Ah, engga enak banget deh nih.

Hidung mampet, udah kaya apaan aja.

Uh, beneran engga enak nih.

Tapi, tetap lanjutkan membuat karya, hahahaha.

Check yu.


Disclaimer: Naruto punyanya om Masashi Kishimoto

Story: Love Story : They are a Couple Now

Warning: OOC punya


Di hari berikutnya aku bangun dengan sangat malas.

Semalam, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Banyak suara-suara gaduh di bawah tadi malam.

Apa itu, akupun tidak tahu.

Akupun ke kamar mandi untuk bercuci muka.

Segera aku turun untuk menemui yang lainnya.

Aku yakin semua sudah ada di meja makan.

Tapi ternyata, tidak semuanya.

Aku tidak melihat Lee dan Temari pagi ini.

"Lee… dan Temari mana?" tanyaku pada yang lain.

"Aku tak tahu tentang Lee. Kalau Temari… sepertinya dia kembali ke kamar ketika aku sudah tertidur. Ketika terbangun, dia sudah ada disampingku. Dan, mungkin sampai sekarang dia belum bangun." jelas Sakura padaku.

"Lalu… Lee bagaimana? Kamu tahu sesuatu Sasuke?" tanyaku pada Sasuke.

"Larut malam dia kembali ke kamarnya. Aku membaca sampai larut, dan ketika aku ingin tidur, aku mendengar pintu kamarnya terbuka. Aku yakin pasti dia." jelas Sasuke.

Sesaat aku terdiam, berdiri mematung, memikirkan apa yang baru saja aku dengar.

Aneh, pikirku.

Disaat yang bersamaan, aku bayangkan mereka berdua sedang melakukan sesuatu sampai larut malam, yang hanya mereka berdua ketahui.

"Gaara, ka-kamu kenapa?" tanya Hinata kepadaku.

Mungkin dia bingung melihat raut wajahku yang mungkin… aneh?

"Ah, tidak apa. Maaf" kataku sambil duduk di kursi dekat Hinata.

Kami melanjutkan makan dengan tenang.

Beberapa waktu kemudian, terdengar langkah kaki menuju ruang makan.

"Ah, kalian sudah disini rupanya. Aku kesiangan, eh?" Lee, yang langsung duduk kemudian mengambil seporsi besar makanan.

"Lee! Aku sudah bilang, jangan rakus kalau makan!" Temari yang rupanya menyusul kedatangan Lee.

"Iya, maaf. Aku kembalikan lagi ketempatnya, jika itu dapat membuatmu berhenti mengomel padaku sepanjang hari, eh!" kata Lee, ketika Temari samapai di meja makan.

"Huh! Selalu begitu. Sini-sini, aku akan ambilkan untukmu. Dasar tukang makan!" kata Temari sambil mengambil piring Lee, kemudian mengembalikan lagi makanan yang tadi diambil Lee.

"Nah, ini cukup untukmu, Lee." kata Temari sambil menyodorkan piring kepada Lee.

"Eh, ini tidak cukup! Tolonglah, sedikit lagi saja." kata Lee memohon.

"Tidak, tidak. Itu cukup, kamu tahu?!" kata Temari sambil mengambil makanan untuk dirinya sendiri.

Akhirnya Lee mengalah, kemudian makan dengan enggan.

Sementara itu, aku tercengang melihat tingkah laku mereka yang seperti ini.

Tidak biasanya mereka seperti ini.

"Kalian ini, sebenarnya kenapa?" tanyaku kepada mereka.

Sesaat mereka saling pandang, kemudian saling tersenyum.

"Hm, begini. Jadi, sebenarnya, kami semalam itu…

Lee's POV

Malam itu, ketika semuanya telah kembali ke kamar, aku keluar untuk mencari makana. Disaat itu, aku bertemu dengan Temari yang sepertinya mencari makanan, sama seperti aku.

"Heh, malam begini, sedang apa kamu?" tanyaku pada Temari yang masih asik mencari-cari di dalam lemari.

"Eh. Hm… aku lapar, hohohoho." jawabnya sambil mencari-cari di lemari. "Aah, ternyata sudah tidak ada." katanya sambil menutup lemari. "Lalu, kamu sendiri sedang apa? Bukannya, kamu tadi juga kembali ke kamar ya? Sambil membawa piring berisi makanan setumpuk?" katanya sambil berjalan ke ruang depan.

"Heh, aku masih lapar. Aku mencari makanan." kataku sambil berjalan ke ruang depan. "Ekh, Sasuke. Kamu disini? Bangun! Kembali ke kamarmu." kataku ketika menemukan Sasuke tertidur di ruang depan.

Sasuke yang terbangun, segera berjalan menuju kamarnya, tanpa memandang aku sedikitpun. Fenomena yang aneh.

Aku lalu duduk di sofa yang tadi ditiduri Sasuke, sementara Temari duduk di sofa yang ada didepanku.

"Kamu tidak tidur, eh?" tanyaku memecah kesunyian di ruang depan itu.

"Aku tak mengantuk. Tidak biasanya aku begini." jelasnya.

"Heh, ada sesuatu yng menyebabkan kamu tidak bisa tidur?" tanyaku lagi.

Sejenak dia memandangku dengan tatapan aneh.

"Ada…ada sesuatu yang membuatku tak bisa tidur. Sesuatu yang mungkin terdengar sangat bodoh." jawabnya yang membuat aku bingung.

"Ekh,kalau boleh tahu, apa itu?" tanyaku lagi.

"Kamu tahu, jika seseorang merasa aneh ketika sedang dekat dengan orang lain, dan kita tidak tahu mesti berbuat apa ketika berhadapann dengannya, kita menjadi salah tingkah, dan…dan dada kita menjadi…berdebar ketika dekat dengannya. Kamu tahu…itu kenapa…bisa terjadi?" jawabnya, yang kurasa itu adalah sebuah pertanyaan.

"A-aku tidak tahu apa maksudmu." jawabku bingung.

"Aku merasa aneh ketika dekat dengan seorang cowok. Aku… dia itu sebenarnya sangat menyebalkan, hanya saja… aku tidak bisa jika sehari saja tidak berjumpa dengannya. Dan, aku… aku merasakan sesuatu yang menggelitik dadaku." jawabnya.

Aku bisa melihat perubahan diwajahnya.

Wajahnya memerah, seperti kepiting rebus.

Tapi… tapi lucu. Sangat lucu, karena aku baru pertama kali melihat Temari yang seperti ini. Hahahaaa.

"Apa yang kamu inginkan dari orang itu, eh?" tanyaku lagi.

Dia memandangku sejenak.

"Aku ingin dia menjadi kekasihku." jawabnya singkat, sambil memeluk bantal.

"Me-memangnya siapa orang itu, eh?" tanyaku.

"Dia… dia ada dihadapanku sekarang."

Dadaku berdegup kencang, aku tak sanggup berkata apapun.

Tenggorokanku serasa tercekat, ketika dia bilang, orang yang membuat dirinya aneh, orang yang membuatnya menjadi salah tingkah, dan… dan orang yang dia ingin menjadi kekasihnya… adalah aku?

"Tu-tunggu dulu. Telingaku ini… apa salah mendengar?"

Dia menggelengkan kepala, "Ini sungguh. A-aku menyukaimu. Walau, memang kamu ini menyebalkan, tapi… a-aku suka kamu." jawabnya, yang kini meyakinkanku, bahwa telingaku memang tidak bermasalah.

Aku diam, dia juga. Seketika, ruang depan itu seperti mati, karena tidak seorangpun diantara kami yang mengatakan sesuatu.

"Ja-jadi bagaimana… menurutmu?" tanyanya kemudian.

"A-aku, aku. Aku mau. Tapi kan, aku menyebalkan. Apa… apa kamu nanti, tidak apa denganku?" kataku gugup.

Ketika aku selesai berkata seperti itu, dengan cepat dia menghampiriku.

"Aku tak akan menyesal. Aku suka kamu, dan aku tahu kamu memang menyebalkan, tapi… tak apa. Yang penting, aku suka kamu. Jadi… kamu mau kan?" tanyanya.

Aku hanya bisa menganggukan kepala tanpa bisa mengatakan apa-apa.

Aku melihat dia tersenyum, sangat manis.

Lalu… lalu kemudian, dia menciumku, akupun membalas ciumannya.

Sejenak, kami tenggelam dalam lautan asmara.

"Baik. A-aku mau ke kamar. Sepertinya, sudah terlalu larut untukku, dan… dan kamu juga harus pergi tidur, bukan?" kata Temari setelah melepaskan ciumannya, bangkit berdiri di depanku.

"I-iya, baiklah. Jadi, kita… hm, pergi tidur." kataku masih gugup.

"Te-terima kasih ya? A-aku ke kamar dulu. Sampai besok, Lee." katanya sambil melangkah pergi ke kamarnya.

Beberapa saat, aku mematung disana. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku alami tadi.

Wow, aku punya kekasih, eh?

Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi tidur juga.

End of Lee's POV

Back to Gaara's POV

"Ja-jadi kalian sekarang sudah…?" tanyaku gagap.

"Ya, kami… berpacaran sekarang." kata Temari sambil tersenyum memandang Lee, dan Lee juga tersenyum memandang Temari.

Aku senang, akhirnya Lee bisa menemukan perempuan yang cocok untuknya, bukan perempuan jadi-jadian tentunya.

Seharian itu, kami menghabiskan dengan mengobrol, dan mengobrol. Sampai waktu tak terasa sudah malam.

Anehnya, kami tak merasa lapar, jadi, makan malam ditiadakan untuk malam ini.

Hanya saja, Lee kasihan. Dia merengek dibuatkan makanan kepada Temari, dan bisa dibayangkan, Temari tak mau membuatkannya. Hahahaha.

Sekarang, sudah ada 2 pasangan dalam asrama ini.

Berarti, tinggal Sasuke, dan Sakura.

Ya, semoga saja merekapun mendapatkan apa yang mereka cari.

Selamat malam.


Ah,

Chapter 5 udah selesai.


Maaf ya kalo ceritanya agak-agak ngaco, soalnya aku lagi sakit nih,

Pusing, pusing, pusing *sambil geleng-geleng kepala*

Doain moga sembuh ya? *sembah sujud*


Dimohon reviewnya.

Kritik dan saran masih dibutuhkan.

Terima kasih banyak. *memberi salam ala Jepang*


Salam, yookun ^_^