Author : Yahuu~ kembali lagi bersama Author dengan omake aka cerita tambahan pairing utama kita~
Maapkan Author yang selalu telat untuk mengupdate cerita terbaru ampe ada yang protes karna chapter kemarin berakhir dengan pairing utama kita yang berantem ala pasutri #ditabok fans EN series. Yah, berkaca pada kesalahan kemarin dan masih dengan alasan yang sama, Author tidak akan menulis AN panjang - panjang karena Author yakin minna pasti udah pada penasaran gimana kelanjutan hubungan Yuki-chan dan Subaru. Kalo begitu, sebelum kita masuk ke cerita, izinkan Author untuk membalas review dulu yak
Haruno Bara0201 : Puji Syukur, keadaan Author bisa dikatakan lebih baik daripada sebelumnya. Udah bisa balik ngatur waktu buat nulis meski yah masih ada aja kesendat ato kena writer block. Tapi, Author selalu mengusahakan untuk tetap nulis kelanjutan cerita fanfiction ini. Dan yap Haruno-san, mereka berdua berantem. Pastinya Haruno-san dan minna tau ya penyebab mereka berantem, apalagi alasan baka moyashi #ditabok Subaru, tiba - tiba dateng terus ngomong gaje gitu hehehe. Ini sudah dilanjut, Haruno-san. Mari langsung dibaca~
Seenaa : Ya, akhirnya bisa update juga Seenaa-san, setelah sekian lama hiatus hiksu hiksu. Maap udah bikin Seenaa-san dan minna menunggu lama dengan harapan palsu. Langsung aja dibaca chapter berikutnya~
Meskipun Author hanya menerima review sedikit (yah udah biasa juga sih dapet sediki, mengingat telatnya Author update hehehe), tapi hati Author ini udah berbunga - bunga. Padahal update chapter kemaren itu termasuk super duper pake amat sangat lama, minna masih mau berkunjung buat baca kelanjutan cerita EN series ini. Kata terima kasih pun nggak akan cukup buat ngungkapin betapa senangnya Author punya pembaca kayak minna #sujud syukur
Okeh, daripada mendengarkan curhatan gaje ala Author ini, langsung capcus aja yuk ke chapter dibawah. Siapkan kripik pedas di akhir cerita minna. Enjoy it~
.
.
.
Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author
Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~
Regret and Resolution
"Ternyata, ayah dan anak sama saja."
Entah karena rasa haus atau sosok menyebalkan yang baru saja dilihat, membuat Subaru tersadar sepenuhnya. Ia mendengus kesal sebelum memejamkan kembali matanya. Akan tetapi, bukan kegelapan yang menyambutnya melainkan sosok seseorang. Tangannya mengacak surai putihnya kesal. Kalimat rutukan ia tujukan pada dirinya sendiri yang dengan berani memikirkan seseorang bernama Mukami Yuki. Padahal ia sudah memutuskan untuk melupakan gadis tak tahu berterima kasih, tetap saja alam bawah sadarnya tidak mengizinkan. Ditambah lagi, setiap kali pikirannya melantur kepada Yuki, ia selalu merasa sesak di sekitar dadanya. Ia mengerti alasannya, sayang egonya terlalu besar untuk mengakui hal tersebut.
Terima kasih kepada Mukami Yuki, selama hampir tiga bulan ini kedamaian yang selalu ia banggakan hampir tak pernah dirasakan. Meskipun sudah meminum darah dari sembarang orang di Dunia Manusia, masih belum mampu meredakan amarahnya. Parahnya rasa hausnya itu semakin menggila hingga ia pernah menghisap darah manusia sampai kering. Hal itu pun tidak terjadi sekali melainkan berkali – kali. Beruntung perbuatannya itu tidak menimbulkan kepanikan besar sehingga ia masih bisa bernafas saat ini. Jika memang terjadi, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Reiji terhadap dirinya. Sebenarnya, Subaru tidak perlu khawatir karena sejak Ayato menjadi pemimpin Dunia Bawah, mereka berenam memutuskan untuk hidup sendiri. Tapi, seolah ada tangan jahil yang ikut campur, entah bagaimana caranya, terkadang mereka suka berkumpul di mansion Ayato dan Yui.
Subaru mengerang pelan. Tangan kanannya menekan lehernya yang masih terasa panas akibat rasa hausnya. Ia bisa saja nekat pergi ke tempat Yuki dan menghisap darah gadis itu. Namun, sesuatu menghentikannya tiap kali ia menyiapkan diri untuk pergi. Ia berulang kali menegaskan bukan karena takut pada Mukami bersaudara yang sudah pasti akan melindungi Yuki. Bukan pula karena Yuki sudah menusuknya. Ia justru ingin membalas perbuatan gadis itu dengan menghisap habis darahnya. Persetan dengan dirinya yang akan dibunuh oleh Mukami bersaudara. Jika memang gadis itu mati ditangannya, sama saja dengan kematian Subaru. Tidak ada darah selain Yuki yang bisa menghilangkan rasa hausnya. Namun, menyebalkannya lagi, jauh didalam pikirannya, ia tahu mengapa dirinya tidak bisa bertemu dengan Yuki. Egonya sungguh memenangkan seluruh kendali tubuhnya, berbanding terbalik dengan instingnya yang memberontak hebat. Dirinya yang hidup mengandalkan insting pun mulai ragu. Benarkah ini keputusan yang tepat untuk menyerahkan semua hal kepada egonya.
Pusing dengan pemikirannya sendiri, Subaru menutup peti matinya dan mencoba kembali tidur dalam kegelapan. Ia menarik nafas pelan kemudian berusaha mengosongkan pikirannya. Untuk saat ini, selama dirinya masih dalam kondisi wajar, ia ingin beristirahat dalam damai. Tepat alam bawah sadar menarik Subaru, dirinya mendengar suara asing yang sanggup membuat dadanya kembali sakit.
"Aku kecewa padamu, Subaru-kun."
xxx
Lantunan musik klasik yang diputar melalui music player memenuhi kamar Yuki. Beberapa buku, kebanyakan buku referensi dibiarkan terbuka dan berserakan di lantai marmer beranda kamar. Penghuni kamar itu sendiri sedang duduk bersandar pada pembatas beranda, menatap kosong setangkai mawar putih. Angin malam di musim panas berhembus sedikir kasar, berhasil menyadarkan Yuki dari lamunan panjangnya. Iris birunya menatap buku bergambar diatas pangkuannya yang terbuka lebar dan menunggu untuk dilanjutkan. Bibirnya mengerucut sedikit kemudian menyingkarkan buku tersebut. Huruf kaligrafi elegan yang bertuliskan Adam and Eve terpantul diiris birunya sebelum ia tutupi dengan buku catatannya. Entah apa yang ada didalam pikirannya ketika mengambil buku bergambar tersebut dari perpustakaan Ruki. Pun ia juga tidak mengerti mengapa kakak sulungnya itu memilikinya. Yuki menggelengkan kepalanya pelan sebelum mengambil buku bergambar lain. Diantara buku bergambar yang ia ambil dari perpustakaan Ruki, pilihannya jatuh pada Little Red Riding Hood.
Tugas liburan musim panas miliknya hampir selesai dan ia membutuhkan sedikit hiburan. Beberapa teman kelas dan teman klub basket mengajaknya untuk menghabiskan sisa liburan musim panas dengan bermain. Akan tetapi, Yuki tidak tertarik dan lebih memilih berada di rumah. Lagipula, selama liburan ini hampir setiap hari ia disibukkan oleh sesuatu, berkat keempat saudaranya. Ruki membantu Yuki mengulang pelajaran dan mengerjakan semua tugas sekolahnya, walaupun pada akhirnya gadis bersurai hitam itu menyerah karena terlalu banyak tugas. Meski begitu, setiap sesi belajar selesai, kakak sulungnya tersebut selalu menghadiahi Yuki pai apel sehingga dirinya tidak bisa mengeluh. Kou terkadang membawa Yuki ke tempat pemotretan dan ia pernah ditawari oleh salah satu majalah untuk dijadikan model tetap. Tapi ditolak mentah oleh Yuki karena sama sekali tidak berminat di dunia permodelan. Jika kakak keduanya memiliki waktu luang, mereka juga suka mengeliling kota dan kafe yang pastinya menjual pai apel.
Lain hal dengan Yuuma yang setiap pagi dan sore selalu memaksa Yuki untuk membantunya di kebun. Jika sore hari Yuki masih akan membantu walaupun mengeluhkan satu atau dua hal, sedangkan untuk pagi hari apabila bisa ia akan membantah sekuat tenaga. Sejak dulu, Yuki bukan termasuk orang yang suka bangun pagi jika tidak ada keperluan. Penyebabnya tentu kesehariannya dilalui saat malam hari. Meskipun sudah cukup lama dirinya menjalani kehidupan layaknya orang normal, bangun di pagi hari bukanlah sesuatu yang Yuki sukai. Setidaknya, ia mulai membiasakan diri secara perlahan jika tidak ingin indera telinganya rusak akibat mendengar ocehan kakak ketiganya itu. Berbeda dengan ketiga kakaknya yang memang selalu menyibukkan Yuki, Azusa justru menawarkan pundak dan telinga untuk semua keluh kesah gadis bersurai hitam tersebut. Tak jarang juga Yuki mendengarkan percakapan Azusa dengan teman luka-nya, yang menurut gadis itu cukup menarik. Pasalnya, Azusa hampir tidak diperbolehkan melakukan sesuatu jika tidak diawasi. Pun kakak keempatnya itu tidak terlihat ingin melakukan apapun, kecuali mengasah koleksi pisaunya atau berbicara dengan teman-nya.
Keseharian seperti itu terus Yuki jalani demi melupakan sosok menyebalkan yang masih saja menghantui dirinya. Saudaranya nyaris saja memburu Sakamaki Subaru begitu mengetahui alasan Yuki menangis tiba – tiba dengan luka gigit di lehernya. Dirinya tentu saja berhasil meredakan amarah mereka berempat, terutama Yuuma. Sejak saat itu, salah satu dari mereka pasti akan menjemput Yuki ke sekolah, mengabaikan protesnya tentu saja. Mereka tak ingin Subaru datang tiba – tiba dan menyerang Yuki, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Yuki tahu itu, karena ia paham sekali tabiat Subaru. Selain itu, sekuat apapun cowok bersurai putih tersebut, datang dan menantang keempat saudaranya sama saja dengan mati. Yah, selama ia tidak melihat wajah menyebalkan makhluk bernama Sakamaki Subaru, itu sudah cukup. Apapun itu, ia tak ingin berhubungan lagi dengan Subaru dan merasakan pahitnya dikhianati.
Yuki masih asik berpetualang di dunia fantasi ketika menyadari aroma manis harum yang menguar di kamarnya. Iris birunya memantulkan sosok Ruki yang membawa sebuah nampan, berisi cokelat hangat dan satu loyang kecil pai apel. Senyumnya merekah dan langsung melahap pai apel tersebut.
"Kunyahlah yang benar," tukas Ruki sembari duduk disamping Yuki.
Yuki hanya membalasnya dengan anggukkan kecil.
"Kau sudah menyelesaikan semua tugasmu?" tanya Ruki menyadari beberapa tumpuk buku cerita bergambar. Yuki menjawab dengan anggukkan penuh bangga. "Tugas dariku?"
"Sudah!" serunya senang. "Aku bisa mengerjakan tugas sekolah setelah menyelesaikan tugas dari Ruki nii. Ternyata cukup mudah setelah tahu triknya."
Ruki mengusap puncak kepala adiknya. "Kalau begitu, aku akan memberikan tugas yang lebih sulit dari ini."
"Selama Ruki nii masih mau memberiku pai apel setelah belajar, kurasa... tidak masalah," ucapnya yang dibalas dengusan geli.
Ruki mengambil buku bergambar yang ada di pangkuan Yuki, tak ingin koleksi bukunya ternodai. Iris peraknya memerhatikan gambar seorang gadis bertudung merah yang sedang berjalan menuju hutan, tanpa tahu seekor serigala mengikutinya dari belakang. Jari lentiknya kemudian membuka halaman selanjutnya, rumah gubuk yang terlihat asri berada ditengah hutan.
"Walaupun sudah membacanya berulang kali, aku masih sedikit tidak mengerti dibeberapa bagian," ujar Yuki tiba – tiba. Ia meneguk sekali cokelat hangatnya. "Pertama, bagaimana caranya si Serigala menyamar menjadi si Nenek padahal waktunya tidak begitu banyak. Kedua, bagaimana caranya si Pemburu tahu kalau si Tudung Merah sedang dalam bahaya padahal tidak ada bagian ia berteriak minta tolong. Ketiga, nasib si Serigala. Apa dia berhasil kabur ataukah dibunuh oleh si Pemburu."
"Bagaimana kau tahu Serigala tidak punya waktu untuk menyamar?" tanya Ruki.
Yuki mengambil buku tersebut dan membuka beberapa halaman. Ia menunjukkan bagian ketika si Tudung Merah sampai di rumah sang nenek, tanpa tahu bahwa si Nenek sedang dilahap oleh Serigala. Kemudian ia menujukkan halaman berikutnya, Tudung Merah masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Serigala yang sudah menyamar menjadi si Nenek.
Ruki mengangguk mengerti. "Lalu, pertanyaanmu yang kedua?"
Dengan patuh, Yuki membuka halaman ketika si Pemburu tiba – tiba masuk, menghalangi Serigala yang bermaksud memakan si Tudung Merah. Ia juga menunjukan halaman sebelumnya, tepat ketika Tudung Merah bertanya karena merasa aneh dengan kondisi Neneknya.
"Pertanyaanmu yang ketiga?" lanjut Ruki, masih belum ingin menjawab pertanyaan mendadak Yuki.
Yuki lalu membuka halaman terakhir, melukiskan si Pemburu berlari bersama Tudung Merah keluar dari hutan.
"Sebenarnya ada beberapa versi cerita dari Little Red Riding Hood. Tapi, berdasarkan buku cerita aslinya, sebenarnya ditengah jalan si Serigala bertemu dengan Tudung Merah. Ia menyarankan Tudung Merah untuk memetik bunga liar yang sedang mekar, sementara dirinya pergi memakan si Nenek. Lalu, Pemburu bisa menyelamatkan Tudung Merah karena ia menyadari ada jejak selain penghuni hutan. Sayangnya, ia terlambat menyelamatkan Tudung Merah. Setelah itu, si Pemburu menembak mati Serigala," jelas Ruki.
Yuki menganggukkan kepalanya. "Sadis untuk ukuran cerita anak," gumamnya.
"Kau berkata seperti, tapi matamu berbinar," Ruki mendengus geli.
"Dibandingkan cerita yang memiliki akhir membahagiakan namun penuh kebohongan, aku lebih memilih cerita tragis tapi semua kebenaran terungkap. Entah itu oleh tokoh utamanya atau narasi dari penulisnya," aku Yuki.
"Tidak biasanya kau mengucapkan sesuatu yang bermakna seperti itu, Yuki," ujar Ruki.
"Ruki nii mengejekku ya?"
Ruki menepuk puncak kepala Yuki, tak ingin menanggapi. Iris peraknya tak sengaja menatap sebuah vas kaca, berisikan setangkai mawar putih. Lalu beralih pada adik perempuannya yang bergumam pelan mengenai buku bergambar dengan judul baru, The Wizard of Oz. Tidak ada perubahan, seolah kejadian tiga bulan lalu tidak pernah ada. Hari itu, untuk pertama kalinya setelah mereka menjalankan hidup bersama, Yuki menangis. Dirinya yang hampir tidak pernah berkata egois pun, memaksa untuk tidak meninggalkannya sendiri barang sedetik pun. Tidak ada kata selain amarah yang memenuhi pikiran mereka berempat kala itu. Bahkan Yuuma sudah siap untuk memburu Subaru jika tidak dihentikan oleh Yuki. Mereka berdua tentu saja bertengkar dengan anggapan bahwa Yuki masih saja melindungi cowok tersebut, namun dibantah tegas oleh adiknya. Dari sanalah terbongkar mengapa Subaru bisa bertemuYuki, mengabaikan cowok bungsu Sakamaki tinggal di Dunia Bawah saat ini. Alasannya tak lain dan tak bukan untuk meneguk darah Yuki. Ia juga menambahkan, entah bagaimana, hanya darahnya saja yang mampu menghilangkan rasa haus Subaru. Tidak ada yang menyangka bahwa selama ini Yuki diam – diam memberikan darahnya. Pun meminta darah Subaru sebagai imbalannya. Seharusnya tidak ada masalah, mengingat asal usul Yuki sebagai keturunan vampire dan First Blood. Akan tetapi, selama ini, diantara mereka berempat, hanya Yuki yang jarang meminum darah secara rutin dan gadis itu sendiri yang menolaknya. Oleh karena itu, pernyataan tersebut berhasil membuat mereka berempat bungkam. Ditambah mengetahui alasan dibalik air mata Yuki, tak ada hal lain selain ingin membunuh Sakamaki Subaru.
"Ruki nii, doushita no?" tanya Yuki, menyadari Ruki yang hanya diam sembari mengelus surai hitam pendeknya. Meskipun sedikit terkejut dengan tindakannya sendiri, ia hanya membalas pertanyaan adiknya dengan gelengan pelan. Kemudian berdiri dan membawa nampan berisi piring kosong.
"Tidurlah Yuki. Aku tidak ingin mendengar keributan di pagi hari," ucapnya.
Yuki menggaruk pipinya yang tidak gatal diikuti oleh kekehan pelan. "Akan kuusahakan untuk bangun pagi."
Ruki mendengus geli. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu, teringat akan sesuatu. Ia menoleh tepat ketika Yuki mulai merapikan bukunya yang berantakan. "Yuki."
"Ng? Nani, Ruki nii?"
Iris abu – abu Ruki menatap Yuki, seolah sedang mencari apa yang sebenarnya dipikirkan oleh adiknya. Meskipun Kou dan Azusa bisa mengetahui apakah seseorang berbohong atau tidak, kekuatan mereka berdua nyaris tidak berguna dihadapan Yuki. Apabila berbicara mengenai akting, Ruki bisa menegaskan adiknya adalah aktor terbaik. Ruki menggelengkan kepalanya pelan. "Berjanjilah kau tidak akan mengambil keputusan bodoh," tegas Ruki.
Yuki memiringkan kepalanya, tak mengerti maksud ucapan kakaknya. Namun, ia tetap memberikan jawaban berupa anggukkan singkat. Ruki menghela nafas dalam diam lalu keluar dari kamar Yuki, berharap adiknya itu sungguh menepati janjinya. Jika tidak, untuk Ruki sekalipun, ia tidak akan bisa menjamin apa yang terbaik bagi Yuki. Untuk saat ini, ia hanya bisa percaya dengan adik perempuannya tersebut.
"Ruki nii, memang hebat. Bisa mengerti apa yang kurasakan saat ini," bisik Yuki pelan setelah dirasa Ruki sudah pergi dari kamarnya. Jarinya menelusuri mahkota mawar putih yang ia pajang diatas meja. Bohong jika Yuki katakan tidak ingin menemui Subaru saat ini. Alam bawah sadarnya terus memojokkannya, memerintahkan untuk bertemu dengan cowok bersurai putih tersebut. Yuki ingin minta maaf sudah melukainya. Akan tetapi, ego dan logikanya memenangkan perang batin yang ia hadapi beberapa minggu belakangan. Ia sendiri yang memutuskan untuk menjauhi Subaru. Ia pula yang memutus tali pertemanannya dengan Subaru, entah cowok itu memang menganggapnya teman atau tidak. Jika pun ia nekat pergi tidak ada jaminan Subaru mau memaafkannya.
Yuki menghempaskan tubuhnya diatas kasur, memeluk bantalnya. "Seperti orang bodoh saja," makinya pelan sebelum menyerahkan dirinya pada dunia mimpi.
xxx
Tidak mengherankan dirinya sering dicap bodoh oleh saudaranya, ia sendiri pun mengakui hal tersebut. Iris birunya memantulkan bangunan mewah namun terlihat menyeramkan, seolah ingin mengusir siapa saja yang berani masuk ke dalam. Ditambah tiupan angin malam yang cukup kasar dan dingin, memperkeruh suasana seram. Bukan Yuki namanya jika ia takut pada bangunan didepannya saat ini. Ia mengakui dirinya menyukai horror dan hal – hal supernatural. Akan tetapi, beda hal jika penghuni dan pemilik bangunan mewah tersebut adalah orang itu. Ia menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya. Hal pertama yang menyambutnya adalah hamparan semak bunga mawar putih. Dirinya seolah berada di dunia lain, terpesona oleh banyaknya mawar putih bermekaran. Yuki berani bertaruh jika halaman kastil ini ditumbuhi oleh mawar putih. Siapa pun yang merawatnya sungguh lihai karena mereka bermekaran dengan indah dan bangga. Takjub oleh hamparan mawar putih, sesaat Yuki melupakan tujuannya berada di kastil tersebut. Ia berjalan diantara semak mawar putih, sesekali berhenti ketika menyadari ada beberapa bunga yang belum mekar. Alangkah bodohnya ia menurunkan kewaspadaannya, melupakan siapa pemilik kastil tempat dirinya berada saat ini. Dalam sekejap, dunianya berputar diikuti oleh rasa sakit dileher dan punggungnya. Bersembunyi dalam warna putih terdapat sepasang warna merah darah yang menyalang ganas. Diantara lantunan angin malam, terdengar geraman layaknya seekor hewan buas.
Asupan oksigen yang mendadak tak terpenuhi membuat Yuki tak bisa bernafas dengan teratur. Ia memberontak dan menendang tubuh Subaru diatasnya sedang mencengkram kuat lehernya. Sungguh kekuatan yang mengerikan, karena tindakan Yuki saat ini justru memperparah kondisinya. Sungguh mengesankan karena Subaru tidak mengeluarkan semua tenaganya untuk mematahkan leher gadis itu.
"Berani – beraninya kau datang kemari, kuso onna!" geram Subaru.
"Ter...serah... di...riku... A...ku ma...u da...tang... da...n per...gi... i...tu... u...ru...sanku..." ucap Yuki terbata. "Le...pas...kan... baka... mo...yashi!"
Cengkaraman Subaru semakin menguat. "Tidak semudah itu, kuso onna!"
Yuki hanya bisa menatap sengit iris merah darah Subaru. Tidak ada gunanya menyesal saat ini. Betapa memalukan dirinya bisa melupakan alasan ia menyelinap pergi ke Dunia Bawah. Ia bahkan sengaja bolos pelajaran siang karena rasa bersalah dan keinginannya untuk bertemu semakin mengacaukan pikirannya. Sialnya, ia tidak membawa pisau lipat padahal benda tersebut wajib baginya untuk hal macam ini. Menyadari Yuki yang hanya bisa memberontak dengan sia – sia, membuat Subaru menyeringai lebar.
"Bukan salahku kalau kau mati disini," ancam Subaru.
Ejekan yang hendak Yuki lontarkan harus ia telan kembali. Taring Subaru menusuk lehernya, menghisap paksa darah gadis itu. Peristiwa tiga bulan lalu nampak terjadi kembali saat ini. Rasa sakit dilehernya sungguh tak tertahankan, namun Yuki tidak akan mengeluarkan suara ataupun raut kesakitan. Ia menggigit bibirnya, menahan semua rasa sakit juga panas yang menjulur seluruh tubuhnya. Seolah puas dengan lehernya, Subaru kemudian menghisap dari pundak Yuki setelah merobek seragamnya. Ia merasakan cengkraman Subaru dilehernya mengendur, kemungkinan karena terlalu fokus pada darahnya. Tak ingin menyiakan kesempatan tersebut, Yuki menendang Subaru ke samping kiri dengan sekuat tenaga. Keterkejutan cowok bersurai putih tersebut dimanfaatkan oleh Yuki. Sembari menahan tubuh Subaru, gadis itu segera menancapkan kedua taringnya di leher. Meskipun ia bisa membebaskan diri dari Yuki mengingat kekuatannya yang besar, tapi dirinya tidak bisa berkutik ketika gadis itu masih menghisap darahnya. Kedua tangan Yuki mencengkram kuat jaket hitam Subaru, seolah itu adalah penopang hidupnya.
Subaru merasa dihipnotis oleh sesuatu. Jika dulu ia masih bisa menggerakan tubuhnya sementara Yuki meminum darahnya, kali ini sama sekali tidak bisa. Tubuhnya tidak bisa bergerak sesuai perintah, hanya membiarkan gadis bersurai hitam itu mengecap darahnya. Bukan rasa sakit dan menjijikan tiap kali Yuki meminta darahnya, saat ini ia justru merasa tenang. Damai, menenangkan jiwanya yang terus memberontak. Tanpa disadari, ia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Yuki, seolah tak ingin gadis itu menjauh. Sementara tangan kirinya menarik lengan kanan Yuki dan menancapkan taringnya.
Dibawah langit malam Dunia Bawah, tanpa memedulikan sekitar dan membiarkan mawar putih menjadi saksi bagi kedua makhluk bodoh yang saling menghisap darah. Aroma manis antara darah dan mawar putih bercampur menjadi satu, menghasilkan aroma tak kalah nikmatnya dari wine kualitas terbaik. Mabuk kepayang, membuat keduanya tidak bisa menghentikan hasratnya sendiri. Bagaikan bertemu oasis ditengah padang pasir mematikan. Kabut yang menguarkan kenikmatan, salah satu dosa besar yang tak bisa dibantahkan, memudar secara perlahan, mengembalikan akal sehat pemilik nama Mukami Yuki dan Sakamaki Subaru. Dibalik kilaunya iris mereka berdua, terpantul kondisi masing – masing. Yuki yang pertama kali tersadar dan segera menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya.
"Ukh... seseorang tolong bunuh aku..." gumam Yuki.
"Jika aku tidak peduli dengan hidupku, sudah kulakukan sejak tadi," dengus Subaru.
"Kenapa? Kau takut pada saudaraku?" tantang Yuki. "Seorang Subaru-kun? Takut? Aku tidak percaya."
"Bicara sekali lagi dan kuhisap darahmu sampai kering," ancam Subaru.
Yuki mendengus. "Kau bunuh aku, artinya kau membunuh dirimu sendiri, Subaru-kun."
Balasan Subaru hanya berupa dengusan. Keduanya kembali diam sembari mengatur akal sehat yang masih berkabut. Hembusan angin yang membawa aroma mawar putih seolah mengejek mereka berdua, begitu manis dan menggoda. Iris biru Yuki menatap jari telunjuknya yang menyusuri luka taring di lengan kanannya. Meskipun sudah tidak mengeluarkan darah, terdapat rasa sakit yang menggelitik dan itu terasa asing baginya. Dirinya tahu harus mengatakan sesuatu, apa saja untuk memecahkan keheningan ini. Akan tetapi lidahnya tidak mau bergerak. Sama halnya dengan Subaru yang terus memerhatikan Yuki dalam dekapannya. Tanpa ia sadari, tangan kanannya masih melingkar di pinggang Yuki. Entah karena dirinya seorang vampire sehingga memiliki indera penciuman yang sensitif, ia masih bisa mencium darah gadis bersurai hitam itu. Siksaan akan rasa hausnya selama tiga bulan ini terdengar seperti omongan belaka, hanya sebuah kebohongan tak berdasar.
"Kalau kau ingin lukamu semakin parah, lebih baik biarkan aku menghisap darahmu," sahut Subaru ketika menyadari jari lentik Yuki yang menekan lukanya. Ia menempelkan keningnya dan seketika aroma darah bercampur apel memenuhi tubuhnya. "Aku masih belum puas, asal kau tahu."
"Aku tidak heran," dengus Yuki, sembari menjauhkan lukanya dari tangan jahilnya. Iris biru bertemu dengan iris merah darah. Melihat bentuk wajah dan warna yang begitu ia benci karena mengingatkan dirinya pada dalang dari mimpi buruknya, amarah sempat membutakan hatinya. Namun dengan cepat Yuki menggeleng pelan. Mimpi buruk itu sudah berlalu dan kini saatnya ia melangkah maju. Begitu juga dengan perasaan yang sudah ia simpan sejak lama. Ia akan menerima apapun hasilnya, baik dan buruk. Anggaplah dirinya pengecut karena selalu melarikan diri dan anggaplah ia bodoh karena selalu mengambil jalan yang salah.
"Aku tidak akan memaafkanmu, Subaru-kun," ucap Yuki tegas.
Alis Subaru berkedut. "Kau ingin cepat mati rupanya, hah?" balasnya.
"Mungkin," canda Yuki. "Tapi, dengarkan penjelasanku dulu."
"Jelaskan dengan singkat," dengus Subaru yang dibalas dengan umpatan si bungsu Mukami.
"Aku tidak akan memaafkanmu, karena muncul tiba – tiba di sekolahku. Apalagi ketika seniorku sedang bersamaku. Aku tidak ingin manusia mengetahui bahwa vampire itu ada, bisa merepotkan. Sudah cukup aku direpotkan oleh stalker penggemar fanatik Ruki nii dan Kou-kun. Ditambah kau seenaknya bilang kalau aku adalah milikmu. Seandainya aku tidak mengenalmu, sudah kubunuh dirimu," ujar Yuki. Ia segera menghentikan Subaru ketika cowok itu hendak protes. Meski mendecih, Subaru tetap diam dan membiarkan Yuki berbicara.
"Meskipun aku ingin sekali membencimu, rasanya sedikit mustahil. Terima kasih karena kejadian merepotkan yang kita alami, aku jadi mengerti dibalik sikap kasarmu hingga tabiatmu. Bagiku, itu sangat menarik dan menggemaskan. Tanpa kusadari, aku justru jatuh ke lubang yang seharusnya tidak boleh kujatuhi," lanjut Yuki mendengus. "Aku tidak akan protes jika Ruki nii dan yang lain memanggilku idiot, karena memang benar itu."
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, onna?"
Yuki menarik nafasnya pelan. Mengabaikan rasa takut dan gemetar ditangannya, ia kemudian menatap lurus iris merah darah Subaru. "Aku menyukaimu, bodoh."
"Hah?"
"Aku menyukaimu," ulang Yuki. "Bukan suka untuk teman, sahabat, atau keluarga. Rasa sukaku padamu adalah suka terhadap lawan jenis."
Iris merah Subaru melebar diikuti dengan wajahnya yang sedikit menjauh, mengambil jarak dari Yuki. Apakah ia sudah gila karena terlalu lama menghabiskan waktu tiga bulan menahan rasa hausnya. Apakah aroma manis mawar putih yang bercampur dengan darah ini telah menumpulkan semua inderanya. Kemungkinan besar iya, karena dirinya mendengar sesuatu yang asing dari seorang Mukami Yuki. Subaru menggelengkan kepalanya, tidak percaya mendengar kalimat itu dari mulut gadis bersurai hitam didepannya. Apa daya jika raut wajah serius tersebut mengatakan yang sesungguhnya. Bahkan tidak nampak kebohongan di iris biru Yuki, mengingat gadis itu jahil luar biasa.
"Aku tidak akan menyalahkanmu kalau kau tidak percaya, Subaru-kun," Yuki memaklumi. "Lagipula, aku juga baru menyadari perasaanku ketika nyawaku sudah diambang batas akibat mengulang waktu terlalu banyak."
Subaru masih diam dan tidak bisa memberikan tanggapan, membuat sudut bibir Yuki tertarik keatas. Jari tangan kanannya memainkan ujung rok seragamnya. "Jangan tanyakan alasannya, karena diriku sendiri tidak tahu," sahutnya seolah mampu membaca isi pikiran Subaru. "Tapi, satu hal yang bisa kukatakan adalah kau orang yang baik, Subaru-kun. Meskipun tindakanmu selalu berbanding terbalik dengan apa yang kau ucapkan, sebenarnya kau orang yang perhatian. Mungkin karena itu aku bisa menyukaimu."
"Kalau aku baik hanya karena ingin menghisap darahmu, apa kau masih bisa bilang seperti itu?" tantang Subaru.
Yuki menyilangkan kedua tangannya, berpikir sejenak. Melihat hal itu, entah kenapa membuat Subaru sedikit kesal. Setelah berkata panjang lebar yang membuat telinganya sakit, nyatanya gadis itu masih ragu dengan ucapannya sendiri. Namun, semua itu hilang tatkala senyum lebar terlukis di wajah Yuki. Senyum itu terlihat begitu tulus, tidak ada niatan buruk disana. Senyum yang selalu menganggu alam bawah sadar Subaru, karena ia begitu merindukannya. Sebuah senyum yang sangat jarang diperlihatkan oleh Mukami Yuki.
"Un, mochiron!"
Kalah telak. Hanya dua kata itu yang bisa menggambarkan kondisi Subaru. Tangannya mengacak kesal surai putihnya, diikuti oleh helaan nafas panjang dan lelah. Kepalanya mendadak berkedut pusing, tidak tahu harus melakukan apa. Delikan tajam langsung ia lontarkan tatkala mendengar Yuki tertawa geli. Ah, seandainya sebuah tatapan bisa membunuh seseorang, kemungkinan gadis itu sudah mati saat ini.
"Yappari kawaii na, Subaru-kun," geli Yuki.
"Kau memang ingin berantem sepertinya, hah?!" seru Subaru yang menambah gelak tawa Yuki.
"Tenang saja. Aku tidak akan meminta jawabanmu sekarang," ucap Yuki sambil menyeka air matanya.
"Kenapa? Kau tidak ingin tahu bagaimana perasaanku terhadapmu?"
"Tentu saja, aku penasaran," jawab Yuki tegas. "Tapi, tidak apa. Sudah kubilang, kan? Aku sudah hafal tabiatmu. Lagipula, selama aku masih bisa mengganggumu, itu sudah cukup."
Tawa Yuki kembali menggema di taman mawar putih ketika berhasil lolos dari layangan tinju Subaru. Hembusan angin yang cukup kuat menerbangkan beberapa mahkota mawar putih ke singgasana hitam. Bagaikan berada didalam pusaran mahkota bunga, Yuki ikut berputar dan terkadang melompat layaknya anak kecil. Subaru hanya bisa menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepala. Jika ia memang boleh berkata jujur, ia pun tidak tahu apakah perasaannya ini murni karena menyukai gadis itu ataukah hanya mengincar darahnya semata. Perselisihan dengan ibu si kembar tiga, sempat membangkitkan rasa ingin melindungi Yuki. Namun, segera hilang karena Yuki bukanlah sosok penting dalam hidupnya. Seorang anggota keluarga Mukami yang merupakan musuhnya untuk merebutkan hak milik Komori Yui.
Hasrat itu kembali muncul tatkala dalang dari mimpi buruk semua masalah akhirnya menampilkan wajahnya. Ditambah dengan tindakan Yuki yang gegabah dan didasari oleh keselamatan serta kebahagiaan saudaranya, membuat Subaru tidak bisa diam. Terlebih lagi ketika ia tidak bisa mengendalikan rasa hausnya dan hanya darah Yuki yang sanggup melakukannya. Subaru juga ingat, dirinya sempat mengakui perasaannya terhadap Yuki, meski ia yakin hal itu didasari oleh kenikmatan darah gadis itu. Tapi, pertanyaannya adalah apakah ia menyukai Mukami Yuki seutuhnya. Walaupun tidak ingin mengakuinya, Subaru merasa berterima kasih pada gadis itu. Secara tidak langsung, ia telah memberikannya waktu untuk berpikir.
Tidak ingin terus dikalahkan oleh gadis bersurai hitam yang masih asik berlarian mengikuti tarian angin malam, Subaru memantapkan keputusannya. Yuki segera menghentikan aktifitasnya ketika mendengar ketukan sepatu cowok bungsu Sakamaki. Mereka kembali bertatap muka. Kali bukan penyesalan dan amarah yang menyelimuti mereka berdua, melainkan kesiapan hati untuk melangkah.
Subaru mendengus. "Siapkan dirimu baik – baik, Yuki," tantangnya.
Iris biru Yuki sedikit melebar, begitu pula sudut bibirnya yang melengkung keatas. Kedua tangannya ia silangkan di depan dada. "Harusnya itu kalimatku, Subaru-kun."
Nani : Apa
Un, mochiron : Tentu saja
Yappari kawaii na : Ternyata memang imut
Author : Yak, bagaimana minna chapter kali ini? Author hanya bisa menyerahkan semua kepada minna. Oh iya, Author ngga mau berlama - lama di Author Note ini karena Author punya sedikit kejutan di chapter selanjutnya. Kalo gitu, langsung di klik tombol next~
