Pertemuan
© Faerea
DISCLAIMER:
Hunter x Hunter © Yoshihiro Togashi
Part 1: Perpustakaan, lagi...
~*~
Ternyata...
Bukanlah buku yang dipegang oleh Kuroro. Melainkan sesuatu yang...
"Maaf, tetapi... Kau menggenggam tanganku..."
Kuroro masih belum sadar dengan apa yang baru saja ia pegang walaupun orang itu sudah mengatakannya.
"..."
"Maaf? Kenapa kamu hanya diam?"
"..."
Kuroro tidak tahu harus berkata apa-apa. Dia hanya tak ingin melepas genggamannya... Kalau saja dia bisa... Jantung Kuroro berdebar keras ketika melihat wajah orang yang ia genggam tangannya itu...
"Para pengunjung perpustakaan sekalian! Kami, selaku pengurus perpustakaan, memberitahukan bahwa membawa makanan dan minuman dari luar sangat dilarang! Sudah ada beberapa orang hari ini yang mengotori perpustakaan ini. Maka kami harap... Jangan membawa makanan atau minuman dari luar! Yang membawa, akan kami denda! Dan jangan berpacaran di perpustakaan ini!!! Terima kasih."
Pengumuman tadi menyadarkan Kuroro dari lamunannya. Dengan cepat Kuroro melepas genggamannya. Sebenarnya, beginilah kejadian sebelumnya...
FLASHBACK
~*~
Kuroro melihat buku karangan salah satu penulis yang sangat ia kagumi. Mendadak saja ia ingin membaca buku tersebut. Seketika itu juga Kuroro langsung menyambar buku tadi.
Bukanlah buku yang sesungguhnya ia sambar. Sebelum Kuroro menyambar buku yang ingin ia baca tersebut, sudah ada yang hendak mengambil buku itu lebih dulu. Alhasil, bukan buku yang Kuroro pegang, melainkan tangan orang lain yang ia sambar. Ya. Tangan orang yang sudah lebih dulu hendak mengambil buku dari rak buku tersebut.
Kuroro sama sekali tidak sadar bahwa banyak orang yang memperhatikan Kuroro ketika menggenggam tangan orang itu... Banyak orang... Termasuk si mbak-mbak penjaga perpustakaan yang luar biasa menyebalkan itu! Semua orang hanya bisa melongo... Termasuk Kuroro. Ia masih setengah sadar dan setengah tidak sadar saat itu...
~*~
AKHIR DARI FLASHBACK
Wajah Kuroro dan orang yang tangannya baru saja ia genggam hanya merona merah. Mereka tak berani untuk saling menatap selama beberapa saat. Keheningan yang sangat lama ini membuat mereka kaku...
"Siapa namamu?" tanya Kuroro mendadak kepada orang itu hanya untuk memecah keheningan.
"Tidak usah tanya nama. Tanyakan saja yang lain..." jawab si blonde yang masih belum berani menatap wajah Kuroro.
"Oh..."
Kuroro segera mengambil buku yang tadi hendak ia sambar dan memberikannya kepada si blonde.
"Kau ingin membaca buku ini?" tanya Kuroro.
"Ummm... Tidak usah. Kau saja... Biar aku cari buku yang lain..."
"Buku yang lain?"
"Iya... Aku pergi dulu, ya..."
Si blonde itu baru saja mau pergi. Kuroro segera menyambar lengan blonde tersebut dan berkata...
"Ayo kita baca buku ini bersama! Lagipula..."
"Bukankah sudah dikatakan tadi? Jangan berpacaran di perpustakaan ini!!!"
Entah datang dari mana... Si penjaga perpustakaan menyebalkan itu langsung datang menghampiri Kuroro & si blonde tadi.
"Pacaran? Siapa yang pacaran?"
"Kalian kan yang pacaran? Mengaku saja!" ujar si penjaga perpustakaan sok tahu.
"Ka... Kami?" tanya blonde tadi dengan gugup.
"Iya, kalian! Aku bisa membuktikannya! Pertama, kalian sempat pegang-pegangan tangan... Kedua, si pemuda rambut hitam itu menyambar tanganmu dan mengajak untuk membaca buku bersama... Ketiga, kau si blonde, merona merah setiap kali ada di dekat pemuda rambut hitam itu!" jelas si penjaga perpustakaan itu panjang lebar.
"A... apa iya?" tanya si blonde lagi.
"Tentu saja!"
Kuroro hanya bisa melongo dengan penjelasan mbak-mbak penjaga perpustakaan tersebut. Karena ia bisa dengan cepat mengambil keputusan begitu saja. Padahal, Kuroro baru saja bertemu dengan blonde yang manis itu...
"Aku tahu! Aku tahu kenapa kau dari tadi bengong dan muter-muter tidak jelas dengan waktu yang lama! Kau pasti dari tadi menunggu blonde ini untuk datang ke sini! Begitu si blonde ini sudah datang, kau langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya! Sudah pasti kalian itu lagi dalam masa pacaran!!!"
Bukan hanya Kuroro yang melongo kali ini. Blonde yang manis itu juga melongo. Mereka sama-sama kaget dengan penjelasan penjaga perpustakaan itu.
"Bagaimana kau bisa mengambil keputusan itu dengan cepat? Asal tahu saja, kau tidak bisa langsung memutuskan dengan seenaknya!" bentak Kuroro kepada penjaga perpustakaan aneh itu.
"Eh? Kalian bilang saja hanya tidak mau ketahuan kalau kalian ini pacaran! Bilang saja!"
"Apa maksudmu?! Kau hanya ingin memojokkan kami saja ya?!" sahut Kuroro yang sudah emosi.
"Memojokkan? Siapa yang mau memojokkan kalian? Saya hanya bicara yang sebenarnya!" sahut mbak-mbak penjaga perpustakaan yang tidak kalah emosi.
"Berhenti... Berhentilah bertengkar..." ujar si blonde itu pelan, berusaha menenangkan Kuroro dan si penjaga perpustakaan.
Kuroro tidak menghiraukan blonde yang manis itu, ia hanya marah-marah kepada si penjaga perpustakaan tanpa kendali...
"Dan satu lagi ya... Kalau kami pacaran, aku tidak akan tanya namanya! Nama orang ini saja aku tidak tahu! Bagaimana ceritanya kami bisa langsung pacaran?!"
Karena perkataan Kuroro barusan, penjaga perpustakaan itu akhirnya bungkam.
Kuroro sudah muak dengan tampang penjaga perpustakaan tadi, ia pergi meninggalkan perpustakaan itu dan meninggalkan si penjaga perpustakaan menyebalkan tersebut... Ia juga sudah meninggalkan si blonde manis tadi...
Kuroro ingin sekali bertemu lagi dengan blonde yang sangat manis tadi... Sangatlah manis...
"Andai aku bisa bertemu dengannya lagi... Kalau saja... Tapi percuma saja! Penjaga perpustakaan menyebalkan tadi menghancurkan segalanya!" batin Kuroro dalam hati.
Kuroro terus menjelek-jelekkan mbak-mbak penjaga perpustakaan itu. Dia gambar wajah penjaga perpustakaan tadi dengan versi yang sangat jelek dan Kuroro tusuk gambar itu dengan pisau berkali-kali. Kuroro sudah sangat kesal... Kesal sekali... Kalau bukan karena penjaga perpustakaan tadi... Ia pasti sudah bisa mengenal si blonde yang membuat jantungnya berdebar dengan kencang itu...
"Kalau aku bertemu dengan blonde imut tadi, aku akan langsung tanya namanya! Terserah dia mau jawab atau tidak, aku akan mencari tahu!"
Itulah janji Kuroro kepada dirinya...
Ia akan mencari tahu tentang blonde yang membuatnya terpesona tadi...
Walaupun jika nanti hanya tahu namanya...
Itu sudah cukup bagi Kuroro...
~*~
Kuroro hanya berharap...
Ia bisa bicara lagi dengan blonde manis impiannya...
Ia bisa melihat wajah manis blonde tersebut...
Ia bisa merasakan halusnya kulit tangan milik blonde tadi...
~*~
Ia membutuhkan blonde itu sekarang...
Kuroro sendiri tak tahu kenapa...
Tapi ia merasa...
Bahwa ia membutuhkannya...
~*~
Kalau saja memori bisa diputar kembali...
Kuroro ingin bertemu lagi dengan sang blonde pujaannya...
Kalau saja masih ada kesempatan...
Kalau saja...
TBC...
~*~
Author:
Semoga bagi kalian, chapter 2 ini tidak terlalu pendek. Saya sudah berusaha untuk membuat cerita yang tidak terlalu pendek. Saya tambahkan pula sebuah poem mengenai perasaan Kuroro saat ini. Untuk memperjelas cerita saja. Semoga kalian suka...
