Summer
.
.
.
.
.
Disclaimer : Mereka semua milik Tuhan
Cast : DBSK, Suju, BTS dll
Genre : Friendship, Romance, Hurt, Angst, School of Life
Rate : T
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
Junsu masuk ke dalam rumah setelah salah satu asisten rumah tangganya membukakan pintu untuknya. Dia berjalan santai sembari menenteng plastik hitam di tangan kanannya. Bersiul pelan dan berjalan untuk menaiki tangga sebelum sebuah suara menginterupsinya.
" Bagus sekali kau bersenang – senang diluar"
" Aku rasa bukan urusanmu?"
" Harusnya appa memasukkanmu ke dalam pelajaran tambahan agar kau tidak bermain dengan sembarang orang, Kim Junsu"
" Sudah berapa kali aku katakan tidak usah mencampuri hidup santaiku, Kim Jaejoong, Shim Changmin?"
Setelahnya Junsu menaiki tangga, berjalan menuju kamarnya dan mengunci kamarnya dari dalam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
~ Chapter 2 : The Kim's, dan Shim's ~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho baru saja turun dari bus dan membuka kemasan roti isi kacang merah kesukaannya saat melihat Junsu berjalan dari sebuah tikungan.
" Junssuuuuu~~" Panggilnya sedikit melambai
Junsu bergedik melihat seme berkelakuan uke di depannya, ingin pura – pura tidak mengenal tapi namja itu sudah merangkul pundaknya.
" Lepas! Kau berat tahu!"
" Ck, cuma tanganku saja! Kau lemah sekali sih!"
Yunho melepaskan rangkulannya, mereka berjalan menuju sekolah berdua. Yah... Jarak halte bus ke sekolah mereka memang agak jauh, delapan sampai sepuluh menit berjalan kaki dari halte bus.
" Rumahmu dimana sih? Kok aku belum tahu ya?" Tanya Yunho
" Tidak ada untungnya aku menyebutkan alamat rumahku padamu" Jawab Junsu dengan sinis
" Kenapa menutupinya? Kalau kau tinggal bersama Jaejoongie baby kesayanganku tidak apa – apa kau menutupinya"
" Aku memang tinggal bersamanya" Gumam Junsu
" Mwo?"
Yunho menghentikan jalannya, Junsu menoleh ke belakang dan menatap malas pada Yunho. Yunho kemudian berjalan kembali dan memukul belakang kepala Junsu.
" Kalau mengkhayal jangan ketinggan, sakit nanti pas jatuh" Ucap Yunho
" Sakit bodoh! Jangan pukul kepalaku, aku tidak mau jadi bodoh sepertimu!"
" Yak! Aku tidak sebodoh itu tahu!"
Yunho mengapit bungkus rotinya dibibir dan memiting leher Junsu, membiarkan mereka menjadi tontonan. Sementara keduanya malah tertawa bahagia sampai Shindong datang dan ikut bergabung dengan mereka berdua.
Ckiittttt...
Candaan mereka berhenti saat melihat sebuah mobil mahal berhenti di depan gerbang sekolahnya, seorang supir keluar dan membukakan pintu penumpang dan keluarlah pujaan hati Yunho berserta sabahat sang pujaan hati, Changmin.
Jaejoong yang baru turun dari mobil melirik sekilas ke samping dan kemudian berjalan tanpa ragu masuk ke dalam sekolah di temani Changmin. Yunho mengedipkan matanya berulang kali sampai dia tersadar sesuatu.
" Kau lihat barusan? Dia melirik kemari! Dia pasti melirikku! Dia mengenaliku atau malah dia mulai menyadari keberadaanku? Eoh! Bisa jadi dia malah sudah menyukaiku!" Pekik Yunho heboh
Junsu dan Shindong saling melirik kemudian menganggukkan kepalanya.
PLETAK
PLETAK
" Awhhh!"
Usai memukul belakang kepala Yunho secara bergantian, Junsu dan Shindong meninggalkan Yunho yang kini memegangi kepalanya karena kesakitan.
" YAK! Kenapa kalian memukulku dan meninggalkanku! Sahabat macam apa kalian!" Pekik Yunho kemudian menyusul kedua orang yang tadi memukul kepalanya dengan kencang
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho tahu dia salah, dia tidak benar, tapi otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik untuk mendengarkan penjelasan dari gurunya hari ini. Bayangan wajah manis Jaejoong terus saja terpampang dalam otaknya. Dan itu membuat dirinya membersihkan toilet karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru killer-nya.
" Huppffttt... Lapaaarr~ Dasar guru menyebalkan, aku kan hanya tidak bisa menjawab soalnya! PR juga aku kerjakan walaupun jawabannya semua nama Jaejoong sih... Hehehehe... Siapa suruh Jaejoongie-ku selalu ada di dalam pikiranku"
Mungkin Yunho sudah sedikit gila berbicara sendiri sembari mengepel lantai, biarkan saja. Sepuluh menit sebelum bel istirahat berbunyi, Yunho menyelesaikan tugasnya. Dia merapikan alat 'tempurnya' dan beranjak keluar dari dalam toilet.
SRETT
BRUGH
" Omo! Maaf. Kau tidak apa – apa?"
Saat keluar dari toilet dia malah menabrak seseorang hingga orang itu jatuh terduduk. Tentu saja Yunho langsung merasa bersalah dan berjongkok di depannya.
" Omo!"
Kali ini dia kembali kaget karena orang itu mendongakkan kepalanya dan menatapnya dengan tajam, orang itu adalah Jaejoong. Iya Jaejoong yang itu! Yang terus ada di dalam pikirannya!
" Kau tidak apa – apa? Ada yang sakit? Perlu ku antar ke ruang kesehatan?" Tanya Yunho dengan heboh
" Ck..."
Jaejoong menepis tangan Yunho yang menyentuh bahu dan berdecak sekali lagi, dia kemudian meninggalkan Yunho dan masuk ke dalam toilet. Yunho buru – buru berdiri dan menunggu Jaejoong keluar dari dalam toilet karena merasa bersalah. Apa lagi dia membuat bidadaranya terjatuh seperti tadi.
CEKLEK
Saat bel istirahat berbunyi, pintu toilet itu terbuka dan Yunho langsung berdiri di depan Jaejoong sedangkan Jaejoong menatap bingung pada kelakuan namja yang ada di depannya itu.
" Minggir" Ucap Jaejoong dengan datar
" Yakin tidak apa – apa?"
" Shhh... Minggir aku bilang!"
" Omo! Suara teriakanmu saja merdu"
PLAKK
" Yunho!"
TAP
TAP
TAP
Jaejoong meninggalkan Yunho yang terdiam karena tamparan Jaejoong pada pipinya sedangkan seseorang memanggilnya adalah Junsu yang kaget karena temannya ditampar oleh Jaejoong.
" Gwanchana?" Tanya Junsu dengan khawatir
" Eoh?"
Yunho mengembalikan kesadarannya dan menatap Junsu serta Shindong yang berdiri di sampingnya. Yunho mengangguk dan menyentuh pipinya yang baru saja ditampar oleh Jaejoong, dia tersenyum dan membalikkan tubuhnya menuju Jaejoong yang sudah jalan menjauh darinya.
" Yak! Jaejoongie terima kasih sudah menyadarkanku bahwa kau itu benar nyata indahnya! Ingat namaku eoh! Jung Yunho! Calon kekasihmu!"
Dan tentu saja pekikan itu membuat Yunho menjadi sorotan utama disana, banyak sekali siswa dan siswi yang mendengarnya kan! Apa Yunho tidak malu? Junsu langsung mendengus kesal begitu juga dengan Shindong, lalu...
PLAKK
PLAAKK
" Awh! Ya! Kenapa memukulku!" Pekik Yunho tidak terima
" Menyadarkanmu agar tidak bermimpi terus!" Balas Junsu dan Shindong mengangguk dengan semangat
" Lapar, lebih baik kita ke kantin saja Junsu daripada berada di samping orang gila ini" Timpal Shindong
" Aku setuju, ayo"
Dan Junsu juga Shindong berjalan meninggalkan Yunho sampai Yunho sadar kemudian berlari menyusul kedua temannya itu. Mereka memutuskan untuk makan di pojok kantin dan Shindong yang sibuk dengan beberapa temannya menanyakan apakan Shindong akan ikut klub menari seperti saat Junior High School atau tidak.
Yunho dan Junsu tentu kaget dan tidak percaya bahwa namja gempal di hadapan mereka ini adalah penari yang handal.
" Eunhyuk ah, nanti aku kabari lagi ya"
" Aku harap kau bisa masuk klub tari seperti dulu dan kita akan membakar panggung dengan tarian kita seperti dulu!"
" Hahahahahaha! Iya"
" Ya sudah, sampai nanti ya"
" Oke"
Setelah teman Shindong pergi, Yunho menunjukkan wajah bingungnya pada Shindong begitu juga Junsu. Shindong hanya bisa tertawa melihat kelakuan kedua teman barunya itu.
" Tidak usah heran, nanti akan aku buktikan bagaimana tarianku pada kalian. Lalu kalian akan masuk klub apa? Kita diwajibkan ikut klub kan?"
" Belum tahu" Ucap Junsu
" Aku ingin masuk klub Matematika dan Sains. Bukannya Jaejoong ada di klub itu?" Ucap Yunho ngawur, mungkin otaknya keluar saat ditampar oleh Jaejoong sehingga tidak bisa berpikir lagi
" Huuppffttt..." Shindong menahan tawanya
" Jangan kotori klub itu dengan kebodohanmu"
Sakartis sekali ucapan Junsu tapi memang benar sih, Yunho kadang harus di sadarkan tentang bagaimana kemampuan otaknya bekerja.
" Yak! Memang kenapa? Aku bisa kok mendaftar di klub itu" Ucap Yunho penuh keyakinan
" Kau tahu ada tes agar kau bisa masuk ke dalam klub itu? Ckckck... Sadar diri Jung! Kenapa juga kau bisa masuk ke sekolah elit ini dengan otakmu yang pas – pas an sih?" Tanya Shindong
" Huh? Aku juga bingung. Tadinya aku juga tidak mau masuk sini karena teman – temanku tidak ada yang ingin sekolah disini tapi kepala sekolahku tanpa bertanya apapun padaku, dia memasukkan dataku kemari"
"" Kepala sekolahmu? Kau berteman baik dengan kepala sekolahmu?" Tanya Junsu
" Yah... Aku bahkan beberapa kali menemaninya mabuk" Jawab Yunho
" Whoaa"
" Dia memintaku agar tetap pada impianku" Lanjut Yunho
" Impian?" Junsu mengerutkan keningnya
" Ya, selama ini aku hanya berprestasi dibidang olah raga terlebih sepak bola. Bodoh – bodoh begini aku kapten klub sepak bola di Elemntary School dan Junior High School tahu!"
Tentu saja Shindong dan Junsu memandang Yunho dengan cengo, Yunho itu yang kemarin dihukum lari dan jatuh di lapangan bukan? Yang larinya lambat bukan main? Jadi ketua klub sepak bola selama sembilan tahun?
" Iya, aku tidak bisa membuktikan apapun pada kalian saat ini. Tapi nanti, jika sudah ada pertandingan sepak bola, aku akan membuktikan pada kalian bagaimana aku bertanding!" Ucap Yunho penuh semangat
" Ya ya ya ya ya~ Mengkhayal saja" Gumam Junsu
" Ck! Kenapa masih tidak percaya juga?"
" Melihat kemampuan larimu saat dihukum membuatku ragu jika kau ketua klub sepak bola, apa lagi kau sempat akan menangis saat itu bukan?"
Godaan Shindong membuat wajah Yunho memerah, tentu saja dia sempat akan menangis! Hal itu karena saat jatuh Jaejoong ada di sana!
" Kalian menyebalkan!"
" Kau Jung Yunho bukan?"
Ketiga namja itu menoleh dan melihat seorang namja terlihat cantik menghampiri mereka, ah bukan... Yunho maksudnya.
" Ya, aku Jung Yunho" Ucap Yunho dan membungkuk sopan
" Aku Minki, manager klub sepak bola. Kepala sekolah bilang kau akan masuk ke klub dan tesmu sebagai ketua sepak bola kami akan dilaksanakan sepulang sekolah" Ucap namja itu
" Benarkah?" Wajah Yunho berbinar
" Jangan senang dulu, karena ada beberapa kandidat lain yang pasti mereka semua sunbae-mu"
" Ah... Begitu" Yunho melorotkan bahunya yang tadi sempat naik
" Tapi kami akui kau benar – benar ketua yang hebat karena membawa klubmu menang berturut – turut di daerahmu"
" Ah, terima kasih sunbae"
" Ya, sampai jumpa pulang sekolah nanti"
" Ne"
Yunho tersenyum senang dan setelah namja bernama Minki itu pergi Yunho menatap kedua temannya yang membatu. Yunho tertawa karena tahu apa yang terjadi. Rasakan! Siapa suruh tidak percaya pada ucapannya!
" Jadi kau benar – benar ketua klub sepak bola?" Tanya Shindong
" Iya Shindong ah! Aku bahkan pernah mengalahkan klub sekolahmu tahun lalu. Kau bisa bertanya pada klub sepak bola sekolahmu dulu"
" Aku benar – benar tidak percaya" Gumam Shindong
Yunho kemudian beralih menatap Junsu yang kini sedang meminum es tehnya.
" Masih tidak percaya?" Goda Yunho
" Tidak tahu" Jawab Junsu jutek
" Aigo~ Lalu kau akan masuk klub apa?" Tanya Yunho
" Tidak tahu"
" Yak! Aku bicara serius tahu!" Yunho memukul lengan Junsu
" Yak! Sakit! Aku juga serius tahu! Aku tidak pernah ikut klub apapun"
" Jinjja? Bagaimana bisa?" Tanya Shindong
" Aku tidak pernah tertarik dengan apapun"
" Huh? Masa?"
" Ya"
" Kau harus menemukan sesuatu yang membuatmu tertarik Junsu yah" Ucap Yunho
" Kenapa?"
" Tentu saja agar kau punya mimpi dan mengejar mimpimu itu"
" Tidak penting"
" Itu penting untuk masa depanmu"
" Masa depan? Cih" Gerutu Junsu yang hampir tidak terdengar oleh Yunho dan Shindong
" Kau bilang apa Su?"
" Tidak"
" Jika kau tidak punya mimpi biar kami bantu kau menemukan mimpimu!"
Yunho merangkul Junsu dengan erat dan membuat Junsu terjepit dan berteriak kesakitan sementara Yunho tertawa senang mendengar penderitaan Junsu.
" YAK! Akhh! Jung Yunho pabbo! Lepassshhh! Yak! Shindong! Kenapa kau malah ikutan! Hahahahaha akkhh!"
Dari jauh terlihat dua orang namja duduk memperhatikan Junsu, salah seorang namja itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia tidak suka dengan pemandangan yang dilihatnya itu.
" Kenapa sih mereka berisik sekali"
" Biarkan saja. Kau tidak suka dia tertawa lepas seperti itu?"
" Aku bahkan tidak pernah suka dia memandang orang lain"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pulang sekolah, sebagai pembuktian Yunho mengajak Shindong dan Junsu ikut di tempatnya melakukan tes. Junsu dan Shindong duduk di pinggir lapangan, mereka memperhatikan bagaimana Yunho dengan riang menyapa salah satu pelatih dan memperkenalkan dirinya dengan sopan.
Satu poin plus untuk Yunho, walaupun anaknya berantakan dia tahu sopan santun sehingga baik Shindong ataupun Junsu tidak terlalu merasa malu dengan sikap Yunho.
" Menurutmu apa dia bisa melakukannya?" Tanya Shindong
" Mana kutahu, aku kan baru bertemu dengannya di sekolah ini"
" Mau bertaruh?"
" Tapi kita berdua sama – sama meragukannya"
" Hah... Benar juga"
" Taruhan saja, jika dia memang bisa lolos dan menjadi ketua klub maka dia harus mentraktir kita berdua"
" Hahahahahaha... Boleh juga"
Pada akhirnya Junsu dan Shindong melongo tidak percaya dengan kemampuan Yunho di tengah lapangan. Namja clumsy itu berubah menjadi namja berkharisma yang mengagumkan. Sedikit menyesal Junsu dan Shindong menghina Yunho tadi.
PROK PROK PROK
Suara tepuk tangan itu datang dari pinggir lapangan, pelatih sepak bola itu menghampiri Yunho dan memeluk namja yang bermandikan keringat. Junsu tersenyum, dia tahu Yunho pasti melewatinya dengan baik.
" Bagaimana? Aku keren, kan?" Tanya Yunho setelah tesnya selesai, dia menghampiri Junsu dan namja itu memberikan sekaleng jus jeruk yang dingin
" Minum"
" Waahh... Kapan kau membelinya? Terima kasih"
" Hum" Junsu mengangguk dengan malas
" Kau keren, bagaimana bisa namja clumsy sepertimu berubah seperti tadi?"
" Itu karena sudah bakatku hahahahaha.. Impianku adalah menjadi pesepak bola internasional nantinya!" Pekik Yunho dengan senang kemudian mengayunkan tangannya ke atas
" Ayo pulang" Ucap Junsu tanpa memperdulikan pose kepahlawanan Yunho, namja itu kemudian berjalan menjauh diikuti Shindong dan Yunho
" Tadi kau lihat bagaimana para sunbae menatapmu seperti mereka ingin memutilasimu setelah pelatih memelukmu?" Tanya Shindong
" Huh masa? Kau salah lihat kali, mereka baik kok" Ucap Yunho kemudian tersenyum lebar
Satu lagi, Yunho adalah namja dengan pemikiran 'Seribu alasan positif', sulit bagi Junsu dan Shindong membicarakan hal negatif dengan Yunho.
" Kami lapar, kau harus mentraktir kami" Ucap Junsu
" Kenapa harus aku?"
" Tidak mau tahu! Cepat"
" Ishh..."
Yunho mengingat – ingat sisa uang jajannya bulannya, dia sedang mengumpulkan uang untuk membeli sepatu bola yang baru. Mana bisa mentraktir dua temannya ini. Terlebih Shindong makannya sangat banyak, bisa – bisa dia gagal membeli sepatu baru.
" Cepat ish!"
" Hmmm... Ah!" Tiba – tiba muncul sebuah ide " Ayo~ Naik bus dulu tapinya"
" Jauh?"
" Tidak kok, lima belas menit saja. Oke?" Tanya Yunho dengan mata berbinar
" Kau mencurigakan"
" Yak! Aku itu tulus mentraktir kalian! Tidak bisakah kalian berpikir positif sedikit padaku? Oh! OMO! Jaejoongie-ku! Sedang apa bersama makhluk tinggi itu di depan gerbang? Menunggu jemputankah?"
Yunho mulai lagi gilanya saat melihat pujaan hatinya, bidadaranya, Kim Jaejoong. Tanpa memperdulikan kedua temannya Yunho berlari menghampiri Jaejoong yang sedang berdiri bersama namja tinggi bernama Changmin yang selalu bersamanya.
" JAEJOOOONGGIIIEEEE~~ BABBBBBYYYYY~~~ CUTIE PIE-KUUUU"
(Beehh... Malu beh, Cho malu punya mertu kayak babeh!)
SRETTT
Baru saja akan mendekat Changmin sudah berdiri di depannya, menghalangi Yunho. Berdiri di antara Yunho dan Jaejoong yang menatap malas kedatangannya.
" Minggir aku ingin bertemu calon kekasihku" Ucap Yunho
" Dia tidak mau" Ucap Changmin dengan nada datar
" Mwo? Jaejoongie, kenapa kau kejam sekali pada calon kekasihmu?"
" Pergilah, aku tidak mau melihat wajahmu" Ucap Jaejoong dengan datar
" Kenapa dengan wajahku? Memangnya selalu terbayang dipikiranmu ya? Waahhhh..."
" Aku mual mendengarnya"
" Uh? Muak? Tapi kita belum berbuat apapun baby... Yah... Tadi sih kau memang menyentuh pipiku. Bagaimana? Haluskan?"
" Changmin ah, kapan Lee ahjusshi sampai?" Tanya Jaejoong
" Sebentar lagi hyung"
" Kau belum dijemput? Mau pulang bersamaku dan kedua temanku saja dengan bus?"
" Bus? Ck..." Changmin berdecak mendengar ajakan Yunho
" Kenapa kau seperti itu? Belum pernah naik bus ya?"
" Yeah... Kaummu itu berbeda dengan kami" Jawab Changmin datar
" Yun... Sudah, kemari"
Yunho menoleh, menatap bingung pada Junsu yang kini memandang Changmin dengan datar. Auranya berbeda.
" Kaum seperti kita tidak bisa bersama mereka. Kemari dan kita naik bus saja, tuh... Sudah datang" Tunjuk Junsu dengan lirikan matanya
Yunho menoleh, dia memang melihat sebuah bus perlahan datang dan berhenti di halte bus. Dengan cepat Yunho menolehkan kembali kepalanya, menatap Jaejoong yang ada di belakang tubuh Changmin.
" Jaejoongie-ku sayang, aku pulang dulu ya... Kau hati – hati ya Chuu~~~" ucap Yunho dengan genit kemudian menatap sebal pada Changmin yang menghalanginya melihat Jaejoong
Junsu menghela nafasnya, dia menarik lengan Yunho dan menyeretnya dari hadapan Changmin dan Jaejoong bersama Shindong. Sedangkan Jaejoong menatap Junsu dengan sinis begitu juga dengan Changmin.
" Kaum seperti apa yang dia maksud? Cih"
" Sudahlah..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho mengajak Junsu dan Shindong berjalan santai setelah turun dari bus, mereka berbincang tapi karena Junsu sedikit pendiam sulit juga mengajak namja itu berbicara. Sampai dia tersadar jalan yang dilewati olehnya. Oh tidak...
" Nah! Sampai! Ini adalah rumah makan paliiinggggg enak disini!"
Yunho merentangan tangannya dan menunjukkan sebuah rumah makan yang tidak terlalu besar di belakangnya, Shindong memincingkan matanya.
" Kau pasti meragukan pilihanku lagi kan? Kalau enak, kau harus membayar makananmu sendiri, aku tidak akan traktir" Ucap Yunho pada Shindong
" Arasseo!"
" Nah, ayo masuk!"
Yunho melangkah terlebih dahulu ke dalam rumah makan itu, saat membuka pintu Shindong menatap takjub rumah makan itu, rapi dan nyaman. Juga agak ramai.
" Duduklah ditempat yang kalian inginkan" Ucap Yunho
Karena rumah makan itu tidak menggunakan kursi, akhirnya mereka memilih duduk di pojok dekat epndingin ruangan agar tidak kepanasan. Mereka duduk bersila sembari memperhatikan Yunho.
" Kau baru pulang? Bagaimana tesnya?"
" Eomma~~ Aku merindukanmu padahal tadi pagi aku bertemu denganmu" Yunho mendekati seorang namja cantik kemudian memeluknya dengan erat
" EOMMA?!"
Shindong dan Junsu membulatkan matanya, namja cantik itu eomma dari Yunho? Muda sekali?! Dan ini berarti rumah makan ini adalah milik keluarga Yunho?
' Jika benar ini rumah makan Yunho, untung saja aku selalu menyuruh Jang hyung untuk keluar membeli tteobokki-nya' Batin Junsu
PLETAK
Momen indah ibu dan anak itu terganggu saat seseorang memukul belakang kepalanya, Yunho meringis dan memegangi belakang kepalanya.
" Lepaskan istriku" Ucapnya dengan nada dingin
" Istri appa ini yah eommaku, masa tidak boleh memeluk eomma sendiri"
" Appa hanya tidak mau kau di cap incest! Kibummie ini hanya milik appa"
" Ck... Aku juga tahu"
" Aigoo~ Kalian ini selalu saja bertengar. Sudah... Kau membawa temanmu hmm?" Tanya Mrs. Jung melirik ke belakang Yunho
" Ah benar! Kemari ikut aku, appa, eomma!"
Yunho menggandeng kedua orangtuanya dan membawa mereka berdua bertemu dengan Junsu dan Shindong. Keduanya langsung berdiri menatap Yunho dengan bingung.
" Ini Junsu dan Shindong, teman sekelasku. Yak! Ini eomma dan appaku"
" Ck, mengenalkan orangtuamu kenapa tidak sopan sih Jung!" Ucap Mr. Jung
" Apa kan juga bermarga Jung!" Balas Yunho
" Aish! Berhenti kalian!" Pekik Mrs. Jung
" Hehehehehe"
" Annyeonghasseo, saya Kim Junsu teman sekelas Yunho. Dan saya lebih waras dari kedua orang ini" Sapa Junsu kemudian membungkukkan tubuhnya
" YAK!"
" Ck, cepat perkenalkan dirimu"
" Aish, namaku Shin Dong Hee, biasanya mereka memanggilku dengan Shindong"
" Annyeonghasseo adeul... Aku eomma dari Yunho dan dia adalah appa Yunho" Ucap Mrs. Jung kemudian menunjuk Mr. Jung " Terima kasih sudah berteman dengan anak kami, aku sebenarnya khawatir karena hanya Yunho yang masuk ke Toho School tapi untungnya dia bertemu dengan kalian"
" Eomma... Aku itu berkharisma, siapa saja mau berteman denganku dan untungnya aku mau mengangkat mereka menjadi temanku hehehehe"
PLAK
Mr. Jung memukul kepala Yunho lagi dan Junsu serta Shindong terbahak, mereka senang Mr. Jung mewakilkan perasaan mereka.
" Tidak usah terlalu percaya diri, lalu bagaimana tesmu eoh?" Tanya Mr. Jung
" Hmmm.. Baik, tadi kepala sekolah dan pelatihnya menyalamiku tapi aku tidak tahu harus bagaimana setelah ini" Jawab Yunho
" Tidak tahu harus bagaimana? Yah kau harus terus mengejar mimpimu lah! Jangan setengah – setengah mengerjakan apa yang kau inginkan, kau keluarga Jung bukan? Kau tahu peraturan itu dengan baik"
" Appaa~~~" Yunho memeluk sang appa dengan gembira membiarkan dirinya menjadi tontonan kedua temannya dan eommanya yang kini tertawa senang
Tapi tanpa mereka sadari satu orang disana menatap Yunho dengan sendu, bukan Yunho tapi momen ayah dan anak itu membuat dirinya terpaku. Dia... Tidak akan pernah bisa seperti itu dengan appanya apa lagi eommanya.
" Nah, kalian akan ahjumma buatkan makan malam spesial. Sudah waktunya makan malam sebentar lagi bukan?"
Ucapan Mrs. Jung membuat Junsu kembali ke alam sadarnya, dia melirik jam dinding. Pukul enam sore.
" Kalian bisakan makan malam disini?" Tanya Mrs, Jung kemudian menampilkan puppy eyes
" Orangtuaku sedang di luar kota, tidak masalah" Jawab Shindong kemudian melirik Junsu
" Aku juga tidak masalah" Ucap Junsu
" Naaahhh~~~ Kalian tunggu disini ne, kami akan buatkan makan malam spesial untuk kalian. Yunho yah... Ganti pakaianmu dan bantu eomma"
" Ne, dimana Hoseok?" Tanya Yunho
" Sedang mengantar Taetae beli pakaian"
" Memang kenapa dengan pakaiannya?"
" Hoseok tidak suka Taetae menggunting pakaiannya dibagian bahu, Taetae marah dan tidak mau mengganti pakaiannya dengan milik Hoseok, akhirnya mereka pergi membeli pakaian yang baru"
" Menggunting pakaiannya dibahu?"
" Iya"
" Kelakuan orang kaya aneh sekali sih? Aku ganti pakaian dulu ya? Kalian tunggu sebentar" Ucap Yunho
" Ne"
Setelah Yunho pergi, Shindong dan Junsu melihat dekorasi rumah makan ini. Beberapa hiasan dan foto menghiasi dinding rumah makan. Ada banyak foto Yunho memegang piala bersama teman – teman berseragam sepak bola. Dari kecil sampai besar dan mereka bisa melihat disetiap foto itu Yunho adalah kaptennya.
Ada juga sebuah lemari kaca dipojok ruangan berisikan piala dan piagam penghargaan atas nama Yunho dan Hoseok. Penghargaan olah raga jatuh pada Yunho dan sains jatuh pada seseorang bernama Jung Hoseok.
" Hey... Namja itu cantik sekali. Mirip Jaejoong tapi versi ceria"
Ucapan Shindong membuat Junsu menolehkan kepalanya dan mencari gambar yang ditunjuk oleh namja gempal itu.
DEGH
" Hoseok tidak suka Taetae menggunting pakaiannya di bahu, Taetae marah dan tidak mau mengganti pakaiannya dengan milik Hoseok, akhirnya mereka pergi membeli pakaian yang baru"
GLUPP
'Kenapa dunia bisa begitu sempit? Kenapa dia ada di sini?'
Tidak lama Yunho kembali ke rumah makan dan membantu eommanya membawakan pesanan kepada pelanggan. Beberapa orang menyapa Yunho dan namja itu menjawabnya dengan ceria, Yunho juga memberikan perhatian pada beberapa pelanggan tetap.
Juga mengajak namja paruh baya mengobrol dan bercanda, kemudian berpindah pada pelanggan yeoja yang membawa anaknya untuk makan disana dan bertanya ini – itu seakan dia sudah mengenal orang itu sejak lama.
" Jangan heran dengan sikapnya itu, dia memang begitu"
Itu adalah suara Mrs. Jung yang datang dengan membawa semangkuk besar tteokbokki, dia meletakan di tengah meja dan tersenyum hangat.
" Ini camilan untuk kalian, makanlah" Ucapnya dengan lembut
" Terima kasih ahjumma"
" Ne"
" Yun, antar makanan dulu ke blok sebelah"
" Geun Suk hyung ya?"
" Iya"
" Ish, manusia satu itu malas sekali sih keluar rumah"
" Sudah sana"
Yunho mengambil bungkusan plastik yang disodorkan appanya kemudian membawanya keluar dari rumah makan. Dia akan mengantarkan makanan itu ke pelanggan tetapnya.
" Aku ke toilet dulu"
" Ya"
Junsu yang ditinggal sendirian menatap tteokbokki yang selalu dia sukai. Dia mengambil satu dan tersenyum, rasanya selalu menyenangkan bisa memakan tteokboki dari rumah makan ini. Yah sudah, makan saja lagi sembari menunggu Shindong dan Yunho.
Triiingg~~
" Eomma... Aku kembali"
Suara itu membuat Junsu perlahan menoleh, dia melihat seseorang dengan tubuh agak tinggi masuk ke dalam rumah makan diikuti seseorang. Junsu menengguk ludahnya dengan susah payah. Tapi kemudian dia mencoba berwajah datar.
" Hoseok ah! Bantu eomma sebentar"
" Ne, kau tunggu disini ya"
" Ikuutt~~"
" Yah... Kim Taehyung"
" Huh... Ya sudah"
Namja bernama Hoseok itu berlari kecil menuju dapur meninggalkan kekasihnya sendirian, Taehyung yang ditinggal menyapa para pelanggan dengan gembira sampai matanya menatap namja yang duduk sendirian dipojok ruangan.
DEGH
" Sttttt"
Junsu menempelkan jari telunjuknya di bibir, meminta agar namja itu tidak berteriak memanggilnya. Taehyung membulatkan matanya tidak percaya kemudian Junsu hanya tersenyum.
" Waaa~ Kau sudah memakan tteokbokki-nya?"
" Sedikit, kau juga makanlah" Ucap Junsu pada Shindong yang baru kembali dari toilet
Tidak lama Yunho datang dan langsung menyapa Hoseok dan Taehyung kemudian bergabung dengan kedua temannya. Mengobrol sebentar dan lima menit kemudian kedua orangtua Yunho membawa makan malam untuk mereka. Dak Galbi. Menggugah selera bahkan Junsu hampir meneteskan air liurnya.
" Nah... Mari makan bersama" Ucap Mrs. Jung
" Terima kasih atas makanannya" Ucap Junsu dan Shindong bergantian
" Selamat makan!"
Makan malam hari ini sungguh ramai walaupun kedua orangtua Yunho tetap harus berjualan. Yunho senang kedua temannya. Paling tidak dia sudah berpromosi rumah makan eommanya ini.
" Bagaimana dengan bidadara kesayanganmu itu?" Tanya Mr. Jung disela makan malamnya yang hampir selesai
" Uh... Menggemaskan!Aku sudah bilangkan, dia secantik Taehyungie tapi versi dinginnya" Jawab Yunho penuh semangat
" Eomma jadi ingin melihat seperti apa orang yang kau sukai" Ucap Mrs. Jung
" Tapi dia selalu bersama bodyguard-nya yang menyebalkan itu jadi aku sulit sekali mendekatinya. Tapi... Tadi aku ditampar olehnya"
" NE?"
" MWOO?"
" Hyung tidak apa – apa?" Tanya Taehyung
" Iya, dan berkat tamparannya itu aku jadi bisa semakin melihat keindahannya~~~" Ucap Yunho kemudian tertawa kencang
Ingin mengumpat, ada orangtua Yunho.
Memukulnya?
Bahkan kedua orangtua Yunho ikut tertawa melihat wajah bahagia anaknya padahal anaknya ditampar oleh orang lain.
Keluarga macam apa ini!
" Keluarganya juga aneh ternyata" Bisik Shindong pada Junsu dan Junsu hanya menganggukkan kepalanya
" Kalian menginap saja bagaimana?" Tanya Mrs. Jung
" Tidak bisa, besok kami sekolah" Jawab Junsu dengan sopan
" Akhir minggu saja, biasanya Taetae juga menginap disini" Ucap Mr. Jung " Kami akan membuat pesta barbeque lhoo~" Lanjutnya
" Waaa... Aku mau!" Ucap Shindong dengan semangat
" Aku akan kabarkan nanti" Ucap Junsu
Satu jam kemudian acara makan malam itu berakhir, Shindong pamit pulang bersama Junsu. Yunho sebagai teman yang baik tentu mengantar mereka sampai halte bus.
" Keluargamu benar – benar menyenangkan!" Ucap Shindong
" Ya begitulah orangtuaku, mereka tidak kolot dan mendukung apa yang aku inginkan" Ucap Yunho dengan gembira
Berbeda dengan satu orang yang berjalan di belakang mereka, tatapannya sendu namun sedetik kemudian berubah menjadi tajam saat Yunho menolehkan kepalanya.
" Usahakan kau datang akhir minggu ini, eomma kelihatannya sangat menyukaimu" Ucap Yunho pada Junsu
" Huh? Ya"
Junsu tersenyum tipis teringat bagaimana eomma Yunho memperlakukannya seperti anak sendiri, bahkan meminta Junsu memanggilnya dengan eomma sama seperti Taehyung memanggilnya. Tunggu... Bicara tentang Taehyung... Junsu berharap namja cantik itu tidak membuka mulut tentang jati dirinya.
" Itu busku, kau naik bus apa?" Tanya Shindong pada Junsu
" Habis busmu sepertinya busku datang" Jawab Junsu sembari memperhatikan papan bus
" Ya sudah aku duluan ya... Sampai jumpa besok kaliaann~"
" Jangan lupa mimpikan aku~~" Pekik Yunho saat Shindong sudah masuk ke dalam bus
" Huueekkk"
Junsu dan Yunho akhirnya duduk sembari menunggu bus yang akan Junsu naiki, hanya akal – akalan saja sebenarnya. Mengusir Yunho tapi namja itu tidak juga mau pergi.
" Hey... Kalau Jaejoong tidak menyukaimu bagaimana?" Tanya Junsu
" Bagaimana apanya? Tentu saja dia akan menyukaiku"
" Kenapa kau percaya diri sekali?"
" Haruss~~"
" Kalau... Ternyata dia dijodohkan dan memiliki tunangan, apa kau akan tetap mengejarnya?"
" Huh?"
" Semua itu bisa saja terjadi bukan?"
" Kau terlalu banyak menonton drama seperti eommaku dan Taetae"
" Jawab saja Jung"
" Serius?"
" Iya pabbo!"
Yunho menengadahkan kepalanya, menatap bintang yang berkelip di langit kemudian menghembuskan nafasnya perlahan.
" Salah ya jika aku menyukai seseorang yang lebih daripada diriku? Tidak bolehkah aku menyukainya dan berharap dia menyambut perasaanku karena aku benar – benar jatuh cinta padanya"
Junsu tersenyum mendengar jawaban Yunho.
" Kalau begitu jangan menyerah, kejar dia. Dapatkan hatinya, jadilah seseorang yang bisa dia banggakan" Ucap Junsu
" Kau junsu bukan?" Yunho menatap Junsu dengan curiga
" Wae?"
" Seperti bukan Junsu"
PLETAK
" Awwhhh!"
" Rasakan! Aku serius!"
" Iya iya iya! Tuh busmu datang, cepat naik dan jangan rindukan aku atau merasa kesepian karena kita akan bertemu lagi besok"
Junsu tersenyum miring kemudian berdiri, saat masuk ke dalam bus dia melihat Yunho melambaikan tangannya dengan semangat seperti bocah taman kanak – kanak. Ingin tertawa tapi ini di tempat publik, akhirnya dia menggelengkan kepalanya dan duduk di salah satu kursi yang kosong.
" Seru juga kalau mereka aku satukan" Gumam Junsu
Namja itu berdiri dari kursi penumpang dan turun di halte berikutnya, dia sudah menelepon supir sekaligus orang kepercayaannya untuk menjemputnya di halte itu. Tidak menunggu lama, supirnya datang dan langsung membukakan pintu penumpang untuk Junsu.
" Langsung pulang?" Tanya sang supir
" Ya, aku lelah"
" Baik"
Dua puluh menit berada di dalam mobil akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang sangat besar. Junsu turun dari mobil diikuti supirnya.
" Ah!"
Sebelum membuka pintu Junsu ingat sesuatu, dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah plastik kemudian menyodorkannya pada sang supir.
" Untuk hyung" Ucap Junsu
" Tidak usah repot – repot tuan"
" Huss! Ini dibuat oleh rumah makan tempat hyung membeli tteokbokki. Hyung juga suka, kan? Ambilah. Ada sedikit dak galbi juga di dalamnya" Ucap Junsu
" Terima kasih"
" Ya"
Junsu menghela nafasnya, dia mengatur ekspresi wajahnya sebelum membuka pintu rumah yang besar itu. Dia melangkahkah kakinya ke dalam rumah, niatnya langsung ke kamar tapi dia mendengar suara tawa dari ruang keluarga. Dan dia harus melewati ruangan itu.
" Suie, sudah pulang?"
Junsu menghentikan langkahnya kemudian menolehkan kepalanya, dia membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
" Ya ahjumma"
" Kemarilah, keluarga Choi dan Shim tengah bertamu"
Junsu mendekat dan memberikan salamnya pada keluarga Choi dan Shim.
" Junsu semakin manis saja ya" Puji Mrs. Shim
" Terima kasih ahjumma, maaf saya harus segera ke kamar untuk mengerjakan tugas" Ucap Junsu
" Sudah makan?" Tanya Mrs. Kim
" Sudah ahjumma"
" Dimana?" Mrs. Shim mengerutkan kening
" Temanku mentraktirku di salah satu rumah makan"
" Rumah makan? Pinggir jalan?"
" Ya bisa diblang begitu tapi aku sangat menyukai tempat itu. Kalau begitu aku permisi dulu" Junsu membungkukkan tubuhnya kemudian berjalan menjauhi ruang keluarga
" Kenapa Suie bisa makan di tempat rendahan seperti itu?" Tanya Mrs. Choi
" Tidak tahu, nanti aku akan coba tanyakan" Jawab Mrs. Kim
" Kau harus lebih memperhatikan calon tunanganmu, Min" Ucap Mr. Shim pada anak tunggalnya
" Hum"
" Sebentar lagi eomma dari Junsu pulang dan kalian akan bertunangan secara resmi. Eomma tidak mau eomma Suie menilaimu tidak bisa memperhatikan Suie dengan benar"
" ..."
" Mengerti Shim Changmin?"
" Iya eomma" Jawab namja itu, Changmin
" Eomma aku ke halaman belakang dulu bersama Seunghyun. Ada yang ingin kami bicarakan" Ucap Jaejoong kemudian berdiri
" Lama juga tidak apa – apa, kalian kan sudah bertunangan jadi wajar butuh waktu berdua" Ucap Mrs. Choi
Jaejoong tidak memberikan respon apapun, dia membungkukkan tubuhnya kemudian berjalan menjauhi ruang keluarga diikuti oleh Seunghyun. Changmin mendengus tidak suka, bagaimana bisa dia ditinggalkan diantara orangtua ini?
" Kau ingin mengobrol dengan Suie? Jangan menganggunya belajar ya" Ucap Mrs. Shim
" Tidak"
" Sana, hampiri saja di kamarnya" Ucap Mrs. Kim
Setelah menimbang – nimbang akhirnya Changmin menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju lantai dua. Langkah kakinya terhenti diujung lorong, di depan sebuah pintu bercat coklat tua. Dia bisa mendengar suara tawa dari dalam sana.
" Ya... Terima kasih untuk tetap tutup mulut Taetae ah... Iyaaa~~"
Changmin bahkan bisa mendengar suara rengekan mengalun dari dalam.
" Cih... Tunggu... Taetae? Taehyung? Mereka bertemu lagi?"
CEKLEK
Tanpa mengetuk Changmin membuka pintu yang ternyata tidak dikunci, sungguh diluar kebiasaan Junsu. Karena namja itu selalu mengunci pintu kamarnya. Junsu sontak menoleh ke arah pintu dan memaki dirinya dalam hati karena lupa mengunci pintu kamarnya.
" Hyung?"
" Ah... Maaf Taetae ah... Hyung tutup teleponnya ya? Sampai jumpa lagi"
" Hyung sering – seringlah main kemari, temani aku"
" Iya"
" Aku sangat menyayangimu walaupun kita baru bertemu lagi"
" Hyung juga"
PIK
Changmin tersenyum miring melihat Junsu yang baru saja tersenyum tipis sebelum menutup sambungan teleponnya, dia kemudian menatap Changmin dengan wajah datarnya.
" Apa kau tidak pernah diajari mengetuk pintu?" Tanya Junsu dengan nada datar
" Tidak penting"
" Ada perlu apa? Aku rasa kita tidak punya kepentingan disini"
" Eomma menyuruhku kemari, memberikan perhatian pada CALON TUNANGANKU"
" Oh? Maaf ya CALON TUNANGAN, aku tidak perlu perhatian dari siapapun. Dan kau harus tahu bahwa aku masih berusaha menggagalkan perjodohan ini"
" Sampai kapan kau bersikap seperti itu eoh? Memang orangtuamu akan senang dengan sikap berandalmu itu?!"
" Ini hidupku, mereka berhak mengenalkan siapapun padaku tapi untuk memutuskan dengan siapa aku hidup nantinya adalah urusanku. Aku bukan kau yang selalu saja menuruti semua keinginan orangtuamu, perusahaan kami akan tetap berjalan walaupun tidak ada kerjasama dengan perusahaan keluargamu"
" Aku tidak terpaksa menuruti mereka, perusahaan juga akan tetap berjalan seperti biasa" Ucap Changmin dengan santai
" Lalu?" Junsu mengerutkan keningnya, sampai sekarang dia tidak mengerti kenapa Changmin menuruti keinginan orangtuanya yang satu ini " Jangan bilang kau menyukaiku?"
" Kalau iya, kenapa?"
Mata Junsu sedikit membulat, dia menahan rasa kagetnya sembari menatap Changmin. Menyukainya? Changmin yang sejak kindergarten selalu bersamanya dan juga Jaejoong menyukainya? Yang benar saja!
.
.
.
.
.
.
.
.
" Malam ini dingin, kau tidak apa – apa?"
" Ya"
" Kau masih seperti ini, aku tunanganmu dan kau tidak berekspresi apapun padaku"
" Beginilah aku"
" Kau tidak suka kita dijodohkan?"
" Eomma dan appa selalu memilihkan yang terbaik untukku"
" Segitu yakinnya?"
" Ya"
" Lalu perasaanmu? Kau menyukaiku seperti aku menyukaimu?"
Jaejoong menolehkan kepalanya, dia menatap datar ke arah Seunghyun.
" Aku tidak mengerti apa itu suka"
" Jaejoong ah... Aku menyukaimu ah bukan... Mencintaimu. Perasaan ini sudah aku pendam begitu lama dan saat eommamu mengatakan kau menyetujui perjodohan ini aku pikir kau memiliki perasaan yang sama sepertiku"
" Cinta? Aku tidak mengerti kenapa semua orang berkata tentang cinya karena menurutku cinta itu hanya sesuatu yang mudah datang dan mudah pergi. Tidak penting memiliki cinta karena aku adalah Kim Jaejoong"
" Suatu saat kau pasti merasakannya padaku, sebuah getaran, perasaan senang saat aku ada di sampingmu, selalu membayangkan diriku dalam pikiranmu dan tidak rela jika aku pergi jauh darimu. Aku akan menumbuhkan rasa cinta itu padamu Jaejoong ah, aku berjanji"
" Jangan berjanji jika kau nanti tidak bisa memenuhinya"
SREETTT
Seunghyun menarik Jaejoong mendekat dan memeluknya dengan erat, dia tidak akan melepaskan apa yang sudah di dapatnya dengan susah payah. Dia akan membuat Jaejoong menyukainya bagaimanapun caranya.
Sementara Jaejoong tidak bergerak sedikitpun, saat dirinya mencoba menutup mata dia malah terbayang seseorang yang berteriak kencang padanya.
" Yak! Jaejoongie terima kasih sudah menyadarkanku bahwa kau itu benar nyata indahnya! Ingat namaku eoh! Jung Yunho! Calon kekasihmu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
" Jaejoongie sedang apa ya? Belajar? Sudah tidur? Atau malah memikirkanku? Hehehehehehe"
Ucapan terdengar aneh itu terucap dari seorang namja dengan bibir berbentuk hati yang menggemaskan. Namja yang tadinya sedang berbaring itu kemudian bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya.
" Aku minta nomor teleponnya saja besok agar bisa terus tahu apa yang dia lakukan bagaimana? Dia pasti memberikan nomornya padaku, kan?"
TOK TOK TOK
" Masuk"
CEKLEK
" Eoh? Taetae? Kenapa?"
" Hyung, ini untukmu"
Taehyung masuk ke dalam kamar Yunho dan memberikan sebuah paperbag berwarna hitam, Yunho mengambilnya dan mengeluarkan isinya.
" Boxer lagi? Warna merah terang pula? Untuk apa Tae?" Tanya Yunho bingung
" Permintaan maaf karena sudah mencoret dinding kamarmu dengan krayon hyung" Jawab Taehyung
" Pasti ada niat lain"
" Hehehehehe, hyung tahu saja"
" Apa?"
" Begini... Akhir minggu ini aku dan keluargaku akan wisata ke Afrika selama lima hari. Tolong awasi Hoseok hyung ya?"
" Afrika?"
" Iya, eomma ingin melihat jerapah di sana"
" Disini kan ada?"
" Eomma maunya ke Afrika hyung..."
" Aigo~ Kenapa kau dan eommamu sama anehnya sih?"
" Hyung, aku bukan aneh tapi langka"
" Hahahahahha... Iya, aku akan jaga Hoseok. Kenapa juga kau belum percaya padanya sih"
" Huh..." Taehyung menundukkan kepalanya " Walaupun kami berpacaran sampai sekarang kan Hoseok hyung belum membalas rasa sukaku, aku tidak mau dia berpaling dariku"
" Aigo~~"
PUK PUK PUK
Yunho menepuk pelan kepala Yunho hingga Taehyung mendongakkan kepalanya, Yunho tentu saja tahu bahwa Taehyung adalah namja yang pertama kali menyatakan perasaannya pada sang adik, memaksanya berpacaran. Tapi Hoseok belum membalas perasaan Taehyung sama sekali.
" Nanti juga dia sadar jika kau memang pantas untuknya" Ucap Yunho
" Terima kasih hyung" Ucap Taehyung kemudian tersenyum lebar
" Aduh!" Yunho menutup matanya
" Kenapa hyung? Aku menyakitimu?" Tanya Taehyung panik
" Senyummu menyilaukan sampai hyung harus menurup mata hyung"
" Yak!" Taehyung memukul lengan calon kakak iparnya itu
" Hahahahahaha..."
" Hyunnggg ihhh~~"
" Iya maaf, aigo... Makin dilihat kau semakin mirip dengan kesayanganku"
" Jangan samakan aku dengannya, nanti hyung menjadikanku pelarian"
" Tidak... Karena aku tetap mencintainya karena dia tidak aneh sepertimu"
" HYUNGG!"
" Hahahahahahaa~~~"
CEKLEK
" Kau disini?" Hoseok masuk ke dalam kamar Yunho dan menatap Taehyung
" Ne"
" Ayo pulang" Hoseok mengulurkan tangannya
" Aku pulang dulu ya hyung"
" Ya, hati – hati"
CUP
" Ne"
Usai mengecup pipi Yunho, Taehyung berlari kecil menuju Hoseok dan menggapai tangan Hoseok sehingga jari – jari mereka saling bertautan. Yunho tersenyum menatap kepergian mereka. Antara bahagia dan iri melihatnya.
" Tidak menyukaimu bagaimana jika dia menggenggam tanganmu dengan erat seperti itu Taetae ah?" Gumam Yunho lalu... " Joongie baby... Kapan kita bisa bergandengan tangan seperti mereka? Aku iriiiii~~~"
Bodo amat!
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
Annyeong lagi? Cho kembali update salah satu ff Cho, semoga gak kecewa ya?
Disini Couple udah mulai bermunculan dan kalian bisa nebak sendiri gimana nantinya...
Maacih buat yang udah baca, Cho balas ripiu kalian di chap selanjutnya ya?
.
.
.
Dan...
Hmm...
Mungkin abis ini Cho bakal update super lama hampir hiatus mungkin karena ada beberapa hal yang harus Cho urus, ini serius lhooo~~
.
Tapi nanti Cho kembali bawa dan doain Cho bawa kabar bagus buat kalian semua!
Hahahahahaha
.
.
.
See u next chap?
Chuuu~~
.
.
.
.
.
Senin. 9 April 2018
