Author : Ya, Author akui ini memang salah. Harusnya ngelanjutin ato seenggaknya nyelesaiin tuh season 2 malah bikin side story EN. Tapi, mau apa dikata kalo ini diluar kendali imajinasi Author. Tangan ini nggak mau berhenti buat ngetik dan imajinasi ini nggak bisa berhenti buat berbagai macam adegan unyu – unyu, sampe dianggap gila ama keluarga karena sering ketawa sendiri. Tolong harap maklumi Author ini.

Mengabaikan ocehan tak jelas diatas... yap, Author nulis ini side story. Ini pun, harus berulang kali direvisi karena merasa aneh dan rasanya kurang gregetan. Akhirnya, jadilah side story ini. Author ingatkan, side story ini AU aka Another Universe versi EN. Dengan kata lain, semua karakter DL ini bukan vampire ataupun penghuni Dunia Bawah dengan kekuatan magisnya, melainkan Hanya manusia. Sebenernya sih, udah dari dulu kepengen banget bikin cerita yang isinya karakter DL itu manusia. Kebetulan dapet ide dari curhatnya kakak sepupu. Ya sudah deh, jadilah cerita ini dengan mereka sebagai manusia. Yah, walaupun Author akui, terkadang Author suka lupa kalo karakter DL itu vampire sampe melihat adegan gigit – gigitan. Rasanya lucu aja gitu, kalo mereka hanya manusia biasa yang menjalankan kehidupannya sebagai manusia.

Oh, hanya tambahan biar nggak bingung. Mungkin minna tahu lewat wikia Diabolik Lovers, kalo Yui-chan itu kelas 2 SMA bareng kembar tiga Sakamaki, Shuu dan Reiji lalu Mukami bersaudara itu kelas 3 SMA, sementara Subaru-kun itu kelas 1 SMA. Lalu, Author juga bikin setting Yuki-chan kelas 1 SMA. Nah, di side story ini, ceritanya semua udah naik kelas. Jadi, mengerti lah mereka sekarang berada dimana hehehe. Lalu, karena side story ini berpusat pada pairing utama kita di serial EN, harap bersabar ya kalo ada yang mau liat interaksi Yuki-chan ama yang lain.

Udah ah. Kebanyakan Author Note malah kagak kelar – kelar dan justru bikin minna penasaran ama side story-nya. Sip, kita baca aja deh langsung. Silahkan dinikmati ya~

Side story ini Author persembahkan untuk Aya Haruki-san dan hikari uta-san. Terima kasih atas request-nya, semoga terhibur dan terpuaskan.

.

.

.

Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~


Scarf Exchanged

Erangan halus terdengar meski wajahnya tertutupi oleh selimut tebal. Tangannya terjulur keluar, menggapai alarm menyebalkan yang sudah menganggu tidur tenangnya. Yuki mematikannya dengan cukup kasar, tak memedulikan alarm malang tersebut. Lalu, kembali menyamankan posisi tidurnya sebelum terbang menuju alam mimpi. Demi pai apel buatan kakak sulungnya, ia baru bisa tidur sekitar jam 4 pagi ini akibat menyelesaikan tugas dari gurunya. Sungguh tidak adil hanya karena ia terlambat beberapa menit, beliau langsung memberikan banyak tugas sekaligus. Parahnya lagi harus diberikan di hari berikutnya usai sekolah yang artinya hari ini. Lihat saja, Yuki pasti akan membalas guru tersebut.

Jalur menuju alam mimpi mulai terlihat dan hanya perlu menggapai, entah siapa pun itu, tangan orang didepannya. Namun, sesuatu mengaburkan alam mimpinya dengan perlahan. Iris birunya melebar kemudian menyibak kasar selimut berwarna biru tuanya. Alarm di meja nakas sebelah ranjangnya menunjukkan pukul 07. 08.

"Huwaa! Aku terlambat!" teriak Yuki panik. Buru – buru ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti baju tidur dengan seragam sekolah. Setelah itu, ia menyambar tas sekolahnya tanpa mengecek kembali apakah ada sesuatu yang tertinggal atau tidak.

Mendengar suara teriakan dan kegaduhan langkah kaki dilantai dua, mengundang gelengan kepala dari Ruki yang sibuk membuat sarapan untuk saudara - saudaranya. Yuuma yang kebetulan baru masuk dari pintu dapur disebelah membawa hasil panen sayurnya, memandang ke lantai dua. "Ada apa lagi dengan anak itu?" tanyanya. Ia memberikan Ruki keranjang tersebut sebelum mengambil sebotol air didalam kulkas. "Ini masih pagi, astaga."

Suara gaduh langkah kaki menggema dari arah tangga yang memunculkan si pelaku. Yuki dengan nafas terengah – engah memasukkan tugas yang baru saja ia selesaikan tadi pagi. Ia tak ingin tugas ini tertinggal dan harus mendapatkan tugas tambahan. Surai hitam pendeknya masih sedikit berantakan, pertanda bahwa dirinya tidak merapikannya. "Ohayou Ruki nii, Yuuma-kun!" sapanya begitu sampai di ruang makan sekaligus dapur tersebut. Ia meletakkan tas sekolahnya di atas meja dan duduk untuk memakai kaus kaki hitam panjangnya. Tak lupa mengambil roti panggang yang sudah tersedia disana.

Ruki menghela nafas panjang sebelum mematikan kompor lalu berjalan mendekati Yuki. Jemari panjangnya merapikan surai hitam adiknya yang mendapatkan gumaman terima kasih.

"Kenapa kau berangkat pagi – pagi sekali?" tanya Yuuma penasaran.

"Ahu aha hanhi hengan..."

"Telan makananmu dan bicaralah," tegur Ruki sambil menyerahkan susu cokelat hangat pada Yuki.

Yuki menelan makanannya sedikit kasar hingga ia tersedak pelan. "Aku ada janji dengan Beatrix sensei untuk membantu di perpustakaan miliknya," jawabnya. Ia meneguk susu cokelatnya dalam satu tegukan. Kemudian mengambil tas sekolahnya dan bersiap untuk pergi ke sekolah. "Terima kasih makanannya. Aku berangkat dulu!"

Yuuma hanya menggelengkan kepalanya sebelum kembali pada pekerjaan rutin tiap paginya. Begitu juga dengan Ruki yang mengambil mug Yuki dan meletakannya di wastafel lalu beralih pada pekerjaannya yang tertunda untuk membuat sarapan. Tak lupa ia membuat bekal makanan Yuki yang rencanannya akan ia antarkan nanti siang.

"Ohayou Ruki-kun," sapa Kou. Ia melihat sekeliling kemudian beralih pada Ruki yang saat ini sibuk menata meja makan. Aroma menggiurkan segera menguar di ruang makan sekaligus dapur tersebut, membuat perut Kou berbunyi pelan. "Tadi, aku seperti mendengar suara Yu-chan."

"Dia sudah berangkat," sahut Ruki. "Terlambat."

Alis Kou bertaut. "Terlambat?" ulangnya. Iris birunya menatap jam dinding digital, menunjukkan pukul setengah 8 pagi. "Bukankah ini masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah?"

"Dia ada janji dengan Beatrix sensei untuk membantu di perpustakaan," jelas Ruki.

"Yu-chan... lupa... memakai... syalnya..." ujar sebuah suara dibelakang Kou.

Kou menjerit pelan dan segera menoleh kebelakang, melihat Azusa yang memegang syal hitam milik Yuki. "Azusa-kun! Berapa kali kubilang jangan muncul tiba – tiba dibelakangku," protesnya. "Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung?"

Helaan nafas kembali keluar dari mulut Ruki. Ia akan membawa syal milik Yuki bersama dengan kotak bekal makanannya nanti siang. Akan sangat merepotkan jika adik perempuan satu – satunya itu sakit, mengingat sebentar lagi ujian akan dilangsungkan di sekolahnya.

Sementara itu, Yuki terus memacu kecepatannya, terima kasih kepada latihannya selama mengikuti klub basket dan jarak dekat antara rumah dengan gedung sekolah, hanya perlu ditempuh sekitar 10 menit jika berlari. Ia tak memedulikan pundak siapa yang ditabrak selama berlari dan hanya berteriak minta maaf pada mereka. Hembusan angin dingin November pun nampak tak berpengaruh karena dirinya terus berlari, mengeluarkan uap putih dari mulutnya. Sesampainya disekolah yang masih terlihat sepi, ia langsung menuju perpustakaan besar di gedung sekolahnya tersebut. Ia terus berdoa dalam hati agar tidak diceramahi panjang lebar oleh Beatrix, mengingat guru wanita tersebut cukup tegas dalam hal disiplin. Pintu ganda yang ada didepannya dibuka dengan kasar, menampilkan perpustakaan mewah dan rapi terawat.

"Sumimasen... Beatrix sensei... saya... Are?" ucap Yuki disela nafasnya yang terengah – engah. Ia baru sadar tak ada orang di meja depan perpustakaan, tempat biasanya Beatrix ataupun penjaga perpustakaan berada. Ia menarik nafas panjang sebelum meletakkan tasnya diatas meja depan dan berjalan mencari sosok Beatrix. Alisnya sedikit berkerut karena tak menemukan sosok beliau. Tepat ketika dirinya memutuskan untuk memulai pekerjaannya, langkah kakinya berhenti melihat sosok yang sedang mengangkat kardus besar berisi buku. Nafasnya sedikit tercekat diikuti dengan wajahnya yang sedikit panas. Yuki menggelengkan kepalanya dan menghampiri orang tersebut yang langsung membeku begitu menyadari kehadiran dirinya.

"Ohayou, Subaru-kun," sapa Yuki, mencoba terdengar riang. "Sedang apa kau disini?"

"Kau tidak punya mata?" ketus Subaru. Ia meletakkan kardus besar itu dimeja terdekat, merenggangkan pundaknya yang sedikit pegal. "Ibu tua itu menyuruhku karena kau tidak datang juga."

Yuki terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, merasa bersalah. "Ya sudah. Kalau begitu, aku yang akan melakukannya," ucapnya. "Terima kasih, Subaru-kun. Ato, gomen ne."

Yuki mulai mengambil buku – buku didalam kardus diatas meja dan membawanya ke meja depan untuk dimasukkan kedalam database perpustakaan. Subaru hanya diam melihat gadis bersurai hitam pendek tersebut bekerja cukup cepat untuk menggantikan waktunya yang hilang. Ia tak pernah bisa mengerti apa yang ada dipikiran gadis itu meskipun sudah satu tahun mengenalnya. Yah, ia juga tak terlalu memedulikan hal itu karena tak ingin berurusan dengan keempat kakak laki – laki menyebalkannya. Tapi, tak bisa dipungkiri jika alam bawah sadarnya selalu merasa penasaran dengan gadis itu. Parahnya lagi, tiap kali malam datang ataupun ia sedang melamun, pikirannya pasti tertuju pada gadis bernama lengkap Mukami Yuki tersebut. Mengingat hal itu membuat pipinya sedikit panas dan ia buru – buru mengenyahkan pikiran gilanya. Lebih baik ia kembali ke kelas ataupun pergi ke atap sekolah, membolos seperti biasanya karena tak tertarik dengan pelajaran. Sungguh ajaib sebenarnya ia bisa naik kelas dengan absensi dan nilai yang lumayan parah.

Iris merah darah Subaru menatap pergerakan Yuki yang kembali membawa tumpukan buku baru untuk didata. Terlihat sekali gadis itu kewalahan membawa buku yang berat. Bahkan ia bisa melihat keringat mengalir dari pelipisnya, mengabaikan bahwa pendingin perpustakaan sedang menyala. Helaan nafas keluar dari mulutnya dan ia bangkit dari sandaran di meja. Ia mengambil tumpukan buku itu dari tangan Yuki, memperoleh pandangan tanda tanya dari gadis itu.

"Kau kerjakan saja di meja depan. Aku yang akan membawa buku – bukunya kepadamu," saran Subaru.

Yuki tersenyum lebar, membuat Subaru membeku sejenak sebelum mengendalikan kembali dirinya. "Arigatou, Subaru-kun," sahutnya. "Nanti akan kutraktir kau sesuatu istirahat siang."

"Kenapa pula aku harus membantu pekerjaan menyebalkan ini?" rutuk Subaru pelan.

Mereka berdua mulai bekerja menyelesaikan tugasnya masing – masing. Sesekali melemparkan percakapan ringan yang tentu saja didominasi oleh Yuki karena Subaru bukanlah tipe orang yang banyak bicara. Terkadang, cowok bersurai putih itu juga menggeram pelan pada Yuki karena masih saja mengejeknya mengenai perebutan Komori Yui dengan saudara – saudaranya. Bukan sebuah rahasia di sekolah ini jika Sakamaki bersaudara merebutkan gadis berambut pirang pucat yang berada di tahun ketiganya itu. Bahkan keempat kakak laki – lakinya pun, ketika masih bersekolah disini sempat mengincar Komori Yui dan menyalakan api pertikaian dengan Sakamaki bersaudara. Meskipun kakaknya sudah lulus, begitu pula dengan dua saudara tertua Sakamaki, Yuki tahu kalau mereka masih berusaha menjadikan Komori Yui sebagai hak miliknya. Mengetahui perasaan Subaru terhadap kakak kelasnya itu membuat dadanya sedikit sesak. Tapi, ia berusaha menyembunyikannya dan menganggap semua baik – baik saja. Ia bukan siapa – siapa Sakamaki Subaru, hanya teman sekelas dan tak lebih. Oh, jangan lupakan juga korban jahilan serta ejekan Yuki karena menurutnya, cowok bersurai putih itu sangat menyenangkan untuk dijahili. Persis seperti kakak ketiganya.

Tepat data buku terakhir dimasukkan, sosok anggun dari wanita muda bernama Beatrix masuk kedalam perpustakaan. Yuki buru – buru menghampiri gurunya tersebut dan menundukkan tubuhnya pelan. "Maafkan saya karena terlambat, Beatrix sensei," ucapnya menyesal.

Ekspresi Beatrix tak berubah, tetap datar dan memandang rendah pada Yuki yang masih membungkukkan tubuhnya. Helaan nafas keluar pelan dari mulut sang guru. "Apa kau sudah selesai mengerjakan pekerjaan yang kuminta padamu?"

"Hai! Baru saja selesai," sahut Yuki. "Ini juga berkat Subaru-kun yang sudah mau membantuku sehingga selesai lebih cepat."

Beatrix menganggukkan kepalanya pelan. "Kalau begitu, kalian boleh kembali. Bel pertama juga sebentar lagi berbunyi," ujarnya. "Subaru. Jangan coba – coba membolos."

Subaru hanya mendecih dan mendahului Yuki yang menundukkan kepalanya pada Beatrix sebelum mengejar cowok tersebut. Yuki merenggangkan kedua tangannya keatas menyebabkan tulangnya berbunyi. Lelah langsung menyerangnya diikuti dengan kuapan lebar dari mulutnya. "Tsukareta. Sore ni, nemui wa," keluh Yuki. Kedua pundaknya jatuh, mengingat jam pelajaran pertama. "Aduh, pagi ini pelajaran Richter sensei, ya? Menyebalkan sekali."

Cowok disampingnya hanya diam, memfokuskan dirinya pada jalanan yang sekarang sudah berisi banyak siswa dan siswi tengah memerhatikan mereka berdua.

"Selain itu, setiap kali melihat Beatrix sensei selalu mengingatkanku pada Reiji-san," lanjut Yuki. "Sangat datar. Eh, apa lebih mirip Shuu-san ya? Dia juga jarang sekali menampilkan ekspresinya, kecuali menyeringai."

Subaru masih diam tak menanggapi, walaupun dirinya mulai merasa kesal karena Yuki tak bisa berhenti bicara.

"Oh iya, apa kau sudah menyelesaikan tugas dari Tsvaik sensei?" tanya Yuki. "Ah, hari ini juga ada kuis dari beliau, ya? Aduh, rasanya tak yakin bisa menjawabnya dengan benar."

Cukup. Kesabaran Subaru sudah sangat tipis mendengarkan ocehan Yuki yang tak ada hentinya. "Bisakah kau diam?! Kau menganggu, tau!" semburnya.

Teriakan Subaru berhasil membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian dalam sekejap. Sejak awal, mereka berdua sudah diperhatikan mengingat Subaru dan saudaranya cukup populer di sekolah ini. Yuki pun tahu hal itu dan merasa biasa saja akan tatapan menusuk dari para penggemarnya. Ia sudah terbiasa mendapatkan tatapan seperti itu karena keempat kakaknya pun termasuk lumayan populer. Bahkan ia berani mengatakan lebih populer dibandingkan Sakamaki bersaudara. Menyadari arah tatapan yang diberikan oleh siswa lain pada Yuki dan Subaru, cowok itu melayangkan tatapan marah pada mereka. "Apa yang kalian lihat, hah?!"

Yuki menghela nafas panjang diikuti dengan bel bunyi yang pertama. Ia segera menarik tangan Subaru untuk segera masuk kedalam kelas, mengabaikan peraturan tak boleh lari di koridor sekolah dan tentunya protesan Subaru. "Nanti kita terlambat, baka!" ucap Yuki memberikan alasan. "Kau mau mendapat hukuman dari Richter sensei?"

xxx

"Aku tak percaya ini!" seru Yuki frustasi, tak peduli dengan tatapan yang diberikan oleh siswa lain. Ia mengembungkan pipinya, berusaha membawa beberapa barang yang akan dipakai oleh Richter sensei dipelajaran berikutnya. "Ini semua salah Subaru-kun, pokoknya!"

"Hah?! Kenapa ini jadi salahku?!" tanya Subaru tak terima.

"Habisnya, kita jadi terlambat karena kau tiba – tiba berhenti berlari!" protes Yuki. "Kenapa sih? Aku kan hanya menolong kita berdua dari keterlambatan saja."

Subaru diam dan berusaha mengenyahkan pikirannya tadi pagi, entah sengaja atau tidak, ketika Yuki menggenggam tangannya untuk berlari menuju kelas mereka. Ia sungguh tak pernah mengerti gadis disampingnya yang masih saja menggerutu, seolah hukuman yang mereka lakukan saat ini adalah salahnya. Gadis itu akan mengejeknya tanpa henti kemudian menjadi baik sekali bahkan mendekati perhatian. Jangan lupakan dengan kejahilannya hanya untuk melepaskan rasa bosannya.

"Oh! Jangan – jangan..." kekeh Yuki geli tiba – tiba, membuat kedua alis Subaru menyatu. "Apa kau malu karena aku menggenggam tanganmu tadi, Su~ba~ru-kun~"

"Ha-hah?! Apa maksudmu?! Te-tentu saja tidak!" tukas Subaru. "Fuzakenna!"

Yuki tertawa lepas, puas melihat semburat merah dipipi Subaru. "Tapi, wajahmu merah," sanggahnya menang. "Tak kusangka seorang Sakamaki Subaru malu karena tangannya digenggam oleh gadis. Ini informasi penting untuk Yui-chan."

"Apa yang kau rencanakan, onna?" geram Subaru.

"Sebaiknya kau membiasakan diri menggandeng tangan seorang gadis, Subaru-kun," saran Yuki, menganggukkan kepalanya pelan. "Jika tidak, nanti Yui-chan bisa salah paham atau malah merasa tak nyaman ketika disentuh olehmu."

Dimulai lagi. Gadis itu sengaja mengoloknya karena mengetahui perasaannya terhadap Komori Yui.

Subaru hendak membalas, namun terhalang karena mereka berdua sudah sampai di ruangan kelas berikutnya Richter sensei. Yuki buru – buru meletakkan kotak kardus tersebut dimeja terdekat. Kemudian memutarkan bahunya dengan pelan. "Aku lebih memilih membantu Yuuma-kun di kebun, dibandingkan harus membawa barang berat macam ini," keluhnya. Ia menatap Subaru yang sudah keluar duluan dari ruangan dan mengikutinya, berusaha menyamakan langkah cepat cowok itu. "Oh iya, aku janji mau membelikanmu sesuatu, ya? Mau ke kantin bareng?"

"Tidak sudi," balas Subaru ketus.

"Hng... kalau terserah bingung juga ya," ucap Yuki. "Kau mau roti atau jus?"

"Sudah kubilang, tidak usah!" tukas Subaru.

Yuki tidak mendengarkan karena perhatiannya beralih pada sosok tinggi tak jauh didepan kelas mereka. Beberapa siswa dan siswi menyapa sosok itu yang hanya dibalas dengan anggukan singkat tanpa ada niatan untuk membuka mulutnya. Senyuman Yuki melebar dan segera berlari menghampiri sosok itu, mengabaikan tatapan menusuk dari siswi yang mengelilinginya. Subaru tak pernah habis pikir, bagaimana caranya gadis itu bisa kebal terhadap tatapan tajam yang diberikan. Yui saja masih merasa tak nyaman meskipun sebentar lagi ia akan lulus dari sekolah ini. Subaru mendengus dan berjalan menuju tempat pelariannya, atap sekolah. Ia membutuhkan istirahat dari semua hal mengenai Mukami Yuki.

"Sedang apa Ruki nii disini? Ada urusan?" tanya Yuki.

Ruki menyerahkan kotak bekal Yuki serta syal hitam miliknya.

"Ah, aku sama sekali tak sadar kalau lupa memakai syalku," ucap Yuki menerima kotak bekalnya dan tentu saja syal hitam kesayangannya. "Arigatou, Ruki nii."

"Lain kali, jangan lupa. Sebentar lagi ujian akhir semester, kan?" tanya Ruki sambil menepuk puncak kepala Yuki. "Kalau kau sakit saat ujian bagaimana?"

Yuki menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hehehe, gomen," ucapnya. "Oh iya, mumpung Ruki nii disini, mau makan siang bareng?"

"Kurasa tidak. Aku masih ada urusan di kampus yang harus kuselesaikan hari ini," tolaknya halus.

Yuki bergumam panjang. Iris birunya menatap kedalam kelas, tepatnya kearah bangku Subaru yang kosong. Cowok itu pasti sedang berada ditempat pelariannya saat jam istirahat seperti ini. Yuki kembali menatap Ruki yang ternyata mengikuti arah pandangannya. "Yuki. Kau masih sering bersama dengan Sakamaki Subaru?" tanya Ruki tiba – tiba.

"Eh? Un. Doushite?"

Ruki tak menjawab. Ia hanya mengelus lembut surai hitam Yuki dan pamit pergi. Setelah yakin Ruki sudah pergi, Yuki segera melangkahkan kakinya menuju atap sekolah. Ia tak pernah mengerti, mengapa saudaranya terutama Yuuma sangat melarangnya dekat dengan Subaru. Mereka memang tak mengatakannya terlepas dari Yuuma yang secara terang melarangnya, tapi Yuki tahu hal itu. Tak mungkin jika mereka mengetahui perasaannya terhadap Subaru. Didalam keluarga mereka, Yuki yang paling pandai menyembunyikan perasaannya. Bahkan Kou yang instingnya sangat tajam hingga dapat membedakan kebohongan sering kali kesulitan menebak perasaan Yuki yang sesungguhnya.

Pintu menuju atap sekolah terbuka dan dirinya disambut oleh angin dingin yang sanggup membuat kucing pun membeku. Tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan Subaru karena dirinya sedang berbaring disalah satu bangku panjang. Iris merahnya menyalang tajam ketika mendapati sosok Yuki diatasnya, tengah menyeringai lebar. "Apa maumu?"

"Makan siang bareng," jawab Yuki. Ia mendudukkan dirinya tepat disamping kepala Subaru. "Kau mau? Kurasa Ruki nii tak akan keberatan aku membaginya padamu."

"Tidak butuh," ketus Subaru. "Kau mengangguku."

Yuki tak mengindahkan ucapan Subaru. Ia mengambil onigiri dan menyumpalkan dengan paksa kedalam mulut Subaru. Cowok itu segera terduduk sembari menelan kasar onigiri yang sudah dikunyah susah payah sebelum berteriak kearah gadis itu. "Apa yang kau lakukan, hah?! Kau nyari mati, ya?!"

"Aduh, suaramu kencang sekali," keluh Yuki menutupi telinganya. "Aku hanya membagikan onigiriku padamu. Apa itu salah?"

"Salah kalau kau langsung menyumpalkan dimulut orang, bodoh!" semburnya. Yuki memutuskan untuk tidak menanggapi ucapan Subaru yang mendapatkan geraman protes cowok itu. Subaru menghela nafas dan kembali membaringkan tubuhnya, mendadak lelah menghadapi perilaku gila seorang Mukami Yuki. Hanya ada suara hembusan angin yang mengisi keheningan diantara mereka berdua dan tak ada satu pun yang ingin memecahkan ketenangan tersebut. Yuki pun dengan khidmatnya menikmati bekal makan siangnya, terima kasih kepada potongan besar pai apel yang sudah disiapkan oleh Ruki sebagai pencuci mulut.

"Gochisou sama," ucap Yuki pelan. Ia membungkus kotak bekalnya kembali dan meletakkannya diatas pangkuan. Iris birunya menatap langit yang dibungkus oleh awan kelabu, pertanda salju yang sebentar lagi akan turun. "Pantas saja dingin sekali," gumamnya. "Apa kau akan mengikuti pelajaran siang ini, Subaru-kun?"

Subaru diam, tak ada niatan sama sekali untuk menjawab pertanyaan Yuki.

Yuki menganggukkan kepalanya, sedikit merasa bodoh dengan pertanyaan yang sudah jelas sekali jawabannya. Ia menyentuh syal hitam miliknya dan melepaskannya. Menekan rasa malunya, ia melingkarkan syal hitamnya dileher Subaru dengan susah payah mengingat cowok itu sedang berbaring. Tak ayal, dirinya juga harus bergulat sejenak dengan Subaru yang jelas sekali menolak disentuh Yuki. Ia tahu akan kalah mengingat tenaga cowok didepannya ini hampir sama dengan kakak ketiganya. Oleh karena itu, ia mengeluarkan kartu ampuhnya untuk meluluhkan Subaru. "Kau tidak ingin Yui-chan khawatir kalau kau jatuh sakit, kan?" ucap Yuki pelan.

Subaru terdiam. Yuki tersenyum lebar dan melilitkan syal hitamnya dileher Subaru. Kekehan pelan keluar dari mulut gadis itu. "Kau seperti vampire. Tak pernah merasa dingin padahal angin berhembus cukup kencang loh disini."

"Bukan urusanmu."

"Hai hai, terserah dirimu, Subaru-kun," ejek Yuki. Ia berdiri untuk pergi ke kelas, menghangatkan tubuhnya yang sudah mulai kedinginan. "Baiklah, sampai nanti. Ah, tidak. Sampai besok, Subaru-kun."

xxx

Akhirnya, satu hari penuh dengan siksaan berakhir. Yuki mendesah panjang, lega karena ia bisa pulang dan mendapatkan jam tidurnya yang terganggu sampai makan malam nanti. Ia buru – buru merapikan bukunya dan keluar dari kelas setelah bertukar sapa dengan teman sekelasnya. Pikirannya melayang pada sepotong pai apel dan cokelat hangat buatan Ruki, membuat perutnya kembali berbunyi. Namun, mengingat jadwal Ruki hari ini ia segera membuang fantasinya. Setidaknya, ia bisa beristirahat ataupun bermalas – malasan dirumah tanpa ada yang menganggunya. Manik birunya melebar ketika melihat sosok Subaru yang bersandar diloker sepatu, tepat disamping loker sepatu miliknya. Kedua tangannya dilipat didepan dada dan matanya tertutup, terlihat seperti sedang tidur. Yang membuat nafasnya tercekat adalah ia tetap memakai syal hitamnya. Ia menarik nafas dalam dan menghampiri cowok bersurai putih tersebut.

"Ada apa, Subaru-kun?" tanya Yuki sembari memakai sepatunya. Ia tersenyum jahil. "Rasanya tidak mungkin kau menungguku. Benar, kan?"

Iris merah darah Subaru terbuka, menatap Yuki yang balik menatap dirinya. Ia berdiri tegak dan mulai berjalan. "Ikut aku," ucapnya tegas.

Yuki hanya bisa terbengong, namun tetap mengikuti Subaru. Percakapan ringan mulai dibuka oleh Yuki tanpa peduli dibalas atau tidak oleh cowok disebelahnya. Setelah berjalan beberapa menit, mereka sampai disebuah kios kecil yang menjual bakpao daging. Yuki menatap Subaru yang arah pandangannya tak lepas dari kios tersebut. Seolah mengerti apa yang ingin dikatakan oleh cowok putih disampingnya, Yuki buru – buru pergi ke kios tersebut dan membeli 2 bakpao daging.

"Eh, tidak. Aku beli 3 buah, bibi," ucap Yuki cepat sambil mengeluarkan dompetnya. "Aromanya menggiurkan dan aku berani jamin pasti enak sekali."

Bibi penjaga kios tersebut membungkuskan 3 bakpao daging dan memberikannya pada Yuki. Saat Yuki ingin menghampiri Subaru yang menunggu tak jauh dari kios tersebut, bibi itu mengembalikan sejumlah uang pada Yuki. "Eh? Rasanya uangku pas untuk 3 bakpao daging."

"Diskon khusus untuk pasangan imut seperti kalian," goda bibi itu geli.

Yuki yakin wajahnya memerah dan ia buru – buru pergi setelah menyangkal bahwa mereka bukanlah pasangan. Beruntung Subaru berdiri cukup jauh sehingga tidak mendengarkan ucapan bibi penjaga kios tersebut. Menutupi rasa malunya, ia memberikan bakpao daging bagian Subaru dan mulai berjalan kembali. Kehangatan langsung menyebar tubuh Yuki yang sejak tadi menggigil kedinginan, meskipun dirinya sudah memakai jaket tebal.

"Hangatnya. Lalu, enaknya," ujar Yuki bahagia. "Aku tidak tahu kalau Subaru-kun ternyata suka bakpao daging."

"Kau janji mau mentraktirku," sahut Subaru pelan.

"Ah, benar juga. Kukira, kau benar – benar tidak ingin ditraktir," sanggah Yuki. Ia mengunyah potongan bakpao daging terakhirnya sebelum kembali mengambil yang baru.

Alis Subaru berkerut sebelum berganti menjadi senyum mengejek. "Makanmu banyak juga," dengusnya pelan. "Hati – hati dengan angka tambahan ditubuhmu."

"Kurasa itu tidak masalah. Habis, dirumah aku selalu dipaksa membantu Yuuma-kun dikebunnya," tukas Yuki. "Lagipula, bakpao ini enak dan hangat."

Kini Subaru tersadar akan sesuatu. Iris merah darahnya menatap gadis disampingnya yang masih asyik melahap bakpao dagingnya. Kemudian pandangannya beralih pada syal hitam dilehernya, tak ia lepaskan sejak istirahat siang tadi. Setebal apapun jaket yang dipakai oleh gadis itu, menghadapi angin sore bulan November yang ganas ini memang mustahil. Terlebih lagi dengan tubuhnya yang kurus, mengabaikan bahwa gadis itu sebenarnya anggota klub basket putri disekolahnya. Subaru berhenti melangkah yang membuat Yuki menirukannya.

"Ada ap-!"

Pertanyaan Yuki terhenti ketika menyadari sesuatu yang hangat dilehernya. Aroma mint sarat mawar putih memenuhi indera penciumannya, seketika membuatnya tenang dan senang. Buru – buru menepis perasaan itu, ia menatap Subaru yang masih sibuk melilitkan syal putih panjang dilehernya. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat dari biasanya melihat semburat merah dipipi cowok itu. Mereka berdua terdiam sejenak, bingung harus mengatakan apa. Yuki berdeham pelan dan berusaha menghilangkan semburat merah dikedua pipinya, walaupun itu cukup mustahil. "A-arigatou, Subaru-kun," ucapnya. Kekehan pelan keluar dari mulut Yuki dan sebelum Subaru protes, ia segera menambahkan. "Padahal, kau bisa mengembalikan syalku daripada harus meminjamkan syalmu."

Manik Subaru melebar dan ia merasa bodoh karena tidak memikirkan hal itu. Ia menggerutu pelan. Kemudian tangannya menyentuh syal hitam yang melilit lehernya, bermaksud untuk mengembalikan pada si empunya. Akan tetapi, tangan kecil membungkus tangan besarnya, mencegahnya. Yuki tersenyum lembut yang membuat nafas Subaru sedikit tercekat.

"Ii yo," ucapnya. Ia menarik tangannya kembali, berhasil membuat Subaru sedikit kecewa. Mendadak bungsu Sakamaki bersaudara itu menginginkan kehangatan tangan gadis itu, menggenggamnya erat dan tidak melepaskannya. "Lagipula, aku suka syal tebal dan hangatmu ini," lanjut Yuki. "Kuberitahu kau satu hal, Subaru-kun, warna hitam cocok untukmu."

Subaru menggerutu pelan demi menyembunyikan rasa malunya yang menoreh tawa pelan dari Yuki. Perjalanan menuju rumah dilanjutkan. Tak lupa ditemani oleh pembicaraan sepihak dari bungsu Mukami bersaudara. Terkadang, Yuki sungguh berharap waktu dapat dihentikan sehingga ia dapat menikmati lebih lama waktu berharganya dengan Subaru. Meskipun, Yuki sering mengganggu Subaru dan lebih memilih bersama dengan cowok bersurai putih itu dibandingkan teman sekelas lainnya, sangat jarang ia bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Ia bisa melupakan kenyataan pahit bahwa Subaru menyukai gadis lain.

"Rasanya waktu berjalan cepat sekali ya," ujar Yuki terkekeh. "Tanpa tahu kalau ternyata kita sudah sampai."

Mereka berdua berdiri disebuah rumah berlantai dua milik Mukami bersaudara. Rumah itu terlihat kecil dari depan, namun sebenarnya cukup luas dan belum ditambah dengan kebun milik Yuuma dibagian belakang rumah. Rumah ini pun diberikan oleh wali mereka dan akhirnya diserahkan kepada Ruki karena menganggap cowok tersebut sudah cukup dewasa untuk mengurus semuanya.

"Terima kasih sudah mengantarku, Subaru-kun," lanjut Yuki. "Aku jadi sedikit merasa bersalah padamu. Rumahmu jauh dan biasanya kau selalu dijemput oleh supir pribadi Sakamaki. Gomen nee."

Subaru menghela nafas, mengeluarkan uap putih dari mulutnya. "Aku yang mengajakmu untuk mentraktirku. Ingat?" tukasnya. "Kau tak perlu meminta maaf."

Yuki terkekeh. "Ternyata, Subaru-kun memang baik ya. Imutnya~"

"Kau mengejekku, hah?!"

Tawa Yuki semakin keras. Ia pun segera membuka pagar rumahnya dan masuk, membuat pembatas antara dirinya dan cowok itu. "Karena tak mau menjadi sasaran tinjumu, aku akan langsung masuk," elaknya. "Lain kali, kita makan bakpao daging bareng lagi ya, Subaru-kun."

"Terserah," gerutu Subaru, membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat menuju mansion agar dirinya bisa lepas dari angin sore bulan November ini. Mengabaikan rasa senang dan tak sabar untuk menagih ajakan gadis itu.


Ato, gomen nee : Lalu, maaf ya.

Tsukareta : Capeknya.

Sore ni, nemui wa : Selain itu, ngantuk banget.

Un. Doushite : Iya. Kenapa

Gochisou sama : Terima kasih makanannya

Ii yo : Nggak apa kok


Authot : #tertawa bangga. Nah, bagaimanakah kesan pesan minna mengenai side story ini? Jangan ampe kayak Author ya, senyam senyum bahkan ampe ketawa sendiri dikira orang gila karena bikin side story ini. Kalo ada yang ingin request silahkan langsung aja meninggalkan jejak di kotak review ato PM ya. Author akan menunggu. Oke, mari kita lanjut kecerita utama.

Akhir kata, sampai jumpa lagi minna~

P.S. Author sengaja bikin tempat tinggal Mukami bersaudara itu, rumah biasa tapi punya taman yang lumayan luas buat kebunnya Yuuma. Pengen buat sesuatu yang kesannya emang homey dan cocok buat mereka berlima mengingat mereka itu kan dari panti asuhan. Yah, namanya juga cerita AU. Intinya dan mengingatkan kembali, yang punya request silahkan langsung bilang Author ya. Author akan berusaha sebaik mungkin buat bikin cerita sesuai permintaan minna.

Ini benar – benar akhir kata, sampai jumpa lagi~