini meninggalkannya.

"Jangan menangis." Fuyuki kembali mengelus Pipi Sakura dengan lembut.

"Hiks…Hiks…" Tidak ada tanggapan dari Sakura, dia masih terisak sambil menatap tajam kearah Fuyuki.

"KU BILANG JANGAN MENANGIS!" Fuyuki berteriak keras, tangannya yang semula mengelus lembut pipi Sakura, kini beralih menjambak helaian rambut merah muda tersebut.

"Awww..Hiks.." Sakura meringis menahan sakit dikepalanya akibat perbuatan Fuyuki. Dia berusaha melepas jambakan fuyuki namun tidak berhasil.

"Papa, Mama tolong aku." Ucap Sakura dalam hati. Sakura memejamkan matanya takut dengan perlakuan Fuyuki terhadapnya.

Syuut…Syuut…Syuut…

Beberapa shuriken terbang kearah Fuyuki melalui samping. Menyadari hal itu Fuyuki segera menghindar dan menjauh, namun salah satu shuriken mengenai kaki kirinya hingga tergores.

Siluet pemuda tampak membelakangi tubuh Sakura. Sakura mengenal orang itu, dia Itachi kakak Sasuke yang sering bertamu kerumahnya.

"Kau baik-baik saja?" Itachi beralih menghadap Sakura, memastikan kalau anak itu baik-baik saja.

"Hiks…Umm" Sakura mengangguk menatap Itachi, masih dengan menangis.

Kraaak…Kraakkk…

Beberapa tombak es menyerang Itachi. Fuyuki menatap Itachi kesal. "berani-beraninya dia menggangguku dengan Sakura."Pikirnya dalam hati.

Itachi menghindar dengan melompat sambil menggendong Sakura dalam dekapannya. Dia sudah mengaktifkan sharingannya.

"Ck, Jurus mata yang merepotkan" Fuyuki kembali berdecak kesal.

Fuyuki dengan cepat kembali melakukan serangan, puluhan tombak es timbul dari dalam tanah. Menanti Itachi mendarat diatasnya.

Syuuuut…Tak…

Sebuah shuriken menancap disebuah pohon tak jauh dari mereka. Itachi menancapkan shuriken yang terdapat senar untuk membantunya agar tidak mendarat ketanah. Sejenak pertarungan serasa berhenti. Keduanya seperti saling berfikir langkah apa untuk menyelesaikan pertarungan ini. Fuyuki mengalihkan pandangannya kearah Sakura yang sedang tidak sadarkan diri didekapan Itachi.

Krek…

"Apa yang terjadi?" Gumam Itachi.

Fuyuki menyeringai tajam menatap Itachi, yang terlihat tidak bisa bergerak karena jurusnya, kemudian dia melompat mendekati Itachi .

"kau lengah." Ucap Fuyuki

Jleb…

Sebuah tusukan dari tombak es yang diciptakan Fuyuki mengarah kejantung Itachi.

"Argggh" Itachi mengerang sakit, darah mengalir deras pada tubuhnya, sampai mengenai Sakura yang masih bertahan dalam dekapannya.

Katon Gokakyou no Jutsu…

Semburan api yang besar mengarah ke Fuyuki dari arah belakang. Fuyuki yang tidak menyadari hal itu terkena dampaknnya.

"Arggh..arggh…" Teriak Fuyuki.

Tubuhnya diselimuti api, dia bergerak tak karuan merasakan panas api yang menyelimutinya. "Tadi hanya ilusi?" pikirnya dalam hati. Susah payah dalam rasa sakit terselimuti api, dia menyatukan tangannya merapal jurus untuk menciptakan es, kemudian menghilang dari pandangan Itachi.

"dia berhasil kabur." Itachi ingin sekali mengejarnya, tapi mengingat Sakura yang tak sadarkan diri, diapun mengurungkan niatnya.

"Maafkan aku, terlambat datang." Gumamnya pelan.

Wajah Sakura yang terlihat kusam akibat sisa darah milik orang tuanya, membuat Itachi meringis menahan sakit dihatinya. Dia benar-benar tak tega dengan keadaan Sakura. Anak sekecil itu, harus menghadapi kenyataan seperti ini.

"Gomen." Itachi bergumam pelan, terdengar suaranya bergetar menahan tangis.

TSUZUKU…

Hai…

Aku mau perjelas sedikit.

Disini karakter Itachi masih belum memiliki mangekyou, dia masih menggunakan sharingan biasa dan tragedi berdarah Uchiha juga belum terjadi. Itachi dan Ayah Sakura adalah teman seperti hubungan Junior dan Senior. Ayah Sakura awalnya tinggal dikonoha dan menjadi salah satu anbu utusan Hokage ketiga. Tapi Ayah Sakura memutuskan berhenti menjadi ninja setelah menikah dengan Hana, kemudian mereka membangun rumah di suatu desa, dimana desa tersebut tidak bergerak dalam dunia ninja, melainkan kemiliteran.

Oke, sekian dan Terimakasih ^v^

(RIP untuk Ryuu dan Hana TnT)