-keluh kesah author-

"gyaaaa…" –nutupin muka pake sarung- "saya maluuuu!!! Saya maluu baca chapter sebelumnya!!! Saya baru sadar, kalo saya bisa bikin fanfic yang bergenre romantis yang AMAT-SANGAT-NORAXX!!! Huahuhuhu... pengen saya apus chapter sebelumnya... Huanggg... DX" –nangis lebay dipojokkan-

DISCLAIMER : aslinya punya Tsugumi Ohba & Takeshi Obata. Palsunya, dan yang udah ngerubah alur death note jadi sangat-amat norax ini adalah SAYA!!

XXX LOLICON LIGHT chap. 3 XXX

Chapter sebelumnya:

Setelah kejadian di Mall, akhirnya Light dan Near pulang tanpa L, Matt, dan Mello. Karena kasihan sama Near yang tinggal dirumah sendirian, Light memutuskan untuk mengajak Near tinggal dirumahnya untuk sementara hingga L menjemputnya. Dan karena suatu hal, hanya Light dan Near yang ada dirumah itu...

"Aku pulang..." ucap Light sembari melepas sepatunya dan menaruhnya di dalam lemari sepatu.

"Ojamashimasu…" Near menutup pintu dan melepas sepatunya.

"Nera, duduk aja dimana Nera mau... anggep aja rumah sendiri..." kata Light mempersilahkan.

"Hai...arigatou..." Near langsung duduk di sofa ruang tamu Light.

"Oh iya! Nera mau makan atau minum apa?" tanya Light dari dapur sambil mengudek-ngudek isi kulkas.

"Terserah nii-san..." jawab Near yang sedari tadi memperhatikan bingkai foto berwarna hijau yang terpampang di meja kecil yang terletak dipojokkan ruang tamu. Near mengambil frame foto itu. Memperhatikan dengan seksama, dimana ada seorang anak kecil yang sedang duduk di sebuah batu besar di tengah sungai tanpa ekspresi apa-apa. 'Light-niisan kecil ya?' pikir Near.

"Nera?" panggil Light tiba-tiba

"...!!!" Near kaget. Ia langsung menaruh frame yang tadi dipegangnya, dan berbalik arah ke arah Light yang mengagetkannya dari belakang.

"Lho? Kaget ya? Haha... maaf ya! Nih minumannya." Kata Light yang sudah menaruh nampan berisikan 2 piring cake coklat dan 2 gelas jus jeruk di meja.

"Arigatou... Anoo... Nii-san, anak kecil di foto itu... Apa itu nii-san?" tanya Near sambil menujukkan jarinya ke arah foto yang dipegangnya tadi.

"Aaa...Begitulah...Itu foto ketika aku berumur 6 tahun." jawab Light malu. "Oh,iya! Nera mau mandi nggak? Sekarang kan udah agak malem. Kusiapkan air panasnya dulu ya..."

"Aa...tidak perlu, nii-san..." tegas Near.

"He? Kau tidak gerah? Kalau aku sih sudah nggak tahan. Gerah banget!" kata Light yang udah setengah jalan menuju kamar mandi.

"iya...nggak apa-apa... lagipula, mungkin sebentar lagi L-niisan akan datang menjemputku..." kata Near.

"Ya sudah kalau begitu… aku mau mandi dulu. Nera nonton tv aja." Light langsung masuk kamar mandi.

Brukk! Near menghempaskan duduknya di sofa. Ia lalu melepaskan wignya dengan cepat. "Ha~ leganya~ untung aja Light nii-san nggak ada disini… bener-bener deh! Wig ini benar-benar membuatku ga-" belum selesai near meneruskan kata-katanya, tiba-tiba terdengar langkah kaki Light. Buru-buru Near memasang wignya kembali.

"Ah...Ner! aku lupa! Nera suka baca komik atau main boneka? Kalau suka, langsung ke kamar Sayu saja... Adikku punya banyak sekali boneka dan komik. Kamarnya ada di lantai 2. Di sebelah kiri tangga." jelas Light yang hanya bertelanjang dada.

"I..iya Light-niisan...terimakasih..." Near senyum kikuk sambil tetep megangin wig yang ada di kepalanya.

Akhirnya, Light kembali ke kamar mandi. Melihat Light sudah pergi, Near buru-buru ke lantai atas. Seraya menaiki anak tangga, ia mengeluarkan Hp-nya dari tas kecil yang dibawanya. Kemudian mencari nama L di phone book-nya. Karena Near terlalu konsen pada Hp-nya, ia bukannya belok ke arah kiri malah belok ke arah kanan. Blamm!! Near langsung menutup pintu kamar yang ia masuki dan segera menelepon L.

"Halo?? L-niisan?" sapa Near yang masih diam di depan pintu kamar yang ia masuki.

"Hn? Ada apa Near?" tanya L dari seberang telepon.

"Niisan dimana? Buruan dateng dong!" pinta Near panik.

"Hei-hei... bersabarlah Near... ini juga lagi otw ke rumah Light. Memangnya ada apa sih? Kok kayaknya panik banget?"

"Gimana nggak panik?! Sekarang tuh aku dirumah ini cuman berduaan doang!"

"Wah... bagus dong... berarti ini kesempatan kamu untuk lebih dekat dengan Light. Dengan begitu, kemungkinan rencana kita bisa berjalan dengan mulus, iya kan?" tukas L yang kemudian disambut dengan koor panjang "iyaaaaa..." dari Matt dan Mello.

"-sigh- niisan tau, apa yang barusan terjadi?"

"Ya kagak lah...!!!" teriak Matt dan Mello tiba2 menggantikan L.

"Lho? Kok jadi kalian yang jawab sih? Mana L-niisan?" tanya Near heran.

"Aku masih disini... Hp-nya aku speaker-in..." jelas L.

"Nggak adil dong, masa' kamu Cuma ngobrol sama Niisan... Aku kan juga pengen denger suara kamu...(spiik)" kata Matt.

"Aku juga! kangen sama kamu...(spiik)" sambung Mello. terdengar gelak tawa duo M itu dari Hp-nya Near.

"Khh!! Urusaii!!" bentak Near yang udah kesel mendengar lelucon noraknya Matt dan Mello.

"Memangnya apa yang barusan terjadi, Near?" sambung L.

"..." Near hanya terdiam.

"Near?? Woy Near!! Kok diem sih?!" Tanya Mello penasaran.

"Akh! Nggak jadi! Sudah ya! Pokoknya niisan harus cepet-cepet dateng! Kalau nggak, aku nggak mau nerusin rencana ini!" Near langsung menutup telepon-nya.

Near menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali. Lalu ia berbalik memunggungi pintu masuk. Near tercengang akan apa yang dilihatnya. Barulah ia sadar kalau..."Ini... bukan kamar Sayu..."

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

(di kamar mandi)

Pada saat yang bersamaan, Light masih merendamkan dirinya di bak mandi. Ia mencoba untuk membuat dirinya senyaman mungkin di dalam bak mandi yang berisikan air hangat tersebut. Tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman. Karena Light terus memikirkan kejadian tadi siang. Dimana ia tidak bisa menahan keinginannya untuk memeluk Nera, dimana ia tanpa sadar telah membentak Nera, dan dimana hal yang membuatnya sangat terkejut, yaitu Nera yang memeluk dirinya.

"Apa yang kulakukan sih? Kenapa tiba-tiba aku berbuat seperti itu? Dan kenapa tiba-tiba...-blushing-" Light langsung membenamkan kepalanya ke dalam air hangat. Ia mengingat kejadian saat Near memeluknya. Sekarang muka Light seperti kepiting rebus. Merah karena terlalu lama membenamkan wajahnya di air hangat dan malu akan ingatannya. Light pun keluar dari dalam bak mandi dan mulai menggosok badannya dengan sabun.

"Apa… Nera melakukan itu hanya sebagai formalitas belaka? Apa ia merasa kasihan?" Light terus menggosok badannya sambil menerka-nerka jawaban dari pikirannya.

"Apa mungkin ia sedikit menyukai ku ya? Hahaha-ha..." Light lalu berhenti menggosok kan badannya. "Konyol!! Mana mungkin ia bisa secepat itu menyukaiku? Seperti aku menyukainya hanya dalam hitungan jam..." Light mendongakkan kepalanya. Berpikir keras akan kata-katanya. 'Hitungan jam ya...'

Light menahan nafasnya, kemudian menghembuskannya. Setelah itu, ia langsung membasuh badannya dengan air dingin. Lalu pergi ke arah wastafel. Membilas beberapa kali wajahnya. Light melihat pantulan wajahnya di cemin. "suka... apa aku boleh menyukai gadis yang jauh lebih muda dariku?" tanya Light pada pantulan dirinya.

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

(di kamar Light)

"Ini... bukan kamar Sayu... ini kamar Light-niisan!!!" kata Near tak percaya. Near berjalan mengitari ruangan yang ditempati oleh Light ini. Near memperhatikan barang-barang yang ada di ruangan itu. 'Ini benar-benar kamar Light-niisan...' pikir Near. Near tak melihat ada satu barang pun yang berbau pernak-pernik perempuan. Ia pun berhenti di depan meja belajar Light. Duduk di kursi yang biasa digunakan Light untuk belajar. Near lalu mengeluarkan gashaponnya.

"Light-niisan..." bisik Near sambil memutar-mutar gashapon yang baru didapatnya. 'L-niisan... apa aku boleh terus begini? Bagaimana kalau pada akhirnya Light-niisan benar-benar menyukaiku? Bagaimana kalau ia tahu yang sebenarnya?' pikir Near. Near meletakkan gashaponnya di meja. Near pun mencoba mengistirahatkan pikirannya. Ia menempelkan kepalanya ke meja belajar.

"L-niisan... aku tidak mau mempermainkan perasaan orang... Ha~ kepalaku pusing memikirkannya... Light-niisan... maafkan aku..." Near pun terlelap di meja belajar Light.

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOo

Light yang sudah selesai mandi, langsung menuju dapur. Mencari susu di kulkas untuk diminumnya. Ia pun mengambil sekotak susu dan berjalan ke ruang tamu. Disana ia mancari Nera. Tetapi Nera tak ada disana. "Mungkin dia ke kamar Sayu." kata Light sambil berjalan dan meneguk susunya ke arah kamar Sayu.

Light mengetuk pintu kamar Sayu. Tapi tak ada jawaban. Ia pun mengetuk sekali lagi. Tapi tetap tak ada jawaban dari dalam. Light penasaran. Ia langsung membuka pintu kamar Sayu. Tapi ia tak melihat Nera di dalam. "Duh, tuh anak kemana lagi sih? Apa dia diluar ya? Ah! Mending pake baju dulu deh!" kata Light yang masih bertelanjang dada, memakai celana panjang plus handuk melingkar di lehernya. Light pun langsung menuju kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia kaget melihat ada yang tidur di meja belajarnya. Light mendekati sosok itu.

"Nera?! Kok bisa ada disini?" tanya Light heran sambil menaruh kotak susunya di meja belajar.

"Nera..." panggil Light ke Near yang masih tidur.

"..."

"Ner??" Light menepuk pundak Near. Tapi Near tak merespon apa-apa. Light melihat ke arah samping. Barulah ia tahu kalau Nera tertidur di meja belajarnya.

"Ha~ ternyata tidur ya... kok bisa tidur disini ya? Kasian banget sih tidur disini... aku pindahin aja deh." Light pun langsung memindahkan Near ke tempat tidur. Ia merapikan letak bantal dan menyelimuti Near dengan selimut miliknya.

Setelah menyelimutinya, Light duduk ditepi tempat tidurnya. Duduk tepat di samping Near yang terlelap. Light terus memperhatikan wajah Near yang sedang tidur. Begitu tenang... tanpa sadar, Light mengusap poni Near. Lalu perlahan-lahan, Light mendekatkan wajahnya ke arah kening Near dan mencium keningnya dengan lembut sambil mengucapkan "Oyasuminasai Nera..."

-bersambung-

"Yeaah...!! chapter 3 finish!! Yaaaiii...!! akhirnya! Kejadian juga Light nyium Near! Yah...meskipun bukan di bibir...(author ngarep!). bagian ngerakit gashaponnya, saya masukin di chapter selanjutnya aja ya...maaf ya..."

"Ayo!! Direview!! Ayo budayakan meriview fanfict!! Yeayh!!"