Play In The Middle Of Snow
Rasa hangat langsung menjalar seluruh tubuhnya begitu cairan hangat nan manis itu melewati tenggorokannya. Dinginnya musim dingin membuatnya semakin malas untuk melakukan aktivitas dan berakhirlah dirinya disini, duduk dijendela sambil memandangi salju yang turun. Meski salju turun tak menghentikan Yuuma merawat kebunnya yang tertutup salju, membuatnya cukup heran pada kakaknya itu. Tapi, mau bagaimana lagi jika cowok tinggi itu menyukai berkebun. Cuaca apa pun pasti tak akan menghentikan dirinya untuk merawat kebun kebanggaannya.
"Ah iya, kalau tak salah ada kejadian itu ya saat salju turun seperti ini," gumamnya dibalik mug hangatnya.
Ia tersenyum lebar jika mengingat hal itu. Kejadian yang sebenarnya sudah lama sekali terjadi, namun terasa baru kemarin terjadinya. Ia menempelkan kepalanya pada jendela, mencoba mengingat kenangan itu.
xxx
Mata birunya berbinar ketika melihat banyaknya salju yang berada dipekarangan panti asuhan tempatnya tinggal. Baru kali ini ia melihat salju yang menumpuk sebanyak itu. Wajar saja karena selama ini ia dikurung dalam rumah dan tak ada waktu untuk bermain layaknya anak kecil biasa. Maka dari itu, ketika melihat salju yang banyak seperti itu kakinya mendadak gatal dan ingin bermain.
"Nee Ruki nii, bolehkah aku bermain diluar?" tanyanya.
"Kenapa tidak? Sejak tadi kau terlihat ingin sekali bermain diluar," jawab Ruki yang perhatiannya masih tetap pada buku yang ia baca.
Yuki semakin girang karena Ruki telah memberi izin. Langsung saja ia mengajak Kou, Yuuma, dan Azusa untuk menemani dirinya bermain diluar. Berbeda dengan Kou dan Azusa yang mengiyakan permintaan dirinya, Yuuma justru tidak mau dan bersikeras untuk tetap didalam, menghangatkan dirinya.
"Yuuma-kun payah," ejeknya, mencoba memancing Yuuma. "Masa hanya segini saja sudah menyerah terhadap dingin? Ah, atau kau memang takut kalah jika aku menantangmu untuk bermain perang salju?"
Wajah Yuuma langsung berubah yang artinya cowok itu telah memakan umpan dari dirinya. "Hah?! Jangan bercanda ya. Aku pasti dengan mudah mengalahkanmu, Yuki."
"Jya, itu artinya kau mau menemaniku bermain diluar kan?"
Seperti tersadar akan tindakannya yang bodoh, Yuuma hanya mengelak dan terpaksa mengiyakan permintaan Yuki. Karena berhasil memancing Yuuma, Yuki langsung berlari mengambil jaket juga syal dikamarnya. Meski angin dingin langsung berhembus ketika ia membuka pintu, tak menghalanginya untuk tetap bermain. Hamparan putih salju langsung penuh dengan jejak kakinya begitu ia melangkah dan mulai berlari kesana kemari. Begitu juga dengan Kou dan Azusa yang sama semangatnya dengan Yuki. Melihat Yuuma yang hanya berdiri didepan pintu membuat Yuki terpaksa menarik lengan cowok itu, menyuruhnya untuk mengikuti dirinya.
"Yu-chan... yuki daruma... tsukurou..." ajak Azusa.
"Yuki daruma?" tanya Yuki polos. "Apa itu?"
Baik Azusa, Kou, dan Yuuma bengong menatap Yuki yang sepertinya memang tidak tahu.
"De, yuki daruma tte nani?" tanya Yuki lagi. "Oshiete yo."
"Kau benar – benar tak tahu apa itu yuki daruma?" Yuuma berbalik tanya. "Benar – benar sama sekali tak tahu?"
Yuki menganggukkan kepalanya. "Memangnya kenapa?"
Tawa langsung meledak dari mulut Kou dan Yuuma. Melihat dirinya ditertawakan seperti itu membuat pipinya mengembung. Kesal karena diperlakukan seperti itu, akhirnya ia berbalik badan dan memutuskan untuk bermain salju sendirian. Yuuma yang melihat itu menghentikan tawanya dan mengambil salju, membentuk bola dengan tangannya. Dengan kepercayaan dirinya yang terbilang cukup tinggi, ia melemparkan bola itu kearah Yuki dan tepat mengenai kepala gadis kecil itu. Ia yang sudah kesal semakin kesal karena dilempari bola salju oleh Yuuma. Oleh karenanya, ia langsung mengambil salju, membentuknya seperti bola, dan membalas lemparan Yuuma.
"Oh... kau berani ya melemparku dengan bola salju?" tanya Yuuma tak terima.
"Kau sendiri yang melempar pertama kali padaku!" seru Yuki tak mau kalah.
"Jadi? Kau bermaksud membalasku?"
"Tentu saja."
"Asyik! Perang salju!" seru Kou girang. "Aku akan masuk kedalam tim Yu-chan."
"Oi, zurui zo, Kou," sahut Yuuma tak terima, yang hanya dibalas oleh juluran lidah Yuki.
Dimulailah perang salju antar Yuki dan Kou melawan Yuuma. Azusa yang tadinya masuk kedalam tim Yuuma mendadak menghilang dan asyik sendiri dengan dunianya sendiri, menyisakan Yuuma yang harus melawan serangan Yuki juga Kou.
Yuki yang baru kali ini bermain salju, merasa sangat bersemangat. Apalagi jika dirinya bisa mengalahkan Yuuma yang tenaganya jauh lebih besar dari dirinya, akan menambah kesenangan hari ini. Tawa lepas keluar dari mulutnya, tak mempedulikan desisan juga berbagai macam sindiran dari anak panti lain. Mereka bertiga terus melanjutkan permainan sampai ada salah satu yang mengaku kalah. Tapi, sepertinya itu tidak perlu karena Yuki sudah mulai merasa lelah duluan. Ia mengistirahatkan kakinya dengan duduk dibawah pohon besar. Uap putih mengepul keluar tiap kali dirinya menghembuskan napasnya. Tangannya pun mulai merasa dingin akibat terus menerus melempar salju dan dirinya yang memang tidak memakai sarung tangan. Matanya tak sengaja menatap Azusa yang sejak tadi menggelindingkan bola salju. Penasaran, ia menghampiri saudaranya itu.
"Apa yang sedang kau buat, Azusa-kun?" tanya Yuki.
"Yuki... daruma..."
"Yuki daruma?" Yuki kembali bertanya. Ia melihat dua tumpukan bola salju besar yang berada disamping Azusa. Cowok itu kemudian mengangkat bola salju lagi yang ukurannya sedikit lebih kecil keatas dua tumpukan bola salju sebelumnya. Kemudian, ia menempelkan dua buah batu, ranting kecil, dan menarik garis seolah itu adalah mulutnya. Mendadak Yuki berseru, membuat Kou dan Yuuma yang masih asyik dengan perang saljunya, menoleh.
"Ada apa, Yu-chan?" tanya Kou pertama kali.
"Aku baru mengerti apa itu yuki daruma," jawab Yuki girang. Ia kemudian menunjuk tumpukan bola salju yang masih dibuat oleh Azusa. "Yuki daruma itu tumpukan bola salju yang mirip boneka, kan?"
Tawa Yuuma meledak. "Hahaha, kemana saja kau selama ini, Yuki?" ejeknya.
"Mou! Jangan menertawaiku!" seru Yuki tak terima. "Wajar saja jika aku tidak tahu. Sebelum kemari kan, aku tak pernah keluar selangkah pun dari rumah. Meski sebenarnya tempat itu tidak bisa disebut dengan rumah."
Raut tak mengerti langsung terbentuk diwajah Kou dan Yuuma. Ketika Kou hendak menanyakan hal itu pada Yuki, ucapannya terpotong oleh Ruki yang memanggil mereka dari jendela.
"Sudah puas bermain kan?" katanya. "Ibu panti menyuruh kalian untuk masuk sebelum jatuh sakit."
Mendengar hal itu membuat Yuki kembali cemberut. Ia tak suka jika sudah disuruh berhenti bermain, apalagi oleh penjaga panti. Namun, mereka terpaksa mematuhinya jika tidak ingin mengalami hari yang buruk. Begitu masuk kedalam gedung dan bergabung kembali dengan Ruki, saudaranya yang dianggap sebagai yang paling tua memberikan mereka berempat secangkir cokelat hangat. Wajah masam Yuki langsung hilang seketika begitu meminum minuman manis itu.
"Setelah bermain salju seharian lalu meminum cokelat hangat itu seperti berada disurga," ujar Yuki.
"Yang namanya surga itu tidak pernah ada," celetuk Yuuma.
Karena perkataan Yuuma barusan, suasana diantara mereka berlima mendadak hening. Tak ada satu pun yang mau membuka mulutnya hanya sekadar menanggapi atau pun mengalihkan pembicaraan. Bahkan Kou pun yang biasanya menjadi moodmaker, diam membisu mendengar ucapan Yuuma. Melihat keempat saudaranya yang diam seperti itu membuat Yuki menghela napas. Ia paling tak suka melihat saudaranya itu terpuruk hanya karena masalah masa lalu mereka. Bukan berarti dirinya menyukai masa lalunya. Meski samar – samar, ia ingat dirinya sebelum berada dipanti asuhan ini.
"Nee nee Azusa-kun, besok bisa ajari aku membuat yuki daruma?" Yuki membuka suaranya, memecahkan keheningan. "Aku ingin membuat sebesar panti ini."
Yuuma mengibaskan tangannya. "Itu tidak mungkin," sahutnya. "Kau kira membutuhkan berapa banyak salju untuk me-"
"Kelihatannya menarik," sela Kou bersemangat. "Aku akan membantumu Yu-chan."
"Oi!" protes Yuuma. "Dengarkan aku du-"
"Ruki nii juga mau ikut?" tawar Yuki, mengabaikan protes Yuuma. "Daripada membaca buku seharian. Kan membosankan."
Ruki hanya tersenyum dibalik mugnya, tak memberikan jawaban langsung yang membuat Yuki menggembungkan pipinya. Tapi sebenarnya, tanpa diajak pun Yuki pasti tahu jawaban Ruki adalah tidak. Ia heran, mengapa saudaranya itu betah sekali berada didalam ruangan seharian, menghabiskan hampir sebagian waktunya untuk membaca buku yang dirinya bahkan tidak mengerti maksudnya.
Namun sayang, hari esok yang ditunggu sepertinya harus menunggu lebih lama lagi. Mungkin karena terlalu lama bermain saljut kemarin membuat Yuki akhirnya jatuh sakit. Suhu tubuhnya sangat panas hingga 40 derajat. Karena sangat tinggi membuat kesadarannya hampir pergi kemana. Bergerak saja sudah membuat kepalanya pusing dan mual. Akhirnya, rencananya untuk membuat boneka salju terpaksa dihentikan.
Kou yang sejak pagi tadi menemani Yuki semakin khawatir melihat kondisi Yuki yang kelihatannya semakin parah. Napasnya terengah – engah dan keringatnya banyak sekali, seperti habis melakukan lari marathon. Ia juga terlihat sangat kesakitan karena sejak tadi mengerang tak jelas.
"Tenang saja Kou," ujar Ruki menenangkan. "Yuki pasti akan kembali sehat. Kau tau sendiri bahwa Yuki bukanlah gadis yang lemah."
"Tapi, bagaimana jika Yu-chan tak akan pernah sembuh?" tanya Kou takut.
"Itu tak mungkin," tukas Yuuma yang masuk dengan sebuah baskom kecil. Ia meletakkan baskom itu diatas meja, mengganti lap basah yang sejak tadi bertengger diatas dahi Yuki. Ia bisa merasakan panasnya suhu tubuh Yuki saat itu hingga ia yakin tangannya akan terbakar jika terlalu lama menyentuhnya.
"Seandainya... ada obat... yang... langsung bisa... menghilangkan... panas Yu-chan," ujar Azusa berkhayal. "Pasti... Yu-chan tak akan... kesakitan... seperti... ini..."
"Itu jelas tidak mungkin, Azusa," tukas Yuuma.
"Kita masih harus bersyukur karena Yu-chan bisa mendapatkan perawatan dari dokter," sahut Ruki. "Jika tidak, mungkin sudah kucabik – cabik ibu penjaga panti ini."
Mendengar ucapan Ruki barusan membuat ketiga cowok itu langsung terdiam. Karena biasanya Ruki tak akan pernah berkata seperti itu jika sudah kesal ataupun membuatnya marah. Maka dari itu, mereka semua tak pernah ada yang berani menentang Ruki. Tidak pernah ada yang tahu apa yang akan Ruki lakukan jika sampai membuat cowok tenang itu marah.
"Sepertinya sudah waktunya kita berkumpul untuk makan siang," ucap Ruki memecah keheningan. "Kita harus pergi sebelum terkena omelan panjang lebar."
"Kalian pergi saja duluan," ujar Yuuma. "Aku akan menyusul kalian nanti."
Mereka bertiga mengangguk mengerti, meski sebenarnya Kou tak ingin pergi jauh – jauh dari sisi Yuki. Jika saja tak ada peraturan aneh yang diterapkan oleh panti ini, ia pasti sudah duduk manis disisi tempat tidur Yuki.
Yuuma kembali menatap Yuki yang masih berbaring tak berdaya dikasurnya, mengerang kesakitan. Ia merasa kesal karena tak bisa melakukan apa – apa selain mengganti lap dan mengamati Yuki. Tangan kanannya terulur, membawa tangan Yuki menuju wajahnya. Ia tak peduli dengan suhu tubuh gadis itu yang panas. Ia hanya ingin merasakan tangan gadis itu, seolah berusaha membuat gadis itu merasa nyaman dan tenang.
"Kau harus sembuh, Yuki," gumam Yuuma. "Kau masih ingin bermain perang salju, kan? Kau juga ingin membuat yuki daruma sebesar panti ini, kan?"
Tak ada jawaban.
"Jika memang iya, berjuanglah. Aku akan menunggumu sehat kembali sehingga kita bisa bermain lagi."
Setelahnya, Yuuma beranjak dari tempatnya dan pergi menyusul anak panti lain untuk mendapatkan jatah makan siang. Ketika pintu sudah tertutup sepenuhnya, kelopak mata Yuki terbuka sedikit. Ia mencoba bangun untuk duduk. Namun, rasa pusing dan mual langsung menyerangnya hingga membuatnya kembali tertidur. Ia ingin menangis karena merasa dirinya sangat lemah hingga membuat keempat saudaranya khawatir. Hanya saja, ia tak ingin memperlihatkan sosok lemahnya lebih dari ini pada yang lain sehingga ia mengucek kasar kedua matanya, menghapus air matanya yang terlanjur keluar.
"Arigatou... Yuuma-kun..."
Entah ini sebuah keajaiban atau memang hanya halusinasi sesaat, Yuuma terbengong melihat Yuki yang sedang asyik menggelindingkan bola salju sendirian keesokkan paginya. Serasa ditampar oleh sesuatu, ia berlari menuruni tangga dan keluar untuk menghampiri gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Suara dobrakan pintu yang keras pun tak membuat Yuki terlompat kaget. Gadis itu justru terlihat santai dan semakin senang ketika melihat Yuuma.
"Ohayou, Yuuma-kun."
"Ohayou jyanee," tukas Yuuma. "Kenapa kau bermain salju pagi – pagi begini?! Kau ingin kembali sakit, hah?!"
"Tentu saja tidak. Aku sudah muak untuk minum obat pahit itu dan tidur seharian," jawab Yuki polos.
"Lalu kenapa kau keluar bodoh?!"
"Karena sakitku sudah hilang," ujar Yuki percaya diri. Mendengar pernyataannya yang terdengar mustahil membuat emosi Yuuma semakin memuncak. Sebelum ia mendengar ocehan panjang lebar Yuuma, Yuki mengenggam tangan cowok itu, membawanya untuk menyentuh keningnya. Ia bisa merasakan kalau cowok itu mendadak menegang, karena raut wajahnya langsung berubah. "Lihat, aku sudah sembuh, kan?"
"Kenapa... bisa?"
"Tentu saja bisa," jawab Yuki bangga. "Karena seseorang menyuruhku untuk berjuang agar bisa bermain salju lagi dengannya."
Senyum Yuki semakin melebar ketika melihat semburat merah dipipi Yuuma. Ia tak langsung melepaskan tangan Yuuma dan justru membawa tangan itu menuju pipinya. Mata Yuki terpejam, seolah ingin merasakan hangat dan besarnya tangan saudaranya itu. "Ternyata tangan Yuuma-kun memang hangat. Aku suka."
Tak sempat mengucapkan sesuatu, seruan Kou mengalihkan perhatian keduanya yang disusul dengan Ruki juga Azusa dibelakang. Sebenarnya ia masih ingin bermain, tapi kelihatannya itu tidak mungkin karena tatapan Ruki sungguh menusuk dan menyuruhnya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Namun, ia sama sekali tak ada niatan untuk memberitahukannya pada saudara – saudaranya. Ia akan membiarkan kesembuhannya yang mendadak ini sebagai rahasia. Toh, pada akhirnya meraka akan melupakan dengan sendirinya jika ia kembali membuat ulah atau hal – hal yang menarik perhatian mereka berempat.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Yuuma heran. "Hentikan itu. Kau membuatku merinding."
Yuki hanya terkekeh pelan. "Itu karena aku menyukai kalian semua."
"Aku juga menyukaimu, Yu-chan," sambung Kou yang langsung memeluk Yuki.
"Aku... juga..." sahut Azusa.
Senyum Yuki semakin melebar dan ia mengeratkan tangannya yang sejak tadi berada didalam genggaman Yuuma. Ia sungguh bersyukur bisa datang kepanti asuhan ini dan bertemu dengan mereka berempat.
"Daisuki da yo, minna."
xxx
Sambil menggumamkan sesuatu, Yuki mulai menggelindingkan bola salju miliknya. Mengingat masa lalunya ketika masih berada dipanti asuhan, ia memutuskan untuk membuat boneka salju.
"Jangan katakan padaku, kau bermaksud ingin membuat yuki daruma," ujar Yuuma tiba – tiba yang melihat Yuki.
"Yah, selama aku tidak mengganggu pekerjaanmu, kau bisa mengejekku sesuka hatimu."
"Ada apa?" tanya Kou penasaran dari balik jendela. "Apa yang sedang kau lakukan, Yu-chan?"
"Membuat yuki daruma," jawab Yuki singkat. "Aku ingin membuat sebesar mansion ini."
Kou tertawa pelan. "Kurasa itu mustahil, Yu-chan," ujarnya. "Kau tahu sendiri jika salju yang ada dihalaman ini belum banyak."
Yuki tak menggubris ucapan Kou. Ia masih serius menggelindingkan bola saljunya dengan hati – hati. "Karena dulu belum sempat membuat yuki daruma, aku ingin membuatnya. Kali ini pasti bisa membuat yuki daruma yang besar."
"Yu-chan... aku... ingin... membantumu..."
Melihat wajah Azusa yang tiba – tiba berada disampingnya, membuatnya menjerit pelan hingga akhirnya terjatuh. Suara tawa langsung terdengar dan pelakunya tentu berasal dari Yuuma juga Kou. Tak terima dengan ledekan itu, Yuki mengambil salju, membentuknya seperti bola kecil, dan melemparnya kearah Yuuma yang beruntungnya tepat mengenai wajah cowok itu. Kali ini giliran Yuki yang tertawa melihat wajah Yuuma yang penuh dengan salju.
"Kau menantangku, hah?!"
"Oh... sepertinya aku telah membangunkan beruang pemarah," ejek Yuki yang bersiap – siap untuk melancarkan kembali serangannya.
Aksi lempar melempar pun terjadi, membuat Kou menghela napas panjang. "Kalau begini caranya, yuki darumanya tak akan jadi loh Yu-chan."
Tak menggubris, Yuki dan Yuuma masih asyik bermain perang salju.
"Mereka berdua... selalu... seperti itu ya..." ujar Azusa. "Aku... senang... sekaligus... iri..."
"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, Azusa-kun," sambung Kou setuju. "Tapi, itu yang membuat mansion ini tetap hidup dan tidak membosankan. Kau juga setuju kan, Ruki-kun?"
Ruki hanya menatap Kou dari balik bukunya. Ia tak menjawab, tapi Kou sudah tahu pasti apa yang ada didalam pikiran cowok pembawaan tenang itu. Ruki kemudian menutup bukunya dan beranjak untuk pergi.
"Eh? Kau mau kemana, Ruki-kun?" tanya Kou.
"Membuat minuman hangat," jawab Ruki singkat.
"Eh?! Untuk Yu-chan dan Yuuma-kun?" tanya Kou lagi tak percaya.
"Hanya untuk Yuki. Akan merepotkan jika ia kembali sakit hanya karena bermain perang salju."
Kou hanya mengangguk – anggukkan kepalanya, mengerti maksud Ruki. Ia kemudian mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela, melihat permainan perang salju antara Yuuma melawan Yuki dan Azusa, yang entah sejak kapan cowok itu memutuskan untuk ikut bergabung.
Yuki daruma tsukurou : Ayo buat yuki daruma
De, yuki daruma tte nani : Jadi, apa itu yuki daruma
Oshiete yo : Beritahu aku
Zurui zo : Curang
Ohayou jyanee : Bukan selamat pagi
