MEMORY
.
.
DISCLAIMER MASASHI KISHIMOTO
.
.
CHAPTER 7
.
.
.
Hari yang begitu ramai diKonoha, semua warga sedang sibuk membangun dan mempercantik kedai mereka dengan pernak-pernik untuk merayakan festival kembang api. Stan-stan kecil juga telah berjejer disepanjang jalan.
"Waaah, ramai sekali ya." Ujar Ryuu semangat.
"Setiap tahun Konoha selalu merayakan festival kembang api." Sakura berujar sambil tersenyum.
Sakura sedang menemani Ryuu berkeliling Konoha sesuai permintaan Ibunya pagi tadi.
"Sudah lama aku tidak melihat kembang api." Kembali Ryuu berujar dengan semangat.
"Paman, kau sangat suka kembang api?" Sakura melirik kearah Ryuu yang masih berjalan memperhatikan stan-stan yang sedang dihias.
"Tidak juga, aku hanya jadi mengingat seseorang yang sangat suka melihat kembang api." Ryuu masih setia menatap kesibukan orang-orang dengan pandangan sendu.
Mendengar penuturan Ryuu, membuat Sakura sedikit penasaran.
"Seseorang?" Sakura bertanya dengan ragu, takut pertanyaannya mengusik hati pamannya.
"Hmm, dia wanita yang kucintai." Ryuu menjawab sambil tersenyum lembut kearah Sakura.
"Paman, kau punya kekasih?" Sakura menatap Ryuu dengan wajah berbinar.
"Hehee, bagaimana mengatakannya ya? Dibanding kekasih bisa dibilang, lebih tepatnya wanita itu adalah istriku."
"Kau sudah memiliki istri?" Sakura terkejut mendengar penuturan Ryuu, dia tidak menyangka ternyata paman mudanya itu sudah memiliki istri.
"Jadi dimana istri paman sekarang?" Sakura kembali bertanya.
"Dia sudah pergi kesurga." Ryuu bergumam sambil tersenyum sedih.
Mendengar hal itu, mau tak mau membuat Sakura menjadi merasa bersalah atas pertanyaannya. Seharusnya dia tidak lancang bertanya tentang kehidupan pribadi Pamannya.
"Maaf." Gumam Sakura pelan.
"Hahahaa, kau tidak perlu minta maaf, itu bukan salahmu." Ryuu menanggapi dengan tertawa.
"Ayo kita kesana, kelihatannya disana ada makanan enak." Kembali Ryuu menarik lengan Sakura, membawa Sakura kekedai makan dengan penuh semangat.
Sakura berusaha mengimbangi lari Ryuu yang sedang bersemangat melihat-lihat stan yang menyediakan berbagai makanan. Entah kenapa sejak bertemu dengan pamannya, Sakura merasa sangat senang dan menjadi ikut bersemangat sama seperti Ryuu saat ini.
"Paman kau tidak boleh membeli semuanya!" Ujar Sakura kesal.
Di tangan Ryuu sudah menumpuk bungkusan makanan yang bahkan sudah tak sanggup ia bawa. Festival memang akan dimulai malam ini, tetapi beberapa stan sudah dibuka sejak pagi. Karena, melihat Pamannya yang kesulitan membawa berbungkus-bungkus makanan, Sakura akhirnya berinisiatif membawa setengah bungkus makanan yang dibawa Pamannya.
"Hehehee, Terimakasih Sakura." Mendapat bantuan dari Sakura membuat Ryuu tersenyum dengan cengiran lebar.
.
.
.
"Sakura-chan!" Teriak seseorang dari kejauhan.
Sakura dan Ryuu mengalihkan pandangannya kearah sumber suara, tak jauh dari tempat dia berdiri Naruto sedang berlari sambil melambaikan tangannya untuk Sakura.
"Naruto?" Sakura bergumam pelan.
"Kau sedang jalan-jalan?" Tanya Naruto semangat.
"Yah, begitulah." Sakura tersenyum lembut menanggapi pertanyaan dari Naruto.
Naruto sedikit heran dengan senyuman Sakura. Sangat jarang Sakura tersenyum seperti itu kepadanya. Beberapa detik kemudian Naruto baru menyadari kalau Sakura tidak sendirian, ada seorang Pria disampingnya.
"Sakura-chan, dia siapa?" Tanya Naruto heran, menunjuk kearah Ryuu yang tengah tersenyum melihatnya.
"Ah, dia Ryuu. Dia adalah Pa-"
"Sakura-chan, kau sudah punya kekasih?!" Naruto memotong ucapan Sakura yang belum dia selesaikan.
"Kau sudah menyerah dengan Teme?" Kembali Naruto bertanya.
"Aku tau Sasuke-Teme memang tidak sekeren aku. Tapi kau yakin mau menyerah soal Teme?" Naruto terus berujar tanpa henti.
"Berhenti membawa-bawa nama Sasuke-kun." Perempatan muncul didahi Sakura.
Tangannya sudah gatal sejak tadi, ingin sekali menghajar wajah Naruto dengan sangat keras. Lagipula apa yang dikatakan Naruto barusan. " Sasuke tidak sekeren dirinya? Yang benar saja! Sasuke itu sangat keren, sampai tidak ada yang menyaingi."Inner Sakura.
"Hhhh, dia ini bukan seperti apapun yang kau bayangkan saat ini." Sakura menghela nafas, menekan emosinya agar tidak meledak.
"Lalu dia siapa?" Tanya Naruto lagi.
"Perkenalkan namaku Ryuu. Aku adalah Paman Sakura." Ryuu memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya kearah Naruto.
"Kau pamannya Sakura?" Tanya Naruto sedikit terkejut.
"Iya begitulah." Ujar Ryuu singkat, masih tetap tersenyum ramah.
"Muda sekali." Naruto terperangah menatap Ryuu yang terlihat masih begitu muda.
"Kau lumayan tampan, walau tidak setampan aku, Paman." Ujar Naruto tersenyum membalas uluran tangan Ryuu.
Bletak…
"Awww…"
Pukulan keras mendarat diatas kepala Naruto. Sakura menjitak kepala Naruto cukup keras sehingga membuat Naruto mengaduh sakit.
"Berkacalah sana!" Ujar Sakura kesal.
"Memang benar aku tampan." Gerutu Naruto pelan.
Ketiganya kembali melanjutkan berkeliling melihat persiapan festival yang akan diadakan malam nanti.
.
.
.
"Kalau begitu aku pulang dulu, sampai ketemu nanti malam." Naruto melambaikan tangannya, meninggalkan Sakura dan Ryuu dipertigaan jalan.
"Dia orang yang penuh semangat." Ujar Ryuu sambil tersenyum.
"Dia penuh semangat dan bodoh." Lanjut Sakura dengan tatapan jenuh kearah Naruto yang semakin menjauh dari penglihatannya.
"Tapi kelihatannya kau sangat akrab dengannya dan dilihat dari sikapnya kepadamu, sepertinya Naruto menyukaimu." Ujar Ryuu masih dengan senyuman yang melekat dibibirnya.
"Paman, dia itu sudah punya calon istri." Sakura menjawab sekenanya.
"Eh?!" Ryuu mengalihkan pandangannya kearah Sakura dengan wajah terkejut.
"Ada apa Paman?" Tanya Sakura heran.
"Tidak, kupikir kalian akan menjadi pasangan yang cocok saat bersama." Ryuu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hihiii, kami hanyalah teman. Naruto itu sudah seperti keluarga bagiku." Sakura tersenyum menanggapi Ryuu yang masih setia menatapnya.
Mereka kembali berjalan menuju rumah. Sebelum berpisah tadi, Sakura dan Ryuu sudah berjanji dengan Naruto untuk melihat kembang api bersama.
"Hmmm...begitu ya." Ryuu kembali bergumam, kakinya masih setia melangkah.
"Lalu, apa Sasuke-Teme yang dikatakan Naruto tadi adalah pacarmu?" Tanya Ryuu lagi.
Blussh…
Sakura menghentikan langkahnya, wajahnya kini telah memerah seperti kepiting rebus.
"I...itu, Sasuke-kun bukan pacarku." Sakura menjawab dengan gelagapan.
Melihat reaksi Sakura yang malu-malu dan gelagapan, Ryuu jadi sedikit heran.
"Kelihatannya kau menyukai si Sasuke ini." Ryuu kembali berujar.
"Kyaaa, jangan mengatakannya terang-terangan." Sakura berteriak histeris, berusaha menahan malu.
"Hahahahaa, ternyata kau sangat menyukainya." Ryuu tertawa keras saat melihat ekspresi Sakura yang masih gelagapan dengan semburat merah dipipinya..
"Kurasa tidak butuh banyak waktu untuk kalian menjadi sepasang kekasih." Kembali Ryuu berujar.
"Sayangnya itu tidak akan terjadi." Sakura bergumam pelan. Wajahnya yang tadi malu-malu, kini tertunduk lemas menatap tanah yang ia jejaki.
"Apa terjadi sesuatu?" Ryuu bertanya heran, ekspresinya terlihat khawatir saat melihat perubahan Sakura barusan.
"Kurasa Sasuke-kun sangat membenciku." Sakura tersenyum sedih. Dia kembali mengingat saat terakhir kali dia bicara dengan Sasuke dirumah sakit.
"Baginya, aku hanyalah orang yang menyebalkan." Lanjut Sakura lagi.
Ryuu menatap Sakura dengan pandangan sedih. Perasaannya ikut sakit melihat ekspresi Sakura yang begitu sedih. Tangannya mengelus lembut rambut Sakura, berharap dapat menyalurkan semangat untuk perempuan musim semi itu.
"Jangan bersedih, Kau lebih cantik saat tersenyum." Ujar Ryuu yang masih setia mengelus lembut kepala Sakura.
"Kurasa hanya orang bodoh yang membencimu. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang tidak menyukaimu. Kau begitu cantik dan baik hati. Kau bahkan menolong pengelana yang tak kau kenal dan memberinya makan dengan percuma. Jika aku bukan Pamanmu mungkin aku juga akan menjadi laki-laki yang mengidamkan hidup bersamamu." Ryuu berujar panjang lebar.
Sakura terperangah akan penuturan Pamannya. Ini pertamakalinya dia mendengar seseorang yang begitu memujinya secara terang-terangan. Usapan hangat dikepalanya begitu hangat dan nyaman.
"Paman, terimakasih banyak." Ujar Sakura sambil tersenyum hangat.
"Um, ayo pulang!" Ryuu menggandeng pergelangan tangan Sakura dan kembali melangkah bersama dengan senyuman hangat diantara keduanya.
.
.
.
Gerbang Konoha…
"Oh, Sasuke dan Kizashi-san kalian sudah pulang dari misi rupanya." Ujar salah satu penjaga gerbang.
"Waah, keliahatannya kalian sedikit repot menjaga gerbang disaat orang-orang sedang sibuk merayakan festival." Ujar Kizashi ramah.
"Hahahaa, itu bukan masalah. Kami bisa melihat kembang api dari sini." Penjaga gerbang tersebut tertawa ramah berbincang dengan Kizashi. Sedangkan Sasuke hanya diam tak berminat dengan pembicaraan mereka yang menurutnya tidak penting.
"Tuan Kizashi, kita harus menghadap Hokage." Ujar Sasuke.
"Ah benar juga. Kalau begitu kami permisi dulu." Kizashi berujar ramah.
Keduanya kembali berjalan menuju kantor Hokage untuk melaporkan hasil misi mereka.
TSUZUKU…
Terimakasih masih setia membaca fanfiction ini, sekali lagi maaf jika masih banyaTypo TvT.
Dichapter ini masih belum ada konflik ya, masih berdrama ria. Mungkin chapter depan konfliknya akan dimulai^^
