MEMORY

.

.

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

.

.

CHPATER 5

.

.

.

Sasuke Pov

Hari Ini aku kembali berkeliling untuk mencari informasi tentang keberadaan Fuyuki sambil menunggu pemulihan Tuan Kizashi. Ada kabar bahwa desa sebelah diserang oleh seorang shinobi yang berasal dari desa itu sendiri, kemudian shinobi tersebut kabur melarikan diri setelah membunuh seorang bangsawan dari desa tersebut. Karena itu aku putuskan untuk datang kesana untuk memeriksa keadaan. Dalam perjalanan ke desa itu aku menemukan seseorang yang berjalan tergopoh dengan raut wajah seram berjalan menghampiriku. Tiba-tiba dengan kecepatan penuh dia menyerang menggunakan pedang, aku berhasil menghindari serangan.

Blup…Blup…Blup…

Gelembung air muncul dari permukaan tanah, kemudian berubah menjadi ribuan jarum yang menghujaniku.

"Katon Gokakyou no Jutsu."

Aku mengeluarkan jurus api untuk menghilangkan jarum-jarum tersebut. Kemudian menerjang musuh yang menyerangku.

Trang...

Bunyi tabrakan pedang antara aku dan pria tersebut memecahkan keheningan tempat pertarungan. Pria tersebut musuh yang cukup lihai dalam menggunakan pedang. Buktinya seranganku dapat dia imbangi dengan mudah. Aku mengaktifkan sharinganku, menatap tajam kearah pria itu.

Shiiing…

Pria tersebut berhenti menyerang, kini dia telah terjebak genjutsu ciptaanku. Tidak membuang waktu aku segera menggunakan sharingan kembali untuk melihat ingatan pria tersebut.

"Huhuuuhuu, ini percobaan yang bagus. Kali ini kau akan menuruti apapun perintahku, tidak seperti ciptaanku sebelumnya." Fuyuki menyeringai melihat hasil karyanya yang baru.

Pria yang menyerang Sasuke adalah pria yang dihidupkan Fuyuki seperti musuh sebelumnya.

"Kau akan jadi pemanis untuk rencana yang sebenarnya." Lanjut Fuyuki.

Dibalik tubuh Fuyuki terdapat puluhan mayat hidup yang telah dihidupkan kembali.

"Kita akan menjemput saudaraku dikonoha." Kembali Fuyuki berujar sambil tersenyum.

Sriiing…

Aku menonaktifkan sharinganku, mengepalkan tanganku erat menahan emosi yang mungkin akan kulampiaskan pada mayat hidup yang ada didepanku saat ini.

"Dia benar-benar gila." Gumamku kesal.

Setelah selesai menghabisi musuh, aku singgah sebentar untuk memastikan desa yang dilewati musuh, sudah aman. Kemudian membuat sebuah pesan untuk Hokage, bahwa Fuyuki akan menyerang Konoha dan mungkin sudah dekat dengan Konoha.

.

.

.

-KONOHA-

"Adududuh, Sakura-chan tanganku sakit." Naruto meringis sakit menahan luka ditangannya yang dia dapat saat berlatih.

Plak…

"Awww" Kembali Naruto meringis merasakan sakit ditangannya akibat tamparan pelan dari Sakura.

"Sudah ku bilang jangan bergerak!" Pendar hijau terlihat ditelapak tangan Sakura yang sedang mengobati tangan Naruto yang sedang terluka, sesekali Sakura menggurutu kesal melihat Naruto.

" Sakura-chan akhir-akhir ini kau sensitif sekali. Nanti kau cepat keriput." Naruto berujar dengan polosnya.

Perempatan muncul didahi Sakura, ingin rasanya dia menghajar temannya ini jika tidak ingat kalau dia akan membuang tenaga untuk menyembuhkannya lagi karena terluka akibat pukulannya.

"Kalau kau masih mau hidup, lebih baik tutup mulutmu Naruto!"

Naruto bergidik ngeri mendengar penuturan Sakura, dia benar-benar harus berhati-hati bicara dengan Sakura saat ini. Karena Sakura dua kali lipat lebih sensitif dari biasanya.

"Apa dia sedang datang bulan?" Pikir Naruto dalam hati.

Setelah membalutkan perban pada luka Naruto, Sakura segera beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Biasanya seorang dokter akan memberi nasihat atau petuah untuk pasiennya agar lukanya atau penyakit pasien lekas sembuh, anehnya Sakura malah berlalu pergi begitu saja.

"Sakura-chan tunggu aku!" Naruto beranjak dari duduknya dan segera menyusul Sakura yang masih tak menghiraukan panggilannya.

"Hei Sakura-chan, apa kau sedang ada masalah?" Naruto berusaha mengimbangi jalan Sakura.

"Aku tidak punya masalah Naruto." Ujar Sakura datar.

"Lalu, kenapa kau terus cemberut?"

"Haaaah, aku tidak cemberut." Dalam kalimat yang diutarakannya, Sakura berujar sambil menghela nafas.

"Hmm, kalau tidak mau cerita, aku akan menerkanya sendiri." Naruto berlagak berpikir serius tentang apa yang dipikirkan Sakura, dia memegang ujung dagunya sambil berpikir.

"Aaah, jangan bilang…" Lanjut Naruto yang berada disamping Sakura.

"Apa?" Sakura menghentikan langkahnya, cukup penasaran dengan kalimat Naruto yang menggantung.

"Hihii…Sakura-chan, Kau sedang merindukan si Teme?" Naruto menatap Sakura dengan senyuman lebar, matanya mengerling menggoda kearah Sakura.

Perempatan kembali muncul didahi sakura "Shannaroooo!" Teriak Sakura ditambah Bogeman yang diberikannya pada Naruto.

Buaaak…

Naruto terpelanting kearah tembok dan tidak sadarkan diri akibat pukulan Sakura. Beberapa perawat yang lewat sampai terkaget akibat kejadian itu, kebetulan Ino juga melihat kejadian itu, dia sampai cengo menatap Naruto yang nyawanya terlihat hampir keluar dari raganya.

"Cih…bikin kesal saja, Ino tolong rawat Naruto!" Sakura berteriak meminta Ino yang tidak jauh dari Naruto yang pingsan, kemudian berlalu pergi tanpa memperdulikan omelan Ino yang tidak terima diperintah olehnya.

.

.

.

"Siapa yang rindu dengan siapa? Naruto bodoh!" Sakura masih menggerutu kesal sambil berjalan menuju kantor Hokage.

Braak…

Bunyi dobrakan pintu yang berasal dari kekesalan Sakura, membuat sang Hokage sekaligus guru dari tim tujuh terkejut.

"Sakura, ada apa?" Kakashi menatap Sakura dengan pandangan heran. Masalahnya murid perempuannya itu terlihat sangat kesal dan marah.

"Kakashi-sensei, aku ingin kau berkata jujur." Sakura mendekati meja milik Hokage tersebut dengan kedua tangan menopang tubuhnya yang sedang berhadapan dengan Kakashi yang tengah duduk.

"Soal?" Tanya Kakashi heran.

"Misi apa yang sedang dilakukan ayahku?" Sakura menatap Kakashi dengan raut menahan kesal.

"Apa maksudmu Sakura, bukannya ayahmu sedang berkunjung ketempat temannya?" Kakashi balik bertanya.

"Jangan membohongiku Kakashi-sensei!" Tutur Sakura.

"Ya ampun, aku tidak berbohong." Melihat Sakura menatapnya tajam, membuat Kakashi merasa akan dihajar muridnya jika perbincangan itu dilanjutkan.

"Aku tau Kakashi-Sensei sedang berbohong sama seperti Ibuku." Sakura menatap Kakashi dengan pandangan sedih, melihat hal itu entah kenapa Kakashi merasa kasihan dan luluh.

"Hhhhh, kenapa kau berpikir kalau aku berbohong?" Menghela nafas, Kakashi bertanya sambil memberanikan diri membalas tatapan Sakura.

"Karena kau terus tak mengizinkanku menjalankan misi diluar desa." Ujar Sakura datar.

"Hanya itu?"

"Kakashi-Sensei, saat ini kau bahkan terlihat ingin menghindari pertanyaanku." Sakura memicingkan matanya, mengintimidasi gurunya sendiri.

"Haaaah, kau ini. Aku melarangmu menjalankan misi diluar, karena rumah sakit Konoha juga membutuhkanmu untuk membantu disana." Ujar Kakashi.

"Hmmm, baiklah kali ini aku akan berusaha percaya padamu, Sensei." Sakura kemudian berhenti menatap gurunya dengan pandangan mengintimidasi.

"Kalau begitu aku minta maaf sudah mengganggumu, perimisi." Sakura berpamitan kemudian berlalu pergi.

"Eh, sudah selesai? Kupikir dia akan mengamuk." Gumam Kakashi heran.

Sakura berjalan pergi meninggalkan kantor Hokage, tangan kanannya merogoh saku roknya untuk mengambil sebuah kertas yang sempat ia ambil saat berbicara dengan Kakashi.

"Kakashi sensei, kau lengah." Gumamnya pelan.

Saat berbicara tadi, Sakura mengambil secarik kertas di meja Kakashi. Kebetulan matanya menangkap selembar kertas yang bertuliskan nama Sasuke disana. Karena penasaran Sakura mengambilnya secara diam-diam, dengan mengalihkan perhatian Kakashi. Sebenarnya tujuan utamanya memang ingin protes dengan gurunya itu, karena tidak diizinkan menjalankan misi diluar desa dan menjemput ayahnya yang katanya sedang bertemu kerabat atau temannya. Tetapi karena penasaran dengan kertas dari Sasuke, dia dengan lancang mengambil pesan yang seharusnya dibaca oleh Hokage ke enam itu.

Sakura kemudian membuka pesan tersebut.

"Aku sudah bertemu dengan Tuan Kizashi, sekarang dia baik-baik saja. Dari informasi yang kudapat, musuh yang menyerang desa Nami berencana akan KeKonoha, mereka akan menyerang."

Begitulah pesan singkat dari Sasuke. Sakura yang membaca pesan tersebut sedikit terkejut, membaca bahwa musuh yang menyerang mereka dulu, berniat ingin menyerang Konoha. Tapi ada sedikit perasaan lega saat dia membaca keterangan jika Ayahnya baik-baik saja.

"Kenapa Ayah bisa bertemu Sasuke?" Pikirnya dalam hati.

Sakura kembali melanjutkan jalannya untuk pulang kerumah. Karena dia berpikir kalau Kakashi-Sensei pasti sudah membaca pesan tersebut sebelum dia mengambilnya.

.

.

.

"Dimana aku meletakkan pesan Sasuke?" Diruang Hokage, Sang Hokage sibuk mencari pesan yang tadi baru dia dapat dari Sasuke, selang beberapa detik sebelum kedatangan Sakura tadi.

"Haaah, kuharap isi pesannya bukan tentang hal buruk." Gumam Kakashi sendiri. Dia masih sibuk, membongkar berkas-berkasnya untuk mencari pesan tersebut. Sedang sibuk membongkar berkas, Guy selaku tangan kanan Kakashi dan seorang shinobi, membawa setumpuk berkas tambahan untuk diperiksa Kakashi.

"Haaaah, jadi Hokage memang bukan gayaku." Kakashi menghela nafas panjang, kemudian beralih memeriksa berkas yang baru dia dapat.

.

.

.

Gerbang Konoha

Dua orang Shinobi sedang mendapatkan giliran jaga. Terlihat seorang laki-laki yang membawa tas punggung dengan hoodie yang melindungi wajahnya dari panas sedang menuju gerbang Konoha.

"Hei, tunjukan identitasmu." Si petugas meminta identitas orang tersebut.

Pria misterius tersebut menatap kedua petugas yang berjaga, kemudian mengulurkan tangannya kearah bahu kedua petugas tersebut.

"Aku orang Konoha." Ujarnya singkat.

Dua petugas tersebut terdiam, tatapan mereka terlihat kosong sebentar.

"Ooh, Ternyata Ryuu-san. Kau baru selesai dari misi rupanya."

Setelah diam sejenak, kedua petugas tersebut kemudian mempersilahkan pria tersebut masuk ke Konoha. Dibalik Hoodie pria tersebut menyeringai dan terus melanjutkan perjalanannya menuju pusat Konoha. Dimana tujuan utamanya sedang berada disana.

TSUZUKU…

Hai, Lagi-lagi terimakasih sudah membaca Fict saya. Mau silent readers ataupun tidak. Ungkapan terimakasih saya untuk para readers. Ngomong-ngomong hari ini usia saya bertambah, Gak kerasa udah tua aja TvT *(Bodo amat yah TvT)

Terutama sekali terimakasih atas review-review Positif dari :

Stevyje, Amore, Hanazono Yuri, Sqchn, AZU .AA, Shinachiku, Savanass.

Tanpa review positif dari kalian, Author satu ini mungkin gak akan semangat buat update seminggu sekali TvT, maklum saya juga punya hati. Karena kalau banyak yang gak minat sama Fict ini, mungkin saya lebih memutuskan untuk hiatus. Banyak Fict saya yang gak berkualitas, karena kurangnya pengalaman nulis. Saya sengaja gak delete, biar jadi cambuk saya buat rajin perbaiki diri. Ngomong-ngomong saya berencana Re-make salah satu Fanfiction lama saya yang berjudul "Revive The Light." Setelah menyelesaikan "Memory". Authornya banyak bacot ya.

Yang pasti, saya benar-benar berterimakasih, walau hanya sedikit yang berminat dengan Fict ini ^^