The First Firework Festival

"Sejauh mata memandang... aku hanya melihat manusia," keluh Yuki. "Benar – benar lautan manusia."

Yui yang mendengar keluhan Yuki hanya tertawa pelan. "Sudah kubilang pasti akan ramai, Yuki-chan."

"Tapi, aku sama sekali tidak menduga akan sangat ramai seperti ini!"

xxx

Beberapa hari setelah dirinya bersama Yui, saudaranya, dan Sakamaki bersaudara, Yuki mulai merasa bosan dengan kegiatan yang biasa. Ia akui, ia menikmati tiap harinya ketika bermain dipantai. Banyak sekali kegiatan yang menarik dimatanya hingga ia yakin dirinya akan pingsan ditempat. Apalagi ia sering menantang Sakamaki bersaudara, dengan seenaknya, olahraga air yang ada dipantai itu. Walaupun pada akhirnya, ia akan kabur diam – diam dan membiarkan saudaranya yang mengurus sisanya. Ah, jangan lupakan menggoda saudaranya juga Sakamaki bersaudara dengan memanfaatkan Yui dalam sosok baju renang.

"Bosan," keluh Yuki, melemparkan pasir yang ada ditangannya kesembarang arah.

"Oi, jangan lempar pasirnya kearahku," tukas Yuuma kesal.

"Tidak biasanya Yu-chan bosan seperti itu," ujar Kou.

"Itu karena keinginannya untuk bermain sudah terpenuhi beberapa hari ini," timpal Ruki. "Wajar jika dia merasa bosan."

Yuki mengganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Ruki. "Un. Semua permainan sudah dilakukan, menggoda kalian juga sudah. Malah sampai bosan aku melihat reaksi kalian, tak berubah... Aw! Kenapa kau memukulku, Yuuma-kun?!"

"Itu hukuman karena seenaknya menggoda kami," timpal Yuuma yang makin membuat Yuki mengerucutkan bibirnya.

"Bilang saja kau senang, Yuuma-kun," tukas Yuki tak mau kalah. "Harusnya aku memotret wajahmu, biar kau tau raut wajahmu seperti apa ketika melihat Yui-chan memakai bikini."

Yuki bersiap untuk kabur dari amukan Yuuma, namun ia justru terdiam, begitu juga dengan yang lain ketika yang dibicarakan datang tiba – tiba.

"Ada apa, Yui-chan?" tanya Yuki.

"Apa sekarang kau sedang sibuk, Yuki-chan?" Yui berbalik tanya. Alis Yuki bertaut melihat ekspresi Yui yang sedikit ragu – ragu akan kedatangannya kemari. "Apa... kau mau membantuku?"

"Kenapa Yuki harus memba-"

"Boleh. Apa yang harus kubantu?" potong Yuki cepat sebelum Yuuma melemparkan ucapan tajamnya.

"Tte, Oi! Jangan seenaknya memotong ucapanku!" seru Yuuma tak terima.

Yuki terkekeh pelan, sementara Yui semakin memucat melihat aura yang tak enak dari cowok penyuka berkebun itu. Karena tak ingin lama – lama meladeni Yuuma, Yuki segera mengajak Yui untuk pergi dari sana. Baru mereka berdua berjalan, langkah Yuki terhenti karena dipanggil oleh Ruki. Cowok itu berjalan kearah mereka dan menyerahkan sebuah jaket tanpa lengan berwarna abu – abu pada Yuki.

"Tutupi tubuhmu," perintahnya. "Sebagus apa pun "tato" dipunggungmu, tetap saja memberikan kesan mengerikan."

"Arigatou, Ruki nii," ucap Yuki senang dan langsung memakai jaket pemberian kakaknya itu. Ia segera pergi membantu Yui. Rupanya gadis berambut pirang itu dimintai, atau lebih tepatnya disuruh oleh Reiji untuk membeli bahan makanan untuk makan dua hari kedepan. Karena daftar barang yang dimintai Reiji cukup banyak, ia berpikir akan sulit membawanya ketika pulang. Terlebih lagi tak ada satu pun Sakamaki bersaudara yang berniat untuk membantunya. Bahkan Subaru, yang didepan terlihat tidak mau tapi dibelakang merasa senang (dasar tsundere!) sedang dalam keadaan, benar – benar tidak mau membantu. Alhasil ia harus pergi sendiri.

"Dan kau melihatku yang kelihatan bosan lalu mengajakku untuk mencari suasana baru?" ujar Yuki mengambil kesimpulannya sendiri.

Yui terkekeh pelan. "Yah... kupikir Yuki-chan akan membantuku, makanya aku mencoba mengajakmu," sahutnya. "Tapi, jika kau memang tidak mau..."

"Ii yo," sela Yuki. "Memang benar, aku sedang sangat sangat sangat bosan. Sama sekali tak ada hal menarik yang bisa dilakukan."

Sesampainya disupermarket yang tak jauh dari pantai, Yui membagi daftar belanjaan yang dibawanya pada Yuki. Mereka berpencar untuk mencari apa saja yang tertulis didaftar dan kembali berkumpul ditempat mereka datang tadi. Karena tak mungkin jika mereka langsung membayarnya sementara uang yang diberikan oleh Reiji ada pada Yui. Memang cukup merepotkan karena Yui berkata untuk memilih secara hati – hati apa yang diada didalam daftar. Ia juga mengerti bagaimana sifat Reiji jika apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan harapan cowok berkacamata itu. Tapi, ia cukup senang bisa melakukan kegiatan belanja seperti ini. Sejak dirinya berada dipondok yang notaben diberikan oleh Karl Heinz untuk Mukami, mereka tak pernah keluar untuk hal seperti ini. Karena anehnya, dibelakang pondok terdapat kebun sayur walaupun tak seluas yang ada dimansion. Bahan makanan yang dibutuhkan pun juga terlihat sangat cukup untuk liburan kali ini. Maka dari itu, melihat bahan – bahan segar didepannya membuatnya cukup senang.

"Begitu pulang, aku akan memberitahukan ide – ide ini pada Ruki nii," gumam Yuki pada dirinya sendiri. "Kalau ditangan Ruki nii, masakan apa pun pasti akan enak deh."

Tak lama dirinya kembali ketempat yang dijanjikan, Yui muncul dengan satu keranjang penuh bahan makanan. Yuki yang melihat itu benar – benar tak bisa membayangkan apa yang akan dimasak oleh Reiji.

Ano megane... benar – benar tak bisa diprediksi, batin Yuki. Setelahnya mereka menuju kasir, yang anehnya sama sekali tak terlihat terkejut melihat belanjaan mereka yang sangat banyak. Padahal pengunjung dibelakang mereka melongo, heran melihat tumpukan belanjaan yang sangat tak biasa. Usai membayar, dengan susah payah mereka berdua membawa barang belanjaan menuju pondok milik Sakamaki.

"Jika aku dibolehkan memukul ano kuso megane, pasti akan kulakukan," ancam Yuki.

"Yuki-chan, entah mengapa cara bicaramu seperti Ayato-kun," sahut Yui khawatir. "Tapi, kelihatannya keputusanku tepat mengajakmu."

"Ya. Belanjaan sebanyak ini tak mungkin dibawa olehmu sendirian," ujar Yuki membenarkan. Belum ada separuh perjalanan Yuki mendadak berhenti disebuah mini market. Ia meletakkan barang bawaannya dibangku taman yang ada disebelah mini market dan menyuruh Yui untuk berisitirahat sejenak, sementara dirinya membeli sesuatu. Tak lama kemudian, Yuki datang dengan membawa sebungkus plastik berisi minuman dingin dan dua buah es krim. Yui hendak protes karena harus segera pulang dan memberikan barang belanjaannya pada Reiji. Tapi, paksaan Yuki berhasil meruntuhkan pertahanan Yui dan gadis itu melahap pelan es krim bagiannya.

"Ah iya, Yui-chan," sahut Yuki tiba – tiba. Ia merogoh sesuatu dari kantung celana denim pendeknya dan memberikan selembar poster pada gadis berambut pirang disebelahnya. "Kau mengerti apa maksudnya ini?"

Yui mengambil poster itu dan membacanya. Mata merah jambunya melebar, tak menyangka dengan apa yang ia baca saat ini. "Yuki-chan, dimana kau mengambil poster ini?"

"Diberikan oleh kasir dimini market tadi," jawabnya. "Jadi, apa maksudnya?"

"Ini poster untuk festival kembang api tahun ini," sahut Yui senang. "Tak hanya itu, festival itu diadakan dikota ini dan malam ini."

"Festival kembang api?" tanya Yuki. Ia berpikir sejenak, seperti mengingat sesuatu. Sedetik kemudian, mata birunya memancarkan kesenangan yang sama seperti Yui. "Maksudmu festival yang banyak kedai makanan kecil dan diakhir acara akan ada kembang apinya?"

Yui mengangguk mantap yang disambut dengan jeritan pelan Yuki. "Wah, ikitai! Zettai iku, hanabi taikai!"

"Ah demo... bukannya kau tak suka tempat ramai, Yuki-chan?" tanya Yui, yang membuat Yuki terdiam sejenak. "Acara festival kembang api seperti ini, pasti akan ramai sekali."

"Daijobu yo," sahut Yuki, mencoba bersikap positif. "Aku tak mungkin melewatkan kesempatan untuk melihat kembang api."

xxx

Yuki menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Jika saja ia mendengarkan peringatan Yui mengenai betapa ramainya festival ini, ia pasti akan dengan senang hati menolaknya. Tapi, apa yang sudah terlanjur dilakukan tak bisa diulang. Ia sudah berada ditempat festival diadakan, berada diantara banyaknya orang yang datang untuk menikmati festival. Ia juga melihat banyaknya gadis yang memakai yukata, membuatnya sedikit iri karena ingin memakainya juga.

"Kan sudah kukatakan padamu," sahut Yui yang berkali – kali melihat Yuki menghela napas. Yuki kembali menghela napas dan memutuskan untuk tidak berpikir yang aneh – aneh. Saat ini, ia harus bersenang – senang, melepaskan dirinya dari jeratan tali yang bernama kebosanan.

"Baiklah. Karena kita berdua sudah terlanjur disini dan tak ada mereka yang menganggu, kita keliling kedai makanan yuk," ajak Yuki. "Perutku sudah berbunyi sejak tadi."

Yui mengangguk mantap dan segera menggandeng tangan Yuki supaya adik Mukami bersaudara itu tidak tenggelam dalam lautan manusia ini. Ia tersenyum melihat wajah Yuki yang bagaikan anak kecil karena bingung harus memakan apa. Yah, ia akui disini ada banyak sekali pilihan makanan menggoda untuk dimakan. Setelah memutuskan untuk memakan apa, Yuki segera mengantri untuk membeli makanannya, sementara Yui sudah pergi kekedai yang lain.

"Wah, kalau Ayato-kun melihat takoyakimu, ia pasti akan mengambilnya," ujar Yui.

"Jika sikepala merah itu ada disini," sahut Yuki.

"Hoo... aku penasaran siapa yang kau maksud dengan kepala merah?" tanya seseorang.

Merasa mengenal suara dan aroma yang ada dibelakangnya, tanpa sengaja Yuki tersedak dengan takoyaki yang ada dimulutnya. Yui buru – buru memberikan botol minumnya pada gadis berambut hitam itu. Setelah meredakan batuknya, Yuki langsung menghujani tatapan menusuk untuk orang yang baru saja mengganggu dirinya makan. "Apa yang kau lakukan disini?! Seenaknya saja kau menggangguku menyantap takoyakiku?!"

"Itu salahmu sendiri, kuso onna," tukas Ayato tak mau kalah. Ia mendecih pelan ketika melihat Yui yang berada dibelakang Yuki. "Kupikir kemana chichinashi pergi, ternyata berada ditempat ramai menyebalkan begini."

Baru saja Yuki ingin membalas Ayato, wajahnya semakin kesal lantaran melihat Sakamaki bersaudara yang berjalan menuju mereka. Pekikan pelan terdengar ketika mereka berjalan menuju tempatnya dan Yui berada. Helaan napasnya semakin keras.

"Kupikir aku bisa bersenang – senang dengan Yui-chan, pengganggu malah semakin bertambah," rutuk Yuki pelan. Ia memekik pelan ketika sebuah tinju mendarat dipuncak kepalanya. "Apa yang kau lakukan, Yuuma-kun?!"

"Berhentilah membuat kami khawatir dengan dirimu yang menghilang tiba – tiba!" seru Yuuma kesal.

"Yang penting Yu-chan sudah ketemu," timpal Kou. "Tapi, tidak baik loh menyembunyikan hal menarik ini pada saudaramu, Yu-chan. Sebagai adik perempuan yang selalu kubanggakan, harusnya kau membaginya pada saudaramu."

Yuki menghela napas, lagi. "Terkadang, aku berharap untuk tidak menjadi saudaramu, Kou-kun."

"Kenapa... berkata seperti itu... Yu-chan?" tanya Azusa.

"Daripada meributkan ikatan persaudaran kalian, bukankah lebih baik menikmati festival ini?" tawar Raito tiba – tiba. "Tangan dan kakiku sudah gatal untuk berjalan kesana kemari."

"Kau mau melakukan apa itu bukan urusan kami, hentai yarou," ujar Yuuma.

Memang ada benarnya ucapan Yuuma barusan. Oleh karena itu, meski sebenarnya Yuki tak mau, ia menjalani saja festival ini bersama saudaranya karena Yui dan Sakamaki bersaudara sudah menghilang entah kemana. Bagaikan anak kecil yang tak pernah merasakan festival, mereka berlima (ralat berempat karena Ruki tidak berisik seperti yang lain) mulai kesana kemari, menyerbu kedai makanan yang menurut mereka enak. Karena sebelumnya Yuki sudah memakan takoyaki, walau diganggu oleh Ayato, ia memutuskan untuk membeli makanan yang lain dan pilihannya jatuh pada ringoame.

Meski ramai, ternyata Yuki masih bisa menikmati festival ini. Buktinya, ia dengan seenaknya menantang saudaranya dikedai tembak – tembakan, siapa yang berhasil mendapatkan hadiah utama harus menuruti yang menang. Yuki dan Kou memulai duluan, namun tak ada yang berhasil menang. Dilanjutkan dengan Yuuma melawan Azusa, meski sebenarnya cowok itu lebih senang menembak kearah dirinya sendiri. Sama seperti sebelumnya, kedua cowok itu tak ada yang berhasil. Ayato muncul tiba – tiba dan menantang Ruki yang sejak tadi hanya menonton pertandingan saudaranya. Tanpa melihat pertandingan ini, Yuki sebenarnya sudah menduga siapa yang akan menang dan benar saja dugaannya. Ruki menang dengan sekali tembakan, membuat Ayato menantang ulang karena tak terima.

Ketika dirinya ingin mengajak yang lain untuk pergi, mendadak datang segerombolan gadis, mengerubungi Kou. Sulit untuk menembus para gadis yang kelihatannya penggemar Kou itu. Yuki menyerah dan mengajak Yuuma serta Azusa untuk pergi kekedai lain. Tapi, baru saja Yuki memalingkan matanya kedua saudaranya itu sudah menghilang entah kemana, meninggalkan dirinya ditengah kerumunan. Yuki menarik napasnya, mencoba mengendalikan rasa kesal yang mendadak muncul itu. Alhasil, ia menjelajahi tempat festival itu sendirian. Ditempat yang terlihat banyak sekali meja, ia melihat Kanata dan Reiji disana, seolah mengusai tempat itu. Alisnya bertaut, bagaimana bisa kedua orang itu mengusai tempat umum dengan Reiji yang menikmati tehnya sambil membaca buku dan Kanato yang menikmati berbagai makanan manis dihadapannya. Ia kembali berpikir dari sudut pandang lain.

Ya, kemungkinkan itu pasti bisa mengingat siapa mereka, batin Yuki.

Ia kembali melangkah dan matanya melihat Raito yang berada dicelah – celah kedai. Tempat itu cukup gelap karena berada dibelakang. Ia penasaran dan bermaksud untuk mengintip. Tapi, segera ia hentikan mengingat bagaimana sifat cowok itu. Matanya menangkap seorang cowok berambut mencolok yang hanya berdiri dibawah pohon, tak melakukan apa – apa. Seringaian muncul dibibir Yuki dan ia berjalan kearah cowok itu. Baru saja dirinya berjalan, mata cowok itu terbuka, menampilkan warna merah darahnya yang menurut Yuki lumayan cantik.

"Apa yang kau lakukan? Jangan coba – coba mendekat atau kuhajar kau," ancam cowok itu.

Yuki tertawa pelan sambil melangkah mendekat, tak mempedulikan ancaman barusan. "Jangan seperti itu Subaru-kun," ujarnya. "Kau tau, auramu yang menyeramkan itu membuatmu dijauhi loh. Kalau begini caranya kau tak mungkin bisa menikmati festival ini."

"Aku tak peduli."

"Mou, lalu kenapa kau datang kemari?" tanya Yuki. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat raut wajah Subaru yang berubah, tapi langsung kembali seperti sebelumnya. Ia tersenyum lebar hingga Subaru kembali menghujani Yuki dengan tatapan menusuknya. "Kau datang karena Yui-chan, kan?"

"Chigee!" elak Subaru. "Untuk apa aku datang demi gadis menyebalkan itu? Merepotkan saja!"

"Ayolah, jangan mengelak Subaru-kun~" sahut Yuki tertawa. "Ngomong – ngomong, dimana Yui-chan? Dia tidak bersamamu?"

"Mana aku tau!" seru Subaru. "Cepat pergi sebelum kesabaranku habis!"

Yuki menghela napas dan segera pergi sebelum apa yang dikatakan Subaru benar – benar terjadi. Ia tak ingin melihat festival ini hancur hanya karena dirinya telah membangunkan serigala yang sedang tidur. Sebuah pengumuman mengenai kembang api hinggap ditelinganya. Ia sangat menantikan kembang api, tapi dari tempatnya berdiri kelihatannya sulit untuk melihat kembang api dengan jelas. Oleh karena itu, ia berjalan ketempat yang lebih sepi untuk mendapatkan pemandangan bagus. Ia sengaja memasuki kawasan hutan yang ada dibelakang tempat festival diadakan dan menemukan sebuah tempat yang kelihatannya cukup bagus. Tempat itu seperti taman kecil yang sudah tak terawat. Namun anehnya memberikan kesan tersendiri bagi Yuki. Apalagi disana cukup sejuk yang membuat rambut hitamnya tertiup pelan.

Ia nyaris saja jatuh kebelakang jika tidak segera menahan berat tubuhnya. Dadanya berdebar kencang karena rasa kaget yang melandanya tiba – tiba. Penyebabnya bukan hantu atau hal mistis aneh, melainkan anak tertua Sakamaki sedang tertidur disebuah bangku kayu.

"Mou Shuu-san! Kau membuatku nyaris terkena serangan jantung," keluh Yuki.

Kelopak mata Shuu yang tertutup terbuka sedikit, melihat Yuki yang berada didepannya. "Terkena atau tidak, kau tidak mungkin mati."

"Tentu saja bisa," sergah Yuki. "Asal Shuu-san tahu, aku masih berstatus manusia disini."

"Dou de mo ii," sahut Shuu. "Apa maumu kemari? Kalau ingin menggangguku, lebih baik jangan karena aku sedang tak ingin diajak bercanda sekarang."

"Sayangnya aku kemari untuk melihat kembang api, bukan untuk menjahilimu. Jadi, tenang saja."

"Kenapa pula harus disini? Carilah tempat lain."

"Tidak mau," tolak Yuki tegas. "Ini tempat umum, bukan hanya milik seorang Sakamaki Shuu seorang."

"Oi! Yuki!" seru seseorang dibelakang, membuat Yuki menoleh. Ia tahu pemilik suara itu, begitu juga dengan Shuu karena ekspresi wajahnya langsung berubah tak menyenangkan. Sosok cowok tinggi berambut cokelat segera muncul dan berdiri didepan Yuki. Sama seperti Shuu, raut wajah Yuuma langsung berubah. "Apa yang kau lakukan disini bersama dengan NEET?!"

"Cih! Berisik!" ujar Shuu tak senang. "Kenapa pula kau kemari? Adikmu yang cerewet saja sudah cukup menggangguku."

"Aku kemari karena ingin menjemput anak ini," sergah Yuuma sambil menunjuk Yuki. "Ayo pulang, Yuki."

"Tidak mau! Aku sudah susah payah menemukan tempat ini untuk melihat kembang api," tolak Yuki.

Shuu mendengus. Ia hendak pergi dari sana, tapi lengannya dicekal oleh Yuki, membuat suasana hati cowok itu semakin buruk. Ketika ia hendak melontarkan kata – kata tajamnya pada gadis dihadapannya itu, suara menggelegar terdengar dilangit. Kembang api pertama meluncur dengan bebas dan memperlihatkan keindahannya. Dengan pasti, satu persatu kembang api bermunculan dilangit tepat dihadapannya. Keindahan itu membuat Yuki takjub hingga matanya berbinar senang. Nampaknya keindahan sesaat dari kembang api berhasil mengalihkan perhatian Shuu. Buktinya, saat ini ia terpaku akan keindahan warna warni kembang api. Sama halnya dengan Yuuma yang takjub dengan Shuu.

Diam – diam, Yuki melihat kearah Yuuma dan Shuu yang tak bisa berkata apa – apa dan terpaku pada kembang api dihadapan mereka. Sebuah senyuman muncul dibibirnya. Langsung saja ia mengamit lengan kedua cowok yang ada disebelahnya itu, tersenyum senang.

"Apa yang kau lakukan, Yuki?" tanya Yuuma.

"Lepaskan!" perintah Shuu.

"Jangan banyak bicara," ujar Yuki. "Nikmati saja kembang api ini."

Baik Yuuma maupun Shuu hanya bisa menghela napas dan kembali memandangi kembang api yang ada dihadapan mereka. Walaupun tak setakjub tadi berkat gangguan Yuki yang tiba – tiba mengamit lengan mereka, tapi mereka berdua cukup senang. Karena, meski tak bisa dipercaya kedua cowok itu tersenyum. Yuki yang melihat itu semakin mengembangkan senyumnya.

Jika seandainya kejadian itu tak pernah ada, pasti mereka berdua sudah menjadi sahabat baik, ya, batin Yuki berandai – andai. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada lengan kedua cowok itu. Untuk saat ini, ia tak ingin menghancurkan kenangan indah ini sehingga memutuskan tidak berpikir hal yang aneh – aneh.

"Hanabi... kirei da ne, Yuuma-kun, Shuu-kun."


Ano megane : Si kacamata itu

Ikitai : Mau

Zettai iku, hanabi taikai : Pasti pergi ke festival kembang api

Ringoame : Permen apel

Chigee (dari katak Chigau) : Bukan

Dou de mo ii : Terserah

NEET : Not in Education, Employment, or Training (panggilan Yuuma pada Shuu)

Hanabi kirei da ne : Kembang apinya cantik ya


Author : Wahahahaiii, akhirnya bisa kembali update chapter tentang musim panas lagi. Gimana minna menurut kalian? Bagus? Jelek? Atau malah kesannya maksa? Kayaknya chapter kali ini lebih mengarah kepilihan yang terakhir tadi ya hehehe.

Yuki : Sebenarnya aku tidak mau berkomentar karena masih sebal, tapi... baguslah Author-san, ada kemajuan "dikit" hahaha

Author : Ukh, entah aku harus bahagia atau malah sedih, Yuki-chan... *nangis dipojokan

Yui : Tapi, aku sama sekali nggak kepikiran kalau Author-san akan buat chapter mengenai festival kembang api. Bersama Sakamaki dan Mukami bersaudara pula. Bukannya Author-san bilang ma-Uph!

Author : *buru - buru bekap mulut Yui Ano Yui-chan, pembicaraan kita yang waktu itu jangan diungkapkan, nanti yang ada malah nggak seru.

Yuki : Pembicaraan apa?

Author : *geleng kepala cepat Bukan apa - apa kok, Yuki-chan. Nee Yui-chan?

Yui : Phuah... Un, sou ne... gomen Author-san

Yuki : *memiringkan kepalanya

Author : Jadi, biarlah Yuki-chan berpikir sejenak dan kita membalas review dari minna

Untuk Qyresh : Huwah... sasuga Qyresh-chan kau selalu memberikan review panjang yang entah mengapa membuatku tersenyum sendiri hahaha. Hng... untuk masalah akan ada atau tidaknya season 2 meski banyak nih sebenernya dari minna yang meminta diri untuk mulai menulis, tapi apa daya tangan ini terlalu malas mengetik dan otak ini malah berpikir hahaha. Tapi, jangan khawatir. Kemungkinan bikin season 2 nya ada, hanya baru point - point pentingnya saja. Oh, dan terima kasih atas sarannya. Kalau ada waktu, dengan senang hati membuat chapter berisi keanehan para Sakamaki dan Mukami bersaudara seperti usul Qyresh-san. Ukh... membayangkannya saja sudah membuak diri ini tertawa nggak jelas hahahaha

Guest : Wah... terima kasih banyak ya atas saran dan semangatnya, meski kayaknya kok serasa diancem olehmu Guest-chan. Tenang aja, sebenarnya untuk season 2 nya itu udah ada point - point penting dicatetan kecil dan tinggal dikembangin lagi nanti. Tapi, masalah kapan publish nya itu yang masih dipikirkan lebih lanjut hehehe. Tapi, makasih banget loh, sangat menghargai semangat yang diberikan Guest-chan hehehe.

Paradiso-Mango : Hehehe, terima kasih banyak. Tetep stay cool ama fanfic nggak jelas dari Author yang kelewat nggak jelas dan melenceng dari dunia ini ya hahaha

Huft... mungkin begini dulu balasan review dari minna. Tetap ditunggu loh review, saran, requestnya bahkan semangatnya.

Yuki : *menepuk pundak Author pelan Tenang saja, Author-san. Meski aku hanya OC, pasti akan kudukung semampuku

Yui : Setuju dengan Yuki-chan

Author : Yuki-chan... Yui-chan... Suki! *langsung meluk mereka berdua

Yuki : *terkekeh Tapi, tetep aja sayang banget ya. Padahal aku ingin sekali pergi kefestival itu berdua dengan Yui-chan tanpa diganggu oleh vampire - vampire menyebalkan itu.

Yui : Yuki-chan, mereka juga saudaramu loh

Yuki : *mendengus Huh! Saudara macam apa yang meninggalkan adiknya hanya untuk berdere - dere ria denganmu, Yui-chan?

Yui : *hanya tertawa pelan

Yuki : Tapi, diakhir cerita Yui-chan kau kemanakan Author-san? Padahal aku sudah bertemu dengan Sakamaki bersaudara, tapi tidak kelihatan juga Yui-chan dimana.

Author : *menyeringai, membuat Yuki merinding tiba - tiba Kau mau tau, Yui-chan ada dimana? Kau harus mau melakukan sesuatu untukku jika mau tau.

Yuki : Ukh! Sebenenya aku ingin tahu. Tapi, melihat seringaian Author-san yang seperti itu, lebih baik kubuat penasaran saja.

Author : Sayang sekali ya Yui-chan. Padahal akan menarik kalau Yuki-chan mau menerima tantanganku.

Yui : *menghela napas Jangan terlalu menjahili OC mu sendiri Author-san.

Author : Baiklah, kita sudahi dulu saja curhatan ini dan kembali bekerja. Masih banyak pekerjaan yang menumpuk dimeja huhuhu

Yuki/Yui/Author : Mata ne minna~