Wah.
Lagi banyak ide nih.
Langsung tampung saja deh disini.
Disclaimer: Naruto punyanya om Masashi Kishimoto
Story: Love Story : The Judgement of Love
Warning: OOC punya
"Ti-tidak. A-aku benar-benar me-menyukaimu Gaara." jawabnya langsung menusuk hatiku.
Aku terdiam beberapa saat, meresapi kata-kata yang diucapkannya, tidak main-main.
"Hinata, aku…"
Kata-kataku terputus melihat Hinata yang tiba-tiba terbatuk.
"Hinata, kau tak apa?" tanyaku sambil meyodorkan segelas air putih kepadanya.
Aku membiarkannya meminum sampai habis.
"Yah, a-aku tidak apa-apa, Gaara. Te-terima kasih." katanya sambil tersenyum.
"Ja-jadi bagaimana? A-aku tau aku tak pantas un-untukmu Gaara. mu-mungkin aku ter-terlalu berharap barangkali?" katanya lagi.
"Oh, tidak, sama sekali tidak. Aku, aku juga sebenarnya suka denganmu Hinata. Hanya saja…" kata-kataku terputus. Aku yakin dia tak ingin mendengar apa yang akan kukatakan selanjutnya.
"Apa Gaara?" tanyanya penuh harap.
"A-aku menyukaimu, baru saja. Maksudku, belum terlalu lama. Jadi, a-aku masih, masih ragu dengan, dengan perasaanku sendiri." kataku menjelaskan.
Sesaat, aku bisa melihat wajah yang sepertinya putus asa.
"Tapi, aku tak mau berakhir begini saja. Mu-mungkin kamu bisa bantu aku, untuk, untuk memastikan perasaanku ini, benar atau tidak. Jadi, ya, aku. Aku mau jadi, jadi pacar, kekasih, atau apalah. Karena, aku, aku merasa nyaman bersama kamu. Ya, aku tidak tau bagaimana jadinya. Aku, aku mohon kamu bantu…"
Kata-kataku terputus.
Hinata dengan tiba-tiba memeluk, lalu menciumku.
"A-aku percaya ka-kamu Gaara. aku, a-aku sayang kamu. I-itu ta-tadi bukti aku." Hinata, semakin membuatku percaya, aku dan dia memiliki persaan yang sama.
Hinata tersenyum, aku masih saja diam. Aku, aku tak tahu mesti berbuat apa lagi.
"Ba-baiklah kalau, begitu. Jadi, kita sekarang…"
"Se-sepasang kekasih." Hinata memotong perkataanku.
Aku bisa melihat, dia tersenyum, sangat bahagia. Saperti aku tentunya.
Dengan badan yang masih lemah itu, dia berusaha untuk memelukku lagi. Hanya saja, kali ini aku yang maju untuk memeluknya.
Aku bertatapan dengannya dalam pelukan, kemudian, kami berciuman lagi.
Selama beberapa saat, kami tenggelam dalam lautan cinta.
"Aku pulang!!!"
Aku segera melepaskan diri dari pelukan Hinata. Aku dan Hinata sama-sama kaget, aku dan dia sama-sama merasa itu lucu, lalu kamipun tertawa bersama.
"Wah. Ternyata begini ya. Pantas saja tidak mau ikut. He, Gaara, kau apakan dia, eh?" ternyata suara yang berteriak tadi adalah Lee. Sekarang dia dan Sasuke telah berada di depan pintu kamar Hinata.
"Oh, hei. Bagaimana dengan kalian?" tanyaku buru-buru.
"Gagal. Tak ada yang cocok." jawab Sasuke.
"Kenapa bisa, begitu?" tanyaku lagi.
"Yah, ternyata hanya cantiknya saja. Tahu-tahunya, berotak setengah. Kacau pokoknya. Ah, sudahlah, aku ingin istirahat saja." kata Lee sambil pergi menuju ke kamarnya.
"Ada apa dengannya?" tanyaku pada Sasuke.
"Dia dapat setengah perempuan tadi." jawabnya sambil tertawa, kemudian meninggalkan aku berdua lagi bersama Hinata.
"Se-sebenarnya, yang tadi di-dibicarakan, a-apa Gaara?" tanya Hinata kepadaku.
Rupanya dia bingung dengan apa yang tadi aku bicarakan dengan Lee dan Sasuke.
"Ah, sudahlah. Lupakan saja. Yang penting, sekarang kamu istirahat, lalu nanti, jam makan malam, harus makan." kataku.
"A-aku hanya mau ma-makan, kalau, kalau ada ka-kamu." katanya.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya tadi.
Tak ku sangka, ternyata ada sisi manja juga dia.
"Baiklah. Aku akan suapi kamu lagi nanti. Tapi sekarang, aku ingin kamu istirahat, tidur. Aku ingin mendengar cerita Lee dan Sasuke diatas. Tak apa kan?" tanyaku sambil mengelus rambutnya.
"Ya, asal nanti malam, ka-kamu berjanji a-akan temani aku disini. Oya, Temari dan Sakura akan ku beri tahu so-soal hubungan ki-kita ini. A-aku yakin, me-mereka pasti senang." katanya sambil tersenyum. Manis sekali, bagiku.
"Ya, kamu tenang saja. Well, aku ke atas dulu ya? Kamu, semoga cepat sembuh. Aku sayang kamu." kataku sambil mencium keningnya.
"A-aku juga sayang kamu, Gaara." katanya sambil merebahkan diri.
Aku pergi meninggalkan kamarnya, kemudian menuju kamarku di lantai atas.
Sesampainya, aku langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
Heh, aku senang, sangat senang. Ternyata, aku bisa menemukan seorang kekasih. Walau memang aku belum yakin dengan perasaanku. Tapi, aku tahu. Dia pasti bisa yakinkan aku, untuk waktu-waktu kedepan. Ya, semoga saja dia benar-benar perempuan yang tepat, untuk masa depanku nanti.
Pintu kamarku terbuka, Lee dan Sasuke masuk ke dalam kamarku.
Mereka bercerita bergantian tentang apa yang tadi mereka alami. Menyenangkan, saat-saat seperti ini. Dapat berkumpul dengan mereka, bukan hanya sebagai teman, ataupun sahabat, tapi sekaligus menjadi saudara. Karena kami telah mengenal satu dengan yang lain.
Setelah mereka selesai bercerita, sekarang giliran aku.
Aku menceritakan apa saja yang tadi telah aku alami seharian. Mereka menggodaku, tapi sekaligus memberiku selamat. Karena aku telah menemukan seorang perempuan yang khusus dijadikan seorang kekasih.
Kami menghabiskan waktu dengan bercerita. Tak tahunya, sudah waktunya makan malam.
Ternyata, Temari dan Sakura telah pulang sedari tadi.
Mereka memanggil-manggil kami dari bawah. Kamipun memutuskan untuk membersihkan diri dulu, lalu pergi menuju meja makan.
Aku, yang paling terakhir ada di meja makan.
Ketika aku datang, Temari dan Sakura menyambutku dengan banyak pertanyaan.
Aku yakin, Hinata sudah bercerita kepada mereka.
Hinata duduk di sebelah kursi kosong. Yang sepertinya memang disediakan untukku.
"Wohoo! Mari kita rayakan hari jadi teman kita ini. Semoga mereka bisa bersatu untuk selamanya." Lee, masih dengan semangat masa muda yang bergelora. Hahaha, memang dia selalu ada-ada saja.
"Yap, mari kita makan-makan sekarang! Aku dan Sakura telah membuatkan masakan special. Hohohoho." kata Temari sambil menunjuk semua masakan yang dia buat.
"Ya, terima kasih buat semua. Tapi, kalau terus-terusan berkata-kata seperti ini, kapan kita makannya?" kataku.
Lee dan Temari saling pandang, kemudian sama-sama tersenyum.
Ada yang aneh disini.
"Ya, ayo makan semua." Sasuke angkat bicara, menyuruh semuanya makan.
Kamipun makan dengan gembira.
Aku, masih tetap menyuapi Hinataku dengan perlahan. Sebenarnya dia masih sangat lemah untuk berjalan keluar, hanya saja, katanya dia dipaksa oleh Sakura dan Temari untuk makan bersama di meja makan. Memang tega ya mereka.
Ya, sesudah makan, aku mengantar Hinata kembali ke kamarnya.
"Ga-Gaara. terima kasih ya." kata Hinata sesampainya di depan pintu kamarnya.
"Ya, sama-sama. Baiklah, selamat istirahat ya?" kataku sambil mencium kening Hinata.
"Gaara, a-aku sa-sayang kamu." katanya.
"Aku juga…"
Kata-kataku terputus lagi.
Dia memeluk, kemudian menciumku lagi, sama seperti tadi sore yang dia lakukan.
"Oke, aku ke atas ya? Sampai besok." kataku setelah melepas pelukan darinya.
"Sa-sampai besok, Gaara." katanya sambil menutup pintu kamar.
Aku menuju atas, kembali ke kamarku.
Entah, sebenarnya aku telah mengantuk, hanya saja aku tak bisa tidur cepat seperti biasanya. Di kepalaku, hanya ada Hinata. Aku selalu terbayang wajahnya, walau aku sudah memejamkan mata.
Aku tertidur, tenggelam dalam bayangannya.
Selamat tidur, Hinataku.
Wah, wah.
Chapter ketiga selesai.
Eits, bukan berarti cerita ini selesai lho.
Masih ada lanjutannya.
Tetap apdate ya.
Masih butuh kritik dan saran nih.
Jangan lupa juga pada ngereview ya.
Salam, yookun ^_^
