Strange Behavior of the Sakamaki

Yuki menghela napas, entah sudah yang keberapa kalinya ketika melihat pemandangan yang ada didepannya saat ini. Ia memungut sebuah botol kosong yang tak jauh berada dikakinya, membaca dengan teliti apa yang tertulis diatas botol itu. Lagi. Sebuah helaan napas keluar dari mulutnya.

"Ini sudah bukan jus lagi namanya, tapi alkohol," gumamnya. "Pantas saja mereka bertindak seperti orang lain."

xxx

Mata birunya tak pernah lepas dari gerak gerik Yuuma yang sejak tadi sibuk mengurus kebun kesayangannya. Musim gugur semakin dekat dan kebetulan banyak sekali tanaman yang harus ditanam ulang. Yah, memang merepotkan. Tapi, asalkan bukan sayuran "itu", ia akan memakan sayuran dari kebun Yuuma. Walau tak mau mengakui, sayuran yang ditanam oleh kakaknya itu sungguh enak.

"Daripada kau melihatku dan bisa bahaya jika kau jatuh cinta padaku, lebih kau membantuku," seru Yuuma.

Yuki menggelengkan kepalanya cepat, menolak perintah dari Yuuma. "Aku sedang tak ingin berkeringat. Hanya ingin bermalas – malasan hari ini."

Sebuah sentilan mendarat dikening Yuki, membuat siempunya mengembungkan kedua pipinya kesal. "Apa?! Aku kan tidak salah apa – apa?"

"Tentu saja salah! Kau tidak akan menjadi kuat jika tidak menggerakkan tubuhmu setiap hari."

"Eh~ Aku tidak ingin menjadi kuat~" rajuk Yuki. "Percuma kuat tapi tidak bisa berpikir."

Jika adegan ini berada didalam komik, kemungkinan sebuah perempatan besar sudah muncul dikepala Yuuma. Cowok itu hendak mengomeli Yuki karena secara tak langsung mengejeknya. Tapi, ia berhenti dan hanya menghela napas. Kemudian ia melanjutkan kembali aktifitasnya, membiarkan Yuki bermalas – malasan. Bisa panjang urusannya jika meladeni Yuki yang sedang merajuk seperti itu.

"Kau ada masalah, Yuki?" tanya Ruki yang berada didalam ruangan yang sama dengan Yuki. Cowok tertua di Mukami itu mengalihkan mata peraknya, melihat Yuki yang sedang duduk dikusen jendela, melamun. Yuki menggelengkan kepalanya, tak ingin menjawab pertanyaan yang diberikan oleh kakaknya. Ruki menghela napas, menutup bukunya, dan menghampiri Yuki.

"Kau yakin?" Ruki bertanya sekali lagi sambil mengelus lembut rambut hitam pendek milik Yuki.

"Un," jawab Yuki. "Ruki nii tidak usah khawatir."

Yuki menghela napas panjang. Tiba – tiba sebuah senyum muncul dibibir tipisnya, membuat alis Ruki bertaut. "Ruki nii, boleh aku pergi kemansion Sakamaki?"

"Oi, kenapa kau harus pergi kesana?!" seru Yuuma tiba – tiba. "Tentu saja jawabannya tidak!"

"Eh~ Doushite?"

"Kenapa kau ingin pergi kesana?" tanya Ruki, berusaha menahan emosinya. Meski Yuki menyadari aura tak mengenakkan yang dikeluarkan kakaknya itu, ia berpura – pura tidak tahu.

Yuki terkekeh pelan. "Ingin bermain dengan mereka," jawabnya polos. "Boleh ya? Hari ini saja."

Ruki menghela napas. Ia mengerti apa yang dimaksud dengan kata bermain yang diucapkan oleh Yuki barusan. Ditambah dengan senyum lebar khas Yuki yang entah kenapa terlihat menyebalkan, bahkan bagi Ruki yang seorang kakaknya. Akhirnya, ia memperbolehkan adik perempuan satu – satunya itu untuk pergi kesana, yang langsung dihujani tatapan tak setuju dari Yuuma. Ruki memberikan isyarat pada Yuuma untuk diam dan menurut pada keputusan Ruki.

"Jya, aku pergi dulu ya," ujar Yuki. Ketika dirinya ingin pergi, suara Yuuma menghentikan langkahnya. Ia menyuruh gadis itu untuk mendekat dan dengan polosnya ia menurut. Jaket hitam yang sejak tadi dipakai oleh Yuuma, kini telah berpindah, menyelimuti tubuh mungil Yuki.

"Itu untuk menghindari kalau Sakamaki ingin melakukan hal yang aneh – aneh padamu," sahut Yuuma menjelaskan, seolah membaca apa yang dipikirkan oleh Yuki. "Dan itu juga sebagai peringatan untuk si bungsu Sakamaki."

Alis Yuki bertaut. "Kenapa kau menyambungkan hal ini dengan Subaru-kun?" tanyanya. Ia melihat dirinya yang sudah memakai jaket hitam milik Yuuma. Dirinya seolah tenggelam mengingat jaket itu sangat besar ditubuhnya. "Lagipula, bisakah kau memakaikanku jaketmu yang lain? Kenapa harus yang kau pakai saat ini? Bau keringat dan penuh tanah."

"Jangan banyak protes kau," sembur Yuuma, mengacak – acak rambut Yuki geram.

Yuki menepis tangan Yuuma dan membetulkan rambutnya yang berantakan. Setelah itu, ia benar – benar pergi menuju mansion Sakamaki. Dilihat sesering apa pun, mansion Sakamaki memang terlihat menyeramkan. Tak heran jika mansion ini mendapat julukan sebagai mansion berhantu dari orang – orang sekitar yang lewat. Ia mendorong pintu ganda besar yang ada dihadapannya dan tepat seperti dugaannya. Pintu itu tidak terkunci, seolah memang menyuruh siapa pun untuk masuk kedalam. Ia mengedarkan pandangannya, menikmati pemandangan mewah yang disuguhkan oleh mansion itu. Jika dibandingkan dengan mansion milik Mukami, mansion Sakamaki memang terkesan klasik dan lebih mewah. Bukan berarti ia lebih menyukai mansion ini dibandingkan dengan rumahnya sendiri.

"Hng... aku penasaran mereka sedang apa," ujarnya pada dirinya sendiri.

Kakinya mulai mencari tanda – tanda kehidupan didalam mansion ini dengan mengandalkan aroma Sakamaki bersaudara. Rencana awalnya, ia hanya ingin mematai – matai kegiatan Sakamaki bersaudara hari ini. Tapi, mengingat dirinya memakai jaket Yuuma, ia mulai memikirkan kembali niatnya. Bisa terjadi perang dunia, entah yang keberapa, jika mereka tahu kalau salah satu Mukami berada dimansion ini, berjalan dengan santai.

Ia sampai didapur dan melihat Reiji juga Yui yang sepertinya sedang menyiapkan makan malam. Ia terpaksa harus meneguk ludahnya sendiri lantaran aroma yang dihasilkan dari masakan Reiji memang lezat. Alisnya sedikit bertaut ketika mendengar suara bel berbunyi. Melihat Yui yang buru – buru keluar, ia langsung menyembunyikan dirinya dibawah bayang – bayang. Karena penasaran, ia langsung mengikuti Yui yang ternyata pergi kepintu depan. Jelas sekali kalau gadis cantik itu terlihat bingung ketika melihat satu orang tak berekspresi yang membawa satu kotak besar dan dikelilingi oleh beberapa kelelawar. Karena tak tahu harus berbuat apa, ia hanya terpaku didepan pintu. Jika bisa ia ingin sekali membantu gadis itu. Tapi, sudah keduluan oleh Reiji yang merasa tidak beres karena Yui pergi cukup lama. Mendadak ia bisa merasakan tatapan Reiji tertuju kearahnya begitu ia selesai mengurus orang yang ternyata adalah pengirim paket. Ia meneguk ludahnya dan berusaha menahan napas.

"Bagaimana kalau keluar sekarang baik – baik, Mukami-san?" tawar Reiji tanpa mengalihkan pandangannya kearah lorong gelap.

Yuki menghelan napas panjang dan keluar dengan wajah tak bersalah. "Wah... bagaimana kau tahu kalau itu aku, Reiji-san? Padahal aku sudah yakin dengan persembunyianku."

Reiji mendengus kesal. "Tentu saja aku tahu."

Yuki mengangkat kedua bahunya, mengabaikan penjelasan panjang lebar dari Reiji. Ia segera berlari kearah cowok berkamata itu yang masih memegang kotak. "Oh... paket ini untuk Subaru-kun," ujarnya. "Christa-sama? Subaru-kun no haha kara?"

Seperti tak ingin menjawab, Reiji hanya membetulkan kacamatanya yang tidak merosot. Sebuah suara dari belakang, membuat mereka bertiga menoleh. Yuki langsung tersenyum dan melambaikan tangannya pada sisumber suara.

"Kenapa ada Mukami disini?" tanyanya.

"Hanya ingin mampir melihat kondisi kalian, Kanato-kun," jawab Yuki.

"Daripada memikirkan hal itu, ayo kita buka paket ini," ujar Ayato semangat. Bersama dengan Kanato, mereka berdua mulai membuka paket yang seharusnya ditujukan oleh Subaru. Melihat tindakan tidak sopan itu, Reiji segera bertindak untuk menghentikan sikembar. Tapi, itu sama sekali tidak menghentikan Ayato dan Kanato untuk tetap membuka paketnya. Akhirnya terjadilah adegan tarik menarik diantara mereka bertiga. Yui yang melihat itu langsung panik dan berusaha menghentikan mereka. Bukannya berhenti, mereka bertiga semakin gencar dan melemparkan semua amarahnya pada gadis berambut pirang itu. Berbeda dengan Yuki yang kelihatan senang sekali. Ia justru mendukung mereka, siapa pun yang pada akhirnya menang. Aksi tarik menarik itu terpaksa berhenti karena kain yang membungkus paket itu robek, menyebabkan beberapa botol didalamnya terlempar keluar. Sebuah botol terlempar cukup tinggi.

Tawa Yuki semakin meledak melihat botol itu mendarat dimana. Yui yang melihat itu hanya ketakutan dan berharap gadis Mukami itu tidak dijadikan makanan oleh sikorban.

"Kau datang disaat yang tepat, Raito," ujar Kanato tersenyum senang.

"Berisik! Kupikir ada apa karena kalian berisik, tapi begitu aku datang..." ujar Raito, ia menyentuh hidungnya yang berdarah akibat lemparan botol tadi. "Apa kalian tau kalau tadi sakit sekali?!"

"Seorang vampire mimisan," sahut Ayato tertawa kencang.

"Mimisan... pfft-!" sambung Yuki yang tawanya semakin hebat. Ia bahkan sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.

"Ayato-kun! Yuki-chan! Ini bukan bahan tertawaan tahu!" tukas Raito tak terima. "Dan botol apa ini? Kenapa kalian melemparnya kearahku? Aku tak akan memaafkan Ayato-kun kalau tidak memberikan penjelasan yang bagus!"

Reiji mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya. Tapi, nampaknya Kanato tidak terima penjelasan Reiji karena jelas sekali cowok berkacamata itu juga terlibat. Apapun yang terjadi tetaplah terjadi, sebenarnya. Mendengar keributan yang kelihatannya tak akan berhenti, Shuu datang menghampiri mereka dengan suasana hati yang tidak menyenangkan. Mata biru milik Shuu menangkap beberapa botol yang telah berserakan dilantai dan kemudian ia mengambil satu, mengabaikan protesan Ayato dan Raito.

"Apa ini? Jus vampire asli buatan neraka untuk anak lelakiku tersayang,"

"Itu hadiah akhir tahun dari ibu Subaru," jawab Reiji.

"Hah? Dari ibu?" tanya Subaru.

Berbagai macam ejekan juga penjelasan, yang lebih mengarah pada tuduhan untuk orang lain mulai keluar dari mulut Sakamaki bersaudara. Yuki yang memperhatikan itu hanya terdiam sambil menghela napas, merasa lelah mendadak dan ia berpikir untuk pulang. Tapi, firasatnya berkata jika ia pulang sekarang, ia akan kehilangan sesuatu yang menarik. Dan benar saja. Setelah bertukar kata – kata yang mungkin tak pantas dijabarkan disini, Ayato merasa penasaran dan menyuruh Yui untuk meminum isi botol itu. Karena tak jelas asal usul isi botol itu, tentu saja Yui menolaknya. Tapi, akhirnya ia minum juga karena aura mengintimidasi yang dikeluarkan oleh Sakamaki bersaudara.

"Ano... aku juga boleh minta?" tanya Yuki, merasa penasaran dengan isi botol yang dikirim oleh ibu Subaru. "Kelihatannya menarik untuk dicoba."

Ayato menyeringai dan menuangkan segelas lagi untuk Yuki dengan senang hati.

"Oi, kalian berdua... baik – baik saja, kan?" tanya Subaru khawatir karena baik Yuki dan Yui diam, tak ada yang berkomentar meski isi gelas mereka telah habis.

"Kore... oishii..." komentar Yui. "Kau juga berpikir begitu kan, Yuki-chan?"

Yuki menganggukkan kepalanya. "Tak disangka ini enak. Padahal warnanya merah pink aneh begini."

Terlihat sekali jika Sakamaki bersaudara, kecuali Subaru, merasa kecewa. Namun, kekecewaan itu langsung digantikan dengan rasa penasaran pada isi botol itu. Oleh karena itu, semuanya, kecuali Subaru (lagi), mulai meminum apa yang telah diminum oleh Yuki dan Yui. Disampingnya, Subaru menggerutu karena saudaranya itu tidak mendengarkan peringatannya, jangan meminum isi botol itu. Ia juga berjanji untuk tidak bertanggung jawab kalau terjadi apa – apa pada mereka.

Beberapa waktu telah berlalu dan botol – botol yang tadinya penuh kini telah habis dan berserakan dimana – mana. Mereka yang meminum botol itu mulai bertingkah aneh dan ini membuat Yuki mengerutkan kedua alisnya. Mulai dari Ayato yang menyuruh Yui untuk kembali seperti semula, karena menurut cowok itu Yui ada dua orang. Padahal jelas – jelas kalau Yui hanya ada seorang dimansion ini. Kemudian, Shuu yang tertawa tanpa henti melihat saudara – saudaranya, Kanato yang menempel dan tidak mau melepaskan Yui. Disusul dengan Raito yang mengomeli kembarannya karena bertindak tidak sopan pada Yui, dan Reiji yang terharu akan sikap Raito yang seperti itu.

Subaru menggelengkan kepalanya, frustasi. "Makanya, sudah kubilang jangan meminumnya," gerutunya. Ia segera menyelamatkan Yui yang sejak tadi diperebutkan oleh si kembar tiga. Keadaan semakin tak terkendali ketika Reiji mulai memukul Ayato karena bersikap tak pantas. Raito yang hendak membela Ayato karena dipukul oleh Reiji, justru terkena layangan anak kedua Sakamaki itu. Tawa Shuu semakin kencang melihat adegan yang tak pantas itu. Ucapannya pun semakin melantur karena diselingi oleh tawa. Mata biru Yuki tak sengaja menatap Kanato yang sejak tadi sibuk dengan pakaiannya. Disela keluhannya yang terdengar seperti gerutuan, cowok berambut ungu itu membuang pakaian atasnya, meninggalkan kulit putih pucat untuk dilihat. Subaru dengan panik menutup kedua mata Yui, sedangkan Yuki kembali menghela napas.

Ia sama sekali tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dimansion ini. Sebuah botol menggelinding kearah kakinya, menyita perhatiannya sejenak. Helaan napas kembali keluar dari mulutnya, entah sudah yang keberapa kalinya.

"Ini sudah bukan jus lagi namanya, tapi alkohol," gumamnya. "Pantas saja mereka bertindak seperti orang lain."

"Oi, yamero!" seru Subaru frustasi. "Terserah kalian ingin menjadi vampire atau ninja. Tapi, jangan melibatkan Yui pada kelakuan tak jelas kalian!"

"Subaru-kun! Kenapa kau berbicara seperti itu pada kakakmu?" tanya Raito kecewa. "Sudah kukatakan padamu berulang kali, bicara yang sopan pada kakakmu."

Ayato menepuk pundak Subaru, setuju dengan ucapan Raito. "Apa maksudmu kau tidak ingin mendengarkan perkataan onii-sama, hah?!"

Kerutan dialis Subaru semakin dalam dan itu membuat Yuki sedikit khawatir melihatnya. Jika emosi si bungsu Sakamaki meledak, entah apa yang akan terjadi nantinya. Ditambah dengan gerutuan yang dilontarkan Kanato yang mengatakan bahwa Subaru mulai mirip dengan Reiji. Suasana semakin riuh ketika cowok berambut ungu mulai melepas ikat pinggangnya, disusul dengan teriakan penuh minat Ayato dan omelan Raito.

Yuki mulai merasakan aura tak mengenakan berasal dari si bungsu Sakamaki. Baru saja ia ingin menyuruh cowok itu untuk tenang, suara dentuman besar yang disusul dengan suara retakan dan benda rubuh terdengar keras. Baik dirinya maupun Yui yang melihat hal itu hanya bisa diam saja. Mata biru Yuki menoleh kearah atap mansion Sakamaki yang sudah berlubang akibat pukulan Subaru barusan. Ia pikir, keanehan itu akan berakhir kala sikembar tiga yang entah sudah berada dimana. Akan tetapi, ia lupa bahwa Shuu dan Reiji masih ada disana, sibuk berdebar sambil mencengkram kerah baju masing – masing.

"Etto... keliahatannya suasana... jadi sedikit tegang..." ujar Yuki.

Subaru menepuk dahinya kencang. Berbeda dengan Yui yang buru – buru menghampiri mereka berdua untuk melerainya. Bukannya melerai, gadis berambut pirang itu justru menjadi bahan rebutan kedua cowok itu. Tak terima, Subaru langsung maju dan berusaha melepaskan Yui dari mereka.

"Shuu-san, Reiji-san, tolong lepaskan Yui-chan," pinta Yuki baik – baik. "Kalian tidak lihat dia kebingungan seperti itu?"

"Ah? Oh... kau ternyata," sahut Reiji yang menyadari kehadiran Yuki.

"Hahaha... kenapa kau masih disini, Mukami?" tanya Shuu disela tawanya. "Oh, wakatta. Kau mau menjadi pengganti orang ini, kan? Ii zo."

Tangan Shuu langsung menarik lengan Yuki dan memeluk gadis itu.

"Oi!" seru Subaru. "Kenapa kau juga ikut – ikutan?! Baka ka omae?!"

Yuki bisa merasakan dirinya bergedik ketika tangan yang mengurungnya mulai berjalan disekitar tubuhnya. Tak hanya itu, Reiji juga mulai maju kehadapannya dengan pandangan penuh minat. Ia ingin memberontak, tapi tidak bisa mengingat Shuu seorang cowok dan vampire.

"Cho-... Shuu-san?! Apa yang kau lakukan?!" pekik Yuki. "Su-subaru-kun..."

"Kenapa kau memberontak?" tanya Shuu. "Kau sendiri kan yang bilang ingin menjadi pengganti Yui."

"Kebetulan sekali," sahut Reiji tiba – tiba yang entah sejak kapan sudah berada dihadapan Yuki, mulai melepas jaket hitam gadis itu. "Sejak kau muncul, aku penasaran denganmu. Biarkan aku menelitimu."

Karena tak tahan dengan pemandangan aneh yang tersaji, amarah Subaru kelihatannya sudah sampai batasnya. Tidak. Mungkin melebihi batas hingga tanpa sengaja cowok itu kembali melayangkan tinjunya, yang ajaibnya membuat Shuu juga Reiji terbang. Yuki yang selamat dari kejadian itu terduduk lemas dilantai. Ia merasa ternodai oleh kedua cowok itu.

"Yuki-chan, daijoubu? Kega wa?" tanya Yui.

Yuki menggelengkan kepalanya pelan sambil memakai kembali jaket milik Yuuma.

"Kalian berdua benar tidak apa – apa?" suara Subaru mengalihkan perhatian mereka berdua. "Padahal kalian minum itu juga kan?"

"Entahlah. Tapi, yang jelas kelakuan mereka menjadi begitu karena pengaruh alkohol didalam botol tadi," jelas Yuki. Ia segera bangkit yang dibantu oleh Yui. Mengingat kejadian tadi, ia merinding seketika. Sepertinya ia akan membutuhkan asupan kue yang banyak buatan Ruki hari ini.

"Sekarang bagaimana?" tanya Yui. "Apa ingin mencari mereka?"

Yuki mengangkat kedua tangannya, menolak dengan tegas. "Aku lebih baik pulang. Jya!"

Bersamaan dengan hilangnya Yuki, Yui dan Subaru (dengan terpaksa) mulai mencari keberadaan yang lain akibat terpental tinju si bungsu.

xxx

"Ruki nii tau apa isi botol ini?" tanya Yuki sambil mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah.

Kou yang penasaran mendekat kearah Ruki yang tengah mengamati botol kecil itu. "Nee, dari mana kau mendapatkannya, Yu-chan?" tanyanya.

Yuki menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia kemudian menceritakan kejadian yang ia alami dimansion Sakamaki hari ini, kecuali bagian saat Shuu dan Reiji mulai melakukan hal tak sopan padanya. Ruang makan langsung dipenuhi dengan suara tawa Kou dan Yuuma. Jika saja tidak ada kejadian itu, kemungkinan dirinya akan ikut tertawa bersama dengan kakaknya.

"Ini Rose Wine, salah satu jenis wine yang cukup terkenal," ujar Ruki. "Kadar alkohol yang terkandung memang tidak sebanyak Red Wine karena proses ekstraksinya cukup singkat. Tapi, masih sanggup membuat orang maupun vampire mabuk."

"Hahaha, pantas saja kelakuan Sakamaki menjadi aneh begitu," ejek Yuuma.

"Kalau tau begini, aku pasti akan ikut denganmu, Yu-chan," sambung Kou. Alisnya sedikit berkerut ketika melihat Yuki yang mendadak memperlihatkan wajah kusut. Mata kanannya tak sengaja berubah warna dan membaca hati adik perempuannya itu. "Ng... Yu-chan, apa yang sebenarnya terjadi? Kau tidak diperlukan yang aneh – aneh oleh mereka, kan?"

Pundak Yuki menegang. Ia mendelik pada Kou yang duduk disebrang meja makan. Ia bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja dari ruang makan, meninggalkan kebingungan bagi yang lain.

"Kenapa dia?" tanya Yuuma.

"Yang pasti terjadi sesuatu padanya hingga dia seperti itu," jawab Ruki. Ia kemudian melirik Kou yang masih terlihat penasaran. "Apa yang kau baca tadi, Kou?"

"Ng... aku tidak bisa membaca dengan jelas, tapi..."

"Tapi?" Yuuma dan Azusa bertanya serempak.

"Yu-chan... seperti dilecehkan oleh Shuu-san dan Reiji-san."

"HAAHH?!"

Ditaman belakang, Yuki yang mendengar teriakan Yuuma langsung merasa kesal sendiri. Bisa dipastikan kalau perempatan besar sudah tersebar diatas kepala Yuki. Tanpa mempedulikan dirinya akan dimarahi karena merusak bunga mawar Yuuma, ia tengah merencanakan balas dendam pada Shuu dan Reiji.

Ingatkan dirinya akan hal itu.


Yamero : Berhenti

Kega wa : Kau terluka