Di sebuah kafe di Rumah Sakit . Seorang wanita muda bermata ungu yang berada di masa peralihan remaja menjadi dewasa sepenuhnya , hanya mengenakan kaus kuning polos dan celana jeans pendek . Tubuhnya agak gemuk , ia tampil dengan rambut coklat , bergelombang , ia ditemani dengan seorang lelaki pirang . Wanita itu memohon pada seseorang , lelaki dewasa yang lebih tua daripadanya. Seorang kulit putih dengan rambut hitam .
"Kumohon , tolong rawat anak ini!" Wanita muda itu merengek-rengek , ia tampak seperti mau menangis .
"Tapi…" Lelaki dewasa itu menyanggahnya , dalam sebuah ekspresi tentang kekhawatiran , kecemasan dan luapan emosi dari hati nurani .
"Ini tentang masa depanku …Kumohon , sebentar lagi aku …" Wanita muda itu terus-terusan memohon pada laki-laki itu , ia tampak mengeluarkan air matanya .
Cut . Mimpi itu terpotong .
Mileina terbangun dari tempat tidurnya , dengan pelan gadis muda itu membuka matanya dan mulai menyadari tentang apa yang dia impikan .
Gadis itu sudah mulai mengintip apa yang dibalik pintu itu , terkadang terasa membingungkan dan menyakitkan .
Mileina .
Aku terbangun dari mimpi yang aneh , aneh sekali . Aku tidak menyangka kalau ibu biologisku bisa muncul di mimpiku . Tapi , semua tampak rancu . Mimpi itu hanya bunga tidur , belum tentu benar .
Aku tipe orang yang percaya pada hal-hal yang kata orang 'tidak mungkin' dan 'rancu' . Aku percaya akan apa yang dikatakan mimpiku , aku percaya akan tanda-tanda klasik yang bisa meramalkan kejadian , seperti piring pecah yang menandakan sial .
Baru kali ini aku merasa intuisiku sedikit kabur . Tapi , aku percaya akan penampilan orang tuaku di mimpi itu .
Ibuku . 15 tahun lalu . Seorang wanita muda yang bermata ungu dan berambut cokelat .
Ayahku . 15 tahun lalu . Seorang laki-laki muda berambut pirang.
Tapi , yang paling mengganggu pikiranku adalah sebuah pertanyaan :
Apakah mereka mencariku ?Apa mereka masih sayang aku?
Sambil membilas wajahku aku memikirkannya . Setiap kali aku bercermin dan melihat wajahku , imajinasiku makin meliar tentang orang tua kandungku . Aku selalu berusaha menebak-nebak wajah mereka .
Keingintahuanku tidak akan luntur semudah itu . Sepanjang hari aku memikirkannya dan menunggu akan Papa , supaya papa cerita padaku tentang hal itu .
Hari ini cuma hari biasa . Tidak ada yang seru dan baru . Sama saja seperti kemarin . Tapi , hari ini aku menemukan orang yang kutaksir yang kulihat dengan mata kepala sendiri .
Entah kenapa kali ini aku melihat pria itu lebih tampan dan gagah daripada biasanya , ketika ia berada di dalam area Gundam storage di Ptolemy . Dia yang mengecek segalanya . Orang yang perfeksionis dan anggun tetapi tetap manly . Jujur , aku terkesima dengannya .
Tieria Erde . Aku cuma tau namanya dan kenyataan bahwa dia orang yang introvert . Hari itu adalah hari dimana pertama kali aku memperhatikannya dan terkesima dengannya , gaya berjalannya yang anggun tapi tetap selayaknya laki-laki biasa . Garis wajahnya yang tipis tapi tegas . Ia bukan orang yang fragile , maka itu aku suka dengannya . Sekarang mungkin baru dalam tahap 'naksir' belum 'jatuh cinta' . Tapi intuisiku mengatakan bahwa
Karena ini hari yang biasa-biasa saja . Aku tak meceritakan apapun . Tapi , malam ini aku tetap mendengarkan cerita tentang masa kecilku dari Ian di kafetaria Ptolemy tentunya , ditemani susu dan madu .
"Setelah bayi itu meninggal , gimana?" Tanyaku pada papa .
"Eh , sudah sampai situ ya?" Papa sepertinya berlagak pikun . Aku yakin dia masih ingat , cuma agak berat dalam menyampaikannya .
"Iya . Ayo ceritakan!" Aku memang benar-benar ingin mendengar cerita itu . Dalam nadaku sedikit terbesit keceriaan akan bahagianya diriku ketika mendengar sebuah cerita dan banyaknya keingintahuanku .
Ian tersenyum padaku . Bukan senyum ceria . Lebih ke senyum kecil yang menunjukan rasa iba dan 5% rasa bahagia melihatku ceria .
"Ya sudah . Shaniqa tidak tahu bahwa bayi itu telah tiada lagi . Tapi , ketika pihak rumah sakit memberitahunya , Shaniqa tidak percaya , aku masih ingat bagaimana ia menjerit tidak percaya bahwa bayi itu sudah meninggal . Ia berteriak "Tidak mungkin . Anak itu perempuan dan lahir dengan selamat!" Ia terus berusaha mencari bayi itu . Tetapi , ketika aku sedang stress , aku duduk termenung di kafetaria Rumah sakit itu .
Sekitar 1 minggu aku terus berusaha untuk mendapatkan bagaimana caranya agar Shaniqa bisa ditenangkan …"
Papa kembali menghela nafas sementara aku kembali mengingat mimpiku kemarin malam ,
"Minggu itu minggu yang berat . Setiap hari aku berada di rumah sakit , sementara dokter merawat Shaniqa karena badannya masih lemah setelah melahirkan , tapi aku melihat adanya keajaiban . Di ruang bayi yang kulintasi , seorang bayi yang mirip sekali dengan bayiku dan Shaniqa , aku tidak tahan untuk tidak terus-terusan memandangnya ,dan membayangkan bagaimana orang tuanya akan sangat senang memiliki anak selucu itu ,"
Papa kembali menghela nafasnya ,ia tersenyum kecil , matanya begitu sendu ,
"Lalu?" Aku kembali menanyakan hal yang sama pada Ian .
" Seorang lelaki muda , pirang , seorang Amerika mendekat ke bayi itu ditemani suster rumah sakit itu . Ia masih sangat muda , ranum , umurnya mungkin masih 15 atau 16 tahun . Pertama kali , aku mengira itu kakak bayi itu . Ia menggendong bayi itu , menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tapi , sepertinya semua orang tahu bahwa Shaniqa bermasalah"
Papa kembali meletakkan titik pada kata-katanya . Berhenti sejenak . Mungkin memikirkan bagaimana merangkai kalimat dengan baik . Sementara aku masih terus mendengarkan apa yang dia bicarakan .
"Saat aku sedang makan siang di kafetaria , seorang anak laki-laki berambut pirang bermata hijau datang kepadaku. Ia menggunakan jumper berwarna biru dan celana jeans abu-abu . Tiba-tiba saja duduk di depanku …"
FLASHBACK. (Ian's POV)
"Om… Aku tahu masalah om" Laki-laki pirang itu duduk di depanku .
"Apa kamu mau membantu aku?" Aku yang masih muda itu tampak tertarik pada pernyataan anak muda itu .
"Om , aku tahu om baru saja kehilangan bayi om" Lelaki pirang itu kembali berkata , memancingku agar aku mau menerima bantuannya yang masih rancu itu .
"Kamu bisa apa memang?" Aku sedikit terganggu akan kehadiran anak itu .
"Aku punya bayi yang mirip sekali dengan anak Om" Laki-laki itu terdengar seperti menawarkan sesuatu .
"Bayi perempuan dengan mata ungu" Entah kenapa sepertinya laki-laki itu terdengar tidak rela .
"Dimana??" Aku yang masih muda itu langsung tertarik untuk mengambilnya .
"Yang om lihat kemarin di ruang bayi" Kata laki-laki itu dengan sedikit sedih .
"Itu anakmu ya? Kamu mau menjualnya padaku?" Aku memang benar-benar tertarik dan aku tidak mau melihat Shaniqa begitu .
"Iiiii…ya" Lelaki pirang itu tampak sedih .
"Kamu diskusikan dengan ibu anak itu dulu" Aku belum tahu nama anak itu . Tapi , aku tau kode bayi itu .
"Ibu anak itu ingin kau juga ikut . Ia ada di ruangan 13-22" Kata lelaki pirang itu .
Ia berdiri dari tempat duduk itu , menandakan bahwa ia mengajakku untuk pergi ke ruangan 13-22 . Kami berjalan bersama , aku bisa melihat bahwa wajahnya cukup sedih . Tapi , ia menutupi kesedihannya dengan baik , meskipun masih terlihat .
Ia membuka pintu ruang itu , aku melihat seorang gadis muda . Seumuran dengannya , tapi lebih tua sedikit darinya .
Nama gadis muda itu Serena J. , aku tidak tau nama belakangnya , hanya Serena .Dia hanya mau dipanggil itu . Gadis muda itu seorang kaukasian bermata ungu , berambut cokelat dan berwajah sangat manis . Tubuhnya masih sedikit gemuk setelah melahirkan , ia tampak begitu cerah ketika melihatku masuk kedalam ruangan itu .
"Serena , ini orang yang mau membeli bayi kita" Kata laki-laki pirang itu , membisikkan di telinga Serena .
"Iya . Berapa kamu jual bayi itu?" Aku langsung bertanya padanya .
"Aku berikan gratis ,asal kau bisa dipercaya" Kata gadis itu . Wajahnya terlihat serius , tapi dimatanya terbesit kebahagiaan yang berlimpah, tapi juga sedikit perasaan kehilangan .
"Aku akan merawat anak itu dengan kasih sayang , aku janji" Aku bilang begitu padanya .
Tetapi , ketika aku menggendong anak itu . Anak itu , atau Mileina . Menangis sangat keras , aku sedikit ragu untuk mengambilnya . Sepertinya ada ikatan yang cukup kuat antara bayi ini dengan orang tuanya . Aku jadi sedikit ragu untuk mengambilnya .
Lalu aku berkata pada Serena kalau aku ragu untuk mengambilnya . Selama 1 bulan aku membiarkan dokter terus-terusan memberikan obat penenang pada Shaniqa . Tampak menyedihkan , tapi itu harus kulakukan .
Ketika aku pergi ke rumah sakit untuk membelikan obat untuk Shaniqa , aku bertemu dengan kedua orang itu lagi . Mereka terpisah , aku bertemu dengan si lelaki pirang di lobby . Tapi , Serena di kafetaria .
Serena menghampiriku dan mentraktirku makan di kafetaria . Serena terlihat seperti gadis muda umur 18-19 tahun . Ia masih begitu muda , ia terlihat seperti gadis kaya yang selalu terawat dari ujung kepala sampai ujung kaki . Tidak mungkin dia mau menjual bayinya hanya demi uang .
"Kamu bersama lelaki pirang itu kesini?" Aku bertanya padanya .
"Tidak . Saya sendirian kok" Ia menjawab . Tapi , tiba-tiba ia langsung menelepon lelaki pirang itu untuk langsung pergi ke situ . Aku masih ingat Serena memanggil nama laki-laki itu Graham .
" Aku mohon … Ambil anak itu ! Masa depanku bisa hancur!Aku bisa ditelantarkan tiba-tiba!" Kata gadis muda itu .
"Tapi …Anak itu tidak sayang aku!" Dengan segala alasan aku berusaha menolaknya .
"Serena , bagaimana?" Tiba-tiba saja lelaki pirang itu datang dan duduk di sebelah Serena .
"Kumohon!" Serena begitu memaksaku , ia bahkan sampai menunduk padaku , disertai lelaki pirang itu .
"Baiklah" Dengan mudahnya aku terpengaruh padanya . Lagipula Shaniqa membutuhkan bayi itu . Shaniqa memang belum pernah lihat bayinya sendiri . Tapi , meskipun bayi pasangan muda itu 'terlalu putih' , aku yakin Shaniqa dapat menerima .
Akhirnya , dengan segala macamnya , aku mengadopsi bayi itu . Pasangan itu memberi nama bayi itu Mileina , yang diambil dari kata Milan atau Milena , yang berarti gracious .
NOW.
… Sampai pada akhirnya Shaniqa bisa kembali menjadi normal . Tapi , 1 tahun setelah kami mengadopsimu . Shaniqa meninggal , ia mengalami kecelakaan mobil . Hari penguburannya adalah hari tersedih bagiku , aku berkabung dalam waktu sebulan . Setiap kali aku mencium aroma parfumnya , aku bisa langsung bersedih . Tapi , aku selalu teringat untuk selalu menjagamu . Aku berjanji pada orang tuamu …dan aku sayang kamu" Papa mengakhiri ceritanya , sementara pipiku sudah basah karena air mataku .
Papa menepuk kepalaku . Ceritanya membuatku sedikit menangis . Akhirnya aku tahu kenyataannya , mengapa orang tuaku tidak menginginkanku . Aku menangis di depan Ian , air mataku menetes , membasahi pipiku .
Papa mengambilkan tissue dan mengelap air mata di pipiku dengan lembut .
"Jangan menangis… Papa sayang sekali kok sama kamu ,meskipun orang tua kandungmu menolakmu" Ian menepuk pundakku , ia menatapku dengan mata yang sendu tapi bahagia , dan semakin tersenyum ketika melihatku tersenyum.
Terima kasih , Papa . Mileina juga sayang Papa .
Gadis itu sudah membuka pintu itu dan melihat apa yang ada di dalamnya , tapi ia belum masuk kedalamnya .
Note :
Hanya untuk bayangan nih !
Shaniqa Lismone
Age: 27
Gender: Female
Race: Black/Coloured skin
Status: deceased
Eyes: Purple
Hair: Brown
Height: 165 cm
Weight: 60 kg
Serena J.
Age: 18(that time)
Gender: Female
Race: Caucasian
Status: Alive
Eyes: Purple
Hair: Brown
Height: 162 cm
Weight: 58 kg(post-pregnancy)
Masih ada chapter 4 kok . . .
