Author : HAPPY NEW YEAR 2018 MINNA! Uwah, udah berapa tahun nih Author berada di dunia fanfiction, menuangkan imajinasi gila yang sudah tak bisa ditampung lagi kedalam kata – kata dan mempersembahkan hanya untuk minna? Pokoknya dan intinya, rasanya udah lama banget disini hehehe. Nah, berhubung Author dapet banyak protesan dari minna mengenai hubungan Yuki-chan dan Subaru, Author memutuskan untuk memberikan sedikit chapter tambahan. Dichapter ini, Author akan jelaskan sedikit bagaimana kehidupan Yuki-chan bersama Mukami setelah ending EN season 2 kemarin. Meski hanya sedikit sih karena lebih fokusin ke Yuki-chan dan Subaru.
Author ingin sedikit memberi peringatan, kelanjutan hubungan pairing utama kita ngga akan berakhir sampai di chapter ini aja. Karena Author ada niatan ingin beberapa chapter khusus untuk mereka berdua. Tentunya di side story ini hehehe. Alasannya pertama karena protesan yang Author dapat dari minna, membuat mata Author terbuka. Hubungan pairing utama kita masih belum ada kejelasan dan Author ngga akan membiarkannya begitu aja. Kedua, karena Author udah kena ultimatum plus bom nuklir dari partner in crime Author. Hiks, terkadang jahat sekali partner Author itu, membordir Author yang jelas – jelas hanya manusia biasa penuh kekurangan.
Nah, berhubung ada beberapa review dari minna yang nggak pake akun, langsung aja ya Author balas disini. Sekaligus menjawab review dari pengunjung dan fans baru serial EN di side story ini. Kalo gitu lanjut...
hikari uta : Hehehe, makasih selalu untuk semangatnya hikari-san. Author hanya berupa butiran debu tanpa dukungan dan semangat hikari-san. Iya, Author minta maaf atas ketidakjelasan hubungan Yuki-chan dan Subaru. Tapi, jangan khawatir, hikari-san dan tentunya penggemar pairing tsundere kita. Author sudah buatkan omake, chapter tambahan di side story. Mungkin memang belum jelas banget, tapi setidaknya dan Author harap hikari-san dan minna cukup puas dengan perkembangan hubungan Yuki-chan dan Subaru.
Haruno Bara0201 : Hubungan Yuki-chan sama Subaru ada di side story ini Haruno-san. Anggaplah chapter tambahan setelah ending serial EN itu hehehe. Mungkin belum bisa bikin Haruno-san puas karena Author berani jamin, perkembangan hubungan mereka berdua tuh bakal lama, mengingat dua – duanya tsundere dan nggak mau ngakuin perasaan masing – masing. Tapi, Author harap, chapter tambahan ini bisa bikin Haruno-san puas dan terhibur hehehe.
mawarputih : Iya, maafkan Author karena udah telat update lama banget. Terlalu banyak drama di Real Life ampe down buat lanjutin nih fanfiction. Dan terima kasih juga sudah mengikuti serial EN ini dari awal sampai akhir, mawarputih-san. Author sungguh beruntung punya pembaca yang masih sabar dan setia menunggu kelanjutan cerita fanfiction ini, seperti mawarputih-san. Tenang aja, mawarputih-san. Author emang ada niatan untuk bikin cerita pake karakter DL lagi. Dan tentunya ada sedikit varian dalam cerita berikutnya. Tapi, sayangnya Author ngga tahu kapan bisa publish karena Real Life lagi lumayan sibuk. Kalo berkenan dan semoga berkenan, tetep ditunggu aja ya mawarputih-san.
Silvia Ki-chan : Ngga apa kok Silvia-chan, asalkan masih sempet memberikan review di serial EN ini hehehe. Wah, Author berharap Silvia-chan bisa menangin lombanya ya. Aih, Silvia-chan, pujianmu terlalu berlebihan. Ending macam kayak gini ngga bisa dibilang indah. Dibilang gantung iya, bagi partner in crime Author #curhat. Sip, terus ditunggu aja kelanjutan karya Author. Dan terima kasih sudah mengikuti petualangan Yuki-chan dkk di serial EN ini, Silvia-chan.
Dark Ougami : Hahaha, Dark-san ayo buruan cari paket kuota buat siaga kelanjutan cerita Yuki-chan dkk. Memang sedih serial EN harus berakhir, tapi side story-nya belom kok. Ini Author malah kasih chapter tambahan buat sedikit menjelaskan hubungan Yuki-chan dan Subaru. Karena maklum Author bikinnya gantung dan dapat banyak kecaman dari minna, apalagi partner in crime Author. Partner in crime Author tuh penggemar fanatik mereka berdua soalnya, wajar kalo Author harus dengerin ceramah panjang kali lebar kali tingginya #curhat. Ups, jangan bilang ke dia ya. Author bisa dibuat babak belur nanti. Oh, boleh tuh idenya. Sip, Author catat dulu ke note Author ya. Makasih buat idenya, Dark-san. Dan nggak apa kok Dark-san, semakin banyak review berisi semangat dan kritikan serta saran, semakin semangat Author buat lanjut di dunia fanfiction ini hehehe. Tetep tunggu karya selanjutnya dan jangan bosen menghadapi ketelatan Author buat update ya, Dark-san.
kurumi : Maapkan keterlambatan Author buat update, kurumi-san. Author tak akan banyak memberi alasan untuk yang satu ini. Hng, kalo mau gabung di dunia fanfiction jelas kurumi-san harus punya akun. Habis itu baru deh kalo kurumi-san punya cerita yang pengen di upload, tinggal dimasukin aja pake akun yang udah kurumi-san buat. Lalu, Author yakin akan ada penjelasan dari pihak fanfictionnya buat upload cerita yang kurumi-san mau. Mungkin kurang membantu karena Author sendiri agak bingung menjelaskannya gimana. Maapkan Author ya kurumi-san. Cara membuat cerita? Apa maksudnya cara upload cerita di fanfiction? Kalo memang cara membuat cerita, Author nggak bisa jawab karena Author sendiri pun terkadang hanya mengikuti apa yang Author imajinasikan dalam kepala dan sebisa mungkin menuangkannya dalam kata – kata. Lagipula, style orang membuat cerita itu berbeda. Aduh, maap ya Author nggak bisa jawab dengen bener nih pertanyaan kurumi-san #bersujud. Kalo misalkan ada yang ingin ditanyakan lagi, nggak usah sungkan buat tanya lewat kotak review ato PM ya kurumi-san.
Nah, Author kira segini dulu aja buat Author Note diawal tahun 2018 ini. Kalo kepanjangan yang ada minna malah kesel sendiri buat tahu bagaimana kelanjutan hubungan pairing utama kita. Jangan lupa, yang punya kritik, saran, atau ide silahkan langsung hubungi Author di kotak review ato PM ya. Author tunggu loh~
Chapter ini Author dedikasikan kepada fans berat Yuki-chan dan Subaru. Selamat menikmati.
.
.
.
Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author
Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~
Sort of Confession?
Merah. Itulah yang ia lihat saat ini.
Kesal namun takut. Itulah yang ia rasakan saat ini.
Berulang kali memberontak dan bertarung, dirinya tak pernah bisa menang. Jika memang bukan karena ingin bebas dari mimpi buruk tak berujung ini, ia tak akan mau menerima uluran tangan iblis. Jika memang bukan karena keempat saudaranya, ia tak akan mau menjual jiwanya pada iblis.
Semua ini untuk saudaranya, keluarganya yang berharga.
Kebenaran dibalik semua kejadian ini lebih mengerikan dibandingkan mimpi buruk manapun. Dirinya tak tahu harus bereaksi seperti apa, marah atau takut. Namun, kebenaran menyakitkan itu mampu membuat seluruh tubuhnya mati rasa. Pikirannya begitu kosong seolah dirinya bukanlah makhluk hidup, melainkan sebuah boneka yang dikendalikan oleh tangan bernama takdir.
"...ki..."
Niat untuk melawan balik takdir yang sudah membelenggu kebebasan mereka tentu saja ada. Akan tetapi, tubuhnya mendadak tak bisa digerakan. Sebagai gantinya, ia merasakan sakit luar biasa diseluruh tubuhnya. Tak ada jeritan kesakitan tatkala sakit itu bertambah, mencambuknya hingga air matanya keluar.
"...mi... ki..."
Ia harus melakukan sesuatu jika ingin terbebas dari semua mimpi buruk ini. Dendam ini harus dibalaskan kepada sosok mengerikan didepannya, yang tengah menyeringai penuh kemenangan dihadapannya. Oh, betapa membencinya ia dengan seringaian itu sampai tangannya gatal untuk merobek bibir tipis itu dari wajah tampannya.
"Mukami Yuki!"
"Hai?!"
Yuki spontan berdiri mendengar mejanya digebrak begitu keras. Tawa meledak dari teman sekelasnya, berbeda dengan guru cantik didepannya. Wajah penuh riasan natural itu terlihat begitu menakutkan, meski tak sama dengan kakak sulungnya jika sudah marah akan sama dengan murka Hades si penguasa neraka. Yuki meringis pelan dan bergumam minta maaf pada guru cantik yang merupakan wali kelasnya. Setelah mendapat ultimatum untuk datang ke ruang guru setelah jam berakhir, sang guru kembali ke depan untuk melanjutkan apa yang tertunda. Helaan nafas panjang keluar dari mulut Yuki. Ia berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada pelajaran siang ini. Apa boleh buat jika kantuk memenangkan perang batin beberapa menit lalu. Ia masih belum terbiasa dengan kehidupannya sekarang. Iris birunya menatap keluar jendela. Langit cerah tanpa semburat putih menerangi dunia penuh jingga keemasan. Sungguh, waktu empat tahun benar – benar berlalu dengan cepat.
Setelah kejadian mengerikan yang menguras tenaga dan hampir saja kehilangan kewarasannya, impian kecilnya berhasil tercapai. Bersama dengan keempat saudaranya, mereka memulai kehidupan baru sebagai keluarga tanpa adanya perintah orang lain. Akan tetapi, sebagai gantinya mereka harus mulai menemukan cara untuk bertahan hidup di Dunia Manusia. Jika dulu mereka mengandalkan Karl Heinz, kini mereka harus berjuang bersama agar kebutuhan terpenuhi. Ruki melanjutkan pendidikannya ke bangku universitas dan tentu saja mendapatkan universitas terbaik di kota. Bahkan ia mendapatkan beasiswa dan sponsor cukup besar berkat kepintarannya. Kou tetap bekerja sebagai idola dan berhasil memertahankan kepopulerannya meski banyak sekali saingan di zaman sekarang. Yuuma dan Azusa bertugas menjaga rumah karena mereka berdua memang tak tertarik untuk melanjutkan sekolah ataupun bekerja bersama manusia. Yuuma lebih memilih mengurus ladang sayurnya sebagai persediaan makan, sedangkan Azusa berusaha membantu pekerjaan rumah. Walaupun Ruki sudah menyuruh Azusa untuk diam tanpa melakukan apa – apa.
Yuki sendiri kini berada dibangku SMA kelas dua, melanjutkan pendidikannya yang tertunda. Awalnya ia tak mau kembali sekolah karena dirinya memang tak suka belajar. Apa boleh buat jika ini adalah hukuman Ruki untuknya. Seharusnya ia bersyukur karena masih diberikan hukuman yang terbilang ringan mengingat sifat sadis kakak sulungnya. Ia hanya perlu melanjutkan sekolah selama dua tahun setelah itu dirinya bebas melakukan apa yang diinginkan. Akan tetapi, ia diberikan syarat tambahan oleh Ruki, yaitu harus meraih peringkat satu di setiap ujian.
Tarik ucapan. Bagi Yuki yang tidak suka belajar, hukuman ini lebih berat daripada tidak mendapatkan jatah pai apel sebulan.
Helaan nafas panjang keluar dan perhatiannya kembali pada wali kelasnya sebelum mendapatkan ceramah panjang. Jika memang ingin bebas dari hukuman, ia harus berusaha. Tak ada yang tahu hukuman apa lagi yang menanti apabila melanggar perintah Ruki. Meskipun sudah berusaha menjaga konsentrasinya, pikirannya tetap melayang entah kemana. Ia sudah melakukan segala cara untuk menghalau sebuah ingatan terhadap seseorang yang cukup dirindukannya. Namun, alam bawah sadarnya seolah tak mengizinkannya melupakan sosok itu. Sejak kembali pada saudaranya, ia sudah tak mendengar kabar apapun dari Sakamaki bersaudara, kecuali Sakamaki Ayato dan Komori Yui. Keberadaan mereka hilang bagaikan ditelan bumi. Bahkan kabar mengenai Sakamaki Subaru tak pernah terdengar di telinga Yuki. Tentu saja, Ia tak terlalu memusingkan hal itu mengingat bagaimana hubungan mereka berdua. Dikatakan teman pun hanya Yuki yang menganggapnya seperti itu. Sejujurnya, ia menginginkan hubungan yang lebih dari sebuah pertemanan dengan Subaru. Apa daya jika perasaannya ini tak akan pernah terbalas karena Yuki berani bertaruh Subaru masih menyimpan perasaan pada Yui. Ia tak mungkin bisa menang dari gadis yang menyandang gelar Eve itu.
Memang lebih baik menyerah daripada harus merasakan sakit lebih dari ini, pikir Yuki.
xxx
Yuki meletakkan tumpukan buku terakhir diatas meja sebelum merapikan di rak buku sesuai urutan yang telah ditentukan. Setelah mendengar ceramah dan teguran cukup panjang dari wali kelasnya, ia diberi hukuman untuk membantu di perpustakaan sekolah. Beruntung hanya merapikan buku baru, meski jumlahnya cukup banyak mengingat perpustakaan sekolahnya besar dan terdiri dari dua lantai. Mengeluh pun percuma karena ini kesalahannya sendiri. Setelah mengumpulkan kembali semangatnya, ia memulai pekerjaannya sore itu. Sebisa mungkin ia melakukannya dengan cepat namun hati – hati. Ketika pekerjaannya sudah selesai, matahari sudah meninggalkan singgasananya. Yuki buru – buru pamit untuk pulang karena tak ingin membuat Yuuma serta Azusa khawatir. Ia mengeluarkan ponsel hitam yang dibelikan oleh Kou beberapa bulan lalu dan menekan beberapa angka. Decihan keluar dari mulutnya tatkala tak ada yang mengangkat teleponnya.
"Pasti ponsel mereka ditinggal begitu saja," gerutu Yuki sembari memasukkan kembali ponselnya. "Demi Lord Hades, apa gunanya Kou-kun membelikan ponsel jika tak mereka bawa disaat seperti ini?"
Yuki terus memacu larinya menuju stasiun kereta yang akan membawanya ke distrik tempat Mukami mansion berada. Kou sudah menyuruhnya untuk diantar jemput oleh supir tsukaima mereka. Namun, Yuki menolaknya dengan alasan tak mau membuat keributan di sekolah. Ia ingin menjalankan dua tahun di bangku SMA dengan tenang. Walaupun cukup mustahil sebenarnya mengingat Ruki terlebih Kou sangat terkenal. Tak jarang ada yang menitipkan berbagai macam surat cinta atau bingkisan kepada kakaknya tersebut. Parahnya, pernah ada yang mencoba mengikuti dirinya untuk bisa tahu dimana mereka tinggal. Berkat kekuatannya, ia berhasil lolos dari penguntit itu.
Ditengah racauannya sendiri, iris birunya tak sengaja menangkap sesuatu yang mampu menghentikan langkahnya. Nafasnya sedikit tercekat diikuti oleh jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Tanpa bisa dihentikan, ia sudah mengejar bayangan tersebut. Berulang kali Yuki harus meminta maaf pada orang yang ditabraknya. Ia terus mengejar bayangan tersebut tanpa peduli egonya yang memerintahkan untuk berhenti. Ketika Yuki berhasil mengejarnya, semua perasaan senang dan rindunya hilang dalam sekejap.
Bayangan yang ia kira Sakamaki Subaru ternyata hanya seorang pemuda asing.
"Ah, maafkan saya," ucap Yuki sedikit kecewa. Ia segera melepaskan jaket tebal pemuda itu dan pergi. Perasaan malu memenuhi dadanya. Bagaimana bisa ia membiarkan logika sehatnya tak berfungsi jika sudah menyangkut Sakamaki Subaru. Dirinya terlalu dibutakan oleh rindu sepihak menyebalkan. Tak jarang dirinya berkhayal bahwa Subaru berada didekatnya, menunggu waktu yang tepat untuk mengunjunginya. Demi Hades yang tampan, ia harus melupakan sosok cowok bersurai putih itu untuk melanjutkan hidupnya.
Baru beberapa langkah, Yuki bisa merasakan lengannya ditarik dengan kasar dan punggungnya dihempaskan ke dinding batu. Wajah pemuda asing terpantul diiris birunya, begitu dekat sampai Yuki bisa merasakan hembusan nafas hangatnya.
"Kau mau pergi, cantik?" tanya pemuda itu dengan seringai menyebalkannya. "Padahal kau sudah susah payah mengejarku hingga kesini."
Tatapan datar menjadi jawaban pemuda didepannya. Inilah akibatnya jika memaksakan perasaan diatas logika. Yuki menarik nafas panjang. "Bisakah anda melepaskan saya? Saya harus pulang dan tidak ingin membuat keluarga saya khawatir."
"Bagaimana kalau kita pergi berkencan malam ini? Aku tahu tempat yang bagus," sahut pemuda itu mengabaikan ucapan Yuki. "Keluargamu tak akan cemas jika membiarkanmu berada ditengah kota malam – malam."
Oh, betapa salahnya pemuda itu. Seandainya mereka tahu dirinya berada dalam situasi seperti ini, walaupun ia bisa mengatasinya, mereka akan langsung bertindak duluan. Terlebih Yuuma yang tak segan langsung menghabisi si pelaku. Sejak kepergian mendadaknya empat tahun lalu, kakak ketiganya itu menjadi semakin waspada dan mudah curiga terhadap Yuki. Tak peduli apapun caranya, ia akan membuat gadis bersurai hitam pendek itu mengatakan apa yang disembunyikannya.
Melihat Yuki yang diam, pemuda itu mengambil kesimpulan bahwa gadis itu setuju dengan ajakannya. Sedetik kemudian, sosok pemuda itu menghilang didepan Yuki, berhasil membuat si bungsu Mukami bersaudara mengedipkan kelopak matanya beberapa kali. Yuki menoleh kearah kanan dan mendapati pemuda itu sudah terduduk tak sadarkan diri. Kepalanya terluka cukup parah, belum lagi retakan besar di dinding batu. Ia hendak menghampiri pemuda itu, namun urung begitu mencium aroma menyesakkan itu. Secepat kilat, Yuki berbalik dan iris birunya kembali melebar untuk kedua kalinya hari ini.
"A..."
"Harusnya kau tolak ajakan manusia sialan itu?!" seru sosok itu geram. "Apa kau tidak menyadari kalau manusia sialan itu ingin sekali melakukan sesuatu yang menjijikan terhadapmu, hah?!"
Yuki ingin membalas ucapan sosok itu, sosok yang sudah mengalahkan logikanya sehingga ia berada dalam situasi itu. Apa daya jika lidahnya mendadak kelu dan tenggorokannya terasa kering bagaikan tak pernah tersentuh oleh cairan. Ia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memeluk Sakamaki Subaru yang berdiri dengan wajah garang didepannya. Belum sempat mengatakan sesuatu, lengannya sudah ditarik oleh Subaru. Hal yang lebih mengejutkan, spontan Yuki menepis kasar tangan si bungsu Sakamaki. Ia menyipitkan iris birunya, berusaha memberikan delikan paling tajam darinya. "Tentu saja aku tahu apa yang dipikirkan manusia itu," ketus Yuki. "Asal kau tahu, tanpa kau tolong pun aku bisa mengatasi hal ini. Kau pikir untuk apa aku membawa pisau lipat di saku jaketku?"
Iris merah darah Subaru sedikit melebar ketika menyadari apa yang berada ditangan kanan Yuki. Tepat seperti ucapan gadis itu, manusia sampah yang lebih memedulikan nafsu dibanding pikiran rasionalnya bukanlah tandingan Mukami Yuki. Apa boleh buat jika tubuhnya memiliki kehendak sendiri. Melihat betapa dekatnya wajah manusia tadi membuat darahnya mendidih. Begitu sadar dan kembali pada dirinya, ia sudah memukul manusia tadi sampai terlempar ke belakang. Subaru tak peduli jika manusia itu masih hidup atau sudah mati. Ia pantas mendapatkannya karena telah menyentuh apa yang seharusnya menjadi milik Subaru.
Ia mendengar decakan lidah dari Yuki dan barulah ia sadar suara beberapa orang di ujung gang kecil tempat mereka berdiri. Yuki menarik lengan Subaru sebelum akhirnya menghilang, berganti tempat di sebuah jalanan sepi. Penerangan ditempat itu begitu remang menyebabkan danau atau sungai, Subaru tidak tahu, terlihat begitu gelap dan dalam. Gadis itu menghela nafas pelan dan berjalan kearah pagar kayu. Kedua tangannya direntangkan keatas kemudian ia berbalik, menatap dalam Subaru yang masih berdiri mematung. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Jangan lupakan sinar jahil yang terpantul dalam iris biru langit tersebut. Inilah sosok Mukami Yuki yang berhasil menyita pikirannya beberapa waktu lalu, membuatnya tak tenang dalam tidur abadinya.
"Jadi, apa yang sedang dilakukan oleh Sakamaki Subaru disini?" goda gadis itu. Ia terkekeh pelan yang segera dibalas dengan delikan tajam Subaru. "Kau memang ahli menjadi stalker, Subaru-kun. Kuakui hal itu."
Subaru mendengus. "Aku tak ingin mendengar kalimat yang diucapkan oleh brocon sepertimu."
Yuki mengangkat kedua bahunya. "Aku tak akan menyangkalnya," ucapnya geli. Ia kemudian melipat kedua tangan didepan dadanya. Sinar jahil hilang dari wajahnya, digantikan oleh raut serius. Jelas sekali Yuki menginginkan jawaban atas kehadiran Subaru yang mendadak. Walaupun ia sudah menduga beberapa kemungkinan mengenai hal itu. Kemungkinan cowok bersurai putih itu untuk menemuinya, murni tanpa ada sesuatu dibelakang sangatlah mustahil. "Kau datang untuk meminum darahku," sahut Yuki datar, menyuarakan kemungkinan terbesar cowok itu berada dihadapannya.
Secepat kilat, Subaru sudah berdiri didepan Yuki, mengintimidasi gadis itu dengan iris merah darahnya yang terlihat lapar dan buas. Detik berikutnya, sebelum Yuki menyerahkan lehernya pada Subaru, cowok bungsu Sakamaki sudah menancapkan kedua taringnya. Sungguh beruntung penerangan taman kota cukup remang dan mereka berdua tidak berada dibawah sinar lampu taman. Yuki tak ingin ada yang melihat keadaan mereka saat ini. Apalagi sampai mengetahui bahwa eksistensi vampire itu benar – benar ada di dunia.
Tubuhnya merinding tatkala merasakan sesuatu yang dingin dan basah di lehernya. Ia mendorong sekuat tenaga tubuh Subaru walaupun cukup mustahil karena cowok itu tak ada niatan untuk melepaskan dirinya. Namun setidaknya, ia berhasil menciptakan ruang untuknya bernafas dan mengatur kepalanya yang mulai pening. "Kau sungguh tak punya kontrol jika sudah menyangkut darah ya, baka moyashi," ejek Yuki.
"Diamlah. Aku masih belum puas meminum darahmu," tukas Subaru.
"Lalu kau akan merasakan murka dari saudaraku," olok Yuki. Ia menyentuh bekas gigitan Subaru dan meringis pelan. "Aku butuh plester luka."
"Kau... terlihat baik – baik saja... untuk seorang vampire..." ucap Subaru pelan.
"Sebelum tahu aku memiliki darah vampire atau First Blood, gaya kehidupanku seperti manusia biasa," jawab Yuki. Ia memberanikan diri menatap wajah Subaru yang entah kenapa terasa dekat sekali dari wajahnya. Senyum kembali menghiasi bibirnya. "Kau juga terlihat sehat. Dimana saja kau selama ini, Subaru-kun?"
"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu?" dengus Subaru sambil mengambil selangkah mundur. Ia tak bisa berada dalam jarak dekat dengan gadis bersurai hitam itu. Dadanya selalu berdentum sakit diikuti pipinya yang menghangat. Subaru mengerti betul alasannya dan sampai neraka membeku pun, ia tak akan mengakuinya.
Yuki mengembungkan pipinya, sedikit mengerucutkan bibirnya yang entah kenapa ingin sekali Subaru gigit saking terlihat manis di iris merah darahnya. "Tentu saja. Kau itu temanku, demi anjing cerberus yang imut dan menggemaskan!" serunya.
"Aku tak pernah menganggap kau adalah temanku," balas Subaru tak mau kalah, melemparkan delikan tajamnya pada Yuki.
"Aku tak peduli kau menganggapku atau tidak. Kalau kubilang kau adalah temanku, berarti kau memang temanku, baka moyashi."
Subaru hanya mendengus dan berniat untuk pergi, tak kuat jika harus menghadapi gadis gila didepannya lebih lama lagi. Yuki samar – samar mengetahui hal itu segera menangkap lengan Subaru, menghentikan niat cowok itu. Ia harus berhasil menarik sebuah informasi penting darinya, yaitu dimana cowok bersurai putih itu menghabiskan waktu abadinya. Meski ia masih berada dalam hukuman Ruki, setidaknya ia bisa berkunjung sesekali untuk menjahili cowok tersebut. Selain itu, ia tak ingin hubungan mereka berdua berlanjut seperti ini, saling memanfaatkan demi kepuasan diri sendiri. Ia ingin lebih.
"Lepaskan atau kubunuh kau," ancaman Subaru berhasil menarik perhatian Yuki kembali.
Yuki menggelengkan kepalanya, semakin mencengkram kuat lengan Subaru. "Sampai kau memberitahuku dimana kau tinggal saat ini, aku tak akan melepaskannya."
Subaru menepis kasar tangan Yuki, namun tak berhasil karena gadis itu tetap berusaha menahan lengannya. Gerutuan yang dilimpahi umpatan terdengar. Tangan kiri Subaru yang bebas kini mencengkram kuat leher Yuki, membuat gadis itu sedikit kesulitan bernafas. Bukan raut ketakutan yang ia dapatkan melainkan wajah penuh tekad dan keras kepala, persis seperti sosok Yuki yang diingatnya. "Aku benar – benar akan membunuhmu kalau kau tak mau melepaskan tanganku," ancam Subaru dengan suara dingin.
"Tidak... akan..." sesak Yuki. Pasokan oksigen dalam paru – parunya mulai menipis. Ia bisa merasakan kepalanya semakin pening. Tapi, ia tak akan menyerah hanya karena hal ini. Dirinya sudah sering berada dalam situasi hidup dan mati. Lagipula, ia tak takut pada Subaru. Di dunia ini, hanya tomat dan amarah Ruki yang sanggup membuatnya ingin menguburkan diri kedalam lubang tak berujung. Decakan kesal keluar dari mulut Subaru. Ia kemudian melempar Yuki ke belakang, membenturkan punggungnya cukup keras di pagar kayu. Beruntung tenaga yang dikeluarkan Subaru tidak begitu besar hingga Yuki tercebur kedalam sungai. Nafasnya begitu pendek dan terdengar menyesakkan. Ia mengambil nafas dalam – dalam, meraup oksigen disekitarnya dengan rakus. Ditengah ia mengatur ritme nafasnya, Yuki memasang senyum menang, membuat Subaru nyaris melayangkan tinju sekadar menghilangkan seringai di wajah gadis itu.
"Jadi?" tuntut Yuki tak sabar.
Subaru hanya berharap ia tak akan menyesali keputusannya ini. Akan tetapi, sebuah bisikan mengatakan sudah terlambat untuk menyesal. Sejak takdir mempertemukan mereka berdua, sesuatu dalam dirinya berteriak untuk tidak berhubungan dengan gadis bersurai hitam pendek itu. Jika ia bersikeras melakukannya, penyesalan besar akan hadir dalam kehidupan tenangnya. Ia mengikuti instingnya berkat kesan awalnya terhadap Mukami Yuki. Menyebalkan, sok tahu, dan selalu memaksakan diri. Belum ditambah sifat jahilnya yang sanggup mendorong orang terkena penyakit jantung. Apa boleh buat jika gadis itu tetap memaksa berada didekatnya, beranggapan bahwa mereka adalah teman. Penyesalan yang ia abaikan dan simpan didalam pikiran kelamnya bertambah kala dirinya mencicipi darah gadis itu. Begitu manis, menggoda, dan sanggup menghilangkan fungsi akal sehatnya. Ia pun semakin merutuki takdir karena terpikat pesona aneh dari seorang Mukami Yuki.
"Subaru-kun?" panggilan halus Yuki membuyarkan lamunannya. Ia menghela nafas keras. Tatapannya ia alihkan, tak ingin melihat warna biru langit yang berkilau polos.
"Mansion ibuku yang dibangun ulang oleh Ayato," jawabnya pelan.
"Baik sekali Ayato-kun mau membangun ulang mansion ibumu," dengus Yuki geli. Alisnya sedikit bertekuk. Sinar jahil dan seringai lebar kini hilang dari wajah Yuki. "Kau baik – baik saja? Maksudku, kau tahu... setelah semua yang terjadi empat tahun lalu... kebenaran dibalik sikap ibumu..."
"Sejak awal, aku sudah menduga hal itu," sergah Subaru. "Kenapa kau begitu khawatir?"
Yuki menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia heran dan sedikit kesal melihat Subaru yang tidak peka terhadap perhatiannya. Saking frustasinya, Yuki tak sadar telah mengutarakan perasaan yang bermaksud ia simpan sampai ajal menjemputnya. "Karena aku menyukaimu, bodoh. Salahkah jika kita mengkhawatirkan orang yang kita suka?"
Hening. Iris merah darah Subaru melebar tak percaya mendengar pengakuan dari mulut Yuki. Sama halnya dengan Yuki yang langsung menutup mulutnya, seolah telah membeberkan sebuah rahasia negara. Merah menghiasi wajah mereka berdua. Subaru hendak mengatakan sesuatu, tapi terhalang oleh seruan Yuki yang tiba – tiba.
"Teman!" serunya, meralat ucapannya barusan. "A-aku menyukaimu sebagai teman! Tidak lebih dan tidak kurang! Camkan itu baik – baik!"
"A-aku tidak peduli!" balas Subaru sama kencangnya. Semburat merah masih terlukis jelas di kedua pipinya. "Su-sudah kubilang, aku bukan temanmu, sialan!"
Yuki mendengus sembari meletakkan kedua tangannya diatas pinggang. "Kau mau menolak sebanyak apapun, akan kuacuhkan. Sekali kubilang kau adalah temanku, kau memang temanku, baka moyashi."
Subaru menggeram. "Aku tak akan pernah menjadi temanmu."
"Oh? Kita lihat saja nanti, Su~ba~ru-kun~" tantang Yuki. Getaran halus di saku jaketnya mengalihkan perhatiannya. Ia segera mengambilnya begitu tahu nada dering yang terdengar. Sumpah serapah keluar dari mulut Yuki kala mendengar teriakan dari seberang telepon. Beruntung ia belum menempelkan di telinganya sehingga indera pendengarannya itu masih baik – baik saja.
"Oi, sialan! Kau dimana saat ini?! Ini sudah jam 11 malam!" seru Yuuma.
Yuki menghela nafas panjang. "Aku masih dijalan, sedang ada sedikit urusan," jawabnya. "Aku akan segera pulang. Jya ne," lanjutnya tanpa peduli protesan Yuuma diseberang. Ia menggerutu pelan pada kakaknya yang semakin protektif belakangan ini. Setelah mematikan ponsel hitam dan memasukkannya kedalam tas, ia baru menoleh pada Subaru yang masih berdiri ditempat. "Gomen, aku harus pulang sebelum Yuuma-kun menulikan telingaku dengan ocehan panjangnya."
"Pada akhirnya, seorang brother complex tak bisa lepas dari kakaknya ya," ejek Subaru yang dibalas Yuki dengan menjulurkan lidahnya. Pipinya sedikit memerah dan ia memberanikan diri bertanya, memastikan sesuatu yang membisikinya sejak tadi. "Kau... mengenai ucapanmu tadi... itu... sungguhan?"
Yuki sedikit memiringkan kepalanya, tak begitu mengerti maksud Subaru. Iris birunya kemudian melebar diikuti oleh kedua pipinya yang merah, tak kalah merah dengan iris mata Subaru. Melihat tingkah laku Yuki yang gugup entah kenapa membuat Subaru senang. Tapi, tak dipungkiri dadanya merasa sesak dan berharap jika hal itu memang benar. Dirinya tak masalah apabila perasaan Yuki masih berupa suka terhadap teman. Hati kecilnya sudah senang akan kenyataan menyenangkan itu. Bahkan, entah pikiran siapa yang berada didalam benaknya, ia sebenarnya tak masalah berteman Yuki, sosok terdekat disamping gadis itu selain keempat saudaranya.
Betapa salahnya pikiran Subaru karena Yuki justru berpikiran yang sebaliknya, menginginkan hubungan mereka melebih sebuah pertemanan.
Mengabaikan bahwa jantungnya berdetak tak karuan dan berharap Subaru tidak mendengarnya, ia memberikan cowok itu senyum lebarnya. Ia lalu mengulurkan tangan kanannya. "Aku justru merasa terhormat kau mau menjadi temanku, Subaru-kun."
Subaru mendengus pelan dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, menolak untuk menyambut tangan kanan Yuki. "Sayangnya, aku tak ingin berteman dengan gadis gila dan brother complex," ucapnya menyeringai lebar.
"Terserah kau saja, baka moyashi," balas Yuki tak mau kalah. "Jadi, kau mau mengantarku pulang?"
"Dan mendapat tinju dari saudaramu? Kurasa tidak," jawab Subaru cepat. Ia berjalan melewati Yuki dan menghilang setelah memberikan tepukan pelan di puncak kepala gadis itu. Yuki sempat membeku sebelum senyum penuh kebahagiaan terlukis dibibirnya. Sebelum amukan keempat saudaranya semakin parah, Yuki segera berteleportasi pulang. Meskipun ocehan panjang Kou dan Yuuma menghiasinya malam itu, senyum lebar tak pernah hilang dari wajah Yuki.
