Doki doki no Natsu Yasumi

Matahari bersinar terang, angin yang membawa aroma asin berhilir lembut, birunya laut yang tak kalah indahnya langit cerah. Sungguh hari yang sempurna untuk memulai sesuatu hal yang baru.

"Umi da!" seru Yuki dan Kou berbarengan.

Layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan kesayangannya, Yuki dan Kou berlarian menuju pinggir pantai. Mereka berdua sama sekali tak mempedulikan teriakan Yuuma yang menyuruh mereka untuk menata barang – barang yang dibawa. Karena sama sekali tak dibalas, Yuuma menyerah dan menata sendiri, meski barang yang dibawa pun sebenarnya tak banyak.

"Yuuma-kun, Azusa-kun! Kocchi kocchi!" seru Yuki, menyuruh kedua kakaknya itu untuk bergabung dengan dirinya.

"Azusa, jangan lakukan hal yang aneh selama dilaut ya," nasihat Yuuma. "Bisa repot kalau kau sampai tenggelam."

Azusa menganggukkan kepalanya mengerti. "Un... wakatta yo... Yuuma..."

Karena tak kunjung datang, Yuki akhirnya menghampiri kakaknya itu. "Ah iya Ruki nii, kau mau bermain bersama juga?" tawarnya ketika melihat Ruki yang sudah tenggelam pada bukunya.

"Tidak," jawab Ruki singkat. Yuki menghela napas, merasa bodoh akan pertanyaan yang diajukan padahal sudah mengetahui jawabannya. Ketika ia ingin kembali bermain dipinggir pantai, suara Ruki menghentikan langkahnya. "Kau bermaksud bermain tanpa memakai baju renang?"

Yuki menautkan alisnya, kemudian melihat apa yang ia kenakan. Hanya berupa kaus putih polos tanpa lengan dan celana denim yang bisa dibilang sangat pendek. Ia terkekeh pelan. "Jangan katakan padaku kalau Ruki nii ingin melihat sosokku dalam pakaian renang," ujar Yuki menggoda. "Kalau iya, Ruki nii harus menunggu sebentar lagi."

"Heh, kau memakai bikini sekalipun, tak mungkin ada yang mau melirik kearahmu," sindir Yuuma.

Yuki mendengus. "Lihat saja nanti," ujarnya sambil menjulurkan lidah. Ia kemudian mengedarkan pandangannya, mencoba mencari apa yang ia tunggu sejak tadi. Senyumnya semakin lebar ketika ia berhasil menemukannya. Meski ditengah aroma asin laut yang cukup tajam, ia masih tetap bisa menemukan aroma mereka. Karena baginya, walau memang tak seistimewa aroma saudaranya, aroma mereka lumayan baginya, mengingat mereka adalah keturunan vampire murni.

"Yui-chan!" seru Yuki sambil berlari kecil kearah gadis berambut pirang yang tak jauh dari hadapannya. Mendengar nama yang dipanggil oleh Yuki, membuat saudaranya menoleh, menatap tak percaya. Yui dan Sakamaki bersaudara berada dipantai yang sama dengan mereka.

"Yuki-chan, kebetulan sekali kita bisa berada dipantai yang sama," ujar Yui nampak senang. "Kau juga sedang berlibur musim panas?"

"Tentu saja," sahut Yuki. "Jika bicara mengenai libur musim panas, pastilah laut dan pantai."

Berbeda dengan Yuki dan Yui yang nampak senang karena bisa bertemu kembali, Sakamaki bersaudara justru kelihatan tidak senang melihat gadis itu. Mungkin lebih tepatnya tidak senang melihat Mukami bersaudara ditempat yang sama. Yuki yang menyadari hal itu segera mengajak Yui untuk mengganti baju mereka, meninggalkan aura tak menyenangkan untuk yang lain. Awalnya Yui merasa tak nyaman dengan aura yang dikeluarkan oleh Sakamaki dan Mukami, namun bujukan Yuki membuahkan hasil. Terlebih dengan satu kalimat yang kelihatannya mampu membuat gadis cantik berambut pirang itu berubah pikiran.

"Wah, tak kusangka kita akan bertemu dengan Mukami bersaudara," sahut Raito bersuara.

"Sungguh kebetulan yang tidak menyenangkan," sambung Kanato.

Ayato mendecak kesal. "Ini membuatku makin kesal saja."

"Mungkinkan si perempuan Mukami itu yang merencanakannya?" tanya Subaru. "Tak mungkin bisa kebetulan bertemu dengan Mukami disini."

"Itu tidak mungkin," tukas Reiji, membetulkan letak kacamatanya. "Sangat jelas kalau Ayahanda lah yang menyuruh kita pergi kepantai ini."

Yuuma mendengus pelan. "Huh! Benar – benar kebetulan yang mengerikan untuk liburan musim panas tahun ini."

"Ya," sahut Ruki setuju. "Karl Heinz-sama memang orang yang tak pernah bisa ditebak."

Karena merasa bodoh menghabiskan waktu dengan berdebat maupun saling bertatapan, mereka memutuskan untuk melakukan kegiatan yang sudah direncanakan. Tak ada yang peduli dengan kegiatan masing – masing. Kou yang biasanya akan jahil pada Sakamaki bersaudara, kali ini membiarkan mereka dan asyik bermain (mengajarkan) dengan Azusa. Sikembar tiga Ayato dan Raito juga bermain sendiri, meninggalkan Reiji yang sibuk dengan persiapan dipantai.

"Minna, omatase!" sahut sebuah suara.

Matahari yang tadinya tak mau mengeluarkan sinarnya layaknya musim panas, mendadak berubah untuk menyesuaikan musim. Angin laut pun langsung berhembus pulan, meniupkan sosok mereka berdua dengan lembut. Orang yang melihat mereka berdua pasti akan langsung menghentikan aktivitas mereka, terpesona. Sama halnya dengan Sakamaki dan Mukami bersaudara. Bahkan Ruki yang sejak tadi sibuk dengan bukunya dan Shuu yang bermalasan dibawah payung pun berhasil dialihkan perhatiannya. Semburat merah juga terlihat diwajah Yuuma, Kou, dan Subaru, meski tidak terlalu jauh dari tempat mereka pun, Yuki bisa melihat dari ekor matanya, ada beberapa cowok yang hampir pingsan atau bahkan mengeluarkan darah dari hidungnya.

Kekuatan berubah perempuan memang menakutkan, batin mereka semua.

Sebuah perubahan mendadak dari Yuki dan Yui yang langsung disambut oleh reaksi tak terduga. Bagaimana tidak, karena biasanya dalam berpenampilan Yuki hampir menutupi tubuhnya dengan sweater atau cardigan panjang dan kaus kaki yang menutupi hampir seluruh kakinya. Kali ini, gadis berambut hitam itu memakai sebuah bikini berwarna toska muda dengan celana denim pendeknya. Ia memutuskan untuk tidak memakai bawahannya karena merasa lebih cocok seperti itu. Berbeda dengan Yui yang benar – benar memperlihatkan lekuk tubuhnya yang hanya dibalut bikini sederhana berwarna pink pucat dan renda hitam dibagian celananya sebagai hiasan, yang membuat gadis itu makin manis.

Yuki tersenyum sendiri melihat reaksi dari Sakamaki dan Mukami bersaudara yang sudah ia bayangkan sebelumnya. Tapi, ia sama sekali tak menyangka akan mendapatkan reaksi yang sepert itu. "Benarkan Yui-chan. Kubilang juga apa," ujarnya bangga. "Mereka pasti akan langsung tak bisa berkata apa – apa melihat kita."

Wajah Yui yang tadinya merona semakin merona karena tak biasa memakainya. Sebuah bikini sederhana berwarna pink pucat dengan renda hitam sebagai pemanisnya dibagian celananya. "Ta-tapi Yuki-chan, ini kan... baju renangmu," sahutnya tak enak. "Apa tak apa aku memakainya?"

"Tenang saja. Baju renang itu memang kusiapkan untukmu kok, Yui-chan," jawab Yuki. Ia semakin terkekeh melihat wajah beberapa dari mereka yang mulai memerah. "Ini kusiapkan untuk menggoda mereka."

Seperti tersadar kedunia yang seharusnya, Yuuma berseru. "Apa maksudmu hah, Yuki?!"

Yuki langsung bersembunyi dibelakang Yui dan menjulurkan lidahnya.

"Demo, daijoubu ka Yu-chan?" tanya Kou tiba – tiba, membuat Yuki menoleh pada cowok berambut pirang itu. "Punggungmu terlihat dengan jelas loh."

Bikini yang Yuki pakai saat ini memang cukup berani karena sungguh mengekspos punggunggnya, memperlihatkan tato bunga mawar hitamnya. Yuki tersenyum lebar. "Daijoubu da yo," jawabnya pelan. "Sa, daripada kita berbicara hal yang tidak menarik, lebih baik kita bermain sepuasnya!"

Dimulailah libur musim panas bersama Sakamaki bersaudara dipantai. Awalnya, Yuki mengajak mereka untuk bermain voli pantai yang langsung disambut baik oleh Yuuma dan Kou. Mereka akan berhadapan dengan Ayato, Subaru, dan Shuu yang diajak paksa oleh Yuki. Memang cowok tertua Sakamaki bersaudara itu tidak mau, namun lagi – lagi sesuatu yang Yuki bisikkan berhasil membuat cowok itu mau. Ini membuat saudaranya merasa heran. Tapi, itu tidak perlu dibahas sekarang.

Permainan semakin panas karena baik kedua pihak tidak mau kalah. Selain itu, ada beberapa penonton, yang hampir semuanya gadis untuk mendukung permainan voli pantai mereka. Hampir semuanya mendukung Kou, yang notaben memang seorang idola. Tapi, ada juga yang mendukung tim Ayato, karena meski Yuki tak mau mengakuinya, ketiga orang itu memiliki wajah yang tampan. Ah, jangan lupakan juga dengan fans club rahasia mereka disekolah. Disisi lain, Yui menemani Raito juga Kanato yang bermain dengan pasir pantai, sepertinya sedang membuat istana pasir. Sementara Reiji dan Ruki yang memang tak ada niatan untuk bermain, bertugas menjaga barang bawaan mereka.

"Hah... ini tidak akan berakhir," keluh Yuki. Ia sudah kelelahan karena terus bermain voli pantai yang sejak tadi tak ada habisnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menyerahkan permainan pada Yuuma dan Kou. Ia menghampiri Ruki yang masih sibuk dengan buku yang dibaca. Dibukanya botol dingin dan langsung meneguknya sekaligus, memberikan sensasi dingin ditenggorokkannya. Ia merasa terus diperhatikan oleh Ruki dan segera menoleh pada kakaknya itu.

"Ada apa, Ruki nii?"

"Jika dilihat sekilas, tanda kontrakmu itu mengerikan karena memiliki sulur berduri yang seperti siap menerkamu," ujar Ruki. "Tapi, jika diperhatikan lebih baik ada nilai bagusnya juga."

Yuki menghela napas panjang. "Akan kuanggap itu sebagai pujian."

Matanya menangkap Azusa yang kelihatan asyik dengan dunianya sendiri. Ia memutuskan untuk melihat apa yang dilakukan oleh kakaknya itu. Ia terpekik pelan melihat jari kaki Azusa yang dicapit oleh tiga ekor kepiting kecil. Dengan panik, ia langsung menarik paksa kepiting – kepiting itu. Tapi, karena ditarik paksa, darah keluar dari jari kaki Azusa membuat Yuki semakin panik.

"Daijoubu... da yo... Yu-chan..." ujar Azusa menenangkan. "Zenzen... itakunai... kara..."

"Daijoubu janai deshou!" tukas Yuki semakin panik. Ia merogoh saku celana denimnya, mencari plester. Beruntung ia memiliki plester, jika tidak bisa dipastikan dirinya akan semakin panik. "Po-pokoknya, tutup lukamu dengan plester ini. Nanti begitu kembali kepondok, aku akan mengobati lukamu."

Azusa tertawa pelan, merasa geli karena melihat Yuki yang panik karena lukanya. Padahal ini bukanlah pertama kalinya cowok itu sengaja melukai dirinya. Yuki yang menyadari Azusa menertawai dirinya, mengembungkan pipinya, merasa kesal sendiri. "Mou, aku khawatir padamu," sahut Yuki tak terima. "Jangan lakukan hal itu lagi ya."

Usapan pelan terasa dipuncak kepala Yuki. "Wakatta... arigato... Yu-chan..."

Suara teriakan pelan membuat perhatian mereka teralihkan. Tak jauh dari tempat mereka, Yuki bisa melihat bahwa Yuuma dan Ayato sedang beradu kehebatannya untuk menemukan semangka yang akan mereka hancurkan. Sorakan juga arahan yang bercampur aduk menjadi satu, membuat mereka kelihatannya cukup sulit menemukan semangka incarannya. Helaan napas meluncur keluar begitu matanya tak sengaja menangkap Raito yang mulai bermain dengan gadis – gadis. Bukan itu artinya ia cemburu. Ia tak akan pernah mau merasakan perasaan itu pada cowok playboy kelas kakap seperti Raito. Ia hanya berharap cowok itu tidak melakukan hal yang ia bayangkan.

Karena tak tahan dengan suara bisik itu, Yuki memutuskan untuk berjalan dipinggir pantai sejenak, menghilangkan kepenatan yang mendadak melanda dirinya. Sapuan ombak dikakinya membuat dirinya geli sendiri. Ia bisa merasakan dirinya dilirik oleh banyak orang, terutama oleh laki – laki. Tapi, ia tetap berjalan lurus, seolah tak memperhatikan mereka. Ia ingin menikmati kebebasan ini sejenak sebelum dirinya bergabung lagi dengan saudaranya maupun Sakamaki bersaudara. Ia akan membiarkan mereka bersama Yui untuk sementara waktu. Biarlah mereka berlomba untuk mendapatkan hati gadis itu.

Lama berjalan yang membuatnya sampai disebuah tempat yang cukup banyak batu – batu karang. Hempasan angin laut terasa sangat kencang ditempat itu, namun tak membuat dirinya takut. Ia duduk diatas pasir sambil memainkan pasir putih itu. Sungguh, ia benar – benar merasa nyaman dengan suasana seperti ini.

"Cih! Sepertinya, hari ini memang hari sial untukku."

Yuki yang mengetahui pemilik suara itu hanya terkekeh pelan. Ia menepuk pelan sampingnya, menawarkan sipemilik suara untuk duduk bersamanya. Tapi, ditolak mentah – mentah oleh orang itu.

"Wajahmu sama sekali tak menampakkan wajah kesal loh, Subaru-kun," ujarnya sambil menatap geli kearah sibungsu Sakamaki. "Apalagi begitu kalian melihat sosok Yui dalam baju renang, Pfuht-"

"Apa yang kau tertawakan?!" tanya Subaru tak terima.

Yuki memegang perutnya dan segera menghapus air mata yang berada disudut matanya, terlalu banyak tawa. "Aku... hanya membayangkan wajah kalian yang merona karena malu. Pfuht! Hahaha, ini benar – benar lucu!"

Subaru mendengus. Ia menyandarkan pungunggunya pada batu karang yang tak jauh dari tempatnya berdiri, menatap laut biru yang ada dihadapannya. Yuki juga menghentikan tawanya dan melakukan hal yang sama. Tak ada yang bersuara karena keduanya sama – sama menikmati ketenangan disekeliling mereka. Suara tawa juga sorak ria dari banyak orang dipantai itu terasa jauh sekali.

"Na, hitotsu ii ka?" tanya Subaru, memecahkan keheningan.

"Nani?"

"Tato mawar hitammu. Kau mentatonya sendiri?"

Yuki mengangkat kedua tangannya. "Bagaimana ya. Aku serahkan pada imajinasimu saja, Subaru-kun."

"Itu bukan jawaban yang ingin kudengar," ketus Subaru.

Yuki hanya tertawa pelan. Ia kemudian bangkit dan berjalan mendahului Subaru. "Sepertinya aku harus kembali. Bisa gawat jika Yuuma-kun atau Kou-kun melihat kita berdua."

Baru beberapa langkah dirinya berjalan, suara Subaru yang memanggil dirinya membuat langkahnya berhenti. Ia segera menangkap benda apa yang dilempar kearahnya, sebuah jaket yang ia yakini sejak tadi dipakai oleh cowok itu. "Aku bukannya bermaksud baik," tukasnya. "Tapi, melihat tatomu yang menyeramkan itu, sama sekali tak cocok dengan sosokmu yang ma-!"

"Ma?" tanya Yuki. Alisnya bertautan ketika melihat Subaru yang langsung mengalihkan pandangannya. Detika kemudian, cowok itu kembali memasang wajah garang yang membuat Yuki semakin heran dengan sikap Subaru yang tiba – tiba. Ia kemudian pergi dan memakai jaket yang diberikan oleh Subaru.

"Ini sih sama saja menjadi bukti aku baru saja bersama Subaru-kun," gumam Yuki. "Yah, biarlah."

Sebuah pukulan mendarat dibatu karang yang ada dibelakangnya. Ia berusaha keras menahan rasa malunya karena hampir mengatakan kata itu. Benar – benar diluar dugaannya ketika ia hampir berkata "manis" pada gadis Mukami itu. Ia mengusap wajahnya dan menghela napas panjang.

"Aku pasti sudah gila," umpatnya. "Tapi meski menyebalkan, untuk hari ini... dia manis sekali..."


Umi da : Laut

Kocchi kocchi : Sini sini

Minna, omatase : Semuanya, maaf menunggu

Zenzen itakunai kara : Sama sekali tidak sakit kok

Daijoubu janai deshou : Apanya yang baik - baik saja

Hitotsu ii ka : Boleh bertanya satu hal


Author : Waii akhirnya bisa ngeposting juga chapter mengenai musim panas ini. Haduh, penuh perjuangan sekali membuatnya. Sama sekali nggak kebayang jika harus membuat reaksi para lelaki itu ketika melihat sosok Yuki dan Yui dalam balutan baju renang. Yuki-chan! Yui-chan! Maukah kau mengelus kepalaku karena telah berjuang?

Yui : Aduh, Author-san ini *mengelus lembut rambut Author*

Yuki : Ckck! Author-san, aku tau kau baru saja berusaha keras. Tapi, kalo hanya begini saja, aku sama sekali tidak puas.

Author : *bangkit dari keputusasaannya Tenang saja. Chapter musim panas nggak hanya akan berakhir disini. Masih ada ide yang lebih gila lagi untuk musim panas ini.

Yuki : *tertarik Wah, apa itu? Oshiete oshiete

Author : *tertawa senang Mana mungkin kuberitahukan padamu, Yuki-chan. Yui-chan, boleh kupinjam telingamu sebentar?

Yui : *mendekat pada Author Nan desuka?

Author : Jadi begini... terus begitu... nah, terus begini lagi... bla bla bla

Yuki : *kesal sendiri Ukh! Apa sih?! Aku juga ingin tahu

Yui : *tersenyum lebar Oh tentu saja. Aku kan sudah merasakannya lewat game yang telah diproduksi oleh *piip* Lagipula ini kan fanfiction milik Author-san. Itu terserah Author-san saja maunya seperti apa.

Author : *Senang tingkat dewa Okeh! Aku suda dapat izin dari Yui-chan. Langsung saja tanpa basa basi akan kutulis chapter selanjutnya *fokus pada laptop

Yuki : Nee, Yui-chan, memangnya Author-san meminta apa padamu?

Yui : Khukhukhu, kita lihat saja. Baiklah mina san, entah apa yang akan disajikan oleh Author-san, tetap ditunggu ya. Oh iya, jika ada yang mempunyai saran atau request mengenai chapter musim panas ini, silahkan langsung tulis dikotak review. Jangan sungkan sungkan loh. Author-san akan sangat menghargai ide, saran, dan request kalian.

Yuki : Dan jangan lupa untuk review dan semangatnya juga. Biar Author-san semakin semangat buat ngelanjutin fanfic ini. Ah iya *bisik bisik kalo perlu paksa Author-san juga buat ngelanjutin season ke2 dari fanfic sebelumnya. Okeh minna

Yuki dan Yui : Sore ja mata ne mina san/minna!