The Vampires are Butler?!

Suara hiruk pikuk antar murid yang sibuk dengan kegiatannya benar – benar memberikan angin yang baru untuk dirinya. Apalagi, ia termasuk murid pindahan sekaligus murid tahun pertama. Wajar saja ia merasa tertarik dengan kegiatan yang dilakukan murid lain. Dengan langkah ringan, ia berjalan menuju kelas 2, tempat kemungkinan mereka berkumpul. Tentunya dengan selebaran ditangannya yang pasti akan menjadi sangat menarik.

Benar dugaannya. Adu mulut yang terdengar tak penting langsung menyambut mata birunya. Ia menghela napas panjang dan melompat kearah punggung tinggi milik seseorang yang ia kenal. "Kalian sedang apa?" tanyanya polos.

"Uwaa! Yuki?!" ujar siempu, tempat dirinya bergelantungan.

"Yu-chan! Sudah kubilang perempuan tak boleh bersikap seperti itu," hardik Kou.

Yuki mendecih kesal dan segera turun dari punggung Yuuma. Ia merapikan swetarnya yang sedikit kusut dan kembali menoleh pada kesebelas orang yang ada dihadapannya. "De, kalian sedang apa?" Yuki mengulangi pertanyaannya. "Jangan katakan padaku, kalau kalian tengah memperebutkan Yui-chan."

"Memangnya apa urusanmu dengan chichinashi, kuso onna?" tanya Ayato.

Yuki tak menjawab pertanyaan Ayato. Ia justu menghela napas sambil berkacang pinggang. "Kalian tak bosan – bosannya ya melakukan hal yang sama," gerutunya.

"Kenapa kau kesini?" tanya Yuuma. Yuki mendecih pelan, tahu kalau tersirat rasa tak suka dari Yuuma jika dirinya berada disini. Tapi, ia memilih berpura – pura tidak tahu dan memamerkan senyumnya. Kemudian, ia menunjukkan selebaran yang sejak tadi berada didalam saku sweternya.

"Jang. Aku membawa sesuatu yang menarik," jawabnya bangga.

Yuuma mengambil selebaran yang ada ditangan Yuki dan membacanya. Kedua alisnya bertaut. "Nani kore?" tanyanya.

Raito yang tak jauh berada didekat Yuuma melihat apa yang tertulis diselebaran itu. "Pemenang kelas terbaik dicari tahun ini," ucapnya. "Apa maksudnya?"

"Maksudnya adalah festival kebudayaan ini," jawab Reiji sambil membetulkan letak kacamatanya. "Kelas mana yang menampilkan penampilan terbaik akan menjadi pemenang. Yang kudengar juga, pemenang akan diberikan hadiah yang menarik dari panitia."

"Huwah~ Omoshiro sou da ne," ujar Kou senang.

"Kenapa... Yu-chan... membawa ini?" tanya Azusa penasaran.

Senyum Yuki kembali terukir dibibirnya. "Aku punya ide bagus untuk kalian yang masih sibuk memperebutkan hati Yui-chan," sahutnya.

"Yuki-chan," hardik Yui.

Tanpa mempedulikan Yui, gadis berambut hitam itu tetap melanjutkan apa yang menjadi idenya itu. Ia sungguh tak menyangka dan itu membuatnya agak takut pada dirinya sendiri karena telah memikirkan ide itu. Melihat Yuki yang tersenyum sendiri tentu membuat para Sakamaki juga Mukami was – was. Karena bukan kali ini saja gadis itu membuat ulah hanya demi memuaskan dirinya sendiri. Dalam hati yang paling dalam semoga saja, itu bukanlah hal gila untuk mereka.

"Aku menyarankan kalian para serigala..." ujar Yuki sengaja menggantungkan kalimatnya, membuat yang lain semakin penasaran.

"Cepatlah katakan, Mukami-san," sahut Kanato mulai kesal.

Yuki berdeham. "Aku menyarankan kalian untuk membuka... shitsuji kissaten!"

"Hah?!"

"Kenapa kami harus melakukan hal itu?!" tanya Subaru tak percaya.

"Harus melayani chichinashi? Jangan bercanda!" tukas Ayato.

Yuki mendecak sambil mengayunkan jari telunjuk diwajahnya. "Jangan remehkan kekuatan shitsuji kissaten ya, hei kalian vampire tak tahu diri," sergahnya. "Sekarang sedang populer tahu hal macam begitu dikalangan perempuan. Kalian kan sudah biasa dilayani oleh Yui-chan, biarlah sekali – kali kalian melayaninya."

"Hmm... memang benar sih," sambung Kou. "Akhir – akhir ini banyak sekali tayangan ditelivisi yang menampilkan shitsuji kissaten. Aku bahkan direkrut untuk menjadi shitsuji disalah satu acara telivisi."

Yuki menganggukkan kepalanya setuju.

"Tapi, tidak perlu harus membuat shitsuji kissaten itu, kan?" tanya Raito. "Kalau hanya melakukan itu untuk memikat hati Bitch-chan, ajak saja ia bermain seperti biasanya."

"Permainan untuk hentai dilarang disini," tukas Yuuma.

Yuki menghela napas panjang. Ia menarik lengan Yui dan berdiri dibelakangnya, memeluk gadis itu. Telapak tangan kirinya menutup mata pink Yui sementara tangan kanannya mulai menyentuh bagian tubuh gadis berambut pirang itu. Melihat hal itu tentu memancing emosi para vampire yang ada didepannya. Akan tetapi, pandangan Yuki yang entah kenapa terlihat meremehkan juga serius membuat mereka tak bisa bergerak.

"Ho~ jadi kalian tidak berniat untuk menang dalam kompetisi festival kebudayaan dan mendapatkan Yui-chan?" ejeknya.

"Yu-yuki...-chan?"

Tangan kanan Yuki melepas pita dan menarik sedikit paksa kerah seragam Yui, memperlihatkan kulit putih pucat gadis itu. Ia mencium leher jenjang gadis itu, menambah emosi Sakamaki dan Mukami. "Aku yakin, kalian tidak tertarik dengan hadiah kompetisi itu. Tapi..." tambah Yuki, mulai menjilati leher putih Yui. "Darah... Yui-chan~"

"Tidak ada pilihan," ujar Ruki angkat suara, setelah lama diam sambil menyaksikan tingkah tak sopan adiknya. "Kurasa kau juga setuju kan, Sakamaki Reiji?"

Reiji yang ditanya oleh Ruki mendengus pelan sambil membenarkan letak kacamatanya yang tidak merosot. "Kurasa tak ada salahnya mengikuti saran dari Yuki-san," sahutnya. "Walau hanya untuk kali ini saja."

Yuki yang mendengar itu tersenyum puas, berbeda dengan yang lain yang menampakkan wajah masam. Jangan lupakan dengan aura dendam yang ditujukan langsung pada gadis berambut hitam pendek itu. Setelah Sakamaki dan Mukami pergi untuk mempersiapkan segalanya, ia baru melepaskan Yui yang masih berada dalam pelukannya.

"Gomen nee, Yui-chan," sesal Yuki, membantu gadis itu merapikan seragamnya. "Aku benar – benar minta maaf karena memanfaatkanmu untuk hal seperti itu. Bahkan sampai..."

"I-ii yo, Yuki-chan," tukas Yui dengan wajahnya yang masih merah. Ia sungguh tak menyangka kalau gadis itu dihadapannya itu bisa bersikap seperti tadi. Yah, ia memang sudah sering melihat tingkah aneh gadis itu demi menghilangkan rasa bosannya dengan cara mempermainkan Sakamaki dan Mukami. Tapi, tidak sampai tahap ia benar – benar memperlihatkan siapa Yuki sebenarnya.

"Sebagai minta maafku, aku akan mentraktirmu makan dikantin. Bagaimana?" tawar Yuki.

Yui terkekeh. "Kalau kau bersikap manis begitu, aku jadi tidak bisa marah padamu, Yuki-chan."

xxx

Akhirnya, hari yang ditunggu datang juga bagi mereka. Memang belum hari utama dalam festival kebudayaan sekolah mereka. Namun, hari ini adalah hari penentuan mereka, harga diri mereka dipertaruhkan. Melihat mereka yang tak bisa diam karena harus mengurus ini dan itu, Yuki terkekeh geli. Senang rasanya bisa mengerjai mereka lagi. Sesekali mereka memang harus diberi pelajaran karena terus – menerus membuat Yui kerepotan. Enam vampire saja sudah kewalahan, bagaimana ditambah dengan empat. Yuki yang memikirkan hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Hng... tapi, aku juga salah sih karena berkata seperti itu," gumam Yuki. "Tapi, yah sudahlah. Toh, mereka juga tak akan tahu hihihi."

xxx

Dengan ditemani suara jantung yang tak kalah berisik dengan sekelilingnya, ia membuka pintu sebuah kelas yang dipakai oleh Mukami sebagai kafe mereka. Begitu ia menggeser pintu didepannya, sosok cowok berambut pirang keemasan yang tengah membungkuk, menyambut dirinya.

"Okarinasaimase, ojou-sama," sapa Kou sopan. Kou kemudian membawanya menuju tempat duduk yang nampaknya sudah disiapkan dengan indah khusus untuk dirinya. Sembari mendengarkan penjelasan singkat, ia memberikan menu kafe ini.

"Jika sudah siap dengan pesanan anda, tolong gunakan bel yang ada disana," ujar Kou lagi.

Ia terkesiap, sungguh. Tak disangka, Kou bisa menjadi shitsuji yang penuh sopan seperti ini.

"Kelihatannya anda sedikit terkejut, apa ada yang salah, ojou-sama?" tanya Kou sopan.

"Uun. Kou-kun, hari ini terlihat benar – benar seperti shitsuji," jawabnya. "Jadi, sedikit terkejut."

Kou tersenyum lebar. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, membisikkan sesuatu ditelinganya. "Beberapa waktu lalu, aku sempat melakukan hal ini disalah satu acara televisi. Jadi, yah bisa kau lihat sendiri," bisiknya pelan. Merasa seperti diperhatikan, Kou buru – buru undur diri agar dirinya bisa memilih menu untuk dinikmati. Ketika ia membuka daftar menu yang diberikan, banyak sekali pilihan yang membuanya bingung. Untuk teh, ia sudah memutuskannya. Namun, untuk teman minum ia masih bingung. Terlebih lagi banyak sekali nama – nama yang tak ia kenal. Akhirnya, ia membunyikan bel yang tak jauh ditempatnya.

Tak lama kemudian, muncul Yuuma dengan pakaian khas shitsuji. Matanya terbelalak terkejut ketika mendengar caranya berbicara yang sungguh sopan, berbeda sekali dengan biasanya. Setelah menanyakan apa yang diinginkan, Yuuma segera menyiapkan teh yang dipesan.

"Tumben sekali melihatmu serius seperti ini, Yuuma-kun," ucapnya membuka pembicaraan.

"Hah? Kau menganggapku bodoh atau apa?!" ujar Yuuma tak terima. "Jika mau, hal seperti ini bisa saja kulakukan. Tapi, kalau tidak kulakukan ladang kesayanganku, kuh!"

"Eh? Apa? Ada apa dengan kebunmu?"

Yuuma menggeleng kepalanya, seperti tersadar dengan ucapan anehnya. Azusa datang dan membungkuk sopan dihadapannya, menginterupsi waktu Yuuma. Ia segera berbisik pada cowok tinggi itu apa yang baru saja dikatakan oleh Ruki padanya. Dengan cepat dan meminta maaf padanya, Yuuma segera menyiapkan teh yang sempat tertunda.

"Yuuma... diancam oleh... Ruki, meski... kau juga... pasti tahu... apa ancamannya... itu," ujar Azusa menjelaskan. "Sejak ditantang... oleh Yu-chan... setiap hari... ia selalu... berlatih untuk... menjadi shitsuji..."

Ia terkagum. Sungguh khas Yuuma sekali.

"Ah... aku juga... harus berusaha..." ujar Azusa, menyemangati dirinya sendiri. "Apa anda... sudah siap... memesan... ojou-sama?"

"Ah... nama menunya terlalu sulit hingga tak bisa kumengerti."

"Jya... biar saya... yang... menjelaskannya... ojou-saa..." sahut Azusa. "Apakah ada... yang menarik... perhatian... anda?"

Ia berpikir sejenak, kemudian menunjuk salah satu menu yang tertulis didalam menu. Dengan pelan, Azusa menjelaskan maksud dari nama yang terdengar sulit sekali untuk sebuah makanan. Dibalik nama yang sulit ternyata hanya sebuah nama makanan penutup yang sederhana, yang tentu saja dirinya juga tahu. Seperti "Phytagorasu" yang artinya scone yang disusun tiga tingkat hingga membentu segitiga. Ia sungguh heran, kenapa harus memakai nama yang sulit hanya untuk sebuah makanan penutup. Tapi, mendengar penjelasan Azusa yang mengatakan bahwa menu itu dibuat oleh Ruki, ia sama sekali tak berkomentar lebih lanjut.

Setelah menentukan teman makan minumnya, Azusa undur diri untuk menyiapkannya. Beberapa detik setelah Azusa pergi, Yuuma datang dan membawa teh pesanannya. Ia sedikit kesulitan untuk menyebutkan nama tehnya. Karena merasa sedikit kasihan, ia membantu Yuuma. Meski begitu, cowok tinggi itu justru mengomelinya dengan berkata bahwa ini adalah masalahnya. Jadi, ia tak perlu ikut campur. Setelahnya, Yuuma undur diri. Dengan pelan, ia menikmati aroma teh ditangannya sebelum menyesap pelan.

Suara ketukan sepatu yang pelan mengalihkan perhatiannya. Ruki datang dengan pesanan yang ia pesan oleh Azusa sebelumnya. Melihat penampilan Ruki yang jauh dari biasa, entah mengapa membuatnya sedikit tak nyaman. Ruki yang menyadari hal itu langsung bertanya dan menaruh perhatian lebih, hal yang sebenarnya tak boleh dilakukan oleh shitsuji pada umumnya. Akibatnya, rasa tak nyaman itu membuatnya terpaksa untuk pergi sebelum hal aneh terjadi pada dirinya.

"Jika begitu, mohon berhati – hatilah, ojou-sama," ujar Ruki sambil menundukkan kepalanya. "Saya menantikan kepulangan anda secepatnya."

Tanpa menanggapi ucapan Ruki, ia langsung berlari keluar dari kelas.

"Heh... kurasa ide Yuki tidak buruk juga jika bisa membuatnya seperti itu," ucap Ruki, ketika gadis yang tadi menjadi tamunya sudah benar – benar pergi dari kelas.

"Itu curang loh, Ruki-kun," protes Kou. "Wajahmu tadi bukanlah wajah seorang shitsuji."

"Hah... aku tak mau melakukan hal ini lagi," tukas Yuuma. "Kuralat, . .LAGI!"

"Tapi... ini... menarik juga... menurutku..." ujar Azusa.

xxx

Sesampainya dikelas, tujuan berikutnya, ia mengatur napasnya yang tersengal – sengal sebelum masuk kedalam. Begitu masuk kedalam, bukannya sambutan hangat yang sudah ia bayangkan, melainkan seruan kesal yang berasal dari Kanato. Entah cowok itu marah akibat apa, karena menurutnya ia belum terlambat untuk datang kekafe buatan Sakamaki. Melihat Kanato yang makin melampiaskan kesalnya, ia terpaksa meminta maaf pada cowok berambut ungu itu. Nampaknya, emosi Kanato justru makin meledak. Jika saja tak dihentikan oleh Raito, entah apa yang akan terjadi padanya nanti. Karena nampaknya Kanato tak terima jika harus melayani dirinya yang sudah membuatnya marah, Raito yang akan mengambil alih.

"Okarinasaimase ojou-sama," ucap Raito sopan sambil membungkukkan tubuhnya. "Biar saya yang menyimpan blazzer milik anda."

Ia segera menyerahkan blazzer-nya pada Raito. Akan tetapi, cowok itu justru berjalan kebelakang dan menciumi aroma yang menguar dari tubuhnya. Tentu saja ia memberontak akan tindakan Raito.

"Hentai dilarang disini, kono hentai," tukas Subaru.

"Mou, Subaru-kun. Jangan katakan padaku kalau Subaru-kun juga ingin melakukannya?" goda Raito.

"Siapa juga yang mau melakukannya?! Jangan samakan aku denganmu, hentai!" tukas Subaru. "Kau juga, cepatlah duduk dikursimu."

"Antar aku ketempat duduk seperti shitsuji betulan," pintanya. "Dame?"

Melihat tatapan matanya, tak ada pilihan lain bagi Subaru untuk melakukannya. Sambil menahan malu yang ia yakin sudah sampai puncak kepala, ia berdeham. "Silahkan kemari... ojou...-sama..."

Kanato yang kebetulan berada dipojok ruangan tertawa mendengar Subaru mengatakannya. Begitu juga dengan Raito yang menyarankan untuk segera melakukannya jika tidak ingin semakin merasa malu. Meski Subaru mengumpat, cowok itu tetap mengantarkan dirinya sampai tempat duduk yang telah disiapkan. Baru saja ia ingin berterima kasih pada Subaru, suara Ayato terdengar ditelinganya. Tentu ia terkesiap kaget dan melihat Ayato yang tertawa sambil duduk disalah satu bangku dikursinya.

"Ayo cepat duduk sini," perintah cowok berambut merah itu.

Ia mengerutkan alisnya. Mengapa tidak, sebab tak ada kursi lain lagi selain yang diduduki oleh Ayato.

"Dimana katamu? Tentu saja diatas pangkuanku," jawab Ayato.

"Kenapa harus diatas pangkuanmu?" tanyanya.

"Hah? Karena itu kan. Pekerjaan shitsuji itu menyenangkan tuannya. Benarkan?"

"Berisik. Minggir sana," perintah Shuu, mendorong tubuh Ayato. "Tugasmu sudah selesai disini."

Meski Ayato mengumpat dan mengancam Shuu, ia tetap pergi dari sana. Setelahnya, ia baru bisa duduk dikursi yang sebelumnya diduduki oleh cowok berambut merah tadi. Kemudian ia menoleh kearah Shuu yang sejak tadi diam memperhatikannya duduk. Ia menjelaskan bahwa dirinya bertugas sebagai pembuat teh. Tapi, ia merasa malas. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa Reiji tak mengizinkan dirinya untuk menyentuh peralatan teh yang tersedia disamping meja. Yah, ia tahu alasan mengapa cowok berkacamata itu tak mau orang lain menyentuh cangkir teh kesayangannya.

"Kalau tak diizinkan, kenapa pula dibawa?" umpat Shuu. "Hah... darui... sudahlah, aku ingin tidur."

Tak selang beberapa menit, Reiji datang. Ia menggelengkan kepalanya pelan ketika melihat Shu yang sudah tertidur. Dengan sangat menyesal, Reiji membungkukkan tubuhnya dan segera menyiapkan teh serta teman makan untuk dirinya. Melihat Reiji yang bersikap seperti shitsuji sebenarnya bukanlah hal baru, mengingat cowok itu juga sering melakukannya dimansion. Akan tetapi, entah mengapa itu sangat baru dimatanya dan ia cukup menikmatinya. Baru saja ia akan menikmati makanan penutup yang disediakan, Reiji mulai mengomentari tata cara ia makan. Begitu juga dengan caranya mengangkat cangkir teh.

Ah... sepertinya ia harus mempersiapkan diri untuk mendengarkan ceramah dari anak kedua Sakamaki.

xxx

Malam hari berikutnya, hari pemenang kompetisi akan diumumkan. Mukami dan Sakamaki yang berada diruangan aula menunggu kedatangan Yui yang entah sejak tadi belum juga hadir. Bertanya pada Sakamaki pun, mereka juga tak tahu dimana keberadaan gadis itu. Yuki masuk kedalam ruangan aula dengan wajah kusut. Dibelakangnya muncul Yui yang sepertinya juga kelelahan.

"Akhirnya datang juga yang ditunggu," ucap Raito.

"Oi, chichinashi, kemana saja kau?" tanya Ayato kesal. "Kau membuat kami menunggu."

"Emuneko-chan, jadi siapa yang akan kau pilih sebagai pemenang? Pastinya aku, ya kan?"

Baiklah. Mari kita luruskan agar tak ada yang bingung. Jadi, setelah ia mengumumkan kompetisi itu, ia kembali memberitahu bahwa permainan telah berubah. Melakukan shijsuji kissaten tetap, hanya saja cara menentukan pemenangnya. Rasanya sungguh tak adil untuk Sakamaki, mengingat yang bisa melakukannya dengan baik hanya Reiji. Oleh karena itu, ia memberitahukan jika ingin menjadi pemenang harus bisa menjadi shitsuji yang benar – benar shitsuji. Dengan kata lain, mereka harus berusaha membuat Yui kagum dengan kemampuan mereka sebagai shitsuji.

"Ukh! Kalian berisik," tukas Yuki. "Sudahlah, kalian juga akan tahu nantinya."

"Maksudmu?" tanya Yuuma.

"Aku sudah minta tolong pada OSIS untuk mengumumkan siapa yang menang bersamaan dengan pemenang kelas terbaik tahun ini."

Yang ditunggu – tunggu pun akhirnya datang. "Pemenang festival kebudayaan tahun ini adalah... klub drama yang membawakan cerita Romeo and Juliet!" seru sipembawa acara. "Komori Yui, harap maju sebagai perwakilan dari Juliet."

Wajah terkejut tak bisa lepas dari Sakamaki dan Mukami. Yuki yang berada disamping hanya menutupi mulutnya yang terbuka dengan lebar, malas meladeninya. Mendadak ia teringat akan sesuatu. Mata birunya menatap Sakamaki dan Mukami yang masih saja fokus pada Yui yang akan mengumumkan pemenang dari kompetisi kemarin. Dengan hati – hati, ia segera keluar dari ruangan aula.

"Etto... untuk Sakamaki dan Mukami... pemenang dari shitsuji kissaten kemarin adalah..." ujar Yui.

"Adalah?" tanya mereka serempak.

"Tidak ada."

"HAH?!"

"Oi, apa maksudmu chichinashi?!"

"Itu tidak mungkin, kan Bitch-chan."

"Jangan coba – coba bohong ya, Emuneko-chan."

"Ah... ano... yang tertulis dikertas ini memang seperti itu," jawab Yui. "Lagipula, kemarin aku tidak sempat menjadi tamu kalian. Aku membantu klub drama yang mendadak tokoh Julietnya sakit."

Kesepuluh vampire itu saling berpandangan. Mereka tak mungkin salah lihat karena merekalah yang melayani Yui kemarin. Kecuali...

"Ah... Yu-chan... sudah hilang..." ujar Azusa.

Mari kita ulang kembali saat Mukami dan Sakamaki menjadi shitsuji kemarin. Memang benar, yang mereka layani adalah Yui. Namun, sebenarnya itu adalah Yuki yang menyamar sebagai Yui. Disaat – saat terakhir, Yui dimintai tolong oleh temannya yang berasal dari klub drama untuk menjadi juliet. Tentu saja Yui ingin menolak karena sudah memiliki janji. Tapi, Yuki memaksa gadis itu untuk membantu temannya, sementara dirinya yang nanti akan menjelaskan pada Mukami dan Sakamaki.

Begitulah jadinya.


Omoshiro sou da ne : Kelihatannya menarik

Shitsuji kissaten : Butler cafe

Ano kata : Orang itu (panggilan sopan dari ano hito, yang artinya orang itu juga. Ini panggilan Mukami untuk Karl Heinz)

Okaerinasaimase : Selamat datang (lebih sopan dari okaeri)