Unnecessary Fears

Kedua tangannya terangkat keatas, seolah ingin melepaskan lelah yang menyerang tubuhnya tiba – tiba. Ia ingin sekali beristirahat seharian, namun karena suatu hal ia terpaksa mengurungkan niatnya itu. Ia menarik napas dalam – dalam dan mengeluarkannya pelan, menenangkan dirinya sendiri. Kemudian, ia pasang earphone miliknya dan memasang wajah tak bersalah untuk bertemu dengan mereka yang saat ini ia yakini sedang melakukan hal – hal yang tak biasa.

"Konnichiwa~" serunya ketika sampai ditempat tujuannya. Ia menunggu beberapa menit diluar, namun tak ada balasan dari orang dalam. Pintu ganda yang besar itu terdorong sedikit ketika dirinya mencoba untuk masuk. Akhirnya ia nekat masuk kedalam, kewilayah yang seharusnya tak boleh ia masuki saat ini. Tapi, karena ini perintah dari seseorang (tambahan, ia sendiri juga penasaran) ia masuk begitu saja.

Dikoridor lantai dua, ia melihat Yui yang berwajah murung sambil membawa sesuatu ditangannya. Jika ia mencoba menghirup aromanya, yang dibawa oleh gadis berambut pirang itu adalah takoyaki. Yui segera menyadari kehadiran Yuki yang berjalan kearahnya.

"Ah, Yuki-chan," ucap gadis cantik itu. "Sedang apa kau disini?"

"Berkunjung?" Yuki berbalik tanya. "Ada apa? Kau seperti habis ditolak habis – habisan oleh cowok yang kau suka."

"Ah... aku membuat takoyaki untuk Ayato-kun, tapi dia menolak memakannya," jawab Yui. "Aneh sekali. Biasanya ia tidak pernah menolak memakan takoyaki."

Yuki hanya bergumam. Baru saja ia ingin mengatakan sesuatu, sebuah suara menarik perhatian keduanya. Tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri, Reiji terlihat sedang berjalan. Bisa terlihat dari raut wajah Yui yang langsung kebingungan melihat cara berjalan Reiji yang agak aneh. Yuki sendiri segera menutup mulutnya, guna menahan tawanya yang mungkin saja akan keluar tanpa bisa ia hentikan.

"Oh... kalian berdua ternyata," ujar Reiji yang menyadari mereka berdua. "Ada apa? Entah kenapa kau terlihat tidak senang?"

"Ayato-kun menolak memakan takoyaki yang kubuat," jawab Yui. "Anu, Reiji-san kenapa cara berjalanmu seperti itu?"

"Cara berjalanku biasa saja. Tak ada hal yang aneh."

Yuki terkekeh pelan. "Orang lain tak akan melihatnya biasa jika cara berjalanmu seperti robot, Reiji-san."

"Kau tidak perlu mengguruiku Yuki-san," tukas Reiji. "Aku tidak boleh kalah hanya karena diganggu oleh kalian berdua. Jika tidak keberatan, aku harus pergi. Masih ada hal yang harus kukerjakan dibandingkan menemani obrolan tak penting dengan kalian berdua."

Setelah berkata seperti itu, Reiji menuruni tangga yang berada didepannya. Kekehan Yuki semakin terdengar tatkala Reiji mulai menuruni tangga. Yui yang mendengarnya hanya menyikut gadis itu, menyuruhnya berhenti jika tak ingin mengalami sesuatu yang buruk. Karena tak ada hal yang harus dilakukan, Yui mengajak Yuki kedapur untuk memakan takoyaki yang ia buat. Dengan senang hati ia menerima ajakan gadis berambut pirang itu, karena kebetulan ia memang sedikit lapar.

Ketika sampai didapur, ia mendengar suara seseorang yang sepertinya sedang mengeluhkan sesuatu. Dan benar saja, Kanato sedang berdiri didepan kulkas, mengambil dan meminum botol susu yang ada disana satu per satu.

"Apa yang sedang kau lakukan Kanato-kun?" tanya Yui penasaran, melihat cowok berambut ungu itu memaksakan diri meminum sebotol susu.

"Oh, ternyata kau, Yui-san. Apa yang kulakukan itu bukan urusanmu. Kau sendiri sedang apa? Dan kenapa ada Mukami disini?"

Yuki yang merasa dirinya disebut hanya melambaikan tangannya pada Kanato.

"Aku sedang mengajak Yuki-chan untuk memakan takoyaki yang kubuat. Tadinya ini untuk Ayato-kun, tapi ia menolak untuk memakannya," jelas Yui. "Kanato-kun, apa susu yang ada dikulkas semua milikmu?"

"Tentu saja ini milikku, memangnya kenapa?"

Tanpa mempedulikan perkataan Yui, Kanato terus meminum botol susu yang jelas sangat dibenci oleh cowok itu. Yuki hanya memalingkan kepalanya, berusaha menahan tawa yang sejak tadi ia tahan. Suara pintu terbuka mengalihkan Yui dan sosok Raito segera muncul dari balik pintu. Ocehan tak jelas langsung keluar dari mulut Raito yang disambut wajah bingung Yui. Samar – samar Yuki bisa mencium aroma cuka dari cowok genit itu. Alisnya bertaut, bertanya – tanya apakah cowok itu...

"Raito-kun, ada yang ingin kutanyakan padamu," ucap Yuki, menyela pembicaraan antara Yui dan Raito. "Aku mencium aroma cuka darimu. Mungkinkah..."

Raito tersenyum lebar pada Yuki. Ia mengeluarkan botol bening yang ia yakini sebagai cuka. "Kenapa kau bisa tahu hal itu, Yuki-chan?"

"Eh? Raito-kun kau meminum cuka?" tanya Yui tak percaya.

"Tentu saja," jawab Raito. Ia kemudian membuka tutup botol bening itu dan meminum semua isinya sekaligus. Yuki yang melihatnya mendadak merasa mual. "Meski tak suka, aku harus bertahan. Jika tidak aku tidak akan menang dan image diriku bisa hancur," sambung Raito.

"Kenapa kau meminum cuka, Raito-kun?" tanya Yui.

"Kau ingin tahu, Bitch-chan? Apa kau mulai tertarik padaku, makanya kau bertanya hal macam itu?" Raito balik bertanya. "Aku tidak keberatan memberitahukannya padamu."

Raito berjalan mendekat kearah Yui. Meski dirinya berjarak cukup jauh dari gadis itu dan Raito, Yuki masih bisa mencium bau tajam dari aroma Raito yang sudah bercampur dengan aroma cuka. Karena tak tahan dengan aromanya, Yuki memilih kabur. Dirasa sudah hilang aroma menjijikan itu, Yuki memelankan langkahnya. Samar – samar ia mendengar suara musik klasik. Dirumah ini siapa lagi jika bukan orang itu yang mendengarkan musik macam ini. Ia kemudian menginjakan kaki kedalam ruangan yang ia yakini sebagai ruang tunggu. Matanya menangkap sosok Shu yang sedang berbaring diatas sofa, memejamkan matanya seolah sedang berkonsentrasi pada musik yang ia dengar.

"Jangan mengangguku. Aku sedang sangat kesal saat ini," ujar Shuu kesal.

Yuki menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti kok. Terdengar juga dari nada suaramu."

Tak lama kemudian, suara dobrakan pintu terdengar menambah kekesalan yang dimiliki Shuu. Yuki menoleh kebelakang dan melihat Yui yang mengatur napasnya karena habis berlari.

"Setelah Mukami datang, kali ini kau yang datang?" tukas Shuu kesal. "Mau berapa banyak kalian mengangguku untuk berkonsentrasi pada musik yang tengah kudengar saat ini?"

"Maaf Shuu-san, aku tidak bermaksud untuk menganggumu," ujar Yui menyesal.

"Kalau kau memang merasa menyesal, cepat pergi dari sini. Dan bawa Mukami itu juga bersamamu."

Yui mengangguk mengerti dan segera mengajak Yuki yang saat ini tengah tersenyum geli. Kelihatannya ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan saat ini. Oleh karena itu, ia segera pamit dan pulang. Yui hanya mengiyakan meski sebenarnya gadis itu kebingungan dengan sikapnya yang tidak biasa. Ia tidak peduli, yang penting ia sudah mendapatkan apa yang diperintahkan padanya.

"Tadaima~" serunya senang ketika ia sampai dimansion tempat dirinya tinggal. Ia segera pergi keruang keluarga, tempat biasanya saudaranya berkumpul ketika disaat seperti ini. Benar dugaannya, mereka sedang menikmati kue, makanan kecil, juga teh sambil berbincang – bincang mengenai banyak hal.

"Ah, okaeri Yu-chan," sahut Kou yang melihat Yuki.

"Okaeri... Yu-chan..."

"Un, tadaima minna," ujar Yuki. Ia langsung berlari kearah meja dan matanya berbinar seketika melihat apa yang dihidangkan diatas meja itu. "Huwah... ada pai apel. Beruntung aku langsung pulang kemari."

Ia menuju Ruki yang duduk disofa yang tak jauh dari dirinya dan memeluk kakaknya itu dari belakang. "Aku sayang sekali dengan Ruki nii."

"Aku akan memberimu potongan besar jika informasi yang kau bawa sangat berguna untuk kami," janji Ruki.

Langsung saja Yuki mengoceh mengenai keadaan Sakamaki bersaudara saat ini. Apa yang ia lihat, ia rasakan, dan ia dengar, ia beritahukan semuanya pada saudaranya itu. Yang lain mendengarkannya dengan seksama, terumata Ruki yang memang menyuruh dirinya untuk melakukan hal itu pada awalnya. Usai melaporkan hasil pengintaian Yuki, Ruki memotong pai apel ukuran besar untuk Yuki. Tak lupa juga menuangkan secangkir teh sebagai teman makannya.

"Sudah kuduga mereka pasti sedang ribut karena hal ini," ujar Ruki sembari menyesap tehnya kembali. "Ah, Russian Tea ini memang yang terbaik."

"Ya... terlebih lagi... pai apel ini... jika diberikan... banyak selai... akan menjadi... lebih enak... dan aku suka..." sambung Azusa.

"Tentu saja," sahut Kou. "Mereka itu mudah sekali ditebak jika sudah urusang hal ini."

"Benar," Yuki mengiyakan pendapat Kou. Ia terkekeh pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Perutku sakit jika melihat tingkah mereka yang tidak biasa."

"Oi, Yuki. Kenapa kau memakan kue kering terakhir?" protes Yuuma. "Padahal piringmu masih penuh dengan pai apel."

Yuki menjulurkan lidahnya. "Siapa yang cepat, ia yang dapat."

"Harusnya kau membagi dua ketika seseorang juga menginginkannya."

"Aku yang harusnya berkata begitu," tukas Yuki. "Aku kan baru saja pulang dari misi penting."

"Misi penting apa? Hanya memata – matai mereka, aku juga bisa," tukas Yuuma tak mau kalah.

"Terserah. Lagipula, apa tidak apa – apa tuh kalau Yuuma-kun terlalu banyak makan?" tanya Yuki curiga. "Kalau tidak banyak berolahraga, tubuhmu bisa melebar kesamping loh."

Yuuma mendecak kesal. "Jangan remehkan aku. Setiap pagi aku bekerja dikebun dan setiap gula atau makanan yang kumakan akan langsung terbakar. Jangan samakan aku dengan mereka yang tak pernah bekerja!"

Yuki bergumam pelan. "Mungkin juga ya. Kou-kun pun juga pasti tetap terjaga karena hampir setiap hari latihan menari untuk pekerjaan sampingannya."

"Yap!" sahut Kou bangga. "Begini – begini aku cukup serius melakukan pekerjaanku sebagai idol. Ah iya, bagaimana denganmu Azusa-kun?"

Azusa yang tengah melahap pai apelnya menoleh pada Kou juga Yuki. Ia mengangguk pelan, menandakan semua akan baik – baik saja. "Meski terlihat... seperti ini, aku punya... kekuatan," ucapnya. Kemudian ia mengacungkan garpunya. Detik kemudian, garpu itu membengkok dengan sendirinya, memberikan rasa takjub pada yang lainnya, terutama pada Yuuma.

"Kau baru saja membengkokkan garpu itu," seru Yuuma tak percaya. "Tunggu dulu. Bukankah itu kemampuan indera keenam?"

Azusa menggelengkan kepalanya. "Ini bukan... kekuatan macam itu. Ini... kekuatanku sendiri. Aku berbicara... setiap hari dengan... Justin dan yang lainnya. Mereka membantuku... untuk meningkatkan... kekuatanku," jelasnya.

"Bahkan luka pun bisa membuatmu dalam kondisi sebagus itu," tandas Ruki. "Kau bisa tumbang jika membuat luka terlalu banyak."

"Kau sendiri bagaimana Ruki?" tanya Yuuma penasaran.

"Aku? Menurutmu siapa yang kau tanyakan?" ujar Ruki bangga. "Meski tidak olahraga atau menggerakan badanku, aku tetap menjaga otak dan pikiranku dalam kondisi paling prima."

Yuki menganggukkan kepalanya setuju. "Karena Ruki nii selalu menggunakan pikirannya, yang memang membutuhkan banyak energi, pastilah akan baik – baik saja," ujarnya. Ia memasukkan satu suapan pai apel terakhirnya dan mengunyahnya dengan cepat. "Lagipula kenapa Karl Heinz mau melakukan hal merepotkan itu? Aku tidak pernah mengerti pemikiran orang tua itu."

Sebuah jitakan pelan mendarat dikepalanya. "Aw! Kenapa kau memukulku Yuuma-kun?!" protes Yuki.

"Jangan sebut Karl Heinz-sama seperti itu," seru Yuuma. "Kau tau sendiri siapa dia untuk kita."

Yuki mengembungkan pipinya kesal. Ia tahu hal itu. Tapi, ia tetap tak pernah mengerti jalan pikiran ayah dari Sakamaki bersaudara itu. Bagaimana tidak, ayah dari enam bersaudara itu menyuruh anak – anaknya untuk membersihkan kamarnya yang sudah lama tak ditinggali selama bertahun – tahun lamanya. Ia sama sekali tak bisa membayangkan sebuah kamar yang sudah tak dihuni lamanya harus dibersihkan. Apalagi Karl Heinz adalah seorang vampire yang telah hidup selama beratus tahun lamanya. Entah ada benda aneh apa yang tersimpan dalam kamar itu. Terlebih lagi, acara bersih – bersih itu dijadikan ajang lomba antara Sakamaki melawan Mukami.

"Jadi... tujuan utamanya... tidak hanya sekedar... membersihkan kamar Karl Heinz-sama?" tanya Azusa.

Ruki menganggukkan kepalanya.

"Pasti karena itu kan?" sahut Yuuma. "Mereka tidak pernah berolahraga yang cukup, makanya Karl Heinz-sama memakai cara ini. Yah, kuakui mereka memang kumpulan orang – orang malas."

"Benarkah?" pekik Kou dan Yuki berbarengan. "Mungkin saja ia memang ingin kamarnya bersih dan meminta tolong pada anak – anaknya."

"Jika hanya membersihkan seperti itu, Karl Heinz-sama bisa menyuruh tsukaima-nya. Tapi, ia justru memilih mereka untuk membersihkannya. Tak ada alasan lain selain hal itu."

"Sudah kuduga... harta karun Karl Heinz-sama adalah... anak – anaknya sendiri... padahal kita... juga berada disini..."

Ruki hanya menghela napas sambil menyesap tehnya. "Yah, pada akhirnya mereka memang mempunyai ikatan yang lebih kuat dibanding kita," ujarnya. "Tapi, biarlah semua ini berlalu dengan sendirinya. Kita hanya perlu menunggu sampai hari itu datang. Sampai saat itu, kita nikmati teh ini. Hanya berlima saja."

Yang lainnya mengangguk setuju akan ucapan Ruki. Melihat suasana yang kembali serius, Yuki menghela napas. Ia harus mencairkan kondisi ini agar saudaranya tidak terlalu memikirkan hal yang dikatakan oleh Ruki mengenai ikatan batin antar ayah dan anak.

"Nee Ruki nii, boleh aku minta sepotong pai apel lagi?" tanya Yuki.

"Kau masih berniat untuk makan?" tanya Yuuma tak percaya.

Kou terkekeh pelan. "Yu-chan memang sanggup membuat suasana menghangat ya."

xxx

Akhirnya waktu yang telah ditentukan pun datang. Ketika dua limosin sampai ditempat yang akan menjadi penentuan pemenang dalam lomba membersihkan kamar Karl Heinz, semuanya terdiam. Bahkan Yuki yang memang sejak awal mengetahui rencana pemuda tak jelas yang telah menyelamatkan dirinya juga saudaranya melongo melihat sebuah mansion besar yang ada dihadapannya.

Ini sih sudah bukan kamar lagi, melainkan satu mansion harus dibersihkan juga! Batin Yuki.

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan," Yui angkat bicara. "Bukankah ini artinya kita melakukan tes fisik, bukan tes mental."

Ucapan Yui seolah menyadarkan Sakamaki bersaudara. Detik kemudian mereka sama – sama berseru, mengeluh karena melakukan hal – hal tak biasa yang membuat mereka layaknya orang bodoh. Seperti Ayato yang menahan diri untuk tidak memakan takoyaki sampai hari ini, Kanato yang terus menerus meminum susu hingga wajah cowok itu terlihat makin pucat dibandingkan biasanya, atau seperti Subaru yang berusaha melakukan hal yang mungkin orang lain akan menganggap dirinya tidak waras. Yang lebih parah mungkin Raito. Karena wajah cowok bertopi itu hampir menyerupai manusia yang nyawanya akan dicabut oleh dewa kematian, begitu lesu dan tak bersemangat akibat cuka yang ia konsumsi akhir – akhir ini.

Yuki segera memalingkan wajahnya, menyembunyikan dirinya yang sedang menahan tawa karena kebodohan Sakamaki bersaudara itu sendiri. Ia sama sekali tak percaya mereka akan melakukan banyak hal diluar logis hanya karena tak ingin kalah dari saudara – saudaranya. Tapi, tetap saja ia sama sekali tak percaya dengan apa yang disuguhkan saat ini. Mansion besar yang ia yakini lebih luas dibandingkan dengan mansion Sakamaki bersaudara, harus dibersihkan oleh mereka semua, tak terkecuali dirinya karena ia termasuk Mukami. Ia menghela napas panjang.

"Ini akan menjadi hari yang panjang," gumamnya.

"Ano," ujar Yui angkat suara lagi. "Jika memang kalian tidak ingin melakukannya, bagaimana jika kalian izinkan aku yang melakukannya?"

Usulan Yui membuat semua orang menoleh padanya, temasuk dirinya.

"Hah?! Apa kau sedang melamun, chichinashi?!" seru Ayato.

"Huwah... Emuneko-chan memang do-M," sindir Kou.

"Bitch-chan, sepertinya kau memang anak yang baik," sambung Raito.

"Oi, apa kau tau seberapa besar mansion dihadapan kita ini?!" tanya Subaru. "Bisa berhari – hari kalau kau membersihkannya sendirian."

"Apa kau meremehkan kami?" tanya Kanato, kesal. "Aku paling benci dengan orang macam dirimu, Yui-san."

"Kita tak punya pilihan lain selain membersihkannya bersama – sama," Reiji akhirnya angkat bicara setelah terdiam cukup lama.

"Kusso!" decak Subaru. "Jika tak ada pilihan lain, aku akan menghancurkan semuanya. Entah apa itu yang ada didalam mansion ini."

"Wah... sepertinya akan ada yang bersenang – senang setelah ini," ujar Raito.

"Benar. Itu dia," sahut Ayato. "Kita tunjukan pada oyaji kalau kita juga bisa melakukan hal mudah seperti ini."

"Rasanya akan terjadi sesuatu yang besar," gumam Yuki, melihat Sakamaki bersaudara yang mendadak menjadi semangat setelah mendengar usulan Subaru. "Aku tak pernah berhenti berpikir kalau mereka benar – benar bodoh."

"Yu-chan juga berpikiran seperti itu?" tanya Kou, yang dijawab anggukan oleh Yuki.

"Apa kau akan membantu mereka, Yuki, Kou?" Ruki bertanya.

Baik Yuki dan Kou menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau Karl Heinz-sama marah padaku," sahut Kou.

"Bolehkah... jika aku...mengintip... mereka?" tanya Azusa.

"Apa maksudmu dengan mengintip mereka?" Yuuma berbalik tanya.

Yuki tak mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan oleh saudaranya maupun rencana yang akan Sakamaki bersaudara lakukan. Ia berjalan mundur beberapa langkah dari saudaranya untuk mendengarkan suara yang sejak tadi mengajaknya untuk berbicara. Senyuman jelas tergambar diwajahnya ketika suara itu mengatakan sesuatu padanya.

"Kau memang punya anak – anak yang menarik, hingga aku tak tahu harus berkata apa... Eh?! Itu tidak mungkin aku tertarik pada mereka... Hahaha, mungkin kau benar... Mereka memang pantas dihukum karena telah meremehkan ayahnya sendiri..."


Author : Ukh, maaf sekali kalau cerita sampingan ini sama sekali tak bermutu TwT. Habisnya diri ini sudah tak ada ide untuk membuat cerita sampingan. Selain itu juga, cerita sampingan ini dibuat berdasarkan Drama CD tokutennya. Makanya, mina san jangan heran jika alur ceritanya pernah dengar disuatu tempat. Bukan berarti ini plagiat atau semacamnya loh. Hanya dibuat ulang menurut sudut pandang OC tersayangku, Yuki. (tadinya) Tapi, pada akhirnya, Yuki disini hanya sebagai tokoh sampingan alias hanya sebagai peran pendukung saja. Ukh, gomennasai nee, Yuki-chan.

Yuki : Ah... Author-san, kau tidak perlu minta maaf. Pada dasarnya aku kan memang hanya karakter tambahan yang dijadikan karakter utama dalam fanficmu.

Author : *nangis sambil meluk Yuki. Ukh! Yuki-chan kau terlalu baik!

Yui : Maaf menganggumu, Author-san. Sudah waktunya untuk membalas review dari minna.

Author : Ah iya, benar juga *mengelap air matanya dengan bajunya. Baiklah, sekarang saatnya membalas review keren dari pembacaku yang keren : Ukh terima kasih banyak ya. Bukan kok, ini cuman cerita sampingan ketika Yuki masih bersama Mukami. Kalau untuk season 2 nya sih, ditunggu aja ya. Oh iya, akan kusampaikan juga salammu pada Yuki. Yuki-chan kau dapat salam firaxarika -san.

Yuki : Ah, terima kasih telah mengingatku firaxarika-chan

Yang berikutnya ada Qyresh : Terima kasih atas sarannya. Nanti akan kupikirkan cerita sampingan yang nggak ribet alur ceritanya. Aduh tolong jangan terlalu dipaksa juga ya, apalagi sampe diancem pake cambuk atau semacamnya *loh? Soalnya masih ada urusan dunia nyata yang harus diurus huhuh TwT

Anda tau siapa : Wah, terima kasih banyak. Walaupun aku tidak tahu siapa dirimu hahaha

Sepertinya hanya segini saja untuk balasan review kali ini. Makasih sekali lagi yang masih mau membaca fanfic tak jelas ini. Padahal aku sendiri aja bingung kenapa bisa banyak yang suka sama fanfic ini. Tapi, ya sudahlah. Pokoknya beribu terima kasih pun kayaknya belum cukup untuk kuucapkan pada mina semuanya.

Oh iya, yang punya ide untuk cerita sampingan ini silahkan review aja atau bisa PM diriku. Nanti, akan kubuat cerita sampingan yang mina mau. Sekalian membantu Author payah ini untuk mendapatkan ide.

Okeh, kelihatannya segini dulu ya pertemuan kita kali ini *loh? Ditunggu log mina~