Note : mungkin kalian lebih familiar mendengar Mileina menggunakan kata desu , tapi sayangnya saya tidak akan memakainya dalam fanfic ini . Saya mengganti kata desu yang dikenal sebagai gaya berbicara Mileina menjadikan Mileina selalu menganti aku menjadi Mileina .
KUNCI
Penghubung antara ruang dalam dan dunia luar . Tiap orang punya minimal 1 pintu .
Di balik tiap pintu terdapat kisah-kisah tersendiri , ada yang bisa dikeluarkan , ada yang ditutup rapat-rapat di dalam .
Di balik tiap pintu terdapat sejarah-sejarah masing-masing orang.
Tidak semua pintu diciptakan untuk dibuka . Ada pintu yang diciptakan untuk dikunci selamanya . Pintu yang menyimpan duka masa lampau . Tetapi , tiap pintu memiliki kunci . Tetapi , tidak semua kunci ada pada pintu , ada kunci yang terjatuh dan harus dicari dan kemarin gadis itu baru saja menemukan kunci pintu terlarang itu secara tidak sengaja .
Mileina .
Malam ini aku membantu Ian dalam mengerjakan beberapa setting-an untuk Ptolomaios , mencatat kondisi haro-haro yang melakukan pembetulan . Tapi , aku tidak bisa seceria dulu . Semua hal tampak suram , bagaimanapun juga baru kali ini aku merasakan yang namanya perasaan tertolak dan terbuang . Aku tau Ian menyayangiku , ia akan melindungiku dari segala hal yang jahat . Tapi hal itu tidak akan bertahan lama jika Linda sudah mengandung lagi .
"Kamu hari ini tampak suram , ada apa?" Saji bertanya padaku , sementara ia melakukan pembenaran pada kabel-kabel yang ada . Suatu pertanyaan yang tidak kuharapkan datang dari dia , orang yang benar-benar berasal dari luar .
"Mileina baik-baik saja , kok!" Aku berpura-pura , mungkin senyum dan keceriaanku terlihat palsu . Tapi , ini jauh lebih baik daripada aku terlihat bersedih .
"Mileina , tolong betulkan skrupnya , yang itu sedikit longgar!" Sementara Ian meneriakiku untuk membetulkannya . Untuk kali ini aku melihat Ian bukan sebagai pribadi ayah yang sebenarnya , hanya orang lain yang mengasuhku .
"Yap! Mileina ready!" Kembali , untuk kedua kalinya aku memalsukan keceriaanku . Hal yang jarang terjadi , tapi hal itu terjadi dan akan terjadi untuk banyak kali sekarang .
Aku yang biasanya mengerjakan pekerjaan itu dengan bahagia tidak begitu senang dalam mengerjakan pekerjaan itu sekarang . Baru kali ini juga aku merasakan adanya ganjalan yang begitu besar dalam hatiku . Kosong , sepi dan tertolak .
Aku kembali ke kamarku . Ruangan pribadiku , aku ingin tidur , entah kenapa mata ini terasa begitu berat . Aku mencuci wajahku , dan menatap kaca . Mulai berimajinasi tentang orang tua kandungku .
Apa ayahku punya dagu sepertiku , apa warna mata ibuku juga berwarna ungu?
Pikiran itu terus memenuhi otakku . Imajinasiku meliar sampai kemana-mana . Membayangkan wajah orang tua kandungku dan terkadang begitu menyakitkan ketika harus menebak alasan kenapa mereka membuangku , ataupun kenapa mereka tidak menginginkanku .
Aku mengganti seragam Celestial Being ini dengan piyamaku . Berwarna biru ekletik dengan motif bintang-bintang , melepas ikatan rambutku dan tidur dengan nyaman . Malam itu aku tidak bisa tidur , pikiranku penuh dengan imajinasi-imajinasi tentang orang tua biologisku . Aku bisa senyum-senyum sendiri kalau membayangkan banyak hal, tapi tetap saja tidak bisa tidur .
Karena tidak bisa tidur , aku keluar kamar , ke dapur di Ptolemy . Mencari susu atau apapun yang bisa membuatku tertidur pulas . Tapi , di dapur atau kantin tepatnya aku bertemu dengan papa . Papa Ian . Ia juga sulit tidur , ia juga meminum susu sepertiku .
"Mileina , kamu tidak bisa tidur ya?" Papa menanyakannya dengan lembut padaku , matanya menunjukan kedamaian.
"Iya" Aku hanya mengganguk . Aku tidak kembali ke kamarku , aku duduk di kafetaria , menemani papa .
Tiba-tiba saja aku teringat akan kenyataan bahwa aku bukanlah anak Ian . Aku mau menanyakannya , tapi aku takut untuk mengetahuinya . Entah kenapa .
"Ekspresimu tidak seperti biasanya…" Ian mengomentariku .
"Pa …Aku tahu aku bukan anak kandung papa" Aku dengan berani menyatakannya .
"Sayang , sepertinya sudah waktunya aku menceritakanmu yang sebenarnya" Papa berkata padaku ,ia menggengam tanganku . Berusaha untuk membuatku lebih kuat ketika mendengarnya . Ia menatapku dengan perasaan yang berada di antara sedih dan rela . Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca .
Gadis itu sudah mulai memutar kunci pintu itu agar pintu itu dapat dibuka . Pintu itu adalah pintu yang tak pernah dibuka olehnya , pintu yang baru ditemukannya kemarin dan hari ini ia membukanya .
"15 tahun lalu , aku menikah dengan seorang wanita . Ia bukan Linda , ia adalah seorang wanita cantik yang paling kucintai . Ia berkulit hitam , aku tau ini sedikit bermasalah dengan ras . Tapi , aku mencintai dia apa-adanya . Namanya Shaniqa Lismone " Papa memulainya dengan nama seorang wanita yang sangat asing bagiku .
Papa berhenti sejenak , mengambil nafas . Memperhatikanku yang memperhatikannya dengan serius .
"Kamu mau dengar kisah cintaku dengan Shaniqa sebelum aku cerita tentang masa lalumu?" Tanya papa padaku .
"Iya ! Mileina mau , Mielina senang kok dengar kisah cinta!" Aku selalu tertarik pada kisah cinta orang , aku itu orang yang romantis , percaya atau tidak .
"Shaniqa Lismone , bermata ungu dan berkulit hitam tetapi seperti karamel . Pertama kali , aku bertemu dia di New York . Wanita yang tinggal di satu hotel , atau kusebut penginapan denganku . Ia adalah seorang wanita muda yang selalu berada di taman untuk minum kopi atau memandangi anak kecil bermain pada sore hari dan wanita yang selalu minum susu dicampur madu pada malam hari . Setiap sore , aku menemaninya minum teh dan tiap malam aku menemaninya minum susu . Setiap hari kami semakin dekat dan dekat , sampai pada akhirnya kami berciuman untuk pertama kali saat kami berada di bioskop mini yang memutar film-film lama . Aku masih ingat saat itu kami menonton film Eternal Sunshine of the spotless mind . Aku masih ingat bagaimana aku tidak akan mau melupakan dia selamanya . Dia adalah wanita yang paling kucintai .
15 Februari . Tanggal pernikahan kami . Shaniqa berasal dari keluarga yang konservatif dan rasis . Pernikahan ini tidak disetujui oleh keluarga Shaniqa , tidak ada ayah dan ibu Shaniqa yang datang . Tapi , itu adalah hari terbahagia di hidupku , meskipun kami hanya menikah di catatan sipil .
Shaniqa langsung hamil sebulan setelahnya . Ia mengandung seorang anak perempuan …"
"Whoaaahm…" Aku menguap .
Ian langsung menghentikan kata-katanya .
"Aku bisa melanjutkan besok kalau Mileina mau" Ian menatapku dengan baik .
"Mileina nggak apa-apa … Teruskan saja!" Aku memang sedikit mengantuk , tapi aku kuat dengar ceritanya .
"Shaniqa tubuhnya lemah . Tetapi ia tetap bersikeras melahirkan anak itu . Sampai pada hari H-nya , saat Shaniqa melahirkannya , bayi itu meninggal" Kata Papa .
"Lalu?" Aku masih ingin dengar . Tapi sepertinya Papa sadar kalau aku sudah ngantuk .
"Kamu tidur dulu , besok kuceritakan lagi!" Papa menyuruhku tidur dan aku menurutinya .
Selamat tidur semuanya …
Lanjutan kisah Ian ada di chapter 3 .
