Chapter 2: Tiga nama dalam satu tubuh dan manusia pemburu ide
[ 2/3 ]
.
.
"Kau Byunearest?"
Itu kalimat pertama yang Chanyeol ucapkan ketika pertama kali Baekhyun memperkenalkan diri. Sebagai Byun Baekhyun, sebagai Byunearest.
"Benar. Penulis fiksi yang tulisannya berumah di internet. Sesekali self publishing, tetapi lebih sering menyebarkan secara cuma-cuma."
"Aku salah satu pembacamu! Astaga, aku tidak menyangka bertemu Byunearest di depan mataku sendiri."
Baekhyun tersenyum sedikit. "Kembali pada kesepakatan kita, kau akan menjadi asistenku. Kau harus mengganti ide-ideku yang kau hancurkan di dalam memo. Jadi, kau, wajib, membantuku menyelesaikan tugas-tugasku yang tersisa dan memberikanku ide yang kaupunya."
"Tapi aku bodoh."
"Kalau bodoh kenapa ke Manchester?"
Lelaki itu terdiam menunduk tanpa jawab. Baekhyun beranjak menuju meja kerja, menyalakan lampu belajar dengan siraman cahaya kuning. Ada tumpukan buku berjejer horisontal; novel, biografi, kiat-kiat berbahasa Inggris yang baik dan benar, info tentang seluk-beluk Manchester. Baekhyun meraih satu buku, tebal, sampulnya berwarna merah pucat dengan siluet wanita meliukkan pinggul. Sebuah novel dengan tema dewasa. Ia melemparnya, mengenai pangkuan Chanyeol yang menunduk.
"Apa ini?" tanyanya. Tangannya mengelus permukaan buku yang keras, sedikit meneguk ludah pada pose wanita yang ditampilkan. Sensual.
"Kau pikir hanya dengan menjadi penulis di internet bisa membuatku hidup nyaman di Manchester? Tidak. Aku juga menerbitkan buku, dengan nama pena yang lain."
Pupilnya membesar ketika melihat sebuah nama di pinggir kover, "Aldebaran."
"Ya, Aldebaran." Baekhyun lebih menekan.
Buku dibuka, satu kertas dibalik. Ada sebilah kalimat.
Untuk para binatang. Tetaplah kalian menjadi manusia.
Kalimat itu kontroversial. Chanyeol menutupnya.
"Bintang paling terang dalam rasi Taurus. Aldebaran. Bukan begitu?"
Baekhyun tidak menjawab. Ia masih memunggungi di dekat meja kerja. "Kau bisa tidur di sofa. Besok kita akan segera bekerja. Manchester memang metropolitan yang haram tidur, tapi kita masih harus memejam mata. Selamat malam."
Lalu, ia masuk ke dalam kamar.
Chanyeol menatap pintu yang tertutup dengan buku bertema dewasa di pangkuan dan pikiran berkecamuk.
.
.
Pukul lima pagi. Dan Baekhyun merindukan memo kecilnya, anaknya. Tulisan-tulisan rancu di atas lembarnya sudah mencapai lebih dari setengah halaman. Tapi kemarin tinta itu luntur dan mana pula dapat dibaca. Selama tinggal curahan otakku yang malang, ia membatin.
Di suatu lembar, berisi cuplikan dialog, judul, nama karakter, dan plot yang akan ia tulis. Rencananya untuk publikasi buku selanjutnya setelah buku terakhirnya yang cukup meraih sukses. Temanya masih sama dan hanya untuk para pembaca di atas usia 20. Ada banyak kata sumpahan dan vulgar menghiasi, khas tulisan Baekhyun. Salah seorang pengkritik bertanya: Apakah Tuan Aldebaran tidak pernah memiliki kekasih sampai harus menuangkan kegelisahan seksualnya ke dalam buku? Karena nyatanya, tidak hanya satu-dua orang yang tenggelam, tapi banyak; selangkangan mereka basah setelah membaca kata yang ia rangkai.
Aldebaran dan Byunearest, adalah dua pribadi yang berbeda. Byun Baekhyun berbeda pula. Aldebaran, si mesum. Byunearest, si misterius. Byun Baekhyun, si perantau yang mencari peruntungan di Manchester.
Baekhyun mengeratkan selimut ketika suara sirine terdengar. Polisi mungkin tengah bermain kucing-anjing dengan perampok subuh hari. Kapan pula Manchester pernah tenang setenang desa-desa di Korea? Kiamat, mungkin.
Ada suara lain yang terdengar, suara dengkuran. Cukup nyaring sampai masuk ke dalam kamar, Baekhyun baru ingat ia membawa pria besar bernama Chanyeol ke dalam apartemen yang ia sewa, yang ia pekerjakan sebagai asisten (sebenarnya, Baekhyun lebih menganggapnya babu) karena sudah menumpahkan anggur pada memo tercinta. Astaga, Baekhyun benar-benar ingin menjajah Manchester saat itu juga.
Jika bukan karena sama-sama perantau dari Korea, Baekhyun mungkin sudah menimbun dendam padanya. Alih-alih mendendam, Baekhyun memilih menjadikannya asisten (babu) yang bisa ia suruh-suruh. Itu bagian positifnya.
Ketika matahari sudah mulai terangkat, Baekhyun menemukan Chanyeol tidur di sofa dengan pose meringkuk. Tapi mulutnya masih setia mendengkur. Kasihan, Baekhyun lupa memberinya selimut.
Baekhyun menatapnya, intens. Si babu barunya ini.
Yang tiba-tiba saja membuka mata seperti orang bangkit dari kubur.
"Aku tidak mau pulang ke Korea!"
Baekhyun reflek menjitak, "Siapa yang mau membawamu pulang ke Korea!" Ia ikut terkejut.
Chanyeol mengelus kepalanya. "Aduh, sakit." Ia mengerjap. "Hm? Di mana ini—oh, Baekhyun, benar."
"Kau masih mengigau?"
"Aku butuh ke kamar mandi sekarang."
"Ereksi pagi, tentu saja."
Pipi Chanyeol memerah. "Maaf, ini memalukan."
Baekhyun mendengus dan pergi ke dapur, Chanyeol beranjak ke arah sebaliknya. Sarapan untuk dua orang, ini pertama kalinya Baekhyun menyiapkan sarapan untuk orang lain. Ia terbiasa hidup sendiri, selama tiga tahun ini, di Manchester. Tanpa sanak saudara, tanpa kenalan. Murni berjuang sendirian, hingga kini.
Berbicara tentang berjuang sendirian, Baekhyun bertemu Jongin bulan lalu. Ia adalah seorang editor dari penerbit ternama yang telah membesarkan nama Aldebaran. Seorang saudara jauh dari negara asal, yang kemudian menjadi satu-satunya orang yang paling sering Baekhyun hubungi.
(Tapi setelah kejadian Jongin mengajaknya ke kelab kemarin, Baekhyun ada rencana untuk memblokir kontaknya.)
Panekuk dengan siraman madu dan susu putih. Terhidang di atas meja makan sederhana. Baekhyun makan lebih dulu, tidak menunggu satu insan lagi yang masih bertapa di dalam kamar mandi. Baru saat itu Chanyeol ke luar dengan mimik lega, Baekhyun langsung tahu alasannya.
"Untukku?" Ia menunjuk piring panekuk. Baekhyun mengangguk, lalu membelah panekuk miliknya. Chanyeol tersenyum, "Terima kasih!"
Baekhyun mengamati bagaimana pria ini membelah panekuk dengan pisau, antara bar-bar atau idiot. Hampir tidak ada unsur elegan, ia kampungan, si Chanyeol ini.
"Maaf, aku masih belum terbiasa menggunakan pisau dan garpu." Ujar Chanyeol seolah tahu sedang diamati.
"Sudah berapa lama kau di Manchester?"
"Baru seminggu."
"Siapa paman-paman buncit yang kemarin memecatmu?"
Chanyeol berdeham, sedikit nyeri mendengarnya. Ia meletakkan pisau. "Dia suami dari Bibi, tapi Bibi meninggal tahun lalu dan ya, sekarang kami hanya keluarga jauh. Padahal, aku dan anak beliau cukup berteman dekat."
"Hm. Cerita yang kompleks."
Tidak ada sahut-menyahut lagi setelahnya, keduanya fokus membelah panekuk dan mengisi perut. Siapa tahu ternyata Chanyeol bisa bersikap kooperatif dengan Baekhyun, yang notabene agak galak dan benci keriuhan. Mungkin lelaki itu sudah terlanjur mengerti dalam satu malam.
"Biar aku saja yang membasuhnya."
Baekhyun lantas menyerahkan piring miliknya. "Terima kasih," lalu berlalu ke kamar mandi. "Anu, kau tidak menyisakan apa pun di dalam kamar mandiku, 'kan?"
"T-tidak! Sama sekali tidak! Aku sudah membersihkannya!"
"Baguslah."
Setelah pintu itu tertutup, Chanyeol dapat bernapas panjang. Agak membuatnya tegang ketika berhadapan dengan Baekhyun. Mental anak desa sepertinya kurang cocok dengan para borjuis Eropa, meski sebenarnya Baekhyun memang berasal dari negeri yang sama, tapi tetap saja ada jarak yang besar antara tingkah laku seorang perantau senior dengan perantau anak ayam.
Jarum detik menyadarkannya. Chanyeol bergegas beranjak menuju wastafel.
.
.
Air itu sangat jernih.
Baekhyun mampu bercermin. Wajah tanpa ekspresi yang kerap kali ia pasang.
"Ini adalah kanal Rochdale. Dua kali aku pergi ke sini, dua kali pula aku mendapatkan ide brilian."
Chanyeol turut menengok ke bawah, ia melihat refleksi wajahnya. Seketika melompat mundur, "Aku melihat diriku."
Baekhyun tidak menanggapi banyak. Para Mancunian* yang lewat di belakang mereka sontak melihat sekilas. Kemungkinan bingung melihat dua orang asing berdiri di tepian jembatan, salah satunya terkejut melihat pantulan dirinya sendiri.
"Kenapa Aldebaran lebih berfokus pada tema dewasa?"
Pertanyaan yang sering sekali Baekhyun temukan. Orang-orang mengajukan atas dasar penasaran, termasuk Chanyeol.
"Kau membaca bukuku tadi malam? Buku yang kulempar padamu."
"Hanya sedikit, sampai empat halaman."
"Kau tahu jika Aldebaran mulai ada ketika aku pindah ke Manchester?"
"Aku ... tidak tahu."
Baekhyun terkekeh. "Kau mungkin akan kaget jika tahu fakta ini, apalagi untuk seseorang yang baru seminggu tinggal di sini."
Chanyeol agak malu mendengarnya.
"Manchester berasal dari kata Mamucium. Menurut bentuk latin dari kata Kelt asli, Mamm—berarti payudara. Teori lainnya mengatakan Mam itu payudara wanita, menurut Gaelik Irlandia. Ditambah dengan ceaster yang berarti 'kota' oleh kata Inggris kuno. Begitu etimologinya."
"Kota Manchester adalah kota yang erotis."
Lagi-lagi Baekhyun terkekeh. "Kau cepat menangkap maksudku."
Chanyeol kembali melihat ke bawah, pada air kanal Rochdale yang tenang. "Kau merasa lebih bisa mengeluarkan semua kegelisahanmu di Manchester, sementang-mentang dia juga merupakan kota yang mendukung tulisanmu."
"Tidak ada yang lebih baik selain Manchester."
Chanyeol tersenyum. "Baiklah, aku dapat!"
"Apa?"
"Ide. Kau membutuhkannya, 'kan?"
Baekhyun menyeringai. "Hanya jika ide milikmu sependapat denganku."
"Aku akan mengatakannya ketika kita sampai di apartemen."
"Kenapa?"
"Aku punya dua ide. Satu untuk Byunearest, satu untuk Aldebaran." Pelupuknya naik-turun malu, "Rasanya kurang nyaman mengatakannya di sini. Aku masih kaku."
"Padahal kau sendiri yang bilang kalau Manchester itu kota yang erotis, harusnya tidak ada masalah mengatakan idemu, seberapa tabu pun itu. Kau pasti sudah sering menemukan pasangan muda-mudi bercumbu di pinggiran trotoar."
"Ya, itu cukup masuk akal. Tapi aku tetap kukuh ingin mengatakannya ketika kita pulang."
Tidak ingin berdebat lebih panjang hanya demi penyampaian ide, toh Chanyeol tetap akan mengatakannya ketika mereka pulang nanti. Baekhyun menghela napas dan kembali menatap air kanal.
"Tempat apa saja yang sudah kau kunjungi?"
Chanyeol menoleh. "Baru Old Trafford, itupun hanya memandanginya dari luar dan ... bar paman."
Baekhyun menggumam. "Mau temani aku ke gedung balai kota?"
"Mau apa kau di sana?"
"Mau apa lagi? Mencari ide tentu saja." Baekhyun menariknya.
Tangan itu menggenggam erat.
.
.
Sayangnya Chanyeol tidak mempunyai kamera yang bisa ia pakai untuk mengabadikan momen atau minimal berswafoto. Pemandangan menakjubkan yang tidak pernah ia temui, menahan laju udara yang masuk ke hidungnya, semuanya habis ketika ia membuka mulut untuk sekadar terpongah menatap bangunan berarsitektur Victoria dan gotik terbaru. Ada sebuah menara jam pada bagian eksteriornya, Chanyeol harus mendongak kuat-kuat demi melihat ke puncak jarum.
Baekhyun memasukkan tangan ke dalam saku mantel, napasnya mulai mengasap. Musim gugur di Eropa sekuat musim dingin negara benua Asia.
"Keren sekali," ucapnya dengan dagu terus mendongak dan mata yang berkilauan. "Sayang sekali aku tidak bisa berfoto, aku tidak punya kamera."
"Ponsel?"
"Sudah kujual."
Malangnya. "Sana berpose, biar aku yang memotretmu."
"Ah, terima kasih!"
Chanyeol segera berlari, membelakangi gedung balai kota dengan gaya dua jari dan senyum terang-benderang. "Kimchi!"
Bayangan Chanyeol dalam layar ponsel tepat berada di tengah-tengah. Tubuhnya hanya setengah, sisanya digunakan untuk memamerkan keindahan gedung. Suara potret terdengar, Chanyeol kembali berlari mendekat. Ia tersenyum melihat hasil foto.
"Tolong simpan dulu. Nanti kalau sudah ada uang, aku beli ponsel terbaru dan meminta foto tadi."
"Ya, kau bisa mengandalkan aku."
Chanyeol menatapnya, cukup lama.
"Apa?"
Lelaki itu tersenyum menampilkan gigi. "Kau ternyata baik juga."
"Terkadang memang aku agak galak."
Mereka melanjutkan perjalanan wisata, hanya Chanyeol yang menganggapnya begitu, sedangkan Baekhyun sudah cukup jengah dan berpikir setidaknya satu atau dua destinasi lagi mereka sudah harus wajib pulang.
Diam-diam ia tidak sabar ingin mendengarkan ide dari Chanyeol.
"Kita ke perpustakaan John Rylands."
"Bagus! Aku suka buku!"
Chanyeol bertepuk tangan.
.
.
Baekhyun tidak pernah menanyakan berapa usia Chanyeol. Selama ia meninggalkan Korea dan hidup seorang diri di Manchester, ia mulai menjadi anti sosial dan tidak terlalu memedulikan orang lain. Misalnya dengan ingin mengetahui seluk-beluk kehidupan seseorang atau informasi tanggal lahirnya. Jongin adalah orang yang paling dekat dengannya untuk saat ini. Pria itu tahu nomor ponsel dan alamatnya.
Meskipun dalam bentuk umumnya harusnya mereka hanyalah seorang kenalan, bukan benar-benar berteman.
Chanyeol memperlakukannya seperti kakak kelas yang gila hormat, Baekhyun tidak begitu. Ia begitu kaku dan sering terbata-bata jika diajak berbicara, layaknya gadis belia yang gugup bertemu idola. Lelaki itu mungkin lebih muda darinya beberapa tahun, melihat tingkah lakunya yang masih belum dewasa.
Tidak pernah Baekhyun sepenasaran ini. Maka dari itu, tidak mau berbasa-basi, ia langsung bertanya.
"Berapa usiamu, Chanyeol?"
Patahlah semua ego yang Baekhyun miliki. Taruhan, Chanyeol baru usia delapan—
"28 tahun. Kenapa?" Sedikit meleset.
Baekhyun masih 26 dan ia membola. "Kau dua tahun lebih tua dariku rupanya."
"Oh, ya? Semua orang juga begitu, mengira aku masih anak kuliahan. Padahal usia begini sudah layak ke jenjang pernikahan."
Tentu Baekhyun terkejut. Memang, ada kalanya Chanyeol bersikap dewasa, tidak banyak. Mungkin hanya Baekhyun yang menganggap dirinya superior.
Mereka duduk di balkon berdua, mengapit dua cangkir teh panas yang mengepul. Tubuh Baekhyun tenggelam dalam balutan selimut sementara Chanyeol dengan dua lapis mantel tebal di tubuh. Itu sajalah yang mereka gunakan sebagai penghangat tubuh, di kala musim gugur menyeruak dan malam di Manchester nampaknya akan berubah lebih kejam.
Suara seruputan renyah. Baekhyun tak perlu menoleh untuk cari tahu darimana suara itu berasal.
Pikirannya mengawang, melambung jauh. Kapan terakhir kali ia mengisi malam berdua dengan seseorang? Seingatnya memonya yang basah tidak pernah mencatat kejadian seperti itu. Jongin? Ia hanya sesekali bertemu Jongin, terkadang urusan pekerjaan, terkadang urusan foya-foya ala-kadarnya. Lelaki itu lebih tahu banyak sisi lain dari Manchester. Pantasnya ia bekerja sebagai pemandu wisata alih-alih seorang editor.
"Apa yang membuatmu bertolak ke Manchester, Baekhyun?"
Ia juga ingin tahu sebab-alasannya. Sewaktu masih sekolah dahulu, Baekhyun sangat mendambakan Eropa dengan segenap hati. Ia ingin menjajahnya, ia ingin memiliki Eropa seorang diri. Terdampar di Manchester bukanlah pilihan pertama. Negara yang tercantum dalam daftar negara yang ingin ia kunjungi paling atas adalah Italia. Demi Romano dan Lovino. Kemudian, Swiss, baru Austria. Siapa yang tahu ternyata jodohnya di Inggris. Manchester pula. Tapi kalau bukan Manchester, Aldebaran hanya seonggok arai-arai dalam kepala.
Katakan saja, Manchesterlah yang menggugah Baekhyun pertama kali untuk menulis tema dewasa. Bagaimana dengan frontalnya ia menyebut nama kelamin wanita dan pria begitu leluasa, menjabarkan situasi panas dalam balutan aksara mewah, yang kemudian mampu membuat para pembacanya payah akibat rangsangan fiksi.
"Takdir, kurasa." Baekhyun hanya memikirkan jawaban yang sederhana. Karena ia sendiri pun tidak tahu kenapa takdir menuntunnya ke Manchester. "Kau sendiri? Kenapa jauh-jauh pergi ke negeri orang?"
"Aku diminta menikah."
"Wah, apa aku akan mendengar cerita kompleks soal perseteruan orang tua dan anak laki-lakinya?"
Tawa Chanyeol terdengar pelan. "Tidak juga. Kami memang berseteru, tapi tidak sedrama itu."
"Oh."
"Kau mau tahu alasannya?"
"Aku tidak tertarik."
Chanyeol merengut. Baekhyun nampak tidak peduli.
"Jadi, begini—"
"Sudah kubilang aku tidak tertarik—"
"Aku gay."
Baekhyun sontak menatapnya, pada lelaki yang kini sedang nikmat menempelkan garis gelas dan menghirup teh.
"Apa kau mulai jijik padaku?" tanya Chanyeol mendahului.
"Tidak."
"Kau gay?"
"Tidak seratus persen."
Chanyeol menggumam. "Begitu. Oh, aku baru ingat. Ini soal ide yang mau kuajukan padamu tadi pagi, hampir saja aku lupa."
"Kanal Rochdale memang mujarab, eh?"
Chanyeol balas tersenyum. "Ini akan cukup panjang."
"Silakan."
Ia memulainya setelah meletakkan cangkir teh di atas lantai balkon.
"Pertama, untuk Byunearest dan cerita-cerita menakjubkan yang pernah ia ciptakan. Suatu dunia alternatif, di mana setiap manusia memiliki waktu yang terbatas untuk dengan siapa mereka bersama. Kebijakan dunia memiliki sistem distopia. Dalam satu hari ada 24 jam, seorang manusia hanya boleh bersama dengan seseorang selama 12 jam saja. Bagaimana mereka memantau setiap orangnya, aku persilakan kau untuk mengeksplornya lebih jauh. Jadi, 12 jam bersama dengan orang lain, 12 jam sendirian. Lama-kelamaan, sistem itu semakin memendek. Hingga waktu untuk bersama orang lain hanya berlaku satu jam saja."
Baekhyun merekam ide itu baik-baik dalam kepalanya. Membayangkan visualnya dalam kepala, jalan ceritanya secara singkat, menakjubkan.
"Lumayan, boleh juga. Aku apresiasi." Sepetilan jempol Baekhyun acung.
"Terima kasih."
"Andai saja ada memoku."
Chanyeol menunduk kembali mengingat kesalahan.
"Chanyeol, lanjutkan."
"Baiklah, kali ini untuk Aldebaran."
"Ya."
Semula jarak antara dua tubuh itu adalah satu pergelangan tangan. Chanyeol mempersingkat, tidak lagi sempurna utuh jarak satu tangan. Dua cangkir teh pun kini berpindah tempat bokongnya. Tenang saja, di udara dingin begini, asap hangatnya masih terlihat begitu jelas mengepul.
"Apa kau pernah menulis tentang percintaan lelaki dengan lelaki?"
Matanya adalah bara api, membuat Baekhyun panas dan melunak. Pelupuk tak kuasa turun-naik, entah terkejut entah malu entah apa. Kalimatnya tersangkut di tenggorokan, masih menggantung. Chanyeol merubah situasi ini dalam keheningan nadir.
"Belum."
Pernyataan Chanyeol selanjutnya adalah sebuah ide. Ide yang membuat Baekhyun merasa panas luar-dalam. Rasanya udara malam musim gugur Manchester tidak ada apa-apanya dengan kicauan burung dalam perutnya.
"Kedua, untuk Aldebaran. Dua lelaki. Mereka bercinta pertama kali di ruangan kontrol stasiun usang yang sudah tidak terpakai. Tidak ada pernikahan, hanya menjalani asmara sampai ajal, sampai liang mereka bersebelahan. Kalimat utama: 'Untuk apa menikah? Level status hubungan berada di atas kertas? Kita menjalani cinta, bukan ikatan. Tanpa pernikahan pun, kita tahu kita membutuhkan satu sama lain untuk hidup. Dari awal, kita memang sudah terikat.' Nama tokohnya, Park Chanyeol dan Byun Baekhyun."
Ide itu segera terbayang, bentuk visualisasinya lebih nyata di banding ide pertama. Kenyataan bahwa nama tokoh yang dilontarkan adalah nama mereka sendiri, membawa Baekhyun pada sebuah fragmen mirip film hitam putih dewasa. Dengan adegan bercinta di dalam ruang kontrol stasiun kereta yang sudah tidak terpakai lagi. Gambarnya sangat jelas; ia direngkuh dan dibuat meronta kala kereta lewat tanpa permisi dengan lampu kuning-kuning terlihat sekilas mata mengerjap.
Stasiun usang yang hanya dijadikan ajang uji nyali para muda-mudi dan kereta lewat, menjadi lokasi yang sempurna untuk sejoli yang bersenggama atas dasar cinta. Tidak harus menikah, sempurna. Tentu itu akan menjadi kunci utama kisah ini. Mereka hanya akan menghabiskan nafsu birahi sampai usia habis. Sempurna, sempurna sekali untuk Aldebaran.
"Bagaimana? Ah, aku cukup malu mengatakan itu sebenarnya."
Baekhyun tersadarkan, pada imajinasi liar yang Chanyeol berikan. "Ya, itu bagus."
"Apa kau bersedia merealisasikannya?"
"Y-ya, kurasa. Ya."
"Dengan begini, aku sudah menjadi asisten yang berguna untukmu."
"Ya."
Baekhyun tidak pernah punya pengalaman menulis percintaan antar lelaki. Baekhyun memang suka lelaki, 70 persen kira-kira, sisanya ia menyukai wanita, hanya suka. Ia menempatkan dirinya sebagai penerima. Seks pun tidak begitu awam, Baekhyun sudah pernah melakukannya tiga sampai empat kali, demi menyalurkan stres belaka. Tidak pernah tertarik menjelajahi liang wanita. Baginya wanita itu terlalu indah, maka ia terlalu takut untuk merusak aset para kaum hawa.
Tapi menulis adegan panas pria dengan wanita bukanlah hal asing. Dalam prosesnya, Baekhyun menempatkan diri sebagai tokoh wanita, ia menjabarkan semua keluh kesahnya, seluruhnya. Segenap-genapnya sensasi yang pernah ia terima ketika dijantani laki-laki lain.
Apa yang akan publik lakukan jika di kemudian hari Aldebaran merilis buku, yang lebih erotis dari sebelumnya, terlebih lagi mengenai dua lelaki yang saling mencintai. Jangan lupa, tidak ada janji pernikahan.
"Baekhyun, kau melamun."
"Ah, maaf."
Hingar-bingar Manchester kembali terdengar.
"Ada satu tempat yang sebenarnya sangat ingin kudatangi."
Baekhyun menoleh, "Apa itu?"
Jawabannya tidak secepat yang Baekhyun kira. Mimiknya berpikir sesaat, apakah boleh mengatakannya atau tidak, kira-kira begitu.
Baekhyun coba menebak. Museum sains dan teknologi Manchester? Atau, Old Trafford? Mengingat Chanyeol hanya pernah menatapnya dari luar.
Chanyeol berdeham. Pipinya merah.
"Aku ingin pergi ke desa gay."
Baekhyun terbelalak.
"Untuk apa ke sana?"
"Untuk apa? Seperti katamu, mencari ide."
Tidak pernah Baekhyun dibuat kepayahan hanya dalam satu malam saja.
.
.
.
Bersambung.
*Orang yang berasal dari Manchester.
a/n: Saya belum pernah ke Manchester, jadi saya hanya mengandalkan pengetahuan seadanya lewat internet. Bagaimana mendeskripsikan Manchester dan sebagainya, saya hanya mengandalkan beberapa artikel di internet. Mohon maaf apabila ada kesalahan.
Kali ini update cepat karena emang idenya ngalir terus kayak air terjun niagara, super lancar. Selanjutnya chapter terakhir, kemungkinan. Selanjutnya agak lama publish-nya, kemungkinan. Selanjutnya ada mild smut-nya, pastinya. Terima kasih sudah membaca sampai sini!
Chapter ini rilis berbarengan dengan penulis lainnya; Azova10 ft. Parkayoung, Kang Seulla, dan Ohlan94
