Cadas euy !!!
Lagi, apdate'an yang kemarin nih.
Mohon dibaca dengan penuh hikmat.
Disclaimer: Naruto punyanya om Masashi Kishimoto
Story: Love Story : First Feeling
Warning: OOC punya
Aku bangun di pagi yang cerah.
Burung berkicau, terdengar di luar jendela kamarku.
Aku enggan untuk bangun sebenarnya, kalau Lee tidak berteriak dari luar kamarku, menyuruhku agar segera keluar.
Dengan malas, akupun keluar kamar, dan disana ada Lee yang tersenyum, memperlihatkan sederetan gigi-giginya yang membuatku silau.
"He, Gaara. ayo, sekarang waktunya." kata Lee.
Aku baru sadar, hari ini adalah hari yang dijanjikan Lee untukku dan Sasuke pergi ke sebuah tempat, untuk mulai melakukan pencarian. Pencarian terhadap perempuan.
"Hm, ya oke. Aku siap-siap dulu." kataku malas, sambil menutup pintu kamarku.
"Cepat ya." kata Lee.
Aku langsung menuju kamar mandi untuk bersihkan diri, lalu setelah siap, aku menuju ke ruang makan.
Disana sudah ada yang lainnya, kecuali Hinata.
"He, Hinata mana?" tanyaku pada semua orang disana.
"Oh, dia sakit, entah kenapa badannya panas. Dia sedang di kamarnya." Sakura menjelaskan.
"Dia tidak makan?" tanyaku lagi.
"Aku sudah mengantarkan makanan kepadanya tadi." Temari menjelaskan.
"Kenapa kau Gaara? Eh, sekarang kau jadi perhatian rupanya." kata Lee menggodaku.
Aku tak menjawab. Pikiranku tertuju pada Hinata yang dalam bayanganku sekarang
edang terbaring lemah diatas tempat tidurnya.
"He, jagan bengong! Cepat habiskan. Kita harus cepat, eh!" kata Lee yang telah habiskan makanannya dalam sekejap.
Aku segera menghabiskan makananku dalam diam. Pikiranku masih tertuju pada Hinata.
"Ah, iya. Aku akan pergi dengan Temari setelah ini. Jadi, sebaiknya kalian cepat habiskan, dan cuci piring sendiri ya?" kata Sakura sambil menuju kamarnya bersama Temari.
"Ayo cepat, Gaara." kata Lee, setelah aku habiskan makananku.
"Hm, sebentar. Aku ingin ke kamar Hinata, untuk pastikan keadaannya." kataku sambil meninggalkan meja makan, menuju kamar Hinata.
"Cepat ya!" kata Lee yang memandangku di belakang.
Sesampainya di depan pintu kamar Hinata, aku mengetuk pintunya perlahan.
Terdengar suara batuk perlahan dari dalam.
"I-iya." katanya lemah.
"Ini aku, Gaara. Bolehkah aku masuk?" tanyaku.
"Ma-masuklah. Pin-pintunya tidak dikunci." jawabnya dari belakang pintu.
Aku membuka perlahan pintu kamarnya. Aku melihat Hinata sedang duduk di atas tempat tidurnya. Wajahnya sangat pucat. Sesekali dia terbatuk.
Aku berjalan mendekat ke tempat tidurnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku sambil duduk di sisi tempat tidur.
"Kau bi-bisa lihat. Tak mengenakan." jawabnya lemah.
Hati-hati ku letakan tanganku di keningnya.
"Kau demam?" tanyaku.
"Ya, se-sepertinya, begitu." jawabnya sambil terbatuk.
Aku melihat ke atas lemari kecil di sisi tempat tidur.
"Kenapa, tidak dimakan?" tanyaku sambil melihat makanan di atas lemari kecil itu.
"A-aku tak bernafsu." jawabnya.
"Sepertinya, itu penyebab kau sakit. Sudah berapa hari kau tak makan?" tanyaku.
"Ya, beberapa hari." jawabnya enggan.
"Gaara! Dimana kau?! Cepat kemari!" Lee berteriak memanggilku dari luar.
"Tunggu sebentar." kataku pada Hinata.
Aku keluar dari kamar Hinata menuju ruang depan. Lee dan Sasuke telah menungguku disana.
"Ayo, kau ikut tidak sebenarnya, eh?" tanya Lee.
Temari dan Sakura sudah ada di belakangku ketika aku ingin menjawab pertanyaan Lee.
"Kami pergi dulu ya." kata Temari dan Sakura yang kemudian pergi dengan tertawa.
Sejenak aku berpikir. Aku tak bisa tinggalkan Hinata dalam keadaan begini.
"Aku tak bisa tinggalkan Hinata sendirian disini. Maaf, tapi aku tidak ikut. Aku akan menjaganya hari ini." jelasku kepada Lee.
"Ya, baiklah. Kasihan juga sebenarnya dia jika harus ditinggal sendiri. Tapi, kau akan melewatkan sesuatu yang bagus, eh. Apa tidak apa-apa?" tanya Lee meminta kepastianku.
"Tidak. Aku tinggal. Maaf ya." kataku memutuskan.
"Baiklah, kami pergi dulu Gaara. Jaga rumah baik-baik ya. Hahahaha." kata Lee sambil berjalan menjauh bersama Sasuke.
Aku hanya bisa melihat mereka dari dalam rumah. Ketika mereka sudah tak kelihatan, aku menutup pintu, kemudian menuju kamar Hinata lagi.
"Hinata, boleh aku masuk?" kataku sesampainya di depan pintu kamar Hinata.
"Ya" jawabnya dari dalam.
Aku membuka pintu kamarnya perlahan, lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Kau tak pergi bersama yang lain?" tanyanya heran kepadaku.
"Tidak. Aku memutuskan tinggal. Kasihan bila kau harus sendiri." kataku sambil mendekati tempat tidurnya, kemudian duduk di sisi tempat tidur itu.
"Te-rima kasih." katanya sambil tersenyum lemah.
Aku merasakan hal aneh. Dadaku berdebar ketika melihatnya tersenyum.
Aku jadi salah tingkah.
"Ah, kau harus makan. Kau tahuu, bila kau tak makan, kau tak akan bisa sembuh." kataku.
"A-aku terlalu lemas, untuk mengambil ma-makanan itu, Ga-Gaara." katanya.
"Baiklah, aku suapi kau." kataku sambil mengambil makanan diatas lemari kecil, lalu mulai menyuapi Hinata perlahan.
Ada yang salah dalam diriku, aku berpikir begitu.
Entah kenapa, aku senang melihat wajahnya yang polos.
Aku berdebar ketika dia tersenyum.
Apakah, apakah ini berarti aku, aku menyukainya?
"Te-terima kasih, Ga-Gaara." katanya ketika aku selesai menyuapinya.
"Sama-sama." jawabku. "Aku, aku cuci ini dulu ya? Kau, berbaringlah dulu. Aku akan kembali. Ya, jika kau bersedia tentunya." kataku sambil berdiri berjalan menuju pintu kamar.
"Ya. A-aku mau." kata Hinata.
"Ba-baiklah. Tunggu sebentar ya?" kataku sambil berjalan menuju dapur, kemudian mencuci piring.
Aku senang, aku bisa ada didekatnya lagi. Mungkin, seharian ini.
Entah, kenapa aku bisa merasa sesenang ini.
Selesai mencuci piring, aku kembali lagi ke kamar Hinata.
Aku tak perlu lagi mengetuk pintu, karena pintu kamarnya tadi tak tertutup sepenuhnya.
Ketika aku masuk kamarnya, dia sedang membaca sebuah buku. Kemudian dia memandangku, dan menyuruhku untuk masuk.
"Buku apa itu?" kataku sambil masuk, kemudian duduk di sisi tempat tidur.
"Ini. Ten-tentang cinta." jawabnya ragu.
"Cinta?" tanyaku heran.
"Ya. I-ini dibelikan Sakura ke-kemarin." jawabnya.
"Jadi buku ini tentang cinta? Bagaimana ceritanya?" tanyaku.
"A-aku belum mem-bacanya sampai habis Gaara. jadi, a-aku belum tahu persis tentang apa cerita di buku ini." katanya sambil tertawa kecil.
"Ah, benar juga. Maaf." kataku malu.
"Tak apa." katanya.
Kami diam sejenak, bingung ingin membicarakan tentang apa lagi.
"Ada yang Gaara suka?" tanyanya tiba-tiba.
"Ah, hm. Ada, sepertinya. Memangnya, kenapa? Bagaimana dengan kau?" aku balik bertanya.
"Ada." jawabnya singkat.
"Hm, bagaimana orangnya? Ya, kalau saja aku boleh tahu." tanyaku bersemangat.
Aku ingin tahu, seperti apa orang yang Hinata sukai.
"Hmm, di-dia itu ma-manis, lu-lucu, po-pokoknya a-aku suka dia." jawabnya sambil melihat ke atas. Sepertinya, dia sedang memikirkan orang yang dia suka itu.
"Dia, dekat denganmu?" tanyaku lagi.
Hinata kemudian memandangku.
Dadaku berdebar lagi.
"Sa-sangat dekat se-sekarang." jawabnya.
"Mak-maksudmu, dia itu ada didekatmu sekarang?" jawabku heran.
Aku bingung dengan apa yang dia katakan.
"Ya, te-tepat di-didepanku se-sekarang."
Jawabannya membuatku bingung. Aku sudah kehabisan kata-kata.
Sejenak aku berpikir, ini hanyalah sebuah lelucon.
Tapi, di wajahnya, sama sekali tak ada niat untuk membuat apa yang dia katakan menjadi sebuah lelucon.
"Kau bercanda kan?" tanyaku setelah diam beberapa saat.
"Ti-tidak. A-aku benar-benar me-menyukaimu Gaara." jawabnya langsung menusuk hatiku.
Aku terdiam beberapa saat, meresapi kata-kata yang diucapkannya, tidak main-main.
"Hinata, aku…"
Hiah !!!
Chapter 2 selesai.
Wah,
Maaf nih, pasti pada kesel, marah, gondok, ceritanya dipotong kaya gini.
Ya udah, yang penasaran cerita selanjutnya, apdate lagi aja yang chapter selanjutnya ya, biar lebih seru.
Hehehe.
Mohon review dari yang baca ini cerita.
Kritik dan saran sangat dibutuhkan disini.
Untuk para senior.
Bantulah aku untuk menghasilkan karya-karya terbaik bagi bangsa dan bernegara.
Salam, yookun ^_^
