The First Friends which Forgotten

Sudah hampir satu bulan dirinya berada dirumah orangtua asuhnya yang keduanya adalah pemuda. Jika yang satu nampak biasa saja, justru cenderung pendiam, yang satu lagi justru terlihat aneh untuk ukuran seorang pemuda. Penampilannya yang terlihat menyentrik dengan rambut pirang dan warna matanya yang merah. Selain itu, kepribadiannya juga kelewat ceria hingga membuat dirinya dan pemuda yang satunya lagi terkadang kerepotan. Meski orangtua asuhnya aneh seperti ini, ia cukup merasa senang. Perlahan dirinya mulai terbuka karena uluran tangan yang terus menerus ia terima dari kedua pemuda itu. Kehangatan yang diterima benar – benar membuatnya nyaman hingga dirinya merasa bahwa ia adalah seorang anak, bagian dari orangtua asuhnya.

Hingga suatu hari, ketika dirinya memohon untuk pergi bermain diluar karena merasa jenuh terus – menerus berada dirumah, ia bertemu dengan seseorang dihutan. Lebih tepatnya tiga orang yang wajahnya hampir sama. Dirinya yang merasa penasaran dengan ketiga anak itu mencoba melihatnya dari kejauhan. Ia ingin sekali bergabung dengan permainan mereka. Namun, ia tak memiliki keberanian yang cukup untuk menghampiri mereka. Ia takut jika ajakannya itu ditolak dan menoreh luka dihatinya. Maka dari itu, ia mengambil jarak. Tapi, sepertinya ia tak perlu karena salah satu dari ketiga anak itu mengetahui keberadaannya yang sejak tadi melihat mereka bertiga. Dirinya langsung bersiap – siap untuk lari, namun terlambat karena lengannya keburu dicekal oleh anak laki – laki itu.

"Kenapa kau melarikan diri?" tanya anak laki – laki itu.

"A-a-aku... hanya... itu..."

"Ayato-kun, ada apa?" tanya salah seorang dari mereka, anak laki – laki yang memiliki warna rambut yang sama dengan anak laki – laki yang sedang mencekal lengannya.

"Ah, anak ini sejak tadi memperhatikan kita," jawab Ayato, si anak laki – laki itu. Mata hijaunya berpaling lagi pada dirinya, membuatnya sedikit ketakutan. Namun, senyum lebar dari cowok itu langsung membuyarkan ketakutannya, membuatnya terdiam. "Apa kau mau main bersama kami?" tawarnya.

"A-apakah... boleh?" tanyanya tak yakin.

"Tentu saja," jawab si anak laki – laki satunya. "Semakin banyak semakin menarik."

Ia menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam lingkaran mereka. Ia mengenali Ayato, yang menawarkan dirinya bergabung, Raito, anak laki – laki yang warna rambutnya sama dengan Ayato, dan Kanato yang terlihat lebih murung dibandingkan dirinya dan selalu memeluk boneka beruang. Awalnya, ia cukup kewalahan juga mengikuti permainan mereka bertiga. Terlebih untuk Ayato yang sepertinya kelewat semangat karena bertambah teman barunya.

"Aku... sudah... tidak kuat... lagi," keluhnya sambil mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

"Aku... juga sudah tidak... kuat," sahut Kanato, setuju dengan dirinya.

"Kalian berdua payah," ejek Ayato. "Hanya berlari seperti itu saja sudah kelelahan begitu. Kalian tidak sebanding denganku."

Raito yang mendengarnya hanya tertawa pelan. "Tenaga Ayato-kun benar – benar hebat ya."

"Ah, kelihatannya aku sudah harus pulang," ujar dirinya tiba – tiba.

"Oi oi, jangan bilang kalau kau ingin melarikan diri," tanya Ayato curiga.

"Untuk apa aku melarikan diri?" dirinya balik bertanya. "Aku tidak boleh mengkhawatirkan orangtua asuhku."

"Orangtua asuh?" tanya Kanato. "Orangtuamu yang sebenarnya?"

Ia menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu," jawabnya. Dirinya segera bangkit, membersihkan debu yang menempel pada pakaiannya, dan pamit pada ketiga anak itu. Namun, sebelum dirinya benar – benar pergi, suara seorang anak menghentikannya.

"Oi, siapa namamu?" tanya Ayato.

"Yuki," jawabnya. Ia langsung berlari meninggalkan mereka bertiga. Meski langkah kakinya kecil dan dirinya sangat kelelahan, ia memaksakan kakinya untuk berlari. Ia sudah berjanji untuk pulang sebelum tengah malam. Namun, ia melanggarnya. Entah hukuman apa yang akan ia terima jika janjinya dilanggar.

Sesampainya disebuah pondok kecil, tempat tinggalnya sekarang, ia berhenti dan mengatur napasnya yang tak beraturan. Kemudian, ia mendorong pintunya dan tak menemukan siapa – siapa. Ia memanggil orangtua asuhnya, namun sama sekali tak ada jawaban. Napas lega keluar dari mulutnya begitu tahu kedua orangtua asuhnya sedang tak ada dirumah. Ia berjalan kearah dapur dan mengambil segelas air, untuk menghilangkan rasa kering yang ada ditenggorokannya. Usai minum, ia menyandarkan kepalanya diatas kepala, memutar kembali mengenai harinya bersama sikembar tiga yang baru saja ia temui hari ini. Sebuah senyum mengembang tatkala ia mengingat salah satu sikembar yang mampu membuat harinya begitu menyenangkan.

"Wah, Yuki-chan tersenyum," ujar seseorang padanya, terkagum. "Baru kali aku melihat senyummu yang menawan."

Ia langsung bangkit dan melihat seorang pemuda yang ia kenali sebagai orangtua asuhnya. "A-aku tidak tersenyum," bantahnya.

Sebuah sentuhan pelan terasa dipuncak kepalanya. Ia menengadah dan melihat orangtua asuhnya yang satu lagi tengah tersenyum sambil membelai rambut hitam panjangnya. "Senyum lebih cocok untukmu."

"Betul kata Ryouhei-kun," sahut pemuda yang berada didepannya. "Kau harusnya lebih banyak tersenyum, seperti aku."

"Aku tidak mau seperti Karl, nanti dianggap aneh karena sering tersenyum tak jelas," tukasnya.

Tawa terdengar pelan dari Ryouhei, sementara Karl Heinz hanya menggerutu sambil memeluk dirinya. Kehangatan yang ia dapat dipondok kecil itu benar – benar membuatnya nyaman hingga terlintas dalam benaknya untuk tinggal disini selamanya. Didalam lubuk hatinya, meski hanya kecil bagaikan batu kerikil, ia sungguh berterima kasih pada kedua pemuda itu.

Sejak dirinya bertemu dengan sikembar, ia jadi semakin sering meminta izin untuk keluar. Awalnya mengundang kecurigaan pada Ryouhei, orangtua asuhnya. Namun, Karl menyuruh Ryouhei untuk membiarkan Yuki melakukan apa yang ia sukai. Karena diperbolehkan, ia langsung keluar rumah, berlari ketempat dirinya bertemu dengan sikembar tiga. Padahal ia tahu kalau tak akan semudah itu bertemu dengan mereka. Mungkin saja pertemuan mereka hanyalah sebuah kebetulan ketika dirinya sedang merasa kesepian. Tapi, melihat sikembar tiga yang sedang asyik bermain ditempat yang sama, tanpa ragu – ragu ia langsung menghampiri mereka.

"Osse yo Yuki," ujar Ayato yang melihat kedatangan Yuki.

Yuki hanya terkekeh pelan.

"Kelihatannya kau senang sekali, Yuki-chan," sahut Raito. "Apa ada sesuatu?"

Yuki kembali terkekeh. "Aku senang karena bisa bertemu dengan kalian lagi."

Ayato berjalan kearahnya sambil tersenyum lebar, membuat dirinya merasa heran. "Apa kau segitu inginnya bertemu denganku?"

"Hah?! Chi-chigau yo!" tukasnya. "U-untuk apa aku bertemu denganmu?"

"Buktinya kau senang bisa bertemu kami lagi."

Yuki mendengus dan berjalan kearah Kanato yang sejak tadi duduk dibawah pohon. Ia kemudian memeluk cowok berambut ungu itu. "Aku datang karena ingin bertemu dengan Kanato-kun, bukan Ayato-kun."

"Kalau aku?" tanya Raito. "Kau tidak ingin bertemu denganku?"

"Tentu saja, aku juga ingin bertemu dengan Raito-kun," sahut Yuki.

Ayato yang tak terima mulai mengejar Yuki, sedangkan dirinya mulai melarikan diri dari kejaran anak laki – laki itu. Hutan ditengah malam yang sepi dan terkesan menyeramkan menjadi tak terasa menyeramkan sama sekali karena tawa dari keempat anak itu. Semua permainan mereka lakukan, entah itu hanya berlarian seperti sekarang atau mencoba menangkap kelelawar atau hewan yang lewat. Permainan aneh pun mereka mainkan hanya untuk bersenang – senang. Bahkan sikembar Ayato mengajarkan banyak hal pada Yuki karena dirinya memang tidak tahu apa – apa.

Ia benar – benar bahagia karena bisa bertemu dengan mereka.

"Apa hari ini aku juga boleh keluar, Ryouhei-san?" tanya Yuki hati – hati.

Ryouhei hanya diam diatas meja kerjanya, memfokuskan dirinya pada sesuatu. Yuki berjalan kearah orangtua asuhnya dan mencoba meminta izin kembali. Namun, belum ia berkata sesuatu sebuah tatapan tajam ditujukan padanya. Ia langsung berdiam diri ditempat, ketakutan akan kilat kemarahan, kekesalan, dan... entah apa lagi yang terpantul dimata Ryouhei. Sebuah tamparan langsung mendarat dipipinya, membuatnya semakin ketakutan.

"Keluar dan jangan ganggu diriku!" bentaknya.

Yuki langsung bangun dan keluar dari kamar Ryouhei. Baru kali ini ia melihat orangtua asuhnya semarah itu. Ia sama sekali tak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Ryouhei menjadi marah seperti itu. Air matanya sudah menggenang dipelupuk matanya, mengancamnya untuk jatuh. Ia menyeka kasar matanya, menolak untuk menangis. Jika ia menangis saat ini, ia berani bertaruh Ryouhei akan memarahinya lebih dari ini. Usapan pelan dipuncak kepalanya membuatnya mendonggak, melihat Karl Heinz yang tengah tersenyum padanya.

"Jangan menangis, Yuki-chan," ucap Karl Heinz menenangkan. "Bagaimana kalau kau kuajak ketempat yang asyik? Aku yakin senyummu yang menawan itu akan kembali seperti semula."

"Tempat... asyik?"

Karl Heinz menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menyuruh Yuki untuk menutup matanya dan untuk mengosongkan pikirannya. Yuki sama sekali tidak tahu apa yang akan pemuda itu lakukan. Namun, ia lebih baik mengikuti perkataan Karl Heinz jika tidak ingin mengalami sesuatu yang buruk lagi.

"Nah, sekarang buka matamu," ujar Karl Heinz.

Begitu ia membuka matanya, ia melihat hamparan mawar putih dimana – mana, membuat senyumnya melebar. "Huwa... banyak mawar putih," serunya senang. "Kirei!"

Karl Heinz tersenyum, senang karena Yuki sudah kembali ceria seperti biasanya. "Kau boleh menjelajahi tempat ini sesukamu, Yuki. Jangan sungkan," sahutnya. "Aku akan menjemputmu jika urusanku sudah selesai."

Yuki menganggukkan kepalanya dan mulai berlarian mengelilingi taman mawar putih itu. Ia sama sekali tak tahu kalau ada tempat seindah ini, entah dirinya berada dimana. Ia sungguh bersyukur mengikuti perkataan Karl Heinz ketika pemuda itu akan membawanya ketempat yang asyik. Rasa penasaran mulai meraba dirinya, memintanya untuk menjelajahi tempat ini lebih jauh. Akhirnya, ia melangkahkan kakinya. Tempat itu begitu luas hingga seperti berada didunia lain. Bangunan besar yang ia duga sebagai rumah mengundang perhatiannya. Namun, ia langsung mengurungkan niatnya. Karena menurutnya tidak sopan jika langsung masuk begitu saja jika rumah itu memang ada yang menghuninya.

Suara anak – anak langsung mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh kebelakang dan melihat sosok yang ia rindukan hari ini. Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari dan memeluk anak laki – laki itu. Akibat pelukannya yang tiba – tiba, baik dirinya dan anak laki – laki itu terjatuh diatas tanah.

"Huwa... siapa kau?!" tanya anak laki – laki itu. Tapi, begitu ia mengenali sosok yang tengah memeluknya, senyum langsung mengembang diwajah tampannya. "Ternyata kau. Kelihatannya kau benar – benar menyukaiku ya."

"Aku... tidak menyukaimu," bantah Yuki. Ia segera bangun dan melepaskan pelukannya.

"Daijoubu, Yuki-chan?" tanya Raito.

"Ya ampun, baru kali ini aku melihat anak perempuan sepertimu, Yuki-san," sindir Kanato.

Melihat wajah Ayato yang tengah tersenyum mengejek padanya, membuat air matanya tak bisa ditampung lagi. Dirinya yang menangis tiba – tiba membuat sikembar tiga langsung panik.

"O-oi, kau kenapa?" tanya Ayato panik.

"Yu-yuki-chan, hontou ni daijoubu na no?" sambung Raito yang semakin panik.

Yuki mengangguk sambil menyeka kasar matanya, bermaksud untuk menghentikan air matanya. Namun, diseka berkali – kali pun air matanya tetap tidak mau berhenti. Bahkan Kanato yang tadinya tak peduli sampai meminjamkan sapu tangannya untuk menghapus air mata Yuki. Setelah mendapat perlakuan tak biasanya dari sikembar tiga, akhirnya Yuki mulai tenang dan menceritakan apa yang terjadi pada mereka. Sebuah helaan napas panjang meluncur keluar begitu Yuki menyelesaikan ceritanya.

"Hanya karena kau dibentak seperti itu, makanya kau menangis seperti kehilangan sesuatu," ujar Ayato kecewa. "Kupikir masalah yang kau hadapi sangat serius."

"A-apa boleh buat!" tukas Yuki. "Aku belum pernah melihat Ryouhei-san semarah itu padaku sebelumnya. Karena itu, begitu melihat kalian bertiga aku merasa lega dan... entahlah, aku tidak tahu perasaan apa yang saat ini sedang kurasakan."

Sebuah belaian halus terasa dipuncak kepalanya. Begitu ia mendongakkan kepalanya, ia melihat Kanato yang tengah mengelus puncak kepalanya. "Yuki-san... benar – benar orang aneh."

"Entah aku harus berterima kasih padamu atau marah padamu, Kanato-kun," cibir Yuki.

Ayato tertawa, membuat Yuki semakin mengembungkan kedua pipinya, kesal. "Kau benar – benar menarik. Kelihatannya keputusanku tepat menjadikanmu teman."

Alis Yuki bertaut. "Eh? Teman?"

"Tentu saja. Kau adalah teman kami dan kami adalah temanmu," jawab Ayato bangga.

"Apa Yuki-chan tidak berpikiran seperti itu?" tanya Raito.

Yuki menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak. Kalian adalah temanku," tukasnya. "Teman... pertamaku."

Si kembar tiga tersenyum pada Yuki, terutama Ayato karena senyumnya yang paling lebar. Ia kemudian mengulurkan tangannya, mengajak Yuki untuk bermain disekitar mansion yang ternyata milik keluarga mereka. Menurut cerita mereka bertiga, masih ada tiga anak lain yang merupakan saudara mereka, meski berbeda ibu. Namun, kelihatannya Yuki tak memiliki waktu untuk merasa penasaran dengan saudara mereka yang lain. Saat ini, ia hanya ingin bersama dengan sikembar tiga, teman pertama yang ia buat setelah keluar dari sangkar yang bernama kesendirian.

xxx

Yuki memangku tangannya dibawah dagu sambil menatap keluar jendela. Pikirannya melayang kepada mimpi yang ia lihat tadi siang. Sungguh bukan mimpi yang indah ketika dirinya melihat masa lalunya yang tidak menyenangkan. Begitu ia mulai mempercayai akan uluran tangan seseorang, ia langsung dikhianati dengan mudah. Bodohnya, ia sama sekali tak bisa dan tidak memiliki pemikiran diri untuk melarikan diri dari penjara yang ia sebut dengan "rumah." Tapi, ada satu hal yang mengganjal hatinya. Mimpi yang ia lihat sebelum melihat dirinya yang dulu sungguh mimpi yang indah.

Ia bertemu dengan tiga orang anak laki – laki yang ia akui sebagai teman pertamanya.

Selama ini ia tidak pernah ingat mengenai ketiga anak laki – laki itu. Mungkin karena kejadian selanjutnya yang membuat kenangan indah itu tertutupi dengan rasa sakit yang ia derita. Namun, kenapa selama ini ia melupakannya. Ia kira teman pertama yang berhasil ia miliki adalah orang yang saat ini menjadi keluarganya. Tapi, nampaknya bukan karena mimpi itu memperlihatkan hal yang berbeda dari apa yang ia pikirkan selama ini.

"Selain itu, kenapa nama ketiga anak laki – laki itu seperti nama sikembar tiga Sakamaki?" gumamnya. "Apa memang mereka bertiga?"

"Are? Ada Yuki-chan rupanya disini," ujar seseorang.

Yuki menghela napas panjang dan menoleh kesampingnya, menemukan Ayato juga Raito yang tengah membawa Yui bersama mereka. Tak lama kemudian, muncul Kanato yang kebetulan sedang berjalan kearah mereka berempat. Cowok berambut ungu itu segera bergabung dengan Ayato dan yang lain, menanyakan apa yang mereka lakukan. Seperti tak mempedulikan kehadiran Yuki, ia memanfaatkan waktunya untuk memperhatikan sikembar tiga. Kepribadian juga perilaku mereka sangat berbeda dengan dimimpinya. Terutama Ayato yang berada didepan matanya dan Ayato yang berada didalam mimpinya.

"Apa yang kau lihat kuso onna?" tanya Ayato, mengetahui Yuki yang sejak tadi memperhatikan mereka.

Yuki menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak mungkin orang yang sama ya," ujarnya, membuat sicowok berambut merah itu menautkan alisnya.

"Ah, sepertinya aku baru saja membuang waktuku yang berharga hanya untuk melakukan hal tak berguna," ujar Yuki lagi. "Oi, kau harus tanggung jawab kepala merah."

"Hah?!" seru Ayato tak terima. "Kau mengajak ribut ya?!"

Yuki menjulurkan lidahnya dan bersiap untuk lari. Ia berlari sekencang yang bisa sebelum tertangkap oleh sibungsung kembar tiga Sakamaki. Tanpa ia sadari, senyum terulas dibibirnya, seolah mengingat kenangan yang telah ia lupakan selama ini.


Osse (dari kata osoi) : Lama

Chigau : Bukan

Hontou ni daijoubu : Kau benar - benar baik - baik saja


Author : Waaayyy, akhirnya selesai juga membuat side story yang ketiga ini. Sempet bingung karena nggak tahu harus nulis apa lagi. Tapi, setelah membaca berbagai macam hal mengenai karakter diabolik lovers, eh kedapetan ide deh buat nulis side story ini. Senangnya bukan main diri ini *menari sambil nebar bunga

Yuki : Ckckck, Author-san kelihatannya seneng banget ya bisa nyelesain fanfic ini. Tapi, benarkah aku dulu pernah bertemu dengan Ayato-kun dan yang lain? Kok aku nggak ingat ya?

Author : Kan sudah kuingatkan tadi diside story nya Yuki-chan.

Yuki : Tapi... aku masih tidak percaya. Author-san kan tahu sendiri Ayato-kun, Kanato-kun dan Raito-kun seperti apa. Memangnya pas mereka kecil, mereka sebaik itu? Ih... mengingatnya saja membuatku merinding.

Ayato : *nendang pintu sembarangan Oi, apa maksudnya ini Author! Sejak kapan aku pernah bertemu dengan kuso onna?!

Raito : Hng~ aku juga tidak ingat kapan aku bertemu dengan Yuki-chan. Aku hanya ingat ketika ia datang kemansion pertama kali bersama Bitch-chan. Apa kau mengingat sesuatu Kanato-kun?

Kanato : *menggelengkan kepalanya Sungguh tak menyenangkan jika harus bertemu dengan Yuki-san yang sama kasarnya dengan saudara laki - lakinya yang hobi berkebun tak jelas itu

Yuki : Hei! Jangan samakan aku dengan Yuuma-kun ya! Lagipula aku juga tidak percaya kalau aku bertemu dengan kalian saat kecil. Selain itu mengatakan teman pertama, uh tubuhku langsung merinding. *melirik kearah Ayato

Ayato : Apa yang kau lihat hah kuso onna?!

Yuki : Siapa juga yang melihatmu, dasar kepala merah *menjulurkan lidahnya

Ayato : Nani?!

Author : *menghela napas Ya ampun, tak kusangka reaksi dari mereka akan begini. Ya sudahlah, lebih baik saya membalas review yang telah diberikan dari firaxarika-san

firaxarika : Yup, tepat sekali. Walaupun mungkin ya, bakal ada side story yang akan menjelaskan lebih jelas ketika Yuki dan Mukami masih kecil. Tapi, akan kuusahakan untuk membuat side story seperti judulnya. Oh, aku juga kepikiran untuk menulis side story mengenai "summer" karena memang sudah memasuk musim panas. Terima kasih banyak loh untuk idenya. Kurasa Yuki-chan dan yang lain akan menantikan sekali side story mengenai "summer" ini. Hahaha, nggak apa kok kalo komen atau review firaxarika-san panjang - panjang. Malah mengharapkan hahaha.

Okeh. Untuk mina yang saat ini sedang membaca fanfic ini, bisa menuangkan ide atau merequest side story seperti apa. Ditunggu loh hehehe