MEMORY
.
.
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
.
.
CHPATER 8
.
.
.
Tok…Tok…Tok…
Bunyi ketukan pintu menghentikan gerak Kakashi yang tengah memeriksa tumpukan berkas diatas mejanya.
"Masuk" Ucap Kakashi.
Dua orang lelaki berbeda usia yaitu Sasuke dan Kizashi masuk menemuinya. Setelah memberikan pesan menggunakan elang untuk sang Hokage ketujuh, Kizashi dan Sasuke memutuskan untuk pulang lebih cepat. Kakashi mengrenyitkan dahinya dengan pandangan heran. Bukan karena kemunculan mereka berdua, melainkan jumlah mereka tidak sebanyak saat dia mengutus mereka untuk menjalankan misi penyelidikan di desa Nami.
"Kalian hanya berdua?" Kakashi bertanya masih dengan pandangan heran.
"Hn." Jawab Sasuke singkat.
"Hhhh, itu bukan jawaban yang ingin aku dengar Sasuke." Mendengar mantan muridnya yang menjawab dengan ambigu, membuat Kakashi menghela napas lelah.
"Maaf Hokage-sama, para anggota anbu yang ikut serta dalam misi telah tewas." Ujar Kizashi sendu.
Kakashi sedikit tersentak mendengar kabar tersebut.
"Kupikir aku sudah mengatakannya didalam pesan yang kukirim untukmu." Sasuke sedikit heran dengan Kakashi yang menampilkan raut terkejut walau hanya sesaat.
"Aah, Aku kehilangan pesan yang kau kirim waktu itu." Kakashi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa bersalah karena tidak sempat membaca pesan dari Sasuke.
"Hn, kau ceroboh Kakashi." Ujar Sasuke singkat.
"Sangat disayangkan kita kehilangan rekan kita." Kakashi menunduk diam sesaat dan mengabaikan ucapan Sasuke barusan.
"Lalu bagaimana perkembangan misi kalian?" Kembali Kakashi bertanya serius.
"Bagaimana mengatakannya ya, Karena kami tidak berhasil menangkap orangnya, itu artinya kami gagal." Kizashi menggaruk sebelah pipinya, sedikit canggung untuk menjawab Kakashi.
"hmm…begitu ya, kurasa kita harus memikirkan cara lain untuk desa Nami. Setidaknya aku senang kalian berdua kembali dengan selamat." Kakashi tersenyum hangat dibalik topeng yang masih setia ia pakai.
"Hn." Sasuke bergumam singkat.
"Aku tau kalian pasti lelah setelah perjalanan dari misi, Pulanglah dan beristirahat." Ucap Kakashi memandang kedua lelaki berbeda usia tersebut.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi pulang." Kizashi menunduk hormat, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Ah, Kizashi-san. Kurasa kau harus menjelaskan misimu pada Sakura. Kemarin dia menghampiriku untuk menanyai anda." Saat mendengarkan ucapan Kakashi, Kizashi menghentikan langkahnya sebentar.
"Baiklah, terimakasih atas nasehat anda Hokage-sama." Kizashi tersenyum menatap Kakashi, dia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
Kakashi menatap Sasuke yang masih setia berdiri dihadapannya.
"Kau tidak pulang?" Tanya Kakashi heran.
"Hn, ada yang ingin aku sampaikan." Jawab Sasuke singkat.
.
.
.
Naruto Pov
Aku berjalan penuh semangat menuju kantor hokage untuk membuat Kakashi-sensei ikut serta melihat kembang api bersama malam ini. Sebelumnya aku sudah mengajak Sakura dan Paman mudanya ikut bersama dan akan bertemu lima belas menit lagi di dekat taman. Hinata tidak ikut denganku karena dia memiliki janji melihat kembang api bersama anggota team delapan. Diperjalanan menuju ruang Hokage aku melihat Paman Kizashi yang merupakan ayah Sakura keluar dari ruangan Kakashi-sensei.
"Paman!" Teriakku semangat.
"Oh, Naruto." Ucap Kizashi.
"Paman, sedang apa di ruang Kakashi-sensei?" Tanya Naruto heran.
"Hanya menyapa Hokage, Haha." Jawab Kizashi canggung.
Aku menatap paman dengan pandangan heran, tak ambil pusing aku mengabaikan tingkah aneh paman.
"Begitu ya, aku ingin menemui Kakashi-sensei dulu, jaa, Paman."
"Iya" Paman Kizashi melambaikan tangannya menyambut lambaian tanganku.
Aku kembali melangkah menuju ruangan Kakashi, dengan semangat aku membuka daun pintu ruangan tersebut.
Braaak…
"Kakashi-sensei, ayo nonton kembang api bersama!" Ucapku semangat.
Kakashi menatapku sedikit kesal, mungkin karena aku masuk tanpa permisi. Dihadapan Kakashi, aku melihat punggung seseorang dengan lambang kipas yang sangat aku kenal. Ia juga menatapku dengan pandangan yang sama seperti Kakashi-sensei.
"Teme!" Mengabaikan pandangan kedua orang tersebut, aku menyapa Sasuke dengan senang. Semangatku meningkat dua kali lipat, melihat sahabat sekaligus rivalku sudah kembali dari misinya. Entah misi apa yang dia kerjakan, Kakashi selalu saja memberikan misi Sasuke secara rahasia.
"Hn, Dobe." Jawabnya singkat.
"Apa kau sedang melaporkan hasil misimu?" Aku berjalan menuju Sasuke.
"Hn." Jawabnya singkat.
"Irit bicara seperti biasanya." Ucapku dalam hati.
"Jika benar yang kau katakan barusan, itu artinya Konoha dalam bahaya." Ucap Kakashi serius, mengabaikanku yang baru saja masuk.
Aku memiringkan kepalaku bingung dengan percakapan kedua orang tersebut.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanyaku heran.
"Konoha akan diserang." Jawab Sasuke singkat.
"Apa?" Tanyaku terkejut.
"Apa maksudmu, Teme?" Tanyaku lagi.
"Pria yang menyerang kalian saat melaksanakan misi di desa Nami, mungkin sedang menuju Konoha." Jelas Kakashi.
"Pria itu ingin menyerang Konoha?" Tanyaku menahan emosi.
Aku kembali mengingat pria yang sudah membuatku, Sasuke dan Sakura-chan kerepotan melawan pengguna es tersebut.
"Aku tidak tau kapan pastinya dia akan menyerang." Ujar Sasuke.
"Ada baiknya kita berjaga-jaga, aku akan kerahkan beberapa shinobi untuk memperketat penjagaan." Lanjut Kakashi.
"Aku akan ikut berjaga." Aku memandang Kakashi dengan seirus.
"Hn, aku juga." Jawab Sasuke datar.
"Sasuke, kau baru pulang dari misi, istirahatlah!" Perintah Kakashi.
" aku tidak lelah." Jawab Sasuke datar.
"Hhhh, Dasar keras kepala." Keluh Kakashi.
"Baiklah, kalian juga boleh ikut berjaga, kalian akan berjaga di daerah pusat festival. Akan sangat berbahaya jika dia menyerang para warga."
"Baik." Jawabku dan Sasuke.
"Ah, soal Sakura-" Lanjut Sasuke, ia memandang ragu Kakashi untuk melanjutkan ucapannya.
"Ada apa Sasuke?" Kakashi dan aku memandang Sasuke, penasaran dengan apa yang ingin dia ucapkan.
"Tidak, bukan apa-apa." Sasuke yang sempat ragu, menatap tegas kearah Kakashi.
Kami berdua kemudian pergi meninggalkan ruangan Hokage untuk berjaga akan adanya musuh yang mungkin menyerang.
"Aku rasa aku harus memerintahkan Bunshinku untuk memberi kabar kepada Sakura." Pikirku dalam hati.
.
.
.
Taman Konoha
Sakura Pov
"Hhh, kemana si-baka Naruto?" Aku memandang sekitar dengan kesal, mencari keberadaan pemuda rubah yang sebelumnya sudah berjanji padaku untuk bertemu ditaman. Sudah lebih dari dua puluh menit dari waktu janjian mereka. Pamanku Ryuu saja sampai menghela napas lelah, sangking bosannya menunggu Naruto.
"Argggh, awas saja! saat dia datang nanti aku akan mengahajarnya." Ujarku kesal.
Paman menatapku dengan senyuman maklum.
"Sini." Paman menepuk bagian bangku yang kosong disampingnya, mengarahkanku agar ikut duduk bersamanya.
"Apa kalau dari sini kembang apinya tidak akan terlihat?" Pamanku bertanya sambil menatap langit malam.
"Hmm, aku belum pernah melihatnya dari taman, kurasa akan sulit terlihat karena banyak pohon yang menutupi." Ucapku kecewa.
"Argh."
Aku memalingkan wajahku kearah paman yang tiba-tiba mengerang seperti kesakitan, dia mencengkram kepalanya dengan kedua tangan.
"Paman kau kenapa?" Tanyaku khawatir, memegang bahunya untuk melihat keadaannya.
"Ukkh" Paman masih setia mencengkram kepalanya, menunduk dalam sehingga aku tidak bisa melihat raut wajahnya. Itu membuatku semakin khawatir, karena sejak tadi Paman baik-baik saja dan sekarang tiba-tiba paman seperti menahan sakit dikepalanya.
"Hah…haaah" Paman mengatur napasnya dalam diam dan masih setia menunduk menyembunyikan raut wajahnya.
"Kau tidak apa-apa?" Aku berdiri, memegang kedua bahu Paman dan sedikit menunduk mensejajarkan tubuhku dengan Paman yang tengah duduk.
Paman memegang pergelangan tanganku cukup erat, sampai aku sedikit mengerang menahan sakit akibat perlakuannya.
"Paman, sak-it." Ucapku menahan sakit dipergelangan tanganku yang dipegang begitu erat.
"Sakura, aku tau hal yang lebih menarik daripada melihat kembang api." Ujarnya tersenyum menatapku. Senyuman yang sangat berbeda dari yang biasa dia tunjukkan, membuat perasaan asing saat aku melihatnya.
"Pa…man?" Tanyaku sedikit takut, melihat tatapan Pamanku yang tidak biasanya.
Salah satu telapak tangan Paman yang sedang bebas menutup kedua mataku,Tubuhku terasa menolak untuk bergerak, hingga aku hanya bisa diam membatu, membiarkan entah apa yang akan diperbuat Paman padaku.
"Tidurlah sebentar, aku akan mengantarmu kesana." Paman bergumam pelan berbisik disamping telingaku. Seiring dengan bisikan dingin yang belum pernah kudengar dari mulutnya, kesadaranku perlahan menghilang.
TSUZUKU…
Hai, selamat datang di fanfiction karya gajeku TvT.
Untuk pembaca Memory maupun silent readers, chapter berikutnya mungkin akan sangat terlambat diupdate. Karena akhir-akhir ini aku lagi belajar membuat Novel. Jadi bukannya mau mengabaikan cerita ini, takutnya malah makin gaje kalau dipaksakan. Tapi gak bakalan hiatus kok, cuma telat update aja ^^.
Aku tau masih banyak Typo, tapi masih nekat juga nulis. Kalau kalian mau berkenan membaca novel pertamaku yang berantakan. Kalian bisa buka di webcomics challenge. Judulnya "Masa lalu, aku dan Kamu." masih chapter 1, karena aku mau lanjutkan chapter 8 Memory ini ^^
Sekali lagi, terimakasih masih setia membaca Memory ^^
