Author : Baiklah, Author mengakui salah karena telah mengabaikan akun maupun cerita fanfic, terlebih kelanjutan hubungan Yuki-chan dan Subaru selama lebih dari setengah tahun. Seperti yang minna ketahui, Author sudah memulai kehidupan di lingkaran masyarakat, dalam artian Real Life yang bener - bener Real Life. Waktu buat Author kembali melanjutkan cerita fanfic ini hampir nggak ada dan bener Author menyesalinya.
Okeh, Author nggak akan menulis alasan kayak gini yang sampe panjang dan lebar dan tinggi terus bikin minna muak. Author benar - benar minta maaf #sujud
Kalau begitu, lanjut kebagian review. Etto...
Haruno Bara0201 : Dan akhirnya kelanjutan dari pairing kesukaan Haruno-san dan minna kembali lagi. Author sungguh minta maaf karena baru bisa update kelanjutan mereka berdua. Semoga Haruno-san kembali suka dengan pairing utama serial EN ini ya..
mawarputih : Mungkin itu juga termasuk, apalagi Yuki-chan emang brocon akut, mawarputih-san. Tapi, alasan utamanya sih karena Subaru itu tsundere tingkat akut. Jadi, sedikit wajar kalo dia ngga langsung akui perasaannya ke Yuki-chan. Dan disini, Subaru merasa dikit kok yang namanya api cemburu hehehe. Semoga aja tersampaikan oleh mawarputih-san dan minna. Lalu, makasih pake banyak dan penuh peluk untuk dukungannya. Terus maaf juga udah menunggu lama, mawarputih-san.
Hikari Uta : Terima kasih Hikari-san. Dan maap sudah menunggu amat lama buat tahu gimana kelanjutan pasangan tsundere kita. Langsung aja dibaca habis chapter ini ya
Dark Ougami : Selama Dark-san masih sempet review, perkara cuman satu kata itu udah berarti banget buat Author. Dan ngga masalah kalo duitnya dipake buat beli buku dan perlengkapan sekolah. Itu lebih penting buat Dark-san kedepannya. Anggaplah cerita fanfic yang Author buat ini buat pelepasan stress Dark-san. Lalu kapan mereka bakal nyatain perasaan masing - masing, kayaknya Dark-san harus nunggu lagi hehehe. Author juga minta maaf dengan sangat Dark-san. Untuk info personal kayak no dkk, mungkin Author ngga bisa kasih. Alasannya tentu ada macam - macam hehehe. Jadi, maapkan Author yak.
kurumi : Ngga masalah kok, kurumi-san. Selama kurumi-san masih mau berkunjung buat baca fanfic Author, apalagi buat tahu gimana kelanjutan pairing utama serial EN ini, Author udah bahagia banget. Justru imajinasi itu ngga ada batasan umurnya, kurumi-san. Imajinasi itu selalu ada kok, soalnya dia punya peranan penting buat kehidupan kita. Bayangkan kalo ngga ada imajinasi, pasti dunia tuh udah hampa banget, malah jadinya kaku #mendadak curhat. Itu sih pendapat Author saja ya hehehe. Dan jangan khawatir soal imajinasi yang tersendat. Author malah sering banget, bahkan ampe WB aka writer block karena imajinasinya berhenti ditengah jalan. Tapi, kalo emang kurumi-san punya waktu dan imajinasi banyak bolehlah dituang di fanfiction atau website lain buat menampung imajinasi itu. Jujur, Author juga sedikit penasaran kalo misalkan kurumi-san emang bikin cerita di web ini hehehe
Silvia-Ki chan : Iyaps, Silvia-chan. Dibilang kelanjutan EN sih sebenarnya hanya cerita tambahan mengenai hubungan Yuki-chan dan Subaru yang masih gantung di serial EN. Dan maapkan imajinasi Author yang jail, Silvia-chan. Tapi, mau bagaimana lagi kalo pasangan utama kita dua - duanya tsundere. Kayaknya bakal lama buat bikin mereka ngaku #sujud. Untuk beberapa chapter kedepan, kemungkinan besar Ruki dan Kou belom bisa hadir. Mereka akan Author simpan dulu #dibunuh ama Ruki dan Kou. Dan terima kasih atas semangatnya, Author sungguh berterima kasih Silvia-chan masih mau jadi penggemar setia serial EN ini. Lalu, Author udah update chapter baru jadi silahkan langsung dibaca saja~
Seenaa : Ini sudah di update lagi Seenaa-san. Dan maap sudah bikin Seenaa-san menunggu lama cuman buat tahu kelanjutan hubungan pairing utama kita #sujud
.
.
.
Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author
Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~
From Jealousy to Fighting
Decitan sepatu diikuti oleh teriakan penuh semangat dari luar lapangan menggema di dalam gedung olahraga. Jangan lupa pantulan bola yang masih menjadi rebutan tiap pemain. Waktu yang tersisa tinggal beberapa detik dan kedua tim masih gencar mencetak angka, sama sekali tak terlihat ingin mengalah. Terlebih lagi tim yang diisi oleh pemain muda. Mereka begitu antusias ingin mengalahkan tim senior. Ia berhasil mendapatkan bola yang diberikan oleh teman satu tim dan langsung berlari secepat kilat menuju ring lawan. Tak ada waktu untuk ragu karena iris birunya sempat melirik kearah wasit yang sudah menempelkan peluit dimulutnya. Akhirnya, ia mengambil langkah besar dan melemparkan bola jingga ditangannya ke dalam ring cukup kasar. Bersamaan dengan masuknya bola tersebut permainan sore itu diakhiri oleh tim junior.
"Oi Mukami! Sampai kapan kau mau bergelayutan diatas ring?" teriak pelatihnya.
Mukami Yuki terkekeh sambil melepaskan tangan kanannya. Ia mendarat sempurna diatas lantai kayu gedung olahraga. Teman satu timnya segera mengerubungi dirinya, berterima kasih dan melemparkan pujian karena aksinya barusan.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa dunk seperti tadi, Mukami-san," puji temannya yang bernama Hori. "Kupikir keahlianmu hanya di kakimu yang cepat itu saja."
"Itu yang dinamakan kekuatan mendesak, Hori-san," sergah Yuki malu.
"Jelas sekali itu tidak mungkin, anak baru!" tukas seniornya, Suzuki. "Tinggi ring itu dua kali lipatnya tinggi badanmu. Kalau mataku rabun, aku pasti sudah menganggapmu terbang tadi dan manusia jelas tidak bisa terbang."
Yuki hanya bisa terkekeh mendengar dengusan senior Suzuki. Ia membiarkan apa yang dikatakan oleh teman satu klubnya. Toh dirinya tak mungkin memberitahu identitas aslinya sebagai makhluk setengah First Blood setengah vampire. Pelatih klub basket memanggil anak didiknya untuk berkumpul di ruang ganti untuk membicarakan latihan hari ini. Ya, Yuki memutuskan untuk mengikuti klub basket sebagai pelampiasan rasa stressnya terhadap kegiatan belajar di sekolah. Ia sudah mencoba masuk dan mengikuti beberapa klub sebagai permulaan, meskipun didominasi oleh klub olahraga. Namun, hanya klub basket yang masih ia pertahankan karena ternyata olahraga tersebut cukup menarik. Ketika ia menyeritakan ini kepada saudaranya, sudah dipastikan mereka berempat menolak adik kesayangannya mengikuti kegiatan klub. Alasan paling kuat adalah mereka tak ingin Yuki pulang malam apalagi sampai cedera begitu mengetahui dirinya masuk klub basket. Yah, bukan Yuki namanya jika ia tak bisa meyakinkan saudaranya, terlebih Kou dan Yuuma untuk mengizinkannya. Kalau pun mereka berempat menolak, Yuki akan tetap nekat mengikuti klub basket ini sampai lulus. Menghabiskan waktu dua tahun berkutat dengan buku pelajaran saja, akan Yuki tolak sepenuh hati. Ia juga ingin merasakan hal lain macam kegiatan klub.
Usai mendengarkan evaluasi dan ceramah dari pelatih, semua anggota memutuskan untuk segera pulang mengingat sudah malam. Anggota kelas satu dan beberapa anggota kelas dua tinggal sedikit lebih lama untuk membereskan gedung olahraga, termasuk Yuki. Ia mengepel lantai kayu sedikit cepat dari teman - temannya, tak ingin membuat salah satu saudaranya datang menjemput. Ia tak ingin membayangkan apabila saudaranya, terlebih Ruki atau Kou datang hingga menyebabkan keributan. Pasalnya kedua kakaknya itu cukup terkenal, tidak, sangat terkenal di khalayak umum. Tak terkecuali siswi dan guru wanita di sekolahnya. Bahkan ibu penjaga kantin saja mengaku padanya bahwa ia fans berat Ruki, demi Lord Hades.
Yuki terlalu sibuk menyelesaikan pekerjaannya sampai tak sadar akan pekikan kecil yang dikeluarkan teman satu klubnya. Kemungkinan ia juga tidak akan peduli jika saja Hori tak menepuk pelan pundaknya, menyita perhatian gadis bersurai hitam pendek tersebut. Kepalanya ia miringkan sedikit tanda tak mengerti. Barulah ia paham maksud Hori yang hanya tersenyum penuh arti tatkala namanya dipanggil. Seorang cowok bersurai cokelat tua pendek berjalan menghampirinya. Tubuhnya tegap tinggi dan terlihat sekali otot yang terbentuk meski berbalut seragam dan jaket besar.
"Sawashiro senpai, otsukare sama desu," sapa Yuki sopan.
"Kulihat kau semakin jago bermain basket, Mukami," puji Sawashiro Touya, senior sekaligus ketua tim basket putra. Ia menepuk pelan puncak kepala Yuki, sesuatu yang sering dilakukan oleh seniornya tersebut sejak dirinya bergabung. "Kalau saja kau bukan cewek, mungkin aku sudah merekrutmu ke tim basket putra."
Yuki mengibaskan tangannya pelan. "Aku masih belum bisa dikatakan jago, senpai," tukasnya ringan. "Lagipula, kalaupun aku seorang cowok, jago atau tidak aku pasti akan ikut klub basket."
Touya tertawa pelan sembari mengacak surai hitam Yuki sebelum undur diri, katanya ingin membicarakan sesuatu dengan pelatih mereka. Ketika Yuki hendak kembali mengerjakan tugasnya, ia dicegah oleh Hori yang memasang wajah aneh. "Baiklah, ada hubungan apa kau dengan Sawashiro senpai, Yu~ki~chan?"
Alis Yuki bertaut. "Hanya hubungan biasa antara senior dan junior," jawabnya sedikit bingung.
"Tapi, dari apa yang kulihat tidak seperti itu," tukas Hori. "Jelas sekali senpai memiliki sesuatu terhadapmu."
Merepotkan, batin Yuki. Setelahnya ia tidak terlalu menanggapi godaan Hori mengenai hubungannya dengan Touya. Saat ini yang menjadi pusat perhatiannya adalah makan malam dan pai apel sebagai pelengkap makan malam. Ah, hanya memikirkannya membuat keinginan Yuki untuk segera pulang semakin bertambah. Oleh karena itu, ia menambah kecepatannya membersihkan lantai kayu gedung olahraga. Kemudian, tanpa menunggu lebih lama lagi dirinya segera berganti baju dan melesat pulang. Satu hal yang tidak ia perhitungkan adalah sosok di ujung koridor menuju gerbang sekolahnya. Yuki menelengkan kepalanya seidkit, merasa bingung dan mendekati sosok tersebut.
"Apa yang senpai lakukan disini?" tanya Yuki.
Touya tersenyum. "Mengantarmu pulang. Mana bisa aku membiarkan junior basketku pulang malam – malam."
"Senpai, aku tidak akan mengambil klub basket kalau takut pulang malam," tukas Yuki halus. "Lagipula, aku cukup kuat kalau ada yang berani macam – macam padaku."
Senyum Touya berkembang dan membuatnya tertawa. Ia mengusap puncak kepala Yuki dan berjalan duluan. Yuki hanya menghela nafas dalam diam. Ditolak dengan cara kasar pun, ia merasa seniornya akan tetap mengantarnya pulang. Sungguh tak mengenal apa itu kata menyerah. Maka dari itu, otaknya berputar singkat mencari alasan yang tidak mengundang amarah keempat saudaranya. Akan sangat merepotkan pastinya jika mereka menemukan aroma cowok ditubuhnya, meski samar. Bukannya Yuki membenci Touya. Ia justru menghormati bahkan menyukai seniornya. Kemampuan Touya bisa dikatakan lebih unggul dibandingkan dengan yang lain. Ia pun selalu menjadi andalan dalam hal basket atau diluar itu. Namun, yang membuat Yuki menghormati Touya bukan kemampuan seniornya tersebut. Touya mampu mengembalikan semangat teman timnya dalam keadaan terpuruk di lapangan. Sosoknya bagaikan sinar matahari pagi yang hangat dan menjanjikan hal baik akan datang pada sekelilingnya. Tak heran jika seniornya itu selalu dikelilingi oleh banyak orang, baik itu cowok maupun cewek.
Yuki pun juga tidak bodoh untuk menyadari perhatian lebih yang diberikan oleh Sawashiro Touya. Awalnya ia tidak menyadarinya dan menganggap perhatian tersebut karena ia anggota baru di klub basket. Dibandingkan dengan anggota tim basket putri yang lain, Touya sengaja menawarkan diri untuk menjadi pelatih disaat tidak ada jadwal latihan. Ia juga sering memberikan saran terhadap gerakan Yuki yang berfokus pada kecepatan kakinya. Terkadang, Touya suka mengajak Yuki makan siang diatas atap sekolah yang berujung gosip diantara teman sekelas dan klub. Mungkin dari sanalah Yuki sadar perasaan Touya. Ia sebenarnya senang akan tetapi hal itu tidak boleh terjadi. Perbedaan mereka berdua terlalu besar. Fakta tak terelakkan bahwa Yuki bukanlah manusia sama sekali tak boleh diketahui oleh siapapun. Ditambah dengan sifat keempat saudaranya, ia yakin mereka tak akan semudah itu menyetujui apabila Yuki menerima perasaan Touya.
Alasan lain Yuki tak bisa menerima perasaan Touya adalah sosok yang sampai saat ini belum bisa dilupakan, sekuat apapun ia mencobanya.
"Oi, Mukami. Daijoubu ka?" tanya Touya mengalihkan perhatian Yuki.
"Ah... un, daijoubu," balas Yuki cepat. "Aku hanya ingin segera sampai rumah. Perutku sudah berbunyi sejak tadi."
Touya mendengus geli. "Untuk ukuran cewek, nafsu makanmu lumayan banyak ya," godanya. "Bukankah tadi siang kau makan cukup banyak?"
"Semuanya sudah terbakar menjadi energi untuk latihan hari ini," tukas Yuki mengembungkan pipinya. "Sejak kecil, aku memang suka makan kok."
"Terlebih untuk pai apel," lanjut Touya yang disetujui oleh Yuki. Percakapan ringan terus berlangsung hingga mereka sampai didepan stasiun kereta. Touya terlihat sekali masih ingin bersama Yuki mengingat jalur kereta mereka berseberangan. Yuki hanya balik menatap Touya karena cowok tersebut terus memerhatikannya, beranggapan bahwa masih ada yang ingin disampaikan. Apapun yang berada dibenak Touya nampaknya harus disimpan ketika melihat raut wajah Yuki yang berubah. Gadis itu segera memerhatikan sekelilingnya, terlihat waspada akan sesuatu. Ia pun mengikuti arah pandang gadis itu, namun tidak melihat hal aneh yang membuat gadis junior didepannya seperti mangsa yang tersudut. "Mukami, ada apa?" tanya Touya sedikit khawatir.
Yuki sedikit tersentak, sadar jika dirinya masih bersama Touya. Ia menggelengkan kepalanya cepat dan memasang senyum. "Tidak apa – apa," jawabnya. "Kalau begitu, aku pulang dulu, senpai."
Tak mengindahkan panggilan Touya yang masih dilanda kebingungan, Yuki segera berlari dan menghilang ditengah kerumunan orang. Merasa cukup jauh dan tidak diikuti oleh Touya, ia menghentikan langkahnya. Meski hawa menusuk yang ia rasakan beberapa menit lalu sudah hilang, iris birunya tetap berkilat waspada. Ia tak ingin ada seseorang menyerangnya di stasiun yang sesak akan manusia. Alisnya sedikit berkerut, siapa pula yang menyimpan dendam padanya hingga memancarkan hawa menusuk. Kemungkinan besar penggemar berat Ruki dan Kou yang cemburu karena ia saudara mereka berdua. Jika memang benar, seharusnya ia tidak perlu merasa tegang dan bersikap seperti biasa. Ia sudah tidak heran jika ada beberapa orang yang sengaja mengikutinya dengan dalih bertemu Ruki atau Kou. Namun, hawa menusuk yang ia rasakan berbeda dari penggemar menyebalkan kedua kakaknya.
"Seperti hewan buas yang mengintai mangsanya," bisik Yuki. Buku jarinya sedikit memutih karena terlalu erat mencengkram tali tasnya. Dirinya mengumpat pelan ketika merasakan getaran di saku jaket hitamnya. Helaan nafas lega keluar begitu mendengar nada dering ponselnya sendiri. Tanpa melihat layar ponselnya, ia segera menjawab panggilan tersebut. "Aku berada di stasiun, jika kau ingin bertanya aku dimana saat ini."
Decihan terdengar dari seberang. "Kalau begitu cepat pulang, jangan sampai aku menjemputmu seperti kemarin."
"Hai~ Yuuma-kun~" Yuki segera memutuskan sambungan. Senyum simpul terlukis di bibirnya dan ia mengucapkan terima kasih kepada Yuuma yang berhasil menghilangkan rasa khawatirnya. Tak ingin menunggu kereta, ia melangkah ketempat sepi untuk berteleportasi. Ia sudah tidak ingin memikirkan apapun, kecuali pai apel buatan Ruki dan kasur tercintanya.
Sementara itu, sosok yang mengintai gadis bersurai hitam pendek tersebut hanya berdiam diri di kegelapan. Ia menahan diri sekuat tenaga meski amarah sudah menguasai dirinya, memaksanya untuk menyerang gadis tersebut. Tidak, lebih tepatnya menyerang manusia yang sejak beberapa minggu lalu terus bersama dengan gadis itu. Gemertak giginya semakin kuat tatkala wajah manusia itu muncul didalam benaknya. Tanpa peduli pada dinding malang disampingnya, ia melayangkan tinjunya hingga dinding tersebut retak dan nyaris hancur. Nampaknya, ia harus memberikan gadis bersurai hitam pendek itu sedikit pelajaran.
xxx
Belum pernah Yuki merasa diperhatikan sampai dirinya ketakutan. Dua minggu hampir berlalu dengan dirinya diikuti oleh seseorang yang sampai sekarang masih bisa bersembunyi dengan baik. Setiap hari, hawa menusuk yang diterima semakin kelam, membuatnya ketakutan dan tidak bisa fokus. Walaupun ia bermaksud menyembunyikannya dari keempat saudaranya, mereka tetap bisa menyadari ada yang aneh pada dirinya. Kou bahkan menawarkan diri untuk menjemputnya sesibuk apapun pekerjaannya saat ini. Namun, ditolak keras oleh Yuki karena tidak ingin mengundang perhatian lebih dari siapapun yang mengikutinya. Ia yakin sekali, siapapun itu pastilah penggemar berat Kou. Jika memang seperti itu, untuk berjaga – jaga Ruki memerintahkan tsukaima-nya untuk menyelidiki stalker kurang ajar tersebut. Ia bahkan menyuruh Yuki untuk tidak pulang malam, yang artinya tidak mengikuti kegiatan klub basket. Awalnya Yuki menolak karena basket adalah pelarian ketika ia stress dengan pelajaran di sekolah. Ia terus memaksa Ruki tetap mengizinkannya mengikuti kegiatan klub, sampai akhirnya Ruki memberikan syarat pada gadis itu.
"Kau masih boleh ikut dengan satu syarat," ucap Ruki. "Kau harus pulang jam 7, tak peduli kegiatanmu masih berlangsung atau tidak. Jika tidak, aku atau Yuuma akan menyeretmu pulang dengan paksa."
Yuki hanya bisa pasrah dengan keputusan kakak sulungnya. Namun, itu lebih baik dibandingkan tidak diizinkan sama sekali. Masalah penguntit yang tidak kunjung kelar dan kebebasan berlatih basket direnggut, rasa kesalnya semakin menumpuk. Jika ia tahu siapa penguntit itu, satu pukulan tak akan sanggup menghilangkan rasa kesalnya.
"Hei, kau baik – baik saja? Wajahmu terlihat seperti ingin membunuh seseorang," ucap Touya sembari memberikan botol minum kepada Yuki.
Yuki membalas dengan anggukan singkat dan gumaman terima kasih. Ia meneguk kasar isi botol tersebut, berusaha melupakan rasa kesal juga tenggorokannya yang kering. Tentunya bukan karena haus biasa, melainkan haus darah. Memang tak serutin keempat kakaknya yang masih mengonsumsi darah, Yuki meminum seperlunya saja dan jika memang ingin. Ia sendiri juga merasa aneh mengapa tiba – tiba seperti itu, padahal selama ini tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk meminum darah. Ruki mengatakan bahwa itu adalah insting vampire didalam dirinya, mengingat ia keturunan setengah vampire dan First Blood. Tangannya menyentuh lehernya yang terasa sedikit panas. Astaga, rasa kesal karena masalah yang tidak kunjung selesai membuat tenggorokannya semakin kering. Ia kembali meneguk isi botol minumnya.
"Kau yakin baik – baik saja, Mukami?" suara Touya kembali terdengar disebelahnya. "Wajahmu pucat seperti mayat."
Yuki tertawa miris dalam hati. Pada dasarnya aku memang mayat, batinnya. "Daijoubu desu," ucapnya singkat. Ia melemparkan senyum simpul pada seniornya tersebut. "Senpai terlalu khawatir."
Alis Touya masih berkerut, tak percaya dengan ucapan gadis dihadapannya. Ia menepuk pelan puncak kepala Yuki. "Kalau kau ada masalah, aku siap mendengarkan," sahutnya. "Aku tidak ingin juniorku memendam masalahnya sendiri."
"Aku yakin sekali, senpai," tukas Yuki. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun ditelan ketika merasakan kembali hawa menusuk itu. Segera Yuki menoleh ke belakang dan mendapati bayangan aneh didekat pintu gedung olahraga. Tidak ingin kehilangan kesempatan tersebut, ia segera berlari keluar ketika menyadari bayangan aneh itu berusaha kabur. Angin sore yang berhembus kasar berhasil menghentikan larinya. Iris birunya melebar tak percaya ketika menyadari aroma yang terbawa oleh tiupan angin. Yuki menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin orang itu ada di kota ini. Terakhir kali bertemu sekitar setengah tahun lalu, orang itu sendiri yang mengatakan tidak akan menemuinya untuk beberapa saat. Ia mengira itu hanya gertakan, omong kosong, mengingat bagaimana sifat dan tabiat orang itu. Namun, setelah menunggu satu bulan Yuki mulai memercayai ucapan orang itu. Pasalnya, orang itu akan datang seminggu sekali, secara diam – diam tentunya, untuk meminta darahnya.
Diantara rasa senang bisa bertemu kembali dan kesal karena kemungkinan besar orang yang menguntit dirinya adalah orang itu, lengannya ditarik oleh seseorang, menghilangkan kabut dalam benaknya. Iris birunya memantulkan sosok Touya yang terengah, menatapnya balik dengan cemas. "Ada apa? Kenapa kau tiba – tiba lari?"
Yuki hendak mengatakan Touya untuk kembali duluan, namun terhenti tatkala lengan kirinya ditarik paksa oleh seseorang dari belakang. Keduanya dibuat terkejut oleh sosok cowok bersurai putih yang tiba – tiba saja sudah berdiri diantara keduanya. Nafas Yuki tercekat diikuti dengan pikirannya yang mendadak kosong, tidak percaya dengan sosok didepannya nampak melindunginya. Akan tetapi, ia buru – buru menghilangkan perasaan senang yang membuncah. Jika memang sosok didepannya saat ini adalah stalkernya, jangan berharap ia bisa selamat dari ledakan amarah keempat saudaranya. Termasuk amarahnya sendiri.
"Siapa kau?" tanya Touya sedikit waspada.
"Kau sendiri siapa?" balasnya sama kesal.
Yuki segera berdiri diantara dua cowok tersebut sekaligus menghalangi Sakamaki Subaru untuk mencabut nyawa seniornya. Ia tidak ingin ada darah tumpah hingga dirinya terlibat dalam masalah merepotkan. "Sumimasen senpai, aku ingat ada urusan sedikit," ucapnya memberikan alasan. "Aku izin pulang duluan. Otsukare sama deshita."
Mengabaikan panggilan Touya, Yuki menarik paksa dan sekuat tenaga lengan Subaru lalu pergi menjauh. Ia harus bersusah payah mengingat betapa kuatnya cowok bersurai putih tersebut. Walaupun pada akhirnya ia merasa sia – sia dan berhasil ditepis kasar oleh Subaru. Beruntung mereka berdua berada di halaman bekalang gedung sekolah, tempat yang hampir tak pernah di kunjungi oleh siswa karena terdapat rumor aneh mengenai gudang bekas disana. Yuki menarik nafas pelan, kemudian mendelik pada Subaru untuk memberikan penjelasan kepadanya.
"Lalu, ada hal yang ingin kau jelaskan padaku, Sakamaki Subaru-kun?"
Subaru mendengus sembari menyilangkan kedua tangannya. "Tidak ada yang harus kujelaskan."
Terkutuklah para makhluk bodoh di dunia. "Tentu saja ada, baka moyashi!" seru Yuki geram. Ah, rasanya ingin sekali menghajar cowok didepannya itu sampai babak belur. Jika saja Yuki tidak ingat perbedaan kekuatan diantara mereka, mungkin sudah ia lakukan saat ini. "Apa maksudmu mengikutiku selama dua minggu ini?! Kalau kau punya masalah langsung saja katakan padaku! Sepengecut itu kah Sakamaki Subaru yang kukenal?!"
Subaru yang jelas tak terima dihina seperti itu, akhirnya tersulut emosi yang sejak tadi sudah meminta untuk dikeluarkan. Ia kemudian menarik kerah seragam Yuki. Kilat marah yang bersinar di iris merah darah Subaru sungguh terlihat bahaya. Yuki sempat ketakutan melihat sinar di mata Subaru, namun ia hilangkan dan tutupi. Siapa yang sudi takut oleh si bungsu Sakamaki bersaudara. "Kalau kau berani bicara seperti itu, apa itu artinya kau siap mati, onna?!" geram Subaru.
Yuki mendengus. "Silahkan bunuh aku dan kau akan merasakan murka dari penghuni neraka yang tinggal di Dunia Manusia," tantangnya.
"Kau yang memintanya, kuso onna!" sembur Subaru. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Yuki, bermaksud menghisap kering darah gadis itu. Namun, terhalangi oleh rasa sakit akibat surai putihnya yang ditarik kasar oleh Yuki. Ia bahkan berusaha menjauhi wajah Subaru dengan tangannya, menolak sekuat tenaga. "Lepaskan aku kuso onna! Kau sendiri yang minta mati!"
"Tidak sebelum aku mendengar penjelasanmu, stalker!" tukas Yuki.
Mereka berdua bergelut bagaikan tak ada hari esok. Terlebih untuk Yuki yang harus mengerahkan semua tenaganya untuk menghalangi Subaru. Yuki berhasil menjatuhkan Subaru ke tanah dan segera menahan tubuh cowok tersebut. Entah karena dibutakan oleh amarah atau pikiran kecil untuk bertahan hidup, ia mencekik leher Subaru. Tentu saja si bungsu Sakamaki tidak mau kalah oleh makhluk bernama Mukami Yuki dan memberontak. Keadaan berbalik dengan Subaru berada diatas tubuh Yuki, mencekik leher gadis itu dengan kuat. Yuki menendang bahkan menarik surai putih Subaru untuk bisa bebas. Meskipun tenaganya hampir hilang, Yuki tidak menyerah dan masih memberontak.
"Apakah ini rasa berterima kasihmu karena aku sudah menolongmu, hah?!"
Alis Yuki bertaut, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Subaru.
"Manusia yang kau panggil senior itu sudah lama mengincar dirimu. Kau adalah milikku, dan aku tidak akan membiarkan makhluk manapun menyentuh hak milikku!"
Cukup dengan semua kegilaan ini. Yuki meraih saku celana olahraganya, mengeluarkan pisau lipat yang selalu ia bawa setiap hari. Mengerahkan sisa tenaganya yang ada, ia menancapkan pisau lipat tersebut ke perut Subaru. Terkejut dengan serangan mendadak yang diberikan Yuki, Subaru langsung mundur dan membiarkan gadis itu menarik oksigen dengan rakus. Ia mencabut pisau lipat Yuki dari perutnya, tidak peduli pada luka dan rasa sakit tersebut.
"Milikku?" ulang Yuki dengan suara serak. "Milikku, katamu?! Jangan bercanda! Aku bukan barang, vampire sialan! Aku punya hak dan keinginanku sendiri!"
Demi semua penghuni Dunia Bawah, apakah Subaru sudah kehilangan akal sehatnya. Beraninya ia mengatakan hal itu padahal yang terjadi sebenarnya adalah kebalikan. Ditambah dengan satu fakta penting bahwa cowok itu menolak ajakan Yuki untuk menjadi temannya. Apa hak Subaru yang tiba – tiba datang dan berkata bahwa ia adalah milik cowok bersurai putih itu. Jangan bercanda.
"Itu faktanya, kuso onna!"
"Fuzakenaide!" seru Yuki, tak peduli jika pita suaranya akan rusak ataupun siswa yang mendengar suaranya. Sungguh mengiurkan sekali untuk menancapkan pisau lipatnya lagi kepada Subaru, lalu menghisap habis darahnya. "Sejak kapan aku menjadi milikmu, hah?! Kau duluan yang menolak berteman denganku! Sekarang, kau muncul tiba – tiba dan berkata omong kosong?! Leluconmu tidak lucu, kuso moyashi!"
Geraman penuh kemarahan diikuti oleh kilat penuh bahaya menyelimuti halaman belakang sekolah. Yuki menelan semua ketakutannya melihat aura tak menyenangkan dari Subaru. Tidak sudi ia takut hanya karena seorang Sakamaki Subaru. Nafas Yuki tersentak dan ketika sadar, dirinya sudah kembali dicekik oleh cowok bersurai putih tersebut. Dirinya terperangkap oleh dinding gudang bekas dan ia nyaris tak sanggup untuk melawan balik kekuatan Subaru. "Sejak awal aku memang tidak berniat berteman denganmu! Kau sendiri yang menawarkan darahmu kepadaku. Itu sudah menjadi bukti kuat kau adalah milikku, sialan!"
"Hanya... karena aku... memberikan darahku... kepadamu..." ucap Yuki terbata – bata. "Bukan berarti... aku mau... menjadi... milikmu..."
"Aku tidak peduli hal macam itu," desis Subaru. Masih mencengkram erat leher Yuki, ia merobek kerah kaus olahraganya dan menancapkan taringnya dipundak gadis itu. Iris biru Yuki melebar dan ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Subaru. Dibandingkan perasaan bahagia dan rindu ketika tahu Subaru adalah stalkernya, ia merasakan sakit bagaikan ditinju oleh Yuuma. Rasa nikmat terpuaskan yang biasanya ia dapat digantikan oleh sakit, seperti terbakar. Hilang sudah semua perasaan itu bagaikan air yang menguap. Hilang sudah sosok berharga Sakamaki Subaru sebagai pujaan hatinya. Apabila memang itu yang dipikirkan oleh si bungsu Sakamaki, mustahil perasaan ini akan terbalas. Apabila memang Subaru menganggap dirinya hanyalah bank darah, mustahil keduanya dapat hidup berdampingan. Semua tindakan Subaru saat ini sungguh mirip dengan Karl Heinz, yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Ternyata memang benar, ayah dan anak sama saja," bisik Yuki. "Hanya memikirkan keegoisan masing – masing, tanpa peduli apa yang dirasakan orang lain. Kupikir, kau akan berbeda dengan vampire tua itu."
Subaru yang mendengar bisikan tersebut mendongakkan kepalanya. Iris merah darahnya melebar tatkala mendapati gadis bersurai hitam itu menitikkan air matanya. Tanpa sadar, cengkraman dileher Yuki mengendur, membebaskannya. Namun, ia tidak memakai kesempatan itu untuk kabur atau setidaknya menjauh. Gadis itu hanya berdiri sambil menunduk, seolah rumput liar yang tumbuh di halaman belakang sekolah lebih menarik untuk dilihat. Hening tercipta yang membuat suasana semakin keruh. Baru saja Subaru ingin mengulurkan tangannya, Yuki membalikkan tubuhnya kemudian menghilang begitu saja. Subaru mendecih sebelum melayangkan tinjunya di dinding gudang bekas, menimbulkan retak hingga berlubang. Amarah memenuhi dirinya hingga ia ingin sekali menghancurkan gudang bekas disampingnya atau bahkan membunuh seseorang. Tetapi, dibalik amarah tersebut ia merasakan sakit yang luar biasa disekitar dadanya, membuatnya sesak.
"Aku kecewa padamu, Subaru-kun."
"Cih!"
xxx
Yuki menghapus sisa air mata yang masih saja mengalir dengan seenaknya. Hembusan angin menerbangkan surai hitamnya dengan kasar, seolah menertawakan dirinya. Luka akibat gigitan Subaru sudah ia tutupi dengan plester luka. Tapi, Yuki tidak yakin jika itu cukup untuk mengelabui saudaranya. Ditambah dengan kondisinya seperti ini, rasanya bukan mustahil akan ada perang atau perburuan. Ia sudah tidak mau memikirkan apapun mengenai cowok egois dan menyebalkan dengan nama Sakamaki Subaru. Persetan dengan masalah cowok itu yang hanya bisa meminum darahnya. Biarkan saja ia mati dan membusuk bersama Hades. Semua rapalan kutukan yang diketahuinya ia panjatkan untuk Subaru. Hanya karena darahnya bisa menghilangkan rasa haus Subaru, lantas menganggap bahwa dirinya adalah milik cowok itu. Ia bukan barang yang bisa digunakan setiap kali dibutuhkan. Meskipun dirinya adalah vampire, ia masih memiliki hak dan keinginan sendiri layaknya seorang manusia. Ia kesal dan marah, namun tak bisa dipungkiri jika dirinya merasa dikhianati.
"Yuki? Apa yang kau lakukan disitu?" tanya Yuuma bingung. Alisnya sedikit berkerut melihat adik perempuannya, sedang duduk diatas rumput dengan mata sembab. Selain itu, ia masih memakai baju olahraga yang anehnya kerah kausnya sobek. "Bagaimana dengan klub basketmu itu? Kau sendiri ya- Oi, ada apa?!"
Yuuma hampir saja jatuh jika tidak memiliki keseimbangan yang cukup bagus. Beruntung, keranjang ditangannya belum penuh oleh sayuran dan buah sehingga kalimat penuh makian tidak ia lontarkan pada Yuki. Tapi, satu hal yang tidak dibayangkan oleh cowok penyuka gula batu itu adalah tubuh gadis dalam dekapannya bergetar. Ia bahkan bisa merasakan kaus hitamnya mulai basah. Sadar jika Yuki menangis, Yuuma langsung menggendong adiknya dan membawa pulang. Keadaan semakin ruyam tatkala Kou yang baru saja pulang melihat keadaan Yuki. Padahal ia tidak ingin membuat saudaranya khawatir, sayang air matanya tidak bisa dihentikan. Ia tidak peduli jika nanti akan diinterograsi oleh keempat saudaranya. Saat ini, ia hanya ingin melepaskan semua rasa sakit akibat kembali dikhianati.
Senpai : Senior
Otsukare sama desu/deshita : Terima kasih atas kerja kerasnya
Daijoubu ka : Kau baik - baik saja?
Kuso onna : Wanita sialan
Fuzakenaide : Jangan bercanda
Baka moyashi : Tauge bodoh
Kuso moyashi : Tauge sialan
Author : Yak berhubung pairing utama kita berantem kayak pasutri baru #ditabok Yuki dan Subaru, mari kita doakan semoga mereka cepet baikan. Oh iya, sebenarnya Author dapet ide lumayan bagus dari Partner in Crime Author yang udah lama ngga keliatan batang idungnya saking sibuk ama kerjaan masing - masing. Jadi, Author harap minna masih mau mampir buat baca chapter khusus tersebut yak hehehe
Sekian dari Author telat ngga tau diri yang udah bikin minna khawatir dan kecewa. Semoga kita masih bisa berjumpa lagi
Bye bye
P.S. Author : Semoga kau tenang dan selamat sampai chapter depan Subaru. Author dan minna akan mendoakan keselamatanmu dari tangan Mukami bersaudara.
