MEMORY

.

.

.

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 9

.

.

.

Pyarr..Pyarr…

Bunyi ledakan kembang api memenuhi keriuhan warga konoha malam ini, Semua mata tertuju pada keindahan warna dan rupa kembang api yang menyebar indah dilangit malam, tapi kebalikannya dua orang pemuda tengah sibuk berlari begitu cepat menerjang keramaian desa, sama sekali tak memperdulikan keindahan yang tercipta diatas hitamnya langit malam.

"Sakura." Gumam seorang pemuda yang masih sibuk berlari dengan cepat. Kakinya seperti tak kenal lelah, bahkan salah satu temannya tak sanggup menyusulnya. Giginya bergemelutuk menahan amarah yang mungkin bisa saja meledak kapanpun.

Penyesalan, itulah yang pemuda itu rasakan saat ini. Tak seharusnya dia menganggap remeh perasaan kecil yang terus memberatkan langkahnya tadi, tapi sayangnya pikirannya terlalu mengutamakan keselamatan Desa, sehingga hal berharga yang berusaha ia jaga malah semakin jauh darinya.

Pemuda itu terus berlari, mencari dan berusaha merasakan sisa chakra yang bisa dijadikan petunjuk untuk menemukan gadis musim semi tersebut. Tak ia hiraukan sahabat rubahnya yang terus meneriakinya dari arah belakang.

Flashback On…

Sasuke dan Naruto sedang berjaga disekitar pusat konoha, memastikan tidak ada gerakan mencurigakan yang mungkin membahayakan Konoha. Keduanya begitu fokus memperhatikan sekitar mereka tak membiarkan satu celahpun luput dari penglihatan mereka.

"Bunshin ku menghilang." Naruto sedikit terperanjat saat merasakan salah satu bunshin yang ia sebarkan di berbagai tempat menghilang.

"Dimana lokasinya?" Sasuke memalingkan wajahnya menatap Naruto untuk menuntut jawaban secara tak sabaran.

"Sakura-chan?" Gumam Naruto, dia tidak memperdulikan pertanyaan Sasuke barusan.

Mendengar gumaman Naruto, membuat Sasuke menautkan alisnya heran. Naruto kemudian memalingkan kepalanya kearah Sasuke, wajahnya terlihat begitu terkejut dan panik.

"Sakura-chan diserang !" Ucap Naruto panik.

Bola mata Sasuke membulat tak percaya, kekhawatiran kecilnya menjadi sebuah kenyataan.

"Dimana dia?" Sasuke menarik salah satu kerah Naruto dengan kasar. Emosinya begitu memuncak mendengar gadis musim semi yang diam-diam ia kagumi tengah diserang.

"Di taman Konoha." Ucap Naruto panik.

Segera Sasuke melangkahkan kakinya menuju taman Konoha yang dimaskud Naruto. Sahabat rubahnya itupun mengikuti langkah kakinya.

Sesampainya ditaman, hanya ada bangku yang telah hancur dan taman yang cukup berantakan. Naruto mengetahuinya, tempat itu sempat menjadi tempat bertarung bunshinnya dengan orang yang menyerang Sakura. Sayangnya Bunshin Naruto tidak cukup kuat untuk mengalahkannya.

"Ck, sial!" Ucap Sasuke kesal, dia menyadari bahwa dia sangat terlambat.

Naruto memandang nanar kearah Sasuke, ia tahu Sasuke tidak sepenuhnya mengabaikan gadis musim semi itu. Pandangannya teralihkan kearah bangku yang sudah hancur tersebut,.

"Kenapa Paman melakukan ini?" Gumam Naruto pelan.

Ia ingat, saat bunshinnya pergi untuk menemui Sakura, dia mendapatkan Paman Ryuu tengah menggendong Sakura yang tak sadarkan diri. Bunshin Naruto berusaha menghampiri mereka untuk menanyakan apa yang terjadi, tapi Ryuu malah memandangnya begitu dingin, bahkan hawa membunuh terpancar jelas dari tubuhnya.

Menyadari ada hal aneh yang terjadi dengan paman Sakura, diapun berusaha bertanya dengan sikap waspada.

"Paman, kenapa Sakura-chan pingsan?" Naruto bertanya dengan pandangan waspada.

Ryuu hanya diam tak menyahuti pertanyaan Naruto, dia hanya menatap Naruto dengan pandangan yang begitu menusuk.

Syuuut…Syuuut…

Bunyi shuriken dari arah samping tengah meluncur cepat menyerang Naruto yang tengah fokus pada Ryuu. Menyadari hal itu, Naruto segera melompat menghindarinya, sayangnya dia tidak menyadari gerakan cepat Ryuu dibalik punggungnya. Sehingga tendangan yang begitu keras mengenai punggungnya hingga membuatnya terpelanting menabrak bangku disekitar taman tersebut.

Boof….

Suara kepulan asap yang berasal dari arah bangku, menandakan bahwa bayangan yang Naruto buat telah menghilang.

.

.

.

Sasuke mengaktifkan sharingan yang dimilikinya, berharap dapat merasakan chakra gadis tersebut. Kepanikan dan kecemasan memenuhi perasaannya, terlihat sangat tidak Uchiha sekali. Dia bahkan tidak dapat berpikir dengan jernih dan tidak bersikap tenang seperti biasanya. Naruto yang menyadari hal itu kembali menatap sendu kearah Sasuke.

"Kalau kau mencintainya, kenapa tidak bersikap peduli didepannya?" Gumam Naruto pelan, yang mungkin tak bisa didengar oleh Sasuke.

"Aku merasakannya, ini chakra Sakura." Sasuke berdiri menghadap kearah yang menuju gerbang Konoha.

Sasuke kemudian melanjutkan larinya dengan cepat mencoba menyusul sibrengsek yang membawa Sakura. Disusul Naruto yang masih menatap sendu pada punggung Uchiha tersebut. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan kedua sahabatnya itu, Naruto begitu menyayangi Sakura dan Sasuke yang sudah seperti keluarga baginya. Tapi entah kenapa, melihat sikap Sasuke yang berbanding terbalik saat dengan Sakura dan saat tidak ada gadis itu, membuatnya sedikit frustasi.

Dia menyadarinya, Sasuke memiliki perasaan terhadap gadis musim semi itu. Ya, dia menyadarinya sejak perjalanan misi mereka didesa Nami. Sasuke begitu khawatir pada Sakura, padahal biasanya sikap tenang dan cueklah yang ia tunjukkan. Kali ini keyakinan Naruto semakin jelas, sikap Sasuke saat ini membuatnya terlalu jelas.

Berusaha mengesampingkan pemikirannya barusan, Naruto kembali fokus mengikuti jejak Sasuke yang tengah kalut mengejar musuh.

Flsahback Off…

.

.

.

"Ugggh" Suara erangan pelan dari Sakura yang tengah berusaha terbangun dari tidurnya. Sakura memegang kepalanya yang masih terasa pusing dan berusaha menempatkan diri untuk duduk. Matanya tengah menyesuaikan cahaya temaram dari sebuah lilin yang tak bisa menerangi seluruh ruangan tempat Sakura berada.

"Kau sudah bangun?" Seorang pria yang sangat Sakura kenali tengah menatapnya dengan tersenyum lembut.

Saat Sakura telah menyesuaikan diri dengan pencahayaan, matanya menatap tajam kearah pria tersebut.

"Kenapa kau melakukan ini?" Sakura memandang Pria tersebut dengan waspada.

"Kau pasti sangat terkejut, maafkan aku Sakura." Pria tersebut memandang Sakura ramah, tersirat rasa sedih yang tak Sakura mengerti dari mata pria tersebut.

"Aku tidak akan membiarkan dia membawamu." Pria yang mengakui sebagai Pamannya menatap Sakura penuh dengan tekad.

Sakura tidak mengerti dengan apa yang dimaksud pamannya. Jika dia mau, Sakura bisa saja menghajar Pamannya dengan tinju monster miliknya, hanya saja hatinya begitu tak ingin melakukan hal itu. Sakura selalu merasa ingin mempercayai pria tersebut. Ini aneh, tapi itulah yang sedang Sakura rasakan saat ini. Perasaan nyaman dan rindu yang entah kenapa selalu dia rasakan saat bersama Pamannya, bahkan kenyataan bahwa Pamannya yang membuatnya tidak sadarkan diri, masih tak menggoyahkan rasa kepercayaannya.

"Paman?" Gumam Sakura pelan.

"Saki" Ryuu mengucapkan sebuah panggilan yang tak asing ditelinga Sakura.

Panggilan itu membuat kepala Sakura begitu sakit dan terasa berat.

"Uggh." Sakura mengenggam kepalanya begitu kuat, merasakan sakit yang begitu menyiksanya. Bayangan-bayangan asing yang tak Sakura ketahui, berkeliaran membentuk klise sebuah gambaran yang entah kenapa membuatnya ingin menangis. Ryuu mendekap tubuh Sakura protektif, berharap rasa sakit yang tengah Sakura rasakan dapat mereda dengan pelukan hangat darinya.

"Kau menggunakan jurus keluarga kita." Ucap Ryuu pelan.

"Ughhh, sakit sekali." Sakura masih memegang kepalanya yang serasa akan pecah, air matanya bahkan mengalir jatuh, tak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan.

.

.

.

"Saki, Papa bawakan hadiah untukmu." Ingatan Sakura menampilkan sebuah klise yang ia rasa tidak begitu asing.

"Papa, bolehkah aku membaca diperpustakaan milik Papa?" Lagi, Pemandangan seorang anak kecil yang begitu mirip dengannya tengah berbicara dengan seorang Pria yang begitu mirip dengan Pamannya.

Pria itu tengah membaca Koran setelah menghabiskan makan malam yang disediakan oleh wanita yang juga memiliki rupa hampir sama dengan anak kecil tadi, keluarga kecil itu terlihat begitu bahagia.

"Ugggh,argggh." Erang Sakura kuat.

"Sakura, Mama dan Papa menyayangimu." Kini gambaran klise wanita berambut senada dengannya tengah tersenyum memandang kearah Sakura kecil yang terlihat seperti ketakutan.

Slaasshh…

Suara tebasan membuat keterkejutan anak kecil itu semakin menjadi. Wanita yang dia panggil Mama kini terbaring dibanjiri darah yang begitu pekat, bahkan darahnya ikut terciprat mengenainya.

"Ini semua salahmu." Anak laki-laki yang telah dengan sadis menebas wanita itu, menatap sendu kearah Sakura kecil.

"Arggh, huwaaa…" Teriak Sakura keras.

Air matanya mengalir semakin deras, tangisannya semakin keras seiring gambaran ingatan yang tengah berkeliaran didalam kepalanya kini ia akui bahwa itu adalah milikinya.

"Maafkan Papa." Ryuu yang menyadari bahwa Sakura sudah mengingat semuanya, hanya bisa memeluk anaknya yang sudah beranjak dewasa tersebut. Sebelumnya Ryuu sempat melepaskan segel yang Sakura buat untuk mengunci ingatannya, sehingga saat Sakura terjaga, kemungkinan besar ingatannya akan kembali.

.

.

.

"Ughh" Sasuke memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Dia bahkan menghentikan langkahnya yang berusaha mengejar jejak musuh yang menculik Sakura.

"Sasuke, ada apa?" Melihat Sasuke yang berhenti, Naruto pun ikut menghentikan langkahnya.

"Hiks..hiks..aku..Aku percaya padamu." Ingatan singkat tentang seorang anak kecil yang tengah menangis terlintas dipikiran Sasuke.

"Hah…hah…" Sasuke berusaha mengatur nafasnya yang terasa tak beraturan.

"Apa itu barusan, kenapa tiba-tiba aku membayangkan hal asing seperti ini?" Ucap Sasuke dalam hati.

Mengabaikan rasa sakit yang barusan ia rasakan, Sasuke kembali melanjutkan pengejaran dan mengabaikan keheranan Naruto yang tengah menatapnya.

Tsuzuku…

Yuhuuu, nongol lagi nih ^^

Maaf ya updatenya telat, lagi banyak kegiatan diluar, jadi curi-curi kesempatan buat lanjutkan Memory.

Selamat membaca ^^