MEMORY
.
.
.
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 10
.
.
.
"Ck, dia benar-benar menyusahkan." Fuyuki memandang kesal sebuah gubuk tua yang tengah hangus terbakar.
"Kau benar-benar membuatku repot, Ayah." Gumam Fuyuki pelan.
Fuyuki telah meminta Ryuu untuk menemuinya diperbatasan desa Konoha, setelah dia berhasil membawa Sakura keluar dari Konoha. Tapi sepertinya saat dipertengahan jalan, jutsu yang Fuyuki pakai untuk mengendalikan Ryuu berhasil dipatahkan. Terbukti sejak tadi dia tidak mendapati Ryuu sehingga dia mencari jejaknya sendiri dan sampailah ia digubuk tua tersebut, gubuk itu bahkan sudah terlalap oleh api.
"Sasuke, tunggu aku!" Teriak seseorang dari kejauhan.
Mendengar nama yang tidak asing ditelinganya, Fuyuki segera berlari meninggalkan tempat itu, Dia sempat menyisakan dua mayat yang telah ia hidupkan untuk menghambat pengejaran mereka. Dia tidak punya waktu untuk meladeni orang Konoha yang sepertinya menyadari keberadaannya disini.
.
.
.
Grussaak…Syuuut….
Sebuah shuriken meluncur cepat, tepat didepan Sasuke yang tengah berlari kencang. Sasuke berhasil menghindarinya tepat waktu.
Pyaassh…
Shuriken yang masih meluncur tersebut menimbulkan sebuah cahaya yang sangat dia tau.
"Sial kertas peledak, Dobe awas!" Ucap Sasuke kesal.
Naruto yang tepat berada dibelakang Sasuke dengan lihai bepindah dengan cepat. Ledakan yang cukup besar merusak pepohonan yang sebelumnya mereka pijaki. Dua orang pria bertubuh besar dan menyeramkan muncul diantara mereka.
"Cih, menghalangi saja." Sasuke memandang kedua pria itu dengan kesal.
"Kurasa kita harus menunda sebentar pegejaran kita." Naruto menatap sinis dua pria tersebut.
"Lebih baik selesaikan dengan cepat, Dobe! " Sasuke segera mengeluarkan kusanagi yang sempat ia sematkan dibalik tubunya. Dua pria tadi berubah menjadi seperti monster besar yang mengerikan. Tubuhnya berselimuti bulu, wajahnya berubah menjadi seperti serigala dengan cakar yang terlihat sangat tajam dijari-jari tangan mereka.
Graaar…
Aungan mereka dapat membuktikan keganasan dan aura membunuh yang mereka pancarkan begitu terasa. Salah satu manusia jadi-jadian tersebut berlari kencang kearah Naruto, berusaha mencakar Naruto dengan cakar tajam dan begitu panjang seperti sebilah pisau. Gerakannya begitu lincah dan sulit terbaca. Naruto cukup kewalahan untuk menghindari serangannya, sehingga dia hanya bisa terus mundur dan menghindar.
Bugh..
Sebuah pukulan keras berhasil mengenai Naruto yang sempat lengah karena melihat Sasuke sekilas yang tengah bertarung tak jauh darinya. Naruto terpental cukup jauh akibat pukulan tersebut. Jaraknya dengan Sasuke semakin jauh.
"Cih, sakit juga." Ucap Naruto pelan.
"Kau jadi lemah Naruto." Kurama yang berada didalam tubuh Naruto bicara dengan nada meremehkan.
Didepan Naruto, manusia serigala tersebut sudah bersiap mencabik-cabik tubuhnya.
"Kurama, Aku tidak punya waktu meladeni candaanmu." Setelah tadi terpental cukup jauh, Naruto berusaha berdiri dan bersiap untuk membalas serangan.
"Lebih baik cepat selesaikan, bocah Uchiha itu cukup menyebalkan jika dia tau kau kewalahan." Ucap Kurama.
"Yaah, ayo kita selesaikan." Naruto memancarkan chakra orange diseluruh tubuhnya, membuat penampilannya berubah dengan chakra bijuu yang telah menyelimutinya. Gerakan Naruto jadi jauh lebih cepat dari sebelumnya. Saat manusia serigala tersebut menyerang, Naruto berhasil menghindarinya dan mengakhiri pertarungan dengan cepat setelah menggunakan rasengan kepada lawan.
.
.
.
Lain halnya dengan Sasuke yang kini sedang terpojok, tubuhnya sudah dipenuhi luka gores akibat cakaran dari manusia serigala satunya. Dia selalu gagal menghindar dan hanya menyerang sembarangan tanpa perhitungan. Pikirannya terlalu kalut dan tidak dapat berpikir dengan jernih, bahkan sakit dikepala yang sebelumnya ia rasakan semakin menjadi saat ini, sehingga membuatnya tak sanggup untuk menggunakan sharingan. Sasuke memegang kepalanya yang masih berdenyut sakit, sambil menghindari serangan lawan.
"Ck, sial!" Umpat Sasuke kesal.
Dia masih berusaha menghindari serangan lawan tanpa bisa balas menyerang. Kusanaginya jatuh terpental entah kemana saat sebelumnya menangkis serangan bertubi-tubi dari musuh.
Rasengan…
Naruto yang telah menyelesaikan pertarungannya lebih dulu, berlari kearah lawan dan langsung menggunakan rasengan dari arah samping. Manusia serigala tersebut tidak menyadarinya karena begitu fokus untuk menyerang Sasuke, sehingga serangan telak tersebut membuatnya terpental dan terluka parah.
"Kau tidak apa-apa Sasuke?" Naruto menghampiri Sasuke yang masih memegang kepalanya yang terasa semakin sakit.
"Ck, aku baik-baik saja." Sasuke berusaha berdiri setelah sempat terhuyung.
"Kau yakin?" Tanya Naruto ragu.
Melihat Sasuke yang sangat kewalahan mengahadapi musuh, membuat Naruto sedikit meragukan keadaan pemuda tersebut. Setaunya Sasuke tidak akan terluka dengan mudah saat menghadapi pertarungan.
"Aaaaa" Sasuke menjawab sekenanya.
"Ughh" Sasuke kembali mencengkram kepalanya yang kembali semakin sakit, bahkan kakinya tak sanggup menopang tubuhnya hingga dia terduduk bersimpuh merasakan sakit yang semakin menjadi dikepalanya.
"Kau tau, aku sangat senang bisa bertemu denganmu, jadi jangan pernah berkata kalau Sasuke-kun itu payah." Sebuah ingatan pendek tentang seorang gadis yang tak ia ingat wajahnya, tengah tersenyum menatapnya.
Sasuke tidak mengerti, ingatan asing sejak tadi memenuhi otaknya, anak perempuan itu selalu hadir disetiap ingatan yang tengah muncul menyiksa kepalanya. Dia tidak punya waktu untuk hal ini, dia harus segera mengejar Sakura. Jika dia berhenti sekarang, perasaannya berkata dia tidak akan pernah bisa melihat gadis musim semi tu lagi.
"Sasuke!" Panggil Naruto dengan nada khawatir.
Sasuke berusaha berdiri dengan kakinya yang terlihat gemetar tak sanggup menopang tubuhnya. Melihat hal itu, membuat Naruto semakin khawatir dengan sahabat sekaligus rivalnya itu.
"Lebih baik kita hentikan disini saja." Ucap Naruto sedikit ragu.
Sasuke memandang Naruto tak percaya. Apa yang barusan ia dengar, Naruto bilang berhenti disini? Kenapa dia harus berhenti disini, saat dia sangat tau Sakura tengah diculik oleh orang yang sangat berbahaya. Apa kebodohan Naruto sangat tidak bisa disembuhkan, sampai merelakan teman satu timnya diculik begitu saja. Dimana kalimat yang biasa dia dengar bahwa meninggalkan teman lebih buruk dari sampah. Bukankah Kakashi selalu mengatakan hal itu untuk mereka sampai Naruto rela terus memperjuangkannya untuk kembali ke Konoha.
"Jika kau ingin berhenti, lakukanlah! aku akan tetap mengejarnya." Sasuke berjalan dengan tergopoh untuk tetap mengejar musuh.
Naruto memandang sendu punggung yang tengah berjalan melaluinya. Dia tau Sakura sedang dalam bahaya, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Sasuke pergi begitu saja dengan keadaan seperti itu.
"Maaf Teme, kau harus berhenti." Gumam Naruto pelan.
Naruto memukul bagian tengkuk Sasuke sehingga membuat kesadaran Sasuke menghilang.
"Kau bahkan tidak bisa menghindari pukulan pelan seperti itu." Ucap Naruto sendiri.
Naruto membawa Sasuke ketempat yang ia kira bisa melindunginya dari bahaya. Sasuke terlihat begitu tersiksa dalam tidurnya. Dia tau Sasuke memang sedang tidak baik-baik saja. Naruto berharap dengan Sasuke beristirahat sebentar dapat sedikit memulihkan keadaannya.
"Aku akan menyusul Sakura lebih dulu." Setelah berkata seperti itu kearah Sasuke yang tidak sadarkan diri, Naruto segera melanjutkan langkahnya untuk mengejar Sakura dan juga paman Ryuu.
.
.
.
-Konoha-
"Aku pulang." Ucap Kizashi yang sedang berjalan masuk kedalam rumah.
"Sayang, kau sudah pulang?" Mebuki menyambut Kizashi dengan pelukan hangat.
"Yaaah, bagaimana keadaanmu dan Sakura, saat aku tidak ada?"
"Kami baik-baik saja." Balas Mebuki terenyum.
"begitukah, haaah aku sangat lapar." Ucap Kizashi lega.
Mebuki menuntun suaminya kearah dapur, karena kebetulan tadi dia baru selesai memasak.
"Jadi, dimana putri kita?" Sambil menyeruput kuah soup yang sudah disediakan istrinya, Kizashi memperhatikan sekitar rumah karena tidak mendapati putrinya didapur.
"Dia sedang pergi kefestival bersama Ryuu." Ucap Mebuki.
Kizashi menghentikan kegiatan makannya saat mendengar nama yang sangat tidak asing ditelinganya.
"Mebuki, apa maksudmu?" Tanyanya tak sabaran.
"Adik iparmu menginap disini." Ucap Mebuki. Dia sedikit heran dengan reaksi suaminya.
"Ryuu kan sudah-" Ucapnya terputus.
Pyaarr…Pyaar…Duaar…
Kyaaaa…
Suara teriakan dan ledakan terdengar dari luar, Kizashi dan mebuki segera membuka pintu untuk melihat keadaan. Para warga berlarian tak tentu arah akibat panik dengan serangan dari hewan-hewan buas raksasa yang tengah menghancurkan bangunan-bangunan sekitar.
"Mebuki, pergilah ketempat yang aman!" Teriak kizashi kuat.
"Kau mau kemana?" Mebuki menatap Kizashi dengan pandangan khawatir.
"Aku akan menemui Hokage. Kau harus mengikuti arahan mereka." Kizashi melihat kearah para ninja yang tengah berusaha mengevakuasi warga.
Kizashi kemudian berlari menuju kantor Hokage dengan berlari tak sabaran. Disekitarnya ada beberapa ninja yang tengah berusaha menghalau serangan para hewan raksasa tersebut. Dia tau dia takkan bisa membantu dalam pertarungan ini, itu sebabnya ia tetap memilih terus berlari menuju kantor Hokage.
.
.
.
Didaerah sekitar hutan terlihat dua orang yang tengah duduk beristirahat dari pelarian mereka. Sakura dan juga Ryuu. Sakura sudah memahami keadaan yang sekarang tengah terjadi, Ryuu adalah orangtuanya, Fuyuki adalah Saudara tirinya dan orang yang telah ia anggap ayah adalah pamannya. Sakura sangat khawatir dengan keadaan Konoha, dari cerita yang dikatakan Papanya, dia tau Konoha saat ini pasti tengah diserang. Tapi dia tidak boleh kembali keKonoha sekarang. Ada hal yang lebih dulu harus ia selesaikan. Sakura percaya kalau teman-temannya dan orang-orang Konoha pasti bisa mengatasi masalah yang ada diKonoha. Saat ini Sakura tengah menghindari Fuyuki termasuk juga Konoha. Sakura ingin mencari tau alasan jelas perbuatan Fuyuki yang telah tega membunuh keluarganya dan terus berniat membawa Sakura untuk ikut bersamanya.
Tsuzuku…
