Summer
.
.
.
.
.
Disclaimer : Mereka semua milik Tuhan
Cast : DBSK, Suju, BTS dll
Genre : Friendship, Romance, Hurt, Angst, School of Life
Rate : T
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
.
"Jaejoongie sedang apa ya? Belajar? Sudah tidur? Atau malah memikirkanku? Hehehehehehe"
Ucapan terdengar aneh itu terucap dari seorang namja dengan bibir berbentuk hati yang menggemaskan. Namja yang tadinya sedang berbaring itu kemudian bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Aku minta nomor teleponnya saja besok agar bisa terus tahu apa yang dia lakukan bagaimana? Dia pasti memberikan nomornya padaku, kan?"
TOK TOK TOK
"Masuk"
CEKLEK
"Eoh? Taetae? Kenapa?"
"Hyung, ini untukmu"
Taehyung masuk ke dalam kamar Yunho dan memberikan sebuah paperbag berwarna hitam, Yunho mengambilnya dan mengeluarkan isinya.
"Boxer lagi? Warna merah terang pula? Untuk apa Tae?" Tanya Yunho bingung
"Permintaan maaf karena sudah mencoret dinding kamarmu dengan krayon hyung" Jawab Taehyung
"Pasti ada niat lain"
"Hehehehehe, hyung tahu saja"
"Apa?"
"Begini... Akhir minggu ini aku dan keluargaku akan wisata ke Afrika selama lima hari. Tolong awasi Hoseok hyung ya?"
"Afrika?"
"Iya, eomma ingin melihat jerapah di sana"
"Disini kan ada?"
"Eomma maunya ke Afrika hyung..."
"Aigo~ Kenapa kau dan eommamu sama anehnya sih?"
"Hyung, aku bukan aneh tapi langka"
"Hahahahahha... Iya, aku akan jaga Hoseok. Kenapa juga kau belum percaya padanya sih"
"Huh..." Taehyung menundukkan kepalanya "Walaupun kami berpacaran sampai sekarang kan Hoseok hyung belum membalas rasa sukaku, aku tidak mau dia berpaling dariku"
"Aigo~~"
PUK PUK PUK
Yunho menepuk pelan kepala Yunho hingga Taehyung mendongakkan kepalanya, Yunho tentu saja tahu bahwa Taehyung adalah namja yang pertama kali menyatakan perasaannya pada sang adik, memaksanya berpacaran. Tapi Hoseok belum membalas perasaan Taehyung sama sekali.
"Nanti juga dia sadar jika kau memang pantas untuknya" Ucap Yunho
"Terima kasih hyung" Ucap Taehyung kemudian tersenyum lebar
"Aduh!" Yunho menutup matanya
"Kenapa hyung? Aku menyakitimu?" Tanya Taehyung panik
"Senyummu menyilaukan sampai hyung harus menurup mata hyung"
"Yak!" Taehyung memukul lengan calon kakak iparnya itu
"Hahahahahaha..."
"Hyunnggg ihhh~~"
"Iya maaf, aigo... Makin dilihat kau semakin mirip dengan kesayanganku"
"Jangan samakan aku dengannya, nanti hyung menjadikanku pelarian"
"Tidak... Karena aku tetap mencintainya karena dia tidak aneh sepertimu"
"HYUNGG!"
"Hahahahahahaa~~~"
CEKLEK
"Kau disini?" Hoseok masuk ke dalam kamar Yunho dan menatap Taehyung
"Ne"
"Ayo pulang" Hoseok mengulurkan tangannya
"Aku pulang dulu ya hyung"
"Ya, hati – hati"
CUP
"Ne"
Usai mengecup pipi Yunho, Taehyung berlari kecil menuju Hoseok dan menggapai tangan Hoseok sehingga jari – jari mereka saling bertautan. Yunho tersenyum menatap kepergian mereka. Antara bahagia dan iri melihatnya.
"Tidak menyukaimu bagaimana jika dia menggenggam tanganmu dengan erat seperti itu Taetae ah?" Gumam Yunho lalu... "Joongie baby... Kapan kita bisa bergandengan tangan seperti mereka? Aku iriiiii~~~"
Bodo amat!
.
.
.
.
.
.
.
.
~ Smile ~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho menatap namja yang selalu sukses membuat jantungnya berdebar itu dengan sendu, ada yang lain dari bidadaranya. Sesesuatu yang membuat namja itu terlihat lebih dingin tidak tersentuh. Bertanya pada Shindong dan Junsu, mereka hanya menjawa jika Jaejoong memang seperti itu. Tapi Yunho yakin, bidadaranya sedang menyembunyikan sesuatu!
Saat jam makan siang, Yunho membawa dua kotak puding vanilla buatan eommanya ke taman belakang sekolah. Sebenarnya dia membawa empat, yang dua sudah dia serahkan pada Junsu dan Shindong. Tentu saja dua namja itu sangat senang mendapatkan kiriman dari eomma Yunho.
"Aduh... Kesayanganku itu kenapa sih? Wajahnya murung begitu?"
Dari jauh Yunho sudah bisa melihat Jaejoong yang duduk sembari memangku bukunya, matanya fokus pada buku tapi seperti kosong. Sekosong hati Yunho yang selalu dicampakkan oleh Jaejoong setiap harinya.
Dengan langkah riang Yunho menghampiri Jaejoong dan berjongkok di depan namja cantik itu, membuat Jaejoong langsung menatap sebal pada Yunho yang beberapa hari ini selalu mengganggunya. Dia menutup bukunya, dan hendak beranjak namun Yunho dengan berani menggenggam pergelangan tangan Jaejoong yang kini sudah berdiri.
"Lepas" Ucap Jaejoong dengan datar
"Sebentar Jaejoong-ku yang can-"
GLUP
Yunho menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat tatapan mengerikan yang diberikan Jaejoong untuknya.
"Duduklah dulu" Pinta Yunho
"Apa hakmu mengatakan hal itu padaku?!"
"Tidak ada, hanya... Duduk dulu saja. Aku janji tidak akan menyentuhmu"
Jaejoong mendengus sebal tapi dia menuruti keinginan Yunho dan membuatnya duduk berhadapan dengan Yunho yang kini menampakkan senyum sumringahnya. Ini kali pertama lho Jaejoong menurutinya.
"Ini dari eommaku, dia yang buat"
Yunho menyodorkan sekotak puding yang tadi dia bawa, Jaejoong menatap datar kotak itu.
"Aku tidak memasukkan sesuatu yang aneh kok, itu dari eommaku untuk orang yang aku cintai katanya. Dia juga titip salam untukmu, ingin bertemu dengan calon menantu katanya"
Ingin rasanya Jaejoong mendorong namja super percaya diri ini dari lantai lima sekolahnya agar cepat mati dan tidak mengganggunya. Jujur saja, ini sudah lebih dari tiga minggu dan namja itu tidak ada jera untuk membiarkannya hidup tenang seperti sebelumnya.
"Ini, makan saja. Aku jamin kau akan ketagihan"
Dengan seenak jidatnya Yunho menaruh puding itu di atas pangkuan Jaejoong dan menaruh sendok di atasnya. Kemudian dia membuka kotak puding miliknya dan mulai memakan puding tersebut.
"Emmmm~~~ Eomma yang terbaik~~" Ucap Yunho dengan riang
"..."
"Ayo makan Jaejoongie~ Ini enak sekali" Rayu Yunho yang membuat Jaejoong muak "Atau mau ku suapi?"
Jaejoong men-deathglare Yunho namun tidak mempan karena Yunho malah menatap Jaejoong dengan gemas. Tapi Jaejoong kemudian membuka kotak puding itu dan menyuapkan sesendok puding ke dalam mulutnya.
Yunho makin gemas melihat Jaejoong yang memakan puding buatan eommanya, pipi Jaejoong sedikit menggembung. Ingin sekali Yunho mencubitrnya!
"Otte? Enak, kan?"
Jaejoong berdehem, tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah puding terbaik yang pernah dia rasakan. Bahkan koki di rumahnya tidak bisa membuat puding seenak ini.
"Orangtuaku membuka kedai dan makanan di sana sangat terkenal. Junsu serta Shindong saja ketagihan setelah memakan makanan buatan eommaku. Kau harus mencobanya, atau besok mau aku bawakan saja?"
"Kenapa kau cerewet sekali?" Tanya Jaejoong setelah menelan suapan ketiga pudingnya
"Aku tidak suka keheningan. Rasanya sepi, jadi jika kau tidak bicara maka aku saja yang bicara dan bercerita hehehehehehe. Jadi besok aku bawakan kau tteokbokki, oke? Kata manager klub sepak bola kau menyukainya"
Jaejoong mengerutkan keningnya.
"Minki sunbaenim yang bilang"
Jaejoong tahu namja itu, dia dan Minki ada dalam satu sekolah sejak sekolah dasar. Tapi hanya sebatas satu sekolah saja, tidak lebih.
"Minggu depan ada pertandingan sepak bola, kau mau datang?"
"You wish"
"Iya, harapanku itu ingin kau datang ke pertandingan dan melihatku bermain. Akan sangat menyenangkan jika kau ada di sana untukku"
"Dalam mimpimu"
"Kok kau tahu kalau aku selalu memimpikanmu menonton pertandinganku?" Ucap Yunho dengan memiringkan kepalanya
Tahu Yunho menjawab seperti itu lebih baik Jaejoong diam saja, namja di depannya ini sangat pintar membalikkan perkataannya.
"Lalu… Sehabis pertandingan appa akan mengadakan pesta makan malam di kedai kami, padahal belum tentu juga kami menang pertandingan tapi appaku memang suka sekali berbuat semaunya!"
Namja cantik itu jadi tahu dari mana sikap absurd Yunho, selain cerewet, Yunho selalu bertindak semaunya. Dan ucapan Yunho barusan membuktikan bahwa itu adalah sifat yang diturunkan oleh appa Yunho.
"Semoga kau bisa datang dan ikut pesta makan malamnya ya" Ucap Yunho kemudian tersenyum lebar hingga matanya menghilang
Dan bagi Jaejoong, ini kali pertama dia melihat seseorang tersenyum tanpa merasakan beban apapun. Yunho tersenyum seperti tidak memiliki beban hidup yang berat, tidak sepertinya. Tapi Jaejoong yakin apa yang dilakukan kedua orangtuanya adalah yang terbaik untuknya, iya kan?
"Oh ya!"
Jaejoong menatap kesal pada Yunho yang mengganggu suapan pudingnya hingga pudding yang tadinya akan masuk ke dalam mulut jatuh kembali.
"Aku tidak tahu kau kenapa tapi apapun masalahmu, seberat apapun… Aku yakit kau bisa melewatinya"
"…"
"Kau terlihat berbeda beberapa hari ini, kau terlebih lebih dingin disbanding hari kemarin"
Jaejoong tertegun, satu makhluk di depannya ini bahkan bisa tahu perubahan ekspresi wajahnya sednagkan yang lain tidak pernah tahu akan hal itu. Yunho… Kenapa dia terlihat berbeda sekarang?
Sementara itu dari jauh, dua namja menatap Yunho dan Jaejoong dengan pandangan yang berbeda. Yang satu tiadk percaya yang satu lagi masa bodo.
"Yunho berdoa apa ya sampai Jaejoong mau makan pudding pemberian eommanya?"
Itu Shindong yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dari sudut pandangannya Yunho terlihat berbicara tanpa henti dengan Jaejoong yang diam, sesekali menyuapkan pudding pemberian eomma Yunho. Jika dilihat seakan Jaejoong tengah mendengarkan apa yang Yunho bicarakan.
Oh!
Jangan lupakan beberapa siswa yang ada di sana, mereka senang Yunho mengalami kemajuan. Bayangkan saja, sudah hampir tiga minggu dan Yunho selalu ditolak dengan kasar oleh Jaejoong. Mereka tahu bagaimana usaha Yunho untuk mencoba dekat dengan Jaejoong, bukan hanya para siswa tapi juga para guru memberi Yunho semangat untuk mendapatkan Jaejoong!
"Tapi tumben si tinggi itu tidak ada di sekitar jaejoong?'
"Dia tidak masuk, pergi ke Jepang" Jawab Junsu tanpa sadar
"Mwo? Kau tahu darimana?" Tanya Shindong dengan bingung
"E-eh? Apa? Ti-tadi ada yang membicarakannya waktu kita berjalan kemari"
"Eoh? Benarkah? Aku tidak dengar apapun"
"Su-sudahlah, ayo kembali ke kelas, biarkan Yunho menghabiskan waktu dengan pujaannya itu"
"Oke"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Taetae ah…"
Yunho memanggil calon adik iparnya saat dia tengah membantu di kedai, sedangkan adiknya entah sedang berada dimana.
"Iya hyung?"
"Hyung tampan tidak?"
"Huh?"
"Tampan mana dengan si Hoseok?"
"Tanpan Hoseok hyung lah"
"Jadi hyung ini tidak tampan ya"
"Eiii~~ hyung kenapa sih?
"Galau"
"Hyung bisa galau juga toh?"
"Iya, bidadara kesayangan hyung terlihat sedih beberapa hari ini, apa yang harus hyung lakukan?"
"Huh? Oh… Dia?"
"Iya"
Taehyung mendekat dan duduk berhadapan dengan Yunho, memangku wajah dengan kedua tangannya seperti yang dilakukan Yunho dan menatap calon kakak iparnya itu.
"Akhir – akhir ini Hoseok hyung berubah jadi manis padaku. Mungkin hyung juga bisa berbuat seperti itu?" Ucap Taehyung
"Seperti itu bagaimana?"
"Yah… Kemarin dia memanjat pohon mangga karena aku ingin makan itu, terus… Mandi di air mancur depan komplek rumahku karena aku mengajaknya juga main ke taman untuk bermain jungkat jangkit dan perosotan berdua denganku. Bagaimana? Romantis, kan?"
Oh…
Yunho salah jika harus menanyakan hal ini pada Taehyung yang sikapnya sedikit berbeda dengan namja manis lainnya.
"Tapi…"
"Eii… Yang aku maksud itu, hyung bisa lakukan apa yang dia suka"
"Ah!"
PLOKK!
Yunho duduk dengan tegap kemudian menepuk tangannya sekali, dia menatap penuh binas sebelum kembali pada posisinya dan menatap sendu Taehyung.
"Tapi hyung tidak tahu apa kesukaannya"
"Kok hyung bodoh sekali? Suka padanya tapi tidak tahu apa yang dia suka?"
Polos memang pertanyaan Taehyung tapi namja cantik itu ada benarnya, Yunho menyukai Jaejoong tapi tidak tahu apa kesukaannya.
"Taetae ah… Kau kan orang kaya, bisa tidak sewa detektif dan mengorek informasi tentangnya?" Tanya Yunho
"Huh?"
"Please?"
"Hyung bagaimana sih? Usaha dong hyung! Masa harus pakai orang lain untuk tahu kesukaannya? Hyung kan bisa bertanya padanya langsung"
"Mana mungkin diberi tahu olehnya"
"Makanya berusaha, jangan menyerah ish!" Taehyung jadi gemas pada calon kakak iparnya itu!
"Hum…"
"Sedang apa kalian?"
Keduanya menoleh namun dengan tangan mereka tetap memanggku wajah masing – masing, dua orang yang melihat kelakuan mereka itu menggelengkan kepalanya. Mereka adalah Hoseok dan Mrs. Jung.
"Kenapa?"
Seseorang datang lagi, dia adalah appa dari Yunho, Taehyung langsung berdiri dan memeluk kekasihnya sedangkan Mr. Jung merangkul pinggang istrinya dari samping.
"Bisa tidak kalian TIDAK pamer kemesraan di depanku? Aku itu masih jomblo suci tahu!"
"Bodo amat" Jawab Mr. Jung dan Taehyung
"Aigoo… Anak eomma kenapa lagi hum?" Tanya Mrs. Jung
"Itu eomma… Masa Yunho hyung memintaku untuk menyewa detektif untuk tahu kesukaan bidadara kesayangannya? Curang, kan?"
PLETAK!
"Awh! Sakit appa~~" Rengek Yunho yang barusan dijitak oleh appanya
"Kau ini bagaimana?! Kalau suka yah usaha, jangan mengandalkan orang lain. Appa tidak suka! Contohlah appa yang terus mengejar eommamu ini, iya kan yeobo?" Mr. Jung mencolok dagu istrinya
"Asih, Wonnie! Jangan seperti itu di depan anak – anak" Ucap Mrs. Jung
"Tidak apa – apa, biar mereka tahu kau itu mutlak milikku"
"Yak! Memang siapa yang mau merebutku?"
"Yunho, si jomblo kesepian itulah~"
"Dia itu anakmu! Aish! Sana kau selesaikan pekerjaan di dapur. Hoseok bantu appa dan Taetae mau ke dapur juga atau temani eomma disini?"
"Disini saja eomma"
"Oke, sana kalian pergi"
"Waee~~~"
"Hush hush!"
"Ish! Ingat, jangan rebut snow white kesayangan appa!"
Yunho memutar matanya malas karena ucapan sang appa, ya kali dia mau menikahi eomma-nya sendiri. Sang appa benar – benar bodoh! Ups~
"Jadi… Apa yang bisa eomma bantu?" Tanya Mrs. Jung pada Yunho
"Yah itu eomma… Kesayangaku sedang bersedih, aku suka ide Taetae untuk melakukan apa yang dia suka tapi aku tidak tahu apa yang dia suka" Jawab Yunho
"Humm… Apa kau tahu apa yang biasanya dia lakukan?"
Yunho mencoba memikirkan apa yang suka Jaejoong lakukan, dia menatap Taehyung yang sedang sibuk dengan ponselnya kemudian matanya berbinar.
"Buku! Dia suka membaca buku" Ucap Yunho
"Buku apa?"
"Tidak tahu"
"Eomma~ Kenapa anak eomma yang ini bodoh sekali sih, eomma yakin dia anak kandung eomma?" Tanya Taehyung
"Yak! Taetae~~"
"Hahahahha… Begini saja, besok coba kau perhatikan buku apa yang dia sering baca? Oke?"
"Oke eomma… Hmm… Ah! Satu lagi, dia suka makan tteokbokki, bisakah eomma membuatkan itu besok pagi untuknya?"
"Tentu sayang, eomma akan buatkan untuk calon menantu eomma" Goda Mrs. Jung kemudian memberikan wink pada Yunho
"Yak eomma! Eomma membuatku malu!"
Yunho menepuk – nepuk kedua pipinya yang memanas, dia memang tidak tahu malu jika di depan jaejoong tapi dengan keluarganya dia malu jika eommanya menyebut Jaejoong adalah calon menantunya. Aigo~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Besoknya, saat jam istirahat Yunho pergi ke tempat dimana Jaejoong selalu berada saat jam makan siang. Tidak lupa Yunho memberikan dua kotak bekal pada Shindong dan Junsu.
"Yunho! Semangat ya hari ini!"
Seseorang meneriaki Yunho, gerombolan yeoja yang sangat menyukai bagaimana perjuangan Yunho untuk mendapatkan seorang Kim Jaejoong. Mereka adalah saksi perjuangan Yunho.
"Ne!"
"Jangan menyerah ya!"
"Pasti! Terima kasih semuaaa~~~"
Setelahnya Yunho berlari kecil menuju taman belakang dan setelah sampai dia bisa melihat Jaejoong duduk dengan memangku buku tapi kali ini di sampingnya dia ditemani oleh Changmin, namja yang dua hari ini tidak masuk sekolah.
"Jaejoongie, annyeongg~~~" Sapa Yunho dengan semangat
Jaejoong hanya melirik sekilas ke arah Yunho kemudian kembali fokus pada bukunya. Sedangkan Changmin sudah dalam mode siaga satu.
"Pergilah" Usir Changmin
"Kemana? Kesayanganku kan di sini" Jawab Yunho
"Ke neraka" Sahut Changmin
"Eii~ Kalau bersama Jaejoongie aku sanggup tapi bagaimana bisa malaikat sepertinya masuk neraka?" Tanya Yunho dengan raut wajah bingungnya
Changmin ingin sekali menjedukkan kepala Yunho ke pohon agar namja itu sadar dengan kelakuannya yang absurd. Kesal dan muak dengan kata – kata anehnya. Dan Yunho, namja itu dengan tidak malunya duduk dihadapan jaejoong dan menatap Jaejoong dengan gemas.
"Kau lebih bersinar dari kemarin Jaejoongie" Puji Yunho sungguh - sungguh
"…"
"Dia sedang tidak ingin diganggu"
"Siapa yang mengganggu? Aku hanya akan memberikan tteokbokki yang aku janjikan kemarin! Ini, buatan eommaku lhooo~"
Yunho mengulurkan tempat makan berwarna merah muda pada Jaejoong dan Jaejoong hanya menatapnya.
"Dia tidak mau" Ucap Changmin dan hampir saja menepis tempat makan itu namun Yunho langsung memeluk tempat makannya
"Ini buatan eommaku dan aku tidak akan memaafkan siapapun yang menghinanya" Ucap Yunho dengan wajah seriusnya
Jaejoong tertegun karena ini pertama kali untuknya juga mendengar suara tegas dari mulut Yunho, hanya karena masakan eommanya namja itu bisa berkata tegas seperti barusan? Wah… Daebakk…
"Sudahlah Changmin" Lerai Jaejoong yang malas melihat wajah keduanya
"Tapi hyung"
"Dengarkan ucapan hyungmu! Ini Jaejoongie~~"
Jaejoong akhirnya menerima tempat makan itu dan membukanya, di dalamnya ada tteokbokki yang Yunho janjikan kemarin.
"Makan dengan lahap ya? Aku tidak bisa menemanimu karena aku dipanggil ke ruang klub. Maaf ya" Ucap Yunho dengan penuh penyesalan
"Hum"
"Tempat makannya nanti aku ambil pulang sekolah nanti ya. Bye bye Joongie sayang~~"
Yunho melambaikan tangannya pada Jaejoong sembari berdiri dan berjalan menjauhi Jaejoong. Sayang sekali dia tidak bisa menemani kesayangannya itu karena dia harus pergi ke ruang klub karena ada yang harus dibicarakan.
"Jadi… Kenapa kau menerimanya?" Tanya Changmin pada jaejoong
"Molla"
Setelahnya Jaejoong melahap tteokbokki itu dan mengunyahnya dengan perlahan, rasanya bumbu dari tteokbokki itu langsung memeleh dalam mulutnya dan ini tteokbokki terlezat yang pernah dia makan. Jaejoong mengambil tteokbokki-nya lagi dan memakannya, nikmat. Dia memejamkan matanya dan merasa bersyukur bisa makan makanan seenak ini.
Changmin mengerutkan keningnya menatap Jaejoong yang sangat menikmati makanannya di depannya, dilihat dari manapun tteokbokki itu bentuknya sama dengan tteokbokki yang dia makan tapi kenapa seakan Jaejoong sangat menikmati tteokbokki itu?
"Kenapa?"
Changmin kini menatap Jaejoong yang menatapnya dengan bingung.
"An-aniya"
"Ini"
"Ti-hmm!"
Jaejoong memasukkan sepotong tteokbokki ke dalam mulut Changmin agar namja itu merasakan bagaimana makanan yang dia makan. Changmin awalnya tidak senang karena dia tidak suka makan makanan sembarangan, terlebih dari Yunho si makhluk tidak tahu malu. Tapi setelah mengunyahnya dia mengerutkan keningnya, rasa baru untuk lidahnya. Bumbunya begitu terasa dan enak.
Changmin kembali melirik Jaejoong yang sudah menyuapkan tteokbokki lagi ke dalam mulutnya. Ternyata tteokbokki yang dibawa oleh Yunho adalah makanan terlezat yang pernah dia makan. Hahahahahaha~
"Cari tahu dimana kedainya, lumayan untuk camilan waktu belajar di rumah" Gumam Jaejoong
"Hu-hum"
Changmin mengangguk dengan gugup, sesekali melirik Jaejoong yang tengah menghabiskan tteokbokkinya tanpa menyuapi Changmin lagi. Padahal namja tinggi itu menanti Jaejoong menyuapi tteokbokki-nya lagi. Syukur~ gengsian sih kesayangannya Cho~~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi kau akan menjadi striker dipertandingan nanti?!" Ucap Shindong tidak percaya
"Ya" Yunho menghembuskan nafasnya
"Itu bagus! Lalu kenapa kau terlihat tidak senang?" Tanya Junsu
"Bukannya tidak senang, aku senang, keluargaku juga akan senang aku mendapatkan posisi ini. Mungkin mereka akan memasakkan makanan kesukaanku nanti malam. Hanya saja…" Yunho menghembuskan nafasnya
"Kenapa?" Tanya Junsu
"Taeyang sunbaenim sepertinya tidak senang"
"Tidak senang kenapa?"
"Aku kan merebut posisinya"
"Hey bodoh! Kau lebih berbakat darinya makanya kau bisa menjadi striker! Lagian tumben kau berpikiran seperti ini? Biasanya kau selalu berpikiran positif" Ucap Shindong
"Itu karena Taeyang sunbaenim berteriak kencang tidak terima keputusan dari pelatih" Gumam Yunho
"Tidak ada yang membelamu tadi?"
"Ada, manager dan kapten tim juga beberapa sunbae tapi tetap sajaaa~~ Aku harus bagaimana Junsu yah… Shindong ahhh~~" Rengek Yunho
Mereka bertiga tengah berjalan menuju gerbang sekolah, hari ini latihan sepak bola ditiadakan karena sang pelatih harus pergi ke tempat pertandingan, besok mereka akan berlatih secara intens sampai sehari sebelum pertandingan.
"Ayolah~ Kau itu berbakat dan pelatihmu bisa melihat itu. Jangan pedulikan orang – orang yang tidak senang dengan bakatmu" Ucap Shindong mencoba bijaksana\
"Huh~~" Yunho mengerucutkan bibirnya sampai dia menemukan Jaejoong berdiri di depan gerbang sekolahnya "Jaejoongieee~~~"
Yunho berlari meninggalkan dua temannya tanpa perasaan, membuat Shindong berjanji dalam hati akan mendorong Yunho ke jurang dan Junsu yang menyeringai melihat Jaejoong yang menatap datar pada Yunho.
"Tadi saja wajahnya seperti kucing kurang belaian sekarang seperti anjing bertemu dengan majikannya setelah satu bulan tidak bertemu. Aku bahkan bisa melihat buntut bergoyang dibelakang tubuh Yunho" Ucap Shindong dan Junsu tertawa mendengarnya
"Jaejoong kan memang majikan Yunho sekarang"
Sementara itu langkah Yunho dihentikan oleh tubuh besar Changmin, padahal hanya tinggal lima langkah lagi mereka akan berhadapan.
"Ini"
Changmin mengulurkan kotak makan siang milik Yunho, Yunho menerimanya dengan wajah sedih dan tidak lama menatap Jaejoong dengan sendu.
"Kenapa tidak memberikannya sendiri padaku?' Lirih Yunho
Jaejoong meneryitkan keningnya setelah melihat reaksi Yunho, tidak biasanya namja penuh keriangan dan aura positif itu sendu? Ada apa dengannya? Wait.. Kenapa Jaejoong seakan khawatir dengannya? Tidak mungkin…
"Pergilah" Usir Changmin tidak berperasaan
Yunho diam menatap Jaejoong yang sama sekali tidak menatapnya, dia sebenarnya tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari Jaejoong hanya saja, dia ingin Jaejoong mengembalikan tempat makannya dan sedikit memberikan senyum untuknya juga mengatakan bahwa masakan eommanya itu enak. Berlebihan ya?
"Yun, ayo pulang"
Junsu merangkul Yunho setelah dia dan Shindong sampai di samping Yunho. Yunho menganggukkan kepalanya dan mengambil kotak bekal yang diulurkan oleh Changmin. Dia kemudian berjalan menuju halte bus tanpa berpamitan pada Jaejoong seperti yang biasa dia lakukan. Shindong segera menyusul Yunho yang mood-nya tengah turun itu.
"Apa susahnya mengucapkan terima kasih atas usahanya memberikan makanan itu padamu? Ah… Aku lupa kau tidak pernah mengucapkannya, sekalipun kau mengucapkannya itu sama sekali tidak tulus" Sinis Junsu
"Hentikan ucapanmu" Ucap Changmin
"Bukan aku yang menyuruhnya membawa makanan itu" Ucap Jaejoong
"Tapi dia berusaha mengembalikan mood-mu, sia – sia saja dia memperhatikanmu"
"Suruh saja dia tidak memperhatikanku lagi" Ucap Jaejoong dengan datar
"Ya, pasti" Ucap Junsu sembari menatap tajam pada Jaejoong
Namja gempal itu berjalan melewati Changmin kemudian menabrak pundak Jaejoong dengan sengaja kemudian berjalan menuju Yunho yang hampir sampai di halte bus. Sementara Jaejoong diam menghayati apa yang tadi diucapkan oleh Junsu. Berterima kasih? Untuk apa?
"Hyung, mobilnya sudah sampai"
"Hum"
Changmin menghampiri mobil jemputan mereka dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu sementara Jaejoong menoleh, menatap punggung Yunho yang terlihat menyedihkan. Memang dia salah ya?
"Yunho! Tunggu aku!"
Yunho menolehkan kepalanya, dia berjalan sampai melupakan teman bertumbuh gempalnya itu! Astaga… Dia kan jadi tidak enak pada Junsu. Shindong sendiri sudah duduk dibangku halte dan Yunho menatap Junsu yang berusaha menghampirinya. Namun fokusnya terbelah saat melihat namja cantik kesayanganya itu menatapnya dan tidak lama menganggukkan kepalanya dan memberikan sebuah senyum tipis namun bisa menghancurkan kerja jantung Yunho.
Berlebihan memang tapi itulah yang terjadi, setelah melihat senyum Jaejoong, jantung Yunho menggila dan tidak terkontrol. Senyum tipis nan manis dan menggoda itu membuatnya lupa daratan. Dia tersenyum sangat lebar entah pada siapa karena Jaejoong sendiri sudah masuk ke dalam mobil dan mobilnya pun sudah melaju mereka Yunho.
Dari dalam mobil Jaejoong bisa melihat ekspresi konyol yang ditampakkan oleh Yunho, membuatnya kembali tersenyum tanpa Changmin lihat. Dan Junsu? Namja itu malah sedikit takut karena temannya tersenyum entah pada siapa, dia menoleh untuk memastikan apakah ada orang di belakangnya tapi kosong. Ih… Junsu jadi merinding.
"K-kau sehat? Tidak kesurupan? Kenapa tersenyum seperti itu?!" Pekik Junsu
"…."
PLAKKK!
"Yak Jung Yunho! Jangan menakutiku!"
Junsu memukul lengan Yunho dengan kencang dan mengeluarkan suara teriakannya yang maha dasyat itu membuat Yunho menatapnya bingung serta Shindong yang memegang dadanya karena kaget.
"Apa?" Tanya Yunho dengan polos
"Astaga! Kau gila?! Kenapa tersenyum aneh seperti itu?!" Pekik Junsu
"Aku senang! Malaikatku tersenyum padaku!"
Junsu mengerutkan keningnya bingung, malaikatnya? Seingat Junsu yang Yunho panggil malaikat hanya Jaejoong tapi Jaejoong tidak ada di belakangnya tadi.
'Apa tadi dia memberikan senyumnya sebelum masuk ke dalam mobil? Menarik sekali~' batin Junsu kemudian tersenyum tipis
"Hahahahaha… Aku senang! Ayo aku traktir makan di kedai orangtuaku! Shindong ah, kajja!" Ucap Yunho dengan riang
"Waaaahhh, okee!"
Yunho kemudian merangkul Junsu dan membawa namja itu menuju halte dan tertawa bersama, Junsu menggelengkan kepalanya. Betapa mudahnya mengembalikan mood Yunho. tapi saat mereka menunggu bus menuju arah rumah Yunho beberapa orang keluar dari mobil dan menghampiri Yunho. Junsu dan Shindong memasang wajah siaga.
"Aku tidak akan membiarkan posisiku direbut, kau hanya anak baru yang berlindung dibalik punggung kepala sekolah! Ingat itu"
Dia adalah Taeyang yang posisinya direbut oleh Yunho. sebenarnya bukan salah Yunho karena Yunho lebih berbakat dibanding dirinya. Tapi Taeyang tidak terima akan hal itu.
"Aku akan membuatmu keluar dari klub" Ucap Taeyang datar dan empat orang di belakangnya tersenyum jahat pada Yunho
Shindong menengguk ludahnya dengan susah payah, kakak kelasnya ini terlihat sangat membenci Yunho yang sduah merebut posisinya. Sedangkan Junsu yang melihatnya menaikkan salah satu alisnya sembari menatap Taeyang yang wajahnya tampak familiar untuknya. Haruskah Junsu membantu Yunho kali ini?
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
.
.
Ciyeee~~ Yang dapet asupan terus terusan dari Cho ciyeee~~~
Hahahahahaha…
Annyeong!
Cho kembali update, kali ini Summer. Doa in ff yang laen cepet nyusul ya
.
.
.
Ah~~ Btw… Happee b-day buat selingkuhan Cho, Kim Namjoon alias RM. Love youuu~~ Hahahahaha
.
See u next chap?
Chuuu~~~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selasa, 12 September 2018
