MEMORY
.
.
Disclaimer©Masashi Kishimoto
.
.
CHAPTER 6
.
.
[HARUNO]
.
.
Kruyuuk…Kruyuuk….
Suara perut Naruto bernyanyi nyaring. Sejak pagi tadi Naruto belum makan, Hinata sedang sakit sehingga tidak bisa mengantarkan sarapan untuknya. Semenjak dia mulai menjalin kasih dengan Putri dari keluarga Hyuuga tersebut, Hinata selalu mengantarkan makanan kerumah Naruto. Karena saat ini dia sedang sakit dan beristirahat dirumah, Naruto memilih mencari makan diluar seperti dulu.
Sialnya kedai ramen langganannya sedang tutup hari ini, sehingga dia harus berkeliling desa untuk mencari makanan selain ramen. Naruto memilih masuk kekedai yang menjual dango untuk mengisi perutnya. Didalam kedai dia tidak sengaja menangkap warna rambut yang sudah tidak asing lagi.
"Sakura-chan!" Naruto berteriak sedikit keras kemudian berlari kecil kearah kursi yang diduduki teman setimnya itu. Sakura yang namanya dipanggil sedikit terkejut dengan teriakan Naruto.
"Kau berisik, Naruto!" Ujarnya kesal.
"Heheee, maaf." Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau sendirian saja?" Lanjut Naruto lagi.
"Aaa, apa aku terlihat sedang bersama seseorang tadi?" Sakura balik bertanya kepada Naruto, menatap wajah teman setimnya itu dengan pandangan jenuh.
"Hehehee, jangan kesal begitu Sakura-chan. Lebih baik kau mencari kekasih agar tidak perlu pergi kekedai makan sendirian." Ujar Naruto dengan cengiran lebarnya.
Perempatan muncul didahi Sakura, entah kenapa akhir-akhir ini dia gampang sekali kesal. Tapi melihat kedai itu tengah ramai, Sakura menahan amarahnya untuk menghajar Naruto.
"Hhhh, kau sendiri kenapa tidak bersama calon istrimu?" Sakura bertanya balik.
"Eh itu, Hinata sedang sakit." Naruto menggaruk sebelah pipinya dengan jari, agak canggung mendengar Sakura mengatakan tentang calon istri.
"Kau tidak menjenguknya?" Tanya Sakura heran.
"Aku berencana menjenguknya setelah makan." Ujar Naruto, kemudian dia memanggil pelayan untuk meminta pesanannya.
"Sakura-chan, mau ikut? Hinata pasti senang jika temannya menjenguk." Lanjut Naruto.
"Hmmm, kurasa aku bisa ikut. Hari ini aku tidak ada kerjaan di rumah sakit." Sakura menyuapkan dango kedalam mulutnya.
Setelah mereka selesai makan, Naruto dan Sakura memutuskan memesan dango untuk Hinata yang sedang sakit. Mereka kemudian pergi kekediaman Hyuuga untuk menjenguk Hinata.
.
.
.
"Aku pulang dulu Hinata, semoga lekas sembuh." Sakura berpamitan pulang dari kediaman Hyuuga.
"Iya, hati-hati dijalan Sakura-chan." Ujar Hinata tersenyum.
Sakura membalas senyuman Hinata, dia kemudian melangkahkan kakinya untuk pulang.
"Sakura-chan, biar aku antar!" Naruto yang baru saja keluar dari arah toilet, berlari menyusul Sakura yang sudah melewati pintu keluar. Sakura menghentikan langkahnya melihat Naruto yang ingin menyusulnya.
"Kau jaga Hinata saja. Aku tidak perlu diantar."
"Tidak apa-apa, biar aku antar ya." Naruto kukuh ingin mengantar Sakura pulang.
"Kau ini, peka sedikit. Saat sakit, perempuan itu sangat suka diberi perhatian lebih. Jangan buat calon istrimu kecewa, Naruto! Lagipula ini masih siang, jalanan masih ramai." Ujar Sakura panjang lebar.
"Hhhh, Baiklah. Kalau begitu hati-hati dijalan ya." Naruto tersenyum pasrah mendengar penuturan Sakura.
"Jaa" Sakura melambaikan tangannya, kemudian kembali berjalan menuju rumahnya. Benar yang dia bilang, jalanan masih sangat ramai. Sakura memperhatikan sekelilingnya sambil tersenyum, ada beberapa anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran dipinggir jalan dan para orang dewasa yang sedang berbincang serta tertawa bersama. Sedang asyik memperhatikan sekeliling, Sakura menangkap beberapa pasangan muda yang tengah mesra-mesranya bergandengan tangan sambil tersenyum bahagia. Sakura ikut tersenyum melihat pasangan tersebut, tepatnya tersenyum pahit. Entah kenapa melihat kebahagiaan itu membuatnya sedikit iri.
Sakura kembali melangkahkan kakinya menuju rumah. Menurutnya merebahkan diri dikasur sambil bermalas-malasan saat libur kerja adalah hal yang menyenangkan. Sesampainya didepan rumah, Sakura sedikit terkejut melihat seseorang sedang terkapar tak sadarkan diri, dengan jubah dan hoodie yang menghalangi wajahnya.
"Hei, kau baik-baik saja?" Sakura mengambil sebuah kayu kecil untuk menyentuh tubuh pria tersebut. Dia khawatir untuk menyentuh pria tak dikenal dengan tangannya sendiri. Apalagi pria tersebut pingsan tepat didepan pintu rumahnya.
"Aku.." Pria tersebut berbicara saat menyadari sesorang menyentuhnya.
Sakura yang mendengar gumaman tidak jelas dari Pria tersebut, memberanikan diri mendekatkan telinganya ke wajah Pria tadi.
"Aku…la..par…."
Kruyuuk…kruuyuuk…
Pria tersebut berbisik dibarengi dengan Suara perutnya.
"Hufft." Sakura menahan tawanya, setelah mendengar perut Pria tersebut.
Dia memutuskan membopong pria tersebut masuk kedalam rumahnya dan memberikan makanan kepada Pria itu. Pria itu makan dengan lahapnya tanpa jeda. Melihat hal itu, mau tidak mau membuatnya tersenyum geli.
"Bisa-bisanya aku membawa orang asing masuk kerumah." Pikirnya dalam hati.
Sakura tidak mengerti entah kenapa dia merasa biasa saja dengan kehadiran orang asing ini. Tidak ada rasa waspada sama sekali terhadap pria tersebut.
"Glup…uhuk..uhuk.." Pria tersebut memukul-mukul dadanya karena tersedak.
Melihat hal itu, Sakura segera memberikan segelas minuman kepada pria tersebut.
"Makannya pelan-pelan." Ujar Sakura singkat.
Hoodie yang dipakai pria tersebut terbuka akibat terlalu bersemangat makan, sehingga menampilkan wajahnya yang bisa dibilang tampan dimata Sakura. Sakura masih terperangah melihat ketampanan pria tersebut, sepertinya usianya tidak jauh beda dengan Kakashi-Sensei, Pria ini malah jauh lebih muda , Begitu pikirnya.
Setelah meminum air pemberian Sakura, Pria tersebut mulai tenang dan merasa lega.
"Huwaah, aku kenyang." Sambil menepuk-nepuk perutnya yang sudah buncit akibat kekenyangan, dia tersenyum lebar.
"Dapurku, seperti habis dirampok." Pikir Sakura dalam hati.
"Terimakasih sudah menolongku." Ujar Pria tersebut.
"Tidak apa-apa, senang bisa membantumu." Sakura membalas sambil tersenyum.
"Oh ya, perkenalkan, namaku Ryuu." Pria tersebut menjulurkan tangannya kearah Sakura.
"Ah… iya, namaku Sakura." Sakura menyambut tangan tersebut untuk bersalaman.
"Nama yang indah." Ujar pria tersebut.
"Terimakasih." Sakura tersenyum lembut.
"Ngomong-ngomong kenapa Ryuu-san bisa pingsan?" Tanya Sakura lagi.
"Hahaaa, aku adalah pengembara. Saat sampai diKonoha, kebetulan aku mengingat kerabatku bernama Kizashi, jadi aku singgah untuk kerumahnya, hanya saja aku lupa dimana rumahnya. Sehingga aku tersesat dan kelaparan karena uangku tadi dirampok." Sambil tertawa, Ryuu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kizashi? Itu nama ayahku." Ujar Sakura sedikit berpikir.
"Apa? Jadi ini rumah Kizashi? Kebetulan yang hebat." Ujarnya semangat.
"I..iya, aku adalah anaknya." Sakura menjawab dengan canggung.
"Tidak kusangka, Kizashi memiliki anak secantik ini." Sambil tersenyum tipis, Ryuu sedikit mendekat dan menatap dalam kearah Sakura. Sakura yang merasa jarak mereka cukup dekat, membuat semburat merah tercipta diwajahnya.
Tok..Tok…Tok..
"Sakura, kau sudah pulang?" Teriak seorang wanita dari arah pintu. Membuat kedua orang tadi kembali memiliki jarak.
Tak berapa lama, Mebuki yang merupakan Ibu Sakura masuk menuju dapur. Dia memperhatikan Ryuu yang ada disamping Sakura. Begitupula Sakura dan Ryuu yang menatap kedatangan wanita tersebut.
Mata Mebuki membulat terkejut, menunjuk kearah Ryuu. "Kau…" Mebuki menghentikan ucapannya masih menatap Ryuu dengan terkejut. Sakura yang melihat hal itu sedikit heran.
"Jika dia memang kerabat Ayah, berarti Ibu akan mengenalnya." Pikir Sakura dalam hati.
Sakura masih diam menatap Ibunya, dia sengaja diam karena sedikit curiga dengan reaksi Ibunya. Mebuki masih menunjuk kearah Ryuu, matanya menatap Ryuu yang sedang tersenyum kearahnya. Ryuu berjalan kearah Membuki kemudian menyentuh pundak wanita tersebut.
"Sudah lama tidak bertemu." Ujar Ryuu sambil Terenyum.
"Kau…Kau Ryuu-kun, sudah lama tidak bertemu." Ujar Mebuki kemudian berjalan untuk menyambut Ryuu.
"Hahahaa…Mebuki-san, senang bertemu denganmu lagi." Ryuu kembali tersenyum membalas sambutan hangat dari Mebuki.
"Jadi dia benar kerabat Ayah." Ujar Sakura dalam hati.
"Sakura, Perkenalkan dia pamanmu Haruno Ryuu, adik ayahmu." Mebuki memperkenalkan Ryuu, secara jelas kepada Sakura.
"Iya, aku sudah berkenalan dengannya Ibu." Ujar sakura.
"Itu artinya aku harus memanggilmu paman? Aku punya paman yang begitu muda." Lanjut Sakura menggoda.
Bulan telah menampakkan wujudnya, Tapi perbincangan hangat masih mengalir di kediaman Haruno. Pria aneh yang tak sadarkan diri karena kelaparan, kini begitu akrab berbincang dengan dua Wanita tersebut. Terkadang terdengar gelak tawa dari Sakura yang mendengar cerita Ryuu dan senyuman hangat Mebuki yang melihat interaksi kedua orang tersebut.
.
.
.
Krik..Krik..Krik…
Bunyi jangkrik menemani kedua laki-laki yang sedang beristirahat didalam hutan. Uchiha Sasuke dan Kizashi tengah beristirahat dalam perjalanan mereka untuk kembali kekonoha. Sasuke memutuskan untuk beristirahat, karena sedikit khawatir dengan Kizashi yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Sasuke mendongakkan kepalanya, menatap rembulan yang tengah menemani malamnya. Kizashi sudah tertidur sejak tadi.
"Kuharap tidak terjadi hal buruk diKonoha." Gumam Sasuke pelan. Dia masih setia mendongak menatap bulan yang begitu menarik perhatiannya.
"Aku akan kembali, Sakura." Sasuke tersenyum tipis sambil bergumam dan masih setia menatap rembulan.
TSUZUKU…
Terimakasih masih setia membaca Memory. Maaf jika masih ada kekurangan pada EYD dan adanya Typo ^^
