Hehei,

Argh, masih engga enak nih badan,

Well, tetap nulis,

Check ya, check.


Disclaimer: Naruto punyanya om Masashi

Story: Love Story : I'm Jealous

Warning: OOC punya


Badanku lemas, ketika pagi selanjutnya aku terbangun. Kepalaku pusing, entah kenapa aku jadi begini. Aku menghabiskan waktu di kamar, tidur-tiduran. Aku berharap Hinata akan datang untuk menemaniku sekarang.

Beberapa waktu berlalu, Hinata tak kunjung datang ke kamarku. Aku penasaran, akhirnya aku turun ke bawah. Dan …

"Hahahaha."

Aku mendengar suara tertawa Hinata, dan… dan Lee?

Aku menuruni tangga, berjalan perlahan aku menuju ruang depan.

Disana, Lee… dan Hinata, sedang berduaan, bercanda… bersama.

Di-dia melupakanku.

Hinata dan Lee menengok ke arahku saat aku terbatuk.

"Ga-Gaara?" Hinata, menjadi salah tingkah ketika melihatku.

"I-ini tidak seperti yang kau pikirkan, eh, Gaara." Leepun sama seperti Hinata.

"Aku akan kembali ke kamar. Maaf mengganggu keasyikan kalian." kataku sambil berjalan ke atas.

"Ga-Gaara!" Hinata memanggilku sambil berlari menuju arahku.

"Ka-kamu marah?" tanya Hinata.

Aku tetap menaiki tangga tanpa menjawab pertanyan Hinata.

Aku sakit, semakin sakit.

"Ga-Gaara!" Hinata, sambil menarik tanganku.

"Dengarkan aku!" katanya lagi.

Aku menghentikan lagkahku. Menatapnya dengan perasaan sangat tidak mengenakan. Aku ingin segera ke kamar, menjatuhkan diriku ke tempat tidur, lalu terbangun, berharap semua ini adalah mimpi.

Tapi, ternyata tidak.

"Ka-kamu kenapa sebenarnya?!" tanyanya lagi.

"Kamu yang lebih tahu, Hinata." jawabku sambil membuang muka darinya.

"Ka-kamu marah?" tanyanya lagi.

"Tidak, tidak marah. Hanya, marah besar. Kamu tahu, kenapa aku tidak turun saat sarapan? Aku sakit, badanku lemas, dan kamu tidak ada disampingku! Kamu… kamu bersama… Lee!"

"A-Aku minta maaf, Gaara." Hinata, yang kemudian mulai menangis.

"Aku… aku ada dimana saat kamu sakit dulu? Bagaimana kamu jika dulu itu aku tinggal? Dan… dan apa salahku sampai kamu tega membiarkan aku sendiri? Aku tidak meminta kamu untuk membalas semua itu, aku hanya minta kamu untuk menghargaiku. Kamu… kamu…" aku tak tahu harus berbicara apa lagi.

"Maaf. A-aku tak tahu kamu sakit."

"Mengapa kamu tidak cari tahu? Apa harus aku berteriak dari atas, memanggil kamu, lalu bilang bahwa aku sedang sakit. Begitu?" kataku.

Aku… aku merasa aneh.

"Maafkan aku, Gaara." Hinata, masih menangis.

Aku hanya diam, aku tak mau bicara lagi. Tepatnya tidak bisa. Aku merasa aneh. Lalu, gelap, semuanya gelap.

Aku… aku dimana. Mengapa gelap?

"Ga-Gaara?"

Siapa? Siapa itu?

Cahaya?

"Ga-Gaara? Gaara!"

Aku melihat… Hinata! Dia disampingku, menangis. Kenapa? Oh, sebelumnya kami bertengkar, ya, aku ingat. Ketika semuanya menjadi gelap tadi.

"Gaara?" panggil Hinata lagi.

"A… aku kenapa?" aku mencoba untuk bangun. Tapi, kepalaku sakit.

"Jangan kamu paksakan." Hinata.

"Maafkan aku. Aku tak bermaksud, kamu tahu Gaara. Memang aku salah, eh, ya aku salah. Maafkan aku, eh?" Lee yang berada di belakang Hinata, meminta maaf.

Aku masih merasa lemas, sekalipun hanya untuk mengangguk.

"Sepertinya parah. Apa yang kamu rasakan?" Sasuke. Aku tak sadar, ternyata ada semuanya di dalam kamarku ini.

"A… aneh" jawabku singkat. Sangat susah untukku berkata-kata sekarang ini. "A… air, tolong." kataku lagi.

"I-ini." Hinata, sambil menyodorkan segelas air kepadaku.

"Ini gara-gara kamu Lee! Sedang apa tadi kamu bersama Hinata?" tanya Temari sambil menjewer telinga Lee.

"E-eh. Ti-tidak, aku hanya sekedar bertanya-tanya tentang kamu, eh, sakit!" jawab Lee sambil memegangi tangan Temari yang menjewer telinganya.

"Huh, gara-gara kamu, Gaara jadi begini kan. Dasar bodoh kamu!" kata Temari sambil melepaskan jewerannya.

"Kalian, jangan bertengkar disaat seperti ini. Kasihan Gaara, kan? Dia sakit, tuh, badannya saja panas. Matanya semakin kecil, tapi memang matanya seperti ini ya, hohoho." kata Sakura. Aneh.

Aku tersenyum melihat kelakuan taman-temanku yang aneh seperti ini.

Sementara itu, Hinata masih memandangku dengan bercucuran air mata.

"Ma-mafkan aku, Gaara. Ka-kamu sampai seperti ini gara-gara aku. Ma-maafkan aku." Hinata, sambil memelukku yang masih tak berdaya di atas tempat tidur.

"Se-sesak." kataku.

"Oh, ma-maaf Gaara. Maafkan aku." katanya lagi.

"Aku tak apa. Maaf, aku membuat kalian khawatir." kataku sambil mencoba untuk bangun lagi. Kali ini, aku dibantu Hinata.

"Kau pingsan seperti tadi bagaimana kami tak khawatir?." Sasuke.

Pingsan? Oh, ternyata, mendadak gelap tadi, aku pingsan. Tapi, kenapa bisa?

"Kamu sakit berat sepertinya. Badanmu sangat panas, kamu tahu Gaara, sepertinya, beberapa hari kedepan, menjadi tugasmu, Hinata, untuk merawat Gaara. Dia tak akan bisa sembuh tanpa perawatan dari orang yang dia sayang, bukankah begitu Gaara?" Temari yang kemudian merangkul Hinata, memandang ke arahku.

"Ya, sepertinya." kataku lemas.

"Ya, a-aku akan menjagamu Gaara." kata Hinata.

"Baiklah, semua, ayo keluar. Sang jagoan ini harus istirahat, eh. Ayo, keluar." Lee mengajak semua untuk meninggalkan kamarku. "Dan sekali lagi, aku minta maaf, teman?"

"Semoga cepat sembuh Gaara." Sakura melangkah keluar sambil melambaikan tangannya padaku. Dan aku, hanya bisa tersenyum melihatnya.

Sasuke dan Lee kemudian melagkah pergi mengikuti Sakura.

"Semoga cepat sembuh, dan jaga dia sebaik mungkin Hinata." Temaripun melangkah pergi juga.

Dan, di kamarku tinggal aku, dan Hinata. Dalam kesunyian.

"Kamu… sejenak melupakan aku tadi." kataku kemudian.

"A-apa maksudmu?" tanya Hinata, memandang aneh padaku.

"Kamu bisa tertawa lepas, disaat aku tak ada. Apa kamu tak sadar, saat semua sarapan, mungkin hanya aku yang tak ada disana. Apa lebihnya Lee dibanding aku? Oh, tentu banyak. Karena kamu bisa melupakanku, segalanya." kataku.

"Bu-bukan! I-itu tidak benar Gaara!" katanya.

"Lalu kenapa kamu tidak menengokku? Aku diam, lama di atas menunggumu!"

"Lee… Lee! Lee bertanya-tanya tentang Temari, aku tak bisa mening…"

"Jadi dia lebih penting dari aku? Jadi begitu, aku salah menilaimu selama ini ternyata." kataku memotong perkataanya.

"Gaara! Kenapa kamu memojokanku terus! A-aku tahu aku salah, ka-kamu jangan begini! Ma-maafkan aku Gaara!" katanya sambil menangis.

Aku tak tahan dengan ini. Aku marah, kesal… aku cemburu. Aku akui itu. Aku ingin marah padanya, tapi tak bisa lebih dari ini. Aku tak tega melihatnya menangis.

Aku memeluknya, "Sudah, aku tak apa. Jangan kamu menangis." kataku pelan.

"Ta-tapi, kamu masih marah pa-padaku kan?" tanyanya sambil menangis, masih dalam pelukanku.

"Jika kamu berhenti menangis, aku akan memaafkanmu. Jadi, berhentilah. Kamu tahu, aku tak tega melihatmu menangis seperti ini. Jadi, tolong berhentilah." pintaku padanya.

Aku melepaskan pelukan, membiarkan Hinata menyeka air matanya dengan saputangan.

"Ma-maafkan aku." katanya setelah selesai menyeka air mata.

"Ya, tenang saja. Asal, kamu tak melupakanku seperti tadi." kataku sambil tersenyum tipis padanya.

"A-aku berjanji padamu. A-aku… aku sayang kamu." katanya sambil memberikan sebuah pelukan besar kepadaku. Hampir saja aku terjatuh karenanya.

"Aku juga sayang kamu. Lebih dari apapun, kamu tahu?" kataku.

Hinata melepaskan pelukannya, menatapku dengan mata yang berair lagi, "Te-terima kasih Gaara." katanya sambil… menciumku.

Sejenak…

Aku tak mau melepasnya, aku sangat sayang padanya. Aku tak mau dia pergi, apapun yang terjadi, aku ingin dia terus berada disampingku, bukan disamping orang lain, sekalipun orang itu temanku, seperti Lee tadi.

"Baiklah, aku harus istirahat. Kepalaku sakit." kataku setelah melepaskan ciuman darinya.

"A-aku akan disini bersamamu. A-aku tak bisa meninggalkan kamu sendiri!" katanya memohon.

"Hm, baiklah. Tapi sebaiknya, kamu selesaikan dulu pekerjaanmu. Aku yakin, Temari dan Sakura sedang membutuhkanmu di dapur sekarang. Setelah selesai, mungkin kamu akan menemukanku tengah tertidur, jadi, jika kamu ingin beristirahat nanti, sebaiknya jangan kamu paksakan untuk temani aku. Jangan sampai, kita berdua sakit. Aku tak mau hal itu terjadi." kataku sambil merebahkan diri.

"Ba-baiklah. A-aku tinggal sebentar. Na-nanti aku pasti kembali untukmu, Gaara." katanya sambil mencium keningku, kemudian berjalan menuju pintu.

"Ce-cepat sembuh sayang." katanya sebelum menutup pintu.

Aku kini sendiri, di kamar. Kepalaku sakit lagi, mungkin aku memang harus tidur untuk saat ini, tanpa memikirkan apapun.

Aku berharap, ketika aku terbangun, Hinata ada disampingku.

Aku sayang dia.

Sangat sayang.


Argh,

Makasih makasih untuk semua.


Fic ke… ke berapa akupun lupa,

Hehehehe.


Mohon kritik and saran, serta reviewnya jangan lupa ya.

Salam, yookun ^_^