Pertemuan

© Faerea


DISCLAIMER:

Hunter x Hunter © Yoshihiro Togashi


Note:

Tadinya, saya ingin memusatkan karakter hanya pada Kuroro. Tetapi, saya berubah pikiran. Sekarang memusatkan karakter selain Kuroro. Er... Sekarang saya akan memusatkan "si blonde".

~*~

Fic ini saya dedikasikan kepada orang yang selalu menjadi reviewer pertama pada fic saya ini yaitu... (Kenapa orang yang selalu menjadi reviewer pertama dari seluruh fic-fic saya selalu dia?! Tapi, terima kasih karena selalu menjadi reviewer pertawa fic-fic saya!) ... Dani!


Part 2

~*~

[POV dari "si blonde"]

~*~

Aku melihat pemuda berambut hitam itu melangkah keluar...

Ia terlihat sangat marah tentunya.

"Woy mbak! Mbak pacarnya orang tadi kan? Pemuda yang rambut hitam itu?"

Aku tersentak kaget ketika ada yang membentakku. Ternyata itu si penjaga perpustakaan yang membuat pemuda tampan itu marah. Tapi, ia juga sudah membuatku marah sekarang. Kenapa aku dipanggil "mbak"?!

"Maaf ya mbak, saya ini bukan 'mbak-mbak', saya ini cowok!" jawabku kepada mbak-mbak penjaga perpustakaan tadi.

Mendengar perkataanku, sudah dapat diduga, kali ini giliran dia yang bengong. Aku pun meninggalkan mbak-mbak penjaga perpustakaan tadi. Sekarang, sepertinya, aku sama marahnya dengan pemuda berambut hitam barusan...

"Eh! Anda ini cowok ya? Saya kira cewek! Maaf, mas!!!" teriak penjaga perpustakaan tadi dari dalam perpustakaan.

Cewek? Aku dikira cewek? Rasanya aku ingin tertawa mendengarnya. Tadi sempat kulihat, mbak-mbak penjaga perpustakaan itu bengong seperti sedang tersambar petir. Kenapa aku dikira cewek?

Daripada terus memikirkan hal-hal aneh dan tidak jelas ini, aku memutuskan untuk pergi menemui teman-temanku...

[Akhir dari POV]

~*~

Akhirnya blonde tadi pergi ke tempat teman-temannya. Ketika sampai, ia langsung disambut oleh seorang anak berambut hitam, jabrik, dan memakai pakaian yang serba hijau. Gon.

"Kurapika! Eh? Cepat sekali perginya? Tidak jadi ke perpustakaan?" tanya Gon.

"Jadi, tapi hanya sebentar..." jawab orang yang bernama Kurapika tersebut.

"Kenapa sih? Tumben. Biasanya kalau ke perpustakaan bisa berjam-jam. Kok sekarang hanya kira-kira 15 menit?" kata lelaki yang lebih tinggi, Leorio.

"Hanya ada gangguan teknis..."

"Gangguan teknis? Mati lampu ya di sana?" tanya Gon lagi.

"Payah... Di sini saja tidak mati lampu. Pengurus perpustakaannya belum bayar tagihan listrik kali?" ujar seorang anak laki-laki lagi, kali ini berambut abu-abu/silver. Killua.

"Atau ada yang memutus kabelnya?" ujar Gon.

"Atau ada yang iseng matiin lampunya?" kata Killua.

"Atau ada orang tidak waras yang menghancurkan lampunya?"

"Atau ada orang stress yang membuang lampunya?"

"Atau ada orang yang lagi puyeng, yang menyembunyikan lampunya?

"Atau ada makhluk aneh yang mencuri kabel lengkap dengan lampunya?"

"Atau mungkin ada orang yang memakan saklar, kabel, lengkap dengan lampunya?"

"Atau ada orang bodoh yang membuang saklar, kabel, lengkap dengan lampunya ke tempat pembuangan akhir, alias TPA?"

"Atau ada orang yang membakar lampunya?"

"Atau... Atau apalagi nih?" tanya Killua.

"Atau ada..."

"WOY! Ini kenapa malah jadi membicarakan tentang lampu?!" teriak Leorio tiba-tiba karena sudah bosan melihat Gon dan Killua yang sibuk sendiri membicarakan tentang lampu.

Gon dan Killua langsung cengar-cengir tidak jelas. Kurapika yang dari tadi diam akhirnya buka mulut.

"Bukan, bukan mati lampu... Hanya ada gangguan teknis saja..." ujar Kurapika sambil menuju ke kamarnya.

"Bukan mati lampu? Jadi, gangguan teknis seperti apa?" tanya Gon penasaran.

"Bukan apa-apa..." ujar Kurapika lagi sambil menutup pintu kamarnya.

"Dia kenapa sih?" tanya Killua sambil menunjuk pintu kamar Kurapika.

"Mungkin bukan perpustakaannya yang ada gangguan teknis." kata Leorio.

"Terus, yang kena gangguan teknis itu apa?" tanya Gon dan Killua bersamaan.

"Yang kena gangguan teknis, ya..."

"Ya...?"

"Itu..."

"APA?!" Gon dan Killua langsung menimpuk kepala Leorio pakai bantal karena sudah tidak sabar.

"Iya-iya! Yang kena gangguan teknis itu, mungkin... Kurapika."

"Kurapika kena gangguan teknis? Maksudnya?" tanya Gon yang semakin lama, malah semakin bingung.

"Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku ngomong begitu."

BRUK!

"Dasar bapak-bapak aneh..." bisik Killua yang sudah stress.

"APA?! Bapak-bapak aneh?! Sini kau! Coba kalau berani, bilang itu sekali lagi!"

"WOOOO...!!! Bapak-bapak gaje!"

"Asal tahu saja ya! Umurku masih 19 tahun!"

"Oh ya? 19 tahun ditambah 6 tahun kan?!"

"APA?! Sudah dibilangin kok malah tidak percaya?! Awas kau ya, Lukia!" Leorio emosi tinggi.

"Namaku itu Killua, Riorio!" Killua juga makin emosi.

"Jangan seenaknya mengubah nama orang ya!"

"Sendirinya mulai duluan!!!"

Killua dan Leorio berantem dalam waktu yang... Er... Lama sekali. Akhirnya Gon mengambil popcorn dengan segelas jus jambu dari kulkas dan duduk di sofa untuk menonton aksi seru adu mulut antara Killua dan Leorio bagaikan pertarungan gulat di televisi.


Di dalam kamarnya, Kurapika hanya mengingat-ingat kejadian di perpustakaan tadi. Ia tidak terlalu memperhatikan suara gaduh dari luar, suara adu mulut Killua dan Leorio. Kurapika juga sedang memikirkan wajah pemuda berambut hitam yang memarahi mbak-mbak penjaga perpustakaan tadi.

'KYAAAH! Kenapa aku malah memikirkan cowok tadi?!' seru Kurapika dalam hati.

Ia sendiri bingung. Sejak melihat lelaki berambut hitam itu, Kurapika terus memikirkannya.

'Kenapa aku jadi aneh begini? Sudahlah! Aku mau tidur saja.'

Kurapika berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Ia tak bisa berhenti memikirkan pemuda yang sama sekali tak diketahui namanya itu. Aneh, memang. Kurapika ingin bertemu dengan pemuda itu lagi. Tapi, apakah mungkin?


[Kurapika's POV]

~*~

Kenapa ini?

Kenapa terus begini?

Aku tidak bisa berhenti...

Memikirkannya...

~*~

Ada apa ini?

Kenapa rasanya aneh seperti ini?

Dia terus muncul...

Di dalam pikiranku...

~*~

Kapan dia akan hilang?

Kenapa aku harus bertemu dengannya tadi?

Gara-gara pemuda tadi...

Pikiranku tak bisa lepas dari dirinya...

~*~

[Akhir dari POV...]


TBC...

~*~