Aduh.
Ditempat aku hujan terus nih, jadi malas buat ngapa-ngapain.
Tapi, menulis tetap semangat donk.
Salah satu karya lagi nih, masih sambungan yang kemarin.
Yu, dilihat, dibaca, kemudian direview.
Disclaimer: Naruto punyanya om Masashi Kishimoto
Story: Love Story : What's the Matter with Them?
Warning: OOC punya
Aku bangun di hari berikutnya dengan tersenyum.
Mengingat, bahwa kini hidupku akan lebih indah untuk kedepan, karena aku telah memiliki seorang kekasih, yang akan selalu ada di sampingku.
Aku bangkit dari tempat tidur, kemudian pergi ke kamar mandi untuk bercuci muka, setelahnya aku menuju lantai bawah.
Meja makan sudah penuh dengan makanan. Dan kursipun tersisa satu, untukku duduk.
"P-pagi Gaara." Hinata, ketika aku akan duduk disebelahnya.
"Pagi." kataku yang kemudian mencium keningnya.
"Duh, pagi-pagi sudah bermesraan, he kalian! Aku iri denganmu Gaara, secepat ini kau bisa menemukan seorang kekasih, eh?" kata Lee.
"Ya, keajaiban alam mungkin? Hahahaha." kataku sambil tertawa.
"Aku ingin, kau tahu. Sepertimu itu, mempunyai seorang kekasih yang akan selalu menyambutku setiap pagi, lalu menyodorkanku secangkir teh hangat. Oh, sial!" celoteh Lee sambil memukul-mukul piring dengan sendoknya.
"Lee, hentikan itu!" kata Temari yang sepertinya kesal melihat apa yang dilakukan Lee.
"Heh, maaf. Aku hanya sedikit kesal. Gaara begitu cepat menemukan perempuan yang tepat, sedangkan aku…"
"Mendapat perempuan yang setengah jadi. Hahahaha" Sasuke memotong perkataan Lee, diikuti dengan gelak tawa yang lain, termasuk aku.
"Eh, sial kamu. Kemarin itu aku mana tahu kalau ada perempuan jadi-jadian seperti itu. Sial sekali aku kemarin ya." kata Lee.
"Hohoho, tidak akan ada perempuan yang suka denganmu, kau tahu kenapa? Karena alismu yang tumbuh tidak ditempat yang semestinya. Hohohoho." cela Temari yang kemudian, lagi-lagi diikuti dengan gelak tawa yang lain.
"Eh, enak saja kamu bicara! Ah, sudahlah. Aku jadi tak bernafsu makan. Aku akan kembali ke kamar. Huh!" kata Lee yang kemudian berjalan menjauh dari meja makan, menuju kamarnya.
Kamipun melanjutkan makan.
Beberapa saat kemudian, Lee muncul lagi di ruang makan, mengambil sepotong ayam goreng dari meja makan, lalu membawanya kembali ke kamar.
Kami yang melihat itu tertawa.
Lee tidak konsisten dengan perkataanya.
Memang dasar tukang makan.
"Dasar anak bodoh dia itu. Bilang tidak nafsu makan, tapi kemudian kembali lagi mengambil makanan. Dasar!" kata Temari yang telah selesai dengan makannya, meninggalkan meja makan.
"Lee, me-memang lu-lucu ya." kata Hinata kepadaku.
"Yah, memang dasar dia itu. Baiklah, aku akan bereskan ini dulu." kataku yang kemudian mengambil piring-piring kotor dibantu oleh Sasuke dan Sakura.
"A-aku kembali ke kamar." kata Hinata sambil tersenyum.
"Baiklah. Istirahat kamu ya." kataku yang kemudian menuju dapur, untuk mencuci piring-piring kotor tadi, dibantu Sasuke.
Selesai mencuci piring, aku kembali ke kamarku untuk membersihkan diri.
Selesai, aku segera ke lantai bawah, dan di ruang depan yang lain sedang berkumpul, kecuali Lee.
"Lee tak ada?" tanyaku.
"Mungkin dia masih marah soal yang tadi. Aku mencoba ke kamarnya tadi, cuma di kunci. Aku panggil dia, tak ada yang menyahut." jelas Sasuke.
"Oh, begitu." kataku.
Kami menghabiskan waktu siang itu dengan kegiatan masing-masing.
Aku dan Hinata mengobrol untuk waktu yang lama.
Temari dan Sakura juga sedang mengobrol. Tapi, sedikit ku dengar, mereka sedang membicarakan tentang cowok-cowok, ya dasar perempuan.
Sedangkan Sasuke, dia sedang tidur-tiduran di sofa.
Tak terasa, hari telah sore.
Aku memutuskan untuk pergi membersihkan diri, sedangkan Hinata, Temari dan Sakura pergi ke dapur, untuk menyiapkan makan malam.
Aku mencoba ke kamar Lee, dan memanggilnya.
Hanya saja, tak ada jawaban, seperti Sasuke tadi.
Aku berpikir, mungkin dia sedang tidur, kemudian aku berlalu dari depan pintu kamarnya, menuju kamarku.
Selesai membersihkan diri, aku turun kebawah, menuju ruang makan, dimana yang lain sudah siap di bangkunya masing-masing.
Tapi aneh, masih ada 2 bangku kosong ketika aku duduk disana.
"Lee, dimana dia?" kataku sambil mengambil makanan.
Tak ada yag menjawab, mungkin dia masih di kamar, pikirku.
Akupun mulai makan.
"Tak biasanya dia begitu. Dia beneran marah ya? Hayo, Temari kasar sih tadi bicaranya. Hayo lho, Lee marah." goda Sakura kepada Temari.
"Ah, apaan sih! Apa yang aku katakan tadi adalah yang sebenarnya. Aku berkata jujur, apa itu salah?" kata Temari yang kemudian memukul-mukul piring dengan sendoknya, persis seperti yang tadi dilakukan Lee.
"Bu-bukannya salah. Ha-hanya saja, kata-kata yang kau gu-gunakan salah." kata Hinata kemudian.
"Ya, mungkin aku harus minta maaf kepadanya. Aku akan ke kamarnya sekarang." kata Temari yang telah menghabiskan makanannya, kemudian berjalan menuju kamar Lee.
Sejenak ruang makan itu menjadi sepi.
Beberapa waktu berlalu, kemudian Lee dan Temari berjalan beriringan menuju meja makan.
"He, sudah baikan kalian? Hore! Begitu dong, jangan berantem lagi ya." kata Sakura sambil menyambut Temari dengan pelukan.
"Ya, maaf. Aku tadi, ya kalian tahulah. Maafkan aku." kata Lee yang kemudian duduk, langsung mengambil makanan yang tersedia.
"Ya, aku juga minta maaf sekali lagi padamu Lee." kata Temari yang kemudian tersipu malu.
Malu?
Sejak kapan?
Aku melihat kelakuan mereka yang aneh. Wajah keduanya memerah, entah kenapa, akupun juga tak tahu.
"Kalian, ada apa sebenarnya?" tanyaku pada Lee dan Temari.
"Eh? Me-memangnya kenapa? A-aku baik-baik saja." jawab Lee gugup.
"Iya, a-aku juga." Temari menambahkan juga dengan nada yang gugup.
Kemudian, mereka saling pandang, dan untuk yang kedua kalinya, wajah mereka memerah lagi.
Aku merasakan sesuatu disini.
"Kalian sama-sama suka ya? Hayo ngaku, ngaku, hohoho." goda Sakura.
"Tidak!" jawab keduanya bersamaan.
"Tuh, menjawabnya saja bersamaan. Jadi so sweet, hohoho." goda Sakura lagi.
"A-apaan sih. Sudahlah, a-aku mau ke kamar dulu. A-aku mengantuk." kata Temari yang kemudian berjalan menuju kamarnya.
"A-aku juga. A-aku akan makan di kamarku." kata Lee kemudian. Dia berjalan menuju kamarnya sambil membawa sepiring penuh makanan.
Aku dan Hinata hanya bisa saling pandang melihat tingkah laku mereka yang aneh itu.
"Mereka benar-benar saling menyukai ya? Uh, jadi so sweet." kata Sakura yang kemudian tinggalkan ruang makan, menuju kamarnya.
Setelah selesai makan, aku dan Hinata membereskan meja makan.
"A-aku juga me-mengantuk Gaara." kata Hinata setelah meja makan rapi kembali.
"Baiklah, ayo, aku antar, lalu aku juga pergi tidur." kataku.
Aku mengantarkan Hinata ke kamarnya, lalu aku sendiri pergi ke kamarku untuk tidur.
Sesampainya di kamar, aku merasakan ada hal yang aneh.
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku.
Oh iya, Sasuke!
Akupun kembali ke lantai bawah, kemudian menuju ruang depan.
Terakhir kali aku melihat Sasuke, dia sedang…
Ah, aku menggelengkan kepala ketika menemukan Sasuke.
Ternyata dia masih terlelap di ruang depan.
Uh, dingin.
Akhrnya, dalam cuaca yang tak mendukung ini, aku berhasil menyelesaikan chapter keempat saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Well,
Masih ada lagi lanjutannya.
Apdate terus sampai selesai ya.
Masih mohon kritikan dan sarannya nih.
And juga jangan lupa direview.
Makasih ya.
Salam, yookun ^_^
