Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~

.

.

.

Chapter ini Author persembahkan untuk para penggemar tsundere couple kita. Selamat menikmati~


Hallowen Date

Gumaman halus yang mengikuti nada irama dalam player-nya, mengisi malam hari Yuki. Iris birunya menatap orang – orang yang sedang menikmati suasana karnival sejak satu minggu lalu untuk merayakan Hallowen. Ia pun juga sangat menanti karnival ini sejak adanya pemberitahuan. Terlebih untuk hari ini yang merupakan hari terakhir karnival dan hari Hallowen. Dibalik senyum simpul dan lagu yang ia gumamkan, jantung Yuki berdegup tak karuan setiap detiknya. Selang beberapa menit, ia harus menarik nafas panjang untuk menormalkan detak jantungnya. Jika tidak, ia takut jantungnya akan melompat keluar dari rongga dadanya. Yuki begitu terfokus dengan lagunya sampai tak memerhatikan sebuah bayangan yang mendekat. Ia bahkan mengabaikan panggilan bayangan tersebut.

"Kyaa!" seru Yuki kencang begitu sebuah wajah berada tepat didepan wajahnya. Saking terkejutnya, ia sampai tersandung kakinya sendiri dan terjatuh di jalanan beraspal. Erangan sakit keluar dari mulutnya sebelum digantikan dengan delikan tajam. "Mou, Subaru-kun! Berhentilah mengagetiku!"

"Kau sendiri yang melamun, dasar bodoh," timpal Subaru tak mau kalah.

Yuki mengembungkan pipinya dan bangun sambil menepuk celana hotpans hitamnya. Iris birunya tak sengaja menatap penampilan Subaru malam ini yang entah kenapa terlihat lebih keren dari biasanya. Panas pun menjalar dari leher hingga ia yakin kedua pipinya pasti merona. Padahal penampilan Subaru selalu sama setiap kali ia bermain ketempatnya, serba hitam mulai dari kaus, jaket kulitnya, hingga sepatunya. Tapi justru itu yang membuat surai putih saljunya dan iris merah darahnya terlihat mencolok. Yuki menarik nafas panjang dan menghembuskannya, membuat uap putih keluar dari mulutnya. Kemudian ia memasang senyumnya yang biasa. "Yah, tapi terima kasih sudah mau datang," ucapnya. "Kupikir kau tak akan menerima ajakanku."

Subaru mendecih pelan. "Aku lebih baik pergi daripada harus pergi dan menemani si kembar tiga."

"Tumben sekali mereka berkumpul," sahut Yuki merasa heran. Senyum lebar mengembang di bibir Yuki, membuat Subaru sedikit terkesiap. "Kalau begitu, kita main sepuasnya di karnival ini!" semangatnya.

Hallowen Vandead Carnival, sebuah acara yang diselenggarakan oleh penguasa Dunia Bawah untuk rakyatnya. Selama satu minggu penuh, karnival yang bertujuan untuk merayakan hari Hallowen dibuka umum, tak peduli dia adalah bangsawan atau hanya rakyat biasa. Karnival ini menyediakan tiga tempat yang bisa dinikmati oleh pengunjung, yaitu Mazero Main Street, Saint nore Park, dan Mazeross Dark Street. Setiap tempat tentunya menawarkan berbagai macam atraksi dan pertunjukan tersendiri. Mazero Main Street, tempat semua toko baik makanan dan kue, dari yang umum kita jumpai sampai yang langka dan unik bisa ditemui di tempat ini. Tempat ini sering dikunjungi oleh orang – orang karena berbagai macam jenis barang yang ditawarkan, tak hanya makanan saja. Saint nore Park adalah taman bermain khusus di Hallowen Vandead Carnival. Dibangun layaknya taman bermain pada umumnya dengan mengutamakan nuansa hallowen. Ditempat ini juga tersedia kafe, restoran, maupun kedai makanan, meskipun tidak sebanyak di Mazero Main Street. Terakhir adalah Mazeross Dark Street. Sama halnya dengan Mazero Main Street yang menjual berbagai macam barang dan makanan. Perbedaannya hanya, suasananya yang misterius, penerangan dari setiap toko yang remang, dan tentunya benda – benda aneh yang dijual sehingga tak banyak orang yang ingin berkunjung ke Mazeross Dark Street ini.

Di hari terakhir karnival berlangsung yang bertepatan dengan hari Hallowen, Yuki mengajak Subaru untuk bermain di Saint nore Park. Tentunya secara sembunyi dan tak ingin diketahui oleh keempat kakaknya. Jika mereka tahu, kemungkinan rencana hari ini akan dibatalkan dan ia tak ingin hal itu terjadi. Awalnya pun, Yuki ragu untuk mengajak Subaru pergi dengannya hari ini. Menurutnya, hubungan mereka berdua mulai membaik belakangan ini. Terlebih ketika mereka bertengkar hebat lantaran salah paham dan kecemburuan disalah satu pihak. Yuki tak ingin menghancurkan hubungan yang sudah susah payah ia bangun, meskipun itu didasarkan oleh keegoisan masing – masing. Ia tentu tak bisa meminta saran dari keempat kakaknya karena itu sama saja dengan membeberkan rencananya. Setelah bingung dan pusing sendiri sampai membuat saudaranya ikut bingung, Yuki memberanikan diri mengajak Subaru.

Jika mengingat bagaimana sifat Subaru, Yuki sudah yakin cowok itu akan menolak ajakannya. Oleh karena itu, ia tak memaksa Subaru untuk datang, hanya memberikan waktu, tempat, dan hari bertemu. Itu pun jika Subaru memang akan datang. Nampaknya Tuhan masih peduli terhadap Yuki hingga memberikan kesempatan besar tersebut. Saking senangnya, ia bahkan tak menyadari tatapan yang diberikan Subaru kepadanya sejak tadi.

Maupun tatapan tajam dan penuh aura hitam dibelakang mereka berdua.

xxx

"Wah... ramai juga ya," ucap Yuki kagum. Ia melirik kearah Subaru yang sejak memasuki kawasan Hallowen Vandead Carnival hanya diam tak bersuara. "Kau masih yakin ingin menemaniku bermain semalaman, Subaru-kun?"

"Kalau kau mengatakannya sekali lagi, aku akan pulang," ancam Subaru.

"Lupakan apa yang kukatakan!" sahut Yuki cepat. Dibukanya pamflet atraksi Saint nore Park, menimbang mana yang lebih dulu akan mereka naiki. Iris birunya berkilat kagum melihat banyak sekali atraksi yang ditawarkan dan itu membuatnya tambah bersemangat.

Subaru hanya diam disamping Yuki, memerhatikan gadis bersurai hitam tersebut sesekali bergumam sendiri dan mengerutkan kedua alisnya. Tanpa rasa malu, manik merahnya kembali melihat penampilan gadis itu malam ini. Katakanlah ia gila karena telah berpikiran bahwa malam ini Yuki terlihat manis. Pakaian keseharian Yuki bisa dikatakan cukup sederhana, berupa kaus, jaket, celana denim pendek, dan sepatu kets atau sepatu boots selutut. Jangan lupakan kaus kaki panjang atau legging yang menutupi kakinya. Benar – benar tertutup dan tak ada kesan feminimnya. Namun, malam ini penampilan gadis itu berubah total, walaupun tidak seutuhnya karena masih ada sentuhan ala Mukami Yuki. Ia memakai kaus turtleneck abu – abu yang dibalut dengan sweater tebal biru muda. Kemudian hotpants hitam dan sepatu boots semata kaki yang juga berwarna hitam. Bedanya, malam ini ia tidak memakai kaus kaki panjangnya sehingga memperlihatkan kakinya. Subaru tak pernah menyadari kalau seorang Yuki mempunyai kaki yang jenjang. Selain itu terlihat kuat dan berisi oleh otot padahal pernah terluka parah.

"Subaru-kun? Kau mendengarku?" tanya Yuki, berhasil membuyarkan lamunannya terhadap penampilan gadis itu. "Daijoubu? Apa lebih baik kita batalkan saja?"

Subaru mendecih. "Meskipun terdengar mengoda, aku yakin kau pasti akan mengeluh nanti."

Yuki terkekeh pelan. "Kau tahu saja," ucapnya tanpa ada rasa penyesalan. "Habis, sudah susah payah kau datang dan menemaniku, tidak asik kalau kita batalkan. Jadi, ayo main!"

Subaru hanya diam mengikuti langkah Yuki yang berjalan di depan. Meskipun konsep Saint nore Park sama dengan taman bermain pada umumnya, atraksi yang ditawarkan lebih menantang mengingat rakyat Dunia Bawah bukanlah manusia. Salah satunya adalah wahana roller coster yang akan mereka naiki pertama kali ini memiliki kecepatan sekitar 450 km/jam, total jarak 7 m dalam rentang waktu 1,5 menit, ketinggian mencapai 105 m, turunan vertikal total 4 kali putaran, dan berakhir dilorong gelap gulita. Berbeda dengan Yuki yang terlihat bersemangat, Subaru justru merasa khawatir. Pasalnya, ia bisa mendengar teriakan penuh ketakutan dari pengunjung yang menaiki wahana tersebut. Melihat Subaru yang terpaku pada teriakan pengunjung dibandingkan dengan antrian panjang didepan mereka, Yuki terkekeh geli.

"Apa?" geram Subaru begitu sadar dirinya ditertawakan.

Yuki menggelengkan kepalanya, namun tak menghentikan tawa geli yang jelas sekali ia tahan itu. Ketika sampai giliran mereka untuk naik, tak sengaja Yuki mendengar suara seseorang yang ia kenali. Alisnya berkerut, namun segera melupakan dan menganggapnya kebetulan. Bersamaan dengan dimulainya wahana Viam Mortis Roller Coster, ia berteriak sekuat tenaga seolah ingin melupakan segalanya. Waktu 1,5 menit terasa kurang bagi Yuki karena ia begitu menikmatinya. Ia bahkan ingin menaiki kembali wahana tersebut jika tidak segera dicegah oleh Subaru.

"Satu kali lagi. Kumohon!" pinta Yuki sunguh – sunguh, menepuk kedua tangannya. "Aku akan melakukan satu permintaanmu sebagai gantinya."

Alis Subaru terangkat dan senyum lebar terlukis di bibirnya yang entah kenapa terlihat seperti mengejek Yuki dan itu membuatnya nyaris menyesali ucapannya. "Apa pun?"

Bukan Yuki namanya jika ia mundur dari tantangan yang ia buat sendiri. Berharap ia tidak menyesali akan tantangannya, sebuah anggukan menjawab pertanyaan Subaru. "Apa pun."

Kali ini senyum Subaru terlihat menyeramkan, seolah siap melahap Yuki hidup – hidup. Mereka berdua kembali mengantri untuk menikmati Viam Mortis Roller Coster. Pertama kali mengantri, Subaru memasang wajah garang seperti biasanya, meski sorot iris merahnya bersinar khawatir. Sekarang, ia terlihat senang dan itu membuat Yuki khawatir akan keputusannya membuat tantangan tadi. Namun, semua itu hilang dengan cepat saat mereka merasakan hebatnya wahana tersebut.

Berhubung Subaru nampak tidak tertarik dengan wahana lain, Yuki yang menuntun kegiatan mereka berdua malam ini. Ia mencoba wahana paling aneh dan ekstrim yang bisa didapatkan di Hallowen Vandead Carnival, mengabaikan protesan Subaru. Setelah asik mencoba Goddess Manor Haunted, wahana rumah hantu, Yuki memutuskan untuk istirahat sejenak begitu menyadari betapa lelahnya Subaru. Ia terkekeh sembari memberikan cowok itu minuman kaleng dingin. "Wajahmu pucat sekali, Subaru-kun," ejeknya. Tangannya membekap mulutnya, berusaha menahan tawa yang siap keluar. "Padahal vampire, tapi kau panik dan ketakutan begitu melihat hantu wanita dari sumur."

"Bicara sekali lagi akan kuhajar wajahmu," ancam Subaru yang hanya dibalas dengan ledakan tawa Yuki. "Bagaimana kau bisa terlihat tenang padahal hantu di dalam sana terlihat asli?! Aku bertaruh, hantu – hantu disana itu asli semua!"

Yuki berdeham, mencoba meredakan tawanya yang terlihat mustahil untuk dilakukan. Ia kemudian mengusap air mata dengan lengan sweaternya. Padahal tatapan dan aura Subaru begitu menyeramkan hingga orang disekitar mereka berangsur menjauh. Namun, Yuki sama sekali tak masalah. Ia masih bisa tertawa dan anggaplah dirinya gila karena Subaru yang mengerutkan kedua alisnya terlihat sungguh menggemaskan. "Asal kau tahu, aku justru menyukai hal – hal yang berbau horror," sergahnya. "Di dunia ini yang kutakuti hanya tomat dan Ruki nii saja."

"Kalau kakakmu mungkin aku bisa mengerti. Tomat?"

"Himitsu desu~" elak Yuki cepat, merasa bodoh karena sudah membeberkan tentang musuh abadinya. "Ah, apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan sesuatu baru melanjutkan?"

"Kau masih mau main?" tanya Subaru tak percaya.

"Sudah kubilang, kan? Kita akan main semalaman. Kalau perlu sampai pagi," ucap Yuki. "Ah, jangan khawatir. Sebagai ucapan terima kasih, aku akan mentraktirmu."

Belum sempat menjawab, Yuki sudah menarik tangan Subaru menuju Palace Central, tempat kafe, restoran, toko souvenir, dan taman kecil untuk istirahat di kawasan Saint nore Park. Ada banyak pilihan makanan yang disediakan dan itu membuat perut Yuki berbunyi cukup kencang. Namun, entah kenapa ia tak ada keinginan untuk makan di kafe yang terbilang elegan dengan menu menggiurkan. Ia lebih tertarik pada kedai makanan yang berada di sekitar taman kecil. Karena Subaru juga nampak tak begitu peduli dengan makanan selain darah tentunya, Yuki memutuskan untuk mengisi perut mereka dengan junk food.

"Kau masih mau makan pai apel ini?" tanya Subaru tak percaya ketika melihat Yuki sudah menghabiskan burger keduanya dan hendak memakan pai apel yang ia beli.

Yuki mengangguk mantap. "Aku punya perut khusus untuk pai apel," jawabnya serius.

"Makanmu banyak juga untuk seorang cewek," ejek Subaru.

"Kau akan mengerti kalau pernah tinggal dalam keadaan mendapat satu roti saja sudah seperti di surga," ucap Yuki lirih. Ia menghabiskan makanannya dengan cepat lalu kembali mengajak Subaru bermain. Dirinya seperti ditampar ketika mengucapkan perbedaan mereka berdua. Tak ingin mengundang suasana murung, ia buru – buru membuka pamflet untuk melihat wahana menarik apa yang ingin dinaiki malam ini. "Kita lihat, wahana menarik apa yang belum kita naiki." Perasaan menyesal terbit di hatinya, kenapa ia memilih hari ini untuk bermain padahal ia bisa bermain sepuasnya selama satu minggu penuh. Subaru ikut melihat dari balik pundak Yuki, memperkirakan wahana gila dan aneh apa yang akan dipilih oleh gadis berambut hitam itu.

"Kenapa tidak coba yang ini?" saran Subaru sambil menunjuk sebuah wahana bertuliskan Super Ultra Great 3D Labyrinth Laputa Core.

"Bagaimana kalau yang ini?" ajak Yuki, menunjuk wahana bertuliskan Darkness Underground Roller Coster. "Pasti asyik. Un, kalau begitu, a-"

"Kita sudah menaikinya tadi," sela Subaru cepat. "Dua kali."

"Be-benarkah?"

Subaru menyipitkan matanya, menyadari raut tak nyaman Yuki. Gadis itu jelas sekali menghindari wahana yang ia usulkan dan itu membuatnya merasa tertarik. Sudut bibirnya melengkung keatas, siap akan mengungkap apa yang menyebabkan gadis tak kenal takut itu merasa tak nyaman. "Kau takut?" tantangnya.

Yuki mendengus. "Tentu saja tidak," ucapnya cepat. Ia lalu menggandeng tangan Subaru, membuat cowok itu sedikit tersentak kaget. "Ka-kalau begitu, ayo kita ke wahana ini. Dan hentikan seringai menyebalkanmu itu!"

Subaru justru tak sadar jika dirinya menyeringai. Ia pun membiarkan dirinya dituntun Yuki menuju Super Ultra Great 3D Labyrinth Laputa Core, sebuah wahana labirin tiga dimensi terbesar dan terluas. Interior dalamnya berupa ratusan tangga dan pintu yang saling menyatu. Tak peduli pada arah tangga yang menyamping, keatas, kebawah, dan menyatu dengan lantai atau langit – langit wahana, seolah gravitasi tak berlaku dalam wahana tersebut. Tentu saja, untuk bisa keluar dari wahana itu membutuhkan kecerdasan, ketangguhan, dan keberuntungan besar. Sebuah wahana yang menyesatkan dan membuat penasaran bagi siapa pun yang memasukinya.

Yuki hanya berharap, ketakutannya saat ini tidak diketahui oleh Subaru.

Sementara itu, di waktu yang sama saat Yuki dan Subaru masuk ke dalam wahana Super Ultra Great 3D Labyrinth Laputa Core.

"Apa – apaan itu?!"

"Terlalu dekat! Lagipula, kenapa dia harus menggandeng tangan cowok sialan itu, hah?!"

"Kencan... mereka berdua... berkencan..."

"Ayo. Kita juga ikut masuk."

Tanpa memedulikan pandangan dan bisikan pengunjung Saint nore Park, sosok – sosok itu terus memantau dua orang yang jelas sekali sedang kencan di taman bermain ini.

Disaat yang bersamaan, di dalam sebuah kafe Palace Central.

"Aku tak percaya ini..."

"Sejak kapan mereka berdua menjadi sedekat itu?"

"Ah~ aku juga ingin berkencan dengan gadis manis~"

xxx

Yuki merasa mual. Ia yakin wajahnya pasti sudah pucat sekali bagaikan mayat melihat ratusan tangga dan pintu disetiap langkahnya. Hilang sudah kepercayaan dirinya yang sudah susah payah ia bangun ketika memasuki wahana labirin sialan itu. Ingatan tak menyenangkan seolah dipaksa bangkit kembali dari alam bawah sadarnya. Meskipun banyak pengunjung lain yang berada disana, ia seperti sendirian. Terjebak dalam dimensi yang tak memiliki akhir. Kemanapun ia melangkah dan membuka setiap daun pintu tersebut, akhir mengenaskan pasti akan menunggunya. Halusinasi diantara semua mimpi buruk yang pernah ada, ia mendengar tawa melengking dan juga dengusan penuh penghinaan, tentu saja ditujukan pada dirinya. Ketakutannya mulai menjalar dan ia siap berteriak jika saja tak merasakan rasa dingin di kedua pipinya.

"Oi, kau baik – baik saja?" sebuah suara berat terdengar.

Yuki mengerjapkan matanya, lalu mendongak menatap iris berwarna merah darah. Astaga, ia belum pernah merasa bersyukur melihat warna itu seumur hidupnya hingga ia menghempaskan tubuhnya pada si pemilik iris tersebut. Ketika Yuki menyadari siapa yang dipeluk, ia langsung melepaskan pelukannya. Semburat merah terlukis di kedua pipinya, mengalahkan rona merah di pipi Subaru. Keduanya hanya diam canggung, tak tahu harus melakukan apa. Subaru berdeham pelan karena mulai merasa tak nyaman dengan keheningan aneh itu. Ia lalu mengulurkan tangannya. "Ayo, kau masih ingin main wahana lain, kan?"

Hanya anggukan singkat yang bisa dilakukan Yuki. Rasa dingin ditangannya membuat Yuki sedikit terbangun dari halusinasi ketakutannya. Ia harusnya merasa lega dan berterima kasih. Akan tetapi, jantungnya berdegup kencang sekali dan ia takut jika Subaru mendengarnya. Belum lagi pipinya masih terasa panas sekali. Mulutnya nyaris terbuka bagaikan orang bodoh tatkala melihat rona merah samar di pipi Subaru. Ia tak tahu dan tak ingin memikirkan bagaimana caranya mereka berdua bisa keluar dari wahana labirin itu.

"Selanjutnya kau ingin naik apa?" pertanyaan Subaru berhasil membuyarkan lamunan Yuki. Karena tak ingin memperkeruh suasana, ia pun buru – buru mengeluarkan pamflet.

"Bagaimana kalau wahana tenang seperti Ferris Wheel Shining Saint Arcobaleno?" saran Yuki. "Pemandangan malam Saint nore Park pasti mengagumkan dari ketinggian 10 meter di puncak bianglala."

Subaru kembali menggandeng tangan Yuki, mengejutkan gadis itu. Suasana diam tak berlangsung lama mengingat sifat Yuki yang tak bisa berdiam diri. Terlebih lagi setelah kejadian memalukan di wahana labirin. Sebisa mungkin, ia mengalihkan topik tersebut sembari menunggu giliran mereka untuk menaiki bianglala. Wahana Ferris Wheel Shining Saint Arcobaleno, seperti wahana lainnya di Saint nore Park, merupakan bianglala yang besar dengan diameter kurang lebih 25 meter dan ketinggian 10 meter. Waktu yang digunakan untuk memutari wahana ini berkisar dua setengah jam, cocok untuk menikmati keindahan Saint nore Park yang dikelilingi kemerlap lampu warna warni.

Bagaikan mendapatkan undian makan pai apel gratis dan sepuasnya, iris biru Yuki berbinar bahagia. Ia berkomentar sana sini pada Subaru yang hanya duduk diam diseberangnya. Meskipun belum mencapai puncak, keindahan Saint nore Park sudah terlihat. Dirinya berani bertaruh pemandangan ini akan lebih menakjubkan ketika mereka sampai puncak.

"Sekarang jelaskan padaku, ada apa saat di wahana labirin itu," perintah Subaru.

Yuki diam. Gigitan didalam mulutnya mengencang hingga ia bisa merasakan rasa besi di indera pengecapnya. Ia menarik nafas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tawa dan dengusan penuh ejekan itu masih terngiang jelas ditelinganya. Ia kembali menarik nafas dan menatap Subaru dalam. "Kenapa kau ingin tahu? Itu bukan urusanmu, kan?"

"Tentu saja itu urusanku," ketus Subaru. "Kau yang memaksaku untuk menemanimu seharian ini. Aku tentu berhak tahu alasannya."

Yuki menyilangkan kedua tangannya, meniru sikap Subaru didepannya. "Oh iya? Kapan aku memaksamu, Subaru-kun? Aku tidak memaksamu," desisnya. "Aku membiarkanmu membuat keputusan untuk menemaniku atau tidak."

"Dengan duduk menungguku semalaman?" tukas Subaru tak mau kalah. "Kau, yang punya temperamen pendek, menunggu semalaman? Kalau ini menyangkut keempat saudaramu, aku pasti akan berpikiran seperti itu. Tapi ini aku, Sakamaki Subaru yang tak ada hubungan apa – apa denganmu."

"Ada. Kau temanku," sergah Yuki tegas, mengabaikan rasa pahit dimulutnya dan sesak didadanya. "Kau temanku yang berharga dan kau juga tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Padahal kau bisa saja mengancamku atau apapun itu untuk menjauhimu."

"Meskipun aku mengancamu, kau pasti akan terus datang seperti serangga," balas Subaru. "Itu menyebalkan."

"Yah, aku tidak akan mengelak untuk hal itu," ucap Yuki terkekeh yang dibalas geraman Subaru. Tak ada yang membuka mulut kembali karena masing – masing hanyut dalam pikiran. Suara pengunjung Hallowen Vandead Carnival terdengar jauh begitu juga dengan berbagai suara dari wahana Saint nore Park. Meski bianglala tetap bergerak dalam kecepatan stabil, waktu seolah berhenti untuk mereka berdua.

"Wahana labirin tadi... mengingatkanku pada mimpi buruk itu..." bisik Yuki halus, memecahkan keheningan. Seandainya Subaru bukan vampire, ia pasti tak akan bisa mendengarnya karena suara Yuki sungguh halus dan pelan. Ia menoleh kearah Yuki yang menunduk sambil meremas kedua tangannya. Wajahnya tidak terlalu terlihat karena tertutup oleh poni hitamnya. Samar, ia mencium aroma manis dan baru menyadari kalau Yuki mengigit bibir bawahnya. Pastinya dengan kencang sampai ia mencium darah gadis itu.

"Terus mengulang waktu untuk menghentikan kematian mereka berempat," lanjut Yuki masih dengan berbisik. "Melihat labirin yang dipenuhi tangga dan pintu itu, mengingatkanku akan usahaku yang sia – sia. Berbagai macam cara sudah kulakukan tapi hasilnya tetap sama. Belum lagi aku seperti mendengar tawa menyebalkan nenek buyut itu dan ucapan penuh penghinaan dari kakek vampire sialan itu."

Ia mengacak surai hitamnya gemas. "Kau pasti menganggapku gila."

"Ya, kau memang gila," setuju Subaru. "Tak akan ada yang mau melakukan hal semacam itu untuk orang asing. Pernahkah kau memikirkan kesedihan mereka saat tahu kau rela mati demi kebahagiaan mereka?"

Yuki semakin menundukkan kepalanya, membenarkan ucapan cowok itu. Ya, tak pernah sekalipun ia memikirkan hal itu. Baginya, asalkan keempat saudaranya itu bisa hidup tenang dan bahagia, itu sudah cukup. Ia bahkan tak masalah apabila mereka mengusir dirinya. Semuanya demi keempat saudaranya. Hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai balas budinya terhadap mereka yang sudah mau menerimanya. Tak pernah ada pikiran lain selain hal itu.

"Belajarlah dari kakakmu yang pintar itu," ejek Subaru. "Kau itu bodoh sekali."

Dengusan keluar dari mulut Yuki. "Kalau aku bodoh, berarti kau idiot," balasnya sambil menjulurkan lidah.

"Hah?!"

Sungguh ajaib. Suasana canggung dan berat itu berakhir hanya dengan kalimat ejekan. Perasaan Yuki pun mulai tenang dan ia pun perlahan kembali seperti biasa. Pembicaraan ringan disertai komentar dan rencana mereka setelah ini memenuhi gondola. Kali ini, Subaru ikut berkomentar meskipun hanya sepatah atau dua patah kata. Itu pun berupa protesan yang mengatakan ia ingin pulang setelah turun dari wahana bianglala. Dua setengah jam terasa cepat sekali dan nyaris saja Yuki ingin menaikinya lagi kalau belum dicegah Subaru. Yuki menggerutu tak senang. Namun, tak dipungkiri lelah mulai menyerangnya. Menutupi petualangan mereka di Vandead Carnival ini, Yuki memohon dengan sangat untuk berkeliling Mazero Main Street.

"Onegai! Ini akan kulakukan dengan cepat," pinta Yuki sangat.

Berakhirlah mereka berdua di jalan utama Mazero Main Street. Berbeda dengan Yuki yang mulai melihat banyak benda, Subaru justru menjaga jarak dibelakang gadis itu. Ucapan Yuki di wahana gondola tadi masih sedikit menganggu dirinya. Rasanya ia bisa mengerti ketakutan akibat trauma yang dialami gadis itu. Meskipun dirinya tidak memiliki sesuatu yang penting sampai rela mengorbankan nyawanya sendiri. Ia sedikit terpukau dengan kekuatan hati Yuki yang sanggup berulang kali melihat mimpi buruk itu. Apabila orang lain yang melakukannya, mereka pasti sudah menyerah ditengah jalan dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sikap berani tidak kenal takut itulah yang kemungkinan membuat Subaru tertarik pada gadis bersurai hitam pendek itu.

Subaru mengerjapkan matanya, mendadak merasakan aura tak enak dan penuh dengan tatapan menusuk. Ia menoleh ke belakang dan tidak mendapati siapapun kecuali pengunjung yang lain. Kerutan dikedua alisnya bertambah, meski ia mengabaikanya. Mungkin hanya perasaanku, pikir Subaru.

"Maaf membuatmu menunggu, Subaru-kun," ucap Yuki dengan beberapa buah plastik berukuran sedang ditangannya. "Ada apa? Wajahmu terlihat mengerikan."

"Wajahku memang seperti ini dari dulu," tandas Subaru.

Yuki menggelengkan kepalanya. "Tidak. Lebih menakutkan. Apa ada yang menganggumu?"

"Bukan urusanmu," ketus Subaru. "Kau sudah selesai? Ayo cepat pulang."

Yuki mengerutkan kedua alisnya sejenak, kemudian mengikuti Subaru yang sudah berjalan duluan. Iris birunya memerhatikan Subaru yang masih memasang wajah tak yakin namun sarat kesal di iris merah darahnya. Ia lalu berjalan didepan dan menghentikan langkah Subaru. "Aku serius, Subaru-kun. Ada apa? Tidak mungkin hanya karena kau lelah dan ingin pulang sampai kau terlihat ingin membunuh orang."

"Sudah kubilang, ini bukan urusanmu!" tukas Subaru. "Minggir!"

"Aku tak akan minggir sampai kau mau cerita," tantang Yuki sembari menyilangkan kedua tangannya. Helaan nafas panjang keluar. "Kalau ada sesuatu yang menganggu pikiranmu, aku ingin kau cerita padaku. Mungkin aku bisa membantumu," lanjutnya. "Lagipula, aku sudah berjanji akan melakukan satu permintaanmu."

Subaru mendecih. Sejak kapan gadis didepannya ini peka terhadap sesuatu, terlebih apa yang ia pikirkan saat ini. Mungkinkah ini hasil dari pengalamannya mengulang waktu hingga harus memerhatikan sesuatu dengan sangat teliti. Entahlah, Subaru tidak terlalu peduli. Ia menghela nafas dan menatap sekelilingnya, penuh dengan pengunjung yang masih sibuk memuaskan diri di jalan utama Mazero Main Street. "Aku hanya merasa ada yang mengikuti kita sejak tadi," ucapnya. "Tapi, mendadak hilang dan sekarang aku bisa merasakannya kembali."

Yuki mengikuti arah pandang Subaru yang jatuh pada sebuah kafe kecil dekat toko souvenir. "Ternyata Subaru-kun juga merasakannya," ujarnya. "Aku juga merasakannya, tapi terkadang hilang dan muncul lagi."

"Kau juga?" tanya Subaru terkejut.

"Un. Kupikir itu hanya perasaanku, tapi kalau sampai Subaru-kun merasakannya berarti memang benar," sahut Yuki. "Ada yang mengikuti kita."

Keduanya saling pandang dan kembali melihat ke arah kafe di seberang. Sebenarnya, Yuki tak ingin berprasangka buruk. Akan tetapi, mengingat apa yang ia lakukan dan bersama siapa dirinya saat ini, kemungkinan yang tadinya kecil menjadi semakin besar. Yuki pikir, kali ini dirinya bisa mengelabui mereka, namun kenyataan tidak selalu berjalan mulus. Helaan nafas panjang keluar dari mulut Yuki, mengundang sarat tanya dari Subaru disampingnya. Ia tahu, melakukan hal ini hanya akan mengundang amarah mereka.

"Biar saja, toh mereka sendiri yang mulai," gumam Yuki sebal.

"Hah? Apa maksudmu?" tanya Subaru tak mengerti.

Yuki menoleh pada Subaru, kemudian menyuruh cowok itu untuk menunduk sedikit. Awalnya Subaru ingin menolak, akan tetapi melihat sinar jahil di iris biru Yuki, ia menurut saja. Dirinya hanya berharap tidak terlibat dalam hal yang lebih merepotkan dan menyusahkan. Yuki menarik nafas pelan, berusaha untuk mengembalikan ritme detak jantungnya yang seperti ingin meledak. Ia mendongakkan kepalanya, membuat iris merah Subaru melebar. Bersamaan dengan itu, terdengar suara teriak dari belakang mereka diikuti oleh langkah menggebu. Subaru hanya bisa membatu melihat keempat Mukami bersaudara disana, menarik adik perempuannya.

"Yuki teme!" sembur Yuuma.

"Yu-chan! Kenapa kau tega sekali!" teriak Kou histeris.

"Yu-chan... ore no Yu-chan ga..." ujar Azusa.

Ruki hanya diam, namun tatapannya terlihat dingin dan merendahkan yang entah kenapa membuat Subaru kesal sekaligus sedikit takut.

Yuki mendengus kesal. "Kalian sendiri sedang apa disini? Kencan dengan diri masing – masing?"

"Apa ada yang salah dengan empat cowok bermain di taman bermain?" tantang Ruki yang membuat kerutan di alis Yuki semakin dalam.

"Salah kalau maksud kalian mengikuti kami sekaligus bermain!" balas Yuki tak mau kalah.

Subaru hanya bisa menghela nafas pelan melihat pertengkaran konyol dari Mukami bersaudara. Harusnya ia tahu dan menyadari bahwa aura tak mengenakkan itu berasal dari mereka. Ia yakin Yuki sengaja menyembunyikan rencana hari ini dari keempat saudaranya. Jika tidak, mustahil dirinya bisa keluar dari rumah dan bermain bersamanya malam ini. Emosinya semakin bertambah tatkala ia mendengar kekehan penuh ejekan dan godaan dari belakang. Segera saja ia melayangkan tinjunya, meski si pelaku masih bisa menghindar tepat waktu. Jika tidak, mungkin wajah tampan itu akan meninggalkan luka lebam yang cukup untuk dijadikan bahan tawa oleh seseorang.

"Oi! Kau mengajakku ribut, ya?!"

"Kalian sendiri sedang apa disini, hah?!" geram Subaru.

"Tentunya menikmati Subaru-kun dan Yuki-chan yang sedang kencan~" ucap Raito.

"Ya, meskipun rasanya mual sekali melihat kalian bersenang – senang bagaikan orang bodoh," lanjut Kanato mengejek. Ia mendengus. "Ah, aku lupa. Kalian memang bodoh."

"Bicara sekali lagi dan akan kuceburkan dirimu dan boneka menyebalkanmu ke kuali kopi, tukang histeris!" seru Yuki yang tidak sengaja mendengar olokan Kanato.

"Berani melakukannya dan akan kubunuh dirimu, serangga!" balas Kanato tidak mau kalah.

"Cukup! Kalian tahu, kita sedang ada dimana?" tandas Ruki menahan kesalnya. Keributan kecil ditengah keramaian jalan utama Mazero Main Street memang tidak bisa diacuhkan. Hampir semua pasang mata bertuju kepada mereka, penasaran apa yang sedang terjadi. Jika memang ada lubang besar tidak berdasar, ingin sekali Yuki masuk kedalamnya. Hari yang ia nantikan dalam ketidakpastian harus berakhir dalam kesengsaraan. Ia memang tidak boleh meremehkan garis tangan Sang Pencipta. Awalnya, ia kira hari ini akan menjadi hari terbaik dalam hidupnya. Namun, kenyataannya justru berkebalikan. Keempat saudaranya mengetahui rencananya, ditambah dengan kemunculan tak terduga si kembar tiga Sakamaki, semakin membuat Yuki kesal akan nasibnya. Dirinya terlalu fokus mengutuk pada semua hal yang menyebabkan harinya menjadi sial hingga tidak mengikuti pertengkaran kecil yang terjadi. Ia baru sadar ketika lengannya ditarik paksa oleh seseorang.

"Kalau tidak menyukainya, aku tidak akan pergi bersamanya!" seru Subaru, berhasil membuat Mukami bersaudara dan si kembar tiga bungkam. Tak kecuali Yuki yang hanya bisa terperangah, tidak percaya mendengar kalimat itu dari Subaru. Ia berani bertaruh wajahnya terlihat semakin bodoh karena mulutnya terbuka lebar saat ini. Dirinya tak bisa berpikir maupun melontarkan ejekan, godaan, atau apapun itu. Seolah ditampar oleh kenyataan, pekikan pelan keluar dari mulutnya tatkala Subaru menggendongnya di pundak cowok itu.

"Na-!"

Belum sempat Yuuma mengambil Yuki kembali, Subaru sudah menghilang dari kerumunan. Mengabaikan geraman Kou dan Yuuma, beberapa orang dan pedagang kaki lima yang sejak awal melihat kejadian tadi justru bersorak riang, menyemangati pasangan baru. Ruki menghela nafas panjang sembari memijat pelipisnya, merasa hidupnya yang termasuk abadi berkurang banyak. Berbeda dengan Ayato dan Raito yang semangat untuk mencari Subaru dan Yuki.

Jauh dari keramaian jalan utama Mazeross Dark Street, tepat dibelakang sebuah tenda kecil milik pedagang kaki lima, Subaru muncul masih dengan Yuki dalam gendongannya. Iris merahnya menyalang tajam, tak ingin ada penganggu yang tiba – tiba muncul. Dirinya hampir saja melupakan sesuatu jika saja Yuki tidak memukul punggung cowok tersebut. Nampak belum cukup kejutan untuknya, Subaru menurunkan Yuki dengan sangat pelan dan lembut, sungguh berbeda dari sikap biasa cowok itu. Walaupun cahaya disana cukup remang, Subaru masih bisa melihat rona merah dikedua pipi Yuki dan anehnya terlihat nampak manis. Hening memperkeruh suasana diantara mereka berdua. Yuki tahu harus berkata sesuatu, tapi lidahnya terasa kelu. Sama halnya dengan Subaru yang tidak tahu harus berbuat apa setelah melarikan diri. Satu hal yang dipikirannya saat itu hanyalah kabur untuk menghindari godaan dan ejekan dari saudaranya maupun Mukami bersaudara.

"A-ano!" seru Yuki, berhasil memecahkan keheningan aneh. "U-ucapanmu yang tadi, apa maksudnya?"

Alis Subaru bertaut. "Hah?"

"Ja-jangan membuatku mengulanginya, baka moyashi," rajuk Yuki.

Mendadak Subaru bisa merasakan pipinya panas ketika mengerti maksud Yuki. Iris merahnya menatap gadis didepannya yang menunduk, seolah berusaha menutupi rona merah dipipinya. Ia pun mengakui bahwa dirinya cukup bodoh terpancing emosi sehingga mengatakan hal yang sebenarnya tak ingin ia katakan. Namun, semua sudah terlambat. Mengelaknya pun nampaknya hanya akan menambah amarah Mukami bersaudara, seolah dirinya tengah mempermainkan adiknya. Begitu pula dengan mengakui perasaannya sendiri. Ditambah dengan pertengkaran mereka beberapa waktu lalu, mustahil Subaru masih bisa hidup saat ini jika bukan karena Yuki. Sudah waktunya ia memberikan jawaban, batasan antara hubungan mereka berdua.

Yuki hendak mengatakan sesuatu, menyadari Subaru yang sejak tadi memilih diam, tapi terhalang ketika cowok bersurai putih itu menggenggam tangan kirinya. Pundaknya ikut menegang tatkala merasakan dingin di pipi dan tengkuk lehernya. Iris biru Yuki melebar, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Rona merah mewarnai pipi paras tampan Subaru, semakin menonjolkan iris merah darahnya. Ia membuka mulutnya dan kembali bungkam. Ibu jari Subaru menyusuri bibir bawah Yuki dengan perlahan, seperti terhisap akan kelembutan yang tercipta.

"Su-"

"Kenapa pula harus dirimu," sela Subaru.

Kedua alis Yuki bertaut.

"Tukang bunuh diri, brother complex, tidak kenal takut, ceroboh, dan parahnya bodoh pula," lanjut Subaru.

"Hei! Apa maksudmu?!" balas Yuki tidak terima.

Subaru mengeratkan genggamannya. "Awalnya aku mendekatimu dan mau dipermainkan olehmu semata hanya darahmu. Begitu pula setelah tahu kalau darah Yui tidak bisa menghilangkan rasa hausku. Asalkan bisa mendapatkan darahmu, aku tidak peduli jika harus menjadi temanmu."

Yuki diam, tidak bermaksud menanggapi. Ia tahu masih ada hal lain yang ingin disampaikan oleh Subaru. Terlihat jelas dalam iris merah darahnya yang entah mengapa bersinar hangat, tidak biasanya yang selalu terlihat dingin ataupun penuh dengan amarah. "Aku pun semakin heran kenapa dirimu mau menerjang bahaya hanya demi orang asing."

"Mereka bukan orang asing, tapi keluargaku," lirih Yuki.

Subaru tidak mengindahkan. Ia menempelkan kening mereka berdua, berhasil mencuri irama nafas Yuki. Aroma apel bercampur darah memenuhi indera penciumannya. Dirinya hampir saja kehilangan kendali jika tangan Yuki tidak membalas genggamannya dengan kuat. Iris biru gadis itu masih menatap lurus iris merahnya, menunggu dengan sabar apa yang ingin ia katakan.

"Parahnya, semakin mengenalmu, aku justru tidak bisa menjauhimu. Aku tidak hanya terperangkap oleh darahmu, tapi juga pesona anehmu," ucap Subaru. Ia mendekatkan wajahnya kembali hingga bibir mereka berdua nyaris bertemu. "Omae ga hoshii, Yuki."

Bagaikan kembang api yang mekar di langit, suhu tubuhnya terasa naik drastis. Bagaikan dicakar oleh kucing, ia merasa sakit disekujur tubuhnya. Ia tidak tahu harus apa, haruskah ia diam ataukah membalasnya. Bukan berarti ini adalah pertama kalinya mereka melakukannya. Akan tetapi, tetap saja kali ini terasa begitu nyata dan tanpa pemikiran licik untuk mencari keuntungan masing – masing. Kali ini terasa begitu tulus, murni karena ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan oleh kata.

Subaru segera menarik dirinya. Dadanya kembali sesak ketika gadis dalam dekapannya itu sama sekali tidak membalas ciumannya. Panik dan rasa malu memenuhi dirinya. Mungkin ia terlalu cepat mengambil langkah. Namun, nampaknya hal itu tidak perlu dikhawatirkan terlalu dalam oleh Subaru. Wajah Yuki saat ini dipenuhi oleh rona merah, bahkan sampai telinga dan lehernya. Mulutnya mengatup, seperti ikan yang keluar dari habitatnya. Sekarang ia mengerti, mengapa keempat saudaranya begitu menyayangi dan melindungi gadis bersurai hitam pendek itu. Betapa manisnya gadis dihadapannya saat ini. Ia hendak mengecap manis dan lembut bibir Yuki ketika mendengar seruan dari kejauhan. Buru – buru Yuki menarik diri untuk menjauh, tapi tidak diizinkan oleh Subaru. Kesal sebenarnya mereka harus diganggu kembali dan menghadapi amarah dari Mukami bersaudara tidak akan ada habisnya. Walaupun tergoda sekali ingin menghajar mereka, ia merasa Yuki akan membalasnya seratus kali lipat lebih parah.

"Baiklah. Aku bukan orang jahat yang akan membiarkan seseorang mati didepanku," ucap Yuki. Iris birunya berkilat jahil, entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu Subaru tidak mau tahu. "Dan, arigatou, Subaru-kun."

Gadis itu berlari menjauhinya. "Kalau Kou-kun dan Yuuma-kun tidak bisa menangkapku, itu artinya kalian harus menerima semua ini!" tantangnya.

"Tidak akan pernah!" seru Kou dan Yuuma bersamaan.

Tiga anggota Mukami bersaudara itu berlarian dan membuat kegaduhan ditengah jalan utama Mazeross Dark Street tanpa memedulikan pengunjung yang lain. Subaru mau tidak mau harus mengakui jika gadis itu cerdik, meskipun lebih cenderung licik dan jahil untuk memenuhi ketidakpuasannya. Sebelum ditangkap oleh saudara tertua Mukami, ia segera melarikan diri dari tempatnya. Keduanya sama – sama menantikan pertemuan berikutnya yang pasti tidak akan kalah menarik dari hari ini.


Daijoubu : Kau baik - baik saja

Himitsu desu : Rahasia

Onegai : Kumohon

Yuki teme : Sialan kau, Yuki

Ore no Yu-chan : Yu-chan ku

Omae ga hoshii : Aku menginginkanmu


Author : Bahaha, Author rasanya bahagia tingkat kedelapan pake luar biasa, akhirnya bisa mewujudkan chapter tsundere couple kita pergi date. Chapter ini pun berulang - ulang kena revisi oleh Partner in Crime Author, yang katanya kurang greget, kurang doki - doki, pokoknya serba kurang. Padahal udah lama nggak ketemu dan begitu Author ngajuin coretan mengenai chapter ini, langsung masuk mode Editor. Memang menyeramkan Partner in Crime Author tuh hiii..

Sebenarnya, Author udah berencana buat update chapter ini bertepatan dengan akhir November kemarin kalau pas hari Hallowen kemarin tidak sempat. Apa daya Real Life itu lebih menyeramkan dibanding Partner in Crime Author. Terpaksa deh Author update chapter ini sekarang. Padahal bulan ini pun, masih banyak event lagi yang udah sempet Author dan partner Author rencanain pas terakhir ketemu. Itupun ngga jauh - jauh dari ulah iseng OC kita #ketawa evil

Maapkan Author juga jika rasanya chapter ini dirasa terlalu cepat, Subaru yang mendadak OOC dkk yang membuat minna tidak nyaman. Apa daya jika ini hanyalah fanfiction, hasil dari imajinasi liar Author yang tak akan bisa dibendung oleh jurang sedalam apapun.

Yak, jangan berlama - lama dan bertele - tele, silahkan langsung kirimkan pendapat, saran, dan kritik minna di kotak review ato langsung di PM. Dan kalau minna punya request untuk ide chapter selanjutnya seperti apa, silahkan. Author akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya dan bikin minna puas.

Akhir kata, bye bye~